Saturday, March 03, 2007

Balasan Email Sebuah Sekolah Swasta

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Terima kasih kepada pihak Sekolah ### yang sempat memberi tanggapan terhadap tulisan saya. Saya akan berusaha untuk menjawab semua keterangannya dengan kata-kata yang baik dan bijaksana. Terserah orang tua menilai perkataan saya sendiri.

Diterima dari:

Public Relation Department
Sekolah ### Indonesia

[ Surat Peringatan ]

Dari Public Relations Department,

Dear ### Parents,
…Gene Netto pernah bekerja sebagai English Subject Coordinator di Sekolah
### Indonesia, sejak Maret 2003 sampai dengan September 2003. Namun karena tidak perform dan bermasalah maka yang bersangkutan mengajukan “pengunduran” diri pada bulan Agustus 2003.
Berdasarkan data-data kami, pengunduran diri dilakukan setelah yang
bersangkutan menerima warning letter (surat peringatan), tegoran, dan
catatan khusus sehubungan dengan performance, kemampuan teknis dan tingkah laku (attitute) dan ketidakmampuan dari yang bersangkutan untuk mengikuti standard kerja di tempat kami. Selain itu juga, hasil performance
evaluation after probation period yang bersangkutan tidak memuaskan. Oleh
karena itu kami tidak terlalu kaget ketika membaca tulisan diblog tersebut
yang tidak proporsional.

Dari Gene: Betul, saya mendapat dua surat peringatan selama kerja di sekolah ###. Saya kurang ingat surat pertama, tetapi saya sangat ingat surat yang kedua.

Dalam sebuah rapat, Kepala Sekolah menyatakan hari Senin dan Selasa yang pertama setelah liburan sekolah adalah hari libur juga karena murid belum masuk. Sore itu, ada rapat dadakan lagi dan informasi ini berubah: guru kelas diberitahu mereka wajib masuk supaya bisa bertemu dengan orang tua kalau ada yang datang. Saya tidak ikuti rapat kedua itu dan tidak pula diberitahu hasilnya.

Senin dan Selasa pertama setelah liburan, saya tetap libur tetapi ternyata guru yang lain masuk. Pada hari Rabu saya dipanggil pemilik sekolah (atasan saya) dan dimarahi untuk 45 minit, dan diberikan surat peringatan.

Di tengah kemarahan pemilik sekolah yang berlebihan itu, saya sempat bertanya kenapa Manager HRD tidak telfon saya pada Senin pagi dan suruh saya masuk. Misalnya: “Maaf, Pak, mungkin anda belum diberitahu, hari ini harus masuk. Harapa datang dengan segera ya!” Malah Manager HRD dengan sengaja menunggu sampai hari Rabu supaya saya bisa dimarahi dan diberi surat peringatan. Saat saya bertanya kenapa saya tidak ditelfon saja, pemilik sekolah menjawab dengan tegas “Saya tidak mau bicarakan itu!” Dari pandangan saya, Manager HRD harus tanggung jawab juga untuk sikapnya itu. Tetapi pemilik sekolah sudah mempunyai niat untuk hanya menyalahkan saya saja.

Kalau ada Memo sebelum liburan yang jelas tentang masuknya Senin dan Selasa itu, tentu saja saya akan masuk. Kalau ada telfon dari Manger HRD pada hari Senin pagi, tentu saja saya akan masuk. Yang membuat saya bingung adalah kenapa Manager HRD sengaja diam pada Senin pagi, Senin siang, Senin sore, Senin malam, Selasa pagi, dan Selasa sore?

Justru karena sikap seperti ini di pihak managemen sekolah, yang kurang dewasa, tidak bijaksana, dan tidak membentuk suasana kerja yang baik, saya memutuskan untuk mengundurkan diri daripada disalahkan terus. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri terhadap saya.

[ Uang 40 Juta ]

Tentang uang pangkal Rp. 40 Juta adalah non refundable, dan seterusnya:
Ini adalah informasi yang salah total, orang tua tersebut belum pernah
membayar uang enrollment apalagi disuruh membayar uang pangkal lagi.
Kami maklum karena Gene Netto tidak teliti dan akurat sebagai penulis
karena dasarnya hanya pemberitahuan orang.

Dari Gene: Saya mohon maaf dengan sungguh-sungguh bila informasi itu keliru. Saya sudah menghapus bagian itu dari artikel saya. Saat menulis, saya anggap benar dan hanya sekedar menggunakannya sebagai salah satu contoh kepedulian tinggi sebuah sekolah terhadap uang.

Setiap kali saya berbicara dengan orang tua tentang sekolah anaknya (sekolah swasta manapun), mereka selalu laporkan bahwa di sekolah itu uang pangkal adalah non-refundable. Saya belum mendapat kabar dari orang tua tentang sebuah sekolah yang siap mengembalikan uang kepada orang tua dalam keadaan apapun (insya Allah ada, tetapi sekolah mana yang begitu baik?).

Kalau seandainya anak seseorang wafat dalam sebuah kecelakaan mobil pada minggu pertama sekolah, apakah uang pangkal tetap non-refundable? Karena yang jelas, kursi anak itu tidak akan kosong sepanjang satu tahun. Dan anak baru yang masuk untuk isi kursi tersebut juga membayar sekian puluh juta rupiah untuk kursi yang sama. Jadi kalau memang begitu, pihak sekolah swasta manapun akan mendapatkan 2x uang pangkal untuk mengisi satu kursi. Ini salah satu hasil dari kebijakan non-refundable itu.

Saya sama sekali tidak paham kenapa segala hal yang bekatian dengan uang di sebagian besar sekolah swasta (yang pernah dilaporkan kepada saya) selalu menjadi non-refundable. Apa bedanya sebuah sekolah dengan tempat belanja yang lain? Apakah orang tua dipandang sebagi “orang tua”, dan partner dalam membangun kemampuan anak, atau apakah orang tua dipandang sebagai “customer” yang sudah “membeli” suatu pelayanan dan uang yang sudah masuk tabungan sekolah tidak pernah akan dikembalikan? Kenapa harus begitu? Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

[ Lukisan Anak ]

• Tentang mural anak-anak yang diganti dengan lukisan besar.
Memang benar kami memajang lukisan sebesar 4m x 2m di lobby Gedung I yang dibuat oleh [seorang artis], yang dikenal sebagai ”art’s most playful child” di
Indonesia karena memang proporsional dan edukatif untuk murid-murid kami. Namun yang pasti anak-anak masih punya space yang cukup besar (luas sekolah ± 10.000m2) untuk memajang artworknya (lihat di sekolah kami) dibanding lukisan yang besarnya hanya 8 m2 tersebut. Jadi tidak benar anak [sekolah ini] seperti bertamu di sekolanya.

Dari Gene: Mohon dipahami bahwa saya tidak pernah menyatakan tidak ada lukisan anak di sekolah. Saat saya masih di sana, lukisan anak memang banyak: lukisan di atas kertas yang ditempelkan untuk sementara di tembok. Yang saya bicarakan, dan yang saya usulkan adalah “mural” atau lukisan besar yang langsung dibuat di atas tembok oleh anak2 yang bersifat permanen. Yang saya ingin jelaskan dengan contoh itu adalah sikap pemilik sekolah pada saat mural itu diusulkan: “Jangan, nanti tembok bisa rusak.” Keutuhan tembok menjadi lebih utama dari lukisan yang baik dan bermanfaat untuk anak. Saya mengira akan mendapatkan tanggapan seperti ini: “Oh, itu suatu usul yang baik. Mari kita membahas dengan yang lain untuk mencaritahu kalau itu yang terbaik untuk anak dan sekolah.” Malah saya mendapat tanggapan langsung bahwa tembok lebih utama.

Saya bukan seorang insinyur, tetapi saya masih bingung tentang bagaimana caranya sebuah tembok yang memang sudah dicet, bisa dibuat “rusak” kalau dicet lagi dengan warna yang berbeda dan gambar2 yang dibuat oleh anak-anak? Lukisan yang dibuat oleh seorang pelukis terkenal bukannya tidak boleh, dan saya tidak menyatakan tidak boleh, hanya saja saya tidak mengerti kenapa hal seperti itu diutamakan di atas lukisan yang dibuat oleh anak2 yang ada ikatan yang lebih kuat pada sekolah: anak2 yang masuk sekolah setiap hari, anak2 yang menjaga lingkungan sekolah, anak2 yang mewujudkan prestasi dan nama baik untuk sekolah, tetapi lukisan dari seorang profesional diberi keutamaan di sekolah, dan bukan kesenian dari anak2 sendiri.

Ini hanya sekedar menujukkan bahwa ada perbedaan di antara pikiran guru dan pikiran pengusaha. Guru inginkan yang terbaik untuk anak, dengan anak2 diberi wewenang untuk membantu membangun sekolah. Salah satu contoh adalah lukisan anak yang dibuat di tembok sekolah dan dilihat oleh para orang tua setiap hari. Kalau pengusaha barangkali lebih cendurung memikirkan sisi bisnis. Lukisan anak2 di tembok bisa merusak tembok (??) dan lukisan dari orang terkenal lebih bermanfaat. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

[ Executive Principal Ganti 2x Dalam 2 Tahun ]


• Executive Principal ganti 2x dalam 2 tahun: kami tentu menyayangkan hal
ini terjadi di sekolah kami. Saat itu kami langsung mengevaluasi apakah
memang standardnya terlalu tinggi atau kualifikasinya yang kurang pas.
Hasil dari evaluasi tersebut, kami memutuskan untuk mengubah strategi
organisasi dengan meniadakan Executive principal. Sejak September 2004
sampai saat ini, keputusan tersebut telah berjalan dengan baik

Kualifikasi Masters Degree di bidang School Administration kurang pas? Hmm. Atau standar biasa semua sekolah negeri (dari manca negara) dianggap terlalu tinggi? Hmm. Apakah alasan menghapus posisi ini karena itulah yang terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dan pengurusan sekolah? Atau yang terbaik meningkatkan kualitas tabungan sekolah? Executive Principal di sekolah swasta manapun, yang berasal dari negara asing, biasanya mendapat gaji puluhan juta rupiah (sering dibayar dengan dolar), fasilitas rumah dan mobil, dan berbagai macam benefit yang lain. Kalau posisi ini tidak ada, berarti sekolah bisa menghemat ratusan juta rupiah setiap tahun.

Dan barangkali, seorang Principal dari negara asing tidak akan takut untuk membela kepentingan anak2 dan para guru, di atas kepentingan si pengusaha (berarti akan bentrok terus!). Kalau kepala sekolah lokal dengan gaji yang jauh lebih rendah, dan keadaan ekonomi yang lemah dibandingkan dengan pemilik sekolah, barangkali akan lebih mudah dipaksakan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk anak, tapi baik untuk perkembangan bisnis. Jadi, apakah posisi ini dihapus untuk kepentingan anak2 atau untuk alasan yang lain?

Juga ada kemungkinan bahwa tidak ada seorangpun yang mau lamar untuk posisi itu karena semuanya sudah mendapatkan informasi tentang masalah managemen sekolah dari teman2 yang lain. Dengan demikian, barangkali akan lebih baik buat sekolah kalau mereka menyatakan posisi ini dihilangkan saja, daripada harus menjelaskan terus kepada orang tua tentang kenapa orang di posisi ini tidak bisa bertahan lama dan selalu mengundurkan diri. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

[ Gene Tidak Mengerti Pendidikan ]

• [Gene] dinyatakan “tidak mengerti pendidikan” oleh pemilik sekolah:
dengan acuan sederhana seperti yang telah disebutkan di atas antara lain
tidak perform melaksanakan tugas, punya attitude problem yang besar,
warning letter, dll. dalam pengertian yang luas kami berpendapat yang
bersangkutan memang tidak mengerti pendidikan dan menjadi pendidik yang baik. Selama 7 bulan bekerja di tempat kami, Gene Netto tidak memberikan output yang sesuai dengan perjanjian.

Dari Gene: Sekali lagi saya dinyatakan “tidak mengerti pendidikan”. Alhamdulillah. Mungkin itu disebabkan saya hanya kuliah pendidikan dan bukan bisnis, karena barangkali orang bisnis yang lebih mengerti pendidkan daripada guru. Kuliah 5 tahun, dan pengalaman di kelas selama 10 tahun berarti tidak menguasaikan bidang pendidikan. Tetapi malah orang yang bergelar bisnis yang mengerti. Baiklah. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

Coba berfikir begini. Kita naik pesawat dan pilot menyatakan akan melakukan emergency landing (mendarat darurat). Kita sebagai penumpang memikirkan keselamatan kita sendiri. Pengusaha yang menjadi Pemilik dari perusahaan penerbangan tersebut barangkali lebih memikirkan pesawat dulu: “Kalau pesawat saya rusak, bisnis saya rugi.” Lalu bagaimana kalau jauh hari sebelumnya ada seorang pilot yang mengritik keamanan pesawat tersebut? Dia menyatakan pesawat ini tidak layak terbang. Kemudian pilot dihujat oleh si pengusaha dengan komentar:

“Emang dia siapa? Dia tidak perform melaksanakan tugas, punya attitude problem yang besar, dapat warning letter, dll. Dalam pengertian yang luas kami berpendapat yang bersangkutan memang tidak mengerti ilmu penerbangan. Dia hanya seorang pilot yang bergelar sebagai pilot dan hanya ada berpengalaman terbang 10 tahun saja. Saya seorang pengusaha dan itu pasti membuktikan bahwa saya lebih mengerti ilmu penerbangan daripada dia! Pesawat ini layak untuk terbang. Silahkan naik semua!”

Lalu bagaimana kalau pesawat memang jatuh. Apakah berarti si pilot benar? Mungkin ya, mungkin tidak. Tetapi si pengusaha pasti akan menyuruh Public Relations Departmentnya membuat statement dengan buruh-buruh: “Kecelakaan ini disebabkan ‘human error’ dan bukan gangguan teknis.” Terserah kita yang menjadi penumpang untuk membuat penilaian sendiri. Apakah masih yakin pada perusahaan tersebut?

Saya terima semua komentar negatif ini tentang diri saya bukan dari seorang Kepala Sekolah yang menguasaikan ilmu pendidikan, tetapi dari: “Public Relation Department, Sekolah ### Indonesia”. Kok sekolah membutuhkan Public Relations Department juga? Sama dong dengan perusahaan penerbangan. Tugas utama orang Public Relations kira-kira apa? Menjaga hak dan kepentingan “customer” supaya selamat dan tidak dirugikan oleh perusahaan? Atau menjaga hak dan kepentingan “perusahaan” supaya tidak dirugikan oleh siapapun?

Kalau di bidang pendidikan memang tidak bisa hitam-putih begitu karena tidak ada “kecelakaan akedemis” yang terjadi secara mendadak pada suatu hari pada semua anak dan bisa menujukkan ada masalah. Orang tua harus menunggu bertahun2 untuk melihat “hasil” dari proses pendidikan. Kalau ternyata kurang baik, orang tua bisa berbuat apa? Apakah anak akan disuruh kembali ke Kelas 1 dan mengulangi semua pelajarannya lagi?

Siapa yang mau didengarkan di bidang pendidikan? Para Guru dan para Ahli Pendidikan atau pengusaha? Siapa yang mau didengarkan di bidang penerbangan? Pilot dan Insinyur Pesawat atau pengusaha? Orang tua dan para penumpang dipersilahkan membuat penilaian sendiri.

[ Ibu Dibujuk Keluarkan Anaknya ]

• Statement Gene Netto: “Saya sarankan kepada semua orang tua untuk sangat berhati-hati menyekolahkan anaknya kesana”.
Dalam kenyataannya Gene Netto tidak hanya menyarankan tapi sudah
melaksanakan, terbukti pada saat yang bersangkutan “dipecat” kami menerima telepon dari orang tua murid bahwa mereka diprovokasi oleh yang
bersangkutan supaya keluar dari sekolah kami. Untuk kesekian kalinya
Gene Netto membuktikan attitudenya yang sangat tidak pantas ditiru oleh
siapapun, apalagi sebagai seorang yang mengaku sebagai pendidik.

Dari Gene: Saya memang telfon seorang ibu. Setelah saya memberikan tes bahasa inggris kepada anaknya, saya menjadi sadar bahwa dia memang seorang native speaker karena memang dibesarkan di luar negeri. Semua pertanyaan di tesnya dijawab dengan sempurna, berarti dia jauh lebih lancar dari semua guru di sekolah. Saya bicara dengan 3 teman yang juga ahli bahasa untuk mencaritahu apa yang terbaik untuk masa depan anak yang satu ini.

Setelah sudah yakin, saya telfon ibunya dan menjelaskan ada kemungkinan tingkat kelancaran anaknya akan menurun kalau tidak dijaga dengan sengaja. Kalau ibu tidak peduli bahwa bahasa Inggrisnya yang sudah fasih bisa hilang, maka tidak ada masalah. Tetapi kalau ibu juga inginkan supaya tingkat kelancaran ini tidak hilang, saya memberikan pilihan sebagai berikut:

  1. Anak bisa dipindahkan ke sekolah yang lain seperti Tiara Bangsa, Binus, Pelita Harapan atau Cita Buana, atau sekolah internasional seperti JIS, karena di sekolah itu lebih banyak native speaker. Anak ini justru harus bertemu dengan native speaker setiap hari kalau mau lestarikan bahasanya. Ada kemungkinan dia akan tetap lancar tanpa ketemu Native Speaker yang lain, tetapi cara yang lebih aman adalah sering ketemu. Saat itu di sekolah ini hanya ada dua orang native speaker (termasuk saya).
  2. Anak bisa tetap di sekolah ini dan Ibu harus mendapatkan guru les (native speaker) untuk datang ke rumah.
  3. Anak bisa tetap di sekolah ini dan bisa didaftarkan untuk kursus di TBI, ILP, British Council dsb. pada tingkat advanced. Hanya saja saya ragukan manfaatnya karena umur dia tidak akan sesuai dengan pelajaran. Pada umur 10 tahun, TOEFL pasti sangat membosankan. Dan kursus itu rata2 tidak ada kelas pada tingkat advanced untuk anak kecil, semuanya untuk dewasa: TOEFL, IELTS, FCE dsb.
  4. Anak bisa tetap di sekolah ini dan Ibu bisa memberikan suasana bahasa Inggris di rumah dengan banyak DVD, cable television, CD Rom, internet, buku dan sebagainya. Ibu juga bisa berusaha untuk menggunakan bahasa Inggris sebanyak mungkin di rumah.
  5. Anak bisa tetap di sekolah ini dan Ibu bisa memohon kepada pihak sekolah untuk menambahkan jumlah native speaker untuk membantu mengingkatkan kemampuan anak dia dan juga sekaligus semua anak yang lain.

Anak ini juga sanggup memberikan “conversation class” kepada para guru untuk meningkatkan kemampuan dan kelancaran mereka, yang berarti dia akan berfokus pada bahasanya kalau harus mengajar orang lain, tetapi saya lupa kalau itu diusulkan atau tidak.

Apakah semua ini berarti saya telah “membujuk” Ibu itu untuk mengeluarkan anaknya? Pada saat saya bicara dengan dia di telfon, saya ingat dengan betul bahwa dia mengucapkan terima kasih sekali kepada saya dan menyatakan sangat kagum dengan saya karena memberitahu dia tentang apa yang terbaik untuk anaknya, daripada hanya berpihak kepada bisnis sekolah.

Apakah besok hari dia telfon sekolah dan menyatakan bahwa saya “membujuk” dia untuk mengeluarkan anaknya? Saya sama sekali tidak tahu karena saya tidak mendengarkan percakapan tersebut. Seingat saya ada satu anak lagi yang juga lancar sekali, dan saya juga telfon ibu dia dengan nasihat yang sama. Berarti jumlah ibu yang ditelfon adalah dua.

Kalau ada orang yang ingin beragumentasi bahwa saya seorang “guru buruk” yang “membenci” sekolah ini, maka saya mohon penjelasan tentang kenapa saya tidak telfon setiap orang tua (ada 200an anak saat itu) dan “membujuk” mereka semua untuk mengeluarkan anaknya? Kenapa saya hanya bicara dengan dua Ibu kalau niat saya memang buruk?

Saya tidak mau berkomentar lagi. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

[ Semua Anak Menang Untuk Team Building ]

• Saat hari olah raga, anak-anak tidak boleh kalah, semua harus menang dan mendapat piagam. Di [sekolah] ada event sports day yang kegiatannya adalah perlombaan berbagai permainan sport. Dalam kegiatan tsb. Kami lebih menitikberatkan kepada aspek sportivitas, partisipasi, dan team building, sehingga pada akhir lomba kami memberikan penghargaan kepada semua anak atas usaha dan kerja kerasnya dengan cara memberi sertifikat/piagam kepada semua peserta; sedangkan untuk pemenang diberikan medali. Jadi semua mendapatkan penghargaan, dan ini bisa disalahartikan sebagai „anak-anak tidak boleh kalah” bagi mereka yang tidak mengerti konsep tsb. Kami sayangkan bisa terjadi salah pengertian.

Dari Gene: Kalau salah satu tujuan hari tersebut adalah team building, apakah ada yang bisa menjelaskan kenapa hari itu penuh dengan lomba? (Kalau sportivitas, oke lomba boleh juga.). Bukannya lomba itu bersifat kompetisi karena kita bersaing dengan orang lain di dalam lomba tersebut? Kalau anak2 disuruh main bola basket untuk team building, maka hal itu hanya bisa berhasil kalau anak2 mau mengoper bola. Kalau ternyata kebanyakan anak egois dan setelah mendapat bola berusaha untuk mendapat basket sendiri, maka tujuan team building akan gagal.

Pada saat anak2 ikuti lomba lari, lalu disuruh ikuti lomba lari lagi atas perintah pemilik sekolah, apakah itu juga termasuk team building? Anak merasa tidak perlu, guru merasa tidak perlu, tetapi kemauan satu Ibu diutamakan diatas kemauan anak2 dan guru. Apakah itu termasuk team building? Apakah itu termasuk sportivitas? (“Kalian wajib menuruti kemauan saya! Saya pemilik sekolah!”) Guru tidak sanggup menolak perintah yang dia anggap tidak bermanfaat. Dia wajib menuruti kemauan orang tua yang akrab dengan pemilik sekolah. Apakah ini team building? Barangkali ini versi team building yang baru karena saya belum menemukan versi team building ini di dunia pendidikan di manca negara. Hanya ada versi team building tersebut di sekolah yang satu ini.

Saat Manager HRD dengan sengaja tidak telfon saya dan suruh saya masuk pada hari Senin dan Selasa yang diceritakan di atas sehingga saya mendapatkan surat peringatan, apakah itu juga termasuk sikap sportivitas dan team building? Kalau sekolah ini sangat peduli dengan sportivitas dan team building, maka seharusnya dicontohkan di dalam perbuatan mereka sendiri. Pada saat saya dimarahi untuk hampir satu jam oleh pemilik sekolah, apakah itu termasuk team building? Team building versi apa ini? Atau team building di sekolah ini diutamakan untuk anak-anak dan Ibu-Ibunya yang akrab dengan pemilik sekolah. Barangkali guru bukan bagian dari team sehingga tidak perlu mewujudkan sikap team building dengan para guru. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

[ Mengundurkan Diri Atau Dipecat? ]

…yang bersangkutan mengajukan “pengunduran” diri pada bulan Agustus 2003…

….terbukti pada saat yang bersangkutan “dipecat”…

Ternyata orang yang berkuasa di sekolah ini juga tidak sanggup mengunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dia bagian atas email dari mereka, mereka sendiri menyatakan bahwa saya mengundurkan diri dan saya ada suratnya kalau ada yang ingin melihatnya. Setelah menyerahkan surat tersebut, saya tetap kerja selama 1 bulan, sesuai dengan kontrak saya. Lalu di bagian bawah dari emailnya, mereka menyatakan bahwa saya “dipecat”. Kok bisa begitu? Kok orang yang dipecat masih kerja untuk 1 bulan lagi? Aneh. Apakah ini menujukkan tingkat kemampuan pengurus sekolah di dalam bahasa Indonesia, sehinga hitam bisa menjadi putih dan putih bisa menjadi hitam? Kasihan anak yang mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah ini. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

[ Tes Untuk Anak ]

• Tentang tes Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu
Pengetahuan: Adalah benar adakalanya memang sekolah melakukan assessment khusus untuk memperoleh feedback tentang seberapa jauh efektivitas suatu pengajaran. Hasilnya pasti ada yang baik dan kurang baik. Justru atas dasar tersebut lalu sekolah melakukan analisa untuk peningkatan dan penyempurnaan program-programnya. Sama seperti statement sebelumnya, di sini yang bersangkutan hanya mendasarkan „katanya” dan tidak ada bukti karena yang bersangkutan sudah mengundurkan diri.

Dari Gene: Saya sendiri yang membuat tes bahasa Inggris, saya sendiri yang berikan dan saya sendiri yang memeriksa. Hasil saat itu: mayoritas dari anak di sekolah tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Saya tidak memegang tes itu sekarang jadi saya tidak ada bukti selain dari file dan document tes di komputer saya dengan tanggal pembuatan file itu yang memang sesuai dengan waktu saya bekerja di sekolah. Orang tua silahkan berfikir sendiri.

Untuk hasil tes Matematika, Ilmu Pengetahuan, dan Bahasa Indonesia, memang bukan saya yang membuat tes dan bukan saya yang memeriksa. Saya hanya ada perkataan dari orang yang membuat tes itu bahwa kebanyakan anak tidak lulus, padahal tes sengaja dibuat dengan tingkat mudah atas permintaan pihak sekolah. Kalau sekolah ingin mengatakan bahwa tes itu tidak pernah diberikan atau anak tidak gagal, maka saya tidak sanggup berkomentar lagi karena hanya ada perkataan orang yang saya kenal sebagai ahli pendikian yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan anak bangsa ini. Saya tidak akan bicarakan tes itu lagi karena tidak memegang bukti. Orang tua silahkan membuat penilaian sendiri.

Kesimpulan Komentar Saya Tentang Sekolah Ini

Sekian saja. Orang tua dipersilahkan membuat penilaian sendiri. Barangkali saya memang seorang guru yang buruk karena saya hanya bergelar pendidikan dan tidak pernah berfikir untuk mengikuti kuliah bisnis. Insya Allah pada masa depan saya akan sanggup menjadi seorang guru yang baik, yang sanggup mengerti bidang pendidikan, dan untuk mencapai tujuan itu barangkali saya harus mengabaikan kuliah saya selama 5 tahun, mengabaikan pengalaman saya di kelas selama 10 tahun, dan membuang semua buku saya tentang pendidikan (ada 80-100 kali, belum dihitung), dan membuang semua artikel dari internet yang ada di computer, dan saya harus menggantikan semua itu dengan buku-buku bisnis terbaik supaya saya bisa memahami ilmu pendidikan dan kemudian menjadi seorang guru yang dipandang baik.

Saya ingin berterima kasih kepada para orang tua atas perhatian dan waktunya untuk membaca tulisan saya. Supaya jelas, saya ingin menyatakan bahwa saya tetap tidak berniat memfitnah atau menjatuhkan sekolah mana pun. Ada beberapa sisi yang baik di sekolah ini tetapi saya dengan sengaja tidak membicarakannya. Orang tua bisa melihat sendiri bahwa lingkungan sekolah sangat aman dan kebersihan dijaga dengan sangat baik. Di sisi itu saya sangat salut terhadap sekolah ini. Tujuan saya membuat tulisan tentang sekolah swasta hanya karena saya merasa beban moral untuk menyadarkan para orang tua bahwa gedung yang mewah (di sekolah mana pun) tidak secara automatis identik dengan kualitas pendidkan yang tinggi. Orang tua tetap harus memantau apa yang terjadi di sekolah (dan untuk sekolah negeri pun juga perlu begitu) dan berusaha untuk memastikan bahwa ilmu dan kemampuan anaknya memang berkembang dengan baik dan sesuai dengan umurnya.

Mohon Orang Tua Tidak Bertanya Lagi Tentang Sekolah Swasta Yang Satu Ini

Saya sangat mohon kepada para orang tua untuk tidak menanyakan saya lagi tentang sekolah ini. Saya sudah membuang tujuh bulan dari nyawa saya di situ. Saya tidak ingin buang waktu saya lagi untuk membalas email terus-terusan, karena saya anggap hal itu tidak bermanfaat bagi saya. Kalau setelah ini masih ada orang tua yang kirim email untuk bertanya tentang sekolah ini, mohon maaf, saya tidak akan tanggapi. Kalau para orang tua ingin percaya kepada seorang pengusaha di sekolah mana pun untuk mendidik anak anda, silahkan saja. Saya tidak merasa dirugikan kalau ilmu saya dianggap tidak bermanfaat. Silahkan taruh anak di mana saja. Saya rasa pendapat saya mengenai sekolah ini sudah jelas. Kalau orang tua ingin percaya bahwa saya seorang guru yang buruk, yang tidak menguasaikan ilmu pendidikan hanya karena ada pernyataan seperti itu dari seorang pengusaha, silahkan saja. Saya anggap pembahasan tentang sekolah ini sudah selesai, dan saya tidak mau membicarakannya lagi.

Terima kasih atas waktunya membaca komentar saya.

Wabillahi taufiq walhidayah

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Jakarta,

3 March, 2007

6 comments:

  1. MasyaAllah, semoga makin banyak orang yang berani menyatakan kebenaran di negara ini ditengah-tengah busuknya para konspirator, pemain politik demi kepentingan perutnya dan pengusaha yang melakukan apa saja demi pundi-pundi emasnya makin gemuk. Semoga Pak Gene selalu dilindungi oleh Allah SWT dari segala gangguan, Amien.

    ReplyDelete
  2. Mudah2an baik tulisan ini, keluhan para orang tua dan para guru bisa mengilhami pihak pemerintah agar lebih ketat memberikan aturan main dlm mendirikan sekolah2 swasta, tdk berorientasi profit belaka ! Amieen...
    Untuk Pak Gene mudah2an anda tidak bosan memberikan masukan2 positif bagi dunia pendidikan kita....

    ReplyDelete
  3. xBegitulah dunia kerja, Saya juga sedang mengalami hal semacam itu. Dan ini yang kedua kalinya. Jujur aja saat ini saya pengen banget ngajar disekolah yang 90%syariah Islam, 10% bisnis. Punya masukan? atau Ide? Mungkin ada rencana bikin sekolah.... jgn lupa saya diajak. Aminnnnn.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, masih ada seorang Gene Netto dalam dunia pendidikan swasta yang sangat "money oriented" di Indonesia, semua yang dikatakan beliau sangat terasa nuansa kejujuran dan keikhlasannya, keadaan sekolah2 swasta yang haus uang sudah menjadi rahasia umum, dan telah memberikan kontribusi nyata dalam membentuk kepribadian anak2 bangsa yang hedonisme, materialistis, individualistis, orientasi kaya harta miskin akhlak dan calon2 koruptor masa depan.... Selamat para pengusaha & guru2 sekolah swasta atas sumbangsih anda..... Ingatlah guru dan pendidik adalah profesi yang mulia di sisi Allah.... namun jika amanah ini dikhianati... Na'udzubillah.... semoga Allah mengampuni kalian, wassalamualaikum (Dari seorang orang tua murid yang baru keluarkan putra kami dari Sekolah Swasta terkenal dan termahal di Jakarta Selatan).

    ReplyDelete
  5. Terima kasih banyak Mr. Gene utk seluruh saran2nya bagi org tua agar selalu kritis akan perkembangan pendidikan anak2nya. Semua tulisan anda telah mencerahkan saya. Sampai saya berani menemui pimpinan yayasan di sklh anak saya utk menekankan pentingnya rasio guru murid per kelas, atau terpaksa saya akan banting setir cari sklh lain. Nampaknya omongan sy cukup diperhatikan, juga dgn support org tua2 murid lain, hingga pimpinan yayasan menetapkan batasan utk max murid per kelas. Mudah2an ke depannya pihak sklh jg mau mendengarkan kritik2 lainnya demi kemajuan bersama.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah. Tetapi Ibu(?) harus teruskan juga. Jangan sampai hanya sekali bicara, lalu tidak pernah muncul lagi di sekolah. Ketemu dengan orang tua lain terus. Bahas apa yang dilakukan di sekolah, dan bila perlu, sewaktu-waktu sampaikan kritikan dengan cara yang baik dan sopan. Insya Allah pihak sekolah mau dengar.

    ReplyDelete