Wednesday, November 28, 2007

Guru ditangkap karena Teddy Bear dinamakan “Muhammad”


(Cerita yang paling banyak dikirim lewat email dan nomor empat dari yang paling banyak dibaca pada situs BBC News pada 26 November, 2007)

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Orang di Indonesia sering bertanya kepada saya tentang kenapa orang barat tidak mau masuk Islam atau tidak mau tahu tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW. Terus terang, ini sebagian dari masalahnya. Orang barat itu melihat berita seperti ini yang menujukkan perbuatan yang luar biasa dari sebagian orang Muslim.

Dalam berita ini, seorang guru sekolah dari inggris yang sedang bekerja di Sudan telah ditangkap karena “menghinakan Nabi Muhammad SAW”. Alasannya adalah dia membiarkan muridnya memberikan nama Muhammad pada sebuah Teddy Bear (boneka beruang) dalam suatu proyek sekolah. Guru perempuan bernama Gillian Gibbons, 54 tahun, dari Inggris, minta anak-anak SD itu memberikan nama pada sebuah Teddy Bear, dan membawanya pulang ke rumah secara bergiliran. Sambil main dengan boneka di rumah, mereka harus mencatat apa yang mereka lakukan dengan si Teddy di dalam buku catatan kelas.

Para murid mengusulkan 8 nama, termasuk Abdullah, Hassan dan Muhammad, lalu mereka mengadakan pemilihan suara (voting). 20 dari 23 anak memilih nama Muhammad sebagai nama favorit mereka.

Walaupun si guru telah ditahan, dia dibelum dituntut dan masih berada dalam tahanan polisi. “Menurut wartawan BBC, Amber Henshaw, hukuman untuk Ibu Gibbons bisa 6 bulan penjara, 40 x cambuk, atau denda.

Sekarang sekolah ditutup sampai bulan Januari karena mereka takut diserang. Oleh siapa? Ternyata, kalau anak kecil memilih nama favorit untuk sebuah Teddy Bear, dan nama itu adalah Muhammad, maka sebagian laki-laki Muslim akan berkumpul, sepertinya dengan tujuan menyerang sekolah. Barangkali itu cara terbaik untuk mengajarkan anak tentang agama Islam. Untungnya, belum terjadi apa apa.

Semoga pembaca Muslim yang berakal sehat bisa melihat kebodohan dari situasi ini. Kesalahan dilakukan oleh anak kecil berumur 6 tahun. Apakah guru juga bersalah? Dari pandangan Islam, iya. Dia seharusnya mengajarkan anak bahwa orang Islam tidak suka bila nama Nabi Muhammad SAW diberikan kepada binatang, dan seharusnya dia minta mereka memilih nama yang lain. Tetapi sang guru itu bukan orang Islam, jadi bagaimana dia bisa tahu bahwa orang Islam tidak suka hal tersebut? Dan kita tidak bisa berharap bahwa sekelas anak kecil akan tahu juga.

Jadi kenapa guru ini ditahan? Muridnya yang berbuat salah, jadi kenapa tidak menahan mereka sekaligus? Kesalahan sang guru hanya bahwa dia “tidak tahu” sesuatu tentang agama Islam. Apakah wajar kalau dia ditahan dan diancam dengan penjara atau pencambukan bila dia tidak tahu sesuatu tentang agama orang lain?

Sebuah kesalahan seharusnya bisa dimaafkan. Sepertinya tidak ada bukti bahwa dia sengaja ingin menghinakan Islam. Jadi kenapa dia ditahan? Apakah itu diambil dari ajaran agama Islam? Bilamana anda melakukan kesalahan secara tidak sengaja, anda akan dipenjarakan atau dicambuk? Apakah itu cara yang terbaik untuk mengajarkan orang tentang kemuliaan nabi tercinta kita Muhammad SAW?

Kenapa kita tidak menunjukkan rasa kasih sayang kita terhadap nabi Muhammad SAW dengan membedakan antara penghinaan yang dilakukan secara sengaja (seperti kartun di koran Denmark itu), dan kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja oleh sekelompok anak kecil dan gurunya yang awam?

Apakah si guru bersalah? Memang. Apakah perlu seorang ustadz mengajarkan dia tentang etika Islam? Memang. Apakah dia pantas dipenjarakan dan dicambuk? Sama sekali TIDAK. Ini bukan Islamnya nabi mulia kita Muhammad SAW, yang telah menarik perhatian saya sehingga bisa bersyahadat. Di manakah Islam itu? Islam yang perlu dengan kasih sayang. Islam yang membawa rahmat bagi seluruh ummat manusia. Itulah Islam yang saya ikuti, bukan versi Islam di mana guru perempuan yang melakukan kesalahan secara tidak sengaja bisa diancam dengan pencambukan dan penjara.

