Friday, May 31, 2013

Kunjungan Ke Pesantren Yatim Dan Dhuafa Di Warung Buncit


Assalamu’alaikum wr.wb.,
Teman2, hari ini saya dan Dr Irwan mau kunjungi dua pesantren yatim dan dhuafa di Cakung dan di Warung Buncit. Tapi ternyata pengurusnya sama, dan kantornya di Warung Buncit, jadi kami ke situ saja. Kami periksa tempat tinggal 130 anak yatim dan dhuafa di situ, dan cek kondisi kulitnya. Banyak yang kena skabies (kudis) juga, dan ada yang mengatakan sudah sakit selama 6 tahun dengan kulit yang gatal sekali dan terinfeksi. Ada anak yang mengatakan kalau diam saja dan tidak pakai obat, dalam beberapa bulan bisa hilang sendiri, tapi selalu balik lagi. Jadi mereka mengalami kulit yang gatal dan terinfeksi bertahun-tahun. Saya foto beberapa anak yang parah, dan kirim kepada Prof Saleha, yang insya Allah akan melakukan pengobatan dengan tim dokter dari FKUI pada bulan Juni 2013.

Saya juga minta bantuan dari pengurus untuk mengukur lantai di ruang tidur. Seharusnya hanya ada 60 santri di situ. Tapi karena ada banyak permintaan, akhirnya 130 anak masuk, dan tidur dalam ruangan yang dibuat untuk 60 anak saja. Bisa dibayangkan betapa kecil tempatnya untuk setiap anak. Mungkin kasur kami terlalu besar untuk tempat tidur santri (200x80cm) jadi masih perlu diskusi lagi tentang solusi yang terbaik. Semua santri juga perlu baju baru, dan di tempat tidur mereka (seperti aula yang terbuka) tidak ada kipas angin. Saya sulit bayangkan rasanya kalau tinggal di situ selama beberapa tahun, tidur di lantai, tidak ada kasur, tidak ada banyak baju, tidak ada kipas angin, dan setiap hari dan malam kulit terasa gatal sekali karena ada infeksi skabies. Tapi begitulah yang dialami anak yatim dan dhuafa DI JAKARTA.

Saya jadi gelengkan kepala di mobil. Yang kami temukan di Cibubur, bisa sedikit dipahami karena “jauh dari kota”. Tapi di Warung Buncit, Jakarta Selatan? Dari posisi pesantren itu, bisa jalan kaki ke kompleks DPR di Kalibata. Tapi semua pejabat dan petugas pemerintah terlalu sibuk untuk memikirkan 130 anak yatim dan dhuafa yang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan setiap hari. Kalau itu yang dialami oleh anak di Warung Buncit dan Cibubur, bagaimana dengan tempat yang jauh sekali seperti NTB atau Sulawesi Utara?

Ini di Warung Buncit. Di Jakarta Selatan. Di Ibu Kota Indonesia. Tidak jauh dari Kompleks DPR. Tidak jauh dari rumah-rumah mewah di Pejaten, Kemang, Pondok Indah, dan sebagainya. Berapa banyak pejabat pernah lewat di depan pesantren itu, naik mobil mewahnya, dalam perjalanan ke “meeting” untuk bahas berapa banyak uang yang bisa mereka dapatkan kalau setuji proyek ini dan itu? Apa ini yang terbaik yang bisa diberikan umat Islam terhadap anak yatim dan dhuafa? Hidup dalam keadaan sakit, lapar dan miskin bertahun-tahun? Apa yang akan dikatakan Rasulullah SAW kalau dia bisa menyaksikan umatnya?

Lalu pengurus di Warung Buncit memberitahu kami bahwa ada 900 anak yatim dan dhuafa di tempat mereka di Cakung. Hanya 75 menginap di panti, dan yang lain datang untuk ngaji lalu pulang setiap malam. Banyak yang batuk kronis, jadi kami berencana ajak dokter spesialis paru-paru ke sana, karena takut ada TBC yang beredar dari anak ke anak. Dan juga mau diperiksa kondisi pesantren untuk beli kasur, baju, kipas angin dan lain-lain kalau dana ada.

Kalau ada teman yang mau bantu kami dalam proses pengobatan skabies, beli lemari, kasur, baju, handuk, kipas angin, dan lain-lain untuk membantu anak yatim dan dhuafa di berbagai tempat, silahkan titip uang anda kepada kami dan biarkan kami bertindak atas nama teman2 yang lain.

BCA (Bank Central Asia)
KCU Menara Bidakara
No. Rek. 4502214881
A/N Eugene F. Netto
[Rekening ini khusus untuk keperluan anak yatim dan anak miskin]

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto









No comments:

Post a Comment