Saturday, February 24, 2007

Program gratis untuk blokir situs porno (Free Download)

Site Blocker

Free Download

Home: Ahlul on the Web

Ahlul Fadish Resha, seorang mahasiswa di UGM, Yogya, telah menciptakan sebuah program computer yang bisa memblokir sebagian besar situs porno.

Program ini mengunakan sistem database untuk memblokir situs yang sudah ketahuan sebagai situs porno. Kalau situs porno baru muncul, yang tidak ada di database, program tidak akan berhasil memblokirnya. Untuk mengatasi masalah ini, program harus di-update terus (sama halnya dengan program anti-virus).

Jakarta Post melakukan uji coba dan tidak berhasil masuk situs porno satupun. Selalu mendapat pesan "Mohon Maaf Situs Ini Tidak Bisa Diakses."

Ahlul menyatakan dia sengaja menyebarkan program ini secara cuma-cuma supaya menjadi bermanfaat bagi masyarakat. “Buat apa bikin hak paten kalau ada orang yang dengan mudah bisa membajaknya nanti. Saya lebih mau memberikannya secara cuma-cuma,” katanya.

Ahlul dengan program ini menjadi juara di sebuah kompetisi pemuda berprestasi yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga.


Indo Pos

Jakarta Post

Friday, February 23, 2007

Membantu Anak Hafalkan Ayat2 Di Sekolah




Pertanyaan dari seorang guru:

Assalamu’alaikum, Gus Gene. Ente punya ga trik2 yang memudahkan anak untuk menghafal surat-surat pendek dalam juz amma. Thanks

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Supaya anak mudah menghafalkan, harus ada alasan untuk menghafal. Mereka dapat apa kalau bisa menghafalkan? Harus ada yang memberikan mereka semangat karena dari pandangan anak, asal menghafalkan sesuatu di dalam sebuah bahasa asing bukanlah sesuatu yang bermanfaat atau utama bagi dia.

Keponakan saya dulu sering ikut “nyanyi” saat mendengar asmaul husna di kaset. Orang tua senang, tapi dia belum hafal. Suatu hari, dia minta dibelikan sepeda. Orang tua setuju, dengan syarat dia hafalkan asmaul husna dulu. Dua minggu kemudian dia sudah hafal 100% padahal sebelumnya hanya ikut nyanyi.

Guru memang harus mengajarkan, tapi semangat (motivasi intrinsik) muncul kalau anak ada tujuan yang jelas dan juga dinginkan oleh dia. Kalau anak tidak termotivasi sendiri, maka kita bisa berusaha untuk semangatkan dari luar (motivasi ekstrinsik). Coba diskusi dengan kepala sekolah. Misalnya, anak2 akan dibawa ke Taman Mini atau Ragunan kalau semuanya hafalkan surah2 tersebut. Kalau kepala sekolah setuju, diskusi dengan anak2: “Kalau anak berhasil menghafalkan surah2 ini (seluruh juz amma, misalnya) di dalam 6 bulan, ada hadiah: kita bisa ke Ragunan, atau Taman Mini atau Dufan. Anak2 mau yang mana? Kalian diskusi dulu dan pilih sendiri.”

Sekarang anak2 ada tujuan yang jelas. Mereka mau hafalkan supaya bisa ke Dufan (atau yang lain). Ajarkan anak2 bahwa semua harus hafal (padahal nanti kalau ada yang belum hafal, bisa diberikan kelonggaran. Tapi jangan kasihtahu ke anak2 dulu. Target memang hanya untuk mayoritas anak2 bukan 100% karena belum tentu semua anak sanggup secara langsung.)

Ajarkan ke anak2 yang pintar ngaji untuk membantu temannya mengingat. Dia bisa bantu “mengetes” temannya kapan saja di mana saja, karena setahu anak2, mereka semua mendapatkan hadiah hanya pada saat “semua” anak menghafalkan.

Bisa juga membuat sebuah poster di kelas dengan daftar nama anak dan daftar surah yang perlu dihafalkan. Setiap minggu, anak2 bisa diberi tes singkat untuk menentukan apakah dia sudah hafal. Kalau iya, kasih stiker bintang (atau yang serupa). Ini bisa dijadikan sebuah kompetisi berkelompok atau berpasangan di mana anak2 hanya mendapat stiker kalau semua anggota menghafalkan ayat (dan guru boleh memberi kelonggaran sedikit untuk seorang anak yang sulit menghafalkan).

Anak2 biasanya memberi tanggapan yang sangat positif bila ada kemajuan yang konkret yang kelihatan terus di dalam kelas. Seorang anak yang belum berhasil bisa diberi semangat khusus dan teman2 kelas bisa diajak untuk membagi waktunya untuk mengajar teman yang satu itu secara khusus. Dengan demikian, anak2 bantu mengajar dan tidak selalu guru yang harus mengajar. Tetapi perlu dipantau juga. Jangan sampai seorang anak yang ketinggalan sedikit dibuat merasa sebagai orang yang “gagal”, atau lebih buruk “menggagalkan penerimaan hadiah” buat teman sekelas. Guru harus tetap bijaksana dan memastikan bahwa semuanya berjalan dengan sikap yang positif.

Dengan cara seperti ini, anak2 insya Allah bisa menjadi semangat untuk menghafalkan karena mereka ada tujuan yang jelas2 menarik dan diinginkan oleh mereka. Kalau sekedar mengajarkan mereka bahwa “nanti orang tua akan bangga kalau hafal” tidak cukup. Harus ada yang lebih dari itu yang mendorong mereka. Kamu bisa diskusi dengan guru2 yang lain dulu untuk mencari “hadiah” apa yang paling tepat kalau tidak mau pakai kunjungan ke Dufan. Yang lain juga boleh. Tetapi memberikan beberapa pilihan dan biarkan anak2 menentukan sendiri hadiahnya, supaya mereka merasa “memiliki” hadiah itu. (Apakah pernah dapat kado ulang tahun yang tidak diinginkan? Beda rasanya dengan keadaan di mana saudara bertanya ‘mau dibelikan apa’ lalu dia belikan yang kita inginkan.)

Sistem dengan memberikan hadiah tidak boleh dipakai terus2an untuk segala sesuatu di sekolah, karena justru bisa merusak motivasi intrinsik bila digunakan dengan cara yang berlebihan: “tidak ada hadiah, tidak perlu berusaha!”

Tetapi untuk membantu anak2 menghafalkan ayat/teks di dalam sebuah bahasa asing yang tidak dipahami atau digunakan sehari2, maka saya anggap wajar2 saja dan tepat untuk menggunakan sistem hadiah.

Untuk sistem penghafalan sendiri, memang harus diulangi terus2an, tapi bisa dengan cara yang bervariasi. Misalnya, pertama, membaca bahasa Arabnya dan mengulangi sampai ada sebagian anak yang kurang lebih hafal. Dan juga baca terjemahannya. Lalu kamu bikin sendiri bahan yang ada terjemahan dengan kalimat yang diacak/tidak urut. Anak2 harus berlomba2 dalam kelompok untuk kembalikan dengan susunan yang benar. Contoh, Al Ikhlas:

  • dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
  • Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
  • Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
  • Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan

Kalau kamu sudah pintar cut dan paste dari situs di internet, maka hal yang persis sama bisa dilakukan dengan ayat2 dalam bahasa Arab. Misalnya, 4 ayat diacak dan anak2 harus memotong dan lem lagi di atas kertas baru dengan susunan yang tepat. Lalu mereka bisa menulis terjemahan disebelahnya. Hal seperti ini sebaiknya dikerjakan berdua atau di dalam kelompok pada awalnya supaya selalu ada teman yang membantu. Kalau anak2 sudah biasa dengan hal ini, maka boleh juga dikerjakan sendiri.

Juga bisa dibikin game. Setiap ayat dalam bahasa Indonesia dipotong (misalnya ada 12 ayat) dan disembunyikan di sekitar kelas. Anak2 harus mencarikan dulu, lalu menulis ayat di kertasnya sendiri, lalu menyusun supaya benar, lalu ingat dan mengucapkan bahasa Arabnya, dan kelompok yang paling cepat selesai menang. Kelompok dianggap selesai kalau dia sudah mencatat terjemahan yang benar dengan susunan yang benar, dan dia juga bisa mengucapkan bahasa Arabnya dengan benar tanpa membaca dari al Qur'an (boleh melihat sebentar untuk ingat tapi kemudian harus ditutup).

Kalau ada kelompok yang menyatakan diri selesai, lalu ternyata belum benar, game diteruskan lagi dengan guru mengucapakan: “Ayo, cepat, belum ada yang benar.” Dan seterusnya. Tetapi harus bijaksana juga. Kalau ternyata semua mengalami kesulitan, sampai makan waktu terlalu lama karena surahnya belum dihafalkan, maka suruh semuanya berhenti dan guru membantu untuk selesai. Kalau diteruskan tanpa akhir, anak2 hanya akan menjadi jenuh karena merasa tidak sanggup berhasil. Guru harus tahu (dari ekspresi muka dan bahasa tubuh anak2) kapan saatnya untuk memaksa terus, dan kapan sebaiknya berhenti.

Game yang lain: Ayat2 di dalam bahasa Arab dikopi dan dipotong supaya menjadi dua belah. Setiap anak dibagikan sebagian secara acak dengan jumlah potongan yang sama untuk setiap anak. Misalnya ada 12 ayat, maka menjadi 24 potongan dan setiap anak mendapatkan 24 potongan secara acak. Bisa jadi ada anak yang mendapat 5 ayat yang lengkap dan sisanya tidak lengkap. Semua anak harus berputar2 di dalam kelas untuk mencari teman yang ada potongan ayat yang dibutuhkan. Untuk itu, tentu saja dia harus ingat ayatnya secara keseluruhan atau minta tolong sama teman supaya tahu ayat yang lengkap.

Misalnya, saya pegang “Qulhu wallahu” dan saya harus mencari orang yang ada “ahad” dan saya harus minta potongan ayat itu darinya supaya ayat saya menjadi lengkap. Mungkin dia juga ingin minta potongan saya jadi kita harus bernego. [Sebuah variasi: anak2 kerja dalam kelompok (misalnya 4 anak) dan masing2 mendapat hanya 6 potongan (=24 ptongan total dalam kelompok, =12 ayat). Untuk mendapatkan semua ayat yang lengkap kita harus mencari ayat yang dibutukan sendiri dan yang dibutuhkan teman2 juga), lalu kita duduk dan menyusun semuanya sehingga menjadi 12 ayat yang lengkap.]

Kalau anak2 sudah mendapatkan potongan ayat yang dibutuhkan, mereka harus duduk dan susan dengan benar. Yang pertama selesai menang. Anak yang merasa sudah benar akan disuruh membaca bahasa Arabnya, dan guru akan langsung tahu kalau susunan itu benar. Kalau belum benar (masih diacak sedikit) diteruskan saja sampai ada yang mendapat semua ayat dengan susunan benar. Lalu ayat2 itu bisa dilem di kertas baru dan dihias/diwarnai oleh semua, dan juga bisa ditulis terjemahannya. Ilmu agama didapatkan dari bahasa yang dipahami bukan dari bahasa Arabnya, jadi sebanyak mungkin, mencari kesempatan untuk membaca, menulis dan menghafalkan terjemahan juga. Pada saat yang sama, guru bisa mainkan kaset dengan ayat2 tersebut supaya semua mendengarkan sambil kerja.

Game seperti ini bisa dibuat dengan variasi yang lain juga.

Sekian saja dulu. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene



Thursday, February 22, 2007

Perbandingan Kematian di RI dan AS



Assalamu'alaikum wr.wb.,

Beberapa waktu yang lalu, saya mengirim email kepada teman2 tentang kematian seorang ibu di AS disebabkan dia minum 5 botol air besar dan menahan kencing dalam sebuah kompetisi yang diadakan oleh sebuah stasiun radio di AS. (Ternyata mimum air dalam jumlah yang besar sekali dan menahan kencing sehingga air yang berlebihan tidak bisa keluar dari badan bisa menyebabkan kematian. Sel tubuh menjadi “bengkak” dan otak ikut menjadi tersumbat, sampai ada risiko bisa mati).

Setelah kematian ibu ini, para karyawan di stasiun radio tersebut dianggap bertanggung jawab, padahal mereka sama sekali tidak menyangka kompetisi ini bisa menyebabkan kematian.

Karena mereka mengadakan kompetisinya yang menyebabkan kematian, akhirnya 10 karyawan dipecat!!

Sebaliknya di Indonesia, sudah ratusan orang meninggal dunia dari berbagai macam musibah, dan anehnya, belum seorang pun yang dipecat.

Ada kapal yang tenggelam (ratusan jiwa wafat – belum ada yang dipecat), ada pesawat Adam Air yang jatuh (120an jiwa wafat – belum ada yang dipecat), ada kamatian dari flu burung (yang bertanggung jawab siapa ya?), dari tanah longsor, lumpur panas (pipa meledak, dan dari korban yang mengungsi mungkin ada yang wafat karena tidak mendapat obat/perawatan), bentrokan antara polisi dan tentara, anak muda dipukuli petugas, tabrakan di jalan tol saat Presiden lewat, dan berapa banyak kejadian yang lain bisa ditemukan kalau kita periksa berita di masa lalu.

Di Amerika, 1 orang wafat = 10 karyawan dipecat.

Di Indonesia ratusan orang wafat = cuek saja. Tidak ada yang perlu bertanggung jawab.

Aneh ya.

Negara mana yang penuh dengan orang Islam yang seharusnya sangat peduli dengan "keadilan"?????

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Gene

US water contest radio sacks 10

A California radio station has dismissed 10 of its employees after a woman who had taken part in a water-drinking contest it held died.

Read the rest of the article here:

Story from BBC NEWS:
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/americas/6270195.stm


Published: 2007/01/17 11:15:16 GMT

© BBC MMVII

$100 laptop project launches 2007



(See picture here)
http://news.bbc.co.uk/2/hi/technology/6224183.stm


The first batch of computers built for the One Laptop Per Child project could reach users by July this year.

The scheme is hoping to put low-cost computers into the hands of people in developing countries.

Ultimately the project's backers hope the machines could sell for as little as $100 (£55).

The first countries to sign up to buying the machine include Brazil, Argentina, Uruguay, Nigeria, Libya, Pakistan and Thailand.

The so-called XO machine is being pioneered by Nicholas Negroponte, who launched the project at the Massachusetts Institute of Technology's Media Lab in 2004.

Test machines are expected to reach children in February as the project builds towards a more formal launch.

Wireless networking

Mr Negroponte told the Associated Press news agency that three more African countries might sign on in the next two weeks.

The laptop is powered by a 366-megahertz processor from Advanced Micro Devices and has built-in wireless networking.

It has no hard disk drive and instead uses 512 MB of flash memory, and has two USB ports to which more storage could be attached.

"I have to laugh when people refer to XO as a weak or crippled machine and how kids should get a "real' one"," Mr Negroponte told AP.

"Trust me, I will give up my real one very soon and use only XO. It will be far better, in many new and important ways."

The computer runs on a cut-down version of the open source Linux operating system and has been designed to work differently to a Microsoft Windows or Apple machine from a usability perspective.

Instead of information being stored along the organising principle of folders and a desktop, users of the XO machine are encouraged to work on an electronic journal, a log of everything the user has done on the laptop.

The machine comes with a web browser, word processor and RSS reader, for accessing the web feeds that so many sites now offer.

"In fact, one of the saddest but most common conditions in elementary school computer labs (when they exist in the developing world), is the children are being trained to use Word, Excel and PowerPoint," Mr Negroponte said.

"I consider that criminal, because children should be making things, communicating, exploring, sharing, not running office automation tools."

The new user interface, known as Sugar, has been praised by some of the observers of the One Laptop Per Child project.

It doesn't feel like Linux. It doesn't feel like Windows. It doesn't feel like Apple," said Wayan Vota, who launched the OLPCNews.com blog and is also director of Geekcorps, an organisation that facilitates technology volunteers in developing countries.

"I'm just impressed they built a new (user interface) that is different and hopefully better than anything we have today," he said.

But he added: "Granted, I'm not a child. I don't know if it's going to be intuitive to children."

Trial versions of the operating system in development can be downloaded to be tested out by technically-minded computer users around the world.

Story from BBC NEWS:
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/technology/6224183.stm

Published: 2007/01/02 08:41:10 GMT

© BBC MMVII

US Data Show One in Eight Americans in Poverty



Hundreds of billions of dollars have been spent on Bush's wars. So, logically you would expect that America is a rich country. The government may have lots of money available, but what about the people?

US Data Show One in Eight Americans in Poverty
By Joanne Morrison
Reuters

Tuesday 29 August 2006

Washington - In the world's biggest economy one in eight Americans and almost one in four blacks lived in poverty last year, the US Census Bureau said on Tuesday, releasing a figure virtually unchanged from 2004.

The survey also showed 15.9 percent of the population, or 46.6 million, had no health insurance, up from 15.6 percent in 2004 and the fifth increase in a row.

It was the first year since President George W. Bush took office in 2001 that the poverty rate did not increase. As in past years, the figures showed poverty especially concentrated among blacks and Hispanics.

In all, some 37 million Americans lived below the poverty line, defined as having an annual income below around $10,000 for an individual or $20,000 for a family of four.

The last decline in poverty was in 2000, the final year of Bill Clinton's presidency, when it fell to 11.3 percent.

"It shows that we are spending more money than ever on anti-poverty programs and we haven't done anything to reduce poverty," said Michael Tanner of CATO Institute, a free market think tank in Washington.

Around a quarter of blacks and 21.8 percent of Hispanics were living in poverty. Among whites, the rate edged down to 8.3 percent from 8.7 percent in 2004.

"Among African Americas the problem correlates primarily to the inner-city and single mothers," said Tanner, adding that blacks also suffer disproportionately from poor education and lower quality jobs.

Black median income, at $30,858, was only 61 percent of the median for whites.

Some 17.6 percent of children under 18 and one in five of those under 6 were in poverty, higher than for any other age group.

Real median household income rose by 1.1 percent between to $46,326 from $45,817 - its first increase since 1999.

The figures contained wide regional variations, ranging from a median household income of $61,672 in New Jersey to $32,938 for Mississippi.

Major cities with the highest proportions of poor people included Cleveland with 32.4 percent and Detroit with 31.4 percent under the poverty line.

http://www.truthout.org/docs_2006/082906T.shtml

Tidur Siang Baik Untuk Jantung


Tidur siang yang singkat (hanya 30 minit x 3 hari dalam satu minggu) dibuktikan bisa mengurangi risiko kematian dari gangguan jantung sebesar 37%!!

Sebuah studi yang dilakukan di Yunani meneleti 23.681 pria dan wanita di antara umur 20 - 86 tahun. Hasilnya, orang yang tidur siang dengan frequensi dan durasi apapun menghasilkan penurunan risiko gangguan jantung yang bisa menyebabkan kematian sebesar 34% dibandingkan dengan orang yang tidak tidur siang.

Di antara para pria yang bekerja dan juga tidur siang, ada penurunan risiko sebesar 64% dibandingkan dengan 36% untuk pria yang tidak bekerja.

