Sunday, March 08, 2009

Maulid Nabi Yang Kurang Tepat (Atau Mubazir)

[re-post dari tahun kemarin. Mungkin masih bermanfaat.]

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Saya ingin bertanya, yang mana yang lebih utama:

1. Maulid Nabi diadakan di setiap masjid di seluruh Indonesia?

2. Memberikan makanan kepada anak yatim dan fakir miskin yang hampir mati kelaparan?

Di setiap propinsi, di setiap kota, di setiap kabupaten, di setiap kecamatan, di setiap RT dan RW, sedang diadakan Maulid Nabi. Seperti orang muslim yang lain, saya juga sayang sama Nabi SAW dan Insya Allah rasa kasih sayang saya kepada Nabi SAW tidak kalah dengan yang lain (sehingga saya juga senang kalau kita ingat pada Nabi SAW dengan suatu cara.)

Tetapi saya mulai berfikir. Bayangkan kalau Nabi SAW ada di sini bersama dengan kita pada saat ini. Bayangkan kalau dia bisa melihat kita memuliakan dia dengan mengadakan Maulid Nabi di setiap masjid dan musholla, bahkan sampai masuk ke rumah orang.

Pada suatu sisi, Insya Allah dia akan senang sekali bahwa ada sebagian dari ummatnya yang begitu sayang kepadanya walaupun tidak pernah melihat wajahnya ataupun mendengarkan suaranya.

Pada sisi lain, bagiamana kalau dia membaca koran dan tahu bahwa pada saat kita memuliakan dia dengan Maulid di mana-mana, ada sebagian lain dari ummatnya, yang juga sayang kepadanya, yang tidak bisa ikut merayakan Maulid. Alasannya adalah karena mereka terlalu sakit atau lemas untuk keluar dari rumah. Kenapa? Karena mereka tidak bisa makan setiap hari, dan hidup dalam keadaan lemas, rawan penyakit, dan tidak kuat untuk bertahan hidup di dunia (yang kejam) ini.

Mereka juga Muslim. Mereka juga saudara kita dan saudara Nabi Muhammad SAW. Mereka juga hamba Allah, dan Insya Allah mereka juga sayangi Nabi SAW seperti kita. Sayangnya, kita lebih mempedulikan “pesta-pesta” kita daripada mempedulikan mereka.

Kita sangat sayang pada rasa nikmat yang kita dapatkan ketika kita menghabiskan jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah untuk mengadakan sebuh “pesta ulang tahun” untuk Nabi kita. Tetapi kita sangat tidak peduli pada “rasa nikmat” yang akan kita dapatkan pada saat kita menghabiskan jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah untuk memberikan makanan kepada anak yatim dan fakir miskin.

Kalau seandainya Rasulullah SAW ada di sini bersama dengan kita, apakah dia akan merasa bahagia pada saat dia melihat “pesta” yang kita buat untuk dirinya? Atau apakah dia akan menangis ketika dia keluar dari masjid dan melihat anak yatim yang tidak berdosa yang sudah mati kelaparan di tengah-tengah masyarakat kita. (Apalagi kalau anak yatim atau anak miskin itu membunuh diri karena tidak tahan terhadap rasa lapar yang telah mengganggu diriya setiap hari selama bertahun-tahun.)

Mana yang lebih utama? Pesta ulang tahun untuk Nabi SAW di setiap masjid di seluruh Indonesia? Atau kumpulkan uang “Maulid” dan menggunakannya untuk santuni anak yatim dan fakir miskin ATAS NAMA NABI?

Sampai saat ini saya belum lihat dan belum pernah hadiri sebuah acara Maulid Nabi yang sekaligus memberikan LEBIH BANYAK UANG kepada anak yatim di saat yang sama. (Maksud saya, bila anggaran untuk Maulid adalah 50 juta, kenapa tidak memberikan lebih dari 50 juta kepada anak yatim pada saat yang sama?)

Pengeluaran untuk Maulid bisa cukup besar, karena ada macam-macam tambahan biaya, seperti undangan, spanduk, tenda, sound system sewaan, konsumsi, konsumsi untuk panita saat rapat, dan tentu saja bayaran untuk pembicara (yang bisa mencapai puluhan juta rupiah bila sekaligus mengundang beberapa “ustadz terkenal”).

Apakah Nabi SAW akan senyum atau menangis ketika dia menyaksikan kita dan “pesta ulang tahun” yang kita buat untuk dirinya?

Mohon jangan salah paham! Saya bukan orang anti-Maulid. Saya bukan orang “garis keras” yang menolak maulid. Saya sebatas merasa sedih karena di dalam satu negara, kita bisa menghabiskan banyak sekali uang (ratusan milyar di seluruh nusantara?) untuk merayakan hari kelahiran Nabi SAW, sedangkan ada manfaat yang lebih utama dari uang itu. Bukannya dengan menyantuni anak yatim kita juga “ingat kepada Nabi SAW”? Bukannya dengan memberikan makanan kepada orang miskin kita juga “ingat kepada Nabi SAW”? Kenapa kita utamakan suatu bentuk perayaan dengan niat “ingat kepada Nabi SAW” pada saat banyak sekali orang (yang juga sayangi Nabi SAW) menderita dan tidak bisa makan? Bukannya mereka lebih utama dari “pesta” kita?

Kalau suatu saat negara ini makmur, dan tidak ada lagi anak yatim yang mati kelaparan, bunuh diri karena sering kelaparan sehingga putus asa, putus sekolah dan terpaksa kerja, kena penyakit terus-terusan karena tidak ada biaya pengobatan, maka saya siap menghadiri acara Maulid dengan senang hati dan rasa tenang, karena saya akan merasa puas bahwa usaha kita untuk menyantuni anak yatim ATAS NAMA NABI telah berhasil.

Menurut saya, alangkah baiknya bila kita sebagi ummat Muhammad SAW belajar untuk utamakan yang utama. Kita bisa kumpulkan uang “Maulid”, lalu kita kirim kepada anak yatim dan orang miskin yang membutuhkannya, ATAS NAMA NABI. Dan dalam setiap kecamatan atau kabupaten, hanya 1 masjid besar yang perlu mengadakan acara Maulid (atas kesepakatan semua). Bila masjid lain ingin mengadakan, boleh, tetapi dengan sesederhana mungkin, tanpa mengeluarkan biaya sama sekali. Cukup kita datang dan mendengarkan kisah-kisah tentang Nabi SAW dan baca sholawat baginya. Habis itu, kita bisa pulang tanpa harus diberikan apa-apa oleh pihak masjid.

Kasihan anak yatim yang lapar, ketika mereka menyaksikan ribuan orang berkumpul di masjid dan habiskan puluhan sampai ratusan juta rupiah untuk memuliakan satu anak yatim yang sudah wafat 1.400 tahun yang lalu. Anak yatim itu bernama Muhammad SAW dan dia sendiri menyuruh kita melindungi anak yatim di sekitar dia. Dia tidak hanya menyuruh, dia mencontohkan sendiri.

Kenapa kita mau ingat kepada satu anak yatim bernama Muhammad SAW, tetapi lupa contohnya untuk melindungi anak yatim yang lain?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

6 comments:

  1. Aww.

    Pada prinsipnya hal yang berlebihan memang tidak diperbolehkan oleh agama (apapun saya kira).

    Merayakan sesuatu apalagi hal yang berkaitan dengan hal yang kita sayangi saya rasa masih diperbolehkan, sedikit dianjurkan malah. Seperti contohnya saat Rasulullah SAW. mengadakan acara walimah pernikahan untuk putri Beliau Fathimah Binti Mohammad SAW.

    Terkait dengan perayaan Maulid Nabi, kita sebaiknya melihatnya sebagai penghormatan & rasa kasih sayang kita pada Nabi Besar Mohammad SAW.(karena jelas & pasti Beliau memiliki rasa sayang pada kita) tanpa harus melakukannya secara berlebihan.

    Www.

    ReplyDelete
  2. assalamu alaikum wr wb,
    saya sependapat dengan Anda bung Gene
    semoga ada yang bersedia mewujudkan harapan Anda.
    Wassalammu alaikum wr wb,

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum

    Subhanalloh, two thumbs up untuk artikel ini.

    Gene, aku ikut kasih comment atas artikel ini ya..

    1. Kalau kita mencintai Rosululloh Sholallohualaihiwasalam maka buktinya adalah kita mengikuti amalan-amalan yang dicontohkan beliau, seperti: puasa senin kamis, mengasihi anak yatim dan orang miskin dll.

    2. Bahwa orang-orang nasrani memeperingati hari kelahiran nabi Isa sebagai trinitas. Dan seperti kita ketahui bahwa agama nasrani datang lebih dulu sebelum Islam, jadi kita harus menyelisihi kebiasaan mereka agar kita tidak termasuk dalam kelompok mereka.

    3. Para Sahabat Rosululloh Sholallohualaihiwasalam yang telah dijamin masuk surga tidak pernah mengadakan acara maulid Nabi, cinta mereka kepada Nabi tidak diragukan lagi, kalau seandainya maulid nabi itu suatu amalan yang baik tentu mereka sudah melakukan terlebih dahulu. Alhamdulillah saat ini sudah banyak yang faham dan mulai meninggalkan kebiasaan ini.

    4. Seandainya pemikiran Gene benar-benar terlaksana Insya Allah kesejahteraan anak yatim dan orang-orang miskin akan terjamin, semoga Allah Subhanahuwataala segera membuka hati kaum muslimin di Indonesia khususnya.

    4. Seandainya dana kampanye dan dana iklan partai politik disalurkan untuk anak-anak yatim dan orang miskin Insya Allah tidak banyak orang yang bunuh diri karena susah untuk makan.

    5. semoga Allah yang maha perkasa menjadika kita orang yang lembut hati, agar kita lebih peduli kepada sesama dan selalu beramal semata mata untuk Allah Subhanuahuwataala. Amin

    Maaf bila ada yang salah karena pemahaman agama saya yang masih sedikit.

    ReplyDelete
  4. Asslmkm....

    sebenrnya saya ga mau bersinggungan antara islam dan kulturisasi disini, Tradisi mauludan di indonesia banyak disimbolisasikan dengan acara grebeg (rebutan gunungan makanan) biasanya banyak didaerah jawa dan sekitarnya, supaya dapat berkah selamat dan sebagainya, sayangnya kemarin saya lihat berita, acara2 seperti itu malah berujung rusuh, terjadi dibeberapa daerah..., perebutan makanan bahkan sampai ada yang jatuh pingsan. lalu teriakan histeris dan sumpah serapah yg terucap.
    'lalu saya mempertanyakan makna tradisi tersebut, esensinya apa??

    Saya jelas lebih setuju, acara maulidan ga menjadi simbolisasi saja perayaan mengenang nabi, ada tindakan nyata. Misal bakti sosial dimasyarakat, menyantuni kaum fakir miskin, yatim, meneladani yang benar2 nyata dalam kehidupan.

    saya juga ga bisa menutup mata, tradisi maulidan di daerah rumah saya pun tetap ada, walau cuma saling berhantar makanan, setiap rumah pagi2 menghantar bungkusan makanan ke masjid, lalu ngeriung (ini bahasa sunda, indonesianya apa ya?? )biasanya di masjid, sambil baca2 doa, ceramah. maknanya sih bersyukur untuk ajaran islam yang dibawa nabi muhammad SAW, moment mengingatnya dan meneladaninya, dan ga berlebihan.

    tradisi itu sudah mengakar kuat dalam masyarakat islam di sini, merubahnya ga semudahmembalikkan telapak tangan, tapi selalu ada celah untuk menyelipkan dakwah2 agar kembali ke 'jalan' yang sebenarnya meneladani sang Nabi, bukan hanya tentang pestapora, rebutan makanan sana-sini.
    Selalu ada jalan untuk membuat sebuah perubahan, agar perayaan maulid ga hanya simbolisasi mengenang Nabi, tapi merealisasikan cinta kita pada sang Nabi dalam wujud nyata mengikuti suri tauladannya.

    Salaam

    ReplyDelete
  5. sedikit tambahan:

    tradisi maulid memang tidak lahir dari para sahabat2 rosullulloh SAW yg sudah dijamin dengan syurgaNYa mba nit...,
    tradisi ini, menurut sejarah dihidupkan oleh seorang panglima Islam yang termasyur..(he is my idol:)
    Shalahudin al ayyubi:
    beliaulah yang meneladankan satu konsep dan budaya yaitu perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun.

    Maaf kalo infonya ada yg kurang....

    ReplyDelete
  6. Assalamu'alaikum.

    Hi Rahma, bener adanya kalo merayakan kelahiran Rasulullah SAW lebih utama dengan meneladani kehidupan beliau dalam setiap aspek kehidupan kita. Tentunya lebih sulit tapi pasti itu yang lebih beliau harapakan dari kita.

    Seorang teman bercerita, minggu lalu saat pulang kantor dan melewati jalan tikus untuk menghindari macet tiba2 di ujung jalan ditutup, jadi kendaraan pada muter balik semua. Tanpa ada pemberitahuan dari jalan di depan.

    Ternyata ada perayaan maulid Rasul. Temenku turun dan serta merta dengan kalemnya (hehehe) berbicara kepada panitianya. Awalnya dia beritahu bahwa maulid Rasul itu sebaiknya dan lebih utama dengan meneladani kehidupan Rasulullah bukannya perayaan simbolis hanya pada tgl 12 Ra'biul Awal saja. Trus dia nambahin pula, bahkan Rasul itu menyuruh kita untuk memindahkan "duri" di tengah jalan supaya tidak menyusahkan dan menyakiti orang lewat tetapi ini malahan menyusahkan orang-orang. Apakah kebayang kalo yang lewat itu non muslim dan mengumpat perayaan maulidan tersebut ? Apakah yakin, Rasul akan bangga dan sayang dengan ummatnya yang merayakan kelahirannya dengan cara menyusahkan orang lain seperti itu ???

    Insya Allah, semoga kita bisa membuktikan cinta kita kepada Rasulullah SAW dan meneladani beliau dengan cara yang cerdas. Amin.

    Wassalamu'alaikum.
    irma

    ReplyDelete