Wednesday, March 07, 2007

Sekolah Swasta & Bilingual Bag. 1/5

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Artikel ini saya pecahkan menjadi 5 Bagian karena isinya cukup panjang. Semoga informasi ini menjadi bermanfaat untuk para orang tua, anak, dan masa depan bangsa. Saya sudah berusaha untuk menyingkat komentar saya, tetapi saya kuatir kalau begitu, malah banyak orang tua akan mengirim email dan bertanya tentang apa yang saya maksudkan. Setelah membaca ini, insya Allah, tidak akan ada yang perlu ditanyakan kepada saya karena sudah cukup jelas. Terima kasih atas waktu anda untuk membacanya.
Di bagian pertama ini, terdapat banyak istilah yang digunakan guru bahasa dan jurnal/buku yang membahas pendidikan bahasa. Saya sengaja menggunakannya sehingga orang tua yang ingin belajar lagi di internet, atau mencari buku tentang topik ini bisa menjadi biasa dengan istilah2 tersebut. Bila sulit dipahami, mohon dibaca secara pelan saja, kalimat demi kalimat. Insya Allah landasan teori pendidikan bahasa ini (walaupun secara ringkas saja) akan bermanfaat nanti.


PROGRAM IMMERSION

Sekolah manapun yang menamakan diri “bilingual” sebaiknya memiliki program yang tepat untuk mewujudkan dua bahasa pada saat yang sama. Di sini, barangkali ada sekolah yang berusaha melakukan ini dengan cara “Full Immersion” di mana anak “ditenggelamkan” di dalam sebuah bahasa sepanjang hari. Ada juga sekolah yang melakukan Semi-Immersion, di mana bahasa ibu juga boleh digunakan lebih banyak dibandingkan Full Immersion. Sebenarnya, tipe program Immersion dan arti daripada istilah “bilingual program” ada beberapa variasi, jadi kita harus menentukan yang mana yang dimaksudkan. Ada Early Immersion, Middle Immersion, Late Immersion, dan tingkat penggunaan masing-masing bahasa, 20-80 / 50-50 / 80-20, tergantung sekolahnya.

Sekolah yang mengunakan sistem “Full Immersion” di luar negeri seringkali hanya menunjuk satu kelas di dalam sekolah dan bukan seluruh sekolah (ada juga yang seluruh sekolah). Hal ini disebabkan ada anak yang “drop out” karena tidak sanggup tahan pelajaran di dalam sebuah bahasa asing. Di manca negara, sudah ada banyak hasil riset mengenai kelas Full Immersion ini, dan memang ada beberapa masalah yang bisa muncul kalau Full Immersion atau Semi Immersion tidak dilakukan dengan benar. Seorang anak yang mengalami kesulitan belajar bahasa asing bisa mendapatkan bantuan khusus di kelas, atau bisa pindah kelas, tetapi di Indonesia, harus pindah sekolah. Dan di sini, kalau uang pangkal puluhan juta adalah non-refundable, apakah orang tua akan siap memindahkan anaknya? Atau membujuknya untuk bertahan? Mungkin dia bisa berhasil bertahan, dan nanti ada kemungkinan bahasa dia berkembang dengan secukupnya untuk bertahan saja, dengan risiko dia tidak mau mendalami tata bahasa yang rumit, karena yang penting di hatinya dari masa awal di sekolah hanya bertahan saja karena dipaksakan orang tua (ada motivasi ekstrinsik, dari luar, dan bukan intrinsik, dari dalam).

Dengan begitu banyak variasi sistem sekolah bilingual di luar negeri, ada terlalu banyak pilihan. Banyak sekolah (terutama di Kanada) mulai dengan langsung “tenggelamkan” anak dari TK sampai Kelas 2. Yang namanya “guru” di kelas ini, tentu saja seorang guru yang berkualifikasi dan terlatih dengan cara2 mengembangkan bahasa kedua (L2) untuk anak kecil ini. Si anak akan tetap menggunakan bahasa Ibunya (L1), tetapi guru selalu memberikan tanggapan dengan bahasa asingnya (L2). Lewat waktu berbulan2 sampai bertahun2, anak mulai mengerti bahasa asing ini karena memang tidak ada pilihan. Guru tidak pernah menggunakan bahasa selain bahasa asingnya. Dan tentu saja suasana di kelas sangat “child-friendly”, “child-centered”, dan jauh dari tekanan atau pemojokan.

Mulai dari Kelas 2 ke atas (kalau ini Early Immersion), ada progam Language Arts untuk bahasa Ibu (L1) yang tidak ada sebelumnya. Dengan sistem seperti ini, anak akan mulai belajar membaca dan menulis di dalam bahasa asing (L2) sebelum bahasa Ibunya (L1). Oleh karena itu, sering terjadi bahwa kemampuan akademis anak ini berkembang dengan pelan dibandingkan dengan anak di sekolah biasa. Setelah beberapa tahun, perbedaan ini hilang dan anak menjadi sama dengan anak lain yang hanya belajar di L1nya.

Di Kelas 5 dan 6, ada kemungkinan kelas2 yang menggunakan L2 hanya tinggal 50% dan sampai ke SMA, pelajaran yang menggunakan L2 barangkali tinggal 20% saja. Persentase penggunaan ini bervariasi dari sekolah ke sekolah dan wilayah ke wilayah. Intinya, anak yang mulai menggunakan L2 langsung dari TK, sudah berubah dan menggunakan L1 untuk kebanyakan mata pelajaran di SMP dan SMA. Kalau di Late Immersion, menjadi sebaliknya: anak mengunakan L1 terus sampai Kelas 6-8, dengan hanya 20% L2, lalu berubah sehingga di tahun terakhir SMA menggunakan 50-50% atau juga bisa 80% L2 dan hanya 20% L1.

Ini sekedar sedikit informasi standar tentang bentuk program bilingual yang ada di manca negara. Yang membuat saya kuatir tentang program bilingual di sini adalah kesan bahwa terlalu banyak sekolah swasta (terutama yang kecil dan baru) tidak menjalankan progam bilingual dengan cara yang sama. Saya sering mendapat kesan bahwa di sini ada sistem baru. Di TK, guru menggunakan L2 sebanyak mungkin dan masih menggunakan L1 juga, berarti Semi Immersion. Naik ke SD, L2 menjadi bahasa utama dan digunakan secara acak oleh guru, karena tidak ditentukan pelajaran yang mana yang menggunakan bahasa apa. Dengan demikian, tidak ada control terhadap jumlah bahasa L1 dan L2 yang digunakan. Berarti ini jatuhnya antara Semi dan Full Immersion.

Naik ke SMP dan SMA, barangkali hampir semua pelajaran mengutamakan L2 dengan hanya kelas bahasa Indonesia (dan mungkin kelas agama) yang menggunakan L1, berarti mendekati model Sekolah Internasional. Kalau ada sebagian atau banyak sekolah seperti ini di Indonesia, berarti ini sebuah model sekolah bilingual baru dan mungkin belum ada riset yang membuktikan dampak baik dan buruknya.

BAHASA IBU

Kalau seandainya bahasa Ibu (L1) tidak dikembangkan dengan baik, dan bahasa asing (L2) diutamakan dengan cara yang kurang tepat, maka bisa terjadi beberapa dampak negatif, yang barangkali tidak akan dibahas dengan para calon orang tua (calon “customer” yang akan menyumbang puluhan sampai ratusan juta rupiah pada pihak sekolah). Satu contoh adalah bahasa Ibu (L1) menjadi kurang lancar dan itu juga memberikan dampak terhadap sosialisai dengan keluarga besar. Juga bisa terjadi anak menganggap bahasa dan budaya dari orang tuanya adalah “rendah” karena mulai dari TK, dia sudah dibiasakan dengan bahasa asing itu selalu diutamakan di sekolah.

Kalau sebuah sekolah ingin menjalankan satu kelas atau seluruh sekolah dengan sistem Semi atau Full Immersion, maka tentu saja itu kembali pada kurikulum yang disusun sedemikan rupa untuk menjaga bahasa Ibunya, dan juga untuk memastikan bahwa bahasa asingnya berkembang dengan benar.

Sebagai salah satu contoh dari masalah yang bisa muncul, bisa ada seorang anak yang selalu tidak selesaikan tugas dengan cepat, lalu sering ditegor oleh guru, lalu dianggap sebagai pemalas, dan akhirnya dia menjadi anak “nakal” di kelas. Setelah diperiksa, ternyata dia kurang paham apa yang dijelaskan oleh gurunya di dalam bahasa asing dan hal itu membuatnya stres. Stres itu keluar sebagai sikap “tidak mau nurut”. Ada juga anak yang terlalu banyak diam dengan alasan yang sama. Kekurangannya di dalam menggunakan bahasa asing ini akan mempengaruhi pergaulan sosialnya, dan juga rasa percaya diri.

