Friday, July 23, 2010

Kenapa Kita Lebih Banyak Membahas Film Porno Daripada Anak Miskin Yang Bunuh Diri?

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Berkaitan dengan artikel saya kemarin, tentang anak berumur 11 tahun yang gantung diri karena tidak bisa bersekolah, saya masih merasa heran terhadap reaksi pemerintah, media massa dan masyarakat yang hampir saja tidak ada. Yang membuat saya paling heran adalah sikap pemerintah terhadap seorang anak miskin yang gantung diri karena putus asa. Presiden tidak bicara. Datang juga tidak. Kirim uang juga tidak. Menteri juga sama. Gubenur juga. Walikota juga. Para pejabat yang kerja di bidang pendidikan dan sosial juga tidak. Saya baru ketemu satu komentar dari Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, yang menganjurkan agar orang tua jangan ribut tentang ekonomi yang sulit di depan anak2, karena akan membuat mereka depresi. Begitu saja tanggapan dari satu tokoh saja. Dari semua yang lain, tidak ada yang bicara.

Ada lebih banyak komentar dari para pejabat tentang piala dunia kemarin daripada komentar mereka tentang seorang anak bangsa yang bunuh diri karena mau belajar dan tidak dapat kesempatan. Dari PGRI tidak ada komentar. Dari Ikatan Guru Indonesia tidak ada komentar.
Saya kirim artikel yang sama ke beberapa milis dan di milis2 itu, hanya ada satu komentar dari satu anggota (kadang dua), tetapi pada saat yang sama ada puluhan komentar setiap hari tentang begitu banyak perkara yang lain.

Begitu kecil nilainya seorang anak miskin di mata kita.
Bagaimana kira-kira reaksi pemerintah dan masyarakat kalau cucunya Presiden SBY yang gantung diri kemarin? Bagaimana kalau umpamanya cucu Presiden mau masuk pesantren untuk menuntut ilmu agama dan menjadi ustadz (misalnya) tetapi orang tua tidak izinkan karena inginkan dia menjadi dokter? Lalu karena putus asa dan depresi, cucu Presiden gantung diri.

Apakah Presiden, Menteri, Gubenur, Walikota, dan semua pejabat lain yang kerjanya berkaitan dengan anak, pendidikan, agama, urusan sosial, dan sebagainya akan TETAP DIAM seperti sekarang? Apakah para wartawan dan masayarakat akan cepat lupa dan kembali membahas begitu banyak perkara yang lain? Atau apakah kalau cucunya SBY yang gantung diri, seluruh bangsa akan ikut berkomentar selama berbulan-bulan tentang anak yang malang itu, dan akan komentari betapa besar keinginan dia untuk menuntut ilmu agama tetapi putus asa karena tidak bisa?

Apakah begitu besar nilainya di mata kita seorang cucu presiden dibandingkan dengan seorang anak miskin yang kerja dan tinggal di pasar? Apakah di Mata Allah cucu presiden juga begitu besar nilainya dibandingkan dengan anak miskin? Kalau di Mata Allah semua anak dipandang sama, kenapa di mata kita bisa sangat berbeda, sehingga reaksi kita juga sangat berbeda?

Bukannya Nabi kita Muhammad SAW juga seorang anak miskin dan yatim? Apakah kalau kita hidup di zaman Nabi kita akan sayangi dia? Atau berbuat kasar terhadap dia, disebabkan kita tidak merasa perlu sayangi anak miskin dan yatim (seperti sekarang)?

Sekarang, memang sudah tidak ada nabi lagi (jadi anak yatim yang hidup sekarang tidak akan menjadi Nabi di masa depan). Tetapi ahli agama dan pemimpin agama masih ada. Bagaimana nasib kita kalau anak yang bunuh diri kemarin adalah seorang calon wali Allah, yang pada usia dewasa sudah disiapkan jalannya dari Allah untuk menjadi seorang pemimpin agama? Lalu, karena ketidakpedulian ummat Islam terhadapnya, dia gantung diri dalam keadaan miskin dan tidak sempat menjadi dewasa. Bukannya kita semua yang rugi?

