Search This Blog

Labels

alam (8) amal (45) anak (315) anak yatim (75) bilingual (21) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (84) dhuafa (6) for fun (12) Gene (168) guru (68) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (32) hukum (57) hukum islam (51) indonesia (487) islam (541) jakarta (27) kekerasan terhadap anak (371) kesehatan (94) Kisah Dakwah (13) Kisah Sedekah (9) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (22) KPK (12) Kristen (14) lingkungan (18) mohon bantuan (13) muallaf (49) my books (2) orang tua (11) palestina (33) parenting (2) pemerintah (99) Pemilu 2009 (36) pendidikan (497) pengumuman (23) perang (9) perbandingan agama (12) pernikahan (11) pesantren (48) politik (111) Politik Indonesia (29) Progam Sosial (15) puasa (35) renungan (187) Sejarah (5) sekolah (94) shalat (11) sosial (281) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

05 September, 2007

Hati-Hati Dengan Tulisan Sesat

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Mengenai tulisan sesat:

Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen

Oleh orang sesat bernama MOHAMAD GUNTUR ROMLI

Artikel ini dimuat di harian Kompas, ditulis oleh orang sesat dari JIL bernama MOHAMAD GUNTUR ROMLI.

Inti dari artikel ini adalah Nabi Muhammad SAW telah “disiapkan” menjadi Nabi atas kemauan Siti Khadijah dan orang lain.

Berarti kalau Khadijah tidak ada, Muhammad SAW akan kesulitan menjadi NABI ALLAH karena belum disiapkan “orang Kristen” bernama Khadijah.

Astagfirullah al adzim.

Astagfirullah al adzim.

Astagfirullah al adzim.

Beberapa kutipan:


**Khadijah dan timnya telah mengamati Muhammad sejak lama.**
Benar? Khadijah punya “tim” untuk menyiapkan Nabi? Hebat dong! Allah pasti merasa legah bahwa Nabi-Nya disiapkan oleh orang lain. Untung ada Khadijah untuk membantu Allah dalam tugas ini. Kalau tidak, Islam tidak punya Nabi, kan? Allah tidak sanggup mengangkat Nabi sendiri. Tidak sanggup mengajarkannya sendiri. Butuh bantuan dari orang Kristen untuk menyiapkan Nabi-Nya.

Kira-kira siapa yang menyiapkan Nabi Adam AS? Apakah Siti Hawa yang menyiapkannya supaya tugas Allah mengangkat Nabi menjadi mudah? Kasihan Allah kalau tidak ada yang menyiapkan Nabi Adam AS. Apakah Allah tidak sanggup melakukan tugas itu sendiri, tanpa dibantu manusia?

**dalam kata-kata Khadijah sendiri—"aku sangat ingin agar kamu (Muhammad) menjadi nabi bagi umatmu."**

Dari mana perkataan ini? Sumber tidak dikutip. Barangkali tidak perlu sumber, merekayasa sudah oke-oke saja. Mungkin si Penulis didatangi oleh “suara-suara yang mengaku dari Tuhan” yang menceritakan semua perkataan Khadijah selama menikah dengan Nabi Muhammad SAW.


**Adapun Khadijah dan Waraqah memiliki tujuan lain dengan pernikahan itu.**

Nabi Muhammad SAW dijadikan “alat” untuk mencapai aspirasi orang lain? Barangkali Allah tidak sanggup melawan kemauan mereka.

Kasihan deh Allah. Allah terpaksa tunduk dengan kemauan sekelompok orang “Kristen”.

**maka di masa-masa itulah Khadijah, Waraqah, dan kaum cerdik pandai Kristen memiliki andil dalam menyiapkan proses kenabian Muhammad.**

Untung mereka ada. Allah pasti tidak sanggup angkat Nabi sendiri. Kenapa tidak ada untuk Nabi Adam AS ya? Seharusnya dia juga “disiapkan”. Waktu Allah ingin ajarkan nama benda-benda kepadanya, Adam AS bisa menjawab: “Tidak perlu. Saya sudah tahu semuanya. Saya sudah disiapkan oleh Hawa!”

**Khadijah bersama Waraqah telah membimbing Muhammad menelusuri tangga-tangga spiritualitas hingga mencapai puncak kenabian.**

Untung ada Khadijah. Nabi tidak bisa menjadi orang spiritual kalau tidak ada Khadijah. Bayangkan kalau Khadijah tidak ada: Muhammad SAW akan menjadi Nabi Allah tetapi tidak spiritual. Hanya tahu dunia saja. Untung Nabi “disiapkan”.

Kira-kira siapa yang membentuk sifat spiritual di dalam hati Nabi Adam AS? Nabi Isa AS? Nabi Ibrahim AS? Nabi Musa AS? Tidak ada Khadijah dan kaum “Kristen” untuk melakukan tugas itu. Apakah mereka tidak berhasil menjadi orang spiritual tanpa ada manusia yang “menyiapkan” mereka? Atau hanya Muhammad SAW sendiri yang tidak sanggup? Nabi yang lain bisa sendiri.

**maupun ketika Muhammad mulai didatangi "suara- suara" yang mengaku sebagai utusan Tuhan.**

Ohhhh…begitu. Saya kira itu Malaikat Jibril yang datang. Tenyata hanya suara suara yang mengaku, seperti MOHAMAD GUNTUR ROMLI yang mengakui diri sebagai seorang Muslim. Hanya pengakuan saja ya. Belum tentu benar. Harus ada orang lain yang menguji kebenarannya.

**Khadijah-lah yang menguji kualitas "suara" itu apakah berasal dari malaikat atau setan.**

Wah, coba kalau tidak ada Khadijah untuk “menguji kualitas suara” itu. Bisa jadi Nabi Muhammad SAW tidak percaya padanya dan tinggalkan suara2 itu. Berati Islam tidak pernah terwujud. Nabi tidak menjadi Nabi. Untung ada Khadijah ya. Seharusnya Khadijah yang menjadi Nabi kali ya, karena sepertinya dia lebih berilmu tentang semua persoalan kenabian!

**Jadi, kita bisa melihat bahwa Muhammad bukanlah nabi yang datang dari
dunia antah berantah. Kepribadian dan pengetahuannya telah dibentuk
oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran
kenabian. Khadijah bersama komunitas memiliki pengaruh yang tak bisa
disanggah. Kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimentasi
kolektif setelah melalui proses kreatif
yang sangat panjang.**

Oohhhhh beeeggiiiitttttuuuu…

Agama kita, agama Islam yang diwahyukan kepada Nabi Allah Muhammad SAW, bukan mutlak berasal dari Allah tetapi hanyalah HASIL EKSPERIMENTASI DARI ORANG KRISTEN YANG INGIN MEMBENTUK SEORANG NABI BARU BUAT KAUM MEREKA!!!!

Semoga Allah SWT. segera menyelamatkan nama baik Siti Khadijah dan Nabi Muhammad SAW dari kaum sesat JIL serta semua pikiran sesat mereka, dan juga penulis sesat bernama MOHAMAD GUNTUR ROMLI,.

Wallahu a’lam bish-shawab

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Baca artikel sesatnya di Kompas

30 August, 2007

Siapakah Emaknya?

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali kekota. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "Tak mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu." Molek budi bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum.

Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp

20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu. "Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.

Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk.

Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

Sumber: Suara Merdeka

23 August, 2007

Mengadopsi Binatang

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Lagi browsing, saya ketemu website yang tawarkan kesempatan untuk mengadopsi binatang yang terancam (hampir musnah). Anak dan sekolah diajak untuk memilih sebuah binatang dan bantu memeliharanya lewat sumbangan.

Saya lihat ini sebagai sesuatu yang positif yang bisa dilakukan anak sekolah di Indonesia, kalau mampu tentu saja (di Jakarta ada ribuan sekolah swasta, dan siswanya tergolong mampu).

Bayangkan kalau ada program baru dari Diknas dan Departemen Lingkungan, yang mengajak setiap sekolah mengumpulkan uang untuk menyelamatkan satu ekor orangutan (sebagai contoh).

Kalau setiap sekolah mengadopsi satu ekor, dan berusaha untuk mencari dana untuk binatang itu, jumlah orangutan yang bisa diselamatkan akan meningkat, Insya Allah. Bisa juga membantu badak, macan, kura-kura laut dsb.

Yang terpenting dari program tersebut adalah membuat anak sadar bahwa mereka bisa bertindak untuk memperbaiki bangsa ini. Dana bisa dikelola secara profesional oleh WWF supaya tidak masuk ke tabungan negara. Laporan tentang bintang yang dibantu bisa di-update terus di Website WWF, sehingga anak Indonesia menjadi terbiasa membaca dan peduli dengan nasib satwa di bangsa ini.

Setiap sekolah akan mendapat data dan foto dari binatang yang mereka bantu, dan ini bisa dipajang di sekolah. Bisa menjadi proyek di kelas untuk menjelaskan nasib orangutan yang diselamatkan anak dari sekolah tersebut, dan bandingkan dengan binatang yang lain yang tidak dibantu.

Setuju? Bagaimana cara menyampaikan ini kepada pemerintah? (Lebih sulit lagi, bagaimana caranya membuat pemerintah peduli dan tidak sekedar setuju secara lisan saja tanpa bertindak?)

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Contoh:

Adopt an Animal (lihat di bagian bawah)

22 August, 2007

Apakah Pakaian Dari Cina Juga Mengandung Formalin (Formaldehyde)?

Pemerintah di Selandia Baru (New Zealand) sedang memeriksa pakaian yang diimpor dari Cina, setelah acara televisi “Target TV” mengumumkan kepada masyarakat bahwa pakaian anak yang diimpor dari Cina mengandung 900 KALI LIPAT jumlah formalin yang telah ditentukan “aman” oleh PBB.

(Formalin ditambahkan pada pakaian supaya menjadi anti-lumut)

Bagaimana dengan pakaian anak kita di Indonesia yang hampir seluruhnya diimpor dari Cina? Kapan pemerintah akan melakukan pemeriksaan di sini juga?

Formalin bisa menyebabkan gangguan kulit dan juga kanker.

NZ probes China clothing scare

New Zealand's government is investigating claims that clothes imported from China contain dangerous levels of formaldehyde.

The government acted after the Target TV programme claimed that fabrics in children's clothes contained 900 times the UN's safe level of the chemical.

Formaldehyde, used to stop mildew, can also cause skin irritations and cancer.

The discovery is the latest in a series of safety scares involving Chinese exports of goods such as toys and food.

'Made in China' under threat

"We are very concerned about this issue and if action needs to taken, we will act very quickly," said New Zealand's Ministry of Consumer Affairs spokeswoman Liz MacPherson.

"We can recall products, we can ban them and we can establish mandatory safety standards and obviously we'll be considering all of those options," she told reporters.

Earlier this month toy maker Mattel recently recalled millions of Chinese-made toys because of concerns about the use of toxic lead paints and strong magnets.

Questions have also been asked about the safety of other products, such as tyres, toothpaste and various foodstuffs.

Chinese officials have said the world should have more faith in the Made in China label.

"Although recalls are necessary, it is unfair to decide that all products made in China are unqualified," Li Changjiang, director of the General Administration of Quality Supervision, Inspection and Quarantine is quoted as telling the Associated Press.

Mr Li said he believed there was a "new trend in trade protectionism".

That has been dismissed by European Union trade commissioner Peter Mandelson.

Story from BBC NEWS:
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/asia-pacific/6956764.stm

Published: 2007/08/21 12:54:14 GMT

© BBC MMVII

Mainan Cina di RI Mengandung Timbal 4x Lipat di Atas Normal

Rabu, 22/08/2007 12:29 WIB


Nurul Qomariyah - detikfinance

Jakarta - Awasi mainan anak-anak Anda! Hasil uji coba yang dilakukan Sucofindo atas mainan Cina yang beredar di Indonesia sangat mengagetkan, karena mengandung logam timbal berbahaya 4 kali lipat diatas ambang batas normal.

