Sunday, October 05, 2008

Orang Miskin Mau Ketemu Wapres? Beli Baju Dulu!


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Seorang pejabat negara menolak ketemu dengan warga karena pakaiannya kurang lengkap? Apakah itu wajar di negara berkembang seperti Indonesia? Menurut berita ini, sebagian warga yang datang ke rumah Wapres Jusuf Kalla di Makassar ditolak masuk oleh Paspampres dengan alasan pakaiannya tidak lengkap.

Banyak orang miskin datang karena ada tawaran Rp 50.000 untuk setiap pengunjung (untung tidak terjadi desak-desakan seperti di Pasuruan). Tetapi karena sebagian dari mereka tidak berpakaian lengkap, ditolak izin masuknya oleh Paspampres.
Dengan kata lain, orang miskin yang ingin bertemu dengan Wapres untuk mendapatkan Rp 50.000 diharapkan menjadi orang kaya terlebih dahulu dan beli pakaian yang “layak”.

Sungguh disayangkan ada sikap seperti ini.

Kalau mau tetapkan aturan pakaian di Istana Negara atau di gedung DPR, saya bisa maklum, karena barangkali presetasi negara yang dipikirkan. Tetapi kalau di kediaman pribadi, dia luar kota, apa masalahnya? Kalau Wapres berkunjung ke Papua, apakah warga sana yang memakai pakaian tradisional diwajibkan memakai pakaian yang “layak” sebelum boleh bertemu dengan Wapres?

Seharusnya semua pejabat negara bisa maklumi situasi dan kondisi masyarakat dan menerima keadaan mereka. Kalau orang miskin harus beli baju yang layak sebelum boleh masuk sebuah rumah pribadi, maka kesan yang saya dapat adalah pejabat tersebut tidak dekat dengan rakyat dan ingin ditinggikan derajatnya di atas mereka. Sebagai seorang pejabat negara, yang mendapatkan gaji untuk melayani bangsa, dia malah tidak berfungsi sebagai “pelayan untuk rakyat” dan hanya ingin bertemu dengan orang yang bajunya cukup mewah.

Kalau niatnya Wapres adalah untuk bersilahtulrahmi dengan warga, kenapa harus membagikan uang pada saat dan lokasi yang sama? Kalau niatnya membagi sedekah kepada orang miskin, kenapa harus gunakan syarat-syarat pakaian untuk masuk ke rumah Wapres?

Menurut saya, lebih baik kedua hal tersebut dipisahkan. Buat yang ingin masuk rumah untuk bertemu dengan Wapres, ada waktunya, dan tidak ada syarat soal baju apa yang dipakai. Buat yang ingin mencari sedekah yang ingin dibagikan, masyarakat dari kalangan bawah bisa dipersilahkan kumpul di suatu tempat yang diatur oleh aparat dan di situ bisa terima pembagian sedekah, tanpa ada syarat-syarat pakaian juga.

Kenapa kedua hal tersebut harus dilakukan pada saat yang sama di lokasi yang sama? Apakah silaturahmi yang diutamakan? Atau pembagian sedekah? Atau sekedar cari muka dengan pamer sebagai dermawan di depan masyarakat?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

#####
"Kita sudah capek-capek datang ke sini tapi tidak dapat apa-apa," ujar Daeng Sani sambil mengipasi tubuhnya yang kepanasan di depan rumah JK, Jl Haji Bau, Makassar, Minggu (5/10/2008). Hal sama juga diungkapkan Rahma. Ibu muda yang menggendong anaknya ini marah karena gagal mendapatkan angpao Rp 50 ribu dari JK.

"Saya sudah antre dari pagi tapi tidak bisa masuk. Pas mau masuk sudah tutup. Bagaimana ini," ujarnya kesal. Pantauan detikcom, mayoritas yang gagal masuk ke rumah JK adalah kaum menengah ke bawah. Umumnya mereka terkendala soal protokoler pakaian. Meski sudah diumumkan tutup, warga tetap saja bergerombol di depan rumah JK. Mereka berharap tetap mendapatkan angpao yang sudah diterima oleh rekan-rekannya.

Warga Makassar Kecewa Open House JK Ditutup Lebih Cepat
Minggu, 05/10/2008 13:20 WIB
Gunawan Mashar - detikNews

2 comments:

  1. Mr. Gene..coba tulisan anda di baca JK ya:)

    ReplyDelete
  2. Saya kira dia tidak akan peduli. Kalau dia peduli, dia bisa mengubah kondisi di rumahnya suapaya siapa saja boleh masuk.

    ReplyDelete