Hari ini ada beberapa kritikan yang masuk. Semuanya tidak tinggalkan nama, jadi saya tidak tahu apakah orang yang sama atau orang yang berbeda. Rupanya, mereka/dia tidak begitu suka tulisan saya, dan ingin supaya saya tidak menulis dengan gaya saya, tetapi dengan gaya orang lain yang lebih standar. Karena ada sedikit waktu sore ini, saya sudah balas semua komentar di post masing-masing, dan akan tambahkan sedikit di sini.
(Kalau ada orang yang lihat sesuatu di komentar saya yang ‘kurang baik’ dari pandangan Islam, belum tentu disengaja begitu. Yang namanya menulis blog buat orang sibuk, bisa kapan saja, dalam waktu singkat, dan belum tentu terpikir dari semua pandangan. Daripada tinggalkan komentar yang panjang lebar untuk menegor, lebih baik kirim email dan jelaskan masalahnya ada di mana. Seringkali, setelah beberapa hari, satu post diedit karena saya baru sadar bahwa teks yang diketik tidak sesuai dengan maksud saya, atau bisa disalahpahami. Jadi, lebih baik pembaca berbaik sangka dan kirim email supaya post bisa diedit, daripada menghujat saja. Terima kasih).
Saya ingat dulu, saat saya bicara dengan salah satu guru saya tentang kenyataan bahwa saya sering diundang ceramah, diundang masuk tivi, diundang masuk radio, dan juga menuils artikel di blog, dan menulis buku tentang agama. Saya mengatakan bahwa saya tidak merasa pantas untuk melakukan semua ini karena ada banyak orang yang ilmunya lebih tinggi dari saya. Guru menjawab, tidak apa-apa dan malah bagus kalau mendapat kesempatan untuk berdakwah dengan mudah. Banyak orang tertarik karena saya bule yang menjadi mualaf. Jadi hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengajak orang lain berfikir lebih dalam tentang agama. Selama tidak melampaui batas ilmu saya dan mengeluarkan “fatwa”, tidak masalah, katanya. Dan jangan sampai merasa diri saya paling benar, karena cepat atau lama akan terjadi bahwa saya merasa benar tetapi sebenarnya salah karena keterbatasan ilmu. Jadi harus selalu siap untuk menerima pendapat lain dan mencernakan juga. Dan pesan terakhir: siap dikritik oleh orang lain!
Sudah lama saya rasakan kritikan dari orang yang tidak mengenal saya secara pribadi. Ada yang bilang saya agen intel dari Australia. Ada yang bilang saya orang kafir yang pura2 menjadi Muslim. Ada yang bilang saya mualaf yang tidak mengerti Islam, jadi diharapkan saya berhenti menulis dan ceramah karena saya orang awam sekali yang tidak punya ilmu sama sekali. Dan seterusnya.
Saya selalu ingat kisah tentang bapak dan anak yang naik kuda, dan setelah dikritik, mereka menggantikan posisinya berkali-kali dengan bapak di atas, anak di atas, dua-duanya di atas, dan dua-duanya di bawah. Apapun yang mereka kerjakan, tetap ada yang mengritik. Saya sering merasakan hal yang sama. Jadi, kalau mau menulis buku atau artikel, dan ceramah, apalagi masuk tivi (saya masih menolak semua undangan tivi), memang harus siap dikritik. (Apalagi kalau buku saya terbit bulan depan. Kritikan bakalan lebih banyak dan lebih kejam).
Saya ingin menjelaskan ini karena saya makin sibuk pada saat ini dengan membuat beberapa proyek untuk tahun depan. Karena itu, lain kali kalau ada kritikan yang masuk ke blog, belum tentu saya akan tanggapi. Bukan karena merasa diri paling benar, tetapi karena keterbatasan waktu. Sore ini sudah habis tiga jam, hanya untuk membalas kritikan, padahal waktu itu cukup berharga bagi saya untuk mengerjakan hal yang lain. Jadi kalau setelah ini, ada yang melihat kiritkan yang tidak dibalas, itulah sebabnya.
