Search This Blog

Labels

alam (8) amal (97) anak (323) anak yatim (117) bilingual (22) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (89) dhuafa (18) for fun (12) Gene (223) guru (69) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (34) hukum (69) hukum islam (51) indonesia (592) islam (561) jakarta (34) kekerasan terhadap anak (378) kesehatan (99) Kisah Dakwah (12) Kisah Sedekah (11) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (28) KPK (16) Kristen (14) lingkungan (19) mohon bantuan (40) muallaf (52) my books (2) orang tua (11) palestina (34) parenting (2) pemerintah (138) Pemilu 2009 (63) pendidikan (526) pengumuman (27) perang (10) perbandingan agama (11) pernikahan (11) pesantren (48) politik (127) Politik Indonesia (53) Progam Sosial (60) puasa (37) renungan (196) Sejarah (5) sekolah (95) shalat (10) sosial (324) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

27 January, 2026

Tidak Sah Kalau Bilang “Saya Dulu Dipukul Di Sekolah Dan Sukses Sebagai Dewasa”

[Komentar]: Di SMP saya dulu, tahun 1981, Kepala Sekolahnya memutar cincinnya dulu kalau mau menempeleng muridnya. Kalau ada muridnya berkelahi, dikasih sarung tinju, dan diadu tinju sampai kecapekan. Habis itu disuruh berdamai. Tiap reuni kami ketawaan mengingat masa2 itu dan berterima kasih dididik dengan cara spartan seperti itu. Gak peduli dibilang kejam dan brutal.

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Mohon maaf pak, tetapi ada masalah dengan pola pikir itu. Kita tidak bisa ambil dua versi dari anak yang sama (misalnya 2 anak kembar), lalu satu dihajar terus di sekolah, dan satu lagi dikasih motivasi dan semangat, dan tidak pernah alami kekerasan. Lalu setelah 5, 10, dan 20 tahun, kita cek lagi dan membuat analisis. 

Seorang bapak bilang “Saya dulu dihajar terus dan saya sukses! Hajar anak bukan masalah!” Coba kita kaji lebih dalam. Kalau 1.000 anak dihajar, lalu 300 berkumpul saat reuni dan merasa “sukses”, bagaimana dengan 700 orang yang lain? Apa kondisi hidup mereka diketahui? Sukses juga? 

Lalu kita lihat, dari 1.000 anak itu, berapa persen yang bercerai, selingkuh, kecanduan narkoba, hajar anak dan istri di rumah, sering pindah kerja, merasa depresi, berada di penjara, atau bunuh diri? Dan apa persentase dalam semua hal itu setara dengan rakyat secara umum? Dari penelitian seperti itu, baru kita bisa dapat gambaran. Secara umum, manusia selalu fokus pada yang baik dan berhasil. Contohnya, anak lulus pesantren sebagai hafiz Quran dan menjadi pejabat. Pasti dipamerkan terus. Orang lain, yang ditangkap polisi, akan disembunyikan. Orang lain yang menjadi kecanduan narkoba dan tewas tidak akan dibahas. Dan kondisi mereka itu tidak akan dikaitkan dengan pengalamannya pada waktu kecil. 

Jadi kalau bapak dulu dihajar dan sekarang merasa “sukses”, dan berikan nilai keberhasilan sebagai 8/10 dalam kehidupan, bagaimana kalau saya bilang pengukuran yang sebenarnya BUKAN 1-10 saja, tetapi malah bisa jadi 1-100? Hanya saja, bapak tidak sadar ada penghitungan sampai 100 itu. Dianggap 10 sudah tinggi dan 8/10 sudah sangat bagus sekali. Tetapi kalau seandainya dihitung dari 100, maka 8/100 sangat rendah (walaupun memuaskan). Artinya, coba berpikir tentang APA yang seandainya bisa dicapai kalau bapak tidak pernah dihajar dulu dan malah dikasih motivasi? Apa hasilnya akan sama saja? Atau jauh lebih besar?  

Pernah ada guru yang berdebat dengan saya. Seorang mantan murid berterima kasih, dulu sering dihajar, dan sekarang berhasil sebagai polisi. Dia memukul tersangka dan memaksa mereka mengaku. Karena banyak tersangka mengaku, polisi itu dapat prestasi. Guru tersebut ikut bangga. Saya jelaskan masalahnya, tetapi guru itu tidak mau peduli. Katanya, orang yang tidak bersalah tidak mungkin mengaku. Pasti itu kriminal dan “dibantu” mengaku. Baik guru itu, maupun muridnya, merasa dalam kebenaran, dan tidak ingin melihat dari sisi tersangka yang takut dibunuh jadi mengaku, walaupun tidak bersalah. 

Ini hanya satu contoh dari berbagai macam masalah yang bisa muncul kalau anak dididik dengan kekerasan. Sudah ada data dari penelitian di seluruh dunia. Hasilnya dari kekerasan itu buruk terus, untuk BANYAK anak (tidak semuanya). Ada banyak yang alami efek yang luas di usia dewasa seperti menjadi depresi, pakai narkoba, DO dari sekolah atau universitas, selingkuh, sering cerai, bunuh diri, dll. Ada pengaruh dari pola pendidikan masa kecil. Tetapi kebanyakan orang tua tidak belajar tentang psikologi pendidikan, jadi tidak tahu. Dan banyak guru di sini juga tidak mau tahu.

Memukul anak BUKAN cara yang benar untuk mendidik anak. Kalau memang benar, dijamin ada matakuliah di Fakultas Pendidikan berjudul, “Tata Cara Hajar Anak Demi Hasil Pendidikan Yang Baik: 4 SKS.” Ternyata, tidak ada, di seluruh dunia!!! Coba berpikir kenapa!

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...