Thursday, February 21, 2008

Anak SD yang Gantung Diri karena Sangat Miskin

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Email ini sedang beredar. Saya sudah terima 2-3 kali.

Pertama: Tolong baca artikel ini dari Surya online..

Anak SD yang Gantung Diri karena Sangat Miskin

Thursday, 21 February 2008

Magetan-Tak ada yang pernah mengenal dekat Teguh Miswadi, bocah kelas V SD, yang nekat gantung diri. Mungkin hanya Budi, teman sebangku sekaligus teman bermain, yang mengenal Teguh. Pada Budi juga, Teguh pamit tidak masuk sekolah lagi sebelum bunuh diri.

Ruang kelas V tampak lebih lengang. Bangku paling depan di dekat meja guru, kosong. Itu bangku tempat Teguh dan Budi duduk. Kemarin, Rabu (20/2) Budi tidak masuk sekolah. Kelas lebih sepi daripada biasanya.

Teguh adalah ketua kelas. Meski tak banyak bicara, anak ini tegas dan dikenal pintar. Karena Teguh pula akhirnya dibuatlah kelompok belajar. Lilis, wakil ketua kelas, sangat kehilangan. Kelompok belajar yang menguntungkan untuk siswa yang merasa ketinggalan pelajaran di kelas ini bisa dipastikan bubar. Teguh yang menjadi motornya tidak ada lagi. Ahmad Sakban Jawani, teman bermain Teguh, hanya termangu-mangu. Dia berkali-kali melirik bangku kosong itu.

Kematian tragis Teguh, siswa kelas V SDN Pupus II, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan dengan menggantung diri memakai tali di kamarnya, Selasa (19/2) membuat deretan tokoh di Magetan angkat bicara. Meski semua kaget dan tak mengira ada bocah miskin yang sering sehari cuma makan sekali di wilayahnya, para tokoh ini cukup menampakkan perhatian.

Salah satunya anggota Komisi A DPRD Kabupaten Magetan yang menangani masalah pendidikan, Sumarsono. Dia mengatakan, kematian Teguh dipicu kegagalan kontak sosial. Ini karena tak ada orang tua tempat mengadu karena ayah dan ibunya sudah berpisah sejak dia balita. “Ketika mendapat masalah dan tak ada wadah pengaduan, ia langsung memilih gantung diri,” terang wakil rakyat dari PAN ini dengan mata basah kepada Surya, Rabu (20/2).

Sumarsono sama sekali tidak menyinggung kemungkinan kemiskinan sebagai pemicu. Begitu juga Kepala SDN II Pupus, Yahdi. Yahdi mengakui siswanya yang selalu masuk dalam lima besar di kelas ini cerdas. Memang, Teguh tergolong pendiam. Dia bisa bermain-main dengan riang bersama teman-temannya tetapi sejurus kemudian terdiam. Teguh memang anak pintar. Dalam kondisi miskin, kurang makan, tanpa fasilitas, dia masih bisa masuk dalam deretan lima siswa terpandai.

Bahkan di tengah keluarga yang berantakan, dia masih bisa memimpin teman-temannya sebagai ketua kelas. Padahal untuk menata dirinya sendiri saja bocah ini sudah kelimpungan, tetapi dia sanggup membuat kelompok belajar agar teman lain juga bisa pintar.

Sementara itu Bambang Trianto, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan, mengaku mendapat cerita dari ayah dan beberapa paman Teguh. “Teguh minta disunat. Karena belum memiliki uang, keluarganya belum bisa melaksanakan permintaan itu,” kata Bambang yang menyatakan Teguh mendapat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Saya lupa berapa jumlah bantuannya tetapi Teguh tercatat sebagai penerima BOS,” kata Bambang.

Ketika Surya datang ke rumah duka, Suwarno, 45, dan Mbah Ginah, 76, berkali-kali mengusap air mata. Ayah dan nenek Teguh ini masih terpukul. Anak satu-satunya hilang dengan cara yang mengenaskan. Mereka sama sekali tak mengira, kemiskinan yang sudah menjadi bagian dari hidup keluarga ini harus dikorek-korek kembali.

Luka karena kehilangan anak dan cucu tersayang ditambah dengan pandangan menyalahkan dari orang lain membuat Mbah Ginah dan Suwarno makin tersiksa. Orang lain tak akan paham betapa menjadi miskin itu bisa membuat segala akal budi bisa hancur.

Sementara itu dari hasil pemeriksaan dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), penyebab kematian Teguh masih belum dipastikan. Kapolsek Lembeyan, AKP Sri Subagyo masih memeriksa para saksi. Di antaranya Sujarwo, guru yang pertama menemukan Teguh, Suwarno, dan Mbah Ginah serta beberapa saksi lagi.

Menurut Subagyo, kematian Teguh diduga satu jam sebelum ditemukan. Sebab, sekitar pukul 06.30 WIB, Selasa (19/2) itu, Suwarno sempat menengok anaknya sebelum berangkat ke sawah. Teguh terlihat masih tertidur.

Subagyo masih melihat kemungkinan bahwa kemiskinan yang membuat Teguh mengambil jalan pintas. Ketika banyak orang lelap di kasur, Teguh hanya punya amben, tempat tidur bambu tanpa alas kasur. “Radio pun mereka tidak punya,” kata Subagyo menggambarkan kemiskinan keluarga ini.

Berkali-kali Suwarno berusaha berbicara tetapi lelaki berkulit gelap ini masih lemas. Dia hanya bisa menangis. Lakon hidupnya sangat pahit. Setelah ditinggal istrinya, Supartinah, 38, merantau ke Sumatera dan tidak kembali, Suwarno harus mengurus Teguh sekaligus bekerja sebagai buruh tani sejak Subuh hingga senja.

Hasilnya tak seberapa. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Teguh hanya bisa bersandar pada Mbah Ginah, neneknya. Tetapi sandaran ini juga tidak kokoh karena Mbah Ginah sudah renta dan buta.

Entah berapa banyak bocah seperti Teguh yang dibelit kemiskinan. Jika harus menunggu korban lagi agar para petinggi dan lingkungan mau memperhatikan sekitarnya, tentu itu harga yang terlalu mahal./Sudarmawan

Sumber: Surya Online

Kedua: Bandingkan dengan kutipan ini dari Jakarta Post. (Saya carikan dari koran bahasa Indonesia, tetapi tidak ketemu.) Ini menjelaskan kejadian pada tanggal 1 Februari 08 di mana SBY kena banjir dan terpaksa pindah mobil. Tetapi bukan SBY saja yang punya mobil lain…)

The rest of the cabinet's ministers arrived on time at the palace for the meeting in their SUVs (sports utility vehicles) that have higher ground clearance, instead of their official sedans.

Among them were Transportation Minister Jusman Syafii Djamal on a Land Rover, Coordinating Minister for Political, Legal and Security Affairs Adm. (ret) Widodo A.S. on a Lexus Cygnus, Coordinating Minister for People's Welfare Aburizal Bakrie on a Toyota Alphard, State Minister for the Environment Rachmat Witoelar on a BMW X5 and Forestry Minister M.S. Ka'ban on a Toyota Prado.

Sumber: Jakarta Post

Ketiga: Berfikir...

Dari kedua artikel ini ada yang cukup jelas. Bagi sekelompok orang (anak SD yang miskin) pada saat mereka menghadapi kesulitan yang sangat besar, bisa jadi mereka putus asa karena tidak bisa melihat harapan di masa depan. Lalu mereka bunuh diri (kayanya makin sering sekarang?) karena sudah tidak tahan untuk hidup di dunia ini lagi.

Bagi sekelompok orang lain (kita namakan “pengurus negara”, atau mungkin lebih tepat dikatakan “pengurus orang elit” atau “pengurus kepentingan-diri-sendiri”), pada saat mereka menghadapi kesulitan, mereka tidak pernah putus asa. Cukup ganti mobil dan pakai Range Rover saja.

Bagi kelompok yang kedua ini, tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi dengan uang. Tidak ada rasa krisis. Tidak ada rasa lapar. Tidak ada rasa sedih. Tidak ada rasa putus asa. (Kecuali menjadi sasaran KPK. Kalau begitu baru terasa sedih: “Kenapa tidak kabur ke Singapura pada bulan yang lalu!!”)

Yang terasa di dalam hatinya mungkin hanya rasa kesal: “Kok Range Rover versi terbaru tidak bisa diantarkan untuk 3 bulan lagi?! Kesal deh!”

Bagaimana orang ini bisa mengatur kehidupan anak miskin di kampung padahal mereka sendiri tidak merasakan kehidupan pahit yang sama, dan mereka begitu sibuk dengan mengatur pembagian “proyek” buat teman2nya, deposito, dan perusahaan masing-masing?

Berfikir: setiap hari anda nonton berita. Hampir setiap hari anda melihat petinggi negara keluar dari rapat dan pertemuan. Apakah anda pernah melihat rasa sedih di wajah mereka? Ataupun menangis? Apakah mereka bisa merasakan “krisis”? Atau apakah tidak ada istilah “krisis” di dalam kamus mereka?

Setiap kali saya melihat wajah mereka di koran atau di tivi, kok sepertinya mereka selalu dalam keadaan senyum, ketawa, bercanda, bahagia, dan kenyang…

Apa kira-kira yang mereka rasakan pada saat mereka naik Range Rover dan mobil mewah yang lain, jalan-jalan di ibu kota dengan tenang, sedangkan anak miskin membunuh diri karena tidak punya uang sekolah ataupun uang makan?

Kapan bangsa ini akan berubah?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

1 comment:

  1. This country is a heaven for high rank government officials. One of my relative is mayor in a poor district. But he can afford to buy a house in which he has to pay the installment 30 mio rups per month. He and his family look like a very religious people. They both 'haji' and never forget to conduct five prayers and pay all kind of zakat. The wife wears jilbab and the husband often puts kopiah n his head. But I know well what they do to this country. It's not easy to tell whether someone conducts a corruption or not. Just count their regular and normal incomes as a civil servant. And see whether this inline wth their expenses and life style.

    Frankly speaking, both husband and wife are the appple of our big family, especially my mother. He often donates a big amount of money to send the whole big family for holiday to Bali (all expenses paid by him). He often treats us to have dinner in fancy restaurants. My relatives are clearly proud of having such a bog shoot among us. Too bad. How come we fight against corruption, while a corrupter is considered a hero for their inner circle and probably for public (becasue they set some orphanages and foundations for the marginalized people) using all the resources which only God know where it comes from. Indeed, fighting corruption is not an easy job as long as we, the people of this country, keep thinking that financila succeess is above everything.

    I have not only one relative who is a big shoot and conduct such a life. Others who are also a big shoot behave that ways too. You know, as the member of big family with so many big shoots, we are so 'lucky' to have a lot of opportunities to get free lunch and dinner with delicacies which only the rich can afford, while the people under their power committed suicide and conduct crimes to get just enough food to eat once a day. What can we say about this? These thieves behave to and are perceived by people around them as a hero, a celebrity, what else? O, yes... sometimes a source of truth. Welcome to the jungle.

    ReplyDelete