Hasil uji itu diketahui setelah Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (APMETI) dengan inisiatif sendiri melakukan uji coba sebuah mainan mobil-mobilan dari Cina.

Satu sampel mobil-mobilan Cina dikirimkan ke Sucofindo pada 8 Agustus lalu. Pada 20 Agustus, hasil tes Sucofindo sudah keluar. Hasil tesnya sangat mengejutkan Ketua APMETI Dhanang Sasongko.

Dalam laporan yang dikeluarkan Sucofindo bernomor 0250195, diketahui bahwa mainan mobil-mobilan Cina itu mengandung timbal hingga 353 miligram per kilogram berat mobil.

Kandungan timbal dalam mainan Cina itu berarti hampir 4 kali lipat dari ambang batas yang direkomendasikan oleh Badan Standardisasi Mainan Dunia (IN71), sebesar 90 miligram per kilogram.

"Ini sangat berbahaya bagi anak-anak karena jika bercampur dengan air liur atau udara panas bisa menjadi racun," jelas Dhanang dalam perbincangannya dengan detikFinance, Rabu (22/8/2007).

Dhanang mengaku pihaknya berinisiatif untuk menguji coba mainan Cina itu sendiri menyusul penarikan mainan Cina oleh Mattel.

"Kandungan timbal dari mainan Cina itu diluar perkiraan saya, karena ternyata kandungan timbal 4 kali lipat diatas ambang batas normal," ujar Dhanang prihatin.

Timbal merupakan logam berat berbahaya yang bisa menyebabkan kanker. Logam ini dapat menyebabkan berbagai dampak kesehatan terutama pada anak-anak kecil. Timbal juga bisa merusak sistem syaraf dan masalah pencernaan.

Sumber timbal yang juga populer adalah asap knalpot kendaraan, seperti yang terjadi di Jakarta. (qom/ddn)

Sumber: Detik Finance

19 August, 2007

DECLARATION OF INDEPENDENCE FROM THE TYRANNY OF BUSH


The text below is taken from the original US Declaration of Independence. In it, the American founding fathers explained why they wanted to be free from the tyranny of the British. I was surprised at how easy it was to remove the words about the British and replace them with words about George Bush and his “War on Terror”. Some paragraphs were deleted because they were not relevant to the current situation.

The words with a normal font are the original words from the Declaration of Independence. The words in bold font have been added to match current issues.

*********

DECLARATION OF INDEPENDENCE FROM THE TYRANNY OF BUSH

When in the Course of human events it becomes necessary for one people to stand up to a tyrant and a war criminal and dissolve the political bands which have connected their two governments, a decent respect to the opinions of mankind requires that they should declare the causes which impel them to the separation.

We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the freedom from being bombed by an Aggressive State that launches Wars of Terror against largely civilian populations with impunity.

Whenever any Form of Government becomes destructive of these ends, it is the Right of the People of the world to oppose such a destructive government for the benefit of humanity.

The history of the Bush Administration is a history of repeated injuries and usurpations against foreign states, all having in direct object the establishment of an absolute Tyranny over these States. To prove this, let Facts be submitted to a candid world and let them look no further than Iraq.

Bush has refused his Assent to Laws, the most wholesome and necessary for the public good.

Bush has threatened to use his veto power repeatedly, against any group that opposes with manly firmness his invasions on the rights of the people.

Bush has obstructed the Administration of Justice by refusing his Assent to Laws that will allow the application of the Geneva Conventions for Prisoners of War held in Guantanamo Bay and other secret prisons.

Bush has made Judges dependent on his Will alone for the application of habeas corpus.

Bush has erected a multitude of New Offices, such as the Department of Homeland Security, and sent hither swarms of Officers to harass innocent civilians and eat out their substance.

Bush has kept among us (the citizens of the world), in times of peace, Standing Armies without the Consent of the common people.

Bush is quartering large bodies of armed troops among the innocent civilians of Iraq:

Bush is protecting those soldiers, by a mock Trial from punishment for any Murders or torture which they should commit on the Inhabitants of their prisons in Iraq, Afghanistan, Guantanamo Bay, and other secret locations:

Bush is depriving people in many cases, of the benefit of Trial by Jury:

Bush is transporting innocent civilians and alleged criminals beyond Seas to be tried for pretended offences without ever being presented evidence of their crimes:

Bush abolished the existing government in Iraq, establishing therein an Arbitrary government, so as to render it at once an example and fit instrument for introducing the same absolute rule into other middle eastern states.

Bush took away their Charters, abolishing their most valuable Laws and altering fundamentally the Forms of their Government:

Bush suspended their right to self determination, and declared himself invested with power to pre-emptively strike against any state in all cases whatsoever.

Bush has burnt the towns, and destroyed the lives of the people in Iraq and Afghanistan, with the new goal of attacking the sovereign state of Iran.

Bush is at this time transporting large Armies of US soldiers to complete the works of death, desolation, and tyranny, already begun with circumstances of Shock and Awe in Baghdad scarcely paralleled in the most barbarous ages, and totally unworthy the Head of a civilized nation.

In every stage of these Oppressions the people of the world have Petitioned for Redress in the most humble terms to the United Nations: Our repeated Petitions have been answered only by repeated injury and threats of a veto. A President, whose character is thus marked by every act which may define a Tyrant, is unfit to be the ruler of a free people.

Nor have We been wanting in attentions to our American brethren. We have warned them from time to time of attempts by their own elected legislature to extend an unwarrantable jurisdiction over innocent civilians. We have appealed to their native justice and magnanimity, and we have conjured them by the ties of our common kindred as human beings. They too have been deaf to the voice of justice and of consanguinity. We must, therefore, acquiesce in the necessity, which denounces our Separation, and hold them, as we hold the rest of mankind, Enemies in War, in Peace Friends.

