Saturday, March 10, 2007

Sekolah Swasta & Bilingual Bag. 2/5

KURIKULUM APA YANG BAGUS?
Kalau orang tua bertanya kurikulum mesti seperti apa, berarti kita harus menentukan tujuan dari sekolah dulu. Kita harus tahu bahasa Inggris akan digunakan untuk apa sehingga anak-anak membutuhkan tingkat kelancaran seperti apa? Yang paling utama di dalam kurikulum sesudah itu adalah “language acquisition” atau bagaimana caranya si anak akan “mendapatkan” bahasa yang diinginkan dan berapa lama yang dibutuhkan sampai proses ini mencapai tingkat yang mahir sehingga anak menjadi “self-learner” (kemungkinan besar ini bisa tercapai pada akhir dari SD, tetapi tergatung pada pengalaman anak mendapatkan bahasa dari awal). Jadi status dari bahasa tersebut menjadi penting.
Apakah bahasa Inggris diajar sebagai bahasa utama, atau bersama dengan L1 (bahasa Ibu)? Berapa persen menggunakan L1 , berapa persen menggunakan L2 (bahasa asing)? Bagaimana sekolah mengatur penggunaan kedua bahasa ini? Misalnya, kelas Matematika selalu menggunakan L1 dan Kesenian selalu menggunakan L2? Atau apakah para guru disuruh mencampuri bahasa di kelas secara acak? Kalau begitu berarti pengurus sekolah tidak bisa memantau persentase dari kedua bahasa tersebut. Kalau orang tua bertanya, mungkin pengurus sekolah menyatakan “50/50”. Tetapi apakah benar? Yang memantau siapa? Ada data dari observasi setiap hari di mana? Kalau guru kelas ini lokal, berarti dia bukan Native Speaker dan karena itu, kemampuan bahasa dari setiap guru akan berbeda-beda. Kalau guru ini Native Speaker, apakah dia menggunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan anak untuk memahaminya (“comprehensible input”)? Kalau si Native Speaker (yang barangkali bukan orang yang bergelar pendidikan dan “asal bule” saja) menggunakan bahasa yang terlalu rumit untuk anak, maka yang didengarkan anak adalah suatu “bunyi/keberisikan” yang di tengah2nya ada beberapa kosa kata yang bisa ditangkap. Berarti sebagian besar dari apa yang diucapkan “guru” ini adalah sia-sia, dan tidak membangun kemampuan si anak. Apalagi mengembangkan ilmu akademisnya dan cara berfikir dengan pikiran yang makin dewasa (“cognitive development”).
Sebagai contoh: Coba suruh anak duduk di depan TV pada saat ada berita di Metro TV dalam bahasa Cina (asumsi bahasa Cinanya nol). Ulangi terus untuk 3 bulan. Lalu mengetes anak: sudah mengerti bahasa Cina atau belum kalau sebelumnya nol? Kalau masih nol, atau dia baru “hafal” sebagian kecil kata, tanpa merasa yakin tentang artinya (misalnya ucapan “selamat siang”) maka ini mirip dengan mendengarkan si Native Speaker yang kurang berilmu terus2an.
Kalau di kelas, anak sanggup menangkap kosa kata dengan cepat karena konteks dan tindakan teman membantu. Misalnya, guru menyatakan “Get some paper” lalu anak yang lain mengambil kertas. Berarti anak yang belum paham akan ikut mengambil kertas, karena ikuti tindakan teman, bukan karena mengerti apa yang diucapkan oleh gurunya. Tetapi kalau si guru Native bicara terlalu cepat dan menggunakan terlalu banyak kosa kata, kalimat yang rumit, dan banyak idiom (untuk anak di tingkat SD), barangkali buat si anak tidak ada bedanya dengan mendengarkan berita bahasa Cina.
Di kelas ini, status dari masing2 bahasa harus ditentukan terlebih dahulu. Full L1? Full L2? Campur? Campur berapa persen? Tujuan dan cara menggunakan bahasa ini seharusnya mengikuti kurikulum, bukan ditentukan oleh guru secara acak. Seharusnya hal ini ditentukan sebelum kurikulum dibuat, dan sebelum sekolah dibuka. Bukan dengan asal ngomong “Kita sekolah bilingual lho! Di sini 50-50”). Itu bukan suatu kebijakan melainkan sebuah tebakan.
Kalau tidak salah ingat, di kurikulum IB ada bagian khusus untuk meningkatkan kemampuan bilingual (saya sudah lama tidak melihatnya). Di bagian itu, kurikulum bukan Language Arts saja tetapi semacam “campuran’ antara Language Arts dan skil2 yang harus dibungun untuk meningkatkan kemampuan L2. Skil ini bisa diajar dalam berbagai macam format, sehingga tidak mesti hanya menggunakan “notional-functional approach” seperti yang sering ada di dalam kursus bahasa Inggris.
Misalnya, di kurikulum ada pelajaran tentang “Memories” (hal-hal yang diingat dari masa lalu) di mana anak diajak membahas masa kecilnya. Apa di rumah/kota yang sama, dsb.? Misalnya ada anak diajak bicara/menulis “When I was little we lived in Bandung and I saw butterflies everyday.” Di tengah membahas ingatan masa kecil, muncul kata kerja (verb) yang menggunakan Past Tense. Lalu apa bedanya”I saw butterflies” sama “I have seen butterflies”? Penggunaan Past Simple atau Present Perfect ini mengubah makna. Guru harus bisa melihat berapa banyak anak yang benar dan salah dalam penggunaan. Kalau hanya satu atau dua anak, berarti hanya mereka yang perlu dipantau lebih intensif.
Justru bagian “Memories” itu ada di kurikulum supaya guru di program bilingual bisa memantau perkembangan dan kepahaman setiap anak terhadap Verb Tense ini. Kalau ternyata kebanyakan anak masih belum benar dalam penggunaan (misalnya, sudah di Kelas 3), maka guru bisa berusaha untuk memberikan pelajaran yang lebih banyak menggunakan Past Tense ini sehingga anak mendapat masukan yang lebih konkret di dalam konteks tesebut. Ini seringkali dilakukan dengan menggabungkan beberapa pelajaran yang berbeda supaya mengikuti tema yang sama (“thematic approach”). Dengan ini (misalnya, tema adalah “Indonesian History”), kosa kata yang sama akan muncul di beberapa mata pelajaran sehingga lebih mudah dihafalkan.
Kurikulum bilingual seperti ini diciptakan untuk diajar oleh seorang guru bahasa, tentu saja, dan bukan seorang lulusan ekonomi yang asal bisa bahasa Inggris. Bedanya adalah kalau di lain negara seorang guru bahasa akan melihat kurikulum seperti ini dan dia akan mengerti bagaimana caranya mengembangkan kemampuan anak dari berbagi aspek: phonemic awareness, reading comprenension, audio-lingual comprehension, communicative competence, discourse competence, dsb.
Tetapi kalau di sini? Apakah “Guru” anak anda juga mengerti? Atau lebih tepat, apakah guru anak anda mengerti pendidikan bahasa asing? Dan berapa banyak dari semua pelajaran menggunakan L2 setiap hari? Kalau kelas dibagikan supaya misalnya matematika selalu di dalam L2, dst. apakah si guru yang mengajar matematika termasuk orang yang paling mengerti pendidikan bahasa? Atau apakah dia hanya salah satu orang yang sanggup menggunakan bahasa Inggris dan juga mengerti sedikit tentang matematika? Atau apakah dia sangat mengerti matematika dan bahasa Inggrisnya pas-pasan? Dan dampaknya apa terhadap para murid kalau dia mengajar dengan cara yang tidak efektif di dalam bahasa yang kurang tepat? Kalau misalnya dia anggap bahwa murid yang bahasanya salah harus selalu dikoreksi, siapa yang akan membantu anak itu pada saat dia mendapat “low self esteem” (tingkat percaya diri rendah)? Kalau anak selalu merasa tidak mampu, bisa jadi semangat dia untuk belajar akan berkurang.