Saya ingin menjelaskan kenapa saya menulis tentang Islam.
Alasannya adalah karena saya masuk Islam setelah proses menganalisa Islam selama 5 tahun. Jadi bukan sekejap. Setelah menganalisa, saya jadi yakin Islam benar. Sebenarnya, saya hanya mempraktekkan apa yang diajarkan waktu kuliah di Australia: berfikir secara kritis, menganalisa, mencari kebenaran, memeriksa kebenaran itu, membuat kesimpulan, menyampaikan pendapat, dan seterusnya. Jadi ini suatu proses yang memang diajarkan kepada kita supaya berfikir kritis dan menganalisa untuk mencari kelemahan dari suatu argumentasi akademis atau sebuah teori. Karena saya cukup senang melakukannya, akhirnya saya mendapat nilai yang tinggi di semua mata kuliah.
Sekarang, sebagai seorang Muslim, saya merasa sedih melihat banyak sekali saudara saya di sini yang justru tidak bisa melihat apa yang saya lihat dan pahami dengan cepat setelah membaca tentang suatu perkara. Ibaratnya saya cepat mencium bau formalin di daging dan langsung tahu kelemahan daging itu, tetapi ibu di sebelah saya malah tidak tahu formalin itu apa dan karena itu, dia tidak takut beli dagingnya.
Saya bukan genius; semua teman saya di Australia juga sama, karena kita diajarkan begitu dari sekolah sampai kuliah. Karena dengan cepat bisa melihat kelemahan akademis yang ada di dalam sebuah konsep (terutama buat orang yang pernah kuliah), justru banyak orang barat sudah tinggalkan gereja, dan jumlahnya meningkat terus. Sayangnya, putusnya dengan gereja itu berhenti di situ saja, dan tidak sampai membawanya ke Islam seperti saya.
Jadi sekarang, saya menggunakan sikap, dan daya pikir yang kritis untuk menganalisa semua perkara yang saya temukan di dalam ISLAM. Bukan maksud saya untuk jelekkan nama Islam. Tidak pernah. Naudzu billah mindzalik. Justru karena saya sayang pada Islam, dan semua saudara saya yang Islam, saya merasa terdorong untuk menyampaikan apa yang saya pahami dengan harapan bahwa ummat Islam bisa menjadi lebih baik.
Kalau hal-hal yang buruk tidak boleh disebut-sebut di tempat umum, bagaimana kalau ada seorang Menteri Agama yang berama Islam yang masuk penjara? Perlu ditutupi juga? Bagaimana kalau ada calon menteri agama yang direkam berzina di hotel? Perlu ditutupi? Anggap saja tidak ada? Kalau ummat Islam membuang sampah sembarangan, perlu ditutupi? Anggap tidak ada? Dan seterusnya.
Jadi, saya mengritik apa yang saya lihat karena punya niat untuk membangun sebuah generasi Islam yang lebih cerdas, yang bisa belajar dari masalah2 yang melanda bangsa ini sekarang. Dan untuk mencapai tujuan itu, tidak cukup kalau saya mengatakan “jangan korupsi”, “jangan berzina”, atau “jangan membuang sampah ke kali”. Semua ajaran2 itu telah diucapkan berjutaan kali sebelum saya lahir, dan kita bisa melihat hasilnya sekarang.
Saya ingin mengajak semua saudara saya untuk menjadi lebih kritis terhadap orang2 yang merusak nama baik agama kita, karena kalau tidak kita bahasnya di forum yang umum, saya takut perilaku ummat Islam di bangsa ini tidak akan berubah (karena tidak boleh dibahas).
Semoga sudah jelas niat dan tujuan saya.
