Friday, July 13, 2007

Komentar Rencana Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)


(Isi perencanaan SBI disarikan dari buku “Sistem Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional untuk Pendidikan Dasar dan Menengah” Depdiknas, Dirjen Mandikdasmen)

Assalamu’alaikum wr.wb.,

SBI ini merupakan rencana program baru dari Diknas (atau pemerintah). Siapa itu Diknas? Baca dulu kutipan ini dari Jakarta Post:

Deputy chairman of the House of Representatives' Commission X overseeing education issues, Heri Ahmadi, said this year the government had allocated Rp 52 trillion (US$5.7 billion) for national education, Rp 44 trillion for the Education Ministry and Rp 8 trillion for the Religious Affairs Ministry.

According to the House commission's evaluation, there Rp 4.6 trillion went missing from last year's total education budget.

[Artinya: menurut analisa Komisi X DPR (Pendidikan) sebanyak Rp.4,6 Trillion hilang dari anggaran pendidikan pada tahun 2006]

Source: http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070419.H05

Intinya: SBI adalah program baru dari sebuah kaum yang “menghilangkan” (baca: MENCURI) Rp 4,6 TRILLION dari anggaran pendidikan tahun 2006.

(Tidak dijelaskan secara spesifik “hilang” di mana; apa seluruhnya di Diknas, atau di Propinsi, atau dua-duanya).

Mohon kenyataan uang yang “hilang” ini dipikirkan sambil membaca komentar di bawah ini.

Dari Penjelasan Resmi SBI:

B. PENGERTIAN

SBI adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didiknya berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia dan tarafnya internasional sehingga lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional. Rumusnya adalah :

SBI = SNP + X

SNP meliputi kompetensi,

1. lulusan

2. isi

3. proses

4. pendidik dan tenaga kependidikan

5. sarana dan prasarana

6. dana

7. pengelolaan

8. penilaian

X adalah penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, pendalaman, melalui adaptasi atau adopsi terhadap standar pendidikan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional umpamanya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, UNESCO.

Komentar saya:

Satu

“Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, UNESCO.”

Cambridge: saya kurang tahu karena belum pernah ada pengalaman. Teman mengatakan baik, tetapi saya belum memeriksa.

Toefl: Toefl yang mana yang dimaksudkan dan kenapa memilih Toefl? Kalau Toefl yang lama (Paper-Based) lebih baik pilih IELTS. (Dijelaskan lebih lengkap di bawah).

ISO: oke, standar international. Saya baru tahu ada ISO untuk sekolah.

UNESCO: Hmm. Unesco punya tujuan apa di dunia ini? Apa sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa ini? Apa sesuai dengan agama Islam (mayoritas dari penduduk)?

Dua

“Visi: Terwujudnya insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif secara internasional”

Bagi murid tertentu. Hanya buat anak yang lulus proses seleksi. Sisa dari murid (mayoritas) diabaikan.

Tiga

“MISI = Mewujudkan manusia Indonesia cerdas dan kompetitif secara internasional, yang mampu bersaing dan berkolaborasi secara global.”

Buat anak tertentu, bukan semua. Bukannya anak ini bersaing secara national juga? Mereka akan menjadi lebih pintar dari tetangga (dengan bantuan dari pemerintah) dan akan mengalakan orang lain pada saat berjuang untuk pekerjaan yang sama di dalam negeri. Berarti Pemerintah akan menentukan “siapa” yang bakalan menjadi sukses (karena anak pilihan diberikan bantuan sebanyak mungkin, dengan uang pajak anda, untuk menjadi lebih pintar dari anak tetangganya, yang juga bayar pajak).

Empat

“SBI menggunakan bahasa Inggris dan menggunakan teknologi komunikasi informasi (ICT) (p.6)”

Kualitas bahasa Inggris sebelum masuk atau ditentukan? Lewat Toefl? Toefl yang lama (Paper-Based) atau yang baru?

Jadi harus pintar bahasa sebelum masuk. Siapa bilang lulusan Toefl itu pintar menggunakan bahasa Inggris? Mayoritas dari murid Toefl saya (saat mengajar di kursus bahasa Inggris) hanya mampu masuk kelas Basic atau Intermediate kalau masuk kelas regular. Mereka hanya mengikuti Toefl untuk dapat nilai Toefl setinggi mungkin biar bisa daftar kuliah. Kemampuan menggunakan bahasa tidak bisa ditentukan lewat Paper-Based Toefl

Tujuan sekolah ini berubah dari “membuat anak pintar” menjadi “hanya menerima anak pintar yang akan menjadi lebih pintar dengan mudah setelah diajar”.