We, therefore, the Representatives of the innocent civilians of the world, in General Congress, Assembled, appealing to the Supreme Judge of the world for the rectitude of our intentions, do, in the Name, and by Authority of the good People of the world solemnly publish and declare, That we in the Non-Aligned Countries are, and of Right ought to be Free and Independent States, that we are Absolved from all Allegiance to George Bush and his “War on Terror”, and that all political connection between us and the Bush Administration, is and ought to be totally dissolved; and that as Free and Independent States, we have full Power to determine our own political affairs, contract Alliances, establish Commerce, and to do all other Acts and Things which Independent States may of right do without interference from Bush the Tyrant and his collaborators. — And for the support of this Declaration, with a firm reliance on the protection of Almighty God, we mutually pledge to each other our Lives, our Fortunes and our sacred Honor.

New Orleans Membuat SBI Juga

Sekolah2 di New Orleans menjadi bagian dari sebuah eskperimen, tanpa minta izin kepada orang tua atau kepada siswa.

Sebagian dari sekolah negeri ditentukan sebagai “charter schools”. Sekolah charter ini (ibarat “Sekolah Bertaraf Internasional” yang ingin dibuat oleh Diknas kita) akan mendapatkan tambahan anggaran yang besar dari negara (jutaan dolar), tambahan fasilitas, guru yang berkualifikasi, dan hak untuk menolak anak masuk dengan berbagai alasan. Ada siswa yang ditolak karena kelas sudah penuh, karena ranking siswa kurang tinggi, dan lain-lain. Siswa yang punya ganguan belajar (seperti ADHD) atau gangguan emosional akan ditolak juga. Berarti sekolah2 charter ini sudah menjadi sekolah elit dan semuanya dibayar dengan uang pajak rakyat, dengan banyak tambahan dari organisasi swasta.

Sekolah yang tersisa disebut "Recovery School District" (RSD). Sekolah RSD ini layak sekolah negeri yang biasa, tapi lebih parah lagi karena berada di wilayah New Orleans yang masih dalam keadaan hancur setelah kena Badai Katrina dan banjir besar. Sekolah RSD dengan sengaja tidak akan mendapatkan dana jutaan dolar yang diberikan pada sekolah charter (inilah eksperimennya). Sekolah RSD punya banyak guru yang tidak berkualifikasi, dan jumlah guru sangat kurang. Siswa di sekolah RSD mengeluh bahwa sekolah mereka ibarat penjara, karena ada lebih banyak satpam daripada guru. Siswa sering menghabiskan harinya dengan duduk di aula menunggu para guru yang datang telat.

Mayoritas dari anak di sekolah RSD berkulit hitam (dengan arti mereka kaum yang lebih miskin ketimbang anak berkulit putih yang masuk sekolah charter).

********

Does this sound familiar????

Apa ada bedanya dengan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)?

Ini sebuah eksperimen terhadap pendidikan anak yang rasis, mewujudkan perasaan elit dan mengabaikan hak bagi setiap anak bangsa untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dari pemerintah.

Untuk mendukung proses perubahan dari sekolah negeri yang daftar kembali sebagai sekolah charter, seluruh dari 4000 guru di New Orleans (yang sudah punya serikat guru) dipecat oleh pemerintah.

Kedzaliman pemerintah terhadap anak kecil tidak ada batas, dan ternyata ada negara lain yang sama jeleknya dengan Diknas kita.

Menyedihkan sekali.

Sebagian dari teks aslinya:

There is a massive experiment being performed on thousands of primarily African American children in New Orleans. No one asked the permission of the children. No one asked permission of their parents. This experiment involves a fight for the education of children.

This is the experiment.

The First Half

Half of the nearly 30,000 children expected to enroll in the fall of 2007 in New Orleans public schools have been enrolled in special public schools, most called charter schools. These schools have been given tens of millions of dollars by the federal government in extra money, over and above their regular state and local money, to set up and operate. These special public schools are not open to every child and do not allow every student who wants to attend to enroll. Some charter schools have special selective academic criteria which allow them to exclude children in need of special academic help. Other charter schools have special admission policies and student and parental requirements which effectively screen out many children. The children in this half of the experiment are taught by accredited teachers in manageable size classes. There are no overcrowded classes because these charter schools have enrollment caps allowing them to turn away students. These schools also educate far fewer students with academic or emotional disabilities. Children in charter schools are in better facilities than the other half of the children. These schools are getting special grants from Laura Bush to rebuild their libraries and grants from other foundations to help them educate. These schools do educate some white children along with African-American children. These are public schools, but they are not available to all public school students.

The Other Half

The other half of public school students, over ten thousand children, have been assigned to a one-year-old experiment in public education run by the State of Louisiana called the "Recovery School District" (RSD) program. The education these children receive will be compared to the education received by the first half in the charter schools. These children are effectively what is called the "control group" of an experiment Ð those against whom the others will be evaluated.

The RSD schools have not been given millions of extra federal dollars to operate. The new RSD has inexperienced leadership. Many critical vacancies exist in their already-insufficient district-wide staff. Many of the teachers are uncertified. In fact, the RSD schools do not yet have enough teachers, even counting the uncertified, to start school in the fall of 2007. Some of the RSD school buildings scheduled to be used for the fall of 2007 have not yet been built.

In the first year of this experiment, the RSD had one security guard for every 37 students. Students at John McDonough High said their RSD school, which employed more guards than teachers, had a "prison atmosphere." In some schools, children spent long stretches of their school days in the gymnasium waiting for teachers to show up to teach them.

There is little academic or emotional counseling in the RSD schools. Children with special needs suffer from lack of qualified staff. College-prep math and science classes and language immersion are rarely offered. Classrooms keep filling up as new children return to New Orleans and are assigned to RSD schools.

Many of the RSD schools do not have working kitchens or water fountains. Bathroom facilities are scandalous. Teachers at one school report there are two bathrooms for the entire school - one for all the male students, faculty and staff and another for all the females in the building.

Hardly any white children attend this half of the school experiment.

These are the public schools available to the rest of the public school students.

Read both articles here:

Part One:

New Orleans's Children Fighting for the Right to Learn
By Bill Quigley
t r u t h o u t | Report

Thursday 09 August 2007

http://www.truthout.org/docs_2006/080907A.shtml

Part Two

Part II: New Orleans's Children Fighting for the Right to Learn
By Bill Quigley
t r u t h o u t | Report

Friday 10 August 2007

http://www.truthout.org/docs_2006/081007C.shtml

18 August, 2007

Para Janda Bertahan Hidup Di Iraq

Al Jazeerah melaporkan bahwa banyak janda di Iraq sekarang terpaksa menjadi pelacur karena tidak ada cara yang lain bagi mereka untuk menghasilkan uang.

Rana Jalil, 38 tahun, menjadi pelacur setelah suaminya wafat dan tidak ada uang untuk membeli makanan bagi keempat anaknya. Tidak ada kesempatan kerja bagi perempuan di negara Iraq sekarang.

Setelah suaminya wafat, seorang dokter menyatakan bahwa anaknya sudah kurang gizi, dan dia merasa terpaksa melakukan apa pun yang menghasilkan uang demi kepentingan anaknya. Tetapi klien seks yang pertama justru memukul dan memperkosanya karena dia menjadi ragu-ragu dan tiba-tiba menolak berzina. Tetapi setelah dia membawa pulang makanan yang dibeli dengan uang yang didapatkan dari klien seks pertamanya, dia menjadi merasa lebih tenang dan menyadari bahwa “kehormatan” seorang ibu tidak ada makna bila anaknya kelaparan.

Sebelum serangan AS ke Iraq, semua janda mendapatkan kompensasi dan pendidikan gratis dari negara. Bahkan ada yang mendapatkan rumah gratis juga. sekarang semua fasilitas itu telah lenyap. Menurut LSM bernama Women's Freedom in Iraq (OWFI), 15% dari janda di Iraq sedang menjadi pelacur atau melakukan nikah mut’ah (nikah kontrak) supaya bisa bertahan. Para pemilik usaha merasa takut untuk memberikan pekerjaan kepada janda tersebut karena takut bisnis mereka akan diserang oleh para pemberontak.

LSM ini telah mendata 4000 wanita yang telah hilang, dengan 20% berada di bawah umur 18 tahun, sejak mulainya perang pada tahun 2003. OWFI merasa yakin bahwa perempuan tersebut telah diculik dan dijual sebagai pekerja seks (secara terpaksa) di negara-negara lain di luar Iraq.

Karena negara masih dalam keadaan perang, sangat sulit untuk mendapatkan statistik yang sah, tetapi Departemen Urusan Wanita Iraq menyatakan ada 350.000 janda di Baghdad saja, dan lebih dari 8 juta di seluruh negara.

Ada juga keluarga yang merasa terpaksa menjual anak perempuannya. Abu Ahmad, seorang bapak yang badannya cacat dan isterinya telah wafat, menjual anak perempuannya bernama Lina kepada seorang warga Iraq yang kembali ke Iraq (dari luar negeri) untuk “membeli” pekerja seks. Abu Ahmad menyatakan bahwa dia tidak sanggup lagi membeli makanan buat anak-anaknya. Dia menyatakan pada Al Jazeera bahwa “Di mana saja dia (Lina) berada, paling sedikit dia mendapatkan makanan yang cukup. Saya mempunyai 3 anak perempuan dan satu anak laki-laki yang lain, dan uang yang saya dapatkan untuk Lina cukup untuk membesarkan anak saya yang tersisa itu.”

Abu Ahmad didatangi oleh seorang ibu bernama Shada yang bekerja sebagai calo. Dia mencari anak perempuan yang bisa dijual ke geng orang Iraq yang mengatur tempat pelacuran di negara-negara Arab yang lain. Ibu Shada mengatakan bahwa tugas dia adalah untuk meyakinkan wanita muda bahwa ada kehidupan yang lebih nikmat di luar negeri. Mereka dijanjikan makanan, tempat tinggal, dan $10 per hari bila mereka siap melayani minimal 2 klien per hari.

“Yang terpenting bagi kita adalah perawan karena mereka bisa dijual dengan harga yang sangat mahal pada jutawan Arab.”

Kata OWFI, kasus seperti si Lina ini menjadi biasa sekarang karena banyak orang yang terjerumus dalam kemiskinan dan ada keluarga yang siap menjual anak perempuannya kepada para trafiker untuk harga di bawah $500.

Suha Muhammad, 17 tahun, dijual pada geng Iraq oleh Ibu kandungnya setelah bapaknya terbunuh. Dia dibawa ke Yordan di mana dia diperkosa oleh 4 lelaki. Suha dijual ke sebuah geng yang menyediakan perempuan untuk VIP di Syria dan sering dibawa ke Amman, Yordan, untuk melayani VIP di situ juga.

Setelah 6 bulan, Suha kabur dan ada sebuah keluarga Iraq yang membantunya dengan membawanya ke kantor Imigrasi di mana di berhasil mendapatkan paspor untuk kembali ke Iraq. “Sekarang tante membesarkan saya di Baghdad. Tante tidak bisa bayangkan bahwa Ibu bisa menjual saya, tetapi sayangnya, perempuan di Iraq tidak dianggap penting dan tidak dihormati.”

Nirmeen Lattif, 27 tahun, menjadi pelacur setelah suaminya wafat. Keluarga suaminya tidak sanggup memberikan nafkah hidup kepada dia dan anaknya. Dia tidak ingin berfikir tentang pekerjaannya yang tidak terhormat itu. Di mengatakan “Saya memikirkan anak saya, hanya anak saya. Tanpa uang kita akan mati kelaparan di pinggir jalan.”

**Kesimpulan: SELAMAT KEPADA GEORGE BUSH sebagi penghancur negara dan penghancur keluarga**

Original article:

Sex for survival

By Afif Sarhan in Baghdad

Al Jazeerah English News


Majalah "Bee Magazine" Buat Anak

Bee Magazine

http://beemag.formasi.com/

Tidak bisa beli di toko. Harus pesan dan dikirim ke rumah lewat pos.

Buat Ibu-Ibu Yang Ingin Kerja


BundaInBiz

http://www.bundainbiz.com/

Mana Pesawat yang Menabrak Pentagon?

Pentagon Strike

Ini menarik sekali. Sudah lama beredar, tapi saya lupa untuk simpan di Blog.

Kalau koneksi internet anda pelan, matikan speaker dulu dan biarkan loading dulu. Setelah sudah loading, klik Replay saja.

Selamat berfikir sendiri…

14 August, 2007

Hukum nasyid dan musik


Pertanyaan:

apa hukumnya nasyid

abu abdillah

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

Pada dasarnya hukum lagu itu mubah, namun bisa menjadi makruh atau haram bila diperlakukan dengan cara tertentu.

Misalnya, bila lagu itu bisa melalaikan seseorang dari shalat dan zikir kepada Allah, maka para ulama sepakat untuk mengharamkannya.

Begitu juga bila naskah lagu itu berisi hal-hal yang munkar, ma`shiat, syirik dan keterlaluan dalam memuja manusia, kekasih atau benda, maka jelas diharamkan.

Jumhur ulama menghalalkan mendengar nyanyian, tetapi berubah menjadi haram dalam kondisi berikut:

1. Jika disertai kemungkaran, seperti sambil minum khomr, berjudi dll.

2. Jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah seperti menyebabkan timbul cinta birahi pada wanita atau sebaliknya.

3. Jika menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau menunda-nundanya dll.

Madzhab Maliki, asy-Syafi'i dan sebagian Hambali berpendapat bahwa mendengar nyanyian adalah makruh. Jika mendengarnya dari wanita asing maka semakin makruh. Menurut Maliki bahwa mendengar nyanyian merusak muru'ah. Adapun menurut asy-Syafi'i karena mengandung lahwu. Dan Ahmad mengomentari dengan ungkapannya: "Saya tidak menyukai nyanyian karena melahirkan kemunafikan dalam hati".

Adapun ulama yang menghalalkan nyanyian, diantaranya: Abdullah bin Ja'far, Abdullah bin Zubair, Al-Mughirah bin Syu'bah, Usamah bin Zaid, Umran bin Hushain, Muawiyah bin Abi Sufyan, Atha bin Abi Ribah, Abu Bakar Al-Khallal, Abu Bakar Abdul Aziz, Al-Gazali dll. Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa para ulama menghalalkan bagi umat Islam mendengarkan nyanyian yang baik-baik jika terbebas dari segala macam yang diharamkan sebagaimana disebutkan diatas.

Sedangkan hukum yang terkait dengan menggunakan alat musik dan mendengarkannya, para ulama juga berbeda pendapat. Jumhur ulama mengharamkan alat musik. Sesuai dengan beberapa hadits diantaranya, sbb:

"Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan". (HR Bukhari)

Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, maka ia menutupi telingannya dengan dua jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan tersebut. Ia berkata:"Wahai Nafi, apakah engkau dengar?. Saya menjawab: "Ya". Kemudian melanjutkan berjalanannya sampai saya berkata : "Tidak". Kemudian Ibnu Umar mengangkat tangannya, dan mengalihkan kendaraannya ke jalan lain dan berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mendengar seruling gembala kemudian melakukan seperti ini? (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Artinya: Dari Umar bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. berkata tentang umat ini: "Gerhana, gempa dan fitnah." Berkata seseorang dari kaum muslimin: "Wahai Rasulullah kapan itu terjadi?" Rasul menjawab: "Jika biduanita, musik dan minuman keras dominan" (HR At-Tirmidzi).

Para ulama membicarakan dan memperselisihkan hadits-hadits tentang haramnya nyanyian dan musik. Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, dari Abi Malik Al Asy'ari ra. Hadits ini walaupun terdapat dalam hadits shahih Bukhori, tetapi para ulama memperselisihkannya.

Banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa hadits ini adalah mualaq (sanadnya terputus), diantaranya dikatakan oleh Ibnu Hazm. Disamping itu diantara para ulama menyatakan bahwa matan dan sanad hadits ini tidak selamat dari kegoncangan (idtirab). Katakanlah, bahwa hadits ini shohih, karena terdapat dalam hadits shohih Bukhori, tetapi nash dalam hadits ini masih bersifat umum, tidak menunjuk alat-alat tertentu dengan namanya. Batasan yang ada adalah bila ia melalaikan.

Hadits kedua dikatakan oleh Abu Dawud sebagai hadits mungkar. Kalaupun hadits ini shohih, maka Rasulullah saw. tidak jelas mengharamkannya. Bahkan Rasulullah saw mendengarkannya sebagaimana juga yang dilakukan oleh Ibnu Umar. Sedangkan hadits ketiga adalah hadits ghorib. Dan hadits-hadits lain yang terkait dengan hukum musik, jika diteliti ternyata tidak ada yang shohih.

Adapun ulama yang menghalalkan musik sebagaimana diantaranya diungkapkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar adalah sbb: Ulama Madinah dan lainnya, seperti ulama Dzahiri dan jama?ah ahlu Sufi memberikan kemudahan pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola." Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi?i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja'far menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin Al Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya'bi.

Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah kerumahnya ternyata disampingnya ada gitar , Ibnu Umar berkata:? Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw. kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata:"Ini mizan Syami( alat musik) dari Syam". Berkata Ibnu Zubair: "Dengan ini akal seseorang bisa seimbang".

Dan diriwayatkan dari Ar-Rowayani dari Al-Qofaal bahwa madzhab Malik bin Anas membolehkan nyanyian dengan alat musik.

Demikianlah pendapat ulama tentang mendengarkan alat musik. Dan jika diteliti dengan cermat, maka ulama muta'akhirin yang mengharamkan alat musik karena mereka mengambil sikap waro(hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul dimasanya. Sedangkan ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabiin menghalalkan alat musik karena mereka melihat memang tidak ada dalil baik dari Al-Qur?an maupun hadits yang jelas mengharamkannya. Sehingga dikembalikan pada hukum asalnya yaitu mubah.

Oleh karena itu bagi umat Islam yang mendengarkan nyanyian dan musik harus memperhatikan faktor-faktor berikut:

Pertama: Lirik Lagu yang Dilantunkan.

Hukum yang berkaitan dengan lirik ini adalah seperti hukum yang diberikan pada setiap ucapan dan ungkapan lainnya. Artinya, bila muatannya baik menurut syara', maka hukumnya dibolehkan. Dan bila muatanya buruk menurut syara', maka dilarang.

Kedua: Alat Musik yang Digunakan.

Sebagaimana telah diungkapkan di muka bahwa, hukum dasar yang berlaku dalam Islam adalah bahwa segala sesuatu pada dasarnya dibolehkan kecuali ada larangan yang jelas. Dengan ketentuan ini, maka alat-alat musik yang digunakan untuk mengiringi lirik nyanyian yang baik pada dasarnya dibolehkan. Sedangkan alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama adalah ad-dhuf (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berbeda pendapat satu sama lain. Satu hal yang disepakati ialah semua alat itu diharamkan jika melalaikan.

Ketiga: Cara Penampilan.

Harus dijaga cara penampilannya tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang syara' seperti pengeksposan cinta birahi, seks, pornografi dan ikhtilath.

Keempat: Akibat yang Ditimbulkan.

Walaupun sesuatu itu mubah, namun bila diduga kuat mengakibatkan hal-hal yang diharamkan seperti melalaikan shalat, munculnya ulah penonton yang tidak Islami sebagi respon langsung dan sejenisnya, maka sesuatu tersebut menjadi terlarang pula. Sesuai dengan kaidah Saddu Adz dzaroi' (menutup pintu kemaksiatan) .

Kelima: Aspek Tasyabuh.

Perangkat khusus, cara penyajian dan model khusus yang telah menjadi ciri kelompok pemusik tertentu yang jelas-jelas menyimpang dari garis Islam, harus dihindari agar tidak terperangkap dalam tasyabbuh dengan suatu kaum yang tidak dibenarkan. Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: "Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka" (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Keenam: Orang yang menyanyikan.

Haram bagi kaum muslimin yang sengaja mendengarkan nyanyian dari wanita yang bukan muhrimnya. Sebagaimana firman Allah SWT.:

Artinya:"Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik"(QS Al-Ahzaab 32)

Demikian kesimpulan tentang hukum nyanyian dan musik dalam Islam semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi panduan dalam kehidupan mereka. Amiin.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh

Sumber: Syariah Online

09 August, 2007

Allah Akan Memudahkan Urusan Orang Yang Membantu Saudaranya

Dari Abu Hurairah RA., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang Mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan penderitaan (kesulitan)nya kelak di hari Kiamat dan barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (aib) nya di dunia dan akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya selama si hamba tersebut menolong saudaranya. Siapa saja yang menempuh suatu jalan guna mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah suatu kaum (kelompok) berkumpul di salah satu rumah Allah sembari membaca Kitabullah dan mengkajinya di antara sesama mereka melainkan ketenangan akan turun di tengah mereka, rahmat meliputi mereka dan malaikat mengelilingi mereka serta Allah akan menyebut mereka di sisi para malaikat. Siapa saja yang menjadi lamban karena amalnya (sehingga amal shalihnya menjadi kurang), maka tidak cukup baginya hanya (bermodalkan) nasab.”

(HR.Muslim)

Hati-hatilah Membaca ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar!”

[Kiriman dari seorang teman]

Hati-hatilah Membaca ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar!”

April 11th, 2007

Sebelum meninggalnya, Prof. Dr. Nurcholish Madjid tercatat sebagai pemimpin redaksi buku ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar” terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve. Redaktur Pelaksananya adalah Budhy Munawar Rachman dan Ihsan Ali Fauzi. Di dalam jajaran penulisnya, ada sejumlah nama yang cukup dikenal, seperti Kautsar Azhari Noer, Luthfie Assyaukanie, dan Nasaruddin Umar. Kamis (5/4/2007), tanpa sengaja, saya menemukan Ensiklopedi ini di rumah seorang teman di kawasan Cinere. Dia mengaku membeli buku itu untuk menyediakan informasi yang mudah seputar Islam buat putri-putrinya.

Karena penampilannya yang menarik, Ensiklopedi ini segera tidak saya lewatkan untuk menelaahnya. Ternyata, disamping memuat informasi yang bagus dan penting, ada banyak hal yang perlu dikritisi dari Ensiklopedi ini.Misalnya, dalam pembahasan tentang agama (Jilid I, hal.23), dikatakan bahwa ada teori lain tentang agama yang menyatakan, bahwa agama asli dan tertua adalah monoteisme, yang berasal dari wahyu Tuhan. Sejak zaman Nabi Adam as., manusia telah menganut monoteisme. Dinamisme, animisme, totemisme, politeisme, dan bentuk lainnya adalah penyelewengan dari monoteisme. Teori monoteisme ini dianut oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam.

Jadi, dalam ketegorisasi tersebut, agama Yahudi, Kristen dan Islam dimasukkan dalam ketogori agama monoteis. Pada halaman yang sama juga ditulis: ”Sikh bisa disebut agama sinkretik karena didirikan untuk memadukan ajaan Hindu dan Islam.” Tetapi pada Jilid V hal. 93 ditulis: ”Salah satu agama monoteisme yang menggabungkan unsur-unsur Hindu dan Islam adalah Sikh.” Jadi, di sini pun, agama Sikh disebut agama monoteis.

Pada Jilid I hal. 22, diuraikan teori yang membagi agama ke dalam dua kelompok, yaitu agama samawi (agama langit) dan agama ardi (agama bumi). Agama samawi adalah agama yang diwahyukan oleh Tuhan, sedangkan agama ardi adalah agama hasil pemikiran manusia. Agama samawi disebut pula ”agama wahyu” dan agama ardi disebut pula ”agama alamiah”. Umumnya kaum muslim memandang bahwa agama samawi adalah Yahudi, Kristen, dan Islam. Adapun agama ardi meliputi antara lain Hindu, Buddha, Konfusianisme, dan Taoisme.

Lalu, pada Jilid I hal. 25 diuraikan lagi tentang makna ’agama langit’, bahwa: ”Setiap agama yang memiliki kitab dapat dianggap sebagai ”agama langit” (samawi), dan penganutnya adalah ahlulkitab. Islam juga memiliki kitab (Al-Qur’an), namun tidak termasuk ahlulkitab dalam pengertian itu. Menurut para mufassir, ahlul kitab meliputi kaum Yahudi, Nasrani, Majusi (Zoroaster), dan Sabi’in (pengikut mistik Plato). Kini sebutan ahlulkitab diperluas hingga mencakup Hindu, Budha, Taoisme, dan Kong Hu Cu. Ini mendasari pemikiran Islam tentang kebebasan beragama, sekaligus dukungan atas pluralisme agama. Dari segi akidah, penganut agama selain ahlulkitab adalah musyrik.”

Jika kita telaah penjelasan-penjelasan itu, betapa rancunya penjelasan tentang makna dan kategorisasi ”agama samawi”, ”agama ardi” dan ”ahlulkitab” tersebut. Sebelumnya disebut, bahwa agama ardi meliputi Hindu, Buddha, Konfusianisme, dan Taoisme. Lalu, dikatakan bahwa penganut agama samawi disebut sebagai ahlul kitab. Kemudian, dijelaskan bahwa ahlulkitab mencakup Hindu, Buddha, Taoisme, dan Kong Hu Cu. Jadi, yang mana yang benar? Tampak bahwa penulis ensiklopedi ini tidak punya konsep yang jelas tentang agama-agama dan main comot pendapat sana-sini tanpa pemikiran yang mendalam.

Ensiklopedi ini tidak menjelaskan ayat Al-Quran yang menyatakan: ”Sesungguhnya agama dalam pandangan Allah adalah Islam”. (QS 3:19). Juga, ”Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima oleh Allah, dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS 3:85). Juga, dilewatkan penjelasan Rasulullah saw bahwa makna ”al-maghdhub” dalam surat al-Fatihah adalah al-Yahuud dan ”al-dhaallin” adalah an-Nashara. Dalam pandangan Islam,”agama samawi” (agama wahyu), hanyalah Islam. Judaisme dan Kristen sekarang bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa as.

Disamping itu, ada unsur manipulasi yang sangat tidak etis dengan menyebut, bahwa menurut para mufassir, ahlul kitab meliputi kaum Yahudi, Nasrani, Majusi, dan Sabi’in. Dan kini, sebutan itu diperluas hingga mencakup agama Buddha, Hindu, Taoisme, dan Kong Hu Cu. Penulis Ensiklopedi ini tidak menyebut, mufassir mana yang memiliki pendapat seperti itu. Padahal, pendapat yang melebarkan makna ahlulkitab selain untuk Yahudi dan Kristen adalah pendapat yang lemah, dan hanya sebagian kecil mufassir yang berpendapat seperti itu. Pendapat ini sudah begitu banyak dikritik oleh para ulama.

Kajian yang serius tentang Ahl Kitab telah dilakukan, misalnya, oleh Quraish Shihab dalam bukunya ”Wawasan Al-Quran” (1996:368) dan Dr. Muhammad Galib dalam bukunya ”Ahl Kitab Makna dan Cakupannya” (1998:36-37), yang juga diterbitkan oleh Paramadina. Buku Dr. M. Galib ini adalah disertasi doktornya di IAIN Ciputat. Setelah mengkaji berbagai ayat Al-Quran, hadits, dan pendapat para ulama tentang masalah ini, mereka menyimpulkan bahwa istilah ”Ahl Kitab” memang lebih tepat hanya ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani. Semasa hidupnya, Nurcholish Madjid belum pernah menulis karya yang serius tentang masalah ini.

Tetapi, penulis Ensiklopedi ini berfantasi lebih jauh tentang ahlulkitab. Pada jilid III hal. 38 yang membahas tentang Islam dan agama lain, ditulis: ”Dalam Al-Qur’an, orang Yahudi dan Kristen disebut dengan ahlulkitab. Konsep ahlulkitab ini memberi petunjuk bahwa Islam tidak serta merta mengelompokkan orang-orang non-muslim sebagai kafir.” Pada jilid III hal. 70, yang membahas tentang makna KAFIR, lagi-lagi dibahas tentang ahlulkitab. Di sini dikatakan: ”Kaum ahlulkitab Yahudi dan Nasrani tidak termasuk dalam kelompok kafir walaupun mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dalam teologi Islam, mereka dimasukkan ke dalam golongan ahlulkitab yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang-orang yang beriman.”

Kita tentu patut tercengang dengan penjelasan Nurcholish Madjid dan kawan-kawannya tersebut, bahwa walaupun kaum Yahudi dan Kristen mengingkari kerasulan Nabi Muhammad saw, mereka tidak bisa disebut sebagai kafir, tetapi disebut sebagai ahlulkitab. Padahal, Al-Quran surat al-Bayyinah ayat 6 menjelaskan, ”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.” (Terjemahan versi Departemen Agama RI).

Prof. Hamka menjelaskan ayat ini dalam Tafsir Al-Azhar: ”Sesungguhnya orang-orang yang kafir (pangkal ayat 6). Yaitu orang-orang yang sengaja menolak, membohongkan dan memalsukan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. itu, padahal kalau mereka pakai akal yang sehat, tidak ada satu juapun yang dapat dibantah, sehingga mereka menolak itu hanya semata-mata karena dipengaruhi oleh hawa nafsu belaka; ” Dari ahlil kitab dan musyrikin itu. “Yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani dan musyrikin penyembah berhala.”

Lagipula begitu banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang kekafiran kaum yang mengangkat Nabi Isa as. sebagai tuhan. QS al-Maidah ayat 72 menegaskan: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang menyatakan bahwa Allah ialah al-Masih Ibnu Maryam, