Wednesday, February 15, 2012

Menggunakan Akal Di Dalam Agama

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kadang kita dapat email atau sms dengan isi yang aneh, di mana kita dianjurkan untuk mengikuti suatu anjuran, terutama dengan tinggalkan suatu perkara karena menurut teks itu ada arti yang terselubung. Jadi agar hati-hati, orang Muslim yang baik mesti tinggalkan dan tidak melakukannya lagi.
Kalau sikap “hati-hati” memang bagus dan dianjurkan di dalam Islam. Untuk itu saya setuju. Tetapi hati-hatipun membutuhkan dalil. Buat apa mau hati2 terhadap sesuatu? Kalau tidak dipahami, dan mau hati2, silahkan. Misalnya, ada orang yang mengatakan “Saya tidak tahu kalau boleh makan tape karena ada kadar alkoholnya. Jadi karena tidak tahu, saya tinggalkan, karena mau hati2.”
Sikap seperti itu bagus. Tetapi kalau “hati-hati” hanya karena sesuatu yang direkayasa oleh orang yang tidak dikenal, maka itu bukan “hati-hati” tetapi pembodohan terhadap diri sendiri (dan terhadap orang lain kalau disebarkan. Coba perhatikan ini:

Jangan menulis nama Allah dengan 4JJI karena 4JJI artinya “For Judas Jesus Isa al masih”

Dari mana dapat informasi tersebut? Kata siapa 4JJI punya arti begitu? Mana ada orang Kristen yang menulis itu dengan arti Judas/Jesus/Isa? Kok nama Judas dan Jesus digabung dengan Isa? Sedangkan Isa adalah nama Islam, Jesus adalah nama Kristen (bahasa Inggris? Kenapa bukan Yesus?) dan Judas (bukan Yudas?) dianggap sebagai pengkhianat terhadap Yesus jadi kenapa digabung di situ bersama dengan Yesus? Dan orang Kristen di negara barat tidak mengenal Isa sebagai nama Islam untuk Jesus.
Jadi keseluruhan kalimat itu tidak masuk akal dan tidak kelihatan ada landasan sama sekali, alias ini adalah rekayasa orang yang sangat konyol dan tidak mendasar. Tetapi malah disebarkan oleh orang Muslim (saya sudah terima berkali2), dengan anjuran agar ditinggalkan, dan harus berhati2 karena itu lebih baik.

Jadi ada orang yang bersikap: “Saya paling hati2 dari semua orang, saya paling benar karena paling hati2, cukup mengikuti pendapat saya kalau mau menjadi seorang Muslim yang benar seperti saya”. Kalau sikap seperti itu mau diterima oleh ummat Islam, maka hal itu berarti siapa saja juga boleh merekayasa kalimat2 aneh yang lain, dan juga akan diikuti oleh “orang hati2 yang paling bagus agamanya” tersebut, padahal dia tidak paham asal usul dari larangan aneh itu, tetapi asal mengikuti larangan tanpa ilmu, dan tanpa menggunakan akalnya sendiri. Contohnya:

Jangan menggunakan nomor HP yang mengandung angka 3 karena berarti mendukung Trinitas dan semua pembicaraan lewat nomor itu tidak akan mendapatkan keridhoan Allah.
Jangan tinggal di rumah yang alamatnya ada nomor 3, karena artinya mendukung Trinitas dan malaikat tidak akan masuk rumah itu.
Jangan menggunakan garpu untuk makan, karena garpu mempunyai tiga jari, berarti mendukung Trinitas. Menggunakan garpu itu untuk makan berarti makanan itu tidak akan mendapatkan berkah dari Allah.
Jangan shalat di atas marmer atau ubin di dalam masjid, karena menyerupai orang Kristen yang juga menggunakan marmer dan ubin di gereja mereka. Shalat di luar masjid di atas tanah, karena shalat di atas ubin tidak akan diterima di sisi Allah.
Jangan memakai kaca mata. Orang yang menggunakana kaca mata menolak takdir Allah yang membuat matanya rusak dan karena itu dia dicap sebagai orang kufur dan shalatnya ditolak.

Dan seterusnya.
Mau mendukung dan menyebarkan pendapat aneh seperti itu untuk apa? Ummat Islam disuruh IQRA. Membaca = belajar = mendapatkan ilmu = menjadi pintar.
Kita mesti menjadi kaum yang cerdas, bukan kaum yang asal terima email atau sms dari sumber yang tidak jelas, yang menyuruh kita melakukan sesuatu, atau tinggalkan sesuatu, tanpa asal-usul yang jelas, tanpa ketahuan siapa penulisnya, tanpa ada dalil dari Al Qur'an dan hadiths, tanpa ada ijma ulama (kesepakatan antara ulama), dan bahkan tanpa alasan yang masuk akal sama sekali.

Tetapi orang yang punya pandangan sempit dalam agama langsung terima semua itu secara mentah, dan sebarkan kepada semua orang karena merasa sudah paling benar sendiri. Kalau ada sesuatu perkara yang dilarang (tanpa sumber atau hukum yang jelas, atau walaupun ada pendapat yang mengizinkan) maka mereka merasa harus ikut melarangnya, walaupun mungkin tidak ada dasar hukumnya, dan hanya ada email atau sms dari orang yang tidak dikenal. Tetapi yang penting bagi mereka adalah sikap merasa paling benar sendiri, dan selalu siap melarang orang lain yang belum sebagus mereka agamanya, karena masih mau terima semua perkara yang seharusnya dilarang.

Ummat Islam tidak diciptakan Allah agar kita asal mengikuti orang bodoh tanpa ilmu. Tetapi kita diberikan akal yang sehat, dan diwajibkan menggunakannya agar memahami agama Allah secara baik dan benar.
Jadi, gunakanlah akal anda. Dan berfikir sendiri dengan akal yang sehat. Jangan asal mengikuti orang yang melarang anda melakukan ABCD setiap hari, tanpa mereka bisa membuktikan dalil yang kuat untuk mendukung larangan tersebut.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

2 comments:

  1. Posting yang keren, Gene! Trims.

    ReplyDelete
  2. Bung Gene, yang Maha Tahu adalah Allah semata. Ilmu itu luas, tidak semua orang memahami asbabun nuzul.

    ReplyDelete