Monday, March 10, 2008

Kompor Lab Meledak, Siswa Terbakar

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Kualitas guru memang sangat prihatin di sini, tetapi ini tidak saja berkaitan dengan kualitas guru, tetapi kualitas pikiran orang dewasa. Terlalu sering kita melihat orang dewasa melakukan tindakan yang tidak logis, tidak aman, tidak manusiawi, tidak bermoral, dll. Kepedulian terhadap orang lain sangat minim. (Sebagai contoh, orang siap jual makanan yang terkontaminasi dengan borax, formalin, dll.) Daripada hati-hati terhadap orang lain dengan sikap “tidak mau ambil risiko”, atau “tidak mau merugikan orang lain”, terlalu banyak orang langsung terjun saja dengan sikap “Ahh, nggak apa-apa. Nggak usah banyak pikir dong!”

Kalau hanya mengyangkut diri sendiri, bisa menjadi malapetaka untuk keluarga ketika orang itu mengalami kecelakaan dan harus dirawat oleh keluarga, dan tentu saja itu makan banyak waktu dan biaya. Tetapi yang lebih parah lagi adalah ketika sikap “cuek” itu ditujukan kepada anak dari orang lain.

Dalam kasus ini, gurunya sangat luar biasa. Katanya: "Sebelumnya, tidak menjadi masalah." Ternyata itu alasan yang dia anggap sah untuk main dengan api dan spiritus di dalam sekolah. Kalau murid tidak nurut dengan guru untuk pakai jaket lab kenapa kelas dilajutkan oleh sang guru? (Apa manfaatnya jaket itu? Emang tahan api?)

Cukup membuat peraturan yang jelas: semua murid pakai jaket dulu, baru kelas dimulai. Apa susahnya? Gurunya merasa cukup mengatakan "Saya sudah suruh" dan dengan sedemikian gampang, dia lepaskan tanggungjawab. (SBY juga bisa begitu: “Saya sudah menyuruh semua pejabat ‘Jangan korupsi’ maka saya tidak bertanggung-jawab lagi kalau mereka tidak nurut.”)

Terus, kenapa polisi tidak turun tangan? Bukannya ini kasus kelalaian guru terhadap siswa? Dan, kenapa bapak dari anak tersebut bisa maafkan sekolah dengan begitu mudah dan cepat? Apakah karena dibayar supaya tidak menuntut di pengadilan? Wallahu a’lam.

Kok sekolah hanya sebatas membiayai perawatan di rumah sakit dan tidak lebih? Apakah nanti di masa depan ada orang yang mau memberikan pekerjaan kepada si korban yang punya luka bakar di muka? Kalau ternyata dia kesulitan dapat pekerjaan nanti, siapa yang mau bertanggung-jawab? Ternyata sekolah sudah lepaskan tanggung-jawab dari sekarang (secepat mungkin, dengan biaya hanya beberapa juta saja). Juga tidak ada penjelasan tentang sangsi bagi sang guru. Atau mungkin tidak perlu karena anak itu bersalah. Kalau orang dewasa yang menjaga anak tidak ambil tindakan untuk menjaga anak, maka apakah sang anak yang salah bila kena musibah?

(Bayangkan kalau babysitter anda juga begitu: “Saya sudah suruh abang untuk tidak main petasan. Jadi dia salah sendiri kalau minta saya beli petasan di warung depan rumah, lalu saya belikan, dan dia nyalakan, dan kemudian kena luka bakar. Emang saya yang bertanggung-jawab? Saya sudah suruh jangan!”)

Berapa banyak kasus seperti kompor meledak ini yang tidak sampai masuk berita nasional?

Kapan anak bangsa ini akan mulai dilindungi oleh pemerintah?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

***********

Kompor Lab Meledak, Siswa SMAN 3 Karawang Terbakar

Rabu, 05 Maret 2008

KARAWANG -- Seorang siswa SMAN 3 Karawang, Asep Saipul Anwar (17), mengalami luka bakar cukup serius di wajah, leher, dan tangannya. Asep terbakar, karena kompor spirtus milik sekolahnya meledak, saat digunakan dalam praktik laboratorium biologi, sepekan yang lalu. Saat ini, Asep yang merupakan warga Kampung Baros, RT16/08 Desa Tanjungjaya, Kec Tempuran, masih mendapatkan perawatan intensif di ruang Marwah, Rumah Sakit Islam Karawang (RSIK).

Ketikan ditemui Republika, Asep menuturkan, kejadian bermula saat dirinya melakukan praktik biologi bersama gurunya Sunaryo. Saat itu, Asep diminta memegang corong minyak kompor. Sedangkan gurunya yang menuangkan spirtus ke dalam kompor itu. Karena api kompor dalam keadaan menyala, kata Asep, tiba-tiba spirtus yang dituang tersebut menyemburkan api dan langsung menyambarnya.

''Api yang menyambar badan dan wajah saya begitu besar. Dan dalam waktu yang cepat, sekujur tubuh saya sudah terbakar,'' ujarnya. Saat terbakar, lanjut Asep, guru praktiknya tersebut langsung menolongnya, dengan menyobek seragam yang dipakainya. Setelah itu, bersama para guru lainnya, dia langsung di bawa ke IGD RSIK. Setelah dirawat, luka bakar yang dideritanya ternyata parah, dan membakar 20 persen bagian wajah sebelah kiri, leher dan tangan kanannya.

Asep mengaku, menurut prosedur tetap (protap) dalam melakukan penelitian, khususnya dalam melakukan pengisian bahan bakar kepada kompor spirtus, api seharusnya tidak menyala. Namun, saat itu, api di kompor masih menyala, dan gurunya tetap menuangkan spirtus kedalam kompor tersebut. Sehingga, dengan mudahnya, api yang menyala tersebut ketika tersiram spirtus langsung menyambar dirinya.

Ayah Asep, Ana Suryana (38), mengaku, pihaknya sudah memaafkan pihak sekolah. Sebab, apa yang terjadi ini dianggapnya sebagai kecelakaan. Selain itu, seluruh biaya perawatan anaknya tersebut sudah ditanggung pihak sekolah. Namun, dirinya sangat menyayangkan kejadian tersebut. Dia menilai, kejadian nahas yang menimpa anaknya itu merupakan kelalaian guru di sekolah.

''Kami tidak akan permasalahkan kejadian ini. Hanya saja kedepannya pihak sekolah harus lebih hati-hati lagi, dalam melaksanakan praktek,'' katanya. Sementara itu, saat dimintai konfirmasi, Sunaryo bersama Sekretaris Komite Sekolah SMAN 3 Karawang, Iwan Kartiwan, membenarkan seluruh biaya korban ditanggung pihak sekolah. Namun, Sunaryo mengaku, sebetulnya dia sudah memberikan arahan bagi 41 siswa yang ada di laboratorium tersebut. Namun, dia menyayangkan, masih banyak siswa yang tidak mengikuti arahannya.

''Seperti contoh, korban dan siswa lainnya pada saat itu tidak menggunakan jas laboratorium. Padahal saya sudah memerintahkannya,'' ujarnya menandaskan. Terkait protap saat mengisi kompor spirtus, Sunaryo mengaku, sebetulnya pada saat mengisi kompor tersebut, api harus dalam keadaan mati. Namun, karena kebiasaannya tidak mematikan api dan tidak pernah terjadi apapun. Sehingga, pada sebelum kejadian pun, api dalam kompor itu tetap dinyalakan.

Namun, dia tidak menyangka, pada saat kejadian, kompor tersebut meledak dan menyemburkan api, sehingga memakan korban siswanya. Ditegaskan dia, seharusnya dia juga ikut terbakar. Alasannya, yang dekat dengan kompor itu dia dan Asep. ''Saya sudah minta maaf kepada keluarga korban dan sekolah sudah tanggung semua biaya,'' katanya. win

Sumber: Republika Online

1 comment:

  1. negara ini memang mengalami kompleksitas yg rumit sejak awal berdirinya. dan bisa dibilang semua berawal dari 'budaya' yang sudah kadung mengakar kuat di masyarakat-budaya mengentengkan masalah..tinggal sekarang kapan manusia2 Indonesia semuanya ini mau berubah sikap 'dari tidak peduli menjadi peduli'. tdk hanya dari pihak Pemerintah tapi terutama juga masyarakat itu sendiri.

    minimal kan hal itu bisa di mulai dari 'menjaga kebersihan' lingkungan. seringkali saya liat di kendaraan2 umum yg saya tumpangi orang cenderung masa bodoh membuang bungkus permen disembarang tempat. saya sering mengalami dilema ketika harus menasehati keponakan saya supaya tdk meninggalkan bungkus permen di ruang publik dan menyuruhnya berusaha mengumpulkan sampah2 itu disebuah kantong/saku terdahulu sebelum ketemu tempat sampah, sementara dia melihat org2 disekitarnya membuang sampah dengan entengnya, tanpa merasa punya beban sedikitpun. kalo hal yg sekecil ini saja org sdh cuek apalagi utk hal2 yg lebih besar, seperti memperhatikan bahaya kompor lab meledak???

    to iems adikku chayank, sudah bisa kirim e-mail sekarang???welcome to the jungle...bersama tarzan!!!tarzan tercantik di dunia binatang...hahaha...

    ReplyDelete