Tuesday, March 03, 2009

CIA Hancurkan 92 Rekaman Tersangka Teroris

By Republika Newsroom
Selasa, 03 Maret 2009 pukul 07:40:00

Badan Pusat Intelijen Amerika (CIA) menghancurkan 92 rekaman video wawancara yang dilakukan terhadap para tersangka teroris, demikian pengakuan seorang pengacara bagi pemerintah Amerika.

Badan itu sebelumnya mengatakan bahwa mereka hanya menghancurkan dua rekaman video.

Organisasi hak-hak sipil Amerika ACLU melancarkan gugatan hukum terhadap CIA untuk mendapatkan rincian interogasi terhadap para tersangka teroris.

Teknik-teknik yang digunakan dikatakan termasuk water-boarding, simulasi dimana seorang tersangka merasa seakan-akan tenggelam, yang oleh pemerintahan Obama dikatakan sebagai penyiksaan.

Pengakuan bahwa 92 rekaman interogasi telah dihancurkan dinyatakan secara tertulis dalam sepucuk surat kepada hakim yang memimpin sidang gugatan ACLU.

"CIA sekarang sudah dapat mengumumkan jumlah rekaman video yang dihancurkan," demikian menurut sepucuk surat yang dikirim oleh pejabat sementara Pengacara Amerika Lev Dassin, yang didapat oleh BBC. "Sembilan puluh dua rekaman video dihancurkan."

Rahasia?

Surat yang bertanggal 2 Maret itu mengatakan CIA sedang mengumpulkan lebih banyak rincian bagi gugatan hukum itu, seperti daftar catatan yang dihancrukan, segala catatan yang berisi gambaran mengenai video-video itu, dan identitas orang-orang yang mungkin telah menonton atau memiliki copy video itu sebelum dihancurkan.

Para pengacara pemerintah Amerika mengatakan, sebagian informasi itu adalah rahasia.

"CIA berniat menyediakan semua informasi yang diminta oleh pengadilan dan menyediakan sebanyak mungkin informasi bagi catatan publik kepada pihak penggugat," demikian dikatakan dalam surat itu.

Tahun 2005 seorang hakim memerintahkan agar semua bukti mengenai perlakukan terhadap para tahanan di Teluk Guantanamo disimpan.

Bulan Desember 2007, CIA membeberkan bahwa dua rekaman video wawancara sudah dihancurkan lima bulan setelah putusan itu.

Tetapi badan itu mengatakan, putusan pengadilan itu tidak berpengaruh terhadap rekaman-rekaman video yang sudah dihancurkan, karena keduanya memenyimpan informasi insiden yang terjadi sebelum para tersangka dipindahkan ke Guantanamo.

Kepala CIA saat itu mengatakan berbagai rekaman tersebut dibuat tahun 2002 untuk keperluan internal, dan dihapus karena rekaman-rekaman itu tidak lagi memiliki nilai intelijen dan dapat menyebabkan para agen CIA teridentifikasi.

Bulan Januari 2008 Departemen Kehakiman melakukan penyelidikan untuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan mengenai rekaman-rekaman itu.

Video-video itu menjadi isu yang hangat selama sidang pengadilan salah satu pelaku serangan Sebelas September Zacarias Moussaoui, yang dijatuhi hukuman penjara atas perannya dalam serangan itu.

Tim jaksa penuntut awalnya mengklaim bahwa tidak ada rekaman video interogasinya, tetapi kemudian mengakui bahwa rekaman video dan audio wawancara dengan Moussaoui ada.bbc/kpo

Sumber: Republika.co.id

1 comment:

  1. Assalamu'alaikum wr wb

    Kalau mau baca bukunya James Yee, seorang tentara muslim Amerika yang ditugaskan di Guantanamo, yang berjudul For God and Country, disitu banyak diungkap cara-cara keji para agen CIA dalam menggali informasi dari para tahanan yang mereka sebut sebagai teroris, dari rekayasa tuduhan yang tidak masuk akal sampai tuduhan yang murahan, semua menggunakan penyiksaan baik mental maupun phisik.

    James Yee sendiri adalah seorang ustadz, tentara muslim Amerika keturunan yang ditugaskan ke Guantanamo, tapi kerena takut kekejian penyiksaan di Guantanamo terungkap maka dibuatlah rekayasa skandal untuk memenjarakannya juga disana, kalau mau lebih lengkap ceritanya coba saja baca buku mantan tahanan dari Guantanamo ini.

    Tentu saja mereka akan menolak tuduhan dan berusaha keras untuk menghilangkan barang bukti atas perbuatan keji CIA, karena selama ini mereka yang paling berteriak keras atas nama hak asasi manusia, tapi mereka juga yang paling gigih melanggar demi kepentingan mereka.

    Kalau masalah serangan sebelas september, bahkan ada yang dijadikan tersangka oleh Amerika yang pelakunya sudah meninggal dua tahun sebelum serangan itu terjadi, hehe rekayasa yang anehhh.

    ReplyDelete