[Komentar]: Di SMP saya dulu, tahun 1981, Kepala Sekolahnya memutar cincinnya dulu kalau mau menempeleng muridnya. Kalau ada muridnya berkelahi, dikasih sarung tinju, dan diadu tinju sampai kecapekan. Habis itu disuruh berdamai. Tiap reuni kami ketawaan mengingat masa2 itu dan berterima kasih dididik dengan cara spartan seperti itu. Gak peduli dibilang kejam dan brutal.
[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Mohon maaf pak, tetapi ada masalah dengan pola pikir itu. Kita tidak bisa ambil dua versi dari anak yang sama (misalnya 2 anak kembar), lalu satu dihajar terus di sekolah, dan satu lagi dikasih motivasi dan semangat, dan tidak pernah alami kekerasan. Lalu setelah 5, 10, dan 20 tahun, kita cek lagi dan membuat analisis.
Seorang bapak bilang “Saya dulu dihajar terus dan saya sukses! Hajar anak bukan masalah!” Coba kita kaji lebih dalam. Kalau 1.000 anak dihajar, lalu 300 berkumpul saat reuni dan merasa “sukses”, bagaimana dengan 700 orang yang lain? Apa kondisi hidup mereka diketahui? Sukses juga?
Lalu kita lihat, dari 1.000 anak itu, berapa persen yang bercerai, selingkuh, kecanduan narkoba, hajar anak dan istri di rumah, sering pindah kerja, merasa depresi, berada di penjara, atau bunuh diri? Dan apa persentase dalam semua hal itu setara dengan rakyat secara umum? Dari penelitian seperti itu, baru kita bisa dapat gambaran. Secara umum, manusia selalu fokus pada yang baik dan berhasil. Contohnya, anak lulus pesantren sebagai hafiz Quran dan menjadi pejabat. Pasti dipamerkan terus. Orang lain, yang ditangkap polisi, akan disembunyikan. Orang lain yang menjadi kecanduan narkoba dan tewas tidak akan dibahas. Dan kondisi mereka itu tidak akan dikaitkan dengan pengalamannya pada waktu kecil.
Jadi kalau bapak dulu dihajar dan sekarang merasa “sukses”, dan berikan nilai keberhasilan sebagai 8/10 dalam kehidupan, bagaimana kalau saya bilang pengukuran yang sebenarnya BUKAN 1-10 saja, tetapi malah bisa jadi 1-100? Hanya saja, bapak tidak sadar ada penghitungan sampai 100 itu. Dianggap 10 sudah tinggi dan 8/10 sudah sangat bagus sekali. Tetapi kalau seandainya dihitung dari 100, maka 8/100 sangat rendah (walaupun memuaskan). Artinya, coba berpikir tentang APA yang seandainya bisa dicapai kalau bapak tidak pernah dihajar dulu dan malah dikasih motivasi? Apa hasilnya akan sama saja? Atau jauh lebih besar?
Pernah ada guru yang berdebat dengan saya. Seorang mantan murid berterima kasih, dulu sering dihajar, dan sekarang berhasil sebagai polisi. Dia memukul tersangka dan memaksa mereka mengaku. Karena banyak tersangka mengaku, polisi itu dapat prestasi. Guru tersebut ikut bangga. Saya jelaskan masalahnya, tetapi guru itu tidak mau peduli. Katanya, orang yang tidak bersalah tidak mungkin mengaku. Pasti itu kriminal dan “dibantu” mengaku. Baik guru itu, maupun muridnya, merasa dalam kebenaran, dan tidak ingin melihat dari sisi tersangka yang takut dibunuh jadi mengaku, walaupun tidak bersalah.
Ini hanya satu contoh dari berbagai macam masalah yang bisa muncul kalau anak dididik dengan kekerasan. Sudah ada data dari penelitian di seluruh dunia. Hasilnya dari kekerasan itu buruk terus, untuk BANYAK anak (tidak semuanya). Ada banyak yang alami efek yang luas di usia dewasa seperti menjadi depresi, pakai narkoba, DO dari sekolah atau universitas, selingkuh, sering cerai, bunuh diri, dll. Ada pengaruh dari pola pendidikan masa kecil. Tetapi kebanyakan orang tua tidak belajar tentang psikologi pendidikan, jadi tidak tahu. Dan banyak guru di sini juga tidak mau tahu.
Memukul anak BUKAN cara yang benar untuk mendidik anak. Kalau memang benar, dijamin ada matakuliah di Fakultas Pendidikan berjudul, “Tata Cara Hajar Anak Demi Hasil Pendidikan Yang Baik: 4 SKS.” Ternyata, tidak ada, di seluruh dunia!!! Coba berpikir kenapa!
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto
Search This Blog
Labels
Popular Posts
-
Memukul Murid adalah Pelanggaran Profesi Guru Assalamu’alaikum wr.wb., Ada banyak guru yang setuju dengan kebiasaan memukul d...
-
Sebelas anak, usia 4 sampai 11 tahun, diiming-iming ikan cupang. Lalu disodomi oleh seorang pemuda usia 19 tahun. Itu sudah merupakan suatu ...
-
Assalamu'alaikum wr.wb. Kemarin saya sibuk ketemu orang bule yang masuk Islam karena mau menikah dengan wanita Indonesia. Saya diberi...
-
[Ini adalah penjelasan tambahan dari saya di group pendidikan. Kaitannya dengan post ini: Komentar Tentang Rambut Gondrong Siswa . ...
-
Assalamu’alaikum wr.wb. This is the First Chapter of my book “Searching for God and Finding Allah”. I hope you find it useful. Wassalamu’ala...
-
Oleh Dr. Yusuf Qardhawi Setiap yang keluar dari tubuh manusia – karena melihat pemandangan-pemandangan yang merangsang...
-
[Pertanyaan]: 1) Saya mau nanya nih, saya pernah melakukan onani setelah berbuka puasa. Apakah puasa saya pd hari itu di terima? 2) Saya per...
-
[Komentar]: Menurut saya, kekerasan boleh kalau masih dalam koridor mendidik. Murid jadi takut, termotivasi belajar, dan hormati gurunya. Za...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Seperti biasa, ini kisah rekayasa, dengan menggunakan nama orang yang benar. Prof. Fidelma O'Leary mema...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ada seorang isteri yang bertanya apa benar bahwa dia mesti “taat pada suami” walaupun suaminya ketahuan ber...
27 January, 2026
Tidak Sah Kalau Bilang “Saya Dulu Dipukul Di Sekolah Dan Sukses Sebagai Dewasa”
17 December, 2025
Dakwah Berhasil Dengan Remaja Muslim Yang Mau Murtad
Assalamu’alaikum wr.wb. Dua hari yang lalu saya diskusi dengan seorang anak laki-laki yang merasa ragu terhadap kebenaran Islam, dan juga tidak salat selama beberapa tahun. Dia telah diskusi dengan teman Kristen, dan ingin mendalami agama lain karena berpikir mungkin lebih bahagia kalau tinggalkan Islam. Alhamdulillah, dia masih bersedia diskusi dengan saya ketika ibunya memberi saran.
Kami diskusi selama hampir tiga jam. Saya jelaskan tentang agama Kristen, Alkitab, Yahudi, Taurat, Hindu, Buddha, Nirwana, dll. Ternyata, dia baru tahu sedikit, dan juga kurang paham ajaran Islam. Saya jelaskan, dalam semua kasus ada anak Muslim yang mau murtad, selalu ada pola yang sama. Saya sebutkan contohnya, lalu dia senyum lebar dan bilang, “Kok sepertinya membahas saya?!”
Sama seperti banyak orang lain yang ingin murtad, dia benci bapaknya. Banyak anak seperti itu tidak ingin memahami Islam, dan hanya ingin Islam disalahkan. Yang dipikirkan, kalau bapaknya jelek, tidak mungkin Islam benar! Kalau Islam benar, bapaknya akan ikuti ajaran Islam dan menjadi baik. Ternyata tidak begitu, jadi Islam yang harus disalahkan!
Saya menjelaskan ajaran Islam kepadanya dengan landasan logika, dan kami diskusi secara baik. Ternyata, dia juga termasuk anak yang memang mencari jawaban, dan sangat senang bisa memahami Islam dan kehidupannya lewat lensa logika. Dia mengaku sudah 5 tahun tidak shalat, dan tidak pernah berdoa atau minta apapun dari Allah.
Saya berikan perumpamaan. Kalau saya memberikan nomor HP presiden, dan saya berkata, “Presiden sangat bangga dengan kamu, dan inginkan kamu menjadi bahagia dan sukses. Jadi, kalau kamu perlu bantuan apa pun, pakai nomor ini, hubungi presiden, dan tinggalkan pesan suara. Presiden tidak bisa bicara dengan kamu, tetapi dia akan dengarkan pesan kamu, dan akan berusaha memberikan yang kamu minta.”
Kemudian saya bertanya, maukah kamu pakai nomor itu? Dia ketawa dan menjawab, Iya, tentu saja!!!!! Saya berkata, kamu bisa hubungi Tuhan Yang Maha Esa setiap hari, tinggalkan pesan, dan minta apa saja. Jadi, daripada telfon presiden, kenapa tidak “telfon Allah”? Dia jauh lebih berkuasa, dan satu-satunya orang yang menghalangi kamu dari hubungi Allah setiap hari adalah kamu sendiri!!
Dia ketawa dan langsung paham. Malam itu, ibunya memberi tahu saya bahwa dia langsung berubah setelah bicara dengan saya, menjadi lebih bahagia dan positif, dan ingin mulai belajar Islam lagi. Satu hari kemudian, anak itu kirim pesan kepada saya dan bilang dia mau pergi ke masjid untuk shalat. Saya kaget. Tidak menyangka dia akan berubah secepat itu. Alhamdulillah. Dia sudah berdoa (sesuai arahan saya), dan minta diberi petunjuk, minta dibuat yakin, dan minta bantuan dari Allah untuk berubah dan menjadi semangat shalat dan sering berdoa kepada Allah. Alhamdulillah, dalam 1 hari saja, doanya anak itu sudah dikabulkan. (Dan doanya saya dan ibunya juga!)
Saya jelaskan kepadanya bahwa itu cara termudah untuk mendapatkan BUKTI bahwa Allah selalu mendengarkan kita, yaitu minta kepada kepada-Nya sebanyak mungkin dan harus yakin bahwa Allah akan dengarkan kita. Semakin banyak yang kita minta, semakin banyak yang kita dapatkan. Alhamdulillah dia bisa langsung paham, dan tidak ingin tinggalkan Islam lagi.
Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

