Tuesday, April 10, 2012

Bagaimana Kita Bisa Dapat Keberanian Untuk Melawan UN?

Para guru Indonesia tidak akan bisa berhasil kalau bertindak sendiri2. Harus kompak dan melawan secara bersamaan. Melawan Belanda dulu tidak ada yang berhasil kalau sendiri2. Di sini banyak pendekar silat, tapi kalau melawan pemerintah Belanda sendirian, tidak ada hasil.
Tapi pada saat semuanya diajak bergabung dengan Sukarno-Hatta dan melawan secara bersamaan, maka berhasil.
Sekarang Indonesia masih dijajah. Secara fisik sudah bebas. Tetapi secara mental masih dijajah oleh pemerintah yang penuh dengan koruptor dan mafia, dan selalu berkiblat ke ekonomi barat daripada utamakan kepentingan rakyat sendiri. Kalau anak Indonesia mau merdeka secara mental juga, maka kita harus berani untuk bersatu dan membela mereka. Pemerintah punya hukum, polisi, tentara, kejaksaan. Mereka tidak perlu dibela. Mereka bukan anak tetapi sudah besar dan bisa membela diri sendiri. Kita mesti bersatu dan membela anak kecil yang tidak sanggup membela diri sendiri. Pemerintah inginkan agar rakyat bodoh supaya bisa dibodohi terus. Rakyat yang bodoh tidak akan bertanya dari mana dapat uang kampanye senilai ratusan milyar hanya untuk iklan tivi. Rakyat yang bodoh tidak akan bertanya berapa banyak orang yang punya akses terhadap server komputer di dalam KPU setelah pemilu. Rakyat yang bodoh gampang dibodohi.
Kita bisa diam dan nurut, atua melawan. Bukan karena kita ingin berkuasa, bukan karena kita inginkan revolusi yang berdarah2 kaya di Mesir, tetapi karena kita punya beban moral untuk melindungi dan melayani anak bangsa supaya masa depan Indonesia menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah, atau tetap sama saja (di saat negara lain makin maju).
Dua puluh lima tahun dari sekarang, salah satu dari anak didik kita bisa menjadi presiden negara. Dia akan mengatakan apa tentang kita yang menjadi gurunya? Apa dia bangga dengan kita? Atau apa dia tidak peduli dengan kita, karena selalu merasa bahwa kita tidak berani untuk membela dan melindungi dia dari kebijakan yang merugikan dia, dan sekaligus melanggar hukum?
Kita bisa memilih untuk selalu diam dan nurut dengan pemerintah yang tidak adil dan melanggar hukum. Atau kita bisa kompak dan melawan secara baik, sopan dan profesional.
Kita berani melakukan apa untuk generasi mendatang? Dulu ada banyak orang biasa, tanpa pendidikan tinggi, yang hidup sebagai petani, buruh, guru, dan lain-lain, tetapi mereka berani menjadi pahlawan negara karena berani melawan Belanda, bahkan siap korbankan nyawa mereka sendiri.
Sedangkan kita takut dipecat, dimutasi, dapat surat peringatan dan sebagainya.
Di mana keberanian kita?
Di mana para pahlawan negara Indonesia?

Wassalam,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment