Tuesday, March 13, 2007

Sekolah Swasta & Bilingual Bag. 3/5

MANA RISET/BUKTI ILMIAH TENTANG LULUSAN SEKOLAH SWASTA BILINGUAL INI?
Barangkali orang tua sudah tahu bahwa ada beberapa sekolah yang sudah lama menjalankan program Immersion/Bilingual di sini dengan tujuan membuat anak lancar dalam bahasa Inggris. Karena sekolah2 ini sudah lama berjalan, berarti jumlah lulusan mereka sudah banyak. Di mana mantan murid itu sekarang dan bagaimana keadaan mereka? Seorang ahli pendidikan akan mau tahu tentang hal ini, tetapi barangkali seorang ahli bisnis tidak akan peduli. Sebagai contoh tentang hal yang perlu kita ketahui adalah:
· Apakah lulusan ini (yang sudah dewasa) masih ada di Jakarta?
· Apakah mereka dikirim keluar negeri untuk kuliah?
· Apakah mereka sanggup kuliah di sini (karena keadaan pendidikan di universitas lokal barangkali sangat berbeda dengan pengalaman baik mereka waktu di sekolah swasta, sehingga mereka tidak tahan dan minta kuliah ke luar negeri)?
· Kalau kuliah di luar negeri sudah selesai, apakah semuanya atau mayoritas kembali ke Indonesia atau tetap di luar negeri karena sudah merasa lebih betah di sana?
· Bagaimana dengan kemampuan bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesianya sekarang?
· Apakah bahasa Inggrisnya lebih lancar, atau bahasa Indonesianya?
· Kalau bahasa Inggrisnya lebih lancar, bagaimana dampaknya terhadap orang yang harus bekerja di sini?
· Kalau bahasa Inggrisnya lebih lancar, apakah karena mereka sudah merasa lebih “normal” menggunakan bahasa Inggris?
· Apakah mereka memandang orang yang tidak bisa berbahasa Inggris sebagai orang “rendah” atau orang “biasa” dan bukan elit seperti mereka?
· Bagaimana pergaulan mereka dengan keluarga besar (kakek, nenek dsb.) yang tidak bisa menggunakan bahasa Inggris sama sekali?
· Apakah mereka merasa bangga dengan bahasa dan budaya Indonesia?
· Atau apakah bahasa dan budaya orang tuanya membuat mereka merasa malu?
· Kalau mereka kuliah di sini dengan menggunakan bahasa Indonesia apakah kemampuan bahasa Inggrisnya berkurang? Kalau iya, berapa jauh?
· Dan penurunan kualitas bahasa itu, bila ada, terjadi dalam jangka waktu berapa tahun?
· Kalau kemampuan bahasa Inggrisnya ternyata sudah turun secara drastis, apakah hal itu berarti sia-sia ribuan jam di SD-SMA hanya untuk belajar bahasa Inggris yang kemudian menjadi hilang?
· Bagaimana nilainya orang yang kuliah di sini dalam bahasa Inggris di universitas swasta?
· Bagaimana nilainya dari yang kuliah di sini tetapi menggunakan bahasa Indonesia?
· Bagaimana nilainya dari yang kuliah di luar negeri dalam bahasa Inggris dan bersaing langsung dengan Native Speaker?
· Bagaimana nilainya tiga kelompok ini dibandingkan dengan nilai sebuah kelompok “kontrol” yang tidak pernah masuk sekolah swasta yang menggunakan bahasa Inggris?
· Nilai lebih tinggi di kelompok yang mana?
· Bagaimana keadaan psikologis semua lulusan ini?
· Apakah ada sebagian dari mereka yang mengalami perasaan tertekan, stres, depresi, dan gangguan emosional/psikologis yang lain disebabkan mereka merasa kehilangan citra diri (karena tidak suka budaya dan bahasa lokal, tetapi masih merasa sebagai orang Indonesia)?
· Kalau ada yang mengalami perasaan stres dan berbagai gangguan yang lain, berapa persen, untuk berapa lama, mulai berapa tahun setelah keluar dari sekolah?
· Apakah gangguan ini mempengaruhi hubungannya dengan suami atau isteri yang tidak bisa berbahasa Inggris karena dia lulus dari sekolah biasa?
· Kalau semua lulusan sekolah2 ini merasa ‘bahagia’, apakah mereka bisa dikatakan kurang, sama, atau lebih bahagia dari anak yang tidak masuk sekolah swasta yang menggunakan bahasa Inggris?
· Apakah mereka hanya bisa bahagia selama mendapatkan pekerjaan di luar negeri, atau di perusahaan asing di Indonesia, sehingga skil mereka dengan bahasa Inggris sangat dihargai?
· Kalau mereka terpaksa pindah ke perusahaan lokal yang tidak membutuhkan bahasa inggris, apakah mereka masih ‘bahagia’?
· Apakah mereka dipandang ‘elit’ oleh karyawan yang lain karena sering menjawab pertanyaan biasa dengan bahasa Inggris (karena sudah terbiasa begitu), sehingga mereka menjadi susah bergaul di kantor?
· Dan seterusnya!
Inilah termasuk hal2 yang akan dipikirkan ahli pendidikan pada saat membicarakan dampak secara luas dari sebuah program bahasa asing yang akan diwajibkan untuk semua anak di sebuah sekolah. Bukan hanya apa yang terjadi kepada mereka selama di sekolah tetapi bagaimana kehidupan mereka setelah keluar dari sekolah. Kebutuhan bahasa di sekolah akan mempengaruhi persentase L1 (bahasa Ibu) dan L2 (bahasa asing) yang digunakan. Misalnya, penggunaan 50%-50% sangat berbeda dengan 10%-90%. Dan tingkat penggunaan ini juga mempengaruhi hal yang lain seperti “cognitve development” (perkembangan daya pikir), “acquisition of academic content” (pengertian terhadap ilmu pelajaran), dan “socio-cultural development” (rasa bangga dengan bahasa/ budaya orang tuanya).
Seorang ahli pendidikan akan bertanya: Apa dampaknya program bahasa tersebut di masa depan semua anak ini? Yang baik apa? Yang buruk apa? Bagaimana caranya mencegah yang buruk dan memperkuat hasil yang baik? Ini cara berfikir guru dan ahli pendidikan yang profesional. (Barangkali seorang pengusaha hanya akan bertanya: Apa dampaknya program ini pada masa depan deposito saya?)
Apakah anda pernah mendengarkan pemilik sekolah anak anda membicarakan hal seperti ini? Kemungkinan besar tidak.
Alasannya dua:
1.) Setahu saya, hasil riset seperti ini yang berkaitan dengan konteks kita di Indonesia tidak ada. Kalau riset untuk orang di luar negeri, misalnya di Kanada, saya yakin ada. Tetapi konteksnya berbeda. Di Kanada, semua atau mayoritas dari para guru bisa diyakini professional, dan program Immersion itu dipantau terus oleh Diknas dan bukan dikerjakan secara acak oleh sekolah swasta yang asal mendapatkan staf yang bisa berbahasa Inggris. Di Kanada barangkali hanya hanya satu kelas yang melakukan program Immersion dan bukan seluruh sekolah. Kurikulum sudah terbentuk oleh sebuah tim ahli dan digunakan oleh semua sekolah. Beda halnya dengan Indonesia di mana saya sering menemukan “guru” (baca: lulusan ekonomi dsb.) yang dipaksakan sekolah membuat Kurikulum untuk menghemat pengeluaran. (Kalau harus mencari seorang ahli untuk membuat kurikulum, berarti bayar lagi. Guru saja deh!)
Setahu saya, tidak ada orang di sini yang melakukan penganalisaan secara intensif dan ekstensif terhadap apa yang sebenarnya terjadi kepada anak yang telah lulus dari sekolah swasta bilingual di sini. Paling ada informasi yang bisa didapatkan dari salah satu sekolah yang menyatakan lulusannya pergi ke mana (seperti asosiasi alumni). Informasi selain lokasi dan pekerjaannya barangkali tidak ada.
2.) Pemilik sekolah anak anda barangkali tidak akan peduli. Apakah menguntungkan tabungan dia kalau dia sungguh2 mempelajari apa yang terjadi kepada lulusan dari sekolah dia? Kalau seandainya ada 12% yang mengalami berbagai bentuk stres atau depresi setelah 10 tahun keluar dari sekolah, disebabkan mereka merasa “asing” di negara sendiri, apakah pemilik sekolah mau memberitahu kepada orang tua (kalau dia tahu)? Barangkali tidak.
Tetapi kalau dia tahu 12% dari lulusan sekolah masuk perusahaan multinasional dengan jabatan dan gaji yang tinggi, pasti itulah yang akan diberitahu kepada orang tua. Kata pemilik sekolah: “Kalau anda mau [memberikan kita puluhan juta rupiah sekarang juga, non-refundable tentu saja, dan] daftarkan anak anda di sekolah kita, maka dia bisa mendapatkan pekerjaan yang baik seperti ini. Kita sekolah bilingual lho! (Kali 1000).” Dan tentu saja orang tua dari seorang anak berumur enam tahun akan kagum dan bahagia kalau diyakinkan masa depannya begitu ceriah. Tinggal bayar saja, dan dia akan lulus SMA dalam keadaan bilingual dan langsung mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji besar. Semuanya beres!
Barangkali anda ingin mengatakan bahwa setahu anda, anak yang tertekan dan depresi ini tidak ada di Jakarta. Sudah ada banyak lulusan dari sekolah bilingual yang menggunakan Immersion Program dan sepertinya mereka semua baik-baik saja. Apakah benar? Apakah 100% dari mereka “baik-baiksaja”? Atau kurang dari 100%?
Barangkali ada 80% yang bahagia dan telah menjadi bilingual tanpa masalah. Taruhlah ada 10% lagi yang bisa berhasil juga walaupun tidak begitu mudah bagi mereka. Dan bagaimana kalau seandainya masih ada sisa 10% yang mengalami berbagai macam gangguan seperti stres, depresi, kehilangan citra diri, merasa lebih elit daripada orang tua sendiri, merasa asing dengan orang tua, lebih senang tinggal di luar negeri, susah bergaul dengan teman kantor, dsb.
Saya ingin bertanya kepada para orang tua: Siapa yang akan membela sisa 10% anak ini (kalau memang ada) yang mengalami kesulitan belajar di dalam sekolah bilingual, dan barangkali juga akan menghadapi berbagai macam masalah setelah lulus? Fungsi seorang guru bukan untuk mengajar 90% dari muridnya yang sanggup mengikuti pelajaran dalam sebuah bahasa asing dan abaikan saja 10% tersisa yang mengalami malasah (baik di dalam maupun di luar sekolah). Fungsi seorang guru adalah untuk berusaha sebaik mungkin bahwa semua muridnya akan berhasil di dalam semua aspek kehidupan, bukan nilai akademisnya saja.
Kalau guru kelas merasa bahwa anak anda telah masuk 10% yang akan “gagal” dengan arti dia masih bisa lulus tetapi dengan nilai yang sangat rendah, dan barangkali akan mengalami masalah psikologis nanti, apakah anda siap menerima kenyataan ini begitu saja? Apakah cukup baik bagi anda bahwa 90% dari lulusan sekolah itu berhasil dan menjadi orang bilingual yang bahagia, walaupun anak anda tidak termasuk kelompok itu?
Dan barangkali alasannya kenapa anda belum pernah melihat seorang lulusan sekolah swasta yang mengalami masalah adalah disebabkan kebanyakan dari mereka berada di luar negeri sekarang karena tidak senang tinggal di Indonesia lagi. Atau juga bisa jadi alasannya adalah karena anak yang anda kenal pernah masuk sebuah sekolah swasta yang sangat mahal, yang penuh dengan guru profesional, lengkap dengan kurikulum yang benar, dengan Pull Out Program (untuk meningkatkan bahasanya), dengan guru ESL yang berpengalaman, dsb. Barangkali itulah sebabnya 99% dari lulusan sekolah itu yang anda kenal telah berhasil.
Tetapi bagaimana dengan sekolah anak anda yang baru berdiri 5 tahun, yang gurunya dan kepala sekolah berganti-ganti setiap tahun, yang kurikulumnya “masih ditulis” oleh para guru, yang biayanya meningkat setiap tahun tanpa perubahan fasilitas, dsb.? Apakah komitmen mereka tehadap masa depan anak anda begitu serius?
SEKOLAH SWASTA LEBIH PEDULI PADA UANG?
Kita bisa bertanya sekarang: apakah begitu banyak anak diwajibkan dan dipaksakan belajar bahasa Inggris di sekolah karena memang itu yang terbaik untuk dirinya? Atau apakah hal ini dilakukan karena sekolah tahu orang tua akan siap bayar lebih mahal untuk sekolah bilingual dan tujuan sekolah semata-mata sebagai sebuah bisnis yang harus menghasilkan profit sebanyak mungkin? (Dan bisa jadi dua-duanya benar).
Sebagai sebuah contoh apakah sebuah sekolah swasta mana pun lebih peduli pada uang daripada pendidikan, orang tua bisa bertanya kalau gaji guru sama semua atau apakah kontrak kerja mereka harus dinegosiasi sendiri-sendiri. Kalau sama semua, berarti sekolah ingin adil terhadap guru, misalnya dengan gaji standar Rp 2 juta. (Ya, anda tidak salah baca, itu angka DUA. Gaji guru untuk orang lokal di sekolah swasta anak anda bisa sekecil itu, mungkin 1,5-4 juta. Tetapi untuk orang bule yang menjadi idaman anda, bisa mencapai 15-30 juta ++).
Kalau seandainya ada sebuah sekolah yang siap memberikan gaji standar kepada semua guru lokal, tetapi ada seorang guru dengan sebuah gelar, keahlian atau pengalaman khusus (misalnya dia sudah mencapai Masters Degree/S2), maka dia bisa diberikan bonus, dan hal itu bisa dijelaskan kepada guru yang lain supaya mereka semua paham bahwa orang ini memang ada skil khusus. Dengan demikian insya Allah mereka akan terima dengan lapang dada dan tidak akan iri karena semuanya terbuka dan jujur: gaji dia sedikit lebih besar karena skil dia lebih besar.
Sebaliknya, kalau gaji semua guru berbeda-beda, maka hal itu dilakukan untuk kepentingan bisnis. Dua guru di kelas yang sama dengan gelar yang sama dan latar belakang yang kurang lebih sama bisa menerima gaji yang berbeda. Kalau perbedaan itu mencapi 1-2 juta, apakah guru yang gajinya rendah bisa menerima kalau dia tidak bisa melihat alasan untuk perbedaan tersebut? Sebenarnya ini terjadi karena pada saat masuk, satu guru bernego terus sampai mendapat gaji yang tinggi, dan guru yang lain takut tidak akan mendapatkan pekerjaan jadi dia tidak berani bernego dengan keras.
Kenyataan gaji yang berbeda ini bisa menimbulkan suasana yang negatif di kalangan guru. Misalnya, guru yang gajinya rendah bikin “flashcard” untuk suatu pelajaran Matematika. Guru yang gajinya besar minta pinjam. Guru pertama (karena jenuh) membuat alasan supaya tidak dipinjamkan. (“Emang gue pikirin? Biarkan dia bikin sendiri!”) Kalau ini terjadi di dalam sebuah sekolah, yang jelas adalah sebagian dari para guru akan dirugikan. Anak juga dirugikan karena para guru tidak mau saling bantu-membantu untuk memberikan kelas yang terbaik bagi anak. (Buat orang tua yang belum tahu, guru yang saling bantu-membantu merupakan bagian yang sangat vital dan utama di dalam sebuah sekolah).
Dan yang jelas diuntungkan adalah tabungan sekolah! Tetapi masalah ini tidak hanya terjadi pada guru: kalau seandainya seorang kepala sekolah menyadari bawah gaji dia 2x lebih kecil dari sebagian guru, bagaimana dia mau kerja dengan semangat? (Sebenarnya, dia salah sendiri karena menerima gaji yang dia anggap cukup baik, dibandingkan dengan gaji di SD Negeri, tetapi sudah ada guru yang mendapat lebih dari dia.)
Silahkan bertanya kepada para guru di sekolah anak anda kalau gaji guru ada standarnya atau apakah setiap kontrak dinegosiasi sendiri, dan bertanya ke pihak sekolah kenapa harus begitu? Sekaligus, silahkan bertanya kalau ada asuransi untuk anak guru? (Asuransi guru pasti ada, walaupun hanya dengan nilai nominal yang sangat minim.) Kalau anak seorang guru menjadi sakit keras, dan ibunya harus mengeluarkan beberapa juta rupiah, dengan sekaligus cuti dari sekolah, apakah pihak sekolah akan peduli? Baca di tembok sekolah anak anda tentang semua sikap yang mereka ingin ajarkan seperti “Caring”, “Respect”, “Social Awareness”, “Empathy”, “Leadership” dan sebagainya. Barangkali anda pernah melihat kata2 ini ditempelkan di tembok sekolah. Kalau memang ada, bertanya ke pihak sekolah tentang kenapa mereka tidak mulai dengan mencontohkan sikap2 mulia ini terhadap para guru dan anaknya sebelum mencari orang lain di pinggir kali?
“KENAPA SAYA TIDAK BISA BERBAHASA INGGRIS PADAHAL MULAI DARI SMP?”
Kalau orang tua mengatakan “Saya belajar bahasa Inggris dulu di SMP tetapi masih nggak bisa sampai sekarang!” berarti anda mengalami masalah, dan masalah itu tidak ada hubungan sama sekali dengan umur anda pada waktu mulai belajar. Yang menimbulkan masalah buat anda adalah sistem pengajaran yang tidak bagus, yang sangat baku, terfokus pada penghafalan kalimat dan frase baku, dan tidak memberikan kebebasan kepada anda untuk menguasikan bahasa itu supaya bisa membentuk “communicative competence” (kemampuan berkomunikasi sendiri tanpa membutuhkan bantuan dari guru).
Kalau seandainya anda pernah mendapatkan sistem pendidikan bahasa yang berbeda di masa SMP dulu, saya sangat yakin bahwa (insya Allah) anda sudah menjadi lancar sekarang. Justru karena anda tidak menjadi lancar, anda membuat kesimpulan bahwa hal itu disebabkan anda mulai pada usia yang terlalu tua. Dan persepsi itu 100% keliru. Oleh karena persepsi itu, anda ingin mewajibkan anak anda menjadi terbiasa menggunakan bahasa Inggris mulai dari Playgroup!
Saya dan teman2 kelas dulu di SMP-SMA belajar bahasa Jerman atau bahasa Perancis. Hampir semua menjadi cukup lancar dalam 3 tahun, sehingga menjadi sanggup berbincang dan menulis di dalam bahasa itu. Ini disebabkan metode pengajaran bahasa yang berbeda dengan yang anda alami di sini.
BELAJAR BAHASA DI USIA TUA
Kalau orang tua sangat takut bahwa anak tidak akan bisa belajar bahasa Inggris pada usia yang lebih dewasa, saya ingin menjelaskan bahwa saya mulai belajar bahasa Indonesia dari “nol” pada umur 20 tahun. Anda bisa menilai sendiri kemampuan saya menggunakan bahasa Indonesia sekarang. Saat saya tiba di Indonesia pada tahun 2005 karena ada beasiswa untuk kuliah di Universitas Indonesia untuk satu tahun, umur saya sudah mencapai 24 tahun dan kemampuan bahasa saya kurang lebih sama dengan sekarang karena sudah belajar di Australia. (Mungkin saya sedikit lebih lancar sekarang karena sudah tinggal di Jakarta untuk 11 tahun). Beberapa tahun yang lalu, saya malah sering diberitahu ada logat Jawa karena orang yang berbicara dengan saya di telfon tidak percaya bahwa saya adalah orang asing - dianggap orang Jawa. (Sekarang logat itu sudah hilang).
Dia kampus saya di Australia dulu, ada seorang bapak yang sudah pensiunan, dan dia masuk kuliah supaya ada kegiatan. Dia mempelajari bahasa Indonesia di kelas bersama saya, dan saat mulai, umurnya adalah 60 tahun. Umurnya yang begitu lanjut memang sedikit mengganggu dia (cepat lupa kosa kata) tetapi tidak menjadi halangan besar. Hanya saja, dia tidak bisa hilangkan logat Skotlandia yang sangat tebal.
Orang remaja dan dewasa memang sanggup mempelajari bahasa dan menjadi lancar sekali. Anak berumur 12 tahun yang tidak pernah mempelajari bahasa Inggris (secara formal di kelas) insya Allah bisa menguasainya. Orang tua tidak perlu kuatir. Tidak perlu membuat anak stres dengan terlalu banyak memaksa dia menjadi 100% lancar sebelum tamat SD. Kecuali seluruh pelajaran di sekolah SMP-SMA nanti menggunakan bahasa Inggris sehingga anak yang tidak lancar saat tamat SD akan kena masalah. Kalau sekolah yang dituju memang seperti itu, maka mau tidak mau, anak harus dipaksakan lancar supaya bisa bertahan di SMP-SMA. Apakah anak akan senang dan bahagia dengan pilihan/paksaan orang tua ini?
Kalau anak anda belajar selama di SD dengan menggunakan L1 (bahasa Ibu) untuk mayortias dari kelasnya, dengan L2 (bahasa asing) mendapat status “English For Fun” dan bukan “English for Understanding Maths and Science” dan baru mulai menambahkan lebih banyak L2 di Kelas 4, 5, 6, SMP dan SMA, insya Allah tidak akan menjadi halangan baginya untuk menjadi lancar dalam Bahasa Inggris dan juga Bahasa Indonesia karena justru itu yang terbukti dari riset. Yang penting adalah sistem pengajaran dan bukan umurnya (setelah dia menjadi lancar di L1, tentu saja).
Orang tua harus berfikir tentang apa yang lebih utama: bahasa Inggris atau ilmu akademisnya? Kalau bisa, orang tua pasti inginkan dua-duanya. Tetapi kalau salah satu harus “dikorbankan” untuk memastikan bahwa yang lain tidak terganggu, apakah lebih baik membela ilmu akademisnya atau kelancaran bahasa Inggrisnya?
 Links untuk semua bagian yang lain:
 Komentar Sekolah Swasta & Bilingual Bag. 1/5

No comments:

Post a Comment