Wednesday, December 09, 2009

Kaya dan Miskin: Kenapa Indonesia Harus Begini?

Assalamu'alaikum wr.wb.,
Minggu kemarin ada dua buah berita yang membuat saya berfikir banyak. Kenapa Indonesia (dan banyak negara lain) harus menjadi begini? Ke mana perasaan kepedulian sosial sebagai manusia yang hidup bersama di bumi yang satu ini? Kita semua diciptakan oleh Tuhan yang sama, dan ada yang dikasih lebih, ada yang dikasih kurang. Kedua keadaan tersebut merupakan cobaan bagi kita. Yang dapat lebih, apakah bisa bersyukur kepada Allah dan memperhatikan saudaranya yang lebih miskin? Yang dikasih kurang, apakah bisa bertahan dan tetap bersyukur, tanpa putus asa, tanpa melakukan hal-hal yang diharamkan untuk bertahan hidup?


Dan kalau ada yang mau berkomentar bahwa orang2 kaya yang disebutkan di bawah ini adalah orang Cina yang beragama Kristen, maka perlu ditekankan bahwa dalam perkara hidup dalam keadaan sederhana (miskin) dan bersifat dermawan kepada yang lebih membutuhkan, hampir tidak ada bedanya antara Nabi Muhammad SAW dan Yesus (Nabi Isa AS). Jadi apapun agamanya, orang-orang kaya seharusnya sanggup peduli pada kaum yang miskin, karena itulah yang dicontohkan oleh kedua Nabi Allah tersebut.

Di mana rumah makan gratis yang didirikan oleh orang-orang “kaya” ini? Di mana klink dan rumah sakit gratisnya? Di mana panti asuhannya? Di mana sekolah gratisnya?

Dengan kekayaan yang diberikan kepada mereka oleh Allah, mereka tidak bisa beli waktu satu detik di dalam sorga! Kapan mereka akan sadar?

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene
********

Tak Tahan Hidup Miskin, Buruh Tani Nekat Gantung Diri

Jumat, 04/12/2009 14:46 WIB
Irul Hamdani - detikSurabaya
Banyuwangi - Hidup di bawah garis kemiskinan kadang membuat seseorang berbuat nekad. Seperti yang dilakukan Miselan (70), warga Dusun Sumberagung, Desa Rejo Agung, Kecamatan Srono, Banyuwangi. Kakek Miselan nekad mengakhiri hidupnya lantaran selama hidupnya didera kemiskinan.
Selama hidupnya, Miselan hidup di bawah garis kemiskinan. Sehari-harinya korban bekerja sebagai buruh tani, di lahan milik seorang warga. Disana pula Miselan bersama istri tercintanya diberi izin pemilik lahan untuk mendirikan rumah yang sebetulnya lebih pantas disebut gubug.
Didalamnya nyaris tak ada harta yang berharga. Rumah yang kontruksinya didominasi bambu itu seakan menjadi potret kemiskinan yang seakan tak ada habisnya di negeri ini. Kepergian Kakek Miselan juga berarti hilangnya penopang keluarga miskin ini.
"Tidak jelas apa penyebabnya. Namun kami curiga faktor himpitan ekonomi yang mendorong pelaku berbuat itu," tandas Kapolsek Jodana. (bdh/bdh)

Baca selengkapnya di: surabaya.detik.com

********

Ini Dia 40 Orang Terkaya Indonesia

Kamis, 03/12/2009 08:48 WIB
Nurul Qomariyah – detikFinance
Jakarta - Majalah Forbes kembali membuat daftar 40 orang terkaya di Indonesia. Pemilik grup Djarum, Budi dan Michael Hartono masih berada di posisi puncak dengan nilai kekayaan US$ 7 miliar.
Tak heran jika nilai kekayaan orang-orang terkaya di Indonesia pun meningkat. Secara total, nilai kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia meningkat tajam dari US$ 21 miliar pada tahun 2008 menjadi US$ 42 miliar. Angka itu juga naik US$ 2 miliar dibandingkan nilai kekayaan terbesar yang dicapai pada tahun 2007.
Konglomerat sektor batubara lainnya yang juga pemilik Bumi Resources yakni Aburizal Bakrie juga berhasil naik peringkat, setelah tahun lalu melorot tajam akibat krisis. Nilai kekayaan Aburizal meningkat tajam dibandingkan tahun 2008 yang hanya US$ 850 juta, dan ada di posisi ke-8. Kini Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berada di posisi ke-4 dengan nilai kekayaan US$ 2,5 miliar.

Berikut daftar 40 orang terkaya versi Forbes yang dirilis, Kamis (3/12/2009).

R. Budi & Michael Hartono  US$ 7 miliar
Martua Sitorus     US$ 3 miliar
Susilo Wonowidjojo  US$ 2,6 miliar
Aburizal Bakrie     US$ 2,5 miliar
Eka Tjipta Widjaja  U$S 2,4 miliar
Peter Sondakh  US$ 2,1 miliar
Putera Sampoerna  US$ 2 miliar
Sukanto Tanoto  US$ 1,9 miliar
Anthoni Salim US$  1,4 miliar
Soegiharto Sosrodjojo  US$ 1,2 miliar
Low Tuck Kwong  US$ 1,18 miliar
Eddy William Katuari US$ 1,1 miliar
Chairul Tanjung US$ 99 juta
Garibaldi Thohir US$ 930 juta
Theodore Rachmat US$ 900 juta
Edwin Soeryadjaya US$ 800 juta
Trihatma Haliman US$ 750 juta
Ciliandra Fangiono US$ 710 juta
Arifin Panigoro    US$ 650 juta
Murdaya Poo US$ 600 juta
Hashim Djojohadikusumo    US$ 500 juta

Baca selengkapnya di: detikfinance.com

3 comments:

  1. ehmmm..coba saya cek ulang....


    -

    -

    -
    kok nama Gene netto belum masuk??:D

    daftar di atas masih kalah kaya sama abu bakar shidiq and umar bin khattab...hmmm

    Tapi ke dua sahabat nabi itu, walau kaya raya , mereka hidup sederhana dan bersahaja, semua harta kekayaannya di derma kan untuk sedekah...dan menolong sesama.

    Coba ikut ditiru sama para konglomerat itu.InshaAlloh tidak ada lagi bayi busung lapar, warga makan nasi aking dll, karena semua konglomerat berlomba-lomba untuk menolong rakyat miskin, ...semua anak orang miskin disekolahkan gratis, membangunnkan rumah layak huni, dll.., semoga bukan 'hidup di negeri impian'??

    ReplyDelete
  2. kayaknya kagak bakalan mungkin konglo-konglo itu mau membatu kita. lebih baik kita saja yang membantu diri sendiri dan nasib bangsa ini

    ReplyDelete
  3. Sebenarnya kemiskinan adalah masalah dibanyak negara, hanya cara dan prioritasnya saja yang berbeda.Di Indonesia mungkin pengentasan kemiskinan tidak menjadi prioritas utama, prioritas utama pemerintah adalah membangun citra dan pesona hingga orang-orang miskin terlupakan dan tidak jadi prioritas.Secara kolektif memang belum terlihat adanya niat baik untuk mengentaskan kemiskinan, tapi secara individu pasti ada !Contohnya saya yakin 100% minimal pembaca blog ini adalah orang-orang yang begitu peduli terhadap anak yatim dan fakir, saya juga yakin mereka semua ( pembaca blog ) adalah para donator tetap/tidak tetap yang peduli pada orang-orang tidak mampu baik orang tidak mampu yang berasal dari keluarga terdekat, lingkungan mereka atau menjangkau tempat yang lebih jauh lagi ( bukankah memang banyak orang yang tidak mampu disekitar kita…), tapi mereka malu untuk mengungkapkan kedermawanannya.Jadi belum sepenuhnya benar kalau kita tidak lagi memiliki orang-orang yang peduli terhadap sesama, walaupun mungkin banyak juga orang-orang kaya yang tidak peduli, semakin banyak kekayaan yang dimiliki orang-orang kaya tsb semakin takut mereka kehilangan setiap sennya.

    ReplyDelete