Tuesday, December 04, 2007

"Penjajahan Mental" Dalam Pendidikan


#####
[Tulisan dari Pak Wahyu yang di-post di milis SD-Islam]
Penjajahan terhadap pemikiran bangsa Indonesia benar-benar masih sulit dilepaskan.
  • Tidak memiliki ijazah adalah ketakutan para orangtua.
  • Ditegur, diberi sp, dipotong gaji, diberhentikan adalah ketakutan para guru.
  • Guru galak, diperiksa pr, ulangan, nilai jelek, dibully temen, tidak lulus adalah ketakutan para murid.
  • Dimutasi, tidak naik pangkat, tidak dapat jatah proyek, tidak terkenal adalah ketakutan pejabat depdik.
Pendidikan di Indonesia dilandasi ketakutan, apapun metodenya semua akan sia-sia. Salah siapa? Salah orang dewasa, bukan anak. Mari melakukan terobosan yang tidak biasa tanpa ketakutan-ketakutan tak beralasan. Berinovasilah, berimprovisasilah, gak usah mikiran syarat, aturan, tetek bengek rumus, anda semua tahu apa yang terbaik, tinggal lakukan saja. Masih takut dipecat? Katanya Allah Maha Pengasih, Maha Pemberi Rejeki, ternyata keimanan kita masih ada pada atasan, gaji, sekolah, alias keimanan dalam teori dalam pelaksanaan nol besar. change my friend!
Tanpa disadari berpikir berlebihan membuat kita takut dan bodoh sekaligus. Kita sudah dijajah oleh nilai yang dibentuk dalam masyarakat, keluarga, orangtua, teman, sahabat. Bebaskanlah pikiran kita dari belenggu penjajahan seperti di atas.
Guru engkau dapat merubah bangsa ini, anda bukan budak, anda manusia bebas, bebaskan pikiran anda, murnikan akidah kita.!!!!
#####


Dari Gene
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Tulisan yang bagus Mas Wahyu. Mohon izin untuk post di Blog saya.
Saya sering menyatakan dalam ceramah bahwa Indonesia masih dijajah. Ketika para pendengar kelihatan bingung, saya jelaskan maksud saya: Indonesia masih dijajah secara mental, dan dan kemudian saya bahas perkara ini dengan istilah “penjajahan mental”.
Contohnya berlimpah-limpahan, dan terdiri dari contoh2 yang disebut Mas Wahyu. Rakyat sering kelihatan menunggu orang lain memberikan perintah, dan tidak sanggup berfikir sendiri atau bertindak sendiri. Harus ada orang lain yang memberikan izin. Harus ada orang lain yang bertanggung-jawab. Selama bangsa kita masih begini, bagaimana bisa maju? Dan untuk lepaskan diri dari penjajahan mental tidak gampang, karena banyak sekali orang tidak sadar bahwa dirinya masih dijajah.

Untuk membebaskan orang yang tidak sadar dirinya tertahan, sungguh sulit. Cara yang terbaik untuk memberikan pikiran baru adalah lewat sistem pendidikan, tetapi di sini, malah sistem pendidikan menjadi bagian dari penjajahan tersebut.
(Ayo, lebih baik menjawab dengan jujur atau benar?)
Orang tua bersikeras untuk tahu ranking anaknya. Kalau sekolah tidak memberikan, orang tua marah. Tidak peduli kalau anaknya disetrap, diberi PR yang berlebihan sekali, diberi mata pelajaran yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari dari dua tangan, memberi ujian untuk 16 mata pelajaran setiap bulan, dan seterusnya. Orang tua tidak bakalan marah tentang hal-hal itu, tetapi kalau sekolah tidak memberitahu bahwa ranking anak adalah 12, orang tua menjadi marah dan kesal. Mereka merasa wajib untuk tahu nilai anaknya dibandingkan dengan anak lain, padahal kalau diajak bicara, mereka setuju bahwa setiap anak adalah unik. Tetapi kalau membicarakan pelajaran sekolah, keunikan anak dibuang, hanya ranking yang paling tinggi yang menjadi cita-citanya.

