Wednesday, April 18, 2012

Hebat! Bocah 10 Tahun Bikin Game untuk Nenek yang Tunanetra

Di luar negeri, anak bisa membuat game untuk main bersama dengan neneknya. Di Indonesia, anak disiapkan menjadi karyawan pabrik, supaya bisa memproduksi game yang dibuat orang asing, dan ekspor dengan biaya murah (karena gaji karyawan di sini juga murah.) Dan yang dapat pekerjaan di pabrik merasa beruntung. Masih ada orang lain yang makan belalang dan menjadi pemulung.
Apa pemerintah peduli? Kalau peduli, sistem pendidikan sudah diubah dari dulu, untuk menghasilkan jutaan anak cerdas yang bisa membuat game juga.
Wassalam,
Gene

Hebat! Bocah 10 Tahun Bikin Game untuk Nenek yang Tunanetra
Trisno Heriyanto - detikinet
Selasa, 17/04/2012 12:25 WIB
Amerika Serikat - Keinginan kuat untuk bisa bermain game bersama dengan neneknya yang tak bisa melihat, memancing bocah 10 tahun ini untuk membuat game yang dirancang untuk tunanetra.

Bocah tersebut bernama Dylan Viale, saat ini ia masih duduk di kelas 5 SD di Hidden Valley Elementary, Martinez, California. Namun tak seperti anak di usianya yang hanya suka bermain game, Dylan selangkah lebih maju karena berhasil membuat gamenya sendiri.

Motivasinya membuat game didasari keinginan kuat untuk bermain dengan neneknya, Sherry Nissen, yang sudah bertahun-tahun mengalami kebutaan. Seperti yang dikutip detikINET dari kotaku, Selasa (17/4/2012).

Berbekal versi gratisan dari aplikasi GameMaker, Dylan belajar bagaimana membuat program, desain, dan bahkan membangun prototipe yang belum sempurna hanya untuk membuat game bagi sang nenek.

Memanfaatkan waktu senggangnya di luar sekolah akhirnya Dylan berhasil menciptakan game pertamanya yang disebut Quackys Quest. Game ini bercerita tentang seekor bebek yang mencari telur emas melalui serangkaian labirin. Mirip dengan cerita dongeng waktu kecil.
Dylan percaya bahwa sistem permainan tersebut akan menjadi cara terbaik bagi para tunanetra untuk merasa tertantang tanpa memerlukan kecepatan dan kemampuan membaca. Game ini juga dilengkapi panduan suara agar neneknya bisa dengan mudah memainkannya.

Cara memainkan game ini mirip dengan Pac-Man, namun Dylan menambahkan permata berkilau pada setiap jalur yang akan dilalui sang bebek lengkap dengan suara 'cring' saat melintasinya, kemudian akan ada suara berisik saat pemain menabrak tembok. Nah, panduan suara inilah yang akan membimbing para pemainnya menemukan telur emas.

Membutuhkan waktu selama sebulan bagi Dylan untuk menciptakan game tersebut. Hasil karyanya ini juga berhasil meraih peringkat pertama saat dilombakan pada sebuah kontes teknologi di sekolahnya. Pun begitu Dylan 'tak peduli', yang terpenting adalah ia bisa bermain game bersama sang nenek yang amat dicintainya. ( eno / ash )

Lihat foto anak dan gamenya di Detik.com

1 comment:

  1. anak Indonesia juga ada yang pernah bikin game..malah juara di Amerika :D
    http://www.medantalk.com/anak-indonesia-juara-buat-game-di-amerika/

    anak berprestasi seperti ini sebenarnya banyak di Indonesia, hanya saja kurang diapresiasi, sehingga saat dewasa ujung2nya jadi karyawan, atau malah diambil Singapura...:D

    ReplyDelete