Monday, December 31, 2007

Membuat Anak Senang Membaca

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ada seorang ibu bertanya kepada saya bagaimana bisa membuat anaknya mencintai buku, sedangkan dia sendiri jarang membaca karena menjadi ngantuk. Dan dia juga kuatir bahwa anak akan sobek halaman buku kalau dibelikan, jadi dia ragu-ragu untuk beli buku. Berikut adalah jawaban saya. Semoga bermanfaat.

Buat orang tua yang ingin membuat anaknya rajin membaca buku, dan juga mencintai buku, maka tidak ada cara selain anak itu harus diajak membaca buku. Jangan takut buku akan dirusak. Hal itu sangat mudah diatasi (dijelaskan sebentar lagi).

Pertama, beli satu buku dulu, dan baca bersama dengan anak. Jangan sekedar membaca tetapi juga bertanya2 tentang gambar2 yang ada hal2 menarik di dalamnya (Ada berapa semut di sini? Di mana selimutnya? Mobilnya warna apa? dsb.) Dengan demikian, membaca buku menjadi kegiatan interaktif bagi anak, sekaligus mereka bisa menikmati waktu khusus untuk bergaul dengan orang tuanya (atau abang/kakak/ Om/Tante/ Kakek/Nenek, dsb.).

Waktu yang baik adalah pada saat anak mau tidur malam atau tidur siang. Nanti akan menjadi kebiasaan, dan juga merupakan waktu penting yang bisa digunakan orang tua untuk bergaul dengan anak. Kalau baca buku pada jam 9 malam sebelum tidur, maka tidak apa2 kalau menjadi ngantuk. Kalau sudah dikerjakan untuk 2 minggu, nanti Insya Allah menjadi kebiasaan dan anak bakalan minta terus, jadi orang tua harus siap membuat rutinitas baru ini.

Biarkan anak memilih buku yang ingin dibacakan (kalau sudah ada beberapa). Anak senang kalau cerita yang sama diulang berkali-kali sampai dia menghafalkannya. (Saya pernah dipukul keponakan karena untuk menyingkat waktu, saya loncat dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir di dalam halaman pertama, tanpa tahu cerita sudah dihafalakan oleh dia. Umurnya anak itu 3 tahun, dan dia tahu kalau satu kalimat tidak dibaca, dan menjadi marah. Ceritanya harus sama terus!)

Kalau sudah selesai baca buku untuk pertama kali, sekarang saatnya untuk membuat perjanjian sama anak. Setelah baca buku pertama, bertanya kalau anak suka. Dia pasti bilang iya. Bertanya kalau mau dibelikan lagi. Dia pasti bilang iya.

Bikin janji: “Ibu janji untuk beli buku lagi, tetapi hanya kalau semua buku dijaga dan tidak disobek!” Jelaskan bahwa buku mahal, dan kalau disobek, maka uang Ibu habis dengan sia-sia. Kalau uang Ibu habis, tidak bisa belikan buku lagi karena harus menghemat uang untuk beli susu, dsb. Jadi kalau buku dipelihara dengan baik, Ibu akan belikan buku terus.

Jadi, sekarang anak harus memilih sendiri: mau jaga buku supaya dapat lagi, atau tidak? Mendorong anak untuk mengulangi perjanjian sama Ibu, supaya dia menjadi hafal. Dan percapakan yang sama perlu diulang beberapa kali dalam satu minggu sebelum dibelikan buku lagi. Ini untuk tekankan bagi anak bahwa peraturan sudah jelas, dan dibuat dengan persetujuan anak. Jadi, kalau anak tidak dibelikan buku lagi (karen buku pertama disobek), maka itu konsekuensi daripada perbuatan anak sendiri dan merupakan “pilihan dia”.
Ibu: “Kalau buku disobek..?

Anak: “…tidak dibelikan lagi.”
Ibu: “Tetapi kalau buku dijaga baik-baik…?”
Anak: “…akan dibelikan lagi.”
Ibu: “Kamu mau yang mana? Pilih sendiri ya!”

Anak kecil sangat egois dan pasti memilih yang terbaik bagi dirinya. Kalau dia tahu bisa dapat lagi dengan menjaga buku pertama, dia pasti akan berusaha menjaganya (tetapi belum tentu langsung bisa, tergantung umurnya, jadi Ibu harus bersabar dan siap coba lagi kalau gagal pertama kalinya).

Kalau sudah lewat beberapa hari dan buku masih dijaga, belikan lagi. (Yang gampang adalah beli 5-10 sekaligus, dan simpan di lemari/kantor. Bagikan satu per satu selama berapa minggu/bulan. Satu minggu, satu atau dua buku tidak terlalu berat untuk kebanyakan orang tua, dengan harga buku sekitar 20.000.)

Sekarang masuk fase pelajaran, di mana anak sedang belajar untuk menjaga suatu barang. Kalau skil ini belum pernah diajarkan orang tua sebelumnya, wajarlah kalau sebagaian anak tidak bisa langsung berhasil. Tetapi jangan sampai gagal satu kali lalu Ibu langsung berhenti. Ibarat anak belajar naik sepeda; kalau dia jatuh pertama kali apakah wajar kalau sepedanya diambil dan tidak pernah ditawarkan lagi, atau apakah lebih wajar kalau anak dibantu untuk bercoba lagi?

Jadi, orang tua juga harus flexibel. Jangan samapi ada satu halaman sobek sedikit pada saat lagi main (mungkin tidak sengaja, atau disobek adik yang masih kecil), lalu Ibu langsung marah dan menolak beli buku lagi. Jangan begitu. Anak tidak akan merasa bersalah, tetapi disalahkan oleh Ibu, dan penyediaan buku yang sangat dihargai anak menjadi putus. Anak bakalan menjadi marah atau kesal. Jadi, kalau satu buku disobek, jangan berikan buku lagi untuk dua minggu, tetapi setiap hari bicara sama anak tentang buku dan bagaimana caranya memelihara buku. Misalnya, setelah membaca, taruh di lemari/rak buku, dan jangan tinggalkan di kasur. Kalau anak sudah kelihatan berusaha menjaga buku lagi, kembali berikan secara rutin.

Ibu harus ingat bahwa anak tetap anak, dan sangat mustahil bahwa seorang anak bisa bertanggungjawab penuh terhadap koleksi buku tanpa terjadi masalah. (Orang dewasapun banyak yang tidak bisa menjaga amanah, jadi jangan bersikap terlalu keras terahadap anak yang belum bisa).

Insya Allah dengan demikian, anak belajar bertanggungjawab terhadap barang miliknya, jadi senang membaca (terutama kalau baca selalu berserta orang tua setiap malam sebelum tidur), anak juga mendapatkan nikmat cerita yang mengajarkan moral, dan sekaligus mendapatkan kosa kata dan tata bahasa yang baik, yang akan membantu dalam semua pelajaran sekolah.
Kalau anak ulang tahun, jangan langsung beli Play Station. Lebih baik ajak ke toko buku dan suruh anak memilih sendiri 10 buku favorit.

Salah satu buku yang ingin saya rekomendasikan kepada orang tua adalah seri Frankin. Gambarnya sangat bagus, ceritanya bagus, dan mengajarkan moral kepada anak. Ada terjemahan bahasa Indonesia, dan saya sangat suka karena kulitas gambarnya serta ceritanya. Buat orang tua yang Muslim, yang kuatir pada judul yang tidak islamiah, maka tidak usah beli buku yang itu, seperti Franklin dan Peri Gigi, atau Hadiah Natal. Kalau anak bertanya kenapa, cukup jelaskan bahwa kita orang Islam dan tidak percaya pada Peri Gigi atau Natal, dan tidak perlu dijelaskan lebih dalam lagi. Cukup mengatakan Ibu tidak ingin beli yang itu. Nanti anak juga lupakan, Insya Allah. Selain dari itu, seri ini sangat bagus dan bisa digunakan untuk membahas beberapa perkara dengan anak. Misalnya, pada saat anak ketahuan berbohong, Ibu cukup bertanya: “Masih ingat apa yang terjadi pada saat Franklin berbohong pada teman-temannya?” Kalau anak bilang tidak tahu, walaupun dia sudah hafal ceritanya jadi pasti tahu, Ibu bisa jawab sendiri: “Temannya menjadi marah dan tidak mau main dengan Franklin lagi sampai dia minta maaf.” Dan setelah pulang ke rumah, Ibu bisa ajak anak baca buku Franklin Berbohong lagi dan membahas kenapa orang yang berbohong itu tidak disenangi teman-temannya.

Dari seri-seri buku anak yang dihasilkan di Indonesia, saya masih cari yang bagus, dan kemarin terakhir kali saya mencari, saya anggap seri Franklin termasuk yang paling bagus di Gramedia.
Semua buku yang diberikan kepada anak juga bermanfaat, Insya Allah. Dan sebaiknya dimulai dari umur 1-2 tahun dengan memberikan buku yang punya halaman sangat tebal, yang dibuat khusus untuk anak kecil. Isi buku cukup gambar, dan foto2 barang seperti mobil, bunga, dsb. Dari awal yang sederhana ini, Insya Allah anak menjadi senang “membaca” buku. Buat anak 1-2 tahun, membaca buku berarti dia memegang buku dan bisa menjawab pertanyaan dari orang tua (Mobilnya mana? Warna apa? dsb.). Pada umur 2-3 ke atas, mulai dibacakan buku setiap malam bersama dengan orang tua (sebelum umur ini juga boleh). Pada umur 6-7 ke atas, lebih baik membagi waktu supaya ada saat di mana anak membaca buku sendiri, dan juga ada saat di mana orang tua bacakan. (Dan adik2 boleh ikut mendengar juga).

Jangan takut beli buku apa saja buat anak. Sesuaikan dengan kesukaan mereka. Buat keponakan saya, laki-laki berumur 3 tahun dan 6 tahun, dibelikan buku Fraklin, buku truk, buku mobil, buku stiker, buku dinosaurus, dsb. Hampir semuanya masih dalam keadan cukup baik setelah 2-3 tahun. Ada yang sobek sedikit, dan itulah bagian dari proses belajar bagi anak, jadi tidak apa apa. Kalau saya lihat halaman yang sobek pada saat kita sedang baca buku, saya bertanya (tanpa marah) siapa yang menyobek, dan kenapa, dan tekankan bahwa sekarang gambar/teks tidak kelihatan, biar anak merasa rugi sendiri.

Sedikit diluar topik, saya juga sarankan untuk semua orang tua yang Muslim agar beli buku Tahapan Mendidik Anak - Teladan Rasulullah SAW. Tidak ada kaitan dengan topik di atas, tetapi secara umum, saya anggap buku ini sangat berharga untuk semua orang tua. Saya cukup kaget membaca buku ini karena isinya sesuai dengan ilmu pendidikan yang “terbaru” yang saya dapatkan di kampus di Australia. Saya anggap ilmu yang saya pelajari itu “baru” karena berbeda dengan ilmu pendidikan negara barat dari 20 tahun sebelumnya, tetapi setelah baca buku ini, saya baru sadar bahwa kebanyakan yang saya belajar tentang pendidikan anak dan psikologi anak telah dicontohkan 1.400 tahun yang lalu oleh Nabi kita (yang selalu memberikan pengarahan dengan lembut, dan sudah mengerti sifat anak2 dan bagaimana mendidiknya dengan cara yang terbaik). Kalau ingin beli kado buat teman yang sudah berkeluarga, saya sangat anjurkan buku ini. Insya Allah masih tersedia di Gramedia dan Gunung Agung.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

9 comments:

  1. bahan masukan yang bagus nih,Gene...kebetulan saya juga suka buku dan selalu ingin mengajak orang supaya mau baca juga..kadang2 narsis juga sih..hahaha...

    ReplyDelete
  2. Anakku yg laki2 paling besar kelas 6 SD, dari kecil sudah ak biasakan berada di "lingkungan buku2" dan akupun emang "gila" buku, tapi kok tetap aj dia males baca ya,....? Padahal yg ak tawarkan buku2 cerita yang ringan dan seru buat seusianya. Kadang ak jg menanyakan dan menawarkan utk membeli buku yg dia suka, tapi tetap saja dia memilih mainan . Hmmmm.... masih bisa ga sih menumbuhkan kesukaan membaca di usianya yg sekarang. Kamu punya saran Gene ...?

    ReplyDelete
  3. assalamualaikum
    to thesy

    coba di cek apakah ayahnya suka membaca atau tidak? karena berdasarkan pengalaman keluargaku, karena kakek dan ke-2 ortuku hobby baca, ya kita semua anak-anaknya jadi hobby baca juga.

    Jadi ingat dulu waktu masih berkumpul semua, kita selalu berebutan koran dan majalah yang baru terbit.

    semoga bermanfaat

    ReplyDelete
  4. Hai Thesy.
    Pertama: pastikan tidak masalah fisik. Nilai sekolahnya oke? Apakah nilai akademisnya kurang bagus juga? Apakah dia sering duduk di belakang kelas dan mengganggu murid yang lain? Bila iya, bisa jadi ada gangguan mata. Kalau ada kemungkinan begitu, bawa dia ke toko kacamata seperti optik melawai, dan minta pemeriksaan mata. Kalau teknisi di situ mengatakan ada masalah, dan dia perlu kacamata, jangan beli dulu, tetapi bawa ke dokter mata untuk pemeriksaan lebih profesional. (Dicek di toko kacamata karena cepat dan murah, dan memberikan indikasi apakah ada masalah atau tidak. Tetapi masih perlu diagnosa resmi dari dokter kalau ada indikasi tersebut).

    Kedua: apakah pendengarannya juga normal? Cek bahwa dia memang bisa dengar dengan baik. Kalau dia tidak bisa dengar dengan baik, dan selalu bertanya lagi setelah diberi perintah dari ibu, mungkin saja ada gangguan di telinga. Kalau iya, berarti dia tidak akan suka duduk dan baca buku bersama, karena dia sulit mendengar suara ibu. Berarti seharusnya juga ada gangguan di sekolah. (Dan kalau begitu, seharusnya sudah ketahuan sebelum sekarang!) Kalau ada gangguan, mungkin dia jadi malas baca, dan lebih senang main dengan mobil-mobilan. Munkgin dia tidak suka baca sendiri karena kegiatan tersebut sudah dinilai kurang menyenangkan, dan karena itu, dia tidak mau lakukan, walaupun sendirian.

    Ketiga: apakah daya konsentrasinya normal? Sudah tahu tentang ADD dan ADHD? http://www.ayahbunda-online.com/info_ayahbunda/info_detail.asp?id=Balita&info_id=201
    Kalau ada gejala ADHD di dalam keluarga (ini suatu gangguan keturunan) maka sangat mungkin dia tidak bisa berkonsentrasi pada buku karena daya konsentrasinya pendek. Indikasi adanya ADHD: dia tidak bisa duduk dengan tenang untuk lebih dari 5-10 minit, selalu ingin begerak terus, tidak bisa berfokus pada semua kegiatan (kecuali dia sendiri suka), dan tidak bisa ingat apa yang disampaikan kepadanya. (Ada banyak gejala lain). Kalau ada indikasi ADHD, perlu pemeriksaan oleh psikolog anak. Ada terapi yang bisa membantu.

    Keempat: siapa yang biasanya membaca bersama dengan dia, dan bagaimana hubungan dia dengan orang di sekitarnya? (Mohon maaf, bukan maksudnya menghinakan, tetapi coba baca dulu dan pikirkan). Kalau umpamanya, ibu adalah orang “keras” yang sering galak dan ngomel, maka dia akan hindari waktu berduaan dengan ibu. Kalau begitu, pada saat ibu ajak dia baca buku, yang dia dengar adalah ajakan untuk duduk dan dingomelin dan disalahkan terus selama 20 minit. Jadi jelas dia tidak akan mau. Dan dia akan pilih main sendiri dengan mobilan. Kalau orang lain yang seharusnya sayangi dia malah mengganggu dia (baik itu ibu, bapak, kakak, dsb.) maka kegiatan yang melibatkan mereka juga dianggap sebagai waktu “penyiksaan” jadi dia akan hindari dengan cara apapun. Kalau ada indikasi seperti itu, maka orang yang “mengganggu” dia perlu merenungkan kembali perbuatan dan perilakunya.

    Kelima: Mungkin dia memang tidak suka buku. Kalau begitu, tidak bisa dipaksakan terlalu banyak (sudah fitrahnya dari Allah). Apakah ibu sering membaca buku bersama dengan dia? Coba membuat kegiatan rutin, 20 minit sebelum tidur, baca buku bersama. Ibu baca, dan dia dengarkan. Dan sering bertanya tentang apa yang ada di bukunya, dan kaitkan gambar di buku dengan kehidupan dia yang nyata. Kalau dia suka mainan, beli buku yang sesuai. Kalau dia suka mobil, beli buku yang ada mobilnya seperti Cars. Kalau dia suka robot, beli buku yang ada robotnya. Ini yang pasti sulit karena jumlah buku untuk anak di Indonesia sangat sedikit, bukunya seringkali kurang berkualitas, dan tidak ada banyak perpustakaan umum. Jadi, perlu kesabaran untuk mencari buku yang cocok.

    Pada dasarnya, bisa jadi dia akan menjadi insinyur yang hebat karena otak dia diciptakan untuk melihat barang, dan setelah dipikirkan, dia bisa membuat design yang lebih bagus. Dia ingin kerja dengan tangannya, dan suka dunia nyata, dan tidak suka dunia fana. Mungkin daya imaginasinya terbatas pada apa yang bisa diciptakan dengan tangannya, dan kalau ada buku tentang binatang yang bisa berbicara seperti Franklin (si kura-kura), dia tidak akan tertarik. Tetapi mungkin dia akan sangat tertarik kalau ada buku yang jelaskan cara bongkar mesin, cara kerjanya kereta api, cara membuat pesawat, dan sebagainya.

    Coba dulu yang disarankan di atas, dan tolong memberi update nanti.
    Semoga bermanfaat.

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  5. kemungkinan pertama & kedua sptnya tidak. Sejak TK memang agak sulit utk konsentrasi lbh dr 10 menit (kecuali hal yg menarik bagi dia). Dia memang lbh suka "praktek" dr pd teori. Skrg ini lg hoby buat atraksi macam2 dg program power point di laptop sy. Seandainya dia sekolah di "Sekolah Alam"/ Home Schooling sptnya cocok. Tp saat ini sy hanya 'mampu' menyekolahkan di SD Negeri yg 'ala kadarnya'. Sbg imbangannya di rmh sy coba utk memotivasinya melalui cerita2/ obrolan ringan. Ok, ak coba lbh menggali potensinya yg lain. Krn ternyata dia sangat supel dan PD berhadapan dg org. Tq semua, gene tunggu perkembangannya ya .....

    ReplyDelete
  6. Kalau ibu sudah tahu dia kesulitan konsentrasi dari kecil, perlu diselediki apakah ada gejala ADHD. Coba Ibu carikan info di internet, seperti yang saya kasih kemarin dan melihat kalau gelajanya memang mirip dengan perilaku dia. Kalau iya, ada terapi dari psikolog yang bisa diterapkan, yang akan sangat membantu dia. Kalau ibu sudah paham apa yang perlu dikerjakan untuk membantu dia, tidak perlu ke psikolog terus. Ibu bisa kerjakan sendiri di dalam rumah.
    Intinya, perlu membantu dia dan sabar untuk selalu mengingkatkan dia. Mungkin dia kena masalah di sekolah karena lupa PR, dan sebagainya. Itu bisa diatasi dengan memaksa dia menulis semua hal yang perlu diingat. Perlu bantuan dari guru juga supaya mereka bisa sabar dan membantu dia.
    Pokoknya, saya belum ketemu anak yang bisa dikatakan “tidak mampu belajar” (selama dia tidak cacat mental). Semua anak punya kemampuan untuk belajar dan menjadi lebih baik. Semua tergantung orang tua dan guru: apakah membantu, atau menjadi bagian dari masalahnya.
    Cari teman yang mengerti psikologi (ada tentangga, saudara, atau teman kerja?), dan mencaritahu kalau anak ibu memang ada ADHD. Kl benar, bisa dibantu.
    Dan ibu perlu tahu, bahwa kebanyakan orang yang kena ADHD justru punya IQ lebih tinggi dari umum. Ada banyak pemimpin dan tokoh dalam sejarah yang sangat pintar, yang sekarang diduga sebagai org yang kena ADHD, karena perlikau mereka sesuai dengan gejala. Jangan putus asa ya ibu.
    Semoga bermanfaat.
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  7. Ok, tq gene masukannya, ak coba cari info ttg ADHD itu. Pernah ada yg punya pengalaman spt ak ga ya? Msh mungkin ga menumbuhkan minat baca di usianya yg udah 11 taun itu. Putus asa sih Insya Allah ngga deh.... cuma memang agak risau krn kebiasaan skrg kan akan berpengaruh pd kehidupannya nanti. Meski di luar ak keliatan santai aj, tp di dlm hati dag dig dug jg krn ak single parent jd hrs berjuang sendirian menanamkan contoh2 baik utk anak2....(hmm kok jd curhat sih ...) Ak tggu yg punya pengalaman yg sama ya

    ReplyDelete
  8. Assalamualaikum Gene,

    Anakku Azka (3y.o) suka sekali buku Gene, dari kecil memang aku biasakan untuk suka dan baca buku setiap ada kesempatan, yang jadi pertanyaan kenapa Azka hanya suka melihat-lihat gambar dan menirukan ceritanya saja, tapi kalau aku tanya dan aku jelaskan mengenai huruf dan angka yang ada pada buku tersebut Azka sama sekali tidak tertarik dan langsung mengganti bukunya. Saat ini Azka hanya "hapal" penyebutan urutan angka, tapi kalau aku tanya secara acak mengenai angka dan huruf azka langsung menghidar. Padahal aku coba berbagai media Gene, dari mulai DVD, Puzzle huruf dan angka, laptop mini, buku bergambar dan mewarnai, tapi Azka cuma tertarik untuk menyimak, menonton DVD, merangkai Puzzle, dan menekan-nekan laptopnya tapi ga hapal-hapal huruf dan angkanya.. :(
    Hmmm...kenapa ya Gene, apa memang caraku salah dan aku terlalu memaksakan, atau bagaimana cara yang tepat agar azka "hapal" acak huruf dan angka ya Gene? (Hehehe..ko aku jadi ikut curhat yaa..?? anyway, Thanks for your opinion)

    ReplyDelete
  9. Assalamu'alaikum wr.wb.,

    @Kiki, menurut saya, kamu terlalu memaksakan. Kamu punya target di dalam kepala kamu, mungkin karena membandingkan anak dengan anak lain yang seumur. Tidak bisa begitu.

    Setiap anak belajar pada tahapnya masing2 dan tidak perlu (dan juga tidak baik) dipaksakan.
    Biarkan saja dia melihat sambil bermain. Kalau sudah tahu dia tidak mau menjawab pertanyaan, tidak usah bertanya. Tunggu dia sendiri yang mulai bertanya.
    Ada anak yang belajar baca cepat, ada yang lambat. Tidak ada pengaruh terhadap kehidupan mereka saat menjadi dewasa. Biarkan saja dulu.

    Nanti kalau dia mulai tertarik kamu akan tahu sendiri, karena dia akan berusaha menulis sendiri (setelah melihat orang dewasa menulis).
    Pastikan ada banyak buku, serta krayon dan kertas untuk belajar menulis kalau dia mau. Nanti akan kelihatan keinginan itu muncul sendiri. Tidak perlu dipaksa untuk mencapai target yang ada di benak ibunya.

    Daripada DVD belikan Lego yang baloknya besar (Mega Blocks). Mainan yang bersifat menyusun dan merakit lebih baik daripada yang lain, dan lebih baik daripada nonton dvd.
    Nonton dibatasi setiap hari. Misalnya, boleh 1 jam pada waktu siang, sambil makan, dan boleh 1 jam pada waktu malam. Lebih baik lagi, jangan nyalakan tivi biar dia bermain terus.

    Wassalamu'alaikum wr.wb.,
    Gene

    ReplyDelete