Hasil dari penjajahan mental terasa di semua lapisan masyarakat. Orang kaya tidak peduli pada tetangga, dan orang miskin juga banyak yang tidak peduli, padahal sama-sama Muslim.
Kalau saya di kelas bahasa Inggris, dan saya bertanya kepada murid tentang perkara apa saja, sangat terasa efek dari pendidikan yang dilandasi penjajahan mental, karena setiap murid memberikan jawaban dan pendapat pribadi yang persis sama. Hampir tidak pernah ada yang berbeda pendapat. Untuk mengadakan debat di dalam kelas sangat sulit, karena tidak ada yang bisa ambil sisi lain dari suatu perkara. Semua ingin pro atau kontra, dan sangat jarang ada yang berani untuk berbeda pendapat dengan mayoritas. Saya pernah mengadakan debat di dalam kelas yang cukup advanced, dan topiknya adalah lingkungan. Masalah pertama adalah hampir semua murid (anak SMA, mahasiswa dan sedikit karyawan) tidak tahu apa-apa tentang lingkungan. Malasah kedua, semua ingin ambil pendapat pro (saya lupa pertanyaannya apa), dan tidak ada yang berani berdebat dari sisi kontra. Akhirnya, satu anak jadi berani, dan saya gabung dengan dia sehingga kami berdua melawan 15 murid lain yang punya pendapat yang sama. Dan kalau anak yang lebih banyak diam (biasannya perempuan) diajak berbicara, kebanyakan hanya mengatakan “Saya setuju dengan dia” (maksudnya, pembicara yang sebelumnya).

Akhirnya, 15 murid kalah melawan saya karena tidak bisa membentuk argumentasi dan hanya bisa sebatas mengiyakan pendapat orang lain yang aktif. Saya tahu kemampuan bahasa Inggris anak2 itu jadi saya yakin bukan masalah bahasa. Dan saya juga alami hal yang sama berkali2 selama 12 tahun mengajar di sini.
Kesannya: Anak Indonesia tidak bisa berpendapat dan tidak bisa berfikir secara independent. Kalau ditanyai apa yang benar, mereka tidak tahu. Tetapi kalau diberitahu yang mana yang benar, mereka bisa ingat dan mengulangi kata-kata saya dalam ujian. (Saya sering dapat kesan bahwa skil untuk berfikir secara independen baru mulai untuk sebagian orang setelah lulus kuliah dan mulai kerja).

Bagaimana masa depan bangsa ini?
Kapan akan merdeka? Yang paling utama adalah guru sekolah harus dimerdekakan, karena mayoritas dari mereka tidak merasa dijajah secara mental. Makanya murid mereka dipukul, atau dihukum, atau dihinakan, atau “dibantu” lulus UN tanpa rasa malu atau rasa gagal sebagai pendidik.
Kapan ini akan berubah?
Satu solusi: More training for school teachers, less Busway (dan proyek2 lain yang mubazir)!
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

5 comments:

  1. Assalamua'laikum wr.wb.

    Tulisannya mengingatkan saya ketika masih di SD. Ibu guru bertanya kepada kami pekerjaan apa yang mulia. Ketika giliran saya yang menjawab, saya bilang Tukang Kebun (panggilan untuk orang yang bekerja membersihkan sekolah kami). Ibu guru bilang jawaban saya tidak benar.Jawaban yang dicontohkan ibu guru adalah pekerjaan dokter karena mengobati pasien, pekerjaan guru, pekerjaan pengacara karena membela yang tidak bersalah(padahal kenyataannya banyak pengacara membela orang yang salah). Saat itu saya berpikiran bahwa pekerjaan tukang kebun kami sangat mulia, karena beliaulah yang membersihkan sekolah kami sehinnga saya merasa nyaman untuk belajar.

    Apabila kita berusaha untuk merubah apa yang telah menjadi hal yang benar dan menjadi kebiasaan di lingkungan kita, maka kita akan dianggap sebagai pembangkang, orang yang melawan arus dan akibatnya kita akan dikucilkan. Tidak semua orang sanggup untuk melakukan hal tersebut apabila tidak didukung oleh orang lain.

    Apalagi di negara kita tercinta INDONESIA. Selama 32 tahun kita diharuskan untuk hanya mengikuti apa kata pemimpin tanpa diberi kesempatan untuk mengatakan tidak. Hal ini telah membuat bangsa kita malas untuk berfikir dan mengembangkan kreatifitas masing-masing.

    Mudah-mudahan dengan telah bergantinya kepemimpinan sekarang ini akan memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk menjawab secara jujur dan dibenarkan secara umum,Amin.

    Wassalamua'laikum wr.wb.

    ReplyDelete
  2. Indonesia.......Indonesia...

    hehe

    slm,
    Raf

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Teman-teman, ini saya lampirkan email dari seorang teman mahasiswa applied linguistik ui yang sering dikomplain temannya kkarena banyak bertanya dan berpendapat SELAMA PERKULIAHAN DI KELAS. Buat gambaran, kuliah ini dihadiri oleh mayoritas mahasiswa yang juga dosen/guru. Teman ini seorang guru juga dan kebanyakan komen dan pertanyaannya meman berkaitan dengan pengalaman lapangannya yang sesuai dengan topik bahasan kuliah. Cuma, barangkali teman0temannya capek dan pingin pulang jadi nggak tahan duduk lama lagi di kelas. Salah seorang teman sekelasnya, seorang dosen UI lulusan psikologi, bercanda, bilang dia sebaiknya konsultai ke psikolog mengecek tingkat kebawelannya normal atau tidak. Ini jawabannya lewat email yang dikirimkan ke kami sehari sesudah kejadian itu.

    ReplyDelete
  5. Dear friends,
    I always enjoy being with you at campus. I have learned a lot from you and from some other lecturers during my study at UI. However, I have something that has been bothering me much since our last meeting. I was shocked when a friend indirectly sent a message that I was annoying her with my unceasing questions and comments during our lessons. Please allow me to talk deep from my heart.

    I often question what I have done with my students in the classrooms and bring about this topic in our class. I really want to get some more skills and knowledge to improve the quality of my teaching. You may name it cliché, but I do enjoy most of the lectures because they are closely related to my job. However, I can too, just like you, fall asleep easily if the lessons are not interesting me. I did several times in philosophy class last two semesters. For sure, I don’t study for a certificate. If I ask so many questions, it’s not a kind of showing off. Indeed, it’s nice having people around you saying that you’re smart, but it s worth nothing for me. O, please…I’m 41 now, I don’t have praises in my daily menu anymore.

    As I told you on Wed, in my own class, I have a student who shares the similar problem. Once I distributed a questionnaire asking them some opinions on the classroom atmosphere. One of the questions was, “Is there any one in this class whom you think rather annoying?” Ten students out of 25 named the same girl, Zs. This girl and I have something in common. Zs asked a lot of question to the teachers. She was usually the one who first raised hand when the teacher asked the class, while her friends preferred to duck their heads. She was always the first who was willing to be the volunteer in class, while others needed some force to come forward. For me and some fellow teachers, this student was the apple of our eyes. She was the one who can break our frustration when no one seemed interested in what we are teaching. However, her classmates, especially from the same gender, did not like her much. They wrote that this student was showing off as if she was the only smart student in the class. They accused her of trying to dominate the class. (Just like what you think about me, isn’t it?)

    After the discussion with you on Wed, I keep thinking what one of you said about me. She said that someone who talked a lot and had a tendency to dominate a conversation, was probably mentally ill. There was un-channeled ideas trapped within their brains needed to be released. But they couldn’t do that because of their family customs. I still remember her example. She said, “In a traditional family of a certain tribe, it is not common for a child to have a discussion with her parents. Later, when she gets married, she is expected not to ask much to her husband. Therefore, she may grow into a chatterbox outside the family circle. “ This kind of person needs some help from a psychologist. Do you think I need to see a psychologist too?

    Now allow me to share my experience dealing with Zs. Once I noticed that her academic performance was decreasing significantly. Then we had a discussion about this. With tears rolling down on her cheek, she said that she was no longer interested in school because some friends hated her. I told her that was not true (It was a lie). I told her how proud I was having an enthusiastic student like her in my class (it is true). Then I invited some of the ten students who wrote that they hated Zs to talk with her. Amazingly, they didn’t exchange hatred. Instead, the girls shared their feeling and admitted that it was simply Zs’ too sensitive feeling (Don’t you think that they were telling a lie too?). Now Zs is back to her life again. But something has changed. She is no longer the one who raises hand first. She doesn’t ask much as she did before. However, I couldn’t say that it is a good change for her.

    I don’t think that I should follow Zs, because where else can we ask and challenge our mind unless in this academic community? We can’t question a lot in teacher meetings or seminars. It isn’t our custom to be critical, is it? But if the urge to have sharp thinking is banned in academic context not by the authority but by the students themselves, where else people like me and my student Zs can express and develop our intellectual capability? Do you think we should go on strike and wander from street to street to practice our thoughts? I did it already when I was young. If my beloved classmate graduating from psychology faculty of a highly respected university suspects that I’m mentally ill, don’t you think that I should stop teaching, because it can be harmful for the young people I teach? I think I should listen to her because she had spent years digging up so much research on how to identify a schizophrenic.

    In fact, I don’t want to be a pain in the neck for all of you, but I don’t want to behave like a zombie either, walking on earth but spiritless. I feel like a protruding nail at which my classmates are eager to hammer. I remember once Maslow, the expert of motivation, wrote: If the only tool you have is a hammer, all problems begin to look like nails.

    Now, I’m glad to let it all out. Have a nice sleep.

    Thanks
    ####

    ReplyDelete