Monday, December 31, 2007

Bersuci Dengan Tissue Toilet

Pertanyaan:

Bolehkah kita bersuci dg hanya memakai tissue toilet?

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Kertas tissue termasuk benda yang bisa digunakan untuk membersihkan diri dari buang air kecil atau buang air besar. Dalam bahasa fqihnya, menggunakan benda selain air yang digunakan untuk istija` disebut "istijmar" .

Memang praktek aslinya dahulu di masa Rasulullah SAW lebih banyak menggunakan batu. Yaitu tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air.

Dasarnya adalah hadits Rasulullah SAW :

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang beristijmar (bersuci dengan batu) maka hendaklah berwitir (menggunakan batu sebanyak bilangan ganjil). Siapa yang melaksanakannya maka dia telah berbuat ihsan dan siapa yang tidak melakukannya tidak ada masalah." (HR. Abu Daud, Ibju Majah, Ahmad, Baihaqi dan Ibnu Hibban)

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila seorang kamu datang ke WC maka bawalah tiga buah batu, karena itu sudah cukup untuk menggantikannya."(HR. Abu Daud, Baihaqi dan Syafi`i).

"Janganlah salah seorang kamu beristinja` kecuali dengan tiga buah batu." (HR. Muslim)

Tentang ketentuan apakah memang mutlak harus tiga batu atau tidak, para ulama sedikit berbeda pendapat. Pertama, kelompok Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah mengatakan bahwa jumlah tiga batu itu bukan kewajiban tetapi hanya mustahab (sunnah). Dan bila tidak sampai tiga kali sudah bersih maka sudah cuukp.

Sedangkan kelompok Asy-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah mengatakan wajib tiga kali dan harus suci / bersih. Bila tiga kali masih belum bersih, maka harus diteruskan menjadi empat, lima dan seterusnya.

Sedangkan selain batu, yang bisa digunakan adalah semua benda yang memang memenuhi ketentuan dan tidak keluar dari batas yang disebutkan :

Benda itu bisa untuk membersihkan bekas najis.

Benda itu tidak kasar seperti batu bata dan juga tidak licin seperti batu akik, karena tujuannya agar bisa menghilangkan najis.

Benda itu bukan sesuatu yang bernilai atau terhormat seperti emas, perak atau permata. Juga termasuk tidak boleh menggunakan sutera atau bahan pakaian tertentu, karena tindakan itu merupakan pemborosan.

Benda itu bukan sesuatu yang bisa mengotori seperti arang, abu, debu atau pasir.

Benda itu tidak melukai manusia seperti potongan kaca beling, kawat, logam yang tajam, paku.

Jumhur ulama mensyaratkan harus benda yang padat bukan benda cair. Namun ulama Al-Hanafiyah membolehkan dengan benda cair lainnya selain air seperti air mawar atau cuka.

Benda itu harus suci, sehingga beristijmar dengan menggunakan tahi / kotoran binatang tidak diperkenankan. Tidak boleh juga menggunakan tulang, makanan atau roti, kerena merupakan penghinaan.

Bila mengacu kepada ketentuan para ulama, maka kertas tissue termasuk yang bisa digunakan untuk istijmar.

Namun para ulama mengatakan bahwa sebaiknya selain batu atau benda yang memenuhi kriteria, gunakan juga air. Agar isitnja` itu menjadi sempurna dan bersih.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber: Syariah Online

Anjing najis?


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Saya juga punya pertanyaan, sampai saat ini saya masih sangat bingung soal memelihara anjing di rumah. banyak sekali teman saya yg muslim tapi mereka memelihara anjing di rumah mereka.. dengan alasan; asalkan air liur si anjing tidak masuk dalam tempat minum atau menjilat piring atau peralatan makan dan minum mereka, berarti tidak najis???

Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang anjing, apakah seluruhnya yang najis atau hanya air liur, kotoran, dsb. Tetapi hadiths mengenai orang yang memilihara anjing ada dan jelas sekali. Memelihara anjing tidak boleh, dan tidak ada hubungan dengan apakah dia menjilat piring atau tidak. Dilarang kecuali untuk berburu, dan menjaga rumah/gedung (dengan cara diikat pada bagian depan/belakang rumah, dan tidak bebas untuk jalan ke mana2 di dalam rumah). Kalau zaman sekarang, juga perlu ditanyakan kalau anjing masih dibutuhkan untuk fungsi itu, sedangkan orang berburu dengan senapan, bukan panah, dan gedung bisa dipasang alarm. Berarti gunanya anjing untuk hal-hal tersebut juga perlu dikagi ulang. Kalau sudah tidak dibutuhkan lagi, tidak ada alasan untuk sengaja mempertahankan hanya karena ada hadiths yang membolehkan (tetapi tidak mewajibkan).

ini bener2 bikin saya bingung, krn banyak juga yg benar2 menentang memelihara anjing bagi seorang muslim.

Jangan bingung. Di dalam semua perkara tidak mungkin 100% dari semua manusia bisa sepakat. Kalau kamu dukung kapitalisme, ada pula yang mendukung komunisme. Kalau kamu anggap aborsi haram, ada yang setujui. Kalau kamu dukung hukum mati, ada yang menolak, dan sebagainya. Jadi tidak perlu bingung. Yang perlu adalah sikap “siswa” yang selalu siap belajar, mengkaji lebih dalam, dan membandingkan beberapa pendapat untuk mencari yang bisa kita terima dan akui di atas yang lain.

apalagi saya tinggal di belanda, yg setiap hari saya melihat bahkan apabila berkunjung ke rumah saudara suami, mereka semua punya anjing, yg kadang2 jalan dekat saya atau mengendus2 kaki saya.

Berarti kaki kamu harus dibersihkan sebelum bisa sholat (kalau sudah yakin menjadi basah dari air liurnya anjing). Kalau celana yang kena, maka celana yang kotor dan harus dibersihkan atau dibuka untuk sholat.

Mertua saya kadang2 juga suka menitipkan anjingnya kalau dia sedang ada urusan sekitar 2 atau 3 jam..nah saya jadi risih kan?

Dititipkan di mana? Diikat di depan rumah? Atau ditaruh di dalam rumah di mana kamu sholat? Coba jelaskan kepada mereka bahwa anjing tidak boleh dipelihara oleh orang Islam, dan rumah kamu perlu dijaga kebersihannya untuk sholat. Insya Allah mereka terbuka untuk menerima agama dan budaya yang berbeda. Kalau mereka mau titipkan saudara mereka yang suka membakar rumah orang (dia arsonis), atau suka mencuri barang orang (dia pencuri/maling), apakah kamu juga terima dengan lapang dada? Kalau mereka mengatakan bahwa mereka merasa sayang pada anak itu (padahal dia sering mengganggu orang lain), apakah kamu juga harus sayanginya dan menerimanya di rumah kamu?

karena gak enak mau menolak, sementara beliau baik banget dan selalu penuh perhatian, masa dititipin anjing 2 jam keberatan?? itu yg bikin saya bingung.

Kalau mereka mau titipkan orang yang baru keluar dari penjara dan terkenal sebagai pemerkosa, apakah kamu terima juga? Mertua baik hati, dan mau mencari tempat tinggal untuk si kriminal itu (mungkin dia masih saudara jauh), tetapi karena belum ada, mereka titipkan di rumah kamu untuk satu malam? Terima? Atau menolak karena kepentingan kamu lebih utama daripada kebaikan hati mereka? Kalau pemerkosa atau pencuri akan ditolak, kenapa anjing harus diterima?

Jadi, coba menolak dengan cara yang baik dan sopan. Bukan menolak dengan keras. Kalau mereka bersikeras bahwa tidak ada solusi selain dititipkan pada kamu maka cari solusi yang bijaksana. Misalnya, di negara barat, toko binatang menjual kotak plastik besar untuk mentransportasi binatang di dalam mobil. Minta mertua beli satu, dan pada saat anjing dibawa ke rumah, harus dibawa langsung dalam kotak tersebut. Anjing bisa tidur saja di dalamnya, dengan makanan dan air sendiri, dan tidak boleh keluar dari kotaknya. Ini tidak berbeda dengan keadaan di mana anjing menginap di klink dokter hewan atau dibawa keluar kota. Insya Allah mereka siap menerima solusi ini yang sama-sama tidak memberatkan.

Segabai tambahan informasi, coba baca yang berikut:

Memelihara Anjing Di Rumah

Pertanyaan:

Bagaimana hukum memelihara anjing sebagai hewan pengamanan di rumah?

Terima kasih

Devina

Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.

Para ulama sepakat melarang memelihara anjing kecuali untuk suatu kebutuhan. Misalnya untuk berburu, untuk menjaga sawah, menjaga ternak, dan kebutuhan lainnya selagi tidak ada larangan syariah.

Dari Abu Hurayrah, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga ternak, berburu, atau menjaga sawah, maka berkuranglah pahalanya setiap hari satu qirath (sebesar gunung Uhud).” (Muttafaq alaih).

Selanjutnya para ulama berbeda pendapat mengenai anjing yang digunakan selain untuk berburu dan menjaga ternak atau sawah. Misalnya anjing untuk menjaga rumah, anjing pelacak, dsb. Pendapat yang kuat adalah selama pemeliharaan anjing itu dibutuhkan dan memberikan manfaat secara syariah, maka ia diperbolehkan sesuai dengan dalil hadis di atas. Sebab, masalah utama dari memelihara anjing adalah kemaslahatan atau kemanfaatan. Selama anjing itu memberikan manfaat bagi manusia, ia boleh dipelihara. Adapun menjadikan anjing hanya sebagai hiburan, mainan, dan perhiasan, dan sejenisnya, ia dilarang oleh Islam. Hal itu karena melihat kepada najis dan dampak buruk lainnya yang terdapat pada anjing.

Demikian. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Sumber: Syariah online

Silahkan baca juga:

Najisnya Anjing?

Najis Dari Anjing

Jilatan Anjing

Mengapa Anjing Najis

Apakah Bulu atau Kotoran Anjing Sama Seperti Liur Anjing

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Sahkah Shalat Jamaah Diimami Anak Kecil?


Jumat, 30 Nov 07 11:26 WIB

Asalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz yang baik, Saya seorang perempuanmemiliki seorang adik kecil laki-laki yang belum baligh dan masih SD. Untuk membiasakannyasholat, saya sering mengajaknyasholat jamaah berdua. AgarIa lebih semangat, saya memyuruhnya menjadi imam. Pertanyaanya: Sahkah sholat berjamaah kami? Dan bagaimana shaf yang seharusnya, berdiri sejajar dengannya atau berdiri dibelakangnya?

Terimakasih Ustadz atas jawabannya. Semoga Allah senantiasa merahmati Ustadz dan keluarga.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Greeny

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Prinsip dasarnya dalam urusan shalat jamaah adalah apabila imamnya sah dalam melakukan shalat. Bila shalatnya imam sah, maka sah pula keberjamaahan shalat tersebut. Sebaliknya, bila shalat imam tidak sah, maka tidak sah pula jamaah itu.

Shalatnya seorang anak kecil yang belum baligh, sebenarnya sah-sah saja. Sebabsyarat sah sebuah shalat tidak bergantung apakah seseorang sudah baligh atau belum. Baligh adalah syarat wajib, bukan syarat sah.

Syarat wajib dengan syarat sah berbeda. Maksud dari syarat wajib adalah apabila syarat-syarat itu sudah terpenuhi, maka yang bersangkutan jadi wajib hukumnya untuk melakukan shalat atau ibadah lainnya. Dan sebaliknya, bila syarat wajib belum terpenuhi, maka yang bersangkutan tidak wajib atau belum diwajibkan untuk melakukan ibadah tersebut.

Kondisi seorang anak yang belum baligh menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya belum lagi diwajibkan untuk melakukan shalat. Kalau dibilang belum diwajibkan, berarti seandainya dia tidak mengerjakannya, maka tidak ada dosa atasnya. Namanya saja belum wajib, berarti hukumnya cuma sunnah. Seandainya tidak dikerjakan tidak mengapa, tapi kalau dikerjakan, sebagaimana makna sunnah, dia akan dapat pahala.

Sedangkan yang dimaksud dengan syarat sah adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar shalat itu menjadi sah untuk dikerjakan. Misalnya, menghadap kiblat, suci dari najis, suci dari hadats kecil dan besar, sudah masuk waktu, menutup aurat dan seterusnya. Tapi urusan sudah baligh atau belum, ternyata tidak termasuk dalam syarat sah.

Jadi kalau ada anak kecil melakukan shalat fardhu dengan melengkapi syarat wajib, rukun dan kewajibannya, maka shalatnya sah. Walaupun jatuhnya bagi dirinya bukan wajib, melainkan menjadi shalat sunnah.

Bermakmum di belakang Imam yang Shalat Sunnah

Bermakmum dengan iman yang shalatnya shalat sunnah, sementara makmumnya berniat shalat fardhu, dibenarkan dan dibolehkan dalam syariat. Dengan demikian, keimaman seorang anak kecil yang belum baligh atas makmum yang sudah baligh, tidak menjadi masalah. Hukumnya tetap dianggap shalat berjamaah.

Dasar atas kebolehan anak kecil menjadi imam buat orang dewasa adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Jabir bin Abdillah bahwa Amr bin Salamah radhiyallahu a'nhu berkata, "Aku telah mengimami shalat jamaah di masa Rasulullah SAW sedangkan usiaku saat itu baru tujuh tahun. (HR Bukhari).

Dan menurut ulama dalam mazhab As-Syafi'i, bahkan meski shalat itu shalat Jumat, tetap sah bila diimami oleh seorang anak kecil yang baru mumayyiz. Meski dengan karahah (kurang disukai).

Pendapat Yang Berbeda

Namun tidak bisa kita tampik bahwa selain hadits Shahih Bukhari di atas, ada juga dalil yang secara pengertiannya justru menyatakan tidak sah bila yang jadi imam seorang anak kecil. Hadits itu sebagai berikut:

Al-Atsram meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas radhiayllahu anhuma bahwa: Janganlah seorang anak kecil mengimami shalat jamaah kecuali setelah bermimpi.

Sehingga menurut ulama kalangan mazhab Al-Hanafiyah, tidak sah bila anak kecil menjadi imam shalat, baik shalat fardhu atau pun shalat sunnah. Sedangkan ulama di kalangan mazhab Malik dan Hanabilah, yang tidak sah hanya untuk shalat fardhu, sedangkan untuk shalat sunnah, hukumnya sah.

Pendapat yang menurut kami lebih kuat adalah pendapat di atas, yang juga merupakan pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah. Hal itu karena dalilnya sangat kuat, di mana Al-Bukhari menshahihkan hadits tentang Amr bin Salamah yang mengimami shalat jamaah saat beliau masih berusia 7 tahun.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: Era Muslim

Membuat Anak Senang Membaca

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ada seorang ibu bertanya kepada saya bagaimana bisa membuat anaknya mencintai buku, sedangkan dia sendiri jarang membaca karena menjadi ngantuk. Dan dia juga kuatir bahwa anak akan sobek halaman buku kalau dibelikan, jadi dia ragu-ragu untuk beli buku. Berikut adalah jawaban saya. Semoga bermanfaat.

Buat orang tua yang ingin membuat anaknya rajin membaca buku, dan juga mencintai buku, maka tidak ada cara selain anak itu harus diajak membaca buku. Jangan takut buku akan dirusak. Hal itu sangat mudah diatasi (dijelaskan sebentar lagi).

Pertama, beli satu buku dulu, dan baca bersama dengan anak. Jangan sekedar membaca tetapi juga bertanya2 tentang gambar2 yang ada hal2 menarik di dalamnya (Ada berapa semut di sini? Di mana selimutnya? Mobilnya warna apa? dsb.) Dengan demikian, membaca buku menjadi kegiatan interaktif bagi anak, sekaligus mereka bisa menikmati waktu khusus untuk bergaul dengan orang tuanya (atau abang/kakak/ Om/Tante/ Kakek/Nenek, dsb.).

Waktu yang baik adalah pada saat anak mau tidur malam atau tidur siang. Nanti akan menjadi kebiasaan, dan juga merupakan waktu penting yang bisa digunakan orang tua untuk bergaul dengan anak. Kalau baca buku pada jam 9 malam sebelum tidur, maka tidak apa2 kalau menjadi ngantuk. Kalau sudah dikerjakan untuk 2 minggu, nanti Insya Allah menjadi kebiasaan dan anak bakalan minta terus, jadi orang tua harus siap membuat rutinitas baru ini.

Biarkan anak memilih buku yang ingin dibacakan (kalau sudah ada beberapa). Anak senang kalau cerita yang sama diulang berkali-kali sampai dia menghafalkannya. (Saya pernah dipukul keponakan karena untuk menyingkat waktu, saya loncat dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir di dalam halaman pertama, tanpa tahu cerita sudah dihafalakan oleh dia. Umurnya anak itu 3 tahun, dan dia tahu kalau satu kalimat tidak dibaca, dan menjadi marah. Ceritanya harus sama terus!)

Kalau sudah selesai baca buku untuk pertama kali, sekarang saatnya untuk membuat perjanjian sama anak. Setelah baca buku pertama, bertanya kalau anak suka. Dia pasti bilang iya. Bertanya kalau mau dibelikan lagi. Dia pasti bilang iya.

Bikin janji: “Ibu janji untuk beli buku lagi, tetapi hanya kalau semua buku dijaga dan tidak disobek!” Jelaskan bahwa buku mahal, dan kalau disobek, maka uang Ibu habis dengan sia-sia. Kalau uang Ibu habis, tidak bisa belikan buku lagi karena harus menghemat uang untuk beli susu, dsb. Jadi kalau buku dipelihara dengan baik, Ibu akan belikan buku terus.

Jadi, sekarang anak harus memilih sendiri: mau jaga buku supaya dapat lagi, atau tidak? Mendorong anak untuk mengulangi perjanjian sama Ibu, supaya dia menjadi hafal. Dan percapakan yang sama perlu diulang beberapa kali dalam satu minggu sebelum dibelikan buku lagi. Ini untuk tekankan bagi anak bahwa peraturan sudah jelas, dan dibuat dengan persetujuan anak. Jadi, kalau anak tidak dibelikan buku lagi (karen buku pertama disobek), maka itu konsekuensi daripada perbuatan anak sendiri dan merupakan “pilihan dia”.
Ibu: “Kalau buku disobek..?

Anak: “…tidak dibelikan lagi.”
Ibu: “Tetapi kalau buku dijaga baik-baik…?”
Anak: “…akan dibelikan lagi.”
Ibu: “Kamu mau yang mana? Pilih sendiri ya!”

Anak kecil sangat egois dan pasti memilih yang terbaik bagi dirinya. Kalau dia tahu bisa dapat lagi dengan menjaga buku pertama, dia pasti akan berusaha menjaganya (tetapi belum tentu langsung bisa, tergantung umurnya, jadi Ibu harus bersabar dan siap coba lagi kalau gagal pertama kalinya).

Kalau sudah lewat beberapa hari dan buku masih dijaga, belikan lagi. (Yang gampang adalah beli 5-10 sekaligus, dan simpan di lemari/kantor. Bagikan satu per satu selama berapa minggu/bulan. Satu minggu, satu atau dua buku tidak terlalu berat untuk kebanyakan orang tua, dengan harga buku sekitar 20.000.)

Sekarang masuk fase pelajaran, di mana anak sedang belajar untuk menjaga suatu barang. Kalau skil ini belum pernah diajarkan orang tua sebelumnya, wajarlah kalau sebagaian anak tidak bisa langsung berhasil. Tetapi jangan sampai gagal satu kali lalu Ibu langsung berhenti. Ibarat anak belajar naik sepeda; kalau dia jatuh pertama kali apakah wajar kalau sepedanya diambil dan tidak pernah ditawarkan lagi, atau apakah lebih wajar kalau anak dibantu untuk bercoba lagi?

Jadi, orang tua juga harus flexibel. Jangan samapi ada satu halaman sobek sedikit pada saat lagi main (mungkin tidak sengaja, atau disobek adik yang masih kecil), lalu Ibu langsung marah dan menolak beli buku lagi. Jangan begitu. Anak tidak akan merasa bersalah, tetapi disalahkan oleh Ibu, dan penyediaan buku yang sangat dihargai anak menjadi putus. Anak bakalan menjadi marah atau kesal. Jadi, kalau satu buku disobek, jangan berikan buku lagi untuk dua minggu, tetapi setiap hari bicara sama anak tentang buku dan bagaimana caranya memelihara buku. Misalnya, setelah membaca, taruh di lemari/rak buku, dan jangan tinggalkan di kasur. Kalau anak sudah kelihatan berusaha menjaga buku lagi, kembali berikan secara rutin.

Ibu harus ingat bahwa anak tetap anak, dan sangat mustahil bahwa seorang anak bisa bertanggungjawab penuh terhadap koleksi buku tanpa terjadi masalah. (Orang dewasapun banyak yang tidak bisa menjaga amanah, jadi jangan bersikap terlalu keras terahadap anak yang belum bisa).

Insya Allah dengan demikian, anak belajar bertanggungjawab terhadap barang miliknya, jadi senang membaca (terutama kalau baca selalu berserta orang tua setiap malam sebelum tidur), anak juga mendapatkan nikmat cerita yang mengajarkan moral, dan sekaligus mendapatkan kosa kata dan tata bahasa yang baik, yang akan membantu dalam semua pelajaran sekolah.
Kalau anak ulang tahun, jangan langsung beli Play Station. Lebih baik ajak ke toko buku dan suruh anak memilih sendiri 10 buku favorit.

Salah satu buku yang ingin saya rekomendasikan kepada orang tua adalah seri Frankin. Gambarnya sangat bagus, ceritanya bagus, dan mengajarkan moral kepada anak. Ada terjemahan bahasa Indonesia, dan saya sangat suka karena kulitas gambarnya serta ceritanya. Buat orang tua yang Muslim, yang kuatir pada judul yang tidak islamiah, maka tidak usah beli buku yang itu, seperti Franklin dan Peri Gigi, atau Hadiah Natal. Kalau anak bertanya kenapa, cukup jelaskan bahwa kita orang Islam dan tidak percaya pada Peri Gigi atau Natal, dan tidak perlu dijelaskan lebih dalam lagi. Cukup mengatakan Ibu tidak ingin beli yang itu. Nanti anak juga lupakan, Insya Allah. Selain dari itu, seri ini sangat bagus dan bisa digunakan untuk membahas beberapa perkara dengan anak. Misalnya, pada saat anak ketahuan berbohong, Ibu cukup bertanya: “Masih ingat apa yang terjadi pada saat Franklin berbohong pada teman-temannya?” Kalau anak bilang tidak tahu, walaupun dia sudah hafal ceritanya jadi pasti tahu, Ibu bisa jawab sendiri: “Temannya menjadi marah dan tidak mau main dengan Franklin lagi sampai dia minta maaf.” Dan setelah pulang ke rumah, Ibu bisa ajak anak baca buku Franklin Berbohong lagi dan membahas kenapa orang yang berbohong itu tidak disenangi teman-temannya.

Dari seri-seri buku anak yang dihasilkan di Indonesia, saya masih cari yang bagus, dan kemarin terakhir kali saya mencari, saya anggap seri Franklin termasuk yang paling bagus di Gramedia.
Semua buku yang diberikan kepada anak juga bermanfaat, Insya Allah. Dan sebaiknya dimulai dari umur 1-2 tahun dengan memberikan buku yang punya halaman sangat tebal, yang dibuat khusus untuk anak kecil. Isi buku cukup gambar, dan foto2 barang seperti mobil, bunga, dsb. Dari awal yang sederhana ini, Insya Allah anak menjadi senang “membaca” buku. Buat anak 1-2 tahun, membaca buku berarti dia memegang buku dan bisa menjawab pertanyaan dari orang tua (Mobilnya mana? Warna apa? dsb.). Pada umur 2-3 ke atas, mulai dibacakan buku setiap malam bersama dengan orang tua (sebelum umur ini juga boleh). Pada umur 6-7 ke atas, lebih baik membagi waktu supaya ada saat di mana anak membaca buku sendiri, dan juga ada saat di mana orang tua bacakan. (Dan adik2 boleh ikut mendengar juga).

Jangan takut beli buku apa saja buat anak. Sesuaikan dengan kesukaan mereka. Buat keponakan saya, laki-laki berumur 3 tahun dan 6 tahun, dibelikan buku Fraklin, buku truk, buku mobil, buku stiker, buku dinosaurus, dsb. Hampir semuanya masih dalam keadan cukup baik setelah 2-3 tahun. Ada yang sobek sedikit, dan itulah bagian dari proses belajar bagi anak, jadi tidak apa apa. Kalau saya lihat halaman yang sobek pada saat kita sedang baca buku, saya bertanya (tanpa marah) siapa yang menyobek, dan kenapa, dan tekankan bahwa sekarang gambar/teks tidak kelihatan, biar anak merasa rugi sendiri.

Sedikit diluar topik, saya juga sarankan untuk semua orang tua yang Muslim agar beli buku Tahapan Mendidik Anak - Teladan Rasulullah SAW. Tidak ada kaitan dengan topik di atas, tetapi secara umum, saya anggap buku ini sangat berharga untuk semua orang tua. Saya cukup kaget membaca buku ini karena isinya sesuai dengan ilmu pendidikan yang “terbaru” yang saya dapatkan di kampus di Australia. Saya anggap ilmu yang saya pelajari itu “baru” karena berbeda dengan ilmu pendidikan negara barat dari 20 tahun sebelumnya, tetapi setelah baca buku ini, saya baru sadar bahwa kebanyakan yang saya belajar tentang pendidikan anak dan psikologi anak telah dicontohkan 1.400 tahun yang lalu oleh Nabi kita (yang selalu memberikan pengarahan dengan lembut, dan sudah mengerti sifat anak2 dan bagaimana mendidiknya dengan cara yang terbaik). Kalau ingin beli kado buat teman yang sudah berkeluarga, saya sangat anjurkan buku ini. Insya Allah masih tersedia di Gramedia dan Gunung Agung.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Friday, December 28, 2007

Bush Merencanakan Pemotongan Besar Terhadap Dana Anti-Teror Di Amerika Serikat!


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ini sungguh aneh.

George Bush sudah meyakinkan seluruh dunia akan bahayanya terorisme. Seluruh dunia dibujuk dengan cara yang halus maupun kasar supaya menuruti kemauan Bush untuk menyerang “sebuah istilah”.

“Terror” adalah sebuah istilah dan juga perasaan, dan “terrorism” bisa dikatakan “taktik perang” yang telah digunakan sewaktu-waktu di dalam sejarah peperangan bangsa2. Jadi, perang terhadap “terror” (“War on Terror”) ibarat perang terhadap “kesedihan”, “kecapaian”, “kemarahan” dan seterusnya. Perasaan seperti ini tidak bisa dihilangkan dengan perang. Bagaimana kalau kota anda dijatuhkan bom dengan tujuan menghapus “kesedihan” di semua lapisan masyarakat? Apakah bisa berhasil? Apakah bom bisa menghilangkan perasaan dan emosi tersebut dari semua benak manusia?

Dan taktik seperti terorisme tidak bisa dihilangkan dengan perang karena semua taktik yang lain juga tidak mungkin dihilangkan dengan perang. Misalnya, apakah bisa dilakukan perang terhadap “penyerangan malam” (sebuah taktik), atau perang terhadap “penghancuran jalur2 suplai” (sebuah taktik), dan seterusnya?

Jadi perang terhadap “teror” sudah sangat aneh, dan seluruh dunia diwajibkan nurut dengan kemauan Bush untuk menciptakan perang jangka panjang, yang tidak bisa dimenangkan dengan cara apa pun.

Selanjutnya, yang menjadi sangat aneh di dalam perang ini (di atas yang baru saja disebutkan) adalah berita terbaru bahwa George Bush merencanakan PEMOTONGAN BESAR TERHADAP DANA ANTI-TEROR DI AMERIKA SERIKAT!

Apakah bisa dipahami? Seluruh dunia diwajibkan menjadi takut terhadap teror, diwajibkan bertindak melawan teror, dan diwajibkan mengejar “teroris” di wilayah masing2, sedangkan Bush sendiri mau memotong dana yang dikeluarkan untuk melawan terorisme!!??!!??!!

Pemotongan tersebut mencapai lebih dari 50% dari anggaran sekarang.

“The Homeland Security Department…wanted to provide $3.2 billion to help states and cities protect against terrorist attacks in 2009, but the White House said it would ask Congress for less than half - $1.4 billion, according to a Nov. 26 document.”

Artinya, Homeland Security Department ingin memberi $3,2 milyar pada setiap negara bagian (state) dan kota-kota besar, tetapi Gedung Putih merasa kurang dari setengah, hanya $1,4 milyar, sudah cukup. Rencana terbaru dari Bush akan (dengan sengaja) MENGHILANGKAN banyak program2 keamanan di pelabuhan dan tempat transit, dan juga program tim2 darurat (seperti tim SAR) dalam anggaran 2009.

Kata Senator Barbara Boxer, Democrat-California, “Pemerintahan Bush beranjak dari wilayah ke wilayah di dalam negara kita dan membuat masyarakat takut [akan diserang oleh teroris], tetapi pada saat mereka [=pemerintahan Bush] harus membayar sesuai dengan ucapannya, mereka mengatakan ‘Maaf, bank sudah tutup’.”

Rencana baru Bush membuat negara bagian California sangat kuatir karena 47% dari semua barang yang diimpor ke AS masuk lewat pelabuhan California, tetapi mereka akan kehilangan $220 juta dalam rencana baru Bush. Mereka sudah sadari bahwa satu saja penyerangan teroris terhadap pelabuhan California bisa sangat menganggu ekonomi bangsa.

Homeland Security minta $900 juta untuk bantu melindungi kota-kota yang dianggap sasaran utama serangan teroris. Tetapi Gedung Putih hanya bersedia memberikan $400 juta, dan hanya boleh dibagi antara 45 wilayah tertentu.

Juga dijelaskan di dalam artikel ini bahwa sebagian dari program2 yang menerima dana dari pemerintahan federal dianggap kurang efektif, dan kurang dibutuhkan. Walaupun begitu, pemotongan besar yang dilakukan Bush tidak memberi isyarat yang baik bagi bangsa2 lain yang dibuat takut oleh Bush, dan dibujuk untuk menemaninya melanggar hukum internasional, mengabaikan hak2 tahanan perang, mengabaikan PBB, dan mengikuti dia menyerang sebuah perasaan (“terror”).

Seharusnya Bush malah menambahkan dana buat program anti-teror di AS, daripada berusaha menghemat uang supaya bisa digunakan untuk menyerang dan menghancurkan kota2 di Iraq, yang sangat merugikan masyarakat sipil, dan sangat mengganggu proses belajar anak kecil yang banyak menjadi pengungsi sekarang. Bush sudah jelas tidak peduli pada keamanan bagi anak yang tidak berdosa di Iraq, dan sekaligus juga terbukti tidak peduli pada keamanan buat anak yang tidak berdosa di Amerika Serikat.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Read the full article:

White House to Cut Anti Terror Funds

The Associated Press

Friday 30 November 2007

Sumber: Truthout

Gereja Katolik Di AS Terpaksa Menjual Gedung Untuk Bayar Kasus Pelecehan Sekual

Ini berita yang sungguh menyedihkan. Uskup di Los Angeles, California, terpaksa menjual gerejanya untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Kenapa mereka butuh uang? Bukan untuk santunan anak yatim. Bukan untuk program sosial. Mereka butuh banyak uang tunai untuk membayar tuntutan dari korban pelecehan seksual setelah mereka dianiaya atau diperkosa oleh sebagaian pastor selama bertahun-tahun!

Kantor utama yang digunakan sang uskup akan dijual, dan mungkin sebanyak 50 gedung yang lain yang juga milik Gereja akan dijual pula. Uang yang dihasilkan akan dibagi-bagi antara ratusan korban yang telah mentuntut Gereja Katolik di pengadilan.

Perkiraan terbaru adalah total pengeluaran oleh Gereja untuk menyelesaikan semua kasus ini bisa mencapai $1 milyar.

Dalam salah satu persidangan, Gereja Katolik menyetujui pembayaran sebesar $660 juta untuk meneyelsaikan ratusan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastor. Pembayaran ini merupakan pengeluaran yang terbesar yang pernah dilakukan oleh satu wilayah kekuasaan uskup (disebut satu “diocese”).

Beberapa kasus yang lain masih belum tuntas.

Read the full articles here:

LA Church sale to fund sex claims

Story from BBC NEWS:

Judge Approves $660-Million Clerical Abuse Settlement

By Tami Abdollah and John Spano

The Los Angeles Times

Tuesday, December 25, 2007

Blog Lingkungan


Tadi saya lagi chatting dengan teman. Kita sama2 mencari blog Indonesia yang membicarakan persoalan lingkungan. Ketemu blog ini. Kayanya bagus banget. Buat orang yang peduli lingkungan. Silahkan lihat sendiri…

Aku Ingin Hijau

Sunday, December 23, 2007

Kapan Indonesia Menjadi Seperti Jepang?


Saya dikirim artikel ini dari seorang teman. Kapan Indonesia bisa seperti ini? Dan apakah ada yang bisa menjelaskan kenapa negara yang penuh dengan orang kafir bisa seperti ini, sedangkan negara yang penuh dengan orang yang beriman bisa mewujudkan yang sebaliknya? Kapan bangsa ini akan maju dan meniru negara orang kafir?

Catatan Perjalanan

Dongeng dari Jepang

Oleh Yuli Setyo Indartono

Rabu, 13 September 2006 06:18:38

>Kantor pemerintahan dan pelayanan public

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam.

[…]

Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

[…]

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.

>Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

>Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

>Lingkungan hidup dan transportasi

Baca artikel lengkap di sini: Berita Iptek.com

Saturday, December 22, 2007

Funny Americans

Ini lucu sekali. Warga Amerika yang biasa ditanyakan tentang beberapa hal, dan ternyata, banyak yang tidak bisa menjawab. Misalnya, ada yang bingung dan tidak bisa menjawab pertanyaan “Tembok Berlin dulu ada di mana?” (Aduh! Adanya di Berlin kali Mas!!??!!).
Ada yang setuju untuk menyerang Iran, ditunjukkan peta (yang sengaja diberi nama negara yang salah) dan ternyata ada juga yang percaya bahwa Australia adalah Iran (karena ada tulisan ‘Iran’ di atas Australia.). Ada juga yang milih Australia sebagai Korea Utara.
“Ada berapa tower Eiffel di Paris?” “10?”
“Sebutkan nama negara yang diawali dengan huruf ‘U’” “U-goslavia?” (Ahhh, United States of America, kali! Haha).
Silahkan nonton sendiri (dalam bahasa Inggris).
Kalau koneksi internet pelan, matikan suara, dan biarkan loading dulu (mungkin 10 minit). Setelah loading selesai, klik pada “Replay” dan nonton.
Lihat di sini: Funny Americans

Hilangkan Tray di Toko Swalayan

Assalamu’alaikum wr.wb.,

>>Di sini, yang saya bicarakan adalah “polystyrene tray” (piringan polistirena) yang sering digunakan di toko swalayan dalam bungkusan makanan. Maaf, saya tidak tahu istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia selain “polistirena” yang ditemukan di internet, jadi saya sebutkan ‘tray’ saja. Contoh2 dari apa yang saya maksudkan dapat dilihat di sini.

Sering kali, saya belanja di toko swalayan seperti Hero atau Superindo karena dekat dengan rumah saya. Satu hal yang membuat saya sedih adalah setiap kali belanja di toko swalayan manapun, selalu ada bungkusan makanan (untuk buah, sayuran dan daging) yang tidak dibutuhkan. Setelah pulang ke rumah, dan buah/sayuran/daging mau dimakan, tray itu dibang. Kenapa makanan tersebut tidak bisa dijual tanpa ada tray ini?

Pertama, toko swalayan rugi karena menyediakannya. Menyediakan berarti mereka harus beli. Kedua, kalau kita semua membuangnya, berarti setiap hari ada ratusan ribu tray yang dibuang ke tempat sampah. Saya mau bertanya kenapa tidak dihilangkan saja, atau dikurangi penggunaannya?

Setelah saya cek di internet, ternyata nilainya sangat rendah sebagai bahan yang bisa didaur-ulang (recycle). Berarti kebanyakan dibuang saja, dan menjadi bahan yang mencemari lingkungan.

Sudah sering saya melihat wortel atau apel dibungkus. Pertama, ditempatkan di atas tray, lalu dibungkus ketat dengan “Cling Wrap” (plastic halus yang tipis). Kenapa tidak dibungkus dengan “wrap” saja, tanpa ada tray di bawahnya? Pernah saya datangi satu toko swalayan yang tidak pakai tray, dan semua sayuran yang mau saya beli ditempatkan dalam kotaknya secara lepas atau dibungkus dengan ‘wrap’ saja. saya kira toko ini lebih mempedulikan lingkungan. Ternyata tidak, karena pada kunjungan berikut, tray sudah digunakan lagi. (Mungkin mereka kehabisan stok untuk satu minggu).

Dengan cari-cari di internet, saya dapat situs ini (TotallyWasted.org) yang mengekspose bungkusan makanan yang tidak dibutuhkan dan menjadi sampah. Tetapi saya tidak menemukan yang setara dalam bahasa Indonesia (saya tidak sempat mengecek Walhi dan situs pencinta lingkungan yang lain). Ada beberapa situs bahasa Indonesia yang membicarakan masalah ini sebagai satu post saja, tetapi saya tidak dapat satu situs yang membicarakan semua bungksan yang digunakan di toko swalayan dan kemudian menjadi sampah, seperti yang dilakukan Totally Wasted.



Contoh beberapa situs yang sudah membicarakan masalah ini:

Katakan Tidak Pada Plastik Swalayan

Kampanye Natal 2007 tanpa kantong plastic

Swalayan & ”Hypermarket” Jadi Sasaran Sosialisasi K3

Plastik dalam gaya hidup konsumtif



Dari Wikipedia:

Expanded polystyrene is not easily recyclable because of its light weight and low scrap value. (Tidak bisa di-recycle karena ringan dan punya nilai recycle yang rendah)

Expanded polystyrene foam takes a very long time to decompose in the environment and has been documented to cause starvation in birds and other marine wildlife. According to the California Coastal Commission, it is a principal component of marine debris. (Makan waktu yang lama sekali untuk menjadi hancur di dalam lingkungan, dan bisa menyebabkan burung2 menjadi kelaparan {???Apa dimakan sama burung? Tidak dijelaskan prosesnya membuat burung kelaparan!}. Menjadi salah satu bahan utama yang mencemari laut.)

The city of Berkeley, California was one of the first cities in the world to ban polystyrene food packaging (called Styrofoam in the media announcements).[7][8] It was also banned in Portland, OR, and Suffolk County, NY in 1990.[9] Now, over 20 US cities have banned polystyrene food packaging, including Oakland, CA on Jan 1st 2007.[10] San Francisco introduced a ban on the packaging on June 1st 2007:[11] (Kota Berkeley, California, menjadi salah satu kota pertama di dunia yang melarang penggunaan polistirena. Sekarang, sudah lebih dari 20 kota di AS telah melarangnya.

Sumber: Wikipedia

Bagaimana kita bisa memberitahu para pengurus toko swalayan bahwa kita inginkan mereka menghilangkan tray ini karena tidak bermanfaat, tidak dibutuhkan, tidak di-recylce, tidak diinginkan masyarakat, dan hanya menjadi sampah yang mencemari lingkungan kita? Kalau bisa dihilangkan berarti toko bisa menghemat, dan lingkungan menjadi lebih bersih. Kenapa para pengusaha yang biasanya mengejar profit di atas segala-galanya jsutru menyediakan sesuatu yang tidak bermanfaat, padahal mereka harus membelinya terlebih dahulu?



Saya juga sering mengalami masalah saat saya menolak tas plastik kecil di toko swalayan. Saya tidak tahu kenapa, tetapi hal ini paling sering terjadi saat saya belanja di Superindo (lebih daripada yang lain, tetapi sewaktu-waktu juga terjadi di toko lain). Saya masuk toko karena ingin beli susu, atau fruit tea, atau makanan ringan, dan semua yang saya beli dimasukkan ke tas plastik kecil (padahal bisa dipegang dalam satu tangan, dan juga bisa saya masukkan ke tas saya, atau masukkan ke kantong kelana. Tetapi sepertinya ada UU yang melarang orang belanja tanpa menerima tas plastik.)

Saat belanjaan saya dimasukkan ke tas plastik, saya sering menolaknya. Kasir menjadi bingung.

“Tidak jadi beli ini Pak?”

“Tidak usah pakai tas plastik.”

“Gimana Pak?”

“Sini.” (Dengan arti, susu Ultranya kasih kepada saya, dan jangan masukkan ke tas plastik, sambil saya keluarkan tangan saya untuk menerimanya.)

“Nggak pakai tas plastik Pak?” (Dengan arti, apakah anda ini seorang alien yang tidak mengerti apa-apa tentang kehidupan yang normal di bumi ini?)

