Friday, November 15, 2013

Pelajar SMA Bacok Guru dan Rekannya di Sekolah



[Ini komentar saya kepada para guru, di sebuah group. Siswa itu mengatakan dia membacok gurunya karena disuruh potong rambut. Beritanya ada di bawah. -Gene]

Boleh saya ikut berkomentar? Kalau ada yang ingat, lebih dari 6 bulan yang lalu saya berusaha ajak para guru membahas persoalan razia rambut gondrong di sekolah. Kebanyakan guru tidak mau tahu, dan ada yang langsung menghujat saya. Saya sudah lama menunggu berita siswa menyerang guru, disebabkan perkara ini. Jadi saya tidak heran. Apa sekarang saya boleh coba lagi mengajak para guru membahas ini secara serius? Atau apa masih mau menghujat saya saja, dan biarkan guru lain dibacok dan bahkan dibunuh?

Dulu, waktu dibahas, hasilnya seperti ini: Pertama, ada guru yg mengatakan ini bagian dari ajaran Islam. Pria harus punya rambut pendek. Saya buktikan Rasulullah SAW punya rambut panjang sampai bahu (ada hadiths). Lalu argumentasi guru berubah. Ini bagian dari budaya Indonesia. Saya orang asing jadi tidak mengerti. Saya buktikan banyak pria punya rambut panjang di tahun 70an, 80an dan 90an. Jadi ini “budaya Indonesia” untuk berapa tahun? Lalu argumentasi guru berubah. Ini bagian dari aturan sekolah. Siswa wajib nurut. Saya minta definisi “rambut gondrong” dan jawabannya bervariasi. Banyak guru mengaku aturan sekolahnya memang tidak ada atau tidak jelas. Jadi terserah guru untuk memaksakan siswa nurut atau tidak. Yang penting pendapat guru selalu benar, siswa selalu salah.

Saya pertanyakan kenapa harus ada aturan sekolah tentang rambut pria, sedangkan untuk rambut perempuan tidak, dan saya dihujat ratusan orang, tetapi ribuan yang lain diam saja. Bahkan ada guru yang mengatakan kalau siswa tidak perlu nurut dengan aturan rambut gondrong, nanti semua siswa akan melakukan seks bebas dan pakai narkoba di kelas. Nah, sekarang, sudah ada kasus seks di kelas, di SMP di Jakarta. Padahal aturan “rambut gondrong” masih ada.

Sekarang seorang guru dan siswa lain sudah dibacok. Ini penyerangan yang disengaja dan direncanakan. Siswa itu sudah lama kesal dan marah, dan  kita juga tidak tahu “cara bicara” yang dipakai oleh guru tersebut. Daripada membahas kenapa rambut siswa perlu diatur oleh guru, kebanyakan guru di sini malah sibuk membahas peran media yang sebarkan berita negatif. Apa itu perkara yang paling utama dalam kasus ini?

Terus terang, saya tidak peduli pada rambut siswa. Tidak peduli kalau panjang atau pendek. Bagi guru yang tidak paham, yang saya pedulikan adalah HUBUNGAN antara siswa dan guru dan bagaimana guru melihat siswa dan sebaliknya. Cara apa dan sikap apa yang dipakai setiap guru dalam bicara kepada siswanya? Apa selalu adil? Apa selalu mulia dan bijaksana? Apa selalu lembut dan bersikap sedang membina? Apa siswa punya hak untuk tidak setuju? Apa siswa merasa sebagai “pemilik” di sekolah masing2, atau lebih tepat merasa sebagai “tahanan”? Apa aturan sekolah boleh diubah atas kesepakatan orang tua, guru dan siswa? Atau apa aturan sekolah turun dari langit, dan siapapun yang tidak setuju harus dicap subversif?

Rambut siswa tidak penting. Sebagian dari aturan sekolah (dalam konteks tertentu) bisa dinilai tidak penting juga. Tetapi CARA yang dipakai guru dalam berkomunikasi dan membangun hubungan dengan siswa SANGAT PENTING SEKALI.

Sekian dulu. (Sekarang ratusan guru bisa mulai menghujat saya lagi, atau bisa memilih untuk diskusi secara dewasa dan berusaha untuk memahami pendapat yang berbeda. Kebenaran, walaupun dari mulut anjing, tetap kebenaran.)
Wassalam,
Gene
**************
Pelajar SMA Bacok Guru dan Rekannya di Sekolah
Kamis, 22 Agustus 2013 | 17:47 WIB
TEMPO.CO, Bima - Lima pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mengamuk di sekolahnya sendiri. Bersenjatakan kapak, pisau, dan tombak, mereka menyerang guru dan teman-teman sekolahnya. Akibatnya, seorang guru bernama Iwan Nur dan seorang murid terluka, Kamis, 22 Agustus 2013.
Peristiwa itu bermula sekitar pukul 10.30 Wita ketika secara lima orang siswa berusia sekitar 17 tahun itu masuk kelas. Tak lama setelah kelas dimulai, kelima siswa mengeluarkan parang di balik bajunya dan menyerang guru BP Iwan Nur. Iwan dan seorang murid lain terluka. Aksi mereka membuat geger sekolah. Sekitar 200 siswa lain berhamburan lari ketakutan. Usai melakukan aksinya, lima siswa itu lantas berlari keluar sekolah menuju jalan raya dan bersembunyi. Guru yang melihat hal itu langsung menghubungi polisi.

Menurut Kepala Kepolisian Sektor Sape Komisaris M Taufan, kelima pelajar itu sudah berhasil ditangkap. Pada polisi mereka mengaku marah pada Iwan Nur karena dipaksa untuk cukur rambut. Kelimanya kini masih ditahan polisi. "Mereka terancam terjerat pasal pengancaman dengan senjata tajam,"  kata Taufan.
AKHYAR M NUR

Sumber: Tempo

1 comment:

  1. Setuju pak gene, yang penting adalah "bagaimana guru menasehati anak2 tersebut", kalau cara yang dipakai baik dan benar, tentulah tidak akan terjadi hal-hal seperti yang diberitakan oleh media.

    ReplyDelete