Friday, November 01, 2013

Apa Anak Kita Lulus Ujian Sekolah Karena Paham?

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Ada seorang anak SMA yang diskusi dengan saya, setelah dia selesaikan ujian di sekolah. Saya tanya tentang ujiannya, dan apa dia bisa memahaminya. Dia mulai senyum dan mengaku bahwa dia nyontek di dalam kelas, dan semua temannya juga begitu. Dia jelaskan bahwa banyak dari isi ujian itu tidak pernah dibahas oleh guru kelas mereka, sehingga semuanya tidak paham, termasuk anak2 yang ketahuan cerdas dan suka mata pelajaran tersebut.

Itu komentarnya yang umum, yang berlaku untuk semua ujian. Lalu ada yang lebih parah lagi. Katanya salah satu ujian itu diberikan dalam 2 bahasa: Inggris dan Indonesia. Lebih buruk lagi, ada banyak istilah dalam bahasa Latin yang tidak pernah dipakai oleh gurunya di kelas. Jadi semua anak tidak paham dan saling menyontek sambil tebak2 jawaban mana yang benar.
Yang bahasa Inggris saja tidak dipahami, apalagi Bahasa Latin yang tidak pernah dipakai guru saat belajar. Katanya dia baca banyak kata dan kalimat berulang kali, tanpa bisa memahami bahasa Inggrisnya. Lalu nyontek.
Katanya ada banyak dari temannya yang tidak bisa jawab mayoritas dari pertanyaan di kertas ujian, jadi mereka menebak semua jawaban dengan cara pilih secara acak saja. Tidak ada hubungan dengan ilmu, pengertian atau usaha memahami jawaban mana yang benar. Tebakan murni, seperti orang yang sedang berjudi dan tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Masa depan mereka ditentukan oleh “tebakan”.

Saya bertanya apa ujian itu dibuat oleh guru, atau dari dinas pendidikan. Dia bilang tidak tahu. Saya jadi merasa kasihan sekali bagi semua anak sekolah yang harus jalankan ujian seperti itu secara rutin. Hasil dari pendidikan mereka adalah nilai yang merupakan hasil tebakan atau penyontekan.

Apa itu hasil yang diharapkan dari sistem pendidikan di Indonesia? Guru, dokter, insinyur, pilot, ahli IT, pengacara dan lain-lain yang berhasil lulus sekolah dengan cara menebak atau menyontek…. Menjadi orang dewasa seperti apa mereka? Mereka adalah masa depan bangsa, katanya.

Dan kalau mereka semua komplain bahwa mereka tidak paham ujian itu, karena tidak sesuai dengan pelajaran di kelas, siapa yang mau dengar? Siapa yang mau peduli? Sepertinya hanya ada satu hal yang penting: menjaga Status Quo, dan jangan sampai terjadi perubahan positif. Bagaimana anak itu bisa hidup dalam sistem seperti itu bertahun-tahun tanpa menjadi gila? (Atau mungkin sebagian dari mereka memang menjadi gila, lalu menjadi pejabat! Pantasan. Hehehe).

Apa tidak mungkin ada yang bisa dilakukan oleh 100 juta orang tua, 60 juta siswa dan 3 juta guru untuk mendapatkan sistem pendidikan yang lebih berkualitas?
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

No comments:

Post a Comment