Sunday, August 10, 2008

Sampah Plastik di Laut


Di pertengahan Laut Pasifik, ada “lautan plastik” yang sedang meluas dengan cepat, dan sekarang sudah dua kali lipat ukuran seluruh wilayah Amerika Serikat, kata ilmuan.

Lautan sampah plastik ini, atau bisa dikatakan tempat sampah yang paling luas di dunia, ditahan pada posisinya oleh arus-arus di bawah permukaan laut yang berputar-putar. “Lautan plastik” yang mengapung ini bermula dari sekitar 500 mil laut dari tepi pantai barat Amerika Serikat, melintas laut pasifik, lewati pulau Hawaii, hampir sampai ke Jepang.

Charles Moore, seorang oceanographer (ahli laut) dari Amerika yang menemukan lautan plastik ini yang dia sebut "Tempat Sampah Raksasa Laut Pasifik", merasa yakin ada sekitar 100 juta ton sampah plastik yang sedang berputar di wilayah ini. Dr Marcus Eriksen, seorang periset di Algalita Marine Research Foundation mengatakan, “Orang salah paham bahwa ini seperti sebuah pulau yang bisa diinjak. Tidak demikian. Ini lebih mirip “sop” yang dibuat dari bahan plastik. Wilayah ini sepertinya tidak berakhir, dan luasnya dua kali lipat wilayahnya Amerika Serikat.

Curtis Ebbesmeyer, seorang oceanographer dan salah satu ahli terkemuka tentang lautan plasitk ini, telah mengikuti peningkatan jumlah plastik di dalam laut dunia selama 15 tahun. Katanya, lautan plastik ini mirip sebuah binatang raksasa yang bisa begerak dengan bebas ke mana saja. Kalau mendekati daratan, seperti yang pernah terjadi di pulau Hawaii, plastik ini bisa “dimuntahkan” ke pantai. “Sop” ini sebenarnya punya dua sayap yang tergabung, yang berada di sebelah barat dan sebelah timur dari pulau Hawaii. Ini disebut Tempat Sampah Barat dan Tempat Sampah Timur. Sekitar 1/5 dari sampah ini adalah barang yang dibuang ke laut dari kapal atau rig minyak yang berada di tengah laut. Isinya terdiri dari segala macam bahan, termasuk bola, kapal dayung plastik, balok Lego, dan tentu saja kantong plastik. Sisanya (4/5) berasal dari sampah yang dibuang pada daratan (seperti kantong plastik dari toko swalayan yang sering dibuang ke sungai, dll.) dan akhirnya masuk ke laut.

Charles Moore, seorang pelaut, menemukan lautan sampah ini secara tidak sengaja pada tahun 1997. Di sedang berkompetisi dalam lomba kapal layar Los Angeles to Hawaii Yacht Race ketika dia masuki wilayah laut di bagian utara Laut Pasifik. Di situ, angin terlalu sedikit dan arus laut juga terlalu lemah disebabkan tekanan udara yang juga lemah pada posisi geografis itu, dan karena itu, wilayah ini biasanya dihindari oleh semua pelaut.

Dia sangat kaget ketika melihat ribuan mil sampah di posisi itu yang sangat jauh dari daratan. Hari demi hari dia periksa kembali, dan tetap ada lautan sampah plastik di bawah kapal layarnya. Pandangan tersebut berlangsung selama satu minggu.

Moore kembali ke Amerika, menjual semua bisnisnya dan menjadi seorang aktivis lingkungan, sekaligus mendirikan Algalita Marine Research Foundation. Dia memberikan peringatan keras bahwa kalau semua orang tidak mengurangi konsumsi barang-barang plastik, maka lautan plastik tersebut akan menjadi dua kali lebih luas dalam 10 tahun.

Profesor David Karl, seorang oceanographer di University of Hawaii mengatakan diperlukan riset yang lebih banyak untuk menentukan luasnya dan sifatnya sop plastik ini di tengah Laut Pasifik, tetapi untuk sementara dia tidak meragukan hasil dari penelitan awal yang sudah ada. “Sampah plastik dari kita harus berahkir pada suatu tempat, dan sudah saatnya kita meneliti efek pembuangan sampah plastik pada ekosistem laut.

Plastik yang dibuat sekarang bisa bertahan lama sekali sehingga barang-barang yang dibuat dari plastik 50 tahun yang lalu masih ditemukan di dalam laut. Karena plastik ini seringkali tidak tebal (tidak punya bentuk yang kaku, terutama kantong plastik) dan karena mengapung di bawah permukaan laut, maka lautan plastik ini tidak bisa dilihat dalam foto satelit. Hanya bisa dilihat dari atas kapal yang berada di tengah-tengahnya.

Menurut Program Lingkungan PBB, sampah plastik yang berada di laut menyebabkan kematian bagi lebih dari 1 juta burung laut setiap tahun, dan juga menyebabkan kematian bagi lebih dari 100.000 mamalia laut (lumba2, ikan paus, dst.). Suntikan, korek api gas, dan sikat gigi telah ditemukan di dalam perutnya burung laut yang sudah mati. Mereka anggap sebagai makanan dan menelannya.

Diperkirakan 90% dari semua sampah yang berada di laut berasal dari plastik. PPB memperkirakan bahwa di dalam setiap 1 mil persegi di laut, terdapat 46.000 unit sampah plastik yang mengapung dan tidak menghilang.

Dr Marcus Eriksen mengatakan lautan sampah ini juga bakalan menjadi masalah besar buat kesehatan manusia juga. Salah satu bahan dasar bagi industri plastik adalah biji plastik kecil yang disebut nurdle. Setiap tahun, ratusan juta dari biji plastik ini jatuh atau tumpah, dan akhirnya masuk ke laut. Biji plastik ini ibarat spons yang meresap semua macam kimia yang lain sepetri hydrocarbon dan juga pestisida berbahaya seperti DDT. Sesudahnya, biji plastik ini dimakan oleh binatang laut dan masuk ke jaringan makanan manusia. Kata Dr Eriksen, “Yang masuk ke laut, masuk ke dalam perut bintang ini, dan berakhir pada piring makan anda. Segitu sederhana masalah ini.”

**********

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Saya jadi berfikir, berapa banyak dari sampah plastik ini berasal dari ummat Islam di Indonesia? Posisi kita seharusnya berbeda dengan orang kafir di lain negara. Kita mengetahui Siapa yang menciptakan bumi ini dan kita mengakui Allah sebagai Sang Pencipta dan beribadah kepada-Nya setiap hari. Tetapi kita juga termasuk orang yang bertanggung-jawab atas pencemaran lingkungan ini.

Kapan ini bisa diatasi? Orang yang beriman dan orang yang kafir tidak ada bedanya kalau kita bicarakan polusi. Kita sama-sama membuat kerusakan dan sama-sama tidak peduli pada bumi ini dan generasi yang akan datang.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Read the Original article here:

The World's Rubbish Dump: A Garbage Tip That Stretches From Hawaii to Japan

By Kathy Marks and Daniel Howden

The Independent UK

Tuesday 05 February 2008

Sumber: Truthout

2 comments:

  1. *** Sampah di Indonesia, lihat… (www.antara.co.id/arc/2008/1/8/sampah-sumbang-laju-perubahan-iklim-global/) Menurut data KLH, pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga 2000, lalu Menurut Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran KLH, dengan jumlah penduduk yang terus meningkat di Indonesia, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan per hari sekitar 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Lebih lanjut diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang tiap hari di Indonesia mencapai 2,1 kg.

    *** Nah, timbunan sampah di Indonesia tahun 2008 kira-kira 10,5 kg tiap orang /harinya. Dari jumlah penduduk Indonesia 245 juta jiwa sedangkan muslim Indonesia sekarang sudah sekitar 83% jadi sampah yang berasal dari muslim Indonesia mungkin sekitar 2.135.175 juta kg/hari.

    jika di perkirakan oleh KLH di tahun 2020 timbunan sampah sekitar 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun itu mungkin saja.

    Penanganan sampah untuk di Jakarta pemerintah menunjuk tempat BANTAR GEBANG TPA (Tempat Pembuangan Sampah) dengan Sistem sanitary landfill (pada tahun 2002 menjadi perdebatan walikota dan masyarakat Bantar Gebang karena penunjukkan tempat tersebut). Dan cara penanganan SAMPAH diadaptasi berdasarkan studi banding PEMDA DKI ke Belanda dan Jerman. Yaitu dengan mengali tanah dan membuang sampah kedalamnya . Tapi yang menjadi permasalan adalah belum lancarnya program memilihan jenis sampah organic dan non organic di masyarakat, tempat sampah tersebut masih dalam satu wadah dan sehingga penangganan sampah belum terrealisir sesuai rencana.

    Polusi hanya dapat di atasi jika semua atau keseluruhan masyarakat Indonesia dan pemerintah yang menangani SAMPAH dapat berpadu/bersama-sama untuk sungguh-sungguh tergerak merasa berkewajiban dan bertanggung jawab mengatasi pencemaran lingkungan di Indonesia.

    Jangan hanya menyerahkan semua pada ‘Abang Tukang sampah’ yang dibayar perbulan lalu sampah di buangnya ke tanah-tanah kosong sampai menggunung, di buang ke kali, ke sungai yang akhirnya sampah tersebut sampai ke laut.

    Saling mendukung dan bekerja sama antara satu sama lain saya rasa itu yang diharapkan. Masyarakat mau bekerja sama dengan pemerintah dan pemerintah bekerja sama yang benar dengan masyarakat, sama-sama mencari solusi dan tidak melulu mencari kambing hitam, saling tunjuk siapa yang salah dan bertanggung jawab dan tidak mencari keuntungan sendiri dibalik permasalahan penanganan sampah. Dengan begitu masalah pencemaran lingkungan dapat diatasi dan tertolong demi generasi selanjutnya di Indonesia. Saya rasa begitu.

    RO

    ReplyDelete
  2. "Tapi yang menjadi permasalan adalah belum lancarnya program memilihan jenis sampah organic dan non organic di masyarakat, tempat sampah tersebut masih dalam satu wadah dan sehingga penangganan sampah belum terrealisir sesuai rencana"
    bagaimana kondisinya saat ini...? kelihatanya belum ada kemajuan ya..:( mark kita mulai dari diri sendiri..meminimalisir penggunaan plastik ( belum bisa terbebas 100% ) dan sedih rasanya klo terlihat ingin peduli dan irit plastik..tapi dianggap aneh, tidak praktis dan akan disebut " jangan kaya orang susah deh " ...indonesia oh indonesiaaa.....

    ReplyDelete