Semoga guru ini segera dibebaskan, dan semoga kaum lelaki di Sudan cukup memahami agamanya dan contoh nyata dari nabi mulia kita Muhammad SAW, sehingga mereka bisa memaafkan guru itu, mengajarkannya tentang Islam dengan sikap yang baik dan mulia, dan membiarkan dia, muridnya, dan sekolahnya hidup dengan damai.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Versi bahasa Inggris di sini

The full article on BBC News can be read here.

Latest update from BBC here: 27 November 2007

British officials are trying to secure the release of a British schoolteacher arrested in Sudan for letting her pupils name a teddy bear Muhammad.

Fellow teachers at Khartoum's Unity High School told Reuters news agency that they feared for Ms Gibbons' safety after receiving reports that men had started gathering outside the police station where she was being held.

"The bear was never intended to be an effigy and I would expect the British Embassy officials to be pressing that message to the Sudanese authorities."

The BBC's Amber Henshaw said there had been little coverage in the Sudanese press, with just two English-language newspapers picking up the story.

Comments from readers at BBC Website can be read here.



Tuesday, November 27, 2007

'Muhammad' teddy teacher arrested


(The most emailed story, and the 4th most read story on BBC News website on 26 November, 2007)

People often ask me why more westerners don’t become Muslims, or don’t want to know about Islam or Muhammad SAW. Well, to be honest, this is part of the reason why! It’s because those westerners see news items like this that expose unbelievable behaviour on the part of some Muslim people.

In this news item, a British schoolteacher working in a school in Sudan has been arrested for “insulting the Prophet Muhammad”. The reason is that she allowed her students to name a teddy bear “Muhammad” as part of a class project. The teacher, Gillian Gibbons, 54, from England, asked the students to name the bear, and then take it home in turns. While caring for the bear at home, they would have to write in their class journal about what things they did with the bear.

The students suggested eight names, including Abdullah, Hassan and Muhammad, and then they voted. Twenty out of the 23 children chose Muhammad as their favourite name.

Although the teacher has been arrested, she has not been charged yet and is still being detained. “The BBC's correspondent Amber Henshaw said Ms Gibbons' punishment could be up to six months in jail, 40 lashes or a fine.”

Now, the whole school has been closed until January because they are afraid of being attacked. But attacked by who? Well, it seems that if some children choose their favourite name for a teddy bear, and that name is Muhammad, then instead of smiling and explaining to the children why Muslims should not name stuffed animals “Muhammad”, some Muslim men will want to gather and presumably attack the school (and destroy it?). Well, I guess that’s the best way to teach children about religion. (Fortunately, nothing has happened so far).

“The country's state-controlled Sudanese Media Centre reported that charges were being prepared "under article 125 of the criminal law" which covers insults against faith and religion.” Although the school Principal Mr Boulos told the BBC he was sure that the teacher would not face a jail sentence (even though she is already being detained in a Police Station, but maybe that is much nicer than being in prison).

I hope that all intelligent Muslim readers can see the absolute stupidity of such an event. The “mistake” was made by a bunch of six-year-old children. Did the teacher make a mistake? Well, from an Islamic perspective, yes. She should have taught the children that most Muslims do not like it when animals are named Muhammad, and she could have asked them to choose another name. If she had done that, then we would say that she was “teaching” her students about Islam and the behaviour of Muslims. But she is not a Muslim, and so perhaps she didn’t know about that, and we can't expect that a class of six-year-olds would know either.

So, why is the teacher in prison? The students made the mistake. Why not put them in prison too. And if we say that the teacher did something “wrong” then her mistake was “not knowing something about a religion that she doesn’t follow”. So, should she be detained in a Police Station facing charges and possible whipping for that? For not knowing something about someone else’s religion?

An innocent mistake (and this seems to be one) should be considered as one, and the person should be forgiven. There seems to be no evidence that she did this as a deliberate insult. So why is she in prison for making a mistake? Is that Islam? You make innocent mistakes and we whip you 40 times? Is that how Muslims expect to teach non-Muslims about the noble, kind, forgiving man who was our beloved Prophet Muhammad SAW?

Why can’t show our love for our Prophet Muhammad SAW by determining between a serious insult like cartoon of turban with a bomb in it (that was deliberately created by artists who knew it would insult Muslims), and the mistake of allowing children to give a popular Muslim name to a teddy bear as a learning exercise in a classroom.

Did the teacher make a mistake? Sure. Should someone teach her how Muslims feel about naming “things” Muhammad? Sure. Should she be punished with imprisonment or whipping? Absolutely not. That is NOT the Islam of the noble Prophet Muhammad SAW that I joined. Where is that Islam? The compassionate Islam? The Islam that bring rahmat (blessings) for all mankind? That’s the Islam that I joined, not the “whipping and imprisoning nice female teachers for making mistakes” version of Islam.

I hope that she is released soon and that Muslim men in Sudan understand enough about their religion and the life of the noble Prophet Muhammad SAW to forgive her and leave her, her students and her school in peace.

The full article on BBC News can be read here.

Latest update from BBC here: 27 November 2007

British officials are trying to secure the release of a British schoolteacher arrested in Sudan for letting her pupils name a teddy bear Muhammad.

Fellow teachers at Khartoum's Unity High School told Reuters news agency that they feared for Ms Gibbons' safety after receiving reports that men had started gathering outside the police station where she was being held.

"The bear was never intended to be an effigy and I would expect the British Embassy officials to be pressing that message to the Sudanese authorities."

The BBC's Amber Henshaw said there had been little coverage in the Sudanese press, with just two English-language newspapers picking up the story.

Mengenai petisi pendidikan


Komentar dari pembaca:

Wati Mr. Gene, Petisi Pendidikannya belum mencapai target. 200 juta penduduk Indonesia pada kemana ya?

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ibu Wati, terima kasih komentarnya. Justru tujuan saya membuat petisi online ini adalah sebagai ujian terhadap para orang tua. Saya ingin mengukur betapa serius mereka dalam menuntut perbaikan sistem pendidikan. Dari waktu saya membuat petisi dan sebarkan ke banyak sekali mailing list dengan bantuan teman2, saya hanya ingin tahu berapa banyak orang tua mampu (yang mempunyai koneksi internet dan komputer) akan menunjukkan kepedulian pada sistem pendidikan di negara ini.

Kalau ternyata ribuan orang tua memberikan tanda tangan dan kelihatan semangat untuk berjuang dan menuntut haknya, maka saya sudah siapkan rencana untuk tahap berikut, di mana saya akan menggunakan koneksi dengan organisasi besar di Indonesia (seperti organisasi Islam dan juga sebagian partai politik) untuk menyebarluaskan petisi ini ke semua kota dalam bentuk hard copy/kertas. Dengan demikian, diharapkan bisa mengumpulkan jutaan tanda tangan dari orang tua yang peduli pada pendidikan di negeri ini.

Dokumen itu, berupa jutaan tanda tangan dari para orang tua akan diserahkan kepada Presiden dalam suatu konperensi pers, dengan sekaligus mengundang tokoh masyarakat, para dubes, LSM lokal dan asing, serta pemimpin partai politik. Pada kesempatan itu, akan dikatakan kepada semua pengurus negara dan orang yang mempunyai kekuasaan bahwa rakyat sangat inginkan perubahan nyata di bidang pendidikan dengan bukti nyata jutaan tanda tangan yang telah dikumpukan selama satu tahun.

Kepada para pemimpin partai politik, akan dijelaskan bahwa jutaan orang tua ini akan memilih pemimpin negara dan pemimpin wilayah yang menunjukkan kepedulian pada pendidikan sebagai suatu prioritas yang sama pentingnya dengan perkembangan ekonomi dsb. Insya Allah mereka (sebagai politikus) akan sadar sendiri tentang manfaat mengembangkan kebijakan pendidikan yang bisa disosialisasi sebelum pemilu atau pilkada. Kalau ada satu partai politik yang mulai, dan kelihatan mendapatakan dukungan karenanya, Insya Allah partai lain akan mau ikut. Dan kalau semua partai politik bersaing untuk menciptakan kebijakan pendidikan, maka tentu saja keadaan itu akan lebih baik daripada keadaan sekarang di mana tidak ada yang membicarakannya sama sekali.

Kurang lebih begitu rencana jangka panjang saya. Akan tetapi karena terbukti ada tingkat ketidakpedulian yang sangat tinggi pada kebanyakan orang tua mampu yang menerima email petisi, saya telah memutuskan untuk lupakan semua.

Menurut perkirakan saya, mungkin sebanyak 50.000-100.000 orang tua pernah melihat info petisi dalam bentuk email, atau membacanya di milis. Sampai sekarang hanya 600-an dari mereka telah memberikan tanda tangan.

Dalam bentuk online ada banyak manfaat, misalnya:

· tidak makan banyak waktu,

· gratis untuk mengaturnya

· tidak perlu sukarelawan untuk menyebarkannya

· tidak ada biaya untuk fotokopi formulir

· tidak ada kesulitan atau biaya untuk mengumpulkan hasilnya

· tidak mengganggu aktivitas masyarakat (dibandingkan dengan sistem sukarelawan yang berdiri di depan pintu mal dsb.)

· dan lain lain

Tetapi kalau saya coba melakukan pengumpulan tanda tangan secara hard copy, pasti akan merepotkan banyak orang dan makan biaya yang cukup besar. Jadi saya hanya ingin melakukannya bila terbukti ada semangat dari para orang tua. Berapa banyak orang tua pernah mengeluh kepada saya tentang sistem pendidikan, baik lewat email atau secara langsung setelah ceramah, tetapi ternyata “ikhtiar” atau usaha dari mereka adalah nol. Hanya sebatas ngomel saja.

Untuk membuat teks petisi saja, saya berusaha untuk mendorong murid saya supaya mereka semangat untuk berjuang di bidang pendidikan demi masa depan bangsa. Mereka setuju dengan usul dan rencana saya, dengan satu syarat: orang lain yang harus membuat teks dan mengatur pengumpulan tanda tangan. Tugas mereka dibatasi memberikan tanda tangan saja. Atau dalam kata lain, orang lain yang harus kerja supaya mereka hanya menerima hasil saja tanpa direpotkan. Ahkirnya, saya membuat teks sendiri dan bertanya kepada mereka saja. Dan dari semua murid saya yang telah menerima email tentang petisi, hanya sebagian kecil yang memberikan tanda tangannya juga (karena saya hafal nama mereka).

Ada pula murid yang mengatakan “Ahh, ngapain memberikan tanda tangan? Paling tidak ada yang berubah.” Kata kata bijak seperti ini tidak mungkin keluar dari mulut bapak itu bila salah satu anaknya sedang berdarah keras setelah jatuh. (“Ahh, ngapain bawa anak ke dokter? Cepat atau lama juga bakalan mati.”)

Apakah ini masa depan ummat Islam dan bangsa Indonesia? Setiap orang sibuk membantu diri sendiri sehingga tidak ada yang peduli kalau anak tetangga putus sekolah? Setiap orang begitu sibuk dengan kenikmatan dunia sehingga tidak ada yang punya waktu untuk berjuang demi kepentingan orang lain yang tidak mampu membela diri?

Hati saya sedih sekali melihat ummat Islam menjadi seperti ini. Terus-terusan, saya mendengarkan orang tua membicarakan sekolah, tetapi sebatas sekolah swasta anak mereka, karena sesungguhnya mereka tidak peduli pada kualitas sekolah negeri yang diberikan kepada anak tetangga. Yang penting anak mereka menjadi pintar dan dapat pekerjaan dengan gaji gede. Anak tetangga biarkan saja menjadi kuli bangunan, padahal sama-sama Muslim dan sama-sama pintar. Justru sebuah sistem pendidikan yang baik akan buka pintu bagi anak yang pintar tetapi kurang mampu. Dan hasilnya adalah masa depan bangsa yang cerah.

Sebagai contoh singkat, di Australia sekarang, gaji untuk tukang listrik bisa sekitar $ AUS 600-1000 per minggu (sekitar Rp 4.200.000 – 7.000.000 per minggu). Kebanyakan hanya lulus SMP-SMA, ditambah kursus untuk mendapatkan sertifikasi. Kerjanya rata-rata professional, dan orangnya seringkali kelihatan baik, sopan, bijaksana (menawarkan beberapa pilihan kepada pemilik rumah, bila ada), kerja independen tanpa harus diatur orang lain, dan hasil kerjanya dijamin dengan garansi.

(Bapak saya kerja sebagai tukang cet di Australia, dan masih kerja sampai sekarang. Pergaulan saya di masa muda dengan para tukang, dan saya melihat kebanyakan dari mereka adalah orang baik dan benar. Tentu saja tidak semua, tetapi rata-rata baik. Mereka sadar sendiri bahwa mereka tidak sepintar dokter, tetapi kebanyakan dari mereka berusaha untuk menjadi “profesional” di bidang masing-masing. Saya ingat bapak saya gelengkan kepala karena ‘orang kaya’ menyuruh dia cet tembok 2x dengan buru-buru karena akan mengadakan pesta di rumah. Bapak menolak dan menjelaskan harus menunggu sampai lapisan pertama kering. Ibu itu tidak mau tahu. Harus langsung 2x hari itu juga. Bapak kerjakan, dan besok harinya, saat pesta, cet tembok kelihatan bergelombang, retak dan sedang copot. Ibu itu panggil bapak dan menggaji dia untuk mengecet tembok lagi, setelah pesta. Menurut bapak, ibu itu kaya dan berpendidikan tinggi tapi sebenarnya bodoh karena tidak mau menerima nasehat dari seorang “tukang”. Walaupun bapak tergolong ‘tidak pintar’ dan sekolahnya hanya sebatas SMP dulu, dia tetap kerja secara profesional dan dia termasuk tukang yang menegor dan marahi tukang lain yang tidak professional karena malu bila ‘profesinya’ penuh dengan orang ‘bodoh’ yang kerjanya ‘asal’.

Saya hanya bisa kuliah di Australia karena biaya kuliah disubsidi untuk semua warna negara, temasuk warga NZ yang menetap di Australia juga. Kalau tidak demikian, mungkin saya harus menjadi tukang cet juga.)

Kapan bisa seperti ini di Indonesia? Saya pernah melihat di sebuah kantor ada masalah dengan listrik, lalu yang melakukan perbaikan adalah office boy. Saya tidak tahu apa dia lulus SD atau SMA, tetapi karena diajak bicara, jelas bahwa IQnya cukup rendah dan pengertian terhadap listrik juga rendah. Keadaan ini hanya akan berubah bila ada pendidikan yang layak buat semua anak bangsa, bukan untuk kaum elit saja. Orang tua mampu menuntut hak dan seharusnya mau karena bayar pajak terus, tetapi tidak tahu dan sepertinya tidak peduli uang pajak itu digunakan untuk apa.

Jadi, selamat tinggal petisi pendidikan. (Makanya, dalam post yang lama, saya sebutkan “almarhum”). Saya bisa menggunakan waktu saya untuk urusan yang lebih penting daripada berusaha membujuk orang tua terus tanpa hasil. Bila orang tua, khususnya yang Muslim, tidak peduli pada masa depan anak bangsa ini, buat apa saya mau cape untuk membujuknya peduli terus-terusan tanpa hasil?

Terima kasih Bu Wati. Mungkin dalam generasi mendatang, 50 tahun lagi, akan ada orang tua baru yang sanggup peduli pada anak tetangganya seakan-akan anak mereka sendiri.

Klik di sini untuk memberikan tanda tangan online di situs Care2 Petition Site (bila peduli)

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Sunday, November 25, 2007

Menyangkal Pemusnahan Massal, Versi AS



Diambil dari artikel : Holocaust Denial, American Style

Banyak orang barat, terutama orang AS, menjadi marah sekali saat Presiden Iran Ahmedinejad menyangkal terjadinya “Holocaust” (genosida/pemusnahan massal) terhadap kaum Yahudi dalam PD II oleh tentara Jerman Nazi. Tetapi sekarang terjadi penyangkalan yang serupa di media massa barat, terutama media AS, yang menyangkal pemusnahan massal sedang terjadi di Iraq.

Orang Amerika yang biasa menganggap sekitar 10.000 orang Iraq telah wafat di dalam perang ini, tetapi angka yang paling sering disebut dalam media massa sekitar 70.000.

Tetapi perkiraan terbaru (dua bulan yang lalu) tentang jumlah orang yang dibunuh secara sengaja di Iraq (bukannya wafat dari penyakit, dsb.) telah mencapai 1.220.580 jiwa. Data ini dikumpulkan oleh perusahaan “polling” Inggris bernama “Opinion Research Business”, dan sesuai dengan hasil yang serupa dari Johns Hopkins University School of Public Health yang menentukan jumlah orang yang telah dibunuh sebagai 600.000 orang, setahun yang lalu. Data lama itu dikumpulkan oleh para dokter dan ilmuan dan diterbitkan di Journal Medis “Lancet” pada 2006. Kalau hasil dari Johns Hopkins setahun yang lalu di-update, maka akan lebih dari 1 juta jiwa sekarang, berarti data dari kedua sumber ini saling membenarkan.

Jumlah orang yang dibunuh yang terbaru ini, 1.220.580 jiwa, tidak termasuk orang yang juga wafat dari kehancuran sistem pelayanan medis yang terjadi sejak awak perang, kehabisan persediaan obat-obatan, kerusakan pada jaringan listrik, dsb. Jumlah baru ini juga 5 kali lipat jumlah orang yang dibunuh dalam genosida Darfur sekarang ini, dan juga lebih dari genosida yang terjadi di Rwanda 13 tahun yang lalu. (Perlu dipahami juga bahwa cara menghasilkan data di semua lokasi ini adalah sama: polling terhadap ribuan contoh rakyat biasa, dikali jumlah penduduk seluruhnya. Walaupun merupakan perkiraan, sistem ini telah terbukti cukup akurat oleh para ilmuan dunia dan merupakan cara mengumpulkan data yang standar di manca negara.)

Bila angka baru 1.220.580 jiwa adalah benar, apakah berarti AS bertanggung jawab atas “Holocaust” baru di Iraq? Ternyata tidak ada pejabat atau wartawan yang berani menjawab pertanyaan tersebut, jadi “Holocaust” (pemusnahan massal) disangkal oleh mereka semua.

Ternyata, AS bisa belajar sesuatu dari Ahmedinejad juga!

Holocaust Denial, American Style

By Mark Weisbrot

AterNet.org

Wednesday 21 November 2007

Institutionally unwilling to consider America's responsibility for the bloodbath, the traditional media have refused to acknowledge the massive number of Iraqis killed since the invasion.

Iranian President Ahmedinejad's flirtation with those who deny the reality of the Nazi genocide has rightly been met with disgust. But another holocaust denial is taking place with little notice: the holocaust in Iraq. The average American believes that 10,000 Iraqi civilians have been killed since the US invasion in March 2003. The most commonly cited figure in the media is 70,000. But the actual number of people who have been killed is most likely more than one million.

This is five times more than the estimates of killings in Darfur and even more than the genocide in Rwanda 13 years ago.

The estimate of more than one million violent deaths in Iraq was confirmed again two months ago in a poll by the British polling firm Opinion Research Business, which estimated 1,220,580 violent deaths since the US invasion. This is consistent with the study conducted by doctors and scientists from the Johns Hopkins University School of Public Health more than a year ago. Their study was published in the Lancet, Britain's leading medical journal. It estimated 601,000 people killed due to violence as of July 2006; but if updated on the basis of deaths since the study, this estimate would also be more than a million. These estimates do not include those who have died because of public health problems created by the war, including breakdowns in sewerage systems and electricity, shortages of medicines, etc.

Amazingly, some journalists and editors - and of course some politicians - dismiss such measurements because they are based on random sampling of the population rather than a complete count of the dead. While it would be wrong to blame anyone for their lack of education, this disregard for scientific methods and results is inexcusable. As one observer succinctly put it: if you don't believe in random sampling, the next time your doctor orders a blood test, tell him that he needs to take all of it.

The methods used in the estimates of Iraqi deaths are the same as those used to estimate the deaths in Darfur, which are widely accepted in the media. They are also consistent with the large numbers of refugees from the violence (estimated at more than four million). There is no reason to disbelieve them, or to accept tallies such as that the Iraq Body Count (73,305 - 84,222), which include only a small proportion of those killed, as an estimate of the overall death toll.

Of course, acknowledging the holocaust in Iraq might change the debate over the war. While Iraqi lives do not count for much in US politics, recognizing that a mass slaughter of this magnitude is taking place could lead to more questions about how this horrible situation came to be. Right now a convenient myth dominates the discussion: the fall of Saddam Hussein simply unleashed a civil war that was waiting to happen, and the violence is all due to Iraqis' inherent hatred of each other.

In fact, there is considerable evidence that the occupation itself - including the strategy of the occupying forces - has played a large role in escalating the violence to holocaust proportions. It is in the nature of such an occupation, where the vast majority of the people are opposed to the occupation and according to polls believe it is right to try and kill the occupiers, to pit one ethnic group against another. This was clear when Shiite troops were sent into Sunni Fallujah in 2004; it is obvious in the nature of the death-squad government, where officials from the highest levels of the Interior Ministry to the lowest ranking police officers - all trained and supported by the US military - have carried out a violent, sectarian mission of "ethnic cleansing." (The largest proportion of the killings in Iraq are from gunfire and executions, not from car bombs). It has become even more obvious in recent months as the United States is now arming both sides of the civil war, including Sunni militias in Anbar province as well as the Shiite government militias.

Is Washington responsible for a holocaust in Iraq? That is the question that almost everyone here wants to avoid. So the holocaust is denied.

Source: Truthout

Friday, November 23, 2007

Torture 'unpunished in Indonesia'


Indonesia has a "culture of impunity"[= tidak kena sangsi] in the face of ill-treatment and torture, a senior UN official has said.

Manfred Nowak, special rapporteur on torture, has spent two weeks inspecting the country's prisons and police and military detention centres.

Mr Nowak said he found evidence of detainees being electrocuted, suffering systematic beatings and even being shot in the legs at close range.

He called on the government to make torture a separate crime under the law.

The BBC's Lucy Williamson, in Jakarta, says Indonesia has regularly come under scrutiny for its human rights record. Mr Nowak's visit is the third by a UN human rights monitor this year.

Safeguards call

He conceded that treatment of detainees had improved since authoritarian dictator Suharto's regime came to an end in 1998.

But the envoy said abuse had continued, and the police appeared to be the main culprits.

"The problem of police abuse appears to be sufficiently widespread as to warrant immediate attention," he said.

The level of abuse varied widely between institutions, depending on the personal behaviour of those in charge, he said.

In some places there were no reported cases of abuse, in others he said torture was systematic, with detainees regularly suffering beatings.

"In all the meetings with government officials nobody could cite one case in which a police officer was ever found guilty and sentenced by a criminal court for ill-treatment or other abuse of a detainee," he said.

He called on the Indonesian government to strengthen the legal safeguards against torture.

He said there should be a separate offence of torture, a reduction in the time people spend in police custody and an independent complaints system.

Mr Nowak, who will deliver a full report to the UN Human Rights Council, visited institutions in Jakarta, Papua, South Sulawesi, Bali and Yogyakarta.

Story from BBC NEWS:

http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/asia-pacific/7109219.stm

Published: 2007/11/23 12:24:50 GMT

© BBC MMVII

Thursday, November 22, 2007

Translators wanted

Assalamu’alaikum wr.wb.,

I am looking for 2-5 translators who can help me translate a series of Islamic books from Indonesian into English (not my books). I already know some people but I am looking for other options as well, to offer different choices to the writer.

Ideally, the team will work on only one book every few months, and then I will edit the finished result, Insya Allah.

There will be more than 20 books in the series over the next few years, so Insya Allah there will be regular work every few months for the translation team.

If anyone is interested, please contact me by email and give me your phone number plus a basic idea of your experience.

Work on the first book needs to be completed in the next few months (Dec 07 – Jan 08).

Please only contact me if you have experience translating into English and have a good level of English grammar and vocabulary.

Thanks,

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Monday, November 19, 2007

Saya mencari pekerjaan baru

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Saya sudah mulai mencari pekerjaan baru untuk bulan januari 2008.

Diutamakan tempat kerja yang di wilayah Jakarta Selatan, tapi yang lain juga boleh. Dicarikan pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris, kepala sekolah, atau konsultan pendidikan atau advisor. (Ada yang lain?). Pekerjaan di tempat apa saja boleh, misalnya, di perusahaan swasta, kursus bahasa Inggris, sekolah swasta, sekolah Islam, dan lain-lain.

Part-time juga boleh, asal ada visa kerja (kitas).

Kalau ada teman yang punya informasi, tolong kasih tahu. Kalau ada perlu CV saya, kirim email saja (genenetto [at] gmail.com) dan saya akan balas dengan CV sebagai attachment.

Terima kasih atas bantuan dan doanya.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Sunday, November 18, 2007

Taman Kota Dibuat Dari Tanah Kosong


Ini sebuah ide untuk membuat banyak “taman kota sementara” di dalam setiap kota besar di Indonesia.

Saya lihat di hampir semua wilayah di Jakarta, ada tanah kosong yang tetap kosong untuk bertahun-tahun. Bagaimana kalau semua tanah kosong itu dijadikan taman sementara?

Setiap tanah kosong dengan ukuran di atas X m2 bisa diubah menjadi taman.

Pemda bisa berhenti sementara dari membuat koridor Busway di mana-mana, dan salurkan dananya untuk beli rumput, pohon, semak, ayunan dan mainan lain buat anak. Semua fasilitas akan tetap milik Pemda, tetapi pemilik tanah tetap dianggap pemilik mutlak dari tanahnya. Kalau pemilik tanah ingin menggunakan tanah untuk membangung gedung, semua fasilitas bisa diambil kembali oleh Pemda.

Dengan melihat tanah kosong yang tetap kosong sampai puluhan tahun, hasil dari rencana ini akan membentuk banyak taman kota untuk puluhan tahun yang bisa dinikmati oleh warga sebelum ada rencana pembangunan bagi tanah tersebut.

Orang perkantoran mendapat tempat menarik untuk duduk dan istirahat pada waktu makan siang, dan Ibu rumah tangga bisa ajak anaknya bermain di taman dekat rumah.

Ini sebuah solusi yang sederhana, tidak begitu mahal (dibandingkan Busway) dan akan membuat ibukota lebih indah dan menarik untuk puluhan tahun mendatang.

35 JUTA warga AS kekurangan makanan

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ini sangat menarik. Ternyata orang miskin yang hidup dalam kelaparan tidak di Indonesia saja. Di Amerika pun ada.

Pada tahun 2006, 35 JUTA warga AS kekurangan makanan, yang mereka sebut “food insecure” dengan arti makanan tidak cukup dari hari ke hari (mirip orang miskin di Indonesia).

Menurut saya, sangat aneh bahwa negara besar ini bisa menghabiskan ratusan milyar dolar untuk membunuh orang Islam di Afghanistan dan Iraq, padahal uang itu lebih bermanfaat bila digunakan untuk kepentingan warga sendiri. (Perkiraan terbaru menyatakan jumlah uang yang perlu dihabiskan untuk perang George Bush ini akan lebih dari 1 TRILLION dolar, karena juga memperhitungkan biaya perawatan bagi prajurit yang luka-luka, pensiun seumur hidup bagi mereka, dana untuk menggantikan semua bom dan senjata yang sudah digunakan atau rusak, dsb.)

Di AS, orang miskin dibiarkan dalam kemiskinan, anak yang lapar dibiarkan lapar terus, dan ratusan milyar dolar dihabiskan dengan sia-sia untuk membunuh anak orang lain di Iraq. (Tapi minyaknya dapat kali ya, jadi ada untung sedikit).

Hiduplah demokrasi versi AS! Kapan dunia akan diselamatkan dari kegilaan Bush dan Kongres AS yang tidak bisa utamakan anak yang lapar di dalam negaranya sendiri? Apa bedanya dengan pejabat Indonesia yang juga tidak peduli pada anak yang lapar karena begitu sibuk dengan korupsinya? Barangkali lebih baik korupsi daripada demam perang kaya AS. Kalau pejabat Indonesia korup dan tidak peduli pada anak bangsa yang lapar, minimal mereka tidak sibuk membunuh anak orang lain di bangsa lain.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Over 35 Million Americans Faced Hunger in 2006: USDA
By Christopher Doering
Reuters

Wednesday 14 November 2007

Washington - The U.S. government said the number of Americans who went hungry in 2006 was held in check at 35 million people from the prior year, but food advocacy groups said on Wednesday more needs to be done.