Tingkat kematian di kalangan wanita tidak cukup tinggi bagi para peneliti untuk melakukan perbandingan dengan tepat.

Para peneliti menduga bahwa tidur siang bisa menurunkan tingkat stress, dan itulah sebab ada hasil yang lebih menonjol di kalangan pria yang bekerja.

Ketua tim peneliti, Dr Dimitrios Trichopoulos, dari Harvard School of Public Health menyatakan “Di negara-negara yang mempunyai tingkat kematian yang rendah yang disebabkan gangguan jantung, tidur siang adalah kebiasaan yang umum.”

Kesimpulan: kalau anda sudah makan siang di kantor, silahkan mencari tempat untuk bobo siang seperti anak anda di rumah. Kalau bos mengeluh, cukup menjawab “Saya lagi sibuk menjaga kualitas dan kemampuan SDM di kantor!”

Kalau serangan jantung, tidak bisa kerja kan??

Hehehehehe…



Afternoon nap is good for heart

Taking 40 winks in the middle of the day may reduce the risk of death from heart disease, particularly in young healthy men, say researchers.

A six-year Greek study found that those who took a 30-minute siesta at least three times a week had a 37% lower risk of heart-related death.

The researchers took into account ill health, age, and whether people were physically active.

Experts said napping might help people to relax, reducing their stress levels.

It is known that countries where siestas are common tend to have lower levels of heart disease, but studies have shown mixed results.

The researchers in the Greek study looked at 23,681 men and women aged between 20 and 86. The subjects did not have a history of heart disease or any other severe condition.


This study has four advantages - it's large, prospective, limited to healthy people and we have been very careful to control for physical activity
Dr Dimitrios Trichopoulos
Harvard School of Public Health

Participants were also asked if they took midday naps and how often, and were asked about dietary habits and physical activity.

The researchers found those who took naps of any frequency and duration had a 34% lower risk of dying from heart disease than those who did not take midday naps.

Those who took naps of more than 30 minutes three or more times a week had a 37% lower risk.

Working men

Among working men who took midday naps, there was a 64% reduced risk of death compared with a 36% reduced risk among non-working men.

There were not enough female deaths to compare figures.

The researchers said taking a siesta may reduce stress, hence the more notable finding in working men.

Lead researcher Dr Dimitrios Trichopoulos, from the Harvard School of Public Health, said: "In countries where mortality from coronary diseases is low, siesta is quite prevalent.

"There have been other studies but with equivocal results.

"This study has four advantages - it's large, prospective, limited to healthy people and we have been very careful to control for physical activity.

"The thing we can say is that it's worth studying further."

He added that if backed by other trials, taking a siesta would be an interesting way of reducing heart disease as it had no side effects.

The only important factor was that people should not reduce the amount of physical activity they did in the rest of the day.

June Davison, cardiac nurse at the British Heart Foundation, said: "These interesting findings identify that having a siesta is associated with a reduced risk of dying from a heart problem, particularly in working men.

"Having a nap in the middle of the day may help people to unwind and relax - which is important for our overall health.

"However it is important to get a balance between rest and activity, as being regularly active can help reduce the risk of coronary heart disease."

She added that people who felt stressed might be more tempted to have less healthy behaviour, such as smoking, eating a poor diet, drinking too much alcohol and not getting enough exercise. This would add to their risk of suffering a heart-related death.

Story from BBC NEWS:
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/health/6354855.stm


Published: 2007/02/13 00:12:28 GMT

© BBC MMVII

Wednesday, February 21, 2007

Balasan Komentar Milis SD-Islam



Assalamu’alaikum wr.wb.,

Saya dikirim link ke milis ini:

sd-Islam. Bersama memperbaiki pendidikan:

http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/

dari salah satu anggota. Dia ajak saya bergabung.

Saya sudah membaca semua komentar tentang artikel saya yang ada di milis ini. Saya mau membalas sebagian besar, kalau boleh. Sebelumnya, saya mau informasikan bahwa saya sudah terima lebih dari 160 email dari orang tua, sampai ada juga dari manca negara.

Perlu diketahui bahwa hampir semuanya minta informasi tentang sekolah2 SD dan juga TK. Semua email yang telah saya terima itu bersikap positif (sampai saat ini, alhamdulillah) dan sepertinya para orang tua di DKI bingung sekali dan juga takut dengan proses mencari sekolah untuk anaknya.

Semuanya sepakat bahwa sekolah swasta sekarang bersifat bisnis, dan kualitas tidak bisa dijamin, atau mungkin lebih tepat mengatakan tidak sesuai dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Banyak yang menyatakan mendapat pengalaman yang serupa dengan apa yang saya ceritakan mengenai kurikulum, kualitas guru dan managemen sekolah. Ada yang menyatakan anaknya ditolak masuk SD karena tidak bisa membaca (dan tentu saja hal itu membuat orang tuanya stress!). Ada yang menyatakan bahwa mereka takut sekali kalau salah memilih sekolah, tetapi semuanya ingin mendapatkan sekolah dengan kualitas pendidikan yang sebaik mungkin (dengan harga terjangkau) untuk buah hatinya.

Oleh karena itu, saya menjadi semangat untuk meneruskan perjuangan ini, padahal di awalnya saya hanya berniat membuat sebuah artikel saja karena sudah bosan mengulangi cerita2 tersebut setiap kali ceramah.

Misalnya, ada orang tua menyatakan kepada saya setelah ceramah “Pak, saya kecewa dengan Sekolah X, jadi saya mau pindahkan anak ke Bina Nusantara (Binus). Binus bagus kan, Pak? Ada bulenya!” dan seterusnya. Mereka mengharapkan masukkan dari saya karena saya ada kualifikasi sebagai guru.

Saya mesti bagaimana? Berbohong? Jujur? Basa-basi, sehingga mereka tidak jadi tahu apa2? Bagaimana? Saya memutuskan untuk selalu jujur. Kalau saya tahu sesuatu, saya sampaikan. Kalau tidak tahu, saya menyatakan begitu. Orang tua SELALU menjadi kaget pada saat saya ceritakan “informasi dalam” itu.

Begitu saja dulu. Kalau ada banyak yang inginkan saya bergabung di sini, saya akan berusaha untuk membantu dengan sebaik mungkin. Sekarang, balasan komentarnya:

sayang juga ada sosok spt si bule mr gene ini tapi tampaknya tidak banyak yang mau mendapatakan keuntungan dari ilmu yang dia miliki, terutama sekolah2 islam di jabodetabek.

Saya siap dibayar, tapi tidak ada yang menawarkan. Hehehehe…

semoga sumbang saran gene bisa lebih didengar dan dipahami lalu bisa diterapkan.

Saya sedang berusaha untuk membantu jaringan SDIT untuk meningkatkan kualitas dari seluruhnya. Jaringan itu sudah 1200 SD se-Indonesia.

mungkin gene juga bisa lebih bermanfaat sekiranya dia jadi relawan pengembangan pendidikan dasar islam di aceh pasca tsunami ya, kan pasti lebih enak dan nyaman memulai dari 'nol' ...

Tidak. Sudah banyak LSM yang ke sana, dan kemunkginan besar, masa depan bangsa akan ditentukan di sini (DKI). Lulusan sekolah di DKI menjadi prioritas karena kemungkinan besar anak inilah yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Masalah di daerah bisa menyusul nanti kalau sudah ada langkah konkret di sini dulu. Kita terpaksa menentukan prioritas untuk jangka pendek.

Sy jadi penasaran, menurut bapak2 si Gene menyekolahkan anaknya dimana ya? Just curious.

Saya belum menikah, dan belum punya anak. Anak teman (yang dihitung keponakan) sekolah di Al Azhar Ps Minggu. Apa yang terjadi di sekolah dipantau oleh saya terus2an. Ketika Ibunya menjadi stress, saya tenangkan dengan menjelaskan bahwa komentar gurunya kurang tepat, dst. Ketika anak mendapat skil baru (mis. menghitung, di TK) saya pantau untuk memastikan dia diajar dengan benar, dan saya tambahkan dengan trik baru yang tidak didapat di sekolah.

Dan biasanya calon ortu seperti Gene ini dihindari supaya gak daftar....bener ini!! Artinya ada ortu yg memandang anaknya sangat 'perfect' dan mereka juga menuntut sekolah menjadi lingkungan yg 'perfect' juga sesuai standar versi mereka.

Saya paham yang dimaksudkan dengan ini karena pernah berhadapan dengan ortu seperti itu. Saya tidak bemaksud menjadi begitu. Mereka itu tidak pernah akan puas dengan usaha apapun dari pihak sekolah. Sayangnya, ortu itu seringkali kurang kerjaan, jadi mereka mau “mengurus” sekolah sendiri.

Saya ingin bertanya: kalau WC kotor, apa kita harus mensyukuri adanya WC di sekolah, atau bertanya kenapa tidak dibersihkan sehingga higenis? Kalau anak pipis di lantai WC, karena WC terlalu bau sehingga mereka tidak tahan masuk, apakah wajar kalau kita “bersikap positif” dan mensyukuri WCnya? Atau wajarlah kalau kita menjadi marah dan menuntut WC dibersihkan?

Bisa paham kan?

Isi dari artikel saya bertujuan untuk menginformasikan orang tua dengan maksud bertanya “kenapa tidak ditindak/diperbaiki” padahal tidak sulit?

sekedar info, gene ini masih bergelar BA alias bujang 'abadi' krn hingga kini masih single ... mungkin masih terus menimang-nimang mana sekian banyak proposal yang sesuai kriteria dia ... saya kenal dia tidak akrab tapi tahu dia sejak akhir 90an di awal dia masuk islam. semoga dia bukan NATO ya ... amin.

Waduh!... (Saya masuk Islam tahun 1996)

Si Gene ini tipikal bule yang punya wawasan dan pengetahuan yang luas
tentang pendidikan dengan standar internasional. Tentu saja karena ia
hidup dan mengalami sendiri standar pendidikan yang tinggi tersebut.

Betul. Tidak boleh ada orang kerja di sekolah2 saya di luar negeri kalau tidak bergelar di bidang pendikikan. Di sini beda.

Saya rasa ia jujur dengan apa yang dikatakannya

Insya Allah.

Tentu saja akan banyak orang yang 'berang' dengan pernyataannya ini karena
mungkin kita menganggap diri kita sudha bekerja cukup keras untuk
mencapai standari yang ada sekarang ini

Saya sangat bisa menghargai usaha dari guru/pihak sekolah…. Selama mereka berusaha!! Menerima uang dan menyatakan dengan enteng “Kita bilingual, ada bule di sini lho” setara dengan perusahaan penerbangan murah (budget airlines) yang menerima uang dan menyatakan dengan enteng “Pesawat kita ada dua sayap lho, berarti pasti sampai ke tujuan dengan selamat!”

Emang begitu gampang menentukan keberhasilan atau keselamatan?

dan ternyata dengan ringannya
si Gene ini bilang bahwa sekolah yang kita banggakan tersebut belum
masuk 'standar', standarnya Gene yang internasional tersebut tentunya.

Menyatakan hal2 ini terasa sangat berat di hati saya. Saya paling tidak tahan kalau ada yayasan sekolah yang minta saya lakukan evaluasi sekolah, dan sesudahnya seluruh rekomendasi saya diabaikan (“Mohon WC dibersihkan secara rutin karena baunya tercium dair jarak 10m”). Dan inilah sebuah sekolah Islam! Dengan poster di tembok:

“Kebersihan adalah sebagian bagi keimanan…[dan saya ingin tuliskan: untuk orang Kristen saja karena orang Islam tidak sanggup!]”

Tapi saya salut dengan si Gene ini karena ia punya keperdulian yang
tinggi pada standar pendidikan Indonesaia (dan sekolah Islam) dan mau
ambil resiko berhadapan dengan para pelaku pendidikan di Indonesia yang
kebanyakan memang tidak paham dan juga kepala batu. :-)

Terima kasih. Saya terpaksa peduli karena Allah telah memberikan saya ilmu ini. Kalau saya seorang dokter, saya akan komplain tentang rumah sakit barangkali.

Saya berharap akan semakin banyak orang seperti Gene yang tulus mau
memperbaiki kondisi pendidikan (sekolah Islam) dengan kritik-kritiknya.
Ini memang menyentakkan kita yang sudah terlanjur menganggap diri sudah
memiliki standar yang tinggi. :-P

Saya siap di-kloning saja. Biar ada banyak Gene di Indonesia. Hehe. Bercanda.

ada teman kami, mutual friend saya dan Gene, yang jauh lebih 'sadis' … tapi beliau bisa lebih 'fair' (spt diharapakan mas Riza) karena juga memberikan masukan/solusi untuk masalah yang dihadapi,

Apa solusinya??? Jangan dirahasiakan dong. Karena saya sama sekali tidak tahu solusinya selain membangun jaringan sekolah baru (money dari mane?) atau SD Negeri harus ditingkatkan kualitasnya sehingga hanya orang kaya banget yang anaknya sekolah di swasta (di Australia/ NZ memang begitu: hampir semua orang ke SD negeri dan hanya anak dari orang yang paling kaya yang masuk sekolah swasta!).

Selama kita tidak boleh menculik dan menyiksa anggota setiap yayasan sehingga mereka mulai peduli dengan pendidikan yang bermutu, yaa… gimana dong? Tidak bisa kita paksakan mereka memperbaiki diri karena mereka tidak peduli. Tanpa peduli, profit meningkat terus. Dan ada waiting list untuk masuk. Jadi, bagaimana caranya membuat mereka peduli kalau mereka tidak bisa dibujuk untuk peduli???

Please tell me the solution!!!!

ya, semoga Gene tulus ketika mencoba menanggapi gambaran yang ia alami itu, dan bisa lebih action-oriented

HOW? Apakah saya boleh memukul anggota yayasan yang minta saran dari saya dan sesudahnya tidak peduli untuk berubah? Gimana dengan yayasan yang TIDAK minta saran? Lebih sulit lagi. Action oriented maunya apa sih?? Ampun deh!!!

Kalau saya punya anak, saya akan lebih pusing dari orang tua yang tidak punya ilmu saya. Orang tua biasa merasa puas dengan sekolah X, karena dia tidak bisa melihatnya dengan mata saya. Kalau saya lihat “bule” dan setelah bertanya2, saya akan tahu dalam waktu 3 minit kalau dia bergelar pendidikan atau tidak. Orang tua biasa bisa ditipu. Berarti kalau saya punya anak, saya sudah siap putus asa!! (padahal nggak boleh ya.)

Saya justru bisa 'menikmati' kritikan Gene itu karena selama ini tak
ada saya baca kritik semacam ini.

Justru itu tujuan saya.

Fenomena 'sekolah bilingual' yang
ngawur itu memang sudah pada tahap mencemaskan

Karena Diknas tidak peduli. Ada undang2 bahwa bule yang mau kerja di sini harus ada gelar minimal S1. Saya sudah beberapa kali menemukan “guru” yang hanya lulus SMA. Bahkan ada yang mantan “kuli bangunan” dari Australia.

Diknas tanggung jawab bersama dengan sekolah atau kursus bahasa. Tetapi kalau Diknas tegas, bule yang ada sekarang akan hilang/tidak boleh kerja. Terus, orang tua komplain “kok tidak ada native di sini?” Terus, supaya bisnis sekolah tidak rugi, harus mencari bule dari luar negeri. Mereka harus dibiayai untuk datang ke sini. Lalu, biaya pendaftaran di sekolah meningkat drastis karena bule itu mahal selangit. Lalu, orang tua komplain lagi (nggak pernah puas ya!!).

Tetapi, apakah guru bule yang siap datang ke negara “teroris” ini (dari pandangan dia) termasuk guru paling baik se-Australia? Kalau dia termasuk yang terbaik, bukannya tawaran dia sana juga banyak?

Atau dia asal guru, yang tidak ada ikatan (single/cerai), atau dikeluarkan dari sekolah sana karena dia bermasalah (tapi gelar masih ada), atau dia pengen jalan2 karena dia seorang “hippy”, atau dia orang homo yang suka laki2 berkulit coklat (di sini banyak lho), atau dia seorang pedofil dan dia tahu anak2 mudah didapat di sini, atau tawaran gaji begitu gede dia harus terima supaya bisa beli rumah setelah pulang dari Indonesia, dan seterusnya.

Semua itu belum dipikirkan orang tua juga!!!

(supaya maskud saya jelas: dia Indonesia saya pernah bertemu dengan “guru” asing yang homo yang terang2an homo = memberitahu muridnya, pedofil yang akhirnya ditangkap polisi, orang kecanduan narkoba yang juga ditangkap, orang yang hanya mengejar gaji tinggi dan dia tidak begitu peduli pada anak, guru yang senang mengajak murid2 SMPnya yang perempuan ke rumahnya untuk “pesta”, tapi yang laki2 tidak diajak, dan sebagainya. Tetapi sebgaian besar dari mereka itu memang di kursus bahasa Inggris dan bukan di sekolah swasta. Apakah itu lebih baik bahwa kebanyakan dari mereka yang ngawur itu ada di kursus bahasa Inggris? Apakah anak di sekolah swasta tidak pernah ikut kursus bahasa?)

dan sebetulnya sudah
masuk dalam kategori pembodohan dan penipuan 'konsumen'.

“Selamat datang di dunia pendidikan swasta Indonesia

Sayangnya para
orang tua juga tidak memiliki pemahaman tentang bagaimana sebuah
sekolah yang baik itu sebenarnya dan apa standar-standar yang harus
dimiliki oleh sebuah sekolah dan tidak asal klaim saja.

BETUL!!!

Sekarang ini
para orang tua memang tidak mau tahu seperti apa proses yang terajdi di
sekolah dan hanya melihat dari 'kemasan' sekolah tersebut.

Hanya sebagian orang tua kaya yang begitu. Dari pengalaman saya, justru banyak sekali orang tua sangat peduli. Keasalahan mereka hanya dua:

1. Berasumsi bahwa bangunan mewah = kepedulian dan komitmen yang tinggi. 2. Percaya kepada pemilik sekolah/orang marketingnya yang sudah pintar meyakinkan orang tua/”konsumen”.

Kalau
dilihatnya bahwa di sekolah tersebut ada orang bulenya maka mereka
menganggap bahwa pengajaran bahasa Inggris di sekolah tersebut pastilah
terjamin kualitasnya.

Betul. Kita semua bisa ditipu begitu. Nanti, kalau sempat ke rumah sakit, mencari orang yang pakai jas putih. Berfikir: apakah dia pasti seorang dokter? Pasti? Yakin? Kalau yakin, beli jas putih sendiri dan berdiri di dalam RS. Tunggu saja. Dalam waktu kurang dari 1 jam, saya yakin ada yang mendekati dan menyatakan “Pak Dokter….!”

Nah! si Gene ini kemudian menunjukkan bahwa
ternyata banyak bule yang dihire oleh sekolah-sekolah tersebut
sebenarnya tidak memiliki kualifikasi untuk mengajar, baik bahasa
Inggris maupun bidang studi apapun.

Betul!

Kalau saya yang ngomong begini
bisa-bisa saya dianggap sok pinter. :-) Tapi kalau yang ngomong Gene
kita baru mau percaya. hehehe...

Insya Allah sya bisa dipercayai para orang tua. Tetapi para guru Indonesia harus mulai berani bicara juga. Mereka seringkali yang bocorkan informasi kepada saya. Tetapi mereka sangat takut memberitahu sesuatu langsung kepada orang tua karena takut dipecat kalau ketahuan! Saya tidak takut dipecat. Alhamdulillah, saya selalu mendapat tawaran yang lain dari sekolah/kantor yang lain (karena bule kali ya). Tetapi saya tidak berfikir begitu. Saya selalu merasa yakin bahwa Allah akan memberikan saya kesempatan di lain tempat untuk bekerja dengan keadaan yang lebih baik daripada yang hilang. Saya sangat yakin. Sepertinya, banyak orang lain kurang yakin.

hidup Gene ... !

hehehe ...

Hidup para guru Indonesia yang bekerja dengan baik dan diabaikan oleh pihak yayasan karena selalu inginkan profit yang tinggi di atas kesejahteraan para guru! Hidup pada guru Indonesia yang berusaha dengan sebaik mungkin untuk mendidik Khalifa Allah yang kecil.

tadinya saya berharap pak gene mau ngasih analisis mengenai sekolah yang seimbang.

Mau berapa puluh halaman?

melihat pendidikan dari kacamata sistematika pendidikan bukan yang anekdotal

Kalau itu, sudah ratusan halaman. Anekdot bisa langsung diterima karena bersifat pengalaman pribadi. Anekdot itu hanya untuk memberi sebuah syarat bahwa ada yang ganjil di dalam sekolah. Dan itu sudah cukup untuk membuat orang sadar bahwa ada masalah.

tetapi setelah dibaca baca, lha koq cuma yang sumbang doang yang diliat dan dilaporkan..

Kalau melaporkan bahwa lampu terang, rumput telah dipotong, buku di perpustakaan tidak kena kutu buku, atap tidak ambruk, kantin ada bakso yang enak, dsb. apa manfaatnya? Yang perlu dilaporkan adalah informasi di artikel yang saya buat kemarin supaya mengagetkan para orang tua, karena mereka seringkali melaporkan kepada saya bahwa sekolah anaknya baik karena gedungnya bagus dan ada bule. Rata2 orang tua sudah bisa melihat sisi baik tanpa perlu dikasihtahu.

Kalau saya ke Dokter, saya mau diberitahu tentang kenapa saya batuk selama 2 minggu, dan tidak perlu dikasihtahu bahwa kaki saya oke-oke saja. Saya sudah tahu. Itu sudah jelas. Kalau semua yang oke-oke saja juga disebut satu per satu oleh Pak Dokter, kunjungan saya menjadi 3 jam lamanya.

Dan kalau saya begitu pada saat membahas 10 sekolah, akan menjadi 300 halaman!

Kalau saya membuat laporan resmi atas permintaan yayasan, maka memang seperti itu: pro dan kontra. Kemarin, niat saya membuat artikel tidak seperti itu.

kalo mau fair, mbok ya baik dan buruk itu sama ditimbang, dan berikan analisis secara holistik, tidak komen sana komin sini.

Harap maklum.

kalo sekedar nyari kejelekkan dari sekolah,

I bet I can guarantee, sekolah manapun di dunia bisa kita kasih komentar jelek.

mau yang di New zealand, di Amrik , di Inggris atawa di Singapore sekalipun.

No Body perfects

Hmmm. Nggak juga. Yang seringkali saya melihat di sini (mis.WC yang kotor) tidak akan diterima orang tua di Australia. Kalau berlanjut terus, kepala sekolah bakalan dicopot dan diganti dari Diknas.

Kalau sampai membahayakan anak (kawat tajam di pagar) dan ada anak kena cidera berat seperti menjadi buta, baik kepala sekolah, guru yang seharusnya menjaga, tukang kebun, Dirjen Pendidikan dan seterusnya akan dituntut secara hukum. Mungkin karena mereka takut kalah di pengadilan mereka pakai jalan "damai" ( = settlement out of court) dan orang tua bisa mendapat ratusan ribu sampai jutaan dolar dari Diknas. Setelah itu, kalau dianggap telah terjadi kelalaian pihak sekolah (kenapa kawat tidak dipotong, terutama karena sudah dilaporkan sekian kali?), kepala sekolah akan ditahan polisi dan disidang karena kelalaian kepala sekolah menyebabkan cidera berat. Kalau divonis bersalah, dia pasti dipecat dan dilarang kerja lagi di sekolah seumur hidup dan ada kemungkinan masuk penjara (kalau menyebabkan kematian).

Apakah kepedulian yang begitu tinggi begitu bisa dikatakan “jelek”?

Ada sebuah kasus nyata dari beberapa tahun yang lalu di Australia: seorang anak SD ngambek, ditarik keluar dari kelas, dia membalas dengan menendang si guru di dada, dan guru langsung kena serangan jantung dan wafat (karena memang lemah jantung).

Hasilnya: orang tua ancam akan menuntut sekolah!!! Kok bisa, padahal si guru yang mati!! Sekolah ditanya kenapa anak ditarik keluar dari kelas dengan cara yang begitu kasar sampai dia membalas/membela diri? Guru disalahkan karena terlalu keras dan tidak bijaksana. (Seharusnya pakai psikologi untuk membuat anak tenang dulu, lalu ajak dia keluar dengan berjalan sendiri).

Jelek? Not really.

Terakhir saya ada di sekolah negeri di Australia, lingkungan aman, bersih, tidak ada bayaha sedikitpun, perpustakaan luas, penuh buku, setiap kelas dirawat terus, guru sering tidak pulang sampai larut sore karena kerja ekstra keras siapkan bahan2 untuk anak2 (tanpa disuruh), pihak administrasi selalu mendukung para guru dalam seluruh kegiatannya, orang tua dipersilahkan datang ke sekolah kapan saja dan bertanya2, dan seterusnya.

Jelek? Saya kira, tidak. Hanya saja terlalu banyak sekolah negeri dan swasta di sini begitu jauh di bawah standar ini sehingga kelihatan perbedaan yang begitu besar.

Kita bisa mengubah keadaan ini, kalau ada niat, baik dari Diknas, dari yayasan dan dari orang tua. Itulah yang paling sulit: mengubah persepsi orang bahwa “sekolah memang harus seperti ini di Indonesia dan sulit diperbaiki”.

Sayang!

Sekian saja.

Semoga bermanfaat.

Wabillahi taufiq walhidayah

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene



Sunday, February 18, 2007

Koreksi Tentang Sekolah Alam



Assalamu’alaikum wr.wb.,

Di dalam artikel yang saya tulis tentang pendidikan di sekolah swasta, ternyata saya salah menyebut nama sebuah sekolah.

Yang saya sebut sebagai Sekolah Alam yang ada jurang di belakang sekolah, ternyata nama tempat itu bukan Sekolah Alam di Jl. Anda 7X. Maaf bila ada yang menjadi bingung/kuatir karena kesalahan tersebut. Saya sudah membuat perbaikan di artikel saya yang disimpan di blog.

Kedua sekolah tersebut memang terletak di Cianjur. Karena salah satu orang tua mendapat artikel saya dan menyadari kesalahan tersebut, dia mengirim email kepada saya atas nama pengurus sekolah dan mengundang saya untuk mengunjungi Sekolah Alam (yang berbeda dengan sekolah yang saya bicarakan). Insya Allah saya akan bisa melakukan kunjungan nanti untuk menambahkan wawasan saya tentang sekolah ini.

Saya mengunjugi website dari masing-masing sekolah. Secara ringkas, yang saya lihat di website Sekolah Alam jauh lebih lengkap tentang cara kerja sekolah dan penjelasan yang ada cukup baik (untuk ilmu awal). Saya kagum membaca pernyataan ini:

“Untuk keamanan dan kenyamanan, rumah pohon hanya dapat dinaiki siswa dengan pengawasan dan sepengetahuan guru.”

Sumber:

Ini yang saya maksudkan di artikel saya dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan untuk para siswa. Saya jadi teringat jurang di belakang sekolah yang saya bahas dan mencari informasi yang serupa tentang keselamatan di website sekolah itu. Saya tidak menemukan. (Apakah begini kali: “Anak2 hanya diperbolehkan jatuh ke jurang dengan sepengetahuan guru???” Hahaha. Mudah-mudahan tidak begitu.)

Kalau hanya sekedar membandingkan website saja, Sekolah Alam jauh lebih maju sistemnya daripada sekolah yang satu lagi karena informasi yang tersedia di website jauh lebih lengkap. Saya juga ingin tahu tentang nilai akademis yang dicapai oleh siswa di Sekolah Alam ini. Sekolah dengan sistem Open Learning sangat baik tetapi harus dijaga juga nilai akademisnya. Mau tidak mau, anak ini harus berkompetisi dengan orang lain untuk masuk universitas nanti.

Kalau seandainya pengurus sekolah tidak mengerti pendidikan (seperti yang saya alami di sekolah lain) maka nilai akademis anak2 tidak bisa dijamin berkembang dengan semestinya karena anak2 terlalu banyak diberi kebebasan pada saat mereka seharusnya belajar. Sistem tidak terfokus pada perkembangan kognitif anak2. Misalnya, banyak anak yang senang masuk sekolah karena mereka tidak mendapat tes, tidak mendapat PR, dan ada banyak waktu untuk bersantai dan bermain.

Tetapi harus ada keseimbangan antara nilai emosional/spiritual dan perkembangan daya pikir (cognitive development). Untuk sekolah yang sifatnya eksperimental, seharusnya para pengurus sangat hati hati untuk memastikan bahwa sistem baru yang diterapkan itu tidak menghilangkan sistem lama yang terbukti mengajarkan skil kognitif (walaupun masih ada banyak masalah juga dengan sistem yang ada di Indonesia.)

Kalau di luar negeri, (misalnya di Australia) sangat sedikit orang tua yang inginkan anaknya masuk sekolah yang sifatnya eskperimental karena mereka teralu kuatir terhadap nilai akademis yang bisa hilang kalau tidak dijaga dengan baik. Kebanyakan orang tua ingin mengambil sekolah negeri karena sudah terbukti hasilnya.

Barangkali di Indonesia orang tua sudah begitu jenuh dengan sekolah negeri yang tidak pernah diperbaiki/berkembang sehingga mereka siap melakukan apa saja demi mencari jalan alternatif yang baik buat anaknya.

Pasti sangat sulit menjadi orang tua di Indonesia di mana pemerintah tidak peduli pada masa depan anak-anak. Saya sangat prihatin kalau memikirkan masa depan anak bangsa ini. Sayangnya, pemerintah tidak demikian juga karena mereka tidak mau betindak dengan cepat untuk melakukan perbaikan.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto




Friday, February 16, 2007

Balasan Email Tentang Sekolah 2

Assalamu’alaikum wr.wb.,

{deleted}

{>>Kalau gaji guru rendah, kualitas guru juga bakalan rendah. Guru asing mungkin ditampilkan sewaktu-waktu saja supaya orang tua mau bayar mahal.}

Saya kurang faham, mengapa gaji guru bisa rendah ya Pak? Bukankah kami orang tua membayar mahal? Apa karena sekolah didirikan berorientasi profit itu ya Pak?

Sebenarnya bagaimana di luar negeri? Yang namanya menjalankan bisnis, tentunya harus ada profit.. Kalau tidak, bagaimana bisa berjalan?

Ya, karena hampir semua sekolah ini mengejar profit. Orang tua bayar mahal dan anggota yayasan mengucapkan terimakasih, dan beli Mercedes baru. Di Australia, gaji guru di sekolah swasta sangat tinggi. Dan ada saingan besar untuk masuk karena gaji, fasilitas dan benefit lain untuk guru sangat banyak. Di sekolah negeri pun tidak terlalu buruk, dan gaji guru tetap bagus. Guru dihitung sebagai professional, sama dengan dokter, pengacara dsb.

Lembaganya bukan Lembaga itu, Pak Gene, tetapi (*nama lembaga dihapus atas permintaan pengirim*) Saya lupa persisnya.. Kalau nggak salah dia ada latar belakang linguistik, tetapi saya lupa juga persisnya.. Sebenarnya yang saya sasar adalah anak saya berinteraksi langsung dengan native speaker.. Apa tetap penting bahwa native speaker tersebut seorang guru ya Pak?

Ilmu linguistic dan ilmu pendidikan berbeda. Ahli lingistik belajar bahasa dan bagaimana bahasa itu terbentuk dan berkembang, dsb. Guru bahasa belajar bagaimana caranya mengajarkan bahasa asing kepada anak kecil dengan hasil yang baik.

Anak kecil (dan orang dewasa yang awam) TIDAK membutuhkan native speaker. Ini hanya trik marketing sekolah supaya mereka bisa pasang biaya yang tinggi (“Kita ada bule, lho! Kita sekolah bilingual!”) Bukannya tidak boleh, hanya saja tidak dibutuhkan. Kalau anak/dewasa belum sampai ke tahap yang mahir, native speaker untuk bahasa apa pun tidak perlu. Cukup guru lokal dengan bahasa Inggris yang cukup bagus (dan ada banyak guru seperti itu).

Coba berfikir begini: ada sekolah minta biaya tinggi dan menyatakan “Guru Iqro kita Dr.Quraisy Shihab. Dia mengajar Iqra 1 di TK!” Apakah kira kira anak Iqra 1 membutuhkan Quraisy Shihab? Apakah anak SMA pun bisa mengikuti dan memahami ilmu tafsir Pak Quraisy? Kalau sekolah memang mendapat seorang ahli untuk mengajar anak, rata-rata bukan karena perlu tetapi supaya sekolah bisa bergengsi dan pamer, dan supaya mereka menuntut biaya yang tinggi.

Hasil tes IQ (entah ini valid atau tidak) memang menunjukkan bahwa anak saya memiliki kecerdasarn di atas rata-rata. Saya diskusi dengan gurunya di (Sekolah), menurut gurunya sepertinya anak saya memang sangat cerdas, terutama untuk Matematika dan Sains..

Kecerdasan di atas rata2 pada umur 5 tahun tidak begitu menunjukkan apa apa. Dan tidak berarti dia bisa bertahan kalau umurnya 10 tahun dan dia telah diejek selama 4 tahun karena berbadan kecil. Dampak psikologis masa depan tidak bisa ditentukan.

Dia bisa masuk SD sekarang dan menjadi anak biasa, atau bisa masuk SD tahun depan dan menjadi anak paling pintar di kelas. Bagusan yang mana?

Dan sejauh ini dia bisa bergaul dengan baik dengan teman-temannya, meskipun secara fisik dia lebih kecil.. Ada juga teman2nya yang seumur dia (sama-sama masuk SD lebih cepat). Dia tipenya senang memimpin, suka mengatur, perfeksionis.. Mudah-mudahan sikap2 ini bisa membantu dia survive..

Sikap keras anak terhadap anak lain yang umur lebih mudah hanya muncul pada umur sekitar 8-12 tahun. Untuk anak anda pada saat ini, umur belum mengganggu. Di sekolah, semua orang dianggap teman main. Nanti pada umur 9 tahun, teman yang berumur 10 tahun itu bisa berubah sikapnya.

Untuk PR, memang di (Sekolah ***) tidak ada PR. Tapi tes.. Ya, benar, ini kadang-kadang membuat dia sedikit tertekan..

Baru umur 6 tahun, sudah tertekan di sekolah. Apalagi nanti di SMP dan SMA.

Kasihan.

Ada titipan pertanyaan dari teman-teman..

Bagaimana dengan sekolah swasta non Islam [Nama sekolah dihapus], dll?

Apakah sistem pendidikan di sana cukup baik?

Menurut saya, tidak. Kedua sekolah swasta ini punya masalah yang sama dengan sekolah swasta yang lain. Saya sempat kerja di sekolah pertama selama 7 bulan dan di sekolah kedua selama 3 bulan.

Cerita di artikel pertama saya tentang sekolah di mana guru yang menyusun program bahasa Inggris tetapi dia adalah mantan DJ dari Inggris, itu dari sekolah kedua. Dan “program” bahasa Inggris yang mereka gunakan (bernama “Spalding”) diciptakan di Amerika mulai pada tahun 1950an. Program ini hanya sebuah program “phonics” yang sekarang sudah tua dan bukan sebuah program untuk membentuk kelas bilingual. Program ini terlalu terfokus pada memaksakan anak menulis dengan rapi, padahal seharusnya hal itu tidak menjadi fokus di kelas bahasa. Program ini juga sangat terfokus pada guru dan bukan “student-centered”. Pada saat saya menyaksikan pelaksanaannya, saya menjadi heran bahwa anak2 yang belum bisa menulis di dalam bahasa Indonesia, justru dipaksakan untuk belajar menulis di dalam bahasa Inggris. Tentu saja hal ini membingungkan karena ucapan “Ca” di dalam bahasa Inggris berbeda dengan “Ca” di dalam bahasa Indonesia. Kenapa anak2 tidak diajar untuk menulis dulu di dalam bahasa yang sudah mereka pahami (Indonesia), dan sesudahnya akan menjadi mudah mengajarkan mereka menulis dengan ejaan bahasa asing, karena mereka sudah bisa menulis.

Di kelas2 yang saya saksikan, anak2 dipaksakan mempelajari dua hal yang sangat rumit pada saat yang sama: belajar menulis, dan belajar bahasa Inggris (pada saat menulis). Bukannya ini mempersulit tugas mereka?

Di sekolah kedua saya diminta langsung mengajar di kelas padahal kurikulum untuk kelas bilingual tidak ada. Saya tidak menemukan pengurus sekolah satupun yang mengerti sistem bilingual seharusnya seperti apa. Sikap mereka sepertinya: bule masuk kelas = anak menjadi bilingual. Padahal sama sekali tidak semudah itu. Kalau memang semudah itu, waktu saya sia-sia mempelajari pendidikan bahasa selama 15 tahun. Cukup ada Native masuk kelas, problem selesai. Masa begitu?

Di sekolah pertama, managemen sekolah termasuk yang paling buruk yang pernah saya temukan. Saya dinyatakan “tidak mengerti pendidikan” oleh pemilik sekolah. Dia ikut mengatur segala sesuatu di dalam sekolah dan hal itu membuat guru pusing dan sulit bekerja dengan baik. Saat saya ada di sekolah itu, Executive Principal ganti 2 kali dalam 2 tahun karena tidak ada yang tahan kerja di sana. (Principal kedua sampai masuk rumah sakit karena kena stress!)

Saya sungguh sangat kecewa dengan sebuah sekolah yang dibuat begitu kacau oleh seorang pengusaha yang mengejar profit di atas segala-segala, dan mengatur sekolah sendiri seakan-akan dia memliki gelar PhD di bidang pendidikan, padahal gelar dia MBA (Business).

Pada saat saya kerja di sana, saya pernah membuat tes bahasa Inggris untuk para murid untuk mengukur kemajuannya. Ada seorang ahli kurikulum yang membuat tes Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan (dengan tingkatnya: mudah). Hasil tes adalah: mayoritas dari anak2 di sekolah gagal dengan nilai yang rendah sekali di empat mata pelajaran itu. Saya diberitahu bahwa hasil tes itu dirahasiakan supaya orang tua tidak bisa tahu. Berarti saya tidak ada bukti sama sekali bahwa tes tersebut pernah diberikan kepada anak-anak karena saya tidak mendapatkan hasilnya (saya sudah mengundurkan diri), dan orang tua tentu saja tidak pernah melihatnya. Hanya ada perkatan dari orang itu yang membuat tesnya bahwa anak2 gagal.

Pada saat saya mengusulkan anak2 membuat “mural” (lukisan besar yang mengisi tembok) yang sering sekali ada di sekolah di manca negara, sikap managemen sekolah adalah: jangan, nanti tembok bisa rusak. Setahu saya cet tembok tidak bisa merusak tembok (??). Lalu pemilik sekolah mendapat seorang pelukis/seniman untuk membuat lukisan besar dengan harga mahal sekali. Lukisan itu masih tergantung di lobi sekolah. Kesenian dari anak tidak perlu, lebih baik ada lukisan professional yang membuat pemilik sekolah merasa bangga dan bergensi. Justru di luar negeri, “mural” itu dibuat oleh anak2 supaya mereka ada rasa “kepemilikan” di sekolah. Tetapi di sekolah itu, anak2 diberi rasa “bertamu” di sekolah milik seorang pengusaha. (Jangan menyentuh luksian mahal ini ya!)

Satu contoh lagi: pada saat Hari Olahraga, pemilik sekolah memberitahu guru bahwa anak2 tidak boleh kalah: semua harus menang dan mendapat piagam. Guru berprotes karena ini tidak duniawi. Anak harus belajar untuk menerima kekalahan dengan lapang dada. Dan tempat yang benar untuk belajar hal itu adalah di sekolah. (Untuk anak TK boleh kalau semua menang untuk menjaga perasaan mereka. Untuk anak SD sudah tidak cocok lagi.) Lomba lari diadakan. Semua dinyatakan menang sebelum ikut lomba. Ternyata anak2 tidak begitu semangat lari karena apapun yang terjadi, mereka semua dinyatakan menang.

Setelah selesai, ada seorang ibu datang:

“Anak saya lupa daftar untuk lomba lari. Ulangi lagi dong”

“Tidak bisa Bu, sudah selesai,” kata guru.

“Awas, pemilik sekolah teman saya! Saya telfon dia ya!”

“Telfon saja.”

Dia telfon, dan pemilik sekolah datang dan menyuruh guru mengulangi lomba lari untuk anak temannya itu. (Seharusnya pemilik sekolah membela guru yang benar, bukan teman gaulnya). Anak2 yang lain dibujuk untuk lari lagi dan mereka berprotes “Buat apa??” Diadakan lagi lomba lari, dan anak baru itu dinyatakan “menang” sama dengan semua anak yang lain, yang sekarang sudah jenuh.

Untuk urusan lomba lari saja, pemilik sekolah yang tidak mengerti pendidikan ikut campur dan memaksa semua orang menuruti kehendak dia.

Apalagi di dalam urusan pendidikan!!

Selama 7 bulan di sekolah itu, hampir setiap minggu ada kasus yang membuat saya gelengkan kepala. Saya sarankan kepada semua orang tua untuk sangat berhati-hati kalau ingin memasukkan anaknya ke sana. Saya sangat kuatir terhadap masa depan anak yang menjadi lulusan sekolah itu. Kalau orang tua merasa yakin dengan sistem sekolah dan komentar dari pengusaha yang menjadi pemilik sekolah, silahkan saja. Saya sebagai seorang guru tidak pernah ingin sekolahkan anak saya di sana.

Apakah lebih baik menyekolahkan anak ke sekolah swasta non Islam?

Sebenarnya pertimbangan saya, mengingat pergaulan sekarang sangat jauh dari nilai-nilai Islam, lebih baik anak-anak sekolah di sekolah Islam sehingga mereka mantap dengan nilai-nilai Islam, aspek pendidikan lain Insya Allah juga tidak terlalu buruk..

Setuju.

Akan tetapi jika aspek pendidikan keilmuannya justru yang penting, apa malah sebaiknya nilai-nilai Islam dicoba ditanamkan di rumah saja?

Sekolah Islam saja. Masih ada sebagian (besar/kecil?) dari guru di sekolah Islam yang sangat bagus, cuma orang tua harus waspada saja terhadap managemen sekolah.

Jika saya tetap menyekolahkan anak saya di [Sekolah Islam ***] (terlepas dari masalah dia terlalu cepat masuk SD), hal-hal apa yang harus saya lakukan untuk "mengisi kekurangan" akibat ketidaksempurnaan sistem pendidikan di [Sekolah Islam ***]?

Memantau saja dan mengulangi sebagian pelajaran di rumah untuk memastikan anak benar-benar paham. Tetapi jangan terlalu banyak karena nanti anak menjadi jenuh.

Demikian pertanyaan lanjutan dari saya Pak Gene..

Semoga Bapak masih bersedia menjawab.. :-)

Masih.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wr wb.,

Gene



Balasan Email Tentang Sekolah 1


Assalamu’alaikum wr.wb.,

{paragraf pertama deleted, karena tidak penting}

Sekolah kedua (*nama sekolah dihapus atas permintaan pengirim* di Cibubur, apa Bapak pernah ke sana?), agak lumayan, gurunya cukup mengerti pendekatan kepada anak kecil.. Hanya ada masalah manajemen. Guru sering sekali berganti-ganti karena keluar.

Selain itu, sebenarnya tawarannya adalah bilingual, tapi pronounciation B. Inggris gurunya jauh sekali dari baik.

Saya pernah dengar tapi belum ke sana. Masalah managemen sudah cukup untuk merusak kinerja sekolah. Bahwa guru sering keluar seharusnya membuat kita kuatir terhadap kualitas pendidikan.

Sekolah yang ketiga (*nama sekolah dihapus atas permintaan pengirim* Sekolah Islam di Jakarta Selatan) sepertinya lebih baik.

Kerja sama dengan Al Azhar Mesir & Victoria Islamic School Australia (dari brosurnya).

Anak SD ditarget hafal Al Qur'an 16 juz.Saya awalnya percaya bahwa hal itu mungkin, karena di Mesir memang begitu. Jika gurunya orang Mesir, mungkin akan lebih efektif.

Ada anak teman di sekolah itu juga. Dari awalnya sekolah itu, kelihatan bahwa mereka tidak mengerti pendidikan. Didirikan dengan uang yang sangat minim. Saya diminta membantu mereka menulis kurikulum tanpa dibayar (karena kita sama2 orang Islam, jadi saya harus bantu dengan ikhlas, katanya). Akhirnya, guru sekolah yang bikin, dan sebagian dari mereka bukan guru.

Kurikulum diambil dari 5 lokasi (berapa negara?) dan dipadukan. Itu seperti memperbaiki mesin mobil Mercedes, dengan mengunakan onderdil dari 5 mobil yang lain (Kijang, Honda CRV, BMW, Volvo, dan Extrail). Apa kalau begitu kinerja mesin bisa bagus? Yang namanya kurikulum pasti berbeda di setiap negara karena kebutuhan dari sistem pendidikan beda di setiap negara.

Saya pernah ngecek dengan baca di internet: Al Azhar di Mesir ada tingkat drop out yang tinggi karena anak Arab itu tidak tahan kalau harus hafalkan al Qur'an di tingkat SD. Ada yang bisa, ada banyak yang tidak sanggup. Kalau mereka yang lancar bahasa Arab tidak bisa, kenapa anak sini diwajibkan begitu?

Terus, manfaat menghafalkan 16 juz pada umur 12 apa? Apakah ada riset yang membuktikan bahwa semua anak itu masih menghafal semuanya pada umur 30 tahun? Kalau 80% dari anak itu sudah lupa banyak dari hafalan pada usia dewasa, berarti mereka hanya makan banyak waktu di masa SD yang juga bisa digunakan untuk belajar hal yang lain: menjadi pemimpin, percaya diri, belajar bahasa Inggris, matematika, ilmu pengetahuan, berolahraga, membaca banyak buku untuk mendapat wawasan yang luas, lakukan bakti social, bermain saja, dsb.

Daripada kerjakan semua itu, anak2 diwajibkan duduk dan menghafalkan kata-kata dalam sebuah bahasa asing. Manfaatnya apa? Selain pahala, tentu saja. Manfaat pendidikannya apa dan mana riset yang membuktikan bahwa manfaat tersebut memang membantu proses pendidikannya dan masa depannya?

Akan tetapi, ternyata guru yang orang Mesir tidak setiap kali ada. Guru tahfizh nya adalah guru lokal, yang kadang2 tidak hafal juga.

Kalau gaji guru rendah, kualitas guru juga bakalan rendah. Mungkin guru asing ditampilkan sewaktu-waktu saja supaya orang tua mau bayar mahal.

Guru B. Inggris bukan dari Victoria itu, tetapi dari lembaga B. Inggris di Tebet.

Kalau begitu barangkali dia dari sebuah lembaga bahasa inggris di Tebet. Kalau dia memang dari lembaga itu, kemungkinan besar (90%) dia bukan guru bahasa inggris juga tapi “backpacker” atau orang biasa yang mendapat pekerjaan di lembaga itu untuk sementara. Karena setahu saya, mayoritas dari guru di lembaga itu adalah orang seperti itu, tanpa gelar pendidikan. Yang penting dia punya hidung mancung dan kulit putih karena hanya itu yang dilihat para orang tua. Pasti belum pernah ada orang tua yang ketemu kepala sekolah dan minta melihat kualifikasi si bule. Mereka hanya melihat bule dan merasa puas.

Terus terang saya sedikit merasa tertipu, tetapi sejauh ini tidak ada pilihan lain.

“Selamat datang dia dunia pendidikan swasta Jakarta!!”

Pertanyaannya :

1. Menurut Pak Gene, di antara sekolah Islam Indonesia yang jelek itu, mana yang paling kurang jeleknya?

Saya tidak bisa memberi rekomendasi terhadap sekolah Islam satupun pada saat ini. Masing-masing ada kebaikannya dan juga kekurangannya, dan belum banyak sekolah yang telah saya selediki secara mendalam, sehingga saya tidak tahu secara terinci sekolah itu seperti apa.

Kalau saya punya anak dan terpaksa memilih sebuah sekolah, saya akan tetap sekolahkan mereka di sebuah sekolah Islam yang dekat dengan rumah, karena dengan demikian mereka mendapatkan pergaulan yang Islmaiah dan ada sebagian (besar atau kecil?) dari guru2 di sekolah Islam yang bagus sekali. Saya sering mendengar tentang masalah dengan yayasan sekolah2 Islam di DKI dan perpecahan yang terjadi di dalam jaringan sekolahnya. Sayang sekali semua sekolah ini tidak bisa dijaga kualitasnya dengan cara yang lebih baik untuk kepentingan masa depan bangsa. Saya merasa sangat prihatin dengan keadaan para orang tua yang tidak ada pilihan yang baik untuk sekolahkan anaknya. Karena para orang tua tidak bisa mempengaruhi yayasan, saya tidak melihat solusi selain dari membangun sekolah Islam yang baru.

Ada [sebuah sekolah Islam di Jakarta Selatan]. Di sekolah itu lingkungan sekolah sangat bagus (hanya saja kelas tidak menggunakan AC), dan perpustakaan bagus sekali, termasuk yang terbaik di DKI menurut saya. Tetapi waktu saya ke sana, saya tidak melihat kurikulum dan tidak bicara dengan para guru (karena guru paling tahu kualitas sekolah, dan biasanya lebih jujur tentang hal itu daripada pemilik sekolah). Jadi, saya tidak bisa memberi jaminan bahwa kualitas pendidikan di sekolah itu setara dengan kualitas bangunannya. Saya ada niat melamar untuk masuk sekolah itu pada waktu itu karena sering mendengar nama sekolah dari orang lain dan saya melihat sekolah mempunyai lingkungan yang baik. Tetapi kepala sekolah menawarkan saya gaji yang sangat rendah (untuk guru asing), dan saya tidak boleh membahas maslah itu langsung dengan yayasan: harus terima gaji rendah dulu, baru boleh ketemu dengan yayasan. Saya tolak. Setelah sekian bulan, saya minta tolong kepada seorang kenalan untuk melamar langsung pada anggota yayasan supaya saya bisa ditanggap dengan cara yang lebih serius. Jawaban dari anggota yayasan itu: “Ohh, tidak usah, kita sudah dapat BULE.” Kalau yang mereka inginkan hanya “ asal bule saja” dan bukan guru professional yang berpengalaman, maka saya menjadi tidak tertarik untuk masuk sekolah itu lagi. Dan sampai sekarang saya belum berusaha melamar lagi.

Ada juga sebuah sekolah Islam di daerah Cinere yang kelihatannya sangat baik. Ada anak teman dia sana, dan teman itu juga seorang guru jadi saya sangat percaya pada komentar dia tentang sebuah sekolah. Teman saya mengatakan bahwa setiap orang tua dikasih kopian kurikulum pada awal setiap tahun dan juga diberi penjelasan tentang latar belakang guru kelas. Itu saja sudah sangat luar biasa bagusnya, dan sekolah Islam yang lain juga seharusnya begitu. Saya diberitahu bahwa dia sangat puas dengan sikap pengurus sekolah yang sepertinya sangat peduli pada pendidikan dan siap menerima orang tua di sekolah untuk konsultasi. Mengenai fasilitas sekolah, sangat bagus dan dirawat dengan baik. Kalau lingkungan sekolah, bagus sekali, hanya saja kelas tidak menggunakan AC dan untuk itu ada pandangan yang pro and kontra. Jadi tidak menjadi soal besar. Saya termasuk yang senangi AC untuk kenyamanan belajar, tetapi ada pandangan lain bahwa udara yang alamiah dan segar lebih baik untuk anak. Selama ini, teman saya merasa puas dengan sekolah itu, dan dia belum ada keluhan tentang kualitas pendidikan. Dia memang tinggal di Cinere jadi faktor itu juga sedikit berpengaruh. Kalau saya punya anak dan tinggal di Jakarta Selatan, saya akan siap memasukkan anak saya ke sana setelah menyelediki sedikit lebih mendalam untuk meyakinkan diri sendiri. Waktu saya berkunjung ke sana, hanya melihat sekilas, tidak periksa kurikulum, dan tidak melihat isi dari Perpustakaan. Juga tidak sempat bicara dengan para guru.

Kalau orang tua membutuhkan contoh dari sebuah sekolah Islam yang insya Allah baik, maka Lazuardi cukup baik sebagai contoh tersebut. Orang tua bisa melakukan survei ke sekolah ini, melihat2, banyak bertanya, dan melihat suasana yang baik yang sudah diciptakan di sana. Kemudian, orang tua bisa kembali ke sekolah di mana anak belajar sekarang, dan bertanya kenapa tidak bisa mengikuti contoh yang baik seperti itu. Kalau untuk masuk, barangkali ada waiting list, jadi untuk tahap pertama, belajar dulu dari contoh sekolah ini supaya orang tua memahami sekolah yang baik mesti seperti apa.

2. Apakah lebih baik anak2 mengikuti homeschooling?

Kalau di Indonesia, saya rasa tidak. Kecuali orang tua memang sanggup. Dia sini, menurut saya, kebanyakan orang tua tidak sanggup membimbing anak sendiri dengan kurikulum Diknas. Kalau Ibunya si anak adalah seorang guru, baru boleh. Kalau dia hanya lulus SMA dan pernah menjadi sekretaris (misalnya), barangkali tidak sanggup. Kalau dia pernah kuliah, tapi tidak merasa bahwa dia punya wawasan yang luas dan kepintaran untuk tangani semua mata pelajaran, sebaiknya tidak. Tapi kalau si Ibu merasa yakin, boleh dicoba untuk setahun dulu. Setelah itu, harus dianalisa secara jujur, tanpa emosi. Kalau hasilnya kurang bagus, masuk sekolah. Kalau hasil bagus dan nilai tesnya baik, boleh diteruskan.

Sosialisasi yang terjadi di sekolah juga penting untuk perkembangan mental si anak. Dari sekolah dia dapat teman, harus belajar membagi, bekerja sama, mencari solusi kalau ada konflik, dan semua itu bermanfaat juga bagi perkembangannya.

3. Lebih jauh tentang anak saya. Anak saya ini seharusnya TK B. Akan tetapi karena di (sekolah ****) tidak ada TK B (ruangan tidak memadai), anak saya dicoba dites untuk masuk SD. Ternyata hasil tes baik, jadilah dia masuk SD (saat ini kelas 1, usia pas 6 tahun di bulan Feb ini). Sejauh ini dia bisa mengikuti pelajaran. Untuk matematika malah dia sangat menguasai. Hanya menulis yang sedikit ketinggalan. Secara psikologis sepertinya baik2 saja, hanya yang saya sedikit khawatirkan, dia badannya mungil sekali jika dibandingkan dengan teman2nya, kira2 apakah akan menjadi masalah? Mohon tanggapan Pak Gene tentang hal ini, bagaimana sebaiknya.

Coba mencari TK B di lain sekolah untuk setahun. Kalau mau berlanjut di (Sekolah ***), minta jaminan dari mereka bahwa anak bisa kembali lagi dan masuk SD Kelas 1 setelah selesai TK B di lain tempat.

Pada umur 6-7 tahun, hanya sedikit skil yang bisa dites jadi hasil tes itu hampir tidak ada makna. Hanya gambaran global saja tentang skil dasar dan sikap mentalnya. Tapi nanti, pada kelas 3 dan kelas 4, beda umur setahun sangat berarti buat anak-anak. Ada anak yang tidak mau bergaul dengan anak yang lebih muda 1 tahun karena dianggap tidak “se-level”. Untuk remaja tua/dewasa, perbedaan satu tahun tidak dianggap. Untuk anak SD bisa ada dampak besar.

Sebenarnya, ada terlalu banyak faktor yang berpengaruh: sikap anak, sikap anak yang lain di kelas, skil guru, skil orang tua untuk tangani kalau masalah muncul dan anak jadi stres, sistem sekolah untuk tangani “bullying” (satu anak menganggu anak lain secara fisik/mental), dsb.

Kalau tidak ada paksaan masuk cepat (karena dia genius, misalnya), maka lebih baik dia mendapat satu tahun lagi di TK untuk menikmati kehidupan sebagai anak kecil yang tidak pernah mendapat PR atau tes! Masa perkembangan ini 4-7 tahun, sangat penting buat anak. Jangan buru buru memaksakan dia menjadi “dewasa” terlalu cepat.

Mungkin demikian dulu. Mudah2an Pak Gene bersedia menjawab.

Saya selalu bersedia untuk membantu anak-anak di Indonesia dan orang tuanya!

Terima kasih banyak sebelumnya.

{nama pengirim dihapus}

Sama sama. Semoga bermanfaat.

Gene Netto