Sunday, December 23, 2007

Kapan Indonesia Menjadi Seperti Jepang?


Saya dikirim artikel ini dari seorang teman. Kapan Indonesia bisa seperti ini? Dan apakah ada yang bisa menjelaskan kenapa negara yang penuh dengan orang kafir bisa seperti ini, sedangkan negara yang penuh dengan orang yang beriman bisa mewujudkan yang sebaliknya? Kapan bangsa ini akan maju dan meniru negara orang kafir?

Catatan Perjalanan

Dongeng dari Jepang

Oleh Yuli Setyo Indartono

Rabu, 13 September 2006 06:18:38

>Kantor pemerintahan dan pelayanan public

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam.

[…]

Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

[…]

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.

>Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

>Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

>Lingkungan hidup dan transportasi

Baca artikel lengkap di sini: Berita Iptek.com

7 comments:

  1. Tulisan ini bukan isapan jempol alias benar adanya. Karena saya sendiri saat ini sedang tinggal di sini. Hal-hal positif yang dipraktekkan Jepang itu sebenarnya adalah nilai-nilai Islam yang kita sendiri sudah tahu. Tapi di negara kita tidak bisa dipraktekan dengan mudah. Sewaktu saya mudik ke Indonesia, saya berusaha praktekkan hal2 positif tersebut di Ina (misalnya budaya antri)..ternyata saya seperti orang yang kurang kerjaan. Karena banyak sekali orang yang menyerobot saya..yach..memang harus ekstra sabar untuk melakukan hal2 positif yang dimulai dari diri sendiri.
    Kalo kita sering ceritakan ke teman-teman, sodara-sodara tentang keunikan Jepang, hal-hal positifnya dan lain-lain..jawabannya adalah..Itukan Jepang. Ini Indonesia gitu loh...kayak gak tahu aja gimana Indonesia itu. Padahal maksud saya, kenapa kita tidak bisa mencontoh mereka walopun dimulai dari diri kita sendiri?...
    Tidakkah kita malu? Kita sendiri yang orang Islam malah lebih Islami dari orang Jepang yang mayoritasnya adalah tidak beragama.

    ReplyDelete
  2. Indonesia tidak perlu malu. Sudah prestasi di beberapa bidang.
    Sangat maju di tingkat korupsi. Pencucian uang kelas dunia. Menjadi pelopor dari semua bangsa yang ingin hancurkan hutannya sebelum 2015. Tingkat pencemarah udara, laut, air, dsb, yang sangat tinggi, termasuk kelas dunia. Memimpin dunia dengan jumlah Menteri Agama yang terbukti melakukan korupsi terbesar, dan bahkan masuk penjara. Sangat maju di bidang mengabaikan pelanggaran HAM terhadap rakyat sipil. Sangat maju di bidang melepaskan pembunuh hakim agung dari penjara dalam waktu yang sesingkat mungkin. Memimpin dunia dengan tingkat rakyat apatis yang sangat tinggi, sehingga rakyat tindak ingin bertindak untuk memperbaiki bangsa,dan hanya sebatas menuntut pejabat negara untuk mengurus segala sesuatu. Dan seterusnya. Indonesia sangat maju di banyak bidang. Sayangnya, semuanya di bidang yang kurang baik.

    ReplyDelete
  3. Subhanallah... informasi yg benar2 menyentuh Mr. Gene.
    Beberapa orang atau mungkin banyak yg punya cita2 membangun masyarakat Indonesia agar lebih cerdas dan lebih maju. Kita dukung, bantu dan doakan mereka... moga cita2 kita bersama tuk mewujudkan Indonesia cerdas dan maju segera tercapai. amien...

    ReplyDelete
  4. sebenarnya kuncinya ada di masalah keteladanan.
    saya pernah mengalami sendiri, waktu itu saya berjalan di belakang presiden director perusahaan jepang tempat saya bekerja,..di beberapa meter tiba-tiba pak Sacho (sacho = Presiden Dirctor)memunguti sampah didepan saya, haaaah, bingung paniklah saya, jadinya ikut-ikutan mengambili sampah apapun di depan saya, dan tahu nggak orang dibelakang sayapun, nggak peduli GM, Manager dan siapapun jadi ikutan memungut samapah..hahaha...

    satu lagi, pengalaman seorang manager di tempat saya, saat itu dia lagi beres-beres dokumen, nah saat itu tindakannya membuat beberapa kertas berserakan di bawah mejanya, nah pas lagi asyiknya di kerja, tiba-tiba Pak Presiden Director mendekatinya , sang manager terpana sesaat dikiranya pak Presiden ingin bicara atau ada keperluan, haaah..ternyata tidak, pak Presiden tiba-tiba membungkuk membersihkan sampah-sampah kecil dibawah meja sang Manager, hahaha... sang mManager merah padam bingung malu takut campur aduk sambil ikut membersihkan sampah dibawah mejanya sendiri itu, dan tahu tidak kawan... sejak saat itu sang manager sangat marah kalau ada sampah berserakan walau hanya kecil yang dilihatnya di sekitar area kerja anak buahnya, dan itu terbawa sampai rumah..
    luar biasa bukan...efek dari tindakan sang pemimpin.
    begitu pula sebaliknya, jika guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari...

    andai saja pemimpin kita dulu benar-benar anti korupsi, niscaya bangsa ini selamat dari budaya korup.

    ReplyDelete
  5. Ya udah deh, pindah aja yuk ke jepang... Sangat tidak bangga jadi WNI...

    ReplyDelete
  6. sundul @ade,
    bangsa jepang sekarang, kok jauh beda ama cerita kakek2 dan buku2 sejarah perang dunia ya?

    ReplyDelete
  7. Budaya yang sangat melekat pada setiap orang Jepang adalah budaya MALU.
    Malu kalau tidak rajin, malu kalau bodoh, malu kalau pulang cepat, malu kalau korupsi, malu kalau terlambat.
    Selain itu, mereka sangat sangat PATUH pada leluhurnya dengan dengan segala nilai2 falsafahnya.
    Kedua hal tersebut menjadikan orang2 Jepang berdisiplin tinggi dan maju.
    Kalau Indonesia?

    ReplyDelete