Monday, April 02, 2007

Jangan Membatasi Diri

Assalamu’alaikum wr.wb.,

“Kita tidak punya guru seperti Mr Cho karena kita memang tidak membutuhkan kualifikasi guru seperti Mr Cho.”

[Komentar ini ditulis seorang guru mengenai sebuah kisah di milis SD-Islam. Di kisah itu, seorang anak SMA di Amerika menceritakan bahwa guru sejarahnya bernama Mr. Cho menjadi inspirasi bagi dia, karena selalu mengajak dia untuk menjadi seorang pemikir yang lebih baik, sehingga dia merasa berhasil sendiri tanpa perlu dibantu gurunya lagi.]

Komentar ini membuat saya sedih sekali apalagi kalau datang dari seorang pendidik yang baik hati dan bijaksana.

Bagaimana kita bisa mengembangkan negara ini kalau semua orang sibuk melihat sasaran yang ada di depan kaki dan bukan sasaran yang ada di batasan pandangan (paling jauh di depan mata).

Bayangkan: kalau seorang guru memang sanggup menjadi seperti Mr Cho (guru yang sangat baik), kenapa harus dibatasi menjadi “Asal guru masuk kelas, dan murid hafalkan sekian fakta, bersyukur deh! Tidak usah lebih, karena itu terlalu sulit.”

Bayangkan: di Indonesia di masa mendatang ada seorang cendekiawan baru, ibarat Einstein, Edison, Galileo, Flemming, atau Da Vinci. Orang itu masih anak sekarang. Dengan guru yang memberikan dia semangat, ilmu, daya pikir dan wawasan dengan sebaik mungkin (bukan sempurna), anak itu menjadi pelopor yang akan mengubah negara ini. Contohnya, Bill Gates versi Indonesia. Setelah dia menciptakan X (misalnya, Microsoft Windows), dan setelah di menjadi manusia terkaya di dunia mengantikan Bill Gates, dan setelah dia menyatakan bahwa dia menjadi semangat berfikir dan belajar karena guru sekolah (memang sudah genius, tetapi guru menjadi percikan), suatu hari dia berkata seperti ini:

“Sebagai tanda bersyukur kepada Allah dan kepada guru saya, saya akan membayar hutang negara dengan uang pribadi saya. Saya akan simpan 10 trillion Rupiah di Investment Fund Syariah, dan dengan hasilnya, saya akan memperbaiki semua sekolah se-indonesia…” Dan seterusnya.

Tidak mungkin? Tidak percaya? Kalau percaya kepada Allah dengan penuh hati, tidak ada yang mustahil. Kitalah yang membatasi diri, dimulai dengan komentar seperti di atas: “kita tidak membutuhkan…” dengan arti: itu terlalu sulit untuk kita, tidak realistis, tidak praktis, kita tidak bisa, kita tidak sanggup, uang dari mana nanti,…” dan seterusnya!

Tidak ada yang sulit bagi Allah. Tidak ada yang sulit bagi orang yang percaya kepada Allah. Jangan menentukan masa depan bangsa ini dengan memandang ke bawah dan menetapkan standar yang rendah. Mengarah ke atas dengan mengharapkan hasil yang sebaik mungkin. Terserah Allah membantu kita berhasil atau tidak, tetapi sebagai syarat minimal, kita tidak akan membatasi diri tanpa alasan dari awalnya.

Kalau kita mengharapkan yang terendah (karena itu dinilai cukup), ya, kita akan bersyukur kalau hanya mencapai sasaran itu yang hampir pasti tercapai. Kalau kita mengharapkan lebih, tanpa kepastian bisa mencapainya, kita harus siap untuk gagal, tetapi rasa sukses jauh lebih besar kalau kita berhasil. Dan juga sangat mungkin bahwa dengan usaha untuk mencapai sasaran yang tinggi, kita akan melewati/melebihi sasaran rendah yang ditetapkan orang lain.

Seratus tahun yang lalu, tidak ada manusia yang bisa terbang. Tidak ada yang bisa tinggal di luar angkasa. Tidak ada operasi transplantasi jantung. Tidak ada komputer atau “artificial intelligence”. Tidak ada cara untuk mengirim teks ke lain negara dalam waktu 1 detik. Tidak ada microwave oven. Tidak ada Handycam. Tidak ada radar. Dan berapa banyak hal yang lain yang muncul secara tiba2 dalam 100 tahun terakhir?

Kenapa bisa begitu? Karena dari semua orang di bumi ini, ada yang memandang ke atas dan berjuang untuk mencapai sesuatu yang dikatakan “mustahil” oleh orang lain (dan teknologi mendukung juga, tentu saja).

Tetapi perlu dipahami juga ada suatu hal yang lain yang baru terjadi dalam 100 tahun terakhir ini di negara2 barat, dan tidak ada hubungan dengan teknologi sama sekali! Apakah ada yang tahu? Saya dengan sengaja tidak akan memberikan jawaban sampai hari Jumat. Kalau ada yang bisa menebak, saya akan salut pada anda sebagai pemikir yang baik. (Traktir kopi juga boleh.)

Mudah-mudahan kita tidak mau bersikap “kalah duluan”. Mudah-mudahan kita bisa memandang ke atas di bidang pendidikan (biar orang lain mengurus yang lain) dan kita bisa mengubah negara ini dengan suara kita saja. Cukup menyatakan kepada orang lain “KAMU BISA!” daripada mengatakan “Tidak usah coba deh, segini saja sudah cukup.”

Negara ini dan masa depan anak ada di tangan kita yang menjadi guru dan orang tua.

Jangan menyerah duluan.

Berjuang untuk mendapat yang sebaik-baiknya.

Anggap setiap anak yang diajar anak kandung anda sendiri, dan berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi mereka semua. Untuk anak kandung anda tidak ada istilah “cukup baik”.

Mohon jangan digunakan untuk anak orang lain.

Kita mohon petunjuk dan pertolongan dari Allah setiap hari:

5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

(Surah Al Fatihah QS. 1:5-6)

Dan Allah berjanji untuk melimpahkan rahmat kepada kita:

96. Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, PASTILAH Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

(Surah Al Araf QS. 7:96)

Rahmat dari Allah bukan suatu kemungkinan tetapi sebuah KEPASTIAN. Semua tergantung pada diri kita !!

JANGAN MEMBATASI DIRI !!

Wabillahi taufiq walhidayah

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

(Apakah anda sudah bisa menebak apa yang baru terjadi dalam 100 tahun terakhir ini di negara2 barat?)

5 comments:

  1. Di dalam Al Qur'an ayat-ayat mengenai perintah untuk berpikir jauh lebih banyak daripada perintah untuk Sholat. Perintah untuk berpikir ada sekitar 700-an sedangkan perintah untuk Sholat ada belasan. Apabila Sholat sudah begitu wajibnya untuk dikerjakan sedangkan ayat yang mewajibkan untuk berpikir jauh lebih banyak, amat sangat disayangkan apabila kita malas berpikir. Di dalam Al Quran juga terdapat ayat "...jika kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi, tembuslah!...", nha kalau kita tidak berpikir secara mendalam bagaimana bisa menembus penjuru langit dan bumi. Wassalam.

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum wr.wb

    Salam & selamat untuk anda Gene. Setelah saya membaca tulisan anda , maka saya langsung teringat dengan ucapan yang sama dari kakak saya. Dia selalu mengatakan bahwa kita sendiri yang harus menuliskan atau menggambarkan apa yang kita inginkan , setinggi mungkin, lalu jangan ada keraguan lagi. Maka keinginan itu pasti akan tercapai! Karena yang membuat gagal adalah diri kita sendiri,dgn mengatakan "wah,kayanya ketingian deh" atau "bgm ya cara mencapainya?" atau "Jangan segitu, deh! Segini aja dulu" ,dll.
    Mengapa dunia Barat dapat begitu maju,padahal sebagian besar mungkin tidak percaya kpd adanya Tuhan? Kita sebagai muslim yang percaya kepada Allah SWT, tentu juga harus percaya bahwa Allah itu Maha Adil. Jadi sebagaimana udara dapat dihirup oleh seluruh mahluk hidup di dunia, maka Allah juga pasti memberi kesempatan yang sama bagi seluruh manusia untuk dapat mencapai apa yang dicita-citakannya (termasuk kita jika ingin lebih maju & lebih baik dari hari kemarin).
    Dan Allah Maha Kuasa, maka bagi Allah juga Tidak Ada yang Mustahil.
    Wabillahittaufiq wal hidayah . Wass.

    ReplyDelete
  3. Saya akan mencoba menebak, yang dilakuakan bangsa2 barat dalam 100 tahun terakhir, di luar pengembangan teknologi. Menurut saya satu yang mendukung kemajuan negara-negara barat adalah, "kondusifnya iklim kebebasan berpendapat, dengan tumbuhnya kelas menengah (pekerja)dalam tatanan masyarakat. Hal ini juga diukuti dengan semakin menurunnya peran monarki (kaum konservatif) dalam ketatanegaraan. Bener ga ya? :)

    Ketut Santrawan
    k_santrawan@yahoo.com

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaiikum wr wb

    Salam penuh taksim untuk Anda. Wah, anda sepertinya memberikan ujian unik kepada kami. Untuk sekadar menarik kesimpulan dari tulisan anda saja saya merasa kelimpungan, apalagi harus menjawab pertanyaan anda. Mudah-mudahan jawaban ini ada benarnya walau mungkin bukan sebagai yang anda maksud.
    100 tahun lalu masyarakat Amerika atau dunia barat lainnya mulai menemukan esensi dari agama yang mereka anut. Mereka mulai mengeksplorasi "keunikan" manusia dan memaksimalkan fungsinya sebagai khalifah di bumi. Sementara masyarakat Muslim dan Indonesia yang mayoritas Muslim justeru secara perlahan meninggalkan esensi dari tujuan agama mereka.
    Wassalam.

    ReplyDelete
  5. Saya rasa dalam 1 abad terakhir orang barat mulai menggunakan otaknya dengan benar. Liat saja daftar penemuan-penemuan ilmiah dalam 1 abad terakhir, pasti didominasi oleh mereka.
    Berbanding terbalik dengan kita... Dulu kita punya Ibnu Sina dkk yang menjadi acuan ilmuwan barat saat itu. Tapi sekarang? Kita malah lebih mahir menggunakan "otot"...

    ReplyDelete