Dan kalau si anak selalu tidak mengerti apa yang diucapkan oleh guru di SD, bagaimana caranya dia akan memahami ilmu matematika?
Guru kelas sebaiknya sanggup: mengajar dengan tingkat bahasa, kosa kata dan tata bahasa yang dipahami anak (“comprehensible input”), sambil mengajarkan ilmu matematika dan sebagainya (“academic content”), dengan menjaga perkembangan daya pikirnya (“cognitive development”), tanpa lupa mengembangkan L2-nya secara teratur dari sisi tata bahasa dan kosa kata (“language acquisition”), sekaligus membantu anak dengan process “decoding” di L1 (karena decoding di L1 berlangsung terus sampai anak lulus SD, dan juga lebih dari itu: salah satu aspek dari “decoding” adalah Phonemic Awareness), sambil juga membantu dengan “decoding” di L2, dengan sekaligus tidak abaikan “social cultural development” sehingga anak masih merasa bangga dengan bahasa dan budaya orang tuanya, dan juga memantau keadaan psikologisnya supaya gangguan disebabkan pengertian rendah di L2 tidak menimbulkan efek samping seperti gangguan terhadap pengertian di “academic content”, yang sesudahnya bisa menyebabkan stres, “low self esteem”, atau “negative self image”, dsb.
Kalau seandainya guru anak anda adalah seorang lulusan ekonomi dengan pengalaman mengajar hanya satu tahun, yang menggunakan sebuah kurikulum bilingual yang “masih ditulis” (oleh para guru juga barangkali), apakah dia bisa melakukan semua hal ini dengan cara yang terbaik untuk menjaga perkembangan daya pikir, ilmu pengetahuan, dua bahasa, rasa percaya diri dan rasa bangga pada L1nya, budayanya, agamanya, keluarganya dan negaranya? Dan semuanya harus dilakukan di dalam sebuah bahasa asing padahal si guru sendiri siap mengaku bahwa dia tidak lancar.
Dan kalau jawaban anda adalah “Saya tidak yakin!” perlu dipertanyakan lagi tentang kenapa sekolah anak anda begitu mahal? Apa sebenarnya yang mereka tawarkan selain gedung yang mewah dan penggunaan bahasa Inggris yang tidak ada di Sekolah Negeri? Bagaimana anda bisa memastikan bahwa hasilnya akan sesuai dengan harapan anda sebagai orang tua? (Kata pemilik sekolah: “It’s a kind of magic!”)
PULL OUT PROGRAM: ANAK PAHAM APA DI KELAS?
Untuk anak yang baru dipindahkan dari sekolah yang lain dan langsung “ditenggelamkan” di dalam bahasa Inggris (misalnya di Kelas 2 atau Kelas 3), kemampuan bahasanya pasti sangat rendah. Supaya ilmu pelajarannya tidak ketinggalan, sekolah harus membantu dia meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan secepat mungkin. Salah satu cara yang standar untuk melakukan itu adalah melalui Pull Out Program. Artinya, pada saat anak lain belajar Kesenian, anak2 yang bermasalah ini akan dicabut dan diberikan pelajaran tata bahasa di ruangan yang lain. Pelajaran ini biasannya adalah murni ESL (English as a Second Language) seperti di kursus bahasa dan bukan Language Arts lagi. Ini juga bisa dalam bentuk After School Program sehingga tidak ada pelajaran yang harus ditinggalkan. Kelas ini akan menjadi wajib bagi si anak sehingga kemampuan bahasanya cukup untuk bertahan di kelas. Cara yang ketiga adalah guru ESL masuk kelas, tetapi kalau jumlah anak yang perlu bantuan adalah besar, ini tidak akan efektif.