Untuk memahami pelajaran di kelas, anak harus membentuk “communicative competence” atau mungkin hanya “proficiency” pada tingkat dasar, sehingga dia mampu berkomunikasi. Untuk mencapai kemampuan ini, dia harus melakukan “decoding” yang berarti anak harus berusaha untuk mengerti “peraturan bahasa” itu sehingga sanggup membentuk kalimat sendiri dan memahami kalimat dari orang lain. Kalau dia belum berhasil dengan proses ini, dan kalau seandainya bahasa Ibu tidak boleh digunakan, dampaknya bisa cukup negatif terhadap si anak. Setiap sekolah membuat peraturan sendiri2 tentang bagaimana guru sebaiknya tanggapi anak yang selalu ingin menggunakan L1nya, padahal sekolah ingin membujuk dia menggunakan L2. Ada cara yang baik untuk membujuknya seperti menberikan semangat sambil senyum, dan ada cara yang buruk seperti menggunakan “punishment system” (sistem hukuman) yang berarti setiap kali anak menggunakan L1 dia akan kena sangsi tertentu. Kalau cara buruk digunakan, anak bisa mengambil kesimpulan bahwa bahasa ibunya adalah bahasa yang tidak dihargai.

NATURALLY BILINGUAL

Ada anak yang menjadi “naturally bilingual” (bilingual secara alamiah) karena orang tua menggunakan dua bahasa di rumah (kedua bahasa itu dihitung L1). Anak ini memang lebih mudah belajar dua bahasa sekaligus di usia kecil (1,5 tahun sampai dengan 5 tahun) dengan alasan dia akan mengikuti ucapan orang tua saja. Dia menganggap dua bahasa itu normal. Anak ini akan bereksperimen dengan dua bahasa tersebut dengan cara mencampurinya (ini disebut “code switching”). Setelah sekian tahun (sebelum TK), anak ini akan sanggup menggunakan kedua bahasa itu, karena memang sudah terbiasa begitu dari lahir.

Ini agak berbeda dengan seorang anak yang masuk TK di mana kemampuan bahasa ibunya sudah maju jauh dan dia sudah mulai melakukan “decoding” (berusaha memahami peraturan bahasa) terhadap bahasa ibu itu (L1). Kemudian, guru di sekolah memaksakan dia (dengan cara yang baik atau tidak baik) untuk berfokus lagi pada sebuah bahasa baru (L2), yang juga membutuhkan proses decoding, padahal dia belum selesai decoding dengan bahasa ibunya. Pada saat yang sama, barangkali dia diwajibkan belajar membaca dan menulis di dalam dua bahasa sekaligus, oleh orang yang belum tentu mengerti cara mengajar bahasa apa pun. (Ini membicarakan proses untuk anak di kelas formal, dan bukan anak yang menjadi “naturally bilingual” karena prosesnya berbeda). Kalau di luar negeri, di kelas Full Immersion, anak hanya mendapatkan L2 dan belajar membaca dan menulis hanya di dalam L2. Tetapi yang pernah saya lihat di sini adalah anak harus melakukan kedua hal yang rumit ini (membaca dan menulis) di dalam dua bahasa sekaligus. Anak ini bukan anak yang mendapatkan dua bahasa di rumah secara alamiah. Anak ini bukan anak yang “naturally bilungal”.

Apakah orang tua bisa memahami kenapa ada anak yang mengalami stres? [Kata Pemilik Sekolah: “Oh, tidak Ibu, tidak ada stress di sini. Kita sekolah bilingual lho!” (Kali 1000).]

Justru ada sebgaian dari riset yang membuktikan bahwa anak yang membentuk satu bahasa terlebih dahulu sudah memiliki skil untuk mempelajari bahasa yang lain. (Salah satu ahli yang berpendapat seperti ini adalah Professor Wong Fillmore). Anak sudah pernah melakukan “decoding”. Dia sudah bisa membaca dan menulis, berarti dia bisa menggunakan kamus bilingual dan monolingual. Dia sudah percaya diri karena sudah berpengalaman beberapa tahun menulis cerpen dan sebagainya di dalam bahasa ibunya. Dan dia merasa bangga dengan bahasa ibunya dan budayanya, yang memberikan dampak social yang sangat positif kepadanya.

Di sini, perlu dijelaskan bahwa ada dua kubu yang mengemukakan riset yang agak bertentangan. Ada yang menyatakan bahwa “tenggelam” di dalam L2 di TK tidak apa-apa dan justru baik untuk anak, dan ada yang sebaliknya yang menyatakan bahwa Full Immersion ini bisa menimbulkan berbagai macam masalah. Di kalangan guru bahasa, ahli linguistic dan ahli pendidikan, persoalan ini masih seperti perkara “mazhab” – tergantung kita mau percaya pada teori/ riset/ ahli yang mana.

KURIKULUM LANGUAGE ARTS

Saat saya memeriksa kurikulum di sebuah sekolah swasta, saya langsung menyadari bahwa kurikulum yang digunakan oleh sekolah adalah kurikulum yang diambil langsung dari sebuah negara barat: kurikulum untuk Native Speaker of English, dan bukan kurikulum blingual untuk anak di lain negara yang belum tahu bahasa Inggris. Saran saya untuk menyusun kurikulum baru yang sengaja dibuat untuk anak Non-Native Speaker, langsung ditolak oleh pemilik sekolah. Kurikulum untuk Native Speaker harus digunakan karena sudah dibeli dari negara barat itu dan akan dijual lagi ke para pembeli franchise. Kebutuhan anak “A”, kebutuhan bisnis “B”. Dan “B” menang.

Saya yakin kurikulum itu tidak akan bisa berhasil di sini karena keadaan yang digambarkan di atas di mana anak masuk Immersion dari TK dan keluar sebagai anak bilingual, sangat tergantung pada adanya kurikulum yang tepat dan guru bahasa yang terlatih dan lancar di L2 itu. Apakah di sekolah anak anda ada banyak guru bahasa yang berkualifikasi, terlatih dan lancar dalam bahasa Inggris?

Sebagian besar orang tua barangkali tidak bisa membedakan antara kedua kurikulum tersebut. Sebagai contoh sederhana, coba ingat masa sekolah anda sendiri. Apakah pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, anda belajar tentang cara menyusun cerita? Membuat puisi? Membaca sebuah buku kemudian membuat laporan tentang buku tersebut? Kalau iya, berarti itu kurikulum “Language Arts” untuk orang yang memang Native Speaker dari bahasa tersebut, dan sangat kecil porsinya yang terfokus pada meningkatan kemampuan bahasanya dari sisi tata bahasa, kosa kata, atau perbaikan logat. Semua itu, rata-rata mengingkat sendiri karena ini memang bahasa Ibu anda yang digunakan sehari-hari.

Apakah guru Bahasa Indonesia anda sering memberikan pelajaran tentang logat yang benar? Kalau tidak, berarti anda memang Native Speaker of Indonesian dan anda sudah mendapatakan bahasa ibu anda, termasuk logat yang benar, dari umur 1-5 tahun (dengan asumsi bahwa bahasa ibu anda, atau L1, adalah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Jawa, dll.). Berarti anda bisa mempelajari “Language Arts” pada saat masuk kelas bahasa Indonesia. Lain halnya kalau ada mau belajar bahasa Inggris, bahasa Mandarin atau bahasa Perancis mulai dari nol. Tantangannya sangat berbeda. Apalagi kalau “guru” anak anda tidak memiliki kualifikasi atau pengalaman sebagai guru, dan dia juga tidak lancar di dalam bahasa Inggris itu, dan dia sendiri lebih senang menggunakan bahasa Indonesia kalau bisa. Barangkali menggunakan bahasa Inggris setiap hari juga bikin dia “pusing” karena tidak biasa.

3 comments:

  1. tulisan anda sgt bermanfaat, kebetulan sy tgh mengawal sbuah sklh swasta konvensional untuk berubah sistem menjadi bilingual. mhn bagian kedua / selanjutnya segera anda buat. trmksh. (Indah)

    ReplyDelete
  2. Sudah ada Ibu. Cek di blog saya, di sebelah kiri, di bagian pendidikan.
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  3. alhamdulilah pak..tulisan bapak benar-benar menjawab secara lengkap kegelisahan saya akhir2 ini.. benar-benar bermanfaat,,,:-) May Allah Bless u sir ^^

    ReplyDelete