The U.S. Agriculture Department said a total of 12.65 million households were "food insecure," or 10.9 percent of U.S. homes, up from 12.59 million a year ago.

The USDA defines food insecurity - its metric for measuring hunger - as having difficulty acquiring enough food for the household throughout the year.

"It looks very stable from this year to last year," said Mark Nord, who co-authored the annual report for USDA's Economic Research Service.

Overall, 35.52 million people, including 12.63 million children, went hungry compared with 35.13 million in 2005. The survey was conducted in December 2006 and represented 294 million people, an increase of 2.5 million from 2005.

Food advocacy groups said the figures showed the United States was not doing enough to combat hunger, and feared conditions could worsen.

"As costs for food, energy, and housing continue to rise and wages stagnate or decline, households are finding themselves increasingly strapped," said Jim Weill, president of the Food Research and Action Center. "This may mean even worse numbers in 2007."

Very low food security was most prevalent in households with children headed by a single woman - 10.3 percent in 2006, USDA said.

Food stamps and other public nutrition programs account for about 60 percent of the USDA's spending. Funding for the department's 15 nutrition assistance programs has risen 70 percent since 2001 to $59 billion in 2006, and 20 percent of all Americans are impacted by the programs each year.

Some 27 million people are enrolled in the food stamp program alone, which helps poor Americans buy food. USDA has estimated 65 percent of eligible people participate in the program, up from 54 percent in 2001.

"We have more work to do," said Kate Houston, USDA's deputy undersecretary for Food, Nutrition and Consumer Services. "We can't say that everybody that is eligible for our programs is participating."

Truthout


Tuesday, November 13, 2007

Menyumbang Beras Bagi Orang Miskin Lewat Online Game


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Online game ini memambahkan stok beras buat orang miskin di dunia (yang disalurkan lewat PBB), dan sekaligus memberikan pelajaran kosa kata bahasa Inggris.

www.FreeRice.com

Dalam game ini, kita memilih kata yang paling sesuai dengan kata yang disediakan.
Misalnya, dangerous = unsafe. (ada 4 pilihan)
Kalau pilihan kita salah, kita mendapat kata baru, dengan penjelasan ttg jawaban yang benar.
Bila jawaban kita benar, kita mendapatkan kata baru, dan setelah benar 3x naik tingkat. Ada 50 tingkat. Kalau kita salah terus, tingkat kesulitan kita turun dulu.

Setiap kali kita menjawab dengan benar, 10 biji beras disumbangkan ke World Food Programme (WFP di PBB). Beras ini dibeli lewat iklan sponsor yang ada di bagian bawah dari layar.

Ini bukan tipuan internet. Ini benar. Saya sudah main (dan langsung naik ke tingkat 40, tapi habis itu jadi pusing juga, hehe.). Game ini sudah online sejak 7 October, dan sudah menghasilkan “gunung beras” untuk WFP.

Mohon disebarkan pada anak2 yang ingin menambahkan kosa kata bahasa Inggris, sekaligus menyumbang beras buat orang miskin di seluruh dunia.

www.FreeRice.com

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Web game provides rice for hungry

An internet word game has generated enough rice to feed 50,000 people for one day, the UN's World Food Programme (WFP) has said.

The game, FreeRice, tests the vocabulary of participants. For each click on a correct answer, the website donates money to buy 10 grains of rice. Companies advertising on the website provide the money to the WFP to buy and distribute the rice. FreeRice went online in early October and has now raised 1bn grains of rice. That is enough rice to feed 50,000 people for one day, the WFP said on Friday.

'Viral marketing'

The head of the WFP, Josette Sheeran, said: "FreeRice really hits home how the web can be harnessed to raise awareness and funds for he world's number one emergency." She said word of the game has spread with the help of internet bloggers and websites like Facebook and YouTube. "The site is a viral marketing success story." FreeRice is the invention of US online fundraising pioneer John Breen.

Story from BBC NEWS:

http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/europe/7088447.stm

Published: 2007/11/10 10:29:25 GMT

© BBC MMVII

Tuesday, November 06, 2007

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un




Assalamu’alaikum wr.wb.,

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Guruku, dan ayahku, Kyai Haji Masyhuri Syahid telah meninggal dunia, jam 21.15 WIB pada Minggu malam, tgl 4 November. Wafatnya secara mendadak, padahal sepanjang hari sebelumnya tidak ada gejala sakit. Setelah sholat jenazah di Masjid I’tihad Tebet pada hari Senin, pada waktu dzuhur, kami membawa jenazahnya ke Cirebon. Ayah minta dimakamkan di Cirebon karena berasal dari sana. Mohon ayah dimaafkan bila ada dosa. Semoga semua dosanya diampuni dan amal ibadah diterima di sisi Allah SWT. Amin, amin, yaa robbal'alamin.

Hari ini, Selasa 6 November, kami baru kembali dari Cirebon, dan melanjutkan tahlilan di rumah ayah.

Mohon ayah didoakan.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene + Lukman