Kalau ada yang mengatakan “menulis tentang yang baik2 saja” maka saya anggap itu sangat merugikan waktu saya. Kalau mau tahu kenapa, lain kali pada saat anda demam tinggi dan muntah2, silahkan pergi ke dokter dan minta dia menjelaskan selama 10 jam tentang semua fungsi tubuh anda yang sehat. “Mata ibu bagus, tidak perlu pakai kacamata, telinga ibu bagus, jantung bagus, kaki ibu bagus, jari tangan bagus, kuku ibu bagus, siku ibu bagus, paha bagus, ginjal bagus”, dan seterusnya. Mau di situ sampai kapan kalau setiap “pasien” dapat layanan begitu?
Jalan yang pintas sudah jelas: berfokus pada yang “rusak” dan mengobatinya dengan secepatnya. Untuk itu, perlu disebutkan dulu supaya menjadi jelas masalahnya apa. Setelah itu, harus mencari obat. Saya bukan genius, jadi kalau saya bisa melihat sebuah “penyakit” maka saya sebatas ingin menyadarkan si pasien bahwa ini perlu diobati. Insya Allah ada orang yang lebih pintar dari saya yang bisa bantu dengan menyampaikan solusinya. Sewaktu-waktu, saya sampaikan solusi, tetapi tidak selalu. Kalau saya bisa membuat orang sadar bahwa memang ada yang sakit, saya rasa itu sudah sangat membantu karena sesudahnya, si pasien akan lebih aktif mencari solusinya, Insya Allah.
Jadi, saya tidak merasa perlu menjelaskan tentang benarnya sholat lima waktu. Saya anggap sudah dipahami oleh pembaca, dan saya terbiasa menulis khusus buat saudara saya yang Muslim, bukan untuk kepentingan orang kafir. Jadi saya ingin memfokuskan pikiran orang pada apa yang saya lihat sebagai “formalin yang belum tentu tercium oleh orang lain”. Dan kalau semua sudah tahu ada “formalin di daging” yang menjadi masalah, kita bisa saling tukar pikiran untuk mencari solusi, karena belum tentu saya punya yang paling tepat.
Hari ini (Selasa 19 Desember 2007), saya ketemu dengan seorang Direktur yang sangat sibuk, dan kami rapat selama 3 jam untuk membahas proses mendirikan LSM baru di bidang pendidikan, dan juga membuat training baru untuk membantu ummat Islam, dan juga membuat VCD yang mengajarkan guru serta orang tua tentang ilmu pendidikan yang paling dibutuhkan untuk mengajarkan anak bangsa supaya menjadi cerdas dan beriman. Sesudahnya, saya ketemu orang untuk mengantar proposal pembangunan pesantren yatim piatu, karena pihak mereka sudah janjikan sekitar 200 juta rupiah dan uang itu sangat dibutuhkan. Saya “dalang”nya yang sengaja menghubungkan keduabelah pihak. Dan ketemu orang dari kedutaan Australia untuk mengatur pertemuan antara seorang tokoh Indonesia dengan Dubes Australia supaya bisa menjadi lebih rukun dan saling kerja sama untuk melakukan hal2 yang baik di Indonesia, terutama buat ummat Islam dan anak yatim. (Kedutaan Asutralia sudah mengeluarkan ratus ribu sampai jutaan dolar untuk memperbaiki sekolah2 dan madrasah2 di seluruh Indonesia, tetapi tidak terlalu dibesar-besarkan di media).
Dan setelah kena macet berjam2 dari Pancoran ke Tebet ke Kuningan ke Tebet ke Pancoran, akhirnya saya sampai rumah dan buka email untuk membaca kritikan yang meragukan perjuangan saya demi kepentingan ummat Islam, dan meragukan ilmu agama saya. Saya hanya bisa bersabar, dan mungkin setelah ini, saya tidak akan menjawab kritikan yang lain.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene
*************************
Dari shoutbox:
Assalamu'alaikum Wr.Wb.Pak gene, sepertinya begitu banyak yang anda ulas mengenai negara ini. Baik ataupun buruknya tapi sepertinya memang yang kebanyakan yang buruk2nya saja. Sedikit banyak kami sudah cukup mengetahui negara kami baik itu yang baiknya ataupun yang buruknya. Saya sarankan bagaimana kalau anda juga mengulas, memberi informasi mengenai bagaimana dengan negara anda sendiri.Apa ada bisa kami pelajari dari negara anda. Apa ada yang bisa kami pelajari dari segi positif negara anda misalnya pendidikan disana, bagaimana pemerintahan disana dll.Yang dapat memotivasi negara kami ini bukan membuat orang2,masyarakatnya menjadi pesimistis.Saya lebih tertarik dan penasaran seperti apa negara anda itu.Waslm'alkm Wr.Wb
Sudah saya lakukan berkali-kali. Ada yang tanggapi dengan baik, dan ada pula yang mengatakan “Eh, bule sombong datang ke sini karena ingin mengajarkan kita segala sesuatu. Ini negara kita, bukan Australia. Kalau di situ memang begitu hebat, pulang aja!” Ini sikap dari orang yang sering mengucapkan “Right or wrong its my korupsi, eh, maaf, my country!” Jadi justru banyak orang yang tidak mau diberitahu tentang segala sesuatu yang hebat di Australia. Terus terang, saya tidak begitu peduli pada Australia. Saya peduli pada Indonesia. Jadi saya ingin bahas masalah2 yang kita hadapi di sini, dengan harapan bahwa lewat dialog terbuka, semua masalah itu bisa diatasi satu per satu. Untuk itu, perlu dibahas terus sampai kita menemukan solusinya.
*************************
Gene Netto has left a new comment on your post "Kisah satu anak miskin":
Tentu saja saya sudah tahu. Saya tidak mengatakan tidak ada orang yang peduli pada anak yatim satupun. Tulisan saya dibuat berlebih-lebihan dengan sengaja sebagai renungan supaya pembaca mulai berfikir. Bayangkan saja kalau tunjangan anak yatim hanya bisa datang dari negara. (Kalau tidak salah memang ada UUnya). Berarti, kalau Nabi kita ada di sini, dan belum ketahuan sebagai Nabi (karena masih sebatas “anak yatim”) maka apakah pasti akan ada manusia yang menjaganya? Kalau kita anggap Allah pasti menjaganya, ya betul, saya juga yakin akan hal itu. Maksud saya adalah: “Coba bayangkan, kalau seandainya Nabi dibiarkan sama Allah, tanpa bantuan, untuk menguji tingkat kasih sayang kita terhadap seorang anak yatim.” Kira2 SIAPA yang akan melihat anak yatim itu dan sayanginya, dan menjamin masa depannya, dan menjaganya tanpa tahu bahwa dia akan menjadi manusia yang sangat mulia dan sangat penting di masa depannya? Apakah pasti akan ada? Pasti? Yakin? Maksud saya begitu.
Kalau seandainya Nabi ada di sini sebagai anak yatim, saya sangat kuatir tentang apa yang terjadi kalau Allah tidak intervensi sama sekali untuk menjaganya, dan kita serta para pejabat terlalu sibuk untuk memikirkannya. Apakah tidak ada anak yatim satupun di negara ini yang wafat karena tidak punya uang untuk berobat? Kalau anda katakan, ya pasti ada, bagaimana kalau “satu anak itu” adalah Nabi kita yang tidak dipedulikan semua orang?
Saya sudah cukup sering ketemu anak yatim dan anak miskin di sini yang tidak mendapat bantuan. Dan bila ada, bantuan seminim mungkin. Jarang saya ketemu orang dewasa yang sangat kaya di sini yang begitu sayang pada anak yatim seakan-akan anak kandung sendiri. Paling mereka ingat pada anak yatim pada saat bulan puasa.
Saya dulu mengajar silat pada anak yatim di sebuah panti di Rawamangun. Setiap minggu saya lihat orang kaya datang naik mobil, mengantarkan KFC atau Dunkin Donut buat anak2. Saya sering bertanya kalau orang itu minta ketemu dengan anak2. Mereka menjawab tidak. Orang itu hanya antarkan makanan, tetapi tidak tertarik untuk bicara dengan anak2. Dan mereka katakan sudah bosan makan donut terus. Tetapi orang yang memberikan tidak pernah berfikir untuk datang dulu dan bertanya “Anak2 ingin dibelikan apa?”, lalu belikan. Sebatas “memberi” yang paling mudah, sewaktu-waktu saja”. Yang rajin memberikan sumbangan setiap minggu hanya sebagian. Yang lain antarkan donut kalau lagi ulang tahun, atau pada bulan puasa. Selama 2 tahun saya perhatikan bagaimana masyarakat “menjaga” anak yatim. Dan juga sewaktu-waktu saya juga menegor dan bahkan mengancam membanting tubuh penjaganya karena mereka tidak baik terhadap anak2 (menurut saya).
*************************
Gene Netto has left a new comment on your post "Pencarian kata-kata di Google":
Mohon maaf, tapi belum tentu saya senang di Mekkah juga. Teman2 yang pernah tinggal di sana bercerita tentang banyak hal yang dzholim, seperti pelacur, dan ketahuan sama semua orang di sana. Saya belum pernah ke sana jadi saya hanya bisa percaya atau tidak pada beberapa orang yang telah menyampaikan info yang sama. Berarti tidak ada lokasi yang “sempurna” karena selama ada manusia di suatu tempat, pasti akan ada yang baik dan buruk. Saya juga ingat cerita dari orang yang sering haji dan umroh, bahwa sering terjadi pemerkosaan di sana dan korbannya juga dibunuh supaya tidak ada saksi. (Kata teman saya, juga terjadi terhadap orang Indonesia yang beribadah ke sana, dan bukan saja penduduk lokal). Waktu saya bertanya kenapa saya tidak pernah membaca tentang hal ini di berita Indonesia, dia tidak bisa menjawab selain menebak bahwa hal seperti ini sengaja ditutupi supaya ibu2 tidak takut pergi ke sana.
Kalau “masjidnya Allah” lebih baik dari semua lokasi yang lain, saya setuju, tetapi tidak berarti semua manusia yang masuk ke dalamnya adalah orang baik yang menuruti agama Allah dengan benar. Jangankan jauh2 ke Mekkah, di sini saja koruptor besar juga melakukan sholat jumat di masjid dan berdiri di sebelah orang yang alim dan soleh, dan kemudian kembali ke kantornya untuk meneruskan korupsinya. Manusia tetap bisa merusak apa saja bila diberikan kesempatan. Justru tugas kita adalah menyadari hal itu, dan mencegah mereka. Hati saya sangat terpukul waktu saya diberitahu tentang hal2 yang tidak baik yang terjadi di Mekkah. Tetapi, akhirnya, saya jadi paham bahwa di tempat mana saja, manusia bisa membuat kerusakan.
*************************
Gene Netto has left a new comment on your post "Komentar Perda Syariah":
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Terima kasih Anonymous. Saya tidak kuatir bahwa tulisan saya akan membuat orang Islam KTP lebih yakin bahwa Islam “jelek”. Kalau ada orang yang mengaku Islam, tetapi memandang Islam jelek sehingga tidak perlu diikuti, berarti dia sudah punya prinsip sendiri, dan dari melihat perilaku masyarakat di sekitarnya, dia akan merasa yakin pada pendapat itu tanpa perlu membaca tulisan saya. Tidak usah baca tulisan saya, dia cukup membaca Pos Kota atau Lampu Merah pada satu hari saja untuk mendapatkan gambaran jelek tentang penghuni negara ini dan agamanya.
Saya juga tidak kuatir bahwa orang yang membaca renungan dari saya akan mendirikan sekte atau menjadi lebih yakin pada sektenya. Sebab, dengan ikuti sekte, dia sudah menyimpang, sedangkan saya tidak pernah menyuruh orang untuk menyimpang dari contoh Nabi SAW. Naudzu billah mindzalik. Insya Allah tidak pernah begitu. Kalau ada yang ingin membuat orang lain menjadi sesat, dia tidak perlu menggunakan tulisan saya. Karena sebenarnya, kebanyakan sekte itu justru menggunakan ayat2 al Qur'an sendiri yang diberikan arti yang sesat. Jadi tulisan dari orang biasa seperti saya tidak akan dilihat, apalagi menjadi pedoman.
Maaf, saya justru melihat koneksi antara adanya perda syariah dan kasus yang dibahas. Seperti saya jelaskan, saya tidak setuju kalau pemerintah berhak mengatur jenggot saya, kapan atau di mana saya sholat, atau pakaian isteri saya. Ibadah Islam saya dengan Allah, bukan dengan Pemda. Jadi saya anggap semua masalah ini terkait. Tangerang, Padang, Makassar, dan seterusnya. Semuanya berniat baik, saya paham. Tetapi mereka membuat perda dengan seenaknya, tanpa berfikir pada sisi pendidikannya atau hak kita sebagai hamba Allah yang bebas dan merdeka untuk mengatur kehidupan pribadi kita sendiri.
Contoh: anak SD diwajibkan menghafal 30 juz sebelum bisa lulus SD. Bagus kan? Jadi hafiz Qur'an semua. Apakah ada sisi buruknya? Bagaimana kalau tingkat DO (drop out) besar sekali, dan banyak anak mengalami stres berat? Sudah terjadi di sebuah jaringan SD di Mesir (saya pernah baca laporan ttg berapa banyak anak yang DO karena tidak tahan pada stres menghafalkan al Qur'an setiap hari, padahal mereka anak Arab.) Bagaimana kalau hanya 5% dari anak itu yang “dipaksa” menghafal al Qur'an setiap hari akhirnya “membenci” al Qur'an secara tersembunyi? Siapa yang tanggung jawab? Dengan enteng sekali kita bisa mengatakan “hal itu tidak akan terjadi”. Tetapi kalau terjadi? Saya tidak mau menjadi guru bagi anak yang sudah membenci al Qur'an dan saya harus berusaha untuk mengubah pikirannya.
Kalau semua perempuan diwajibkan pakai jilbab, apakah berarti pelacur juga wajib? Apakah anda mau lihat pelacur di daerah tertentu yang memakai jilbab? Sudah terjadi di Somalia. Saya tidak mau melihat itu. Dari jauh, perempuan yang menunggu di pinggir jalan dengan “seragam”nya sudah ketahuan sebagai pelacur. Saya tidak mau melihat mereka berdiri di situ pakai jilbab. Dan kalau mereka mau pakai jilbab, bagaimana bisa ditertibkan. “Maaf Ibu, saya tangkap Ibu karena Ibu adalah pelacur.” “Tahu dari mana saya pelacur pak?” “Karena ibu memakai jilbab, dan berdiri di pinggir jalan, berarti pelacur” “Kurang ajar! Saya lagi tunggu dijemput oleh suami saya!”
Bagaimana Pak? Bisa membedakan antara pelacur dan ibu solehah kalau semuanya wajib memakai jilbab? Saya tidak bisa.
Jadi, kesimpulannya, saya menulis agar orang bisa berfikir dengan wawasan yang barangkali berbeda dengan yang standar di sini. Dan tidak ada orang yang wajib membaca tulisan saya, dan tidak ada yang wajib setuju. Jadi kalau ada orang yang tidak suka, dan tidak setuju, maka silahkan saja, dan silahkan berhenti membaca blog saya.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene