Saturday, March 31, 2007

Nama Sekolah Tidak Akan Disebut Lagi



Saya ingin mohon maaf kepada para orang tua yang peduli pada anaknya dan pendidikan yang baik bagi mereka. Mulai dari saat ini saya tidak akan menyebutkan nama sekolah swasta yang dinilai mengutamakan bisnis di atas kebutuhan pendidikan.

Ini disebabkan saya telah diancam dengan tindakan hukum oleh sebuah sekolah swasta di Jakarta Timur. Karena saya tidak mau membuang waktu saya untuk tanggapi mereka, artikel mengenai sekolah swasta yang satu ini sudah saya hapus dari Blog saya.

Mereka merasa dirugikan oleh email yang di-post di Blog saya. Email itu bukan dari saya tetapi dikirim kepada saya oleh beberapa orang tua, dan juga disebarkan di beberapa milis dan juga masuk koran Kompas pada tanggal 26 Maret. Ada orang tua bertanya mesti sekolahkan anaknya ke mana sekarang karena selain kehilangan uang pangkalnya, anak mereka menjadi terlontar di tengah semesta. Tetapi saya tidak bisa membantu selain menyebarkan informasi tentang sekolah tersebut untuk melindungi orang tua yang lain. Niat saya menyimpan email mereka di Blog adalah supaya orang tua yang lain bisa berfikir sendiri dan mengecek kebenaran dari pernyataan tersebut bila ingin masukkan anaknya ke sekolah itu. Selain dari itu, saya sudah menghapus nama semua sekolah swasta di Blog saya dan mulai saat ini saya hanya akan membicarakan semua sekolah secara umum saja tanpa menyebut namanya.

Selama ini saya menyebutkan nama sekolah2 dengan sengaja supaya orang tua bisa sadar bahwa sekolah idaman mereka tidak sehebat yang mereka perkirakan. Seringkali, pada saat saya sedang bicara dengan orang tua, saya menyebutkan beberapa kekurangan yang pernah saya lihat di sebuah sekolah swasta, tanpa memberikan namanya. Lalu, dengan senyuman lebar, ada seorang Ibu yang menyatakan “Oh, hal seperti itu tidak mungkin terjadi di sekolah anak saya. Sekolah anak saya punya guru Bule, dan bilingual, dan gedung mewah, pemilik sekolah sangat peduli dengan anak, dan uang pangkalnya sangat, sangat mahal.” Sayangnya, justru sekolah itulah yang saya bicarakan. Supaya Ibu itu bisa percaya, akhirnya saya merasa terpaksa menyebutkan nama sekolah itu dan menjelaskan apa yang saya lihat pada saat saya kunjungi sekolah. Tentu saja Ibu itu menjadi sangat shok. Selama ini dia menyangka bahwa sekolah anaknya termasuk sekolah terbaik di Indonesia karena biaya masuk sangat mahal. Ternyata, persepsi Ibu itu tidak didasarkan pengertian pendidikan. Dia hanya menyangka bahwa mahal = bagus.

Kalau misalnya sebuah sekolah menutup jendela di kelas dengan papan putih, atau memasang kawat berduri di areal bermain anak, atau menutup mulut anak dengan lakban (duct tape) maka hal itu menunjukkan bahwa guru dan pihak sekolah tidak mengerti bagaimana caranya mengendalikan anak. Bisa jadi sekolah ini sudah berubah dan tidak begitu lagi. (Dan kalau ada informasi dari orang tua atau dari pihak sekolah, saya selalu siap mengubah tulisan saya). Tetapi yang ingin saya bicarakan bukan soal apakah sudah diperbaiki atau belum, melainkan kenapa diperbolehkan begitu dari awalnya? Sebuah sekolah yang didirikan oleh orang2 yang mengerti pendidikan tidak akan izinkan hal seperti itu. Justru karena pernah dilakukan, kita bisa mendapat sebuah gambaran umum mengenai sekolah ini.

Kenyataan bahwa hal-hal seperti ini pernah diperbolehkan (untuk bertahun2) menunjukkan bahwa sekolah ini adalah sebuah bisnis dan tujuan utamanya bukan untuk memberikan yang terbaik bagi anak, karena mereka tidak mengerti apa yang terbaik untuk mendidik anak anda. Yang mereka mengerti adalah sekolah swasta merupakan bisnis yang sangat menguntungkan karena dengan asal menyediakan kelas dan “guru” mereka bisa balik modal dalam hanya beberapa tahun saja. Sesudahnya, tinggal meraih profit terus.

Barangkali orang tua sudah tahu bahwa para dokter di seluruh dunia bersumpah untuk melindungi pasien, minimal melakukan pengobatan yang tidak melukai pasien. Di dalam bahasa Inggris ini disingkatkan menjadi sebuah moto “Do no harm” (Jangan melukai/menyakiti). Pada saat saya belajar menjadi guru di Universitas Griffith, di Brisbane, Australia, kami diajarkan moto para guru, yaitu “Kesejahteraan/Perlindungan anak di atas segala-gala” (Safety First atau Always Protect The Children). Kenapa begitu? Sudah saya jelaskan dalam tulisan yang lain bahwa nilai tinggi tidak akan bermakna bagi orang tua kalau seandainya anak mereka menjadi buta atau lumpuh di sekolah disebabkan kelalaian para pengurus dan guru. Hal ini ditekankan kepada kami terus-terusan. Kesejahteraan anak selalu nomor satu. Pelajaran dan ilmu akademis adalah nomor dua. Bisnis dan profit tidak dibahas sama sekali.

Perlindungan anak ini begitu penting sampai masuk ke hukum negara: seorang guru wajib menegor dan menghalangi seorang anak, di mana saja dia berada, dari tindakan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Misalnya, kalau seorang guru melihat anak sedang manjat tiang listrik, maka guru wajib menyuruh dia turun, walaupun dia bukan muridnya guru itu. Kesejahteraan anak di atas segala-galannya.

Pernyataan dari sekolah yang mengancam saya ini: “We are all aware that all trainee teachers are required to learn School Business Management in one way or another during our course as teacher” adalah sesuatu yang sangat asing buat semua guru professional yang saya kenal. Di universitas saya, sama sekali tidak ada pelajaran untuk utamakan bisnis di sebuah sekolah. Yang ada hanya semua pelajaran yang dibutuhkan untuk menjaga kepentingan anak, bukan kepentingan pengusaha.

Mulai saat ini, saya tidak akan menyebutkan nama sekolah mana pun, walaupun saya tahu orang tua sangat menginginkan itu. Justru saya menyebutkan nama2 sekolah selama ini (walaupun terasa berat di hati) dengan niat membantu orang tua supaya bisa paham bahwa ada sekolah yang tidak sesuai dengan harapan anda (padahal anda tidak sadar).

Sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka perbaikilah dengan tangannya (kekuasaannya), jika tidak mampu, lakukanlah dengan lisan. Dan jika tidak mampu juga, lakukan dengan hati. Dan ini merupakan selemah-lemahnya iman.”

(HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Sebagai bisnis besar, tentu saja sekolah2 swasta di DKI memiliki pengacara yang mahal yang dibayar dengan uang anda untuk melindungi bisnis mereka dan bukan untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak anda. Dan uang anda yang mereka terima itu, digunakan untuk melindungi “profit margin” mereka, dengan cara apapun.

Kalau sebuah sekolah merasa dirugikan dengan pernyataan dari satu orang, maka mereka tidak akan terlalu kuatir kalau mereka merasa sangat yakin terhadap apa yang mereka sediakan bagi anak dan orang tua di sekolah. Mereka dengan tenang hati akan menjelaskan kepada orang tua bahwa orang itu salah dengan komentarnya mengenai sekolah. Mereka dengan tenang hati akan menghubungi orang itu dengan sikap yang baik, menawarkan informasi yang berbeda dan minta dia melakukan evaluasi yang baru. Anehnya, sebuah sekolah swasta yang sudah mengisi tabungannya dengan milyaran rupiah dari uang orang tua masih bisa merasa sebagai “korban” sehingga harus mengancam orang lain dengan tuntutan hukum.

Dari sekolah yang lain yang pernah saya sebutkan namanya, memang ada yang mengambil jalur bijaksana itu sebagai orang dewasa dengan membalas komentar saya dan menghubungi saya untuk berdialog. Oleh karena saya dihubungi dan diberikan informasi yang berbeda dari informasi semula, tulisan saya di-edit supaya memasukkan informasi dari pihak sekolah. Dan karena sekolah bersikap baik seperti itu, saya malah menjadi terkesan dengan sekolah tersebut dan tidak lagi melihat mereka sebagai sekolah yang utamakan bisnis di atas kepentingan anak.

Kalau ada sekolah yang membalas komentar saya dengan komentar mereka, maka orang tua diberikan dua pandangan dan dipersilahkan menilai sendiri. Lain halnya sekolah ini di Rawamangun yang langsung mengancam saya dan tidak pernah minta saya untuk mengubah tulisan saya dengan menawarkan informasi yang berbeda. Yang jelas, pihak sekolah ini, selain mengancam saya, tidak menyangkal tuduhan satupun dari orang tua yang menyebarkan email tentang mereka.

Ternyata masih ada orang tua yang ingin menyebarkan informasi tentang sekolah ini yang mengancam saya. Contohnya, ada surat dari pembaca yang masuk ke koran Kompas pada tanggal 26 Maret. Apakah Kompas akan diancam juga? Kalau tidak, kenapa? Informasi yang sama ada di internet di beberapa Milis. Apakah Moderator semua Milis akan diancam juga? Kalau tidak, kenapa? Kemarin saya sempat membalas ancaman sekolah ini dengan komentar saya (post itu diubah dan menjadi post ini). Sekaligus, saya menyediakan link ke surat pembaca tersebut di Kompas supaya orang tua bisa melihat sendiri buktinya bahwa ada yang lain yang juga menampung surat dari orang tua juga. Lalu sekolah ini mengancam saya sekali lagi, dan menyuruh saya hilangkan link itu. Kalau surat sudah dimuat di Kompas, berarti sudah di “Public Domain” untuk dilihat semua orang sepanjang masa, asal orang siap masuk ke situs Kompas dan melakukan pencarian. Apakah benar bahwa siapa pun yang memberikan link terhadap bagian surat di situs Kompas pada tanggal 26 Maret bisa dituntut di pengadilan? Seharusnya Kompas yang dituntut dan bukan orang yang hanya memberikan link ke situs mereka.

Pernyatan sekolah ini: “Upon clicking on this icon; your readers will be brought to an article [in Kompas], which clearly mention our school’s name. We consider this as an attempt to damage our reputation.” (Dan oleh karena itu, saya diancam, tetapi bukan Kompas?)

Anehnya, mereka mengancam saya karena tidak inginkan nama sekolahnya disebut di Blog saya, dan mengancam saya untuk kedua kalinya ketika memberikan link ke Kompas sebagai bukti bahwa surat dari orang tua juga ada di sana. Tetapi dengan meninggalkan komentar itu di Blog saya sebagai berikut: “[Atas Nama] Management, H#### KINDERGARTEN”, justru mereka sendiri yang menyebutkan nama sekolah mereka di Blog saya setelah mengancam saya karena melakukan hal yang sama.

Nama sekolah kita dilarang disebutkan di Blog anda, Salam, Management, (Nama Sekolah). Sungguh tidak logis dan tidak wajar. Apalagi kalau dilakukan dua kali. Apalagi ditambahkan pula dengan penghinaan terhadap saya secara pribadi. Apakah ini sebuah organisasi yang didirikan untuk mendidik anak bangsa ini dengan cara yang terbaik? Atau apakah ada tujuan yang berbeda? Sebuah tujuan yang sekarang menjadi sangat jelas dengan ancaman hukum yang tidak wajar dan argumentasi tidak logis yang mereka lontarkan? Orang tua sebaiknya berhati-hati.

Sudahlah. Saya sudah jenuh bahwa waktu saya dihabiskan untuk membahas satu sekolah saja. Saya ada banyak sekali tugas lain yang jauh lebih utama. Kalau orang tua ingin komplain tentang sekolah ini atau yang lain, silahkan kirim surat ke Kompas (kalau mau menyebutkan namanya) karena sepertinya sekolah swasta hanya takut pada Kompas. Mudah-mudahan Kompas atau koran yang lain akan melakukan investigasi yang lengkap. Kalau orang tua atau guru ingin membagi informasi dengan pembaca lewat saya, maka saya akan hapus nama pengirim dan nama sekolah. Informasi tersebut akan di simpan di Blog untuk memperkuat bukti tentang sekolah swasta yang tidak diatur dengan baik.

Orang tua silahkan berfikir sendiri apakah sekolah swasta anak anda memang ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak anda, atau apakah mereka hanya menjalankan bisnis biasa yang bertujuan untuk memperkaya pemilik sekolah? Saya berpesan kepada orang tua untuk hati-hati saja kalau ada sebuah sekolah swasta yang masih memiliki banyak kursi kosong, padahal sekolah yang lain ada “waiting list”. Bisa jadi sekolah itu agak kosong karena orang tua yang lain baru saja mencabut anaknya.

Setahu saya, tidak ada orang atau organisasi yang siap melindungi anak bangsa ini serta orang tuanya dari apa yang dilakukan terhadapnya di sekolah swasta. Ada usul dari seorang pembaca untuk membentuk “Indonesian Education Watch (IEW) sebagai LSM yang bisa melakukan investigasi dan memberikan keterangan tentang sekolah2 di Indonesia. Di internet saya temukan ini: “Sementara itu Saras Dewi dari National Education Watch (NEW) yang melakukan investigasi di SDN Percontohan IKIP mengatakan…” (Sumber: Tempo Interaktif). Tetapi setelah saya melakukan pencarian, saya tidak bisa menemukan situs yang membahas NEW ini setelah 2004, dan tidak ada websitenya. Apakah ada orang yang mempunyai informasi tentang organisasi ini? Apakah masih aktif?

Barangkali bermanfaat buat masyarakat kalau ada orang tua, pengacara, atau orang yang berpengalaman di bidang LSM yang siap mendirikan Indonesian Education Watch (atau mengaktifkan kembali NEW), dengan perlindungan hukum yang secukupnya tentu saja. Saya bukan seorang wartawan dan karena itu, saya tidak mempunyai waktu untuk melakukan cek dan ricek terhadap semua sekolah di DKI atau di Indonesia. Kalau ada yang ingin mendirikan LSM tersebut, barangkali bermanfaat kalau ada dua departemen di dalamnya: IEW Swasta dan IEW Negeri. Dengan demikian, masing2 bagian bisa berfokus pada isu yang spesifik yang perlu disampaikan kepada orang tua dan masyarakat. LSM seperti ini seharusnya memiliki staf yang sanggup melakukan cek dan ricek dengan menghubungi pihak sekolah dan meyampaikan dua pandangan terhadap orang tua. Saya bukannya tidak mau melakukan itu di Blog, hanya saja tidak punya waktu.

Kalau seandainya ada puluhan pengusaha yang mendirikan perusahaan penerbangan baru, barangkali konsumen menjadi senang karena tiba2 ada penerbangan yang lebih murah ke tujuan yang lebih banyak. Tetapi bagaimana kalau pengusaha tersebut tidak mempunyai ilmu tentang pesawat sama sekali dan semua keputusan dia didasarkan kepentingan bisnis yang utamakan profit di ata segala-galanya? Mungkin dia merasa sudah cukup kalau asal menyediakan pesawat tanpa pedulikan keamanan: yang penting balik modal dengan cepat. Masyarakat baru bisa sadar ada masalah setelah beberapa pesawat mengalami kecelakaan atau jatuh. Bagaimana dengan sekolah? Kira-kira apa yang akan membuat orang tua sadar ada masalah, kalau nama sekolah tidak boleh disebut (tanpa ancaman hukum) dan tidak ada pihak yang melakukan investigasi sama sekali?

Seharusnya ini menjadi tugas wartawan dan pemerintah. Seharusnya ada petugas dari Diknas yang melakukan investigasi terhadap sebuah sekolah setelah banyak orang tua komplain di koran dan di milis. Seharusnya hasil investigasi itu disampaikan ke wartawan yang ikut melakukan investigasi dengan hasilnya diterbitkan di koran mereka. Ini yang biasanya terjadi di negara asing. Di Indonesia kenapa tidak demikian juga? Apa yang menjadi halangan terhadap Diknas dan semua wartawan di DKI untuk melakukan investigasi demi kepentingan masayarakat dan anak kecil yang diperalat untuk kepentingan bisnis?

Setelah dipikirkan, sebuah sekolah swasta harus bayar ke Diknas untuk mendapatkan izin beroperasi. Sebagai sekolah swasta, wajarlah kalau bayaran itu cukup besar. Menurut situs Berita Pemda, ada 761 SD Swasta dan 689 SMP Swasta di DKI. Kalau semua sekolah ini (1450 sekolah swasta, belum termasuk SMA) membayar suatu biaya tertentu ke Diknas, apakah itu cukup sebagai alasan untuk tidak melakukan investigasi terhadap sekolah2 ini? Mudah-mudahan bukan inilah alasannya. Sayangnya, selama belum ada investigasi yang wajar dari pihak pemerintah dan wartawan, anak anda dijadikan kelinci percobaan di tangan pengusaha yang ingin balik modal dengan cepat dan menghasilkan profit yang setinggi mungkin.

Saya akan tetap menulis artikel tentang pendidikan, program bilingual, dan yang lain, walaupun ada ancaman dari pengusaha yang ingin melindungi bisnisnya di atas segala2nya. Semua yang saya lakukan, insya Allah, adalah untuk kepentingan anak, orang tua dan masa depan bangsa.

Sabda Rasulullah, “Barangsiapa selalu menyembunyikan ilmu pengetahuannya, maka di akhirat kelak akan dikalungi api neraka”

(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Hakim)

Saya tidak pernah akan menyatakan bahwa diri saya paling benar, dan pihak sekolah swasta selalu salah. Tujuan saya semata-mata untuk memberikan wawasan baru kepada orang tua bahwa apa yang terjadi di sebuah sekolah swasta harus dipantau oleh orang tua. Bisa jadi sekolah swasta anak anda adalah sekolah yang baik dan benar yang memberikan pendidikan yang bermutu, dan juga bisa jadi sekolah itu didirikan semata-mata untuk menghasilkan profit yang tinggi.

Saya ingin mohon maaf dengan sungguh-sungguh bila ada sekolah swasta di Jakarta yang merasa nama baik dilecehkan di dalam tulisan saya. Saya tidak berniat begitu dan hanya semata-mata ingin membuka mata orang tua supaya menjadi lebih kritis dan waspada terhadap apa yang dilakukan terhadap anak anda tanpa sepengetahuan anda. Saya tidak berniat memfitnah guru dan sekolah yang baik. Saya hanya merasa sedih bahwa ada sebagian sekolah yang merupakan tempat usaha murni dan orang tua tidak dilindungi siapa pun (pemerintah atau wartawan). Saya merasa beban moral sebagai seorang guru untuk melindungi anak kecil yang dijadikan “alat” untuk menghasilkan uang tanpa ada yang pedulikan masa depan mereka. Barangkali selama ini saya melakukan ini dengan cara yang kurang baik karena seharusnya tidak menyebutkan nama2 sekolah. Bila memang salah cara itu, saya mohon maaf. Mulai dari saat ini, saya akan berusaha untuk melakukan tugas yang sama dengan cara yang lebih baik.

Saya berserah diri kepada Allah dan mohon perlindungan dari pengusaha yang mengutamakan bisnis di atas kepentingan anak. Saya juga mohon orang tua membantu saya dengan mendoakan saya, dan juga dengan menjadi lebih aktif membahas masalah2 pendidikan swasta ini. Anda bisa membantu dengan cara mengirim surat ke koran. Bisa dengan minta tanggung jawaban dari Diknas untuk melakukan kontrol yang wajar. Bisa dengan mengadakan pertemuan di rumah saja dan mengajak teman2 diskusi tentang masalah sekolah supaya semua menjadi sadar.

Apakah anda pernah mengirim email ke Menteri Pendidikan dan minta tanggapan dari beliau atas perkara yang anda ketahui? Ini Website Depdiknas dan ini bagian Hubungi Kami. Coba saja kirim email dan minta teman-teman anda mengirim email kepada Diknas juga. Membahas apa yang anda tahu tentang sekolah swasta anak anda (bila terasa ada masalah yang perlu diperiksa). Minta tanggapan dari petugas pemerintah ini. Mereka mendapat gaji dari pajak anda. Mereka seharusnya siap melayani anda. Minta pelayanan itu karena itu merupakan hak anda sebagai seorang warga negara. Bapak Presiden SBY hanya menerima gaji sekarang karena anda telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin bangsa ini. Bapak Presiden yang mengangkat Menteri Pendidikan. Mereka berdua seharusnya menaggapi secara serius masalah apa saja yang menganggu anak anda dan masa depan mereka. Minta tanggapan yang serius itu. Minta pertanggung-jawaban dari mereka. Minta Diknas melakukan investigasi terhadap sekolah yang merugikan anda atau teman anda. Kalau email anda tidak dijawab, kirim lagi besok/minggu depan.

Surat yang sama bisa juga diprint dan dikirim kepada Presiden SBY. Ini alamatnya: PO BOX 9949, Jakarta 10000. Anda juga bisa mengirim sms ke layanan SMS 9949. Di situs Presiden RI, kelihatan bahwa hanya 222 surat mengenai pendidikan masuk dalam satu bulan; sebuah jumlah yang kecil dibandingkan surat lain yang masuk. (Sayangnya, di situs ini tidak ada alamat email untuk Presiden). Bayangkan kalau statistik ini berubah dan tiba-tiba 10,000 surat tentang pendidikan masuk ke kantor Presiden, dan semuanya minta pertanggungjawaban Presiden terhadap pendidikan anak bangsa. Bayangkan kalau Bapak Presiden hubungi Menteri Pendidikan dan menyuruh dia bertindak. Bayangkan kalau ada yang berubah di sekolah anak anda disebabkan anda mengambil keputusan untuk mengirim satu surat saja. Bayangkan negara ini bisa menjadi seperti apa kalau semua orang tua melakukan hal yang sama!

Kalau orang tua siap menjadi lebih aktif dengan mencari solusi terhadap masalah2 ini, maka itulah yang terbaik untuk bangsa ini, bukan kritikan dari satu orang asing saja. Saya merasa bahwa saya berbicara sendiri padahal justru orang tua dan para guru yang lebih berhak membicarakan masalah2 ini. Seharusnya anda dan mereka menjadi lebih aktif supaya saya bisa menjadi pemantau yang lebih pasif. Usaha saya semata-mata untuk membantu anda dan anak anda yang akan membangun masa depan bangsa ini. Saya bukan warga negara. Saya tidak ada hak suara dalam pemilihan umum. Saya tidak bisa menjadi orang yang aktif di pemerintahan dengan kekuasaan secara formal untuk melindungi anak anda. Saya hanya bisa mengajak anda menjadi lebih sadar dan lebih aktif. Anda mempunyai hak sebagai warga negara. Anda mempunyai hak sebagai konsumen. Menuntut hak itu. Kalau anda tidak mau, dan mencari sekian banyak alasan tentang kenapa anda tidak bisa menjadi lebih aktif, maka saya tidak tahu bangsa ini akan menjadi seperti apa di masa depan.

Semoga anak bangsa ini bisa diselamatkan dari para pengusaha dan bisa mendapatkan kepedulian yang wajar dari pihak pemerintah. Anak anda adalah khalifa Allah dan pemimpin masa depan bangsa ini. Jangan mundur. Jangan takut. Memperkuat diri untuk berjuang dan menunut yang terbaik bagi mereka. Kita hanya mendapat beberapa tahun saja di dunia ini sebelum masuk kuburan. Manfaatkan waktu ini untuk membuat suatu perubahan sehingga dunia ini menjadi lebih baik sebelum anda kembali ke Allah. Ambil tindakan konkret untuk memperbaiki negara ini. Ambil tindakan konkret yang akan membantu anak anda dan anak orang lain. Masa depan bangsa ini ada di tangan mereka. Lakukan sesuatu yang jelas. Soal berhasil atau tidak di tangan Allah dan yang penting kita semua siap berusaha dulu. Jangan cari alasan lagi untuk diam terus.

Tentu saja satu orang tidak bisa memperbaiki segala sesuatu sendiri. Tetapi kalau setiap orang berusaha untuk memperbaiki satu hal saja, maka dunia yang diterima anak bangsa ini akan jauh lebih baik. Anda bisa mulai dengan menggunakan suara anda untuk menuntut sekolah dan pendidikan yang lebih baik buat semua anak.

Jangan lupa bahwa teman anda dan tetangga anda juga punya anak. Dengan masuk sekolah swasta atau negeri, mereka juga membutuhkan pendidikan yang layak untuk membangun bangsa ini. Pikirkan mereka juga. Bisa jadi anak tetangga anda yang menjadi Presiden di masa depan. Berjuang untuk dia juga dan menuntut pendidikan yang bermutu untuk semua anak bangsa.

Wabillahi taufiq walhidayah,

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

13 comments:

  1. I just read the entire post and it blows my mind, in a very good way. Inspirational, really.

    ReplyDelete
  2. salam prihatin kang.
    smoga Allah senantiasa menyertai langkahmu.

    tetep semangat yah kang.

    matursuwun

    ReplyDelete
  3. Gene,
    jangan patah semangat. Perjuangan pendidikan sangat mulia. Upahnya terus kita tuai walau kita telah meninggalkan dunia ini.
    And you are not alone.
    Sekarang, bagaimana mengumpulkan orang-oran yang peduli dan rembukan untuk menghasilkan langkah yang lebih besar impactnya.
    Milis sd-islam, mungkin bisa salah satu sarana.
    What you are doing now, hopefully will open the eyes and hearts.
    Semoga Allah limpahi kamu- dan yang lain- dengan sebesar-besar kesabaran dan keikhlasan.

    maimon
    (if you still remember...)

    ReplyDelete
  4. Mas Gene..., thx buat info-nya sy sdg googling utk mencari referensi sekolah utk anak sy th depan...sy jg tidak setuju dg sekolah mahal dan ke barat2an...apa ada list sekolah di jkt yg mutu-nya bagus dan tdk komersil.
    Sy jg tertarik dg metode homeschooling...Mohon advise-nya

    ReplyDelete
  5. Maaf, saya tidak punya list. Dan saya tidak tahu kalau ada yang pernah membuatnya. Tetapi kalau memang ada, kualitas informasi seperti apa? Kalau penulis jujur tentang masalah2 di dalam sekolah swasta tersebut, dia akan dituntut dengan “pencemaran nama baik” oleh pihak sekolah. Tetapi kalau dia tidak mengungcapkan masalah2 tersebut, berarti informasinya tidak berguna karena hanya sebatas menjadi “iklan” bagi setiap sekolah yang memberikan info sekilas.

    ReplyDelete
  6. Assalamu'alaykum

    Tulisan bpk berapi-api sekali. Semoga dilimpahkan kesabaran dari ALLAH SAW dan di mudahkan setiap itikad baik ini. Amin.

    Wassalamu'alaykum

    ReplyDelete
  7. Jangan takut, tulis yang besar nama sekolahnya, penduduk Jakarta 12 Juta jiwa dan semua orang tua pasti menginginkan anaknya sekolah, menyembunyikan informasi tentang kejahatan apalagi di bidang PENDIDIKAN, tidak lebih baik dari pelaku kejahatan itu sendiri.. Apakah anda tega melihat orang tua yang tidak tau nama sekolah yang berperilaku seperti itu terperangkap/terjebak habis-habisan demi memperjuangkan anaknya mendapat pendidikan yang mutu kwalitasnya seperti itu.? Informasikan pada masyarakat agar tidak terjadi kotban baru yang terjerumus pada sekolah tsb,

    ReplyDelete
  8. Maaf bapak/ibu Nazareth, saya tidak bisa melakukan itu.

    Saya pernah diancam dengan tindakan hukum oleh sebuah sekolah yang tidak inginkan namanya disebut di blog saya. Padahal dalam kasus itu saya hanya menampung email dari seorang ibu yang merasa sebagai korban dan surat yang sama juga ada di Kompas. Tetap saja saya dikirim email yang mengancam akan menunut saya bila tulisan tersebut tidak dihapus dari blog.
    Karena orang tua kaya siap ditipu dan siap bayar mahal ke sekolah swasta, sekolah seperti itu punya banyak sekali uang untuk membayar pengacara yang mahal. Sedangkan saya kerja sendiri, tidak punya tabungan dan tidak punya pengacara. Jadi, kondisi saya tidak memungkinkan saya melawan pengacara dari sekolah swasta. Pengacara itu punya satu tugas saja: menjadi nama baik sekolah (supaya orang tua bisa ditipu terus) dengan cara apapun. Kalau harus masuk pengadilan, mungkin saya bisa dibuktikan tidak bersalah. Tetapi saya rugi sekali dari sisi waktu dan harus cari juga pengacara yang mau membela saya. Dan kalau seandainya terbukti bersalah (pencemaran nama baik sangat mudah “dibuktikan” di sini) maka saya bisa dideportasi dari Indonesia.

    Bagi saya, lebih mudah, murah dan aman kalau saya hapus nama2 sekolah swasta tersebut.
    Baru hari ini saya hubungi seseorang yang saya kenal dari beberapa tahun yang lalu. Di luar negeri, dia kerja di suatu industri, misalnya, sebagai tukang di tempat bangunan. Di sini, sudah menjadi guru bahasa Inggris (padahal dia sama sekali tidak punya kemampuan itu), dan malah sudah masuk salah satu sekolah swasta termahal di Jakarta sebagai guru bahasa Inggris. Saya tinggal ketawa saja. Kalau seandainya orang tua tahu…

    Tetapi saya kira tidak aman kalau saya sebutkan nama sekolahnya. Orang tua yang kaya (tetapi juga bodoh dan selalu siap ditipu) bayar puluhan juta rupiah supaya anak mereka bisa diajar oleh seorang tukang bangunan yang tidak punya ilmu pendidikan sama sekali. Orang tua itu menjadi kaya dari bisnis, tetapi untuk pendidikan anaknya, mereka tidak bersedia melakukan satu hal kecil seperti menuntut diberikan CV dari guru yang mengajar anaknya. Tukang bangunan dari luar negeri bisa menjadi guru di sini dengan gaji puluhan juta! Dan itu terjadi karena orang tua yang kaya selalu lari ke sekolah yang “ada bule” dengan anggapan bule = berilmu dan lebih baik dari guru lokal. Saya jauh lebih percaya pada guru Indonesia yang saya kenal daripada mayoritas dari guru bule yang sedang kerja di sini. Tetapi orang Indonesia sendiri yang meremehkan guru Indonesia. Hasilnya: anak mereka dididik oleh tukang bangunan yang punya kulit putih dan hidung mancung (= memenuhi syarat untuk menjadi guru bahasa Inggris di sekolah swasta yang mahal).

    Orang tua sendiri yang tidak bersedia melakukan pemeriksaan dan asal percaya pada pihak sekolah kalau dipimpin oleh orang yang dianggap dari kalangan mereka (orang kaya juga). Orang tua menganggap bahwa seorang pengusaha kaya yang bangun sekolah untuk anak2 orang kaya pasti akan menyediakan segala sesuatu yang terbaik. Ternyata, tidak. Orang tua seharusnya lebih waspada sebelum memberikan puluhan juta pada sekolah2 itu. Ternyata, tidak mau waspada.

    Kasihan anak yang harus belajar di sekolah2 swasta tersebut!

    Anda benar, jumlah penduduk di Jakarta 12 juta, dan banyak dari mereka ingin tahu nama sekolah2 yang buruk dan masalah apa yang terjadi di dalam sekolah2 tersebut (hampir selalu ada masalah managemen karena pemilik sekolah tidak punya latar belakang pendidikan). Tetapi dari 12 juta orang itu yang menginginkan informasi, tidak ada yang menjamin nafkah hidup bagi saya, tidak ada yang menjamin visa kerja, tidak ada yang menjamin bantuan dari pengacara bila ada sekolah yang ingin menuntut saya, dan tidak ada yang menjamin saya tidak akan bisa dideportasi bila saya kalah di dalam pengadilan.

    Saya ingin sekali menjelaskan apa yang saya tahu tentang sekolah2 itu, tetapi kalau sebagai hasilnya saya dideportasi dari Indonesia, saya tidak akan bisa membantu anak2 lagi. Jadi, karena saya berfikir secara jangka panjang, untuk saat ini saya terpaksa membela diri dulu dari segala tuntutan hukum dengan tidak menyebarkan informasi, walaupun saya ingin membantu orang tua. Saya selalu berusaha membantu sebisanya saya, tetapi tidak bisa maksimal.

    Menurut saya, masalah ini tidak akan hilang selama belum ada pemerintah baru yang peduli pada pendidikan. Kalau sudah ada pemerintah yang bersih, peduli dan profesional, dan korupsi yang besar di dalam Depdiknas sudah ditangani, dan pemerintah mulai menyediakan sekolah negeri yang berkualitas, orang tua tidak akan membutuhkan sekolah swasta lagi. Itulah harapan saya! Semoga pemerintahan seperti itu segera terwujud di Indonesia, dan kalau sudah ada, saya akan membantu mereka di bidang pendidikan, insya Allah.

    Salam,
    Gene

    ReplyDelete
  9. Panjang juga post yang ini dan komentar Gene Netto diatas membuat terharu saja.

    Pak Gene, Insya Allah saya janji apabila nanti Allah SWT berkenan menganugerahi saya rejeki menjadi "orang tua" dan menganugerahi saya kemampuan maka saya yang akan membantu kalo mengalami kesulitan (tidak menjamin, jaminan hanya datang dari Allah SWT) untuk visa kerja bapak, nafkah hidup bapak di indonesia, dan akan berusaha semaksimal yang saya bisa supaya seorang pendidik dengan misi mulia seperti anda tidak akan pernah dideportasi dari Indonesia. Bukannya karena saya seorang kaya raya yang ga ngerti uangnya mau diapain, sama sekali tidak. Saya hanya seorang pegawai biasa yang pulang pergi kerja dengan AC Bianglala atau Mayasari Bakti, kadang2 nebeng teman. Hanya saja kalo punya kesempatan dan kemampuan untuk melakukan hal baik terhadap orang lain yang berjasa terhadap kita dan memang membutuhkan, kenapa tidak. Jauh lebih baik memberi dan membantu daripada menerima. Dan kurang baik kalo hanya berharap sesuatu yang sifatnya gratisan saja.

    Saya heran juga apa rencana Allah sampai mendatangkan seorang asing jauh2 kesini (Alhamdulillah seorang muslim) yang begitu peduli dengan anak bangsa ini. Dan saya ga tau juga apakah pak gene ini the one and only atau ada yang lain. Tapi yang jelas saya tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini.

    Namun sepertinya selama tidak ada perubahan total di Indonesia, pak gene tidak usah saja berurusan dengan pengacara, jaksa, dsb. Ngga penting banget dan hanya menyia-nyiakan waktu dan umur saja.

    O iya, kalimat pemerintah yang bersih, peduli dan profesional itu nampaknya bernuansa kampanye sekali :).

    Wassalam.
    irma

    ReplyDelete
  10. >> O iya, kalimat pemerintah yang bersih, peduli dan profesional itu nampaknya bernuansa kampanye sekali :).

    Biarin!! Yang punya blog siapa? Hehehe. Aku sudah mulai pikir hari ini, ada kemungkinan aku mau coba jadi WNI saja nanti. Tergantung Presiden siapa dulu. Kalau memang cocok, dan aku bisa bantu, kayanya lebih baik jadi WNI aja biar tidak usah repot dengan visa kerja dll. Dan kalau aku ikut jalan2 dengan Presiden, tidak akan menumbulkan masalah kalau aku WNI, tapi kl masih WNA, mungkin ada yang tidak suka.

    Tapi lihat dulu hasil pemilu legislative dan presiden.

    ReplyDelete
  11. >>> Dan kalau aku ikut jalan2 dengan Presiden, tidak akan menimbulkan masalah kalau aku WNI

    ....Yakin banget sih kalo bakal ikut jalan2 dengan presiden hahahhhh. Bakal jadi penggantinya andi mallarangeng ya ???? hhhmmmm gene netto ini penuh rahasia :)


    >>> Tapi lihat dulu hasil pemilu legislative dan presiden.

    ... Trus kalo ga cocok, will be still WNA forever 'n ever. Tapiiii yg penting ga akan cabut dari sini kan. Insya Allah. Amin.
    Ga usah ke-mana2, di indonesia saja. WNI or WNI tetap sama di hadapan Allah, tergantung amal ibadahnya :)

    ReplyDelete
  12. dari dulu juga saya pingin usulkan begitu, kalau Pak Gene serius ingin bersumbangsih untuk ummat Islam bangsa ini lebih baik jadi WNI, trus jadi CALEGnya PKS, nanti kami disini siap deh jadi tim sukses 'bayangan'nya, hehehe...

    ReplyDelete
  13. hehehe.. sudah ada tara dkk yang siap jadi tim suksesinya gene netto :)

    Mungkin memang lebih baik kalo yang seperti Gene jadi WNI saja tapi kalo saya tidak salah (kayaknya tau dari blog ini juga deh), nilai tukar untuk secarik kertas tanda jadi WNI itu besar sekali. Bisa sampe ratusan juta rupiah plus masa tunggu yang cukup lama. Komplit sudah kan ???!!!

    Tapi kalo sudah Allah yang berkehendak sih kun fayakuun, yah yang sulit bakalan jadi mudah banget jalannya. Yang lama bakalan jadi sekejap.

    ReplyDelete