Bagaimana kalau banyak orang yang mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari Allah sehingga bisa menciptakan listrik, lampu, handphone, internet, komputer, mobil, pesawat, dll., adalah orang yang lahir sebagai anak miskin, dan semuanya gantung diri saat masih anak? Dan karena ilmu itu hanya disiapkan bagi mereka (dari Allah), berarti dengan kematian mereka di usia 11 tahun, kita tidak dapat manfaat dari semua barang tersebut, karena orang lain juga tidak diberikan ilmu itu dari Allah dan tidak sanggup menciptakannya. Bukannya kita semua yang rugi?

Kematian satu anak bisa punya dampak yang luas terhadap masa depan ummat manusia dan ummat Islam, tanpa sepengetahuan kita. Alangkah buruknya kita kalau semua orang yang disiapkan oleh Allah untuk menjadi contoh yang paling mulia di dunia ini adalah anak miskin yang gantung diri dalam keadaan putus asa dan tidak sempat menjadi dewasa. Berarti yang tersisa sebagai pemimpin dan contoh bagi ummat Islam hanyalah orang-orang yang kurang baik dan kurang mulia. Bukannya kita semua yang rugi?

Tetapi ternyata kematian satu anak bisa lewat begitu saja, tanpa banyak komentar, tanpa kepedulian yang signifikan. Termasuk dari para guru di milis2 pendidikan. Satu anak gantung diri? Tenang saja. Yang penting, dia bukan anak saya, dan bukan anak presiden. Lupakan saja.

Tadi saya bicarakan semua ini dengan seorang sopir taksi. Dia ketawa, dan mengatakan, “Dulu SBY kasih uang kepada keluarga Mbah Surip waktu wafat. Tetapi Mbah Surip sudah kaya dari menjual lagu ‘Tak Gendong’. Kok penyanyi kaya bisa dapat, tetapi anak miskin dicuekin?”

Saya belum pernah dengar tentang itu, jadi saya cari di internet, dan dapat berita di bawah ini. Ternyata, SBY gelar konperensi pers, mengirim utusan, dan juga kirim uang. Sepertinya penyanyi yang kaya lebih masuk ke hati Presiden daripada anak miskin yang mau bersekolah.

“Menurut Farid Wahyu, anak kedua Mbah Surip, dalam jumpa pers di Bengkel Teater WS Rendra, Citayam, Depok, Selasa (4/8/2009) malam, secara khusus SBY mengirim utusan langsung yang datang menemui pihak keluarga, sekaligus memberikan sumbangan. Namun Farid tidak merinci berapa jumlah sumbangan tersebut.”
http://celebrity.okezone.com/read/2009/08/05/33/245072/keluarga-mbah-surip-berterima-kasih-atas-simpati-sby

Apa yang harus terjadi di negeri ini sampai nyawa satu anak miskin yang mau sekolah bisa mendapat perhatian yang serius, dan bisa dibahas terus oleh semua orang yang punya kekuasaan untuk membantu orang miskin? Dan saya baru baca tadi, bahwa anak yang bunuh diri itu masih punya 3 adik lagi! Siapa yang akan peduli pada nasib mereka sekarang? Sudah kehilangan kakak kandung yang tersayang, dan masih terancam putus sekolah juga!

Kok kita semua bisa bicara tentang begitu banyak perkara setiap hari, dan bisa begitu sibuk dengan urusan duniawi sehingga satu anak yang miskin bisa bunuh diri dan kita semua lanjut saja dengan kehidupan kita, seolah-olah itu bukan hal yang aneh? Presiden tidak berkomentar dan juga tidak bertindak. Menteri juga. Gubenur juga. Walikota juga. Dan sekarang para wartawan sudah sibuk membahas kembali dua artis yang bikin film porno, seakan-akan tidak ada perkara yang lebih utama di dunia ini.

Presiden punya waktu untuk datang dan jenuk seorang aktivis yang dipukul. Tetapi untuk anak miskin yang bunuh diri, tidak ada waktu. Dan setelah satu orang mengeuluh di koran tentang Patwal Presiden, langsung ada reaksi dari Presiden, mulai dari membuat pernyataan, sehingga juga secara mendadak mengubah cara jalannya, di mana kemarin Pengawal Presiden tidak lagi kosongkan jalan seperti biasa.

Begitu besar perhatian terhadap satu orang yang dipukul (tetapi masih bisa bicara dan jalan). Begitu besar perhatian dan reaksi terhadap satu surat tentang Patwal Presiden yang bikin macet.
Tetapi begitu kecil reaksi dari Presiden dan semua pejabat yang lain terhadap seorang anak bangsa yang tidak berdosa, yang hidup dalam kesulitan dan akhirnya putus asa dan bunuh diri karena merasa tidak ada lagi orang yang sayangi dia di dunia ini.

Setelah memikirkan semua hal ini secara mendalam, saya ingin bertanya kenapa kita semua bisa begitu serius memperhatikan satu kasus film porno, sampai media massa, masyarakat dan pemerintah mau membahasnya terus selama beberapa bulan? Dan kenapa Presiden kita bisa memberi tanggapan yang begitu cepat ketika ada yang kirim satu surat ke koran? Tetapi ketika seorang anak miskin bunuh diri untuk mendapatkan perhatian, kita malah lupakan secepatnya dan kembali membahas film porno dan Patwal Presiden.

Mungkin anak itu bunuh diri karena merasa tidak disayangi oleh siapapun, termasuk Bapak Presiden, pemerintah, masyarakat dan ummat Islam. Kenapa kita semua tidak berani untuk BERSATU dan mencari solusi yang nyata sehingga tidak ada lagi kasus anak bangsa yang bunuh diri karena ingin sekali bersekolah, menuntut ilmu dan menjadi anak yang bermanfaat bagi negara dan ummatnya? Kenapa kasus ini bisa dihilangkan dari media massa dengan begitu cepat, dan tidak dapat tanggapan dari pemerintah sama sekali? 

Tetapi kalau yang bunuh diri kemarin adalah cucu Presiden, saya merasa yakin sekali bahwa semua pejabat, media massa dan masyarakat masih akan bicarakan kasus itu sampai akhir tahun, atau lebih lama lagi. Tetapi untuk anak miskin tidak. Begitu kecil nilainya seorang anak yang miskin di mata kita. Tetapi di Mata Allah, anak miskin dan cucu Presiden punya kedudukan yang sama. Kenapa kita tidak bisa begitu juga?

Kalau ada satu kasus film porno, kita siap membahasnya terus. Kalau ada surat di koran yang komplain tentang Patwal, Presiden langsung bicara dan bertindak. Tetapi kalau hanya sebatas satu anak yang bunuh diri, tidak ada yang mau peduli lebih dari satu hari.

Kita sudah menjadi masyarakat dan ummat apa?

Semoga bermanfaat sebagai renungan.

Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

4 comments:

  1. Well, Mr Gene, that's the ugly truth about MY slash (OUR?) beloved country Indonesia. Sad really. It means that we still have looong looong way ahead in front of us.

    We do something to make difference but does it really make any differences when the goverment doesnt do anything specifically?
    I'm sometimes getting frustated of the situation.

    ReplyDelete
  2. Saya tidak terima kalau kita semua pesimis dan mengatakan tidak bisa berbuat apa2.
    Gandhi hanya satu orang, tetapi menjatuhkan kekaisaran Inggris di India.
    Nelson Mandela hanya satu orang, tetapi mengalahkan sistem apartheid di Afrika Selatan.
    Martin Luther King hanya satu orang, tetapi berhasil mengakhiri diskriminasi ras di Amerika (walaupun wafat sebelum melihat hasilnya).
    Bunda Theresia hanya satu orang, tetapi menjadi contoh nyata bagi jutaan orang tentang bagaimana kita bisa bantu dan sayangi orang miskin, hingga dia diberikan Piagam Nobel.
    (Belum ada satu orang Indonesia yang mendapatkan Piagam Nobel!)

    Satu orang bisa mengubah dunia.

    Puluhan ribu orang dewasa yang kompak dan bersatu sudah cukup untuk mengubah bangsa.
    Kita hanya perlu percaya bahwa perubahan itu bisa terjadi, dan bisa mulai dari satu orang, satu anak, satu orang tua, atau satu guru.

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  3. Saya merasa yakin bahwa negara ini bisa berubah, dan saya yakin bahwa ombak “revolusi sosial” (baca: revolusi dalam cara berpikir, dan perhatian masyarakat terhadap sesama), bisa dimulai dari satu orang seperti Aa Gym (contohnya) yang dulu sempat menjadi seorang pelopor.
    Saya masih tidak tahu apakah dia memang jatuh sendiri (lewat isu poligami) atau apakah memang ada skenario untuk “menjatuhkan” dia karena sudah menjadi terlalu kuat secara sosial-politik.

    Semua manusia punya kelemahan, dan siapapun yang berada di ujung tombak revolusi tersebut akan menjadi sasaran utama bagi kaum yang ingin menjaga status quo (korupsi merajalela, dan segala sesuatu bisa dibeli atau diatur).

    Walaupun berat, saya yakin perubahan bisa terjadi, dengan izin dari Allah, dan kalau sudah mulai, tidak akan bisa dilawan atau dihalangi lagi, dan pada saat itu, sistem lama akan jatuh sendiri (seperti halnya apartheid di Afrika Selatan, dan sebagainya).

    Masalahnya hanya siapa yang memiliki kemampuan untuk mulai, dan kapan akan dimulai, dan berapa cepatnya masyarakat akan mendukungnya.

    Saya masih mencari seorang sosok yang bisa saya dukung untuk menjadi calon presiden yang paling baik (mirip Obama, dengan arti mewakili semua sifat2 paling baik dari Obama), dan juga mirip Sukarno. Saya namakan orang itu, Sukarno Millenium.
    Tetapi sayangnya, sampai dengan sekarang saya masih belum ketemu, dan masih rajin bertanya kepada orang2 lain, untuk minta saran mereka. Dari semua orang yang sudah saya tanyakan, belum ada satu nama yang bisa dikatakan “Itu dia, Sukarno Millenium! Obama Indonesia!”

    Tetapi insya Allah cepat atau lama akan muncul sosok itu. Ada pepatah dalam bahasa Inggris. “Cometh the hour, cometh the man!” Artinya, kalau sudah datang waktunya (di mana sang pahlawan dibutuhkan), maka dia (pahalawan) akan muncul!”

    Jadi, saya merasa bahwa zaman kita ini adalah zaman yang sangat unik dalam sejarah Indonesia, di mana segala sesuatu sudah menjadi “mungkin” untuk pertama kali sejak awalnya Orde Baru. Sekarang adalah saatnya, dan kita hanya perlu mencari “orangnya” yang bisa menjadi pelopor baru untuk masa depan bangsa ini: Sukarno Millenium.

    Insya Allah dia akan segera muncul. Dan kalau sudah kelihatan, saya akan kerja semaksimal mungkin untuk membantu dia memajukan negara ini. Dan insya Allah dia akan terima bantuan tersebut.

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  4. Kemana uang Zakat itu?. Apakah sudah diberikan kepada orang2 miskin tersebut? Jangan salahkan orang lain dia atau mereka atau pemerintah. Salahkan saja diri kita sendiri, yang tidak mampu mencegah kemiskinan akibatnya ada orang miskin yang bunuh diri. Bila kita menyalahkan orang lain, tidakkah kita ini termasuk orang yang mengumpat menyumpahi orang lain ? Sungguh ini merupakan kebangkrutan amal kita. Mari kita semua menjaga lingkungan sekitar kita agar tidak ada kemiskinan lagi, dan langsung saja beri bantuan kepada mereka yang membutuhkan dengan ikhlas Lillahi Ta'ala tanpa mengharapkan apapun dari manusia.

    ReplyDelete