Wednesday, April 18, 2012

Kisah Simon Donaldson Dan New Zealand Yang Paling Islami

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Tulisan di bawah berasal dari teman saya Pak Satria Dharma. Dia menceritakan kasus seorang warga NZ yang berada di Indonesia, dalam kondisi buruk, dan berita ini diangkat oleh media NZ dan juga dapat perhatian dari Perdana Menteri NZ dan dibahas dalam kunjungannya ke Indonesia sekarang.
Berikut ini adalah komentar saya:

Saya baru dengar kasus tentang si Simon itu karena tidak baca berita dari NZ setiap hari. Tapi setelah baca tulis Pak Satria, saya tidak heran, karena memang sangat umum dan biasa di sana.
SBY juga bisa melakukan hal yang sama, dan menunjukkan kepedulian pada kasus2 rakyat kecil. (Cukup diperhatikan sekali, lalu diserahkan ke menteri dan pejabat terkait, dan perintahkan mereka bertindak. Semua pemimpin di negara lain juga begitu.) Tetapi SBY tidak mau. Ummat Islam juga bisa menunjukkan kepedulian yang sama, tetapi tidak mau.
Di NZ, kalau diadakan Ujian Nasional yang tidak adil, dan ada yang berdiri dan ajak boikot, maka bisa diyakini akan diboikot secara massal. Dan pemerintah sangat takut dihujat oleh para pemilih yang tidak terima kebijakan yang tidak adil seperti itu.
Tetapi di Indonesia, mayoritas dari penduduk adalah lulusan SD. Dan kualitas dari pendidikan SD itu juga rendah. Karena sudah mengetahui kenyataan tersebut, pemerintah bisa saja mengubah kurikulum SD sehingga memberikan pelajaran yang paling luas, dan membuka wawasan yang baik bagi anak2 SD, sehingga setelah lulus mereka sanggup belajar secara independen saja, dan bisa menjadi wiraswasta dengan kualitas yang baik.
Ternyata tidak. Yang dikasih adalah hafalan berkualitas rendah saja. Guru sudah benar. Murid cukup hafal dan nurut dengan pendapat guru. Tidak perlu berfikir secara independen. Tidak perlu menjadi orang yang pintar, kreatif, adil, bijaksana dan memiliki wawasan luas. Pemerintah tidak akan bisa membodohi rakyat yang pintar, dan merampas harta rakyat dengan korupsi.
Jadi tidak ada yang serius untuk mengubah status quo. Dan semuanya berlangsung terus, tanpa banyak perubahan.
Sedangkan di NZ, mayoritas dari penduduk lulus SMA, lebih dari 50% kuliah, dan negaranya maju dan sejahtera (dan Australia juga begitu).
Apa Indonesia tidak bisa? Indonesia sangat bisa! Tetapi pemerintah harus mulai peduli. Agar pemerintah mulai peduli, orang tua harus mulai peduli juga, bersatu, bersuara dan bertindak, bukan hanya angkat tangan terus dan mengatakan “Saya hanya satu orang. Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Paling tidak ada yang berubah nanti.”
Kalau orang tua di Indonesia tidak mau berubah, bangsa ini tidak akan berubah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto



On April 18, 2012, In Catatan, By Satria Dharma
Tanpa banyak diketahui oleh masyarakat ternyata Perdana Mentri New Zealand John Key ternyata sedang berkunjung ke Indonesia selama tiga hari ini. Ada pun misinya adalah untuk mempererat hubungan kenegaraan antara New Zealand dan Indonesia. Agenda utamanya adalah mempererat kerjasama sektor peternakan, energi dan pendidikan.
Di bidang pendidikan New Zealand, yang dihuni oleh lebih banyak biri-biri ketimbang manusia itu, ingin sekali dapat menerima lebih banyak lagi mahasiswa dari Indonesia. Karena dari sisi biaya hidup dan biaya sekolahnya jauh lebih murah. Padahal menurut John Key kualitas pendidikan di Selandia Baru tidak kalah dengan pendidikan di Australia. Saat ini di Selandia Baru hanya terdapat 700 orang mahasiswa Indonesia yang belajar sedangkan yang ke ke Australia berjumlah sekitar 17.000 orang.
Terkait pemanfaatan energi terbarukan, Indonesia dan New Zealand telah menjalin kerja sama di bidang energi geothermal senilai 10,5 juta dollar New Zealand (sekitar Rp 80 miliar) untuk 5 tahun ke depan. Diperkirakan Indonesia memiliki 40 persen cadangan energi panas bumi dunia, sementara Selandia Baru memiliki keunggulan teknologi

Tapi saya tidak akan bercerita tentang hal tersebut. Ada hal yang lebih menarik bagi saya secara kemanusiaan. Sebuah berita dari New Zealand tentang kunjungan PM John Key yang tidak muncul di berita kita tapi muncul di halaman depan Koran New Zealand adalah tentang seorang warganya yang bernama Simon Donaldson, 26 tahun, yang menderita leukodystrophy dan terpaksa dirantai oleh ibunya, orang Indonesia, yang tinggal di Surabaya. Apa hubungannya…?!
Rupanya Simon Donaldson ini adalah anak dari perkawinan antara David Donaldson, seorang pebisnis warga New Zealand, dengan ibu yang berwarga Indonesia. Mereka bercerai dua puluh tahun yang lalu dan Simon tinggal dengan ibunya di Surabaya delapan tahun terakhir ini. Sedangkan ayahnya bersama saudara-saudaranya menetap di New Zealand.

Ternyata di Surabaya Simon ini menderita leukodystrophy, penyakit yang menyerang kemampuan motorik dan juga menyebabkan amnesia, sehingga kadang-kadang bertindak tanpa kontrol . Ibunya sendiri menganggap Simon ini terkena guna-guna. Dan karena dianggap bisa membahayakan dirinya dan orang lain maka Simon ini dirantai di tempat tidurnya. Hal inilah yang menyebabkan ayah dan saudaranya di New Zealand merasa sedih dan ingin membawa Simon kembali ke New Zealand untuk mendapatkan perawatan. Jika berada di New Zealand Simon tentu akan bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik. Ringaksnya mereka ingin agar Simon bisa dibawa ke New Zealand agar bisa dirawat dan disembuhkan.
Tapi nampaknya si ibu bersikeras untuk menjaga anaknya dan tidak membolehkannya untuk dibawa ke New Zealand dan akhirnya kasus ini sampai ke PM John Key. Sebagai perdana mentri maka nasib rakyatnya di luar negeri tentulah menjadi urusannya juga sehingga ketika ia ke Indonesia maka kasus ini dilontarkan. Masyarakat New Zealand ingin agar kasus Simon ini dibicarakan dengan Presiden Indonesia. Haah…?! Sampai segitunya…?!
Apa jawaban John Key ketika ditanyakan soal Simon ini?

“The young man’s obviously in need of help, the embassy here’s been working jointly with the family and the authorities to try and provide that support and help,” Mr Key said.
“He is a New Zealand citizen so he, technically and legally, is able to come back to New Zealand and get medical support, and I was with the ambassador when he raised the issue with the Indonesian Government on Sunday.”
“We are working on the issue but like all these consular issues, they’re very complex. I don’t think it’s necessary to raise it with the President. Really he’s at a different level,” Mr Key said.
“What’s important is those that can actually push this case through and give the support to this young man that he actually needs are at a different level and that was raised with those ministers on Sunday.”
Sebagai seorang Kiwi (warga NZ) Simon jelas butuh bantuan dan kedutaan NZ jelas akan mengusahakan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk membantunya agar bisa kembali ke NZ. Tapi tentu saja hal ini tidak perlu dibicarakan sampai ke Presiden Indonesia. Level pembicaraannya tentu berbeda. Tapi pemerintah New Zealand tentu saja akan melakukan berbagai upaya untuk membawa Simon berobat ke New Zealand.

Apa yang menarik dari kasus ini adalah bahwa warga dan pemerintah New Zealand begitu perduli pada nasib seorang warganya dan mereka akan melakukan segala hal yang bisa dilakukan agar bisa membantunya. Ya Tuhan…! Sementara itu puluhan TKW kita dipenggal, digantung, disetrika, dan terlunta-lunta di negara lain dan ketika kita tahu hanya bisa beristigfar, teriak-teriak sebentar, dan setelah itu lupa.
Manusia jenis apakah orang-orang New Zealand itu sehingga mereka begitu perduli pada nasib seorang warganya yang dirantai di kasurnya karena dikuatirkan mengamuk…?! Begitu haluskah hati dan perasaan mereka sehingga untuk memperjuangkan satu warganya ini mereka bahkan mendesak agar hal ini dibicarakan di tingkatan diplomasi paling tinggi, antara Perdana Mentri dan Presiden…?! Oh..alangkah mulianya hati orang-orang New Zealand itu…!
Tak salah rupanya hasil penelitian tentang negara paling Islami di dunia yang menempatkan New Zealand sebagai Negara paling islami di dunia di antara 208 negara di dunia (dengan menempatkan Indonesia di urutan ke 140).

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menobatkan Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling Islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140. Penelitian Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University ini dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010).
Saya heran ketika pertama kali mengetahui hasil penelitian ini dan bertanya-tanya bagaimana mungkin negeri Kiwi ini bisa menjadi negara paling islami di dunia. Tentu saja hasil penelitian ini didigugat, dihujat, dan dipertanyakan banyak umat islam lain yang merasa ‘terhina’ karena kalah ‘islami’ dengan warga negara Kiwi tersebut.

Tapi setelah mengetahui kasus tentang Simon Donaldson ini maka sekarang saya tahu mengapa mereka bisa menduduki peringkat pertama dalam urusan ‘paling islami’ ini. Jika warga sebuah negara benar-benar perduli pada nasib warganya yang lain sampai pada titik se’ekstrim’ itu maka tidak bisa tidak maka tentulah warga negara tersebut telah memiliki jiwa yang benar-benar islami.
Saya jadi teringat dengan sebuah partai politik transnasional yang selama ini selalu gembar-gembor ‘mengurusi umat’ padahal yang mereka kerjakan hanya berdemo, menghujat dan mencaci maki pemerintah. Alangkah jauhnya itu dengan apa yang dilakukan oleh warga NZ yang benar-benar turun dan melakukan upaya mengurusi saudaranya yang terlantar meski pun itu jauhnya hampir 8000 kilometer. Sungguh sikap yang begitu islami di mata saya.
Doa saya yang paling dalam hari ini saya panjatkan agar warga New Zealand suatu kali benar-benar akan mengenal Islam sebagai sebuah ajaran agama dan mereka berbondong-bondong memeluk Islam karena sebenarnya mereka telah berjiwa paling ‘islami’. Amin….!
Balikpapan, 18 April 2012

Rujukan :

Salam
Satria Dharma

No comments:

Post a Comment