Thursday, April 07, 2011

Selesai Dakwah dgn Orang Asing, Mulai Lagi dgn Sopir Taksi

Assalamu'alaikum wr.wb.,
Kemarin saya ada pertemuan dengan orang pada waktu siang, untuk membahas suatu kegiatan untuk bulan depan. Saya berangkat setelah dzuhur, dan rapatnya hanya 2 jam, jadi saya kira bisa pulang sekitar ashar, karena masih ada banyak kerjaan dan tugas di rumah yang belum selesai untuk membantu 3 yayasan yang sedang ditangani.

Setelah rapat itu, saya ketemu seorang teman yang memperkenalkan saya dengan seorang muallaf bule di kantornya. Dia sudah masuk Islam beberapa tahun, tetapi masih merasa ragu terhadap Islam, dan belum bisa shalat secara rajin. Saat saya melihat bahwa dia ingin bertanya banyak, saya memutuskan untuk berusaha menjawab semua pertanyaannya sampai dia merasa puas.
Kadang, dengan orang asing, mereka merasa dekat dengan Islam (sudah muallaf atau sudah memikirkannya) tetapi masih ada sesuatu di dalam hatinya yang menghalangi mereka untuk lepaskan kehidupan biasa mereka dan mengikuti Islam secara benar.

Untuk sebagian orang seperti itu, cara saya untuk kagetkan pemikiran mereka adalah dengan banjiri mereka dengan jawaban yang masuk akal dan sulit ditolak. Tujuannya adalah supaya akal kafir mereka tidak bisa bangkit dan mulai melawan dengan argumentasi yang diciptakan oleh akalnya untuk menolak Islam. Cara ini tidak cocok untuk semua orang asing, jadi harus dilihat dulu orangnya seperti apa, sudah paham berapa banyak, dan apakah keadaan mendukung diskusi panjang atau tidak.

Hasilnya, kami jadi membahas Islam selama 7 jam, sampai jam 1 pagi. Hehehe. Kami masih sama2 segar, dan masih semangat diskusi, dan saling mengatakan “Silahkan pulang kalau sudah capek” tetapi sama2 tidak berusaha untuk pulang. Akhirnya dia merasa sangat puas dan karena sudah jam 1 pagi, kami berhenti (dan Insya Allah bisa dilanjutkan pada lain waktu).

Saat dapat taksi, sudah jam 1.30 pagi, dan masih harus pulang ke rumah. Saat duduk di taksi, saya mulai berbincang sedikit dengan sopir taksi (seperti biasa). Dia bilang capek karena sudah 3 jam tidak dapat penumpang. Saya bilang juga capek karena habis diskusi agama selama 7 jam dengan seorang muallaf. Sopir taksi mulai bicara.

“Ahhh… kalau boleh jujur Pak, saya juga tidak shalat.”
“Masa? Sudah berapa lama bapak tidak shalat?”
“Sekitar 30 tahun.”
(Waduh! Kasus berat nih).
“Kenapa bisa begitu Pak?”
“Saya yatim piatu dari kecil, dan setelah itu, menjadi anak jalanan jadi tidak ada yang ajarin. Tapi sekarang isteri dan anak saya suruh shalat terus, tapi saya masih belum mau.”

Akhirnya, dalam perjalanan pulang saya mulai ceramah dan diskusi agama lagi, dengan si sopir taksi. Dia mengatakan selalu dapat rezeki pada hari jumat, tetapi di hari lain belum tentu.
Saya katakan mungkin itu buktinya bahwa Allah masih sayang sama dia, karena selalu ada uang pada hari jumat. Dan Allah juga sayang karena masih memberikan kesempatan untuk bertaubat, kembali shalat dsb. (karena masih dikasih umur yang panjang). Kalau tanpa shalat masih dapat uang setiap hari jumat, bagaimana kalau ikut shalat jumat juga, dan berusaha untuk melakukan 5 waktu juga?

Saya tanya, apakah mau Allah sayang biasa sama bapak, atau sangat, sangat, sangat sayang sama bapak? Dia jawab mau yang disayangi secara super bukan secara biasa.
“Jadi, kalau bisa, bapak harus berusaha untuk shalat 5 waktu. Bisa belajar dari isteri karena isteri rajin shalat (katanya begitu). Kalau belum bisa 5 waktu, coba saja 2-3 waktu dulu, dan ditingkatkan secara bertahap.”
Dia setuju dan mengatakan akan dicoba.

“Dan pada saat berhenti menunggu penumpang, coba bapak berdzikir sebanyak mungkin dengan tasbih (atau jari tangan)”
Lalu dia bertanya, “Apa itu tasbih?”
(Ya Allah!) Saya keluarkan tasbih saya dari kantong dan kasih lihat.
“Seperti ini Pak.”
“Ohh yang itu. Namanya tasbih ya?” (Dia pernah lihat, tetapi tidak tahu namanya tasbih karena tidak pernah peduli pada urusan agama selama ini).

Saya kasih tasbih saya kepadanya supaya dia merasa semangat untuk berusaha.
Saat berhenti di depan rumah, argo hanya 25 ribu, karena sudah malam jadi jalannya lancar.
Saya keluarkan 100 ribu.
“Pak, uang ini bukan dari saya tetapi dari Allah. Ini buktinya Allah bisa kasih uang kapan saja kepada bapak. Dan yang diminta Allah, bapak yang yakin kepada Allah, dan Nabi Muhammad SAW, Al Qur'an, dan menjadi orang yang beriman. Bisa begitu pak?”
“Insya Allah bisa.”
“Dan sebagai buktinya beriman, harus melakukan shalat 5 waktu. Bisa? Bapak sudah 30 tahun tidak shalat, tetapi Allah masih sayang sama bapak, dan masih kasih rezeki. Ini rezeki dari Allah, bukan dari saya. Dan kalau bapak mau shalat rajin, mungkin besok ada tambahan2 lagi seperti ini dari Allah juga, tetapi datang lewat tangan penumpang. Paham? Bapak mau bersikap tidak peduli kepada Allah sampai kapan? Padahal masih disayangi dan masih dikasih rezeki terus? Umurnya berapa tahun lagi pak?”

Lalu saya bicara sebentar tentang taubat, dan suruh dia belajar dari isterinya yang rajin shalat. Tidak usah malu, dan tidak perlu membahas masa lalu. Cukup bilang kepada isteri “tolong ajarkan saya shalat dan bantu saya menjadi rajin”.

Dia setuju dan mengatakan Insya Allah akan berusaha.
Saya turun dan masuk rumah. Sudah hampir jam 2 pagi dan belum shalat isya.

Semua itu terjadi di luar dugaan, tetapi menyita banyak waktu dan tenaga.
Akhirnya, saya mulai berpikir dan juga berhitung tentang apa yang terjadi hari itu:
Bicara 8 jam tentang agama, hampir non-stop.
Pulang jam 2 pagi, setelah keringat terus, karena duduk di luar saat bicara dengan orang bule itu, dan masih lapar karena kurang makan.
Habis 200 ribu untuk ongkos taksi pulang-pergi.
Satu set tabsih yang disedekahkan.

Tetapi kalau mau dihitung PAHALA-nya? Hanya Allah SWT yang bisa menghitung dan menilainya. Dan semua itu bisa dilakukan walaupun saya dalam keadaan “pengangguran”, tanpa kepastian visa untuk menetap di sini, tanpa nafkah hidup.

Teman-teman, jangan sekali2 merasa takut bahwa Allah akan sia-siakan usaha kita untuk berjuang di jalan-Nya dengan usaha apa saja. Dengan kerja mencari nafkah hidup untuk keluarga, ada pahalanya. Dengan berbuat baik kepada orang tua ada pahalanya. Dengan membantu anak yatim dan fakir miskin ada pahalanya. Dengan senyum di depan orang lain ada pahalanya. Dan dengan membina orang lain dalam agama sampai jam 2 pagi juga ada pahalanya. Jangan takut.

“Barang siapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya SEPULU KALI LIPAT amalnya (balasannya)"
(QS.Al-An”am: 160 )

133.Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang BERTAQWA,
134. (yaitu) orang-orang yang MENAFKAHKAN (hartanya), baik di waktu LAPANG maupun SEMPIT, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran 3:133-134)

92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada KEBAJIKAN (yang sempurna), sebelum kamu MENAFKAHKAN sebahagian HARTA yang kamu CINTAI. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(QS. Ali ‘Imran 3:92)

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene

7 comments:

  1. Salam alaikum
    Rencananya saya akan share postingan ini di blog sekolah. Boleh kan:)
    Syukran ya
    Wassalam

    ReplyDelete
  2. Subhanallah!!! smoga sy bisa meniru Anda.. jazakallahu khairan katsira atas ilmunya..

    ReplyDelete
  3. mas. hebat. iri aku mas dengan yakinnya. teori tahu, tapi yakin nggak, itulah aku. salam mualaf.

    ReplyDelete
  4. @Anonymous, cuma perlu pengalaman saja. Coba saja mencari orang yang kira2 perlu dakwah, seperti pembantu, sopir, tukang ojek, tukang di warung, dll. Ajak mereka bicara tentang agama, dan coba memberikan masukan. Kalau sudah berhasil satu kali, jadi lebih gampang untuk kedua kalinya. Aku sudah ratusan kali, jadi terasa mudah sekali, tetapi hanya karena ada pengalaman itu.
    Coba saja. Jangan anggap tidak bisa kalau belum dicoba. Insya Allah juga bisa.

    ReplyDelete
  5. He he he he.. ya itulah orang indonesia, meski jumlah muslim di indonesia itu melimpah, tapi perilaku hidup keseharian kadang banyak yang melanggar prinsip-prinsip ISLAM. Pada kasus diatas dibutuhkan seorang yang sangat dekat dengannya agar dapat terus mengawasi dan mengigatkan pada suatu periode waktu tertentu, karena suatu kebiasaan yang sudah begitu lama di lakukan. Dan da'wah menurut saya bukan hanya pekerjaan sehari atau seminggu tapi lebih dari itu karena didalam kata tersebut mengandung makna mengajak/membimbing/memberi contoh/menjadi teladan kepada obyek da'wah dalam menyeru kepada jalan Allah dan sadarkan mereka akan suatu kewajiban umat ISLAM untuk menuju Darussalam dalam kehidupannya (bukan saja darussalam pada dunia akhirat).

    Wallahu A'lam Bis Showab

    ReplyDelete
  6. subhanallah pengalaman yg bagus, kalau bisa di tingkatkan sholat bisa tepat waktu dan berjamaah shg tidak seperti lilin......

    ReplyDelete