Mungkin ada anak yang akan menjadi pintar sekali dalam bahasa Inggris kalau ada kesempatan untuk belajar. Tetapi karena tidak sanggup bayar kursus di EF atau ILP, dia tidak bisa berbahasa Inggris saat ini, dan karena itu akan ditolak masuk program SBI ini.

Lima

“STANDAR OUTPUT = Lulusan SBI memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir yang canggih serta kemampuan berkomunikasi secara global. Mampu menerapkan nilai-nilai (religi, ekonomi, seni, solidaritas, dan teknologi mutakhir dan canggih), norma-norma dan etika global untuk bekerja sama lintas budaya dan bangsa.”

Nilai2 global = nilai religi global, nilai ekonomi global, nilai seni global, norma2 global, etika global untuk bekerja “lintas budaya dan bangsa”

Contoh:

Nilai religi global: semua agama sama. Kalau anak mau pindah agama dari Islam menjad Kristen, tidak boleh dikritik atau dicegah. Hak dia. Orang tua harus terima! Kalau tidak, melanggar HAM anak.

Nilai ekonomi global: kapitalisme di atas segala2nya. Kalau pabrik rugi sedikit, dan harus mem-PHK ribuan orang untuk menjaga profit share bagi investor, lakukan saja. Tidak usah memikirkan dampak sosial. Itu urusan orang lain.

Globalization adalah benar, dan semua pasar harus terbuka. (Tetapi jangan coba menjual ke Amerika Serikat. Hanya sebagian dari pasarnya terbuka, sisanya masih dilindungi dari persaingan international (misalnya, agriculture, steel, textile, pharmaceuticals, car manufacturing, dll.). Intinya, semua negara, selain dari yang berkuasa, harus membuka pasarnya untuk perdagangan bebas. Sosialisme atau kepedulian sosial bukan bagian dari ekonomi.

Nilai seni global: telanjang bulat (kaya Anjasmara menjadi Nabi Adam AS.) adalah seni. Tidak boleh dikritik. Fotografer Spencer Tunik membuat foto dengan ratusan sampai ribuan orang telanjang bulat di tempat umum (seperti taman kota) di berbagai negara. (Gallery: http://www.i-20.com/artist.php?artist_id=19 ). Ini adalah seni. Jangan mengritik! Anak anda akan belajar tentang nilai seni global ini dan barangkali akan mengundang Spencer ke Jakarta.

Norma2 global: Bercerai, normal. Hidup dengan “pasangan” dan membesarkan anak tanpa harus menikah, normal. Mencoba sedikit narcoba, normal. Minum alcohol (tidak sampai mabuk), normal. Punya banyak teman yang homo, normal. Menjadi Pekerja Seks Komersial, normal (bahkan di Australia membayar pajak!). Menjadi donor sperma, normal. Aborsi, normal. (Di beberapa negara, bila anak remaja ingin lakukan aborsi, dokter wajib layani dan dilarang memberitahu orang tua dari anak itu). Tidak peduli pada orang tua, normal.

Etika global: Ketika anda memimpin delegasi AS ke Cina untuk membuat Perjanjian Perdanganan, jangan membahas Pelanggaran HAM. Ketika ada keributan di Papua, menegor Indonesia tentang HAM (karena perdagangan Indonesia dengan AS tidak begitu penting). Membunuh satu orang Amerika merupakan tindakan kriminal terbesar di dunia. Menjatuhkan bom di atas sebuah kota dan membunuh 600.000 orang yang tidak berdosa, tidak menjadi soal. Dan jumlah orang yang dibunuh AS tidak perlu dihitung secara terinci (perkiraan saja juga tidak perlu diterima). Yang penting, jangan sampai manusia terbaik di dunia ini (warga AS) diancam, diculik, disiksa, atau dibunuh. Kalau warga negara lain, no problem. Kalau AS menyiksa tahanan, disebut “interogasi”. Bila negara lain melakukannya, disebut “penyiksaan”. Bila AS menahan orang tanpa disidang untuk bertahun-tahun, mereka adalah “enemy combatant”. Bila negara lain melakukannya, mereka adalah “tahanan politik” yang harus segera dibebaskan.

Tujuan? Apa tujuannya kerukunan, kesamaan, dan sikap pluralisme dan liberalisme di seluruh dunia? Negara anda dan nilai-nilai budaya anda tidak lebih benar dari yang lain. Semuanya sama-sama benar. Tetapi yang sesungguhnya “benar” adalah apa yang sudah ditentukan dan menjadi biasa di bangsa2 barat (mantan penjajah dan pengusasa dunia) dan anda harus ikut mendukung apa saja yang sudah ditentukan sebagai “kebenaran”. Kalau anda berbeda pendapat, maka anda harus belajar lebih banyak supaya bisa rukun (baca: nurut).

Apakah semua ini termasuk yang diinginkan buat anak Indonesia? Setelah diajarkan “norma-norma global” ini, bukannya mereka akan mulai bersikap seperti orang barat yang sekuler dan kafir?

Enam

“STANDAR PROSES = A) Pro-perubahan, B) Menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan eksperimentasi”

Dalam semua bidang? Temasuk agama? Bahasa?

Tujuh

“STANDAR INPUT: A) INTAKE = diseleksi ketat, memiliki potensi kecerdasan unggul, yang ditunjukkan oleh kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dan berbakat luar biasa”

Deseleksi ketat? Apakah ini supaya mudah berhasil? Kalau dimulai dengan anak yang paling pintar di seluruh nusantara, lalu anak itu berhasil, apakah karena program SBI atau apakah karena mereka akan berhasil dengan sekolah apapun?

Siapa yang bisa menentukan anak yang “memiliki potensi kecerdasan unggul” secara massal dan cepat? Dari mana ketahuan memilki potensi ini? Ditentukan dengan tes apa? Kalau ada anak yang agak bego saat dites, tapi setelah dididik menjadi pintar sekali, bagaimana? Kenapa dia tidak berhak dididik dengan sebaik mungkin juga?

Pengalaman Pribadi Teman Saya: Ada seorang teman yang kumpulkan teman2nya untuk santuni beberapa anak. Ibu2 itu dengan sengaja mengambil anak yang nilainya kurang bagus (karena biasannya orang memilih anak yang nilainya tinggi, sehingga yang lain tidak mendapat kesempatan). Setelah disantuni beberapa bulan, nilai semua anak itu meningkat. Ternyata, nilai tes mereka selalu rendah karena mereka jualan setelah sekolah, tidak punya buku atau pensil di rumah dsb. Setelah mendapat bantuan nyata, mereka bisa belajar dengan benar di rumah juga dan nilai mereka meningkat.

SBI hanya memilih anak yang “memiliki potensi kecerdasan unggul”!!! Yang lain, biarkan saja!


Delapan

INSTRUMENTAL INPUT: A) Kurikulum Plus X, B) Guru memiliki kompetensi professional (penguasaan mata pelajaran), pedagogic, kepribadian dan social bertaraf internasional yang ditunjukkan oleh penguasaan bahasa Inggris. Mampu menggunakan ICT mutakhir dan canggih (laptop, LCD, dan VCD).

Dapat guru hebat ini dari mana? Dibutuhkan ribuan dalam waktu singkat. Profesional = menguasaikan mata pelajaran sesuai dengan standar internasional. Apa ada ribuan guru seperti itu sekarang? Atau perlu dilatih? Oleh siapa? Di mana? Untuk berapa lama? Dan apakah guru ini akan digaji selama mengikuti latihan?

Kepribadian dan social bertaraf internasional? Kata Jusuf Kalla, guru Indonesia tidak dapat dipercayai karena mereka akan luluskan semua anak. Berarti etika profesional mereka rusak. Siapa yang akan memperbaikinya?

Bahasa Inggris? Siapa yang akan melatihkan guru ini untuk 1-2 tahun sehingga sanggup mengajar dalam bahasa Inggris? Dibutuhkan ratusan trainer untuk mengajar para guru bahasa Inggris. Di mana ratusan trainer itu?

Sembilan

Catatan : Pada lampiran 2 Standar guru SBI haruslah mampu mengajar dalam bahasa Inggris secara efektif (TOEFL > 500, Kepala Sekolah TOEFL >500, Pustakawan TOEFL > 450, Laboran TOEFL > 400, Kepala TU harus S-1 dan TOEFL> 450

Toefl yang mana yang dimaksudkan? Yang disebut “Institutional Test” atau “Paper-Based Test” yang lama? Bentuknya, ada tiga ujian dan semuanya multiple choice. Orang yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik (tingkat Basic 2 – Basic 3) bisa mendapat 500-550 di tes ini. Sebagai mantan guru Toefl, tugas saya bukan untuk mengajarkan bahasa Inggris akademik, melainkan mengajarkan trik-triknya supaya murid yang awam bisa mendapat nilai 500 untuk daftar kuliah di UI dll.

Atau tes yang baru yang dimaksudkan: IBT (Internet Based Test) yang dikerjakan online? Ini jauh lebih sulit daripada yang paper based. Waktu saya mengikuti training untuk mengenal tes baru ini, kami (para guru Toefl) berdebat selama 20 minit untuk menjawab satu pertanyaan karena begitu sulit. Kalau kemampuan para guru tidak advanced (mendekati Native Speaker), akan sulit sekali untuk lulus IBT dengan nilai yang tinggi. Akan dibutuhkan waktu 1-2 tahun persiapan untuk lulus dari ujian ini.

Sepuluh

“Lab.Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa, dan IPS”

Lab Bahasa ketinggalan zaman. Tidak ada yang gunakan di sekolah Australia dan Selandia Baru. Setahu saya, lebih banyak negara yang tidak menggunakannya lagi daripada yang menggunakannya. Lab bahasa terlalu terbatas dan bagi anak sekolah, jauh lebih bermanfaat menggunkan pelajaran bahasa yang komunikatif dengan kerja kelompok, berpasangan, diskusi, berdebat, dsb.

Sebelas

“KEBIJAKAN PENGEMBANGAN: 1. Ekualitas dan aksesibilitas : Siswa miskin tapi pandai harus diterima dengan subsidi silang”

Ekualitas buat yang sangat pintar saja. Yang dianggap pintar biasa saja (karena jualan koran sampai jam 10 malam biar ada uang sekolah) tidak mendapat kesempatan. Ini ekualitas apa?

Duabelas

“1) SBI meningkatkan mutu input, proses, dan outputnya, 2)Tatakelola yang baik (good governance) : partisipatif, transparan, akuntabel, professional, demokratis, tanggungjawab, layanan prima, tidak KKN, ada kepastian hukum, ada kepastian jaminan mutu”

Ini sebelum atau sesudah ada petugas pemerintah yang “menghilangkan” sebgaian dari dananya untuk kepentingan sendiri? Ingat yang ditulis di paling atas: SBI adalah program baru dari sebuah kaum yang “menghilangkan” (baca: MENCURI) Rp 4,6 TRILLION dari anggaran pendidikan tahun 2006!!!

Tetapi karena dana masuk program SBI (daripada umum), tidak akan hilang? Semua orang di Diknas dan Propinsi sudah bertaubat dan tidak akan “merampok” anak SBI demi kepentingan diri sendiri? Hanya anak di Sekolah Negeri biasa yang akan “dirampok” terus setiap tahun?

(Malu deh kalau uang untuk beli laptop bagi anak SBI diselewengkan. Kalau uang untuk atap kelas baru di SDN, no problem deh!)

Tigabelas

STRATEGI IMPLEMENTASI: Pelaksanaan SBI harus dimulai dari kondisi nyata di Indonesia..

Maksudnya? Harus dimulai dari gedung yang atapnya runtuh, lapangan rusak berat, tembok banyak retak, tidak ada perpustakaan di sekolah, guru sering bolos karena punya 2 pekerjaan lain supaya bisa mendapat nafkah hidup yang cukup, dan seterusnya. Inilah “kondisi nyata” yang dimaksudkan?

Berarti harus ada berbagai macam proyek untuk memperbaiki semuanya. Atau hanya sekolah yang sudah dalam kondisi bagus yang akan digunakan? Sekolah yang seperti di atas, biarkan saja dalam keadaan rusak?

Empatbelas

Perintisan SBI harus berdasarkan pada data-data actual dan factual.

Siapa yang akan mengumpulkan data-data ini? Orang yang sama yang menghilangkan 4,6 TRILLION dari anggaran pendidikan tahun 2006? Tetapi sekarang mereka akan mampu mengumpulkan data yang akurat? Apalagi kalau data itu menunjukkan bahwa program mereka gagal dan ada dana yang “hilang”? Tiba-tiba mereka akan menjadi orang yang bisa menghitung secara akurat dan jujur? Tetapi penggunaan dana anggaran tahun 2006 tidak bisa dihitung secara akurat?

Limabelas

STRATEGI PEMBIAYAAN

  • Pemerintah Pusat = 50 %
  • Pemerintah Propinsi = 30 %
  • Pemerintah Kota/Kab. = 20 %

Ini secara teoretis. Yang akhirnya masuk ke sekolah berapa persen? Tinggal sisanya setelah sebagian menjadi “hilang”.

Enambelas

Bagi SBI swasta, biaya pendidikan ditanggung oleh masyarakat dan yayasan pendiri sekolah tersebut. Subsidi pemerintah dapat diberikan atas dasar persyaratan tertentu.

Sekolah swasta akan menerima uang pajak kita? Jadi kalau saya seorang sopir mikrolet, termasuk kaum yang tidak mampu, uang pajak saya diambil dan diberikan pada sebuah sekolah swasta biar anak orang kaya bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik lagi? Dan di SDN anak saya, atap yang hampir runtuh dibiarkan saja. Hanya SBI dan SBI Swasta yang diperhatikan? Lebih baik saya tidak membayar pajak daripada uang saya diberikan ke sekolah swasta!

KESIMPULAN

Rencana Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) ini adalah sebuah rencana yang kelihatannya dibuat sepihak saja, tanpa konsultasi, tanpa berfikir terlalu dalam tentang dampaknya, sebuah rencana yang tidak relevan, tidak dibutuhkan, tidak adil, and hanya menguntungkan sebagian anak (minoritas) dan mengabaikan yang lain (mayoritas), tetapi menggunakan uang pajak kita.

(Saya jadi ingat Busway dari Gubunur Sutiyoso yang dibuat secara buru-buru dengan ciri-ciri perencanaan yang sama, dan sekarang terancam berhenti karena bankrut!)

Saya melihat ada banyak kesempatan untuk orang yang telah “menghilangkan” 4,6 TRILLION rupiah dari anggaran pendidikan tahun 2006 untuk membuat macam-macam proyek baru dengan segala bentuk “mark-up” dan komisi yang akan menguntungkan mereka. Akan ada proyek beli laptop, proyek renovasi gedung sekolah, proyek beli buku, proyek beli perlengkapan belajar (meja, kursi, dll.), proyek melatihkan guru, proyek kesejahteraan guru, proyek asuransi, dan banyak proyek baru yang lain. Apakah semuanya akan dijalankan dengan cara yang benar dan terbuka?

Apakah rencana SBI ini akan membuat sebuah kaum elit, yang terdiri dari anak yang mendapat kesempatan masuk SBI, menjadi sukses dan menjadi orang yang paling kaya dan berkuasa di negara ini? Dan semua itu dikerjakan dengan uang pajak kita? Anak anda belum tentu diterima. Dan setelah dia lulus dari sekolah biasa dengan nilai biasa, dia akan mencari pekerjaan dan langsung bersaing dengan anak tetangga anda yang dibuat lebih pintar oleh pemerintah karena dia diterima di SBI. Pada saat para employer melihat anak dari sekolah biasa dan anak dari SBI melamar untuk pekerjaan yang sama, kira-kira yang mana yang akan diterima?

Uang pajak anda menciptakan masa depan dan kemungkinan besar akan sukses bagi anak orang lain, sedangkan anak anda dibiarkan saja menderita dalam sekolah negeri biasa dengan atap kelas yang hampir ambruk.

Kemudian, apakah anak ini yang lulus dari SBI menjadi mirip sekali dengan orang barat? Apakah mereka akan lebih senang berbincang dalam bahasa Inggris dan meremehkan atau anggap bodoh orang yang tidak bisa berbahasa Inggris (seperti neneknya)? Apakah mereka akan sanggup kuliah dalam bahasa Indonesia?

Apakah anak SBI ini menjadi mirip dengan orang barat? Apakah mereka akan tinggalkan nilai-nilai agama dan budaya yang diajarkan orang tua dan menggantikannya dengan nilai-nilai “universal” yang didapatkan di sekolah (yang telah direstui Unesco dll.)? Kira-kira berapa banyak dari anak ini akan murtad atau pindah agama? Apakah tidak perlu dipikirkan? Apakah tidak perlu kuatir? Siapa yang melakukan analisa terhadap masa depan anak ini? Dan siapa yang akan melindungi mereka dari kerusakan budaya negara barat yang sekuler?

Singkatnya, rencana SBI ini adalah sebuah rencana yang sudah mengandung unsur-unsur yang bisa merusak agama dan budaya anak bangsa ini, dan membelah anak bangsa menjadi kaum elit dan kaum biasa.

Apakah ini yang dinginkan orang tua?

Pajak anda yang akan digunakan!

Semoga bermanfaat,

Wallahu a’lam bish-shawab

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

7 comments:

  1. Assalammu'alaikum,

    Terimakasih Gene atas informasi tentang Rencana SBI ini. Ternyata telah "separah" inikah kondisinya. Saya banyak belajar dari Anda dan para guru lainnya di milis SD Islam krn saya telah absen dr dunia pendidikan Indonesia selama 11 th terakhir. Saya akan baca link2 lainnya di situs Anda untuk tahu lebih dalam permasalahannya. Sekali lagi terimakasih.
    Julivanie Aspinall
    Montessori and English Teacher
    Whitehorse, Yukon, Canada.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas informasi yang sangat bermanfaat ini.

    ReplyDelete
  3. Hi Gene,

    Sori baru kasih komen soalnya baru liat2 blok anda. Komentar anda sangat baik untuk pendidikan di Negeri ini. Namun kebanyakan anak2 negeri ini mungkin masih menyimpan mental nenek moyang kita sebagai bangsa yang terjajah. Maka tidak heran kalo para pelaksana pendidikan mungkin masih memiliki mental seperti itu. Dan Proyek SBI ini sepertinya lebih mengarah kepada pengkaderan untuk dijadikan wakil2 rakyat atau alat negara yang pandai berargumentasi di dalam negeri tapi kalo di forum international berargumentasi kosong (alias jadi penurut bangsa2 penjajah). Jadi wajarlah apabila penyaringan anak2 negeri ini disaring sedemikian rupa sehingga bisa dipakaikan kaca mata kuda untuk mereka semua. Saya jadi berpikir 10000000000 kali untuk menyerahkan anak saya sendiri kepada sistem pendidikan di negeri ini.

    ReplyDelete
  4. Yang punya mentalitas bekas penjajahan itu orang dewasa bukan anak kecil. Anak tidak mungkin punya mentalitas apa pun karena mereka polos. Justru dengan guru dan pemerintah yang tidak benar, pikiran anak itu terbentuk, dan orang tua tidak bisa bantu untuk melawannya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan atau karena tidak tahu caranya.
    Kalau bangsa ini mau maju, semuanya kembali ke sistem pendidikan yang bermutu untuk puluhan juta anak yang pikirannya bisa dibuat maju atau mundur. Kita yang membentuk pikiran mereka. Jadi kita seharusnya menginginkan yang terbaik bagi mereka. Kalau anda tidak serahkan anak pada sistem pendidikan di negeri ini, solusinya apa? Swasta? Siapa bilang lebih baik dari negeri? Dari pengalaman saya, fasilitas yang lebih baik (karena bayarnya lebih mahal) dan sebagian guru lebih baik. Tetapi tidak semua, dan belum tentu kurikulum dan managemen sekolah lebih baik. Jadi?
    Menurut saya, solusi hanyalah “revolusi sistem pendidikan” dan kalau orang tua tidak menuntut, tidak akan terjadi.

    ReplyDelete
  5. Kami ada penyelenggara pelatihan sekolah2 RSBI di Jakarta, 90% sekolah RSBI di Jakarta adalah klien kami. Silahkan kunjungi website kami

    www.flash-english.com

    Anda bisa melihat video2 hasil pelatihan kami yang menunjukkan keberhasilan guru muda dan tua dalam mengajar menggunakan bahasa Inggris.

    Jangan lagi menunda.

    ReplyDelete
  6. Baca artikel panjangnya sambil tahan nafas, pas selese dada jadi sesak.

    Sangat complicated dan yang pasti depressing. Hm...loooooong loooooong way to make a change.

    Kita bikin cloning mr. gene, cukup 10% dari total populasi warga indo, dan ditempatkan diberbagai daerah, dari sabang sampe merauke, dengan mission almost impossible utk membuka wawasan dan kesadaran untuk menuju kualitas pendidikan indonesia yang berpihak kepada perbaikan kualitas murid anak bangsa.

    ReplyDelete
  7. Bagi saya yang tinggal di daerah, jangankan bertaraf internasional, bertaraf nasional saja masih jauh panggang dari api. Misalnya, kondisi perpustakaan pada sekolah yang telah memproklamirkan diri sebagai SBI, sangat memprihatinkan, terutama koleksi, manajemen, pelayanan, tenaga pengelola serta asfek-asfek lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan perpustakaan, pada umumnya tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan dalam SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk perpustakaan sekolah. Bagaimana mungkin bisa bertaraf internasional kalau sarana/prasarana saja, seperti perpustakaan, kondisinya di bawah SNI?

    ReplyDelete