Yang saya ingat di Australia, kita harus minta tas plastik kecil kalau belanjaan kita sedikit. Di sini, saya malah harus menolak 2-3 kali, dan setelah itu, orang yang layani saya memandang saya dengan ekspresi muka yang aneh, seakan akan saya orang gila yang baru saja memberitahunya bahwa saya adalah alien dari planet lain yang datang ke bumi ini khusus untuk beli susu Ultra. (Dan kalau saya bicara begitu, wajar kalau dia kaget dan bingung. Tetapi kenapa dia bisa kaget kalau saya tidak mau ambil tas plastik yang akan dibuang dalam waktu 5 minit setelah kembali ke kantor??)

Di Indonesia, di mana kita punya masalah yang besar dalam mengurus sampah, kenapa tidak ada usaha dari pemerintah, pemda, organisasi masyarakat, guru sekolah, dll. untuk mendidik masyarakat dan juga para pemilik toko swalayan supaya mereka tidak menggunakan bahan2 seperti tray ini yang tidak bermanfaat sama sekali (atau juga tas plastik buat orang yang beli 1-2 barang). Satu tindakan yang kecil seperti ini bisa menaikkan profit perusahaan (dan penghasilan dari penghematan yang baru itu bisa digunakan untuk anak yatim), dan juga akan menjaga lingkungan kita.

Apakah wajar kalau kita berprotes kepada manager toko swalayan? Apakah pernah ada konsumen yang melakukannya? Atau apakah konsumen di Indonesia sangat pasif? Kita siap terima apa saja yang diberikan kepada kita, tanpa berfikir, tanpa berkomentar? Bagaimana masa depan bangsa? Bagaimana kalau cucu anda harus main di dekat gunung sampah pada 20 tahun mendatang?





PLAYTIME, TAHUN 2030


MAIN KE PUNCAK BERSAMA KELUARGA UNTUK REFRESHING, TAHUN 2030



MENIKMATI WAKTU SANTAI DI TAMAN MINI, TAHUN 2030




DILARANG MEMBUANG SAMPAH? MASA SIH?


OHHHH. TERNYATA SAYA TIDAK PERLU MEMBICARAKAN MASA DEPAN, KARENA INDONESIA SUDAH SEPERTI INI SEKARANG, TAHUN 2007!!!

Kapan kita bisa bertindak sendiri (sebagai ummat yang peduli pada kebersihan) untuk mencegah keadaan ini, dengan tindakan sekecil apapun?

Masa bangsa yang penuh dengan orang Muslim ingin hidup seperti ini terus-terusan?

Mari kita berusaha untuk hilangkan satu kantong plastik kecil, satu tray makanan, satu bungkusan yang tidak dibutuhkan.

Setiap hari, coba hilangkan satu saja (dengan cara jangan beli/ minta/ ambil dari toko swalayan) dan tindakan itu sudah memberi dampak yang cukup luas, insya Allah. Tindakan kecil dari banyak orang = hasil yang besar. Kalau tidak percaya, bayangkan kalau setiap orang di indonesia memberikan anda Rp 100 saja. Hasilnya apa?

Mari kita mulai sekarang…

Mari kita ciptakan bangsa yang bersih…

Dimulai dari belanjaan kita di toko swalayan…

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Friday, December 21, 2007

Hangaroo

Bagi yang suka main game “Hangman” untuk belajar bahasa Inggris, ini ada versi gaya Australia: Hangaroo. Cara mainnya sama, dan menguji kosa kata, nama film, dan sebagainya.

Free Download Hangaroo

Wednesday, December 19, 2007

Kisah satu anak miskin




Assalamu’alaikum wr.wb.,

Barangkali Wapres benar. Kondom sangat utama untuk dipikirkan seorang Wapres.

Barangkali Gubenur benar. Busway yang habiskan ratusan milyar dan bikin jalan lebih macet lagi untuk layani minoritas dari masyarakat, dengan sekaligus makan subsidi cukup besar, lebih utama untuk dipikirkan seorang Gubenur.

Barangkali Walikota benar. Kuburan yang perlu dibongkar supaya tanah wakafnya bisa dijual kepada pengusaha yang ingin membangun apartemen di atasnya (walaupun melanggar hukum syariah 100%) lebih utama untuk dipikirkan seorang walikota.

Mereka pasti benar. Urusan mereka pasti sangat penting karena mereka adalah pejabat negara. Tidak mungkin mereka akan utamakan hal-hal yang tidak utama.

Tidak mungkin ada hal yang lebih utama, yang bisa mengisi waktu mereka untuk mencari solusinya, seperti layanan kesehatan untuk anak miskin.

Tidak mungkin. Kondom saja. Busway saja. Apartemen saja.

Itulah yang terpenting. Mereka pasti benar.

Bayangkan kalau seandainya Nabi Muhammad SAW lahir di sini, pada zaman ini. Bagaimana beliau bisa bertahan hidup terus (sebagai seorang anak yatim yang seringkali diabaikan masayarakat)? Saya yakin semua Nabi Allah dijaga, dan mendapatkan takdir yang ditentukan Allah. Tetapi untuk sementara, coba bayangkan kalau seandainya Allah tidak intervensi untuk menjaga dan meyelamatkan Nabi pada saat masih seorang anak yang yatim dan miskin di Indonesia, dan mempersilahkan kita menjaga semua anak yatim untuk menguji tingkat kepedulian kita dan kasih sayang kita terhadap mereka semua?

Kalau bukan Allah yang menjaganya, siapa yang kira-kira akan peduli kepadanya? Kira-kira siapa yang mau menjaga semua anak yatim karena kuatir bahwa Nabi kita ada di antaranya, atau minimal untuk mengingat perjuangan Nabi dan menghormatinya? Tentu saja bukan pejabat pemerintah.

Saya dulu sering melihat anak yatim di panti dan berfikir “Dulu ada orang seperti kita yang melihat Nabi Muhammad SAW setiap hari, pada saat dia ‘hanya’ anak yatim, dan mereka sama sekali tidak tahu masa depannya bagaimana.” Apakah mereka merasa terdorong untuk berbuat baik kepadanya hanya karena dia seorang anak yatim yang tidak berkuasa? Lalu saya berfikir bahwa saya harus berbuat sebaik mungkin pada anak di depan saya itu karena saya sama sekali tidak tahu dia akan menjadi apa di masa depan. Bisa jadi dia ditakdirkan Allah menjadi pemimpin negara, imuwan penting, orang alim atau Kyai besar bagi ummat Islam. Lalu saya pikirkan semua anak yatim lain yang tidur tanpa merasakan kasih sayang dari pemerintah maupun masyarakat, dan saya ingat pada Nabi Muhammad SAW yang mengalami masa sebagai anak yatim juga.

Nabi Allah Muhammad SAW tidak ditakdirkan menderita di bahwa ketidakpedulian pemerintah Indonesia dan kita semua pada zaman ini. Bagaimana kalau seandainya kita bisa melihat Nabi kita sedang menderita karena lapar dan sakit pada saat dia masih seorang anak yatim, padahal kita tahu dia akan menjadi Nabi kita? Bukannya hati kita pasti sakit sekali melihatnya? Tetapi kita tidak memandang anak yatim yang lain dengan rasa kasih sayang yang setara. Mereka hanya anak yatim biasa, yang miskin dan tidak berdaya. Mereka bukanlah Nabi kita.

Nabi Muhammad SAW dijaga oleh orang-orang di sekitarnya (atas izin Allah).

Anak yatim dan anak miskin di Indonesia belum tentu bisa begitu beruntung.

Silahkan membaca. (Dari teman yang kirim ke milis).

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

*********************



Saya sedang mengawasi ulangan akhir semester waktu Ibu Galuh, salah seorang pengurus sekolah, mendatangi. "Wah Bu, gimana ya? Itu Imam ditolak di rumah sakit. Sekarang dibawa ibunya kesini"

Imam, anak terpandai di kelas 1 rupanya sakit. Pantas tiga hari kemarin dia tidak masuk. Imam boleh dikatakan jauh lebih pandai daripada hampir semua teman sekelasnya. Dua minggu yang lalu kami memberi ujian akhir SD edisi tahun lalu, edisi yang harus mereka kerjakan tahun lalu agar lulus SD. Hal itu kami lakukan untuk mengevaluasi, kemudian mengelompokkan mereka, dan memberi remedial karena matematika anak-anak itu luar biasa memprihatinkan. Nyaris semuanya dapat 10. Imam dapat 87. Yang terdekat dengannya adalah seorang anak perempuan, Rosita, dengan nilai 76.

Mengingat nilai kelulusan SD adalah 4.5, kami heran bagaimana mereka bisa lulus. Soal yang kami berikan adalah soal yang mereka dapat dalam ujian SD yang mereka lalui kurang dari setahun yang lalu.

Saya keluar bersama bu Galuh menemui Imam dan ibunya. Di ruang duduk bangunan serba guna yang jadi lokasi SMP terbuka itu, Imam terbaring lemas di sofa panjang satu-satunya yang ada disitu. Dokter puskesmas kemarin memberitahu bahwa dia mungkin demam berdarah atau/dan tipus atau/dan hepatitis. Harus masuk rumah sakit.

Tapi kemarin itu dia ditolak rumah sakit karena tidak punya kartu askeskin. Hanya ibunya yang mempunyai kartu askeskin. Mengapa cuma ibu yang punya, kan harusnya seluruh keluarga punya? Iya, bu. Di RW lain mah punya semua, tapi di RW saya satu keluarga cuma dikasih satu. Seorang paramedis belakangan bercerita bahwa memang begitu karena belum lama ini pemerintah kota kehabisan blanko kartu askeskin itu, jadi satu keluarga cuma dapat satu. Tapi semestinya bisa bu, karena seluruh anggota keluarga pasti sudah terdaftar di Askes. Rumah sakit juga tahu, cuma mereka tidak mau direpotkan karena prosedurnya menjadi lebih rumit untuk mereka. Ibu Imam memperlihatkan kartu askeskinnya. Kata "keluarga miskin" di kartu itu membuat saya miris.

Tanpa ada uang jaminan atau kartu askeskin, Imam tidak bisa masuk RS walaupun dia harus segera dirawat. Sebelum ke RS, seorang guru memberi nama seseorang yang mungkin bisa membantu. Ibu tersebut menanyakan nama tersebut, dia malah ditanyai, "Ibu kenal tidak dengan bu Lilis itu? Kalau tidak kenal ngapain ibu tanya-tanya dan mau ketemu dia?" Ibu si Imam tak bisa menjawab karena dia juga tak tahu mengapa dia harus menghubungi ibu itu.

"Kami juga diacuhkan, bu. Beberapa kali saya bicara tapi dibelakangi, mereka ngobrol saja sendiri seperti saya tidak ada." Ayah Imam akhirnya marah dan mengajak pulang. Seorang perawat merasa kasihan dan memanggil mereka. Dia menyuruh agar labnya saja yang segera dilakukan dulu, perawat tersebut akan menjamin. Ternyata lab tidak terima karena tetap harus bayar dulu.

Tidak pelak lagi petang itu jadi petang yang sibuk untuk kami. Paramedis yang memberi reko dan bekerja di RS itu, yang sedang cuti, dipanggil juga. Dia adik Ibu Nur, guru yang kami minta jadi koordinator SMP terbuka kami. Urusan dievaluasi. Kami memutuskan langkah-langkah. Besok paginya bu paramedis yang pernah menangani administrasi di RS tersebut akan menguruskan askesnya ke kantor askes. Urusan itu diharap bisa selesai lebih cepat karena dia paham lika-likunya dan orang-orang askes mengenalnya. Besok, begitu surat-suratnya selesai, kami akan mengantarkannya ke RS. Sementara itu Ibu Nur membekali ibu Imam dengan makanan, antara lain tepung beras agar lebih mudah membuat bubur untuk Imam. Pocari Sweat yang saya belikan didisrekomendasikan oleh bu Paramedis karena kalau Imam hepatitis, minuman itu akan memperberat kerja hatinya.

Ibu Paramedis mengeluarkan stetoskopnya dan memeriksa kesehatan Imam. Lalu dia menjelaskan pada ibu Imam apa yang harus dilakukan di rumah. Imam harus istirahat total, kencing juga di kamar saja pakai pispot. Saya mengingatkan bahwa mereka bisa menggunakan ember karena saya yakin mereka tidak punya pispot. Makan harus bubur, alat makannya tidak boleh dipakai atau dicampur dengan alat makan anggota keluarga lainnya, dsb.

Saya dan Ibu Sofyan, pengajar keterampilan, kemudian mengantarkan mereka pulang. Imam nyaris tidak bisa berjalan. Saya memapahnya keluar sementara ibunya yang tidak tahu akan diantar sudah keluar duluan keluar untuk memanggil ojek.

Kijang tahun 90an yang disupiri bu Sofyan menyusuri jalan berbatu yang awal semester ini saya susuri dengan sepeda. Imam saya suruh berbaring di kursi tengah dengan kepala di atas pangkuan ibunya untuk mengurangi pengaruh goncangan mobil di jalan berbatu itu. Kami menyeberangi jalan aspal Parakan Saat. Jalan di tepi sungai itu mulai menyempit sampai akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah petak berimpit di tepi sungai. Pintunya dilindungi anyaman plastik biru dari tempias hujan, angin dan matahari, mungkin itu limbah yang berasal dari plastik penutup tenda-tenda pinggir jalan.

Sekali lagi saya masuk ke dalam rumah yang bisa membuat stres kalau kita tinggal di dalamnya lebih lama dari sejam. Rumah itu terdiri dari tiga ruang berjajar menghadap sungai. Di ruang sebelah kiri waktu kita masuk ada sumur. Di ruang yang tengah, tempat pintu masuk, ada meja yang berisi makanan yang tidak menarik sama sekali. Saya jadi ingat pembantu saya yang kadang tetap saja membawa makanan yang menurut saya sudah tidak baik lagi walaupun saya larang dan saya suruh buang. Begitulah wajah makanan di atas meja itu. Bukan hanya tidak menarik, tetapi juga tampak seperti sisa-sisa, semua serba sepotong atau seimprit.

Di ruang sebelah kanan yang gelap (sebetulnya semua ruang gelap kecuali ruang sumur) ada ruang tidur berisi satu tempat tidur bertingkat dan lemari. Tempat tidurnya dialasi potongan-potongan kain. Kalau pun ada kasur dibawahnya, pastilah tipis sekali. Semua tampak kusut dan kumal.

Saya kira Imam berasal dari keluarga yang lebih baik kondisinya. Mungkin itu karena wajahnya yang tampak bersih dan matanya yang selalu bersinar. Ternyata kondisi keluarganya sama buruknya dengan beberapa anak yang dulu saya survei.

Kemarin, setelah melewatkan setengah hari yang melelahkan, paramedis baik itu berhasil memperoleh dokumen-dokumen yang dibutuhkan Imam. Wah, meletihkan dan makan waktu, padahal mereka kenal saya, katanya. Saya bisa membayangkan bagaimana kalau tak kenal. Entah kapan akan selesai. Jangan-jangan keburu mati anak orang.

Jam 15.30 Imam kami jemput. Kami minta ibunya menyiapkan pakaian untuk Imam di rumah sakit. Sampai di RS Ujung Berung, saya mengingatkan salah satu guru pengantar untuk mengopi semua dokumen yang ada beberapa kali. Nanti tiap loket pasti minta satu, saya meyakinkan. Beliau pergi mengopi, tapi cuma sekali. Sayang bu kalau tidak terpakai, katanya.

Benar saja. Tiap loket minta satu kopi. Entah kemana mereka menyimpan begitu banyak kopi dokumen yang harus diserahkan pasien setiap hari. Ibu Zakiah terpaksa pergi mengopi lagi.

Saya hapal birokrasi RS dalam menangani Askes karena tahun ini, waktu si sulung sakit serius dan ayahnya juga mau dioperasi sedikit, kami memutuskan menggunakan askes. Ribetnya minta ampun. Tidak usah saya ceritakan lagi. Yang jelas, tanpa pengantar dan tanpa dukungan orang terdekat, kalau ke RS pemerintah dengan Askes, orang sakit bisa-bisa bukan sembuh melainkan malah tambah parah atau jangan-jangan malah mati!

Kami masuk ke ruang UGD. Bau ruang itu tidak cocok untuk bau rumah sakit. Baunya lebih cocok untuk bau kamar kecil. Terasa lembab dan bau pesing. Aaahhhh. Dari situ, Imam ke lab untuk periksa darah. Untung disitu baunya lebih menyenangkan. Perawat menarik lengan baju Imam ke atas. Lengannya yang kurus terbuka jelas. Kalau makanannya adalah apa yang kami lihat di meja makan mereka, tidak heran anak itu bukan hanya kurus dan kecil, tapi juga nyaris tak berdaging. Bahkan kulitnya bergelayut sedikit karena kurusnya. Tak pantas untuk kulit anak kecil.

Setelah hasil tes darah keluar, kami menunggu dokter. Lalu diagnosa Imam pun keluar: hepatitis dan kemungkinan tifus. Imam harus segera masuk ruang isolasi RS, tapi Ruang Isolasi RS Ujung Berung penuh. Dia harus dirujuk ke RS Hasan Sadikin.

Ibu Zakiah, yang bawa mobil, tadi terpaksa pulang karena tamu yang datang ke rumahnya sudah terlalu lama dibiarkan menunggu. Kami memanggil taksi. Hujan rintik-rintik mulai menderas. Taksi tak jua datang. Adzan Magrib sudah tadi berbunyi. Ah, saya belum sempat menyiapkan homemade pangsit untuk isi wonton soup makan malam kami malam ini. Padahal Bogie sedang sakit. Tadi Karina juga mengatakan badannya tidak enak sepulang kuliah. Saya telpon Fatima, si bungsu, untuk membuat pangsit seperti yang bunda buat dan siapkan makan malam untuk ayah dan kakak. Untung si kecil ini tertarik masak memasak. Jam 19.00, taksi belum tampak hidungnya. Kami mulai berpikir mencari alternatif karena saat hujan taksi memang susah. Siapa yang bisa dimintai tolong? Tengah risau begitu, saya teringat seorang guru lainnya yang kadang datang dengan mobil jipnya. Untunglah dia bersedia. Saya aplusan dengan ibu itu. Diujung jalan Pacuan Kuda saya diturunkan dan pulang ke rumah untuk ganti memeriksa anggota keluarga saya sendiri yang sakit dan memastikan mereka makan malam. Hampir jam sepuluh, kedua ibu yang mengantar ke RS Hasan Sadikin itu baru bisa pulang ke rumah. Di RS Hasan Sadikin pun masalah birokrasi hampir saja membuat anak itu nyaris ditolak lagi.

Kami orang-orang terdidik ini saja pusing padahal kami sudah mengandalkan berbagai koneksi, bagaimana pula orang-orang kecil seperti keluarga Imam. Orang miskin memang harus dilarang sakit di negeri ini.

salam,

ida

Menjawab Kritikan

Hari ini ada beberapa kritikan yang masuk. Semuanya tidak tinggalkan nama, jadi saya tidak tahu apakah orang yang sama atau orang yang berbeda. Rupanya, mereka/dia tidak begitu suka tulisan saya, dan ingin supaya saya tidak menulis dengan gaya saya, tetapi dengan gaya orang lain yang lebih standar. Karena ada sedikit waktu sore ini, saya sudah balas semua komentar di post masing-masing, dan akan tambahkan sedikit di sini.

(Kalau ada orang yang lihat sesuatu di komentar saya yang ‘kurang baik’ dari pandangan Islam, belum tentu disengaja begitu. Yang namanya menulis blog buat orang sibuk, bisa kapan saja, dalam waktu singkat, dan belum tentu terpikir dari semua pandangan. Daripada tinggalkan komentar yang panjang lebar untuk menegor, lebih baik kirim email dan jelaskan masalahnya ada di mana. Seringkali, setelah beberapa hari, satu post diedit karena saya baru sadar bahwa teks yang diketik tidak sesuai dengan maksud saya, atau bisa disalahpahami. Jadi, lebih baik pembaca berbaik sangka dan kirim email supaya post bisa diedit, daripada menghujat saja. Terima kasih).

Saya ingat dulu, saat saya bicara dengan salah satu guru saya tentang kenyataan bahwa saya sering diundang ceramah, diundang masuk tivi, diundang masuk radio, dan juga menuils artikel di blog, dan menulis buku tentang agama. Saya mengatakan bahwa saya tidak merasa pantas untuk melakukan semua ini karena ada banyak orang yang ilmunya lebih tinggi dari saya. Guru menjawab, tidak apa-apa dan malah bagus kalau mendapat kesempatan untuk berdakwah dengan mudah. Banyak orang tertarik karena saya bule yang menjadi mualaf. Jadi hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengajak orang lain berfikir lebih dalam tentang agama. Selama tidak melampaui batas ilmu saya dan mengeluarkan “fatwa”, tidak masalah, katanya. Dan jangan sampai merasa diri saya paling benar, karena cepat atau lama akan terjadi bahwa saya merasa benar tetapi sebenarnya salah karena keterbatasan ilmu. Jadi harus selalu siap untuk menerima pendapat lain dan mencernakan juga. Dan pesan terakhir: siap dikritik oleh orang lain!

Sudah lama saya rasakan kritikan dari orang yang tidak mengenal saya secara pribadi. Ada yang bilang saya agen intel dari Australia. Ada yang bilang saya orang kafir yang pura2 menjadi Muslim. Ada yang bilang saya mualaf yang tidak mengerti Islam, jadi diharapkan saya berhenti menulis dan ceramah karena saya orang awam sekali yang tidak punya ilmu sama sekali. Dan seterusnya.

Saya selalu ingat kisah tentang bapak dan anak yang naik kuda, dan setelah dikritik, mereka menggantikan posisinya berkali-kali dengan bapak di atas, anak di atas, dua-duanya di atas, dan dua-duanya di bawah. Apapun yang mereka kerjakan, tetap ada yang mengritik. Saya sering merasakan hal yang sama. Jadi, kalau mau menulis buku atau artikel, dan ceramah, apalagi masuk tivi (saya masih menolak semua undangan tivi), memang harus siap dikritik. (Apalagi kalau buku saya terbit bulan depan. Kritikan bakalan lebih banyak dan lebih kejam).

Saya ingin menjelaskan ini karena saya makin sibuk pada saat ini dengan membuat beberapa proyek untuk tahun depan. Karena itu, lain kali kalau ada kritikan yang masuk ke blog, belum tentu saya akan tanggapi. Bukan karena merasa diri paling benar, tetapi karena keterbatasan waktu. Sore ini sudah habis tiga jam, hanya untuk membalas kritikan, padahal waktu itu cukup berharga bagi saya untuk mengerjakan hal yang lain. Jadi kalau setelah ini, ada yang melihat kiritkan yang tidak dibalas, itulah sebabnya.

Saya ingin menjelaskan kenapa saya menulis tentang Islam.

Alasannya adalah karena saya masuk Islam setelah proses menganalisa Islam selama 5 tahun. Jadi bukan sekejap. Setelah menganalisa, saya jadi yakin Islam benar. Sebenarnya, saya hanya mempraktekkan apa yang diajarkan waktu kuliah di Australia: berfikir secara kritis, menganalisa, mencari kebenaran, memeriksa kebenaran itu, membuat kesimpulan, menyampaikan pendapat, dan seterusnya. Jadi ini suatu proses yang memang diajarkan kepada kita supaya berfikir kritis dan menganalisa untuk mencari kelemahan dari suatu argumentasi akademis atau sebuah teori. Karena saya cukup senang melakukannya, akhirnya saya mendapat nilai yang tinggi di semua mata kuliah.

Sekarang, sebagai seorang Muslim, saya merasa sedih melihat banyak sekali saudara saya di sini yang justru tidak bisa melihat apa yang saya lihat dan pahami dengan cepat setelah membaca tentang suatu perkara. Ibaratnya saya cepat mencium bau formalin di daging dan langsung tahu kelemahan daging itu, tetapi ibu di sebelah saya malah tidak tahu formalin itu apa dan karena itu, dia tidak takut beli dagingnya.

Saya bukan genius; semua teman saya di Australia juga sama, karena kita diajarkan begitu dari sekolah sampai kuliah. Karena dengan cepat bisa melihat kelemahan akademis yang ada di dalam sebuah konsep (terutama buat orang yang pernah kuliah), justru banyak orang barat sudah tinggalkan gereja, dan jumlahnya meningkat terus. Sayangnya, putusnya dengan gereja itu berhenti di situ saja, dan tidak sampai membawanya ke Islam seperti saya.

Jadi sekarang, saya menggunakan sikap, dan daya pikir yang kritis untuk menganalisa semua perkara yang saya temukan di dalam ISLAM. Bukan maksud saya untuk jelekkan nama Islam. Tidak pernah. Naudzu billah mindzalik. Justru karena saya sayang pada Islam, dan semua saudara saya yang Islam, saya merasa terdorong untuk menyampaikan apa yang saya pahami dengan harapan bahwa ummat Islam bisa menjadi lebih baik.

Kalau hal-hal yang buruk tidak boleh disebut-sebut di tempat umum, bagaimana kalau ada seorang Menteri Agama yang berama Islam yang masuk penjara? Perlu ditutupi juga? Bagaimana kalau ada calon menteri agama yang direkam berzina di hotel? Perlu ditutupi? Anggap saja tidak ada? Kalau ummat Islam membuang sampah sembarangan, perlu ditutupi? Anggap tidak ada? Dan seterusnya.

Jadi, saya mengritik apa yang saya lihat karena punya niat untuk membangun sebuah generasi Islam yang lebih cerdas, yang bisa belajar dari masalah2 yang melanda bangsa ini sekarang. Dan untuk mencapai tujuan itu, tidak cukup kalau saya mengatakan “jangan korupsi”, “jangan berzina”, atau “jangan membuang sampah ke kali”. Semua ajaran2 itu telah diucapkan berjutaan kali sebelum saya lahir, dan kita bisa melihat hasilnya sekarang.

Saya ingin mengajak semua saudara saya untuk menjadi lebih kritis terhadap orang2 yang merusak nama baik agama kita, karena kalau tidak kita bahasnya di forum yang umum, saya takut perilaku ummat Islam di bangsa ini tidak akan berubah (karena tidak boleh dibahas).

Semoga sudah jelas niat dan tujuan saya.

Kalau ada yang mengatakan “menulis tentang yang baik2 saja” maka saya anggap itu sangat merugikan waktu saya. Kalau mau tahu kenapa, lain kali pada saat anda demam tinggi dan muntah2, silahkan pergi ke dokter dan minta dia menjelaskan selama 10 jam tentang semua fungsi tubuh anda yang sehat. “Mata ibu bagus, tidak perlu pakai kacamata, telinga ibu bagus, jantung bagus, kaki ibu bagus, jari tangan bagus, kuku ibu bagus, siku ibu bagus, paha bagus, ginjal bagus”, dan seterusnya. Mau di situ sampai kapan kalau setiap “pasien” dapat layanan begitu?

Jalan yang pintas sudah jelas: berfokus pada yang “rusak” dan mengobatinya dengan secepatnya. Untuk itu, perlu disebutkan dulu supaya menjadi jelas masalahnya apa. Setelah itu, harus mencari obat. Saya bukan genius, jadi kalau saya bisa melihat sebuah “penyakit” maka saya sebatas ingin menyadarkan si pasien bahwa ini perlu diobati. Insya Allah ada orang yang lebih pintar dari saya yang bisa bantu dengan menyampaikan solusinya. Sewaktu-waktu, saya sampaikan solusi, tetapi tidak selalu. Kalau saya bisa membuat orang sadar bahwa memang ada yang sakit, saya rasa itu sudah sangat membantu karena sesudahnya, si pasien akan lebih aktif mencari solusinya, Insya Allah.

Jadi, saya tidak merasa perlu menjelaskan tentang benarnya sholat lima waktu. Saya anggap sudah dipahami oleh pembaca, dan saya terbiasa menulis khusus buat saudara saya yang Muslim, bukan untuk kepentingan orang kafir. Jadi saya ingin memfokuskan pikiran orang pada apa yang saya lihat sebagai “formalin yang belum tentu tercium oleh orang lain”. Dan kalau semua sudah tahu ada “formalin di daging” yang menjadi masalah, kita bisa saling tukar pikiran untuk mencari solusi, karena belum tentu saya punya yang paling tepat.

Hari ini (Selasa 19 Desember 2007), saya ketemu dengan seorang Direktur yang sangat sibuk, dan kami rapat selama 3 jam untuk membahas proses mendirikan LSM baru di bidang pendidikan, dan juga membuat training baru untuk membantu ummat Islam, dan juga membuat VCD yang mengajarkan guru serta orang tua tentang ilmu pendidikan yang paling dibutuhkan untuk mengajarkan anak bangsa supaya menjadi cerdas dan beriman. Sesudahnya, saya ketemu orang untuk mengantar proposal pembangunan pesantren yatim piatu, karena pihak mereka sudah janjikan sekitar 200 juta rupiah dan uang itu sangat dibutuhkan. Saya “dalang”nya yang sengaja menghubungkan keduabelah pihak. Dan ketemu orang dari kedutaan Australia untuk mengatur pertemuan antara seorang tokoh Indonesia dengan Dubes Australia supaya bisa menjadi lebih rukun dan saling kerja sama untuk melakukan hal2 yang baik di Indonesia, terutama buat ummat Islam dan anak yatim. (Kedutaan Asutralia sudah mengeluarkan ratus ribu sampai jutaan dolar untuk memperbaiki sekolah2 dan madrasah2 di seluruh Indonesia, tetapi tidak terlalu dibesar-besarkan di media).

Dan setelah kena macet berjam2 dari Pancoran ke Tebet ke Kuningan ke Tebet ke Pancoran, akhirnya saya sampai rumah dan buka email untuk membaca kritikan yang meragukan perjuangan saya demi kepentingan ummat Islam, dan meragukan ilmu agama saya. Saya hanya bisa bersabar, dan mungkin setelah ini, saya tidak akan menjawab kritikan yang lain.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

*************************

Dari shoutbox:

Assalamu'alaikum Wr.Wb.Pak gene, sepertinya begitu banyak yang anda ulas mengenai negara ini. Baik ataupun buruknya tapi sepertinya memang yang kebanyakan yang buruk2nya saja. Sedikit banyak kami sudah cukup mengetahui negara kami baik itu yang baiknya ataupun yang buruknya. Saya sarankan bagaimana kalau anda juga mengulas, memberi informasi mengenai bagaimana dengan negara anda sendiri.Apa ada bisa kami pelajari dari negara anda. Apa ada yang bisa kami pelajari dari segi positif negara anda misalnya pendidikan disana, bagaimana pemerintahan disana dll.Yang dapat memotivasi negara kami ini bukan membuat orang2,masyarakatnya menjadi pesimistis.Saya lebih tertarik dan penasaran seperti apa negara anda itu.Waslm'alkm Wr.Wb

Sudah saya lakukan berkali-kali. Ada yang tanggapi dengan baik, dan ada pula yang mengatakan “Eh, bule sombong datang ke sini karena ingin mengajarkan kita segala sesuatu. Ini negara kita, bukan Australia. Kalau di situ memang begitu hebat, pulang aja!” Ini sikap dari orang yang sering mengucapkan “Right or wrong its my korupsi, eh, maaf, my country!” Jadi justru banyak orang yang tidak mau diberitahu tentang segala sesuatu yang hebat di Australia. Terus terang, saya tidak begitu peduli pada Australia. Saya peduli pada Indonesia. Jadi saya ingin bahas masalah2 yang kita hadapi di sini, dengan harapan bahwa lewat dialog terbuka, semua masalah itu bisa diatasi satu per satu. Untuk itu, perlu dibahas terus sampai kita menemukan solusinya.

*************************

Gene Netto has left a new comment on your post "Kisah satu anak miskin":

Tentu saja saya sudah tahu. Saya tidak mengatakan tidak ada orang yang peduli pada anak yatim satupun. Tulisan saya dibuat berlebih-lebihan dengan sengaja sebagai renungan supaya pembaca mulai berfikir. Bayangkan saja kalau tunjangan anak yatim hanya bisa datang dari negara. (Kalau tidak salah memang ada UUnya). Berarti, kalau Nabi kita ada di sini, dan belum ketahuan sebagai Nabi (karena masih sebatas “anak yatim”) maka apakah pasti akan ada manusia yang menjaganya? Kalau kita anggap Allah pasti menjaganya, ya betul, saya juga yakin akan hal itu. Maksud saya adalah: “Coba bayangkan, kalau seandainya Nabi dibiarkan sama Allah, tanpa bantuan, untuk menguji tingkat kasih sayang kita terhadap seorang anak yatim.” Kira2 SIAPA yang akan melihat anak yatim itu dan sayanginya, dan menjamin masa depannya, dan menjaganya tanpa tahu bahwa dia akan menjadi manusia yang sangat mulia dan sangat penting di masa depannya? Apakah pasti akan ada? Pasti? Yakin? Maksud saya begitu.

Kalau seandainya Nabi ada di sini sebagai anak yatim, saya sangat kuatir tentang apa yang terjadi kalau Allah tidak intervensi sama sekali untuk menjaganya, dan kita serta para pejabat terlalu sibuk untuk memikirkannya. Apakah tidak ada anak yatim satupun di negara ini yang wafat karena tidak punya uang untuk berobat? Kalau anda katakan, ya pasti ada, bagaimana kalau “satu anak itu” adalah Nabi kita yang tidak dipedulikan semua orang?

Saya sudah cukup sering ketemu anak yatim dan anak miskin di sini yang tidak mendapat bantuan. Dan bila ada, bantuan seminim mungkin. Jarang saya ketemu orang dewasa yang sangat kaya di sini yang begitu sayang pada anak yatim seakan-akan anak kandung sendiri. Paling mereka ingat pada anak yatim pada saat bulan puasa.

Saya dulu mengajar silat pada anak yatim di sebuah panti di Rawamangun. Setiap minggu saya lihat orang kaya datang naik mobil, mengantarkan KFC atau Dunkin Donut buat anak2. Saya sering bertanya kalau orang itu minta ketemu dengan anak2. Mereka menjawab tidak. Orang itu hanya antarkan makanan, tetapi tidak tertarik untuk bicara dengan anak2. Dan mereka katakan sudah bosan makan donut terus. Tetapi orang yang memberikan tidak pernah berfikir untuk datang dulu dan bertanya “Anak2 ingin dibelikan apa?”, lalu belikan. Sebatas “memberi” yang paling mudah, sewaktu-waktu saja”. Yang rajin memberikan sumbangan setiap minggu hanya sebagian. Yang lain antarkan donut kalau lagi ulang tahun, atau pada bulan puasa. Selama 2 tahun saya perhatikan bagaimana masyarakat “menjaga” anak yatim. Dan juga sewaktu-waktu saya juga menegor dan bahkan mengancam membanting tubuh penjaganya karena mereka tidak baik terhadap anak2 (menurut saya).

*************************

Gene Netto has left a new comment on your post "Pencarian kata-kata di Google":

Mohon maaf, tapi belum tentu saya senang di Mekkah juga. Teman2 yang pernah tinggal di sana bercerita tentang banyak hal yang dzholim, seperti pelacur, dan ketahuan sama semua orang di sana. Saya belum pernah ke sana jadi saya hanya bisa percaya atau tidak pada beberapa orang yang telah menyampaikan info yang sama. Berarti tidak ada lokasi yang “sempurna” karena selama ada manusia di suatu tempat, pasti akan ada yang baik dan buruk. Saya juga ingat cerita dari orang yang sering haji dan umroh, bahwa sering terjadi pemerkosaan di sana dan korbannya juga dibunuh supaya tidak ada saksi. (Kata teman saya, juga terjadi terhadap orang Indonesia yang beribadah ke sana, dan bukan saja penduduk lokal). Waktu saya bertanya kenapa saya tidak pernah membaca tentang hal ini di berita Indonesia, dia tidak bisa menjawab selain menebak bahwa hal seperti ini sengaja ditutupi supaya ibu2 tidak takut pergi ke sana.

Kalau “masjidnya Allah” lebih baik dari semua lokasi yang lain, saya setuju, tetapi tidak berarti semua manusia yang masuk ke dalamnya adalah orang baik yang menuruti agama Allah dengan benar. Jangankan jauh2 ke Mekkah, di sini saja koruptor besar juga melakukan sholat jumat di masjid dan berdiri di sebelah orang yang alim dan soleh, dan kemudian kembali ke kantornya untuk meneruskan korupsinya. Manusia tetap bisa merusak apa saja bila diberikan kesempatan. Justru tugas kita adalah menyadari hal itu, dan mencegah mereka. Hati saya sangat terpukul waktu saya diberitahu tentang hal2 yang tidak baik yang terjadi di Mekkah. Tetapi, akhirnya, saya jadi paham bahwa di tempat mana saja, manusia bisa membuat kerusakan.

*************************

Gene Netto has left a new comment on your post "Komentar Perda Syariah":

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Terima kasih Anonymous. Saya tidak kuatir bahwa tulisan saya akan membuat orang Islam KTP lebih yakin bahwa Islam “jelek”. Kalau ada orang yang mengaku Islam, tetapi memandang Islam jelek sehingga tidak perlu diikuti, berarti dia sudah punya prinsip sendiri, dan dari melihat perilaku masyarakat di sekitarnya, dia akan merasa yakin pada pendapat itu tanpa perlu membaca tulisan saya. Tidak usah baca tulisan saya, dia cukup membaca Pos Kota atau Lampu Merah pada satu hari saja untuk mendapatkan gambaran jelek tentang penghuni negara ini dan agamanya.

Saya juga tidak kuatir bahwa orang yang membaca renungan dari saya akan mendirikan sekte atau menjadi lebih yakin pada sektenya. Sebab, dengan ikuti sekte, dia sudah menyimpang, sedangkan saya tidak pernah menyuruh orang untuk menyimpang dari contoh Nabi SAW. Naudzu billah mindzalik. Insya Allah tidak pernah begitu. Kalau ada yang ingin membuat orang lain menjadi sesat, dia tidak perlu menggunakan tulisan saya. Karena sebenarnya, kebanyakan sekte itu justru menggunakan ayat2 al Qur'an sendiri yang diberikan arti yang sesat. Jadi tulisan dari orang biasa seperti saya tidak akan dilihat, apalagi menjadi pedoman.

Maaf, saya justru melihat koneksi antara adanya perda syariah dan kasus yang dibahas. Seperti saya jelaskan, saya tidak setuju kalau pemerintah berhak mengatur jenggot saya, kapan atau di mana saya sholat, atau pakaian isteri saya. Ibadah Islam saya dengan Allah, bukan dengan Pemda. Jadi saya anggap semua masalah ini terkait. Tangerang, Padang, Makassar, dan seterusnya. Semuanya berniat baik, saya paham. Tetapi mereka membuat perda dengan seenaknya, tanpa berfikir pada sisi pendidikannya atau hak kita sebagai hamba Allah yang bebas dan merdeka untuk mengatur kehidupan pribadi kita sendiri.

Contoh: anak SD diwajibkan menghafal 30 juz sebelum bisa lulus SD. Bagus kan? Jadi hafiz Qur'an semua. Apakah ada sisi buruknya? Bagaimana kalau tingkat DO (drop out) besar sekali, dan banyak anak mengalami stres berat? Sudah terjadi di sebuah jaringan SD di Mesir (saya pernah baca laporan ttg berapa banyak anak yang DO karena tidak tahan pada stres menghafalkan al Qur'an setiap hari, padahal mereka anak Arab.) Bagaimana kalau hanya 5% dari anak itu yang “dipaksa” menghafal al Qur'an setiap hari akhirnya “membenci” al Qur'an secara tersembunyi? Siapa yang tanggung jawab? Dengan enteng sekali kita bisa mengatakan “hal itu tidak akan terjadi”. Tetapi kalau terjadi? Saya tidak mau menjadi guru bagi anak yang sudah membenci al Qur'an dan saya harus berusaha untuk mengubah pikirannya.

Kalau semua perempuan diwajibkan pakai jilbab, apakah berarti pelacur juga wajib? Apakah anda mau lihat pelacur di daerah tertentu yang memakai jilbab? Sudah terjadi di Somalia. Saya tidak mau melihat itu. Dari jauh, perempuan yang menunggu di pinggir jalan dengan “seragam”nya sudah ketahuan sebagai pelacur. Saya tidak mau melihat mereka berdiri di situ pakai jilbab. Dan kalau mereka mau pakai jilbab, bagaimana bisa ditertibkan. “Maaf Ibu, saya tangkap Ibu karena Ibu adalah pelacur.” “Tahu dari mana saya pelacur pak?” “Karena ibu memakai jilbab, dan berdiri di pinggir jalan, berarti pelacur” “Kurang ajar! Saya lagi tunggu dijemput oleh suami saya!”

Bagaimana Pak? Bisa membedakan antara pelacur dan ibu solehah kalau semuanya wajib memakai jilbab? Saya tidak bisa.

Jadi, kesimpulannya, saya menulis agar orang bisa berfikir dengan wawasan yang barangkali berbeda dengan yang standar di sini. Dan tidak ada orang yang wajib membaca tulisan saya, dan tidak ada yang wajib setuju. Jadi kalau ada orang yang tidak suka, dan tidak setuju, maka silahkan saja, dan silahkan berhenti membaca blog saya.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene