Friday, October 28, 2011

Tiket Pesawat atau Sepatu Bola?

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kemarin ada teman yang berniat membantu saya, takutnya saya harus segera ke luar negeri karena masalah imigrasi yang dihadapi sekarang. Dia transfer satu juta untuk bantu beli tiket pesawat. Habis ketemu org imigrasi, saya ke Senayan utk ketemu seorang anak yatim yang saya kenal, yang selalu latihan bola di sana. Saya ajak dia makan setelah maghrib. Dia ceritakan pengen beli sepatu bola baru, karena sepatu dia kekecilan dan tidak enak dipakai. Pas dengar itu, saya berniat beli sepatu baru utk dia, pakai uang 1 juta yg baru diterima. (Saya merasa harus berbuat baik kepada dia, karena setelah dia doakan saya, maka tiba2 ada jalur baru untuk dapat bantuan dari seorang petugas imigrasi senior, jadi saya merasa bahwa doa anak itu untuk saya sudah dikabulkan.)
Kita lihat sepatu bola di toko, dan harganya dari 500 ribu sampai 2,3 juta. Dia protes terus, dan bilang Om nggak boleh beliin. Kerja nggak. Lunasin kartu kredit nggak bisa. Tapi saya sudah ada niat dalam hati, jadi saya sudah anggap uang itu sudah milik dia dan tidak boleh ditarik kembali. Ahkirnya beli yg harga 800 ribu, sambil dia protes terus di toko dan membuat semua pelayan senyum. Haha. Pas saya bercanda dengan dia, saya tarik tasnya dan talinya putus total karena tasnya memang sudah tua dan jelek. Saya merasa malu karena sudah merusak tasnya. Langsung ada niat untuk belikan tas baru sekaligus, dengan harga 300ribu. Jadi sudah habis uang 1 juta itu. Baru diterima dari orang yang berniat membantu saya, malah habis untuk orang lain. Haha. Jadi, mungkin di mata orang itu saya nakal. Bukannya disimpan untuk beli tiket pesawat kalau perlu, malah dihabiskan dalam sehari untuk seorang anak.
Tapi karena untuk anak yatim, saya tidak merasa keberatan. (Sepatu bola memang tidak penting sekali seperti makanan, tetapi masuk kategori “menghibur anak yatim” dan insya Allah juga bisa dipakai bertahun2, jadi efeknya lebih lama daripada satu kali makan saja). Saya minta didoakan saja supaya tidak kena masalah imigrasi lagi (jadi tidak akan perlu uang untuk tiket pesawat). Dia gelengkan kepala. Mungkin dia sudah anggap saya gila karena masih mau beli kado buat dia pada saat saya tidak ada uang untuk tutupi semua pengeluaran setiap bulan. Tetapi saya lebih tahu dari dia. Dia anggap rezeki hanya bisa datang dari gaji. Sedangkan saya merasa yakin bahwa rezeki itu bukannya dari gaji, tetapi dari ALLAH. Jadi insya Allah uang yang dikeluarkan itu akan segera diganti. Dan yang menggantikannya bukan bos yang kasih gaji, tetapi ALLAH yang sudah berjanji kepada semua hamba-Nya bahwa DIA yang bertanggung jawab untuk membalas uang yang dikeluarkan di jalan-Nya untuk bantu anak yatim dan fakir miskin. Saya tenang dan senyum terus, tapi anak itu malah kelihatan stres karena kuatir terhadap nasib saya. Hahaha.
Ayo teman2, jangan takut berbuat baik kepada anak yatim dan fakir miskin. Sekalipun tidak ada uang untuk diri sendiri, jangan takut dan jangan menjadi pelit. Insya Allah tidak akan rugi di jangka panjang. Allah sendiri yang memberikan jaminan. Apa bisa dapat jaminan yang lebih baik dari itu di dunia ini?

“Barangsiapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya SEPULU KALI LIPAT amalnya (balasannya)"
(QS.Al-An”am 6:160 )

Rasulullah SAW bersabda : “Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah GANTI bagi orang yang BERINFAQ”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah KEHANCURAN bagi orang yang MENAHAN INFAQ.”.
(HR. Bukhari dan Muslim )

133.Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang BERTAQWA,
134. (yaitu) orang-orang yang MENAFKAHKAN (hartanya), baik di waktu LAPANG maupun SEMPIT, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema
afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran 3:133-134)

Rasulullah SAW bersabda, “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan YAKIN DITERIMA dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR Tirmidzi)

Semoga tidak ada yang takut bersedekah untuk anak yatim dan fakir miskin. Dan semoga jaminan dari Allah sudah cukup bagus sebagai jaminan paling sempurna di dunia. Jangan takut. Berniat. Bertindak. Berdoa. Dan merasa yakin bahwa Allah akan membalas.

Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

5 comments:

  1. Wah terlalu "royal" dan terkesan berfoya2 untuk keperluan sepatu bola/tas. Menurut saya sebaiknya dikasih yg biasa saja agar sisa uangnya bisa buat anak yatim yg lain. Kalau misalkan 1 juta cukup untuk 10 anak yatim, maka doa dari 10 anak yatim lebih baik dari 1 anak yatim.

    ReplyDelete
  2. Dear Anonymous,
    Begitulah kebanyakan orang Muslim yang biasa. Jangan kasih yang mahal kepada anak yatim. Kasih mereka yang murah saja. Cukup Dunkin Donuts atau KFC setahun sekali. Yang mahal buat kita saja. Mereka hanya anak yatim. Mereka sudah biasa hidup dalam kesulitan. Tidak usah kasih yang mahal. Mereka dikasih yang murah saja senang, jadi buat apa buang uang kita untuk mereka?
    Doa dari 10 anak yatim lebih baik dari satu? Bisa buktikan? Kalau 10 anak itu hanya berdoa karena disuruh oleh pengasuh (setelah dikasih KFC), dan berdoa sekali saja, apa yakin itu lebih baik?
    Bagaimana kalau anak yang satu itu berdoa karena sayang, dan berdoa secara rutin karena sayang, dan tidak perlu disuruh berdoa karena dia sendiri mau karena merasa disayangi dengan sungguh-sungguh? Dia merasa disayangi ibaratnya oleh saudara kandung yang tidak hanya kasih dia yang murah2 saja (karena ingin simpan uangnya untuk diri sendiri) tetapi siap membagikan uang yang banyak untuk anak yatim, hanya supaya anak itu bisa senyum lagi dan tidak menangis setiap hari kalau memikirkan bapaknya. Apa doa dia sama dengan 10 anak yang tadi?
    Sepuluh lebih baik dari satu? Belum tentu.
    Tetapi kebanyakan orang memang tidak biasa peduli pada HATI-nya anak yatim. Yang dipikirkan hanya bagaimana bisa kasih mereka sesuatu yang murah, dengan jumlah yang banyak dan tidak merepotkan kita. Jadi, anak yatim dapat KFC setahun sekali (atau mungkin 2-3 kali kalau ada acara lain). Dan anak kandung dapat segala macam makanan yang enak dan lezat. Anak yatim tidak dikasih.
    Anak kandung minta apa saja, dikasih (baju mahal, makanan, komputer, play station, ratusan macam mainan). Anak yatim tidak perlu. KFC sudah cukup.
    Kalau mau merasakan kasih sayang dari anak2 yatim, dan juga nikmatnya, jangan utamakan yang murah buat mereka. Melihat mereka dan berfikir, “Bagaimana kalau anak yatim ini adalah saudara kandung saya?” atau juga bisa berfikir, “Bagaimana kalau anak yatim ini nanti akan menjadi orang besar (seperti dulu ada anak yatim bernama Muhammad SAW yang menjadi orang besar)? Apa yang bisa saya lakukan untuk bantu dia menjadi orang sukses, dan membuat dia menjadi seorang Muslim yang bahagia dan banyak bersyukur kepada Allah?”
    Lalu bertindak.
    Bayangkan kalau bisa kita kembali dalam waktu, dan bisa diperkenalkan dengan seorang anak yatim bernama Muhammad yang hidup 1400 tahun yang lalu. Apa yang akan kita kasih kepada dia??? Tetapi hanya kita yang tahu masa depannya seperti apa (menjadi Nabi) dan semua teman dan tetangga hanya melihat seorang anak yatim yang miskin dan payah, lalu mereka abaikan dia, dan tidak peduli pada semua kebutuhan dia. Mereka hanya melihat seorang anak yatim. Kita melihat seorang calon Nabi Allah.
    Apa yang akan kita kasih kepada anak yatim itu? KFC setahun sekali? Atau apa saja yang bisa kita kasih pada saat ini, karena merasa yakin akan bantu memperbaiki kehidupan dia, dan menjadikan dia orang dewasa yang kuat, berani, dan beriman kepada Allah?
    Apa yang akan kita kasih kepada dia? Kalau anda bilang “Segala sesuatu yang bisa dikasih akan saya kasih kepada anak yatim bernama Muhammad itu!” maka sekarang coba mencari anak yatim yang lain, dan melihat mereka dengan hati dan sikap yang sama. Kita tidak tahu kalau dalam waktu 40 tahun anak yatim itu menjadi Ketua MUI, dan mendoakan kita setiap hari karena merasa hanya kita yang sayangi dia pada saat dia menjadi seorang anak yatim dulu.
    Kalau memikirkan HATI-nya seorang anak yatim, maka tindakan kita akan berbeda dari yang lain. Kalau tidak setuju, silahkan.
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  3. Seandainya banyak orang seperti Pak Gene, saya tidak akan sedih kalau mengingat masa kecil saya sebagai anak yatim. Dan seluruh anak yatim di duania akan bahagia :-).

    Salam,
    "Sesuatu"

    ReplyDelete
  4. Terima kasih. Tetapi kebanyakan orang tidak mau berfikir seperti itu. Maunya hidup secara kaya raya sendiri, dan anak yatim serta fakir miskin tidak begitu penting dalam perhitungan mereka.
    Mereka selalu merasa takut bahwa uang mereka tidak akan cukup, dan Allah akan mengalami kesulitan membalas semua sedekah mereka. Jadi, mereka siap habiskan uang yang banyak untuk kenikmatan diri sendiri, atau untuk anak kandung dan saudara, tetapi untuk anak yatim tidak mau.
    Dulu waktu masih kerja saya pernah berniat memberikan sedekah 2 juta, karena dapat rezeki jadi mau berbagi sama anak yatim. Saya minta pengasuh memilih 2 anak yang ketahuan berakhlak baik, dan memberikan 1 juta kepada mereka masing2. Boleh juga dengan cara mengumpulkan semua anak, dan suruh merek voting, agar mereka sendiri memilih teman yang dinilai sangat baik hati, beribadah dengan baik, dan pantas untuk dapat hadiah besar.
    Sayangnya, pengasuh menolak. Katanya uang hanya bisa dibagikan secara rata antara semua anak. Saya justru ingin melakukan yang berbeda, karena semua orang juga membagi rata antara semua anak, dan mereka dapat 10 ribu, 25 ribu, atau paling banyak 100 ribu dalam amplop. Tetapi sangat jarang sekali ada yang mau kasih jumlah yang besar. (Mungkin mereka ingin beli sesuatu yang mahal seperti sepeda atau sepatu bola). Dan saya juga berniat untuk kasih uang lagi dalam bulan2 yang mendatang, sampai semua anak sudah dapat jumlah besar seperti 1 juta, sehingga mereka semua hanya perlu sabar dan menunggu giliran. Sekaligus, semua anak dapat pelajaran bahwa anak yang paling baik akhlaknya dan paling bagus ibadahnya diutamakan untuk dapatkan hadiah lebih cepat. Jadi insya Allah akan menjadi motivasi bagi mereka untuk menjadi anak yang lebih baik.
    Pengasuh tetap menolak. Akhirnya dibagikan, dan setiap anak hanya dapat sekian banyak. Saya ingin memberikan contoh yang berbeda, dan membuat anak yatim semangat, tetapi orang Muslim lain tidak mau setuju. Saya sendiri yang punya pikiran out of the box seperti itu, jadi saya dianggap aneh sendiri, dan hanya ada sedikit orang yang mau mendukung.

    ReplyDelete
  5. Subhanallah....Alhamdulillah....

    ReplyDelete