Kalau di sekolah anak anda, tidak ada program seperti ini, maka orang tua perlu bertanya kenapa. Setiap sekolah bilingual sangat membutuhkan progam seperti ini, dan sebaiknya dijalankan oleh seorang guru bahasa, bukan guru kelas biasa yang ingin mendapatkan tambahan gaji (kalau After School, mungkin dibayar Overtime).
Bagi anak yang baru dipindahkan ke sekolah bilingual ini, perlu dipertanyakan: sejauh mana kemampuan dia untuk memahami apa yang terjadi di dalam kelasnya? Kalau kemampuan bahasa dia sangat rendah, kemungkinan besar dia akan duduk dengan diam untuk sebagian besar dari kelasnya pada saat anak yang lain mengunakan L2 (bahasa asing) dan ini akan berlangsung untuk semua kelasnya, kecuali anak yang lain juga menggunakan L1 (bahasa Ibu). Kalau dia berani, mungkin dia akan mengunakan L1 pada saat hampir semua anak yang lain menggunakan L2. Tetapi kalau dia tidak berani, dia akan diam dan merasa malu karena tidak bisa melakukan hal yang dilakukan anak lain: berkomunikasi dalam L2. Dan tentu saja itu bisa menimbulkan rasa stres yang sangat besar. Kalau di sekolah ini juga tidak ada Pull Out Program untuk meningkatkan kemampuan bahasanya, perlu kita tanyakan: anak ini akan dibiarkan menderita seperti ini untuk berapa lama?
Kalau orang tua bertanya kepada pihak sekolah, barangkali mereka akan menjawab dengan enteng: “Ohh tidak perlu kuatir Ibu! Setelah […Ibu memberikan kita puluhan juta rupiah, non-refundable, tentu saja, dan…] anak sudah duduk di kelas untuk beberapa bulan, dia akan menjadi lancar seperti anak yang lain.”
Apa begitu mudah menguasaikan sebuah bahasa asing dalam waktu singkat sehingga bisa mempelajari ilmu akademis? Bagaimana kalau seandainya proses ini jauh lebih rumit daripada yang dijelaskan pemilik sekolah? Bagaimana perasaan seorang anak yang duduk di dalam sebuah kelas, dikelilingi oleh orang yang mengucapkan hal-hal yang membuat semuanya senyum dan ketawa, tetapi yang dia mendengarkan adalah: “Kijnvo vipoj foot ubnrn gperbnf prioeb bicycle fpubl giporbhki kjg pencil ugogo oihuirg my gpairbr!!!” HAHAHA, sangat lucu kan? Apakah anda sudah ketawa? Belum ketawa? Tetapi anak yang lain sudah ketawa. Guru ketawa. Anak ini senyum saja karena semua ketawa (dia terbawa dengan suasana). Guru melihat bahwa anak ini senyum dan langsung berfikir “Ohh, anak baru itu mengerti juga. Bagus.” Barangkali ini yang anak anda mengalami di kelasnya sepanjang hari setiap hari selama beberapa bulan (untuk kelas yang pakai L2 terus). Barangkali anak yang satu ini diam saja dan berfikir “Saya orang bodoh. Saya tidak bisa paham. Orang lain bisa paham. Saya tidak disayangi guru. Dia tahu saya tidak mengerti. Kenapa di pakai bahasa itu terus?” dan seterusnya.
Bukannya ini merupakan “penggangguan atau penyiksaan emosional dan mental” terhadap seorang anak kecil? Saya pernah menyaksikan hal ini terjadi di dalam sebuah kelas dengan seorang anak yang baru dipindahkan ke sekolah itu. Tidak ada program ESL untuk membantu dia belajar bahasa dengan cepat. Dia benar-benar “ditengelamkan”. Anak ini tidak bisa selesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia selalu harus berbisik dengan teman (pakai L1) untuk bertanya mesti kerjakan apa. Dia tidak langsung bertindak kalau guru memberi perintah. Dia tunggu dulu dan melihat apa yang dilakukan oleh anak yang lain.
Kalau anak anda melewati beberapa bulan seperti ini, karena tidak ada guru profesional di sekolah, tidak ada Pull Out Program, dan kurikulim “masih ditulis”, bukannya hal itu berarti bahwa anda telah memberikan izin kepada pihak sekolah untuk melakukan eksperimen bahasa asing terhadap anak anda karena tidak ada program yang formal dan tersusun dengan baik untuk meningkatkan kemampuan bahasanya? Hasil di kelas didasarkan “tebakan” pemilik sekolah tentang bagaimana caranya skil bahasa dan ilmu pengetahuan anak anda akan berkembang. Dan kalau ternyata anak anda tidak sanggup paham untuk berbulan-bulan, dan merasa tertekan, berarti anda telah memberikan izin kepada pihak sekolah untuk “mengganggu atau menyiksa” anak anda secara mental dan emosional, secara tidak sengaja tentu saja, dan anda malah membayar mereka untuk melakukan proses tersebut.
Ini sama halnya kalau seorang tukang jamu yang asal mengambil daun dari pohon mana saja dan bikin minuman. Saat dia memberikan kepada anda, dia justru tertarik untuk melihat efeknya setelah anda minum karena dia tidak tahu sebelumnya.
Sebuah model pendidikan baru: Pendidikan Berbasis Tebakan!
SILENT PERIOD
Memang ada suatu tahap yang dilewati dalam proses mempelajari bahasa yang disebut “silent period” (masa diam). Artinya, seorang anak akan duduk tanpa bicara karena dia sedang melakukan decoding, atau berusaha memahami peraturan bahasa tersebut. “Lho, bukannya itu yang dilakukan oleh anak ini di atas?” Tidak. Dia tidak paham saja. Apa bedanya? Ambil contoh seorang anak yang naturally bilingual: ibu mengunakan bahasa Indonesia, bapak menggunakan bahasa Inggris. Saat teman bapak datang ke rumah, dan mereka berbincang dalam bahasa Inggris, anak duduk dengan tenang, di dalam suasana yang penuh dengan kasih sayang, tanpa diberikan tugas yang berkaitan dengan bahasa itu, tanpa ada paksaan dari siapapun untuk memahami apa pun, berarti ini memang “silent period”. Dia sedang mempelajari bahasa, tetapi tidak bakalan merasa “tertekan” kalalu tidak paham. Lain soal di kelas di mana barangkali si “guru” sering mengucapakan: “Ayo Budi, write your sentences, faster, ayo, come on, you are so slow!” Dan barangkali pada saat ini, anak lain ketawa. Bapak di rumah tidak pernah ketawa kalau anaknya diam dan mendengarkan saja tanpa mengerjakan apa saja. Jadi, anak yang banyak diam di kelas memang tetap melakukan decoding, tetapi harus dibedakan antara kapan dia sedang decoding dan kapan dia sedang tidak paham saja.
Kalau pemilik sekolah ingin mengatakan bahwa dia diam terus karena ini “silent period” dan orang tua tidak perlu kuatir, coba mengetes teori ini. Taruh anak di depan TV dan suruh dia nonton berita dalam bahasa Cina di Metro TV (dengan asumsi bahasa Cinanya nol). Suruh di tonton dan sesudahnya memberikan tes 10 pertanyaan: “President membuat perjanjian apa minggu ini?” Dan seterusnya. Apakah anak sanggup jawab? Dia hanya diam terus pada saat nonton dan sepertinya tidak paham apa apa. Apakah ini silent period? Atau ketidakpahaman? Coba diulangi setiap hari untuk 3 bulan. Berikan tes terus. Masih tidak sanggup menjawab? Apakah berarti “silent period” terus? Atau barangkali dia tidak paham terus karena tidak ada yang mengajarkan bahasa Cina kepadanya!
Tetapi barangkali ada kemungkinan bahwa dia bisa menjadi paham secara tiba-tiba kalau anda mengucapkan: “Kita punya TV bilingual lho!” Kali 1000. 
Links untuk semua bagian yang lain:

9 comments:

  1. Dear Gene,
    Saya sangat surprise membaca blog anda. Terima kasih karena memberi masukan yang luar biasa. Sekolah jaman sekarang pada umumnya 2 tahun sudah bisa masuk. Menurut anda apakah sudah pantas anak umur 2 tahun masuk sekolah, terutama yang bilingual, karena saya sangat setuju jika dunia anak2 adalah dunia bermain dan bukan belajar melulu. Smoga sukses selalu dan komentar2 anda dapat menjadi masukan buat sekolah2 di Indonesia.

    ReplyDelete
  2. pandangan yg baik. tapi jangan begitu saja membandingkan dgn negara maju. kakak saya guru, kenyataannya jadi guru itu pahit. jaman susah begini, bisa sekolah saja sudah syukur. banyak yg harus dibenahi. mungkin berpuluh2 tahun ke depan situasinya baru mendekati di luar negeri.

    ReplyDelete
  3. Sudah saatnya pemerintah harus campur tangan dlm urusan pendidikan yg lagi bermunculan dg kurikulum masing2, sejujurnya di negara kt belum ada org idealis semacam Pak Gene ini, dan memang orang2 idealis ini harus independent tanpa ada kepentingan bisnis mana pun. Seharusnya pemerintah mau bekerja sama dg org2 spt ini, bukan hanya dg para pelaku bisnis semata...

    Masalah pendidikan bkn masalah teknologi canggih jd kalau mau membandingkan dg luar negri bisa aja... yg dibutuhkan hanya peraturan yg jelas & ketertiban dari berbagai pihak, serta tindakan yg kongkrit thd pelanggar spt misalnya berani mencabut ijin atau TIDAK memberikan ijin... lha wong nyamain kurikulum PG/TK aja belum bisa... itu kan bukan suatu teknologi, hanya peraturan dan konsistensi dari berbagai pihak aja ...lain kalo soal kesejahteraan guru, kalo itu masih susah, standard hidup aja dah beda...complicated ya...

    Tapi at least para ortu bisa semakin kritis dg adanya tulisan pak Gene ini... daripada kita nggak tau sama sekali kan...

    ReplyDelete
  4. Pak Gene
    Berdasarkan pengalaman anda , kalo kita menginginkan anak kita untuk memahami atau menguasai bahasa Inggris sejak kecil dan mempertimbangkan sedikit sekali sekolah billigual yang baik dan affordable apa yang harus dilakukan?

    ReplyDelete
  5. Bisa diajar di rumah. Justru yang saya ingin jelaskan dalam artikel ttg sekolah bilingual adalah mengajar anak pada umur playgroup dan TK tidak sesuatu yang wajib untuk membentuk kelancaran. Justru ada riset yang membuktikan dampak negatifnya. Anak bisa dibiasakan dengan sedikit bahasa Inggris di rumah oleh orang tuanya, walaupun tidak lancar. Dan tentu saja itu lebih menyenangkan karena tidak ada tekanan untuk cepat menguasaikannya untuk memahami pelajaran. Dipakai untuk FUN saja.

    ReplyDelete
  6. Pak Gene
    Melanjutkan jawaban Pak Gene diatas, kalau bahasa inggris bisa diajarkan di rumah saja, lalu pada masa SD atau SMP akan dimasukkan kelas bilingual, apakah masih memungkinkan? mengingat anak ini kan belum terbiasa dg kelas bilingual, apakah perlu diajarkan kursus bahasa sebelum memasuki kelas bilingual? Bagaimana kira-kira kemampuan anak ini di kelas bilingual..

    Terima kasih mudah2an Pak Gene masih berkenan menjawab karena kebetulan hal ini terjadi pada keponakan saya.

    ReplyDelete
  7. Bilingual School, Says who?

    Well, It has been amusing for me to come to term with the percentage English and mother tongue used in Immersion approach (esp schools in Indonesia). As far as I know concerning Immersion approach , it was initially introduced in Second Language Acquisition theory (SLA) along the development of Communicative approach (CA).

    Communicative Approach to Immersion.

    In CA, language teaching must be meaningful to the learners. There are two things that support the learning become meaningful: Contextual learning and Ss needs based. As the result, Language teaching is wrapped in the thematic and needs analysis that near the students life. (eg My house, My school, etc). On its development a question aroused: Have we been teaching what the students really need?How about teaching the school subjects with the target language? They do really need to know the knowledge, anyway…A-HA that sounds right!!! It is immersion then.....

    Immersion is an approach which uses a second language as the medium of instruction at school (Swain 1998) In other words, all subjects at school are taught using English. By doing this, students are given input flood that is one of Krashen’ second language hyphothesis. In input hyphothesis giving a massive input of target language will trigger acquisition. Consequently, mother tongue might not be used since it is believed can give negative interference in student’s brain.That' s why in immersion approach L2 must be used near 100%.In Indonesia trend of bilingual school means school that mix 2 languages (TL &L2)as the medium of interaction. What I understand so far of a bilingual school is a school that provides 2 class types:Class that uses full in English as the medium of interaction in all subjects and Class that uses full mother tongue as the medium of interaction in all subjects.Students have to take part in placement test to decide their desire and ability between the two classes. School should create a balance respect to anticipate superiority between the two groups.


    The Metaphor of a child who was suffering in listening to Chinese news shouldn’t be happened in the immersion class. Since the process communication should be based on 3 basic conditions which are:

    Meaningful (in terms of the context and ss’ needs), Negotiation of meaning (Information gap),
    Interaction (two ways of communication).

    Based on the story, it can be infered that the child has no meaningful communication, no negotiation of meaning and no two ways of interaction, no wonder if it is happened in the class the teacher must have suffering students psychologically.

    A CASE in transferring students.

    The case about the parents who move their children to a bilingual school. I agree that the parents is the one who should initially anticipating of their children prospective problems in such school by asking the school the supporting English program and the child ability as well. I’ve been experiencing two years of having these kinds of students (classes). And yes, supporting English program for these ss is a must. Frankly speaking it was a huge effort (for the students and the teacher as well). I definitely agree that parents must think twice, otherwise, child psychologically suffered.......


    The bilingual school has become a pop trend nowadays. However, there is no institution that responsible in giving accreditation of their accountability. The national education dept. can abridge this problem. There is no exact measurement to judge immersion education effectiveness (if things can not be measured, it can't be managed).

    Comments by lizaz_jak@yahoo.com

    ReplyDelete
  8. Kalau seorang anak hanya belajar bahasa Inggris di rumah saja lalu dimasukkan sekolah bilingual pada SMP-SMA, maka saya cukup yakin anak ini akan mengalami masalah. Dia akan membutuhkan bahasa akademis dan bukan bahasa pergaulan. Dari belajar di rumah saja, sangat mungkin dia akan sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang bilingual. Kalau dia mengikuti kursus, pasti akan membantu. Tetapi masalahnya adalah jumlah kosa kata dan tatabahasa yang cukup rumit yang dia butuhkan supaya menjadi sanggup mengikuti pelajaran di sekolah.

    ReplyDelete
  9. Hi Gene! Saya baru menemukan blog Anda, dan amat sangat terkesan dengan bahasan2 Anda, terutama mgn program bilingual di sekolah.

    Anak2 saya yang lahir dari ortu lain bangsa adalah quadralingual, dan mereka bersekolah di sekolah bilingual di Jerman. Sejak 4 tahun lalu saya riset mgn multilingualism, dan baru saja saya mulai membaca mgn bilingual education, dan mulai bertanya2 bagaimana Ind akan bisa menerapkan program bilingual pada sekolah2, krn dari yang saya baca, diperlukan riset mendalam oleh para ahli bahasa setempat untuk mengetahui pendekatan apa yang paling cocok untuk menerapkan program bilingual. Terima kasih banyak, membaca artikel serial Anda memberikan input bagi saya.

    Salam,
    Santi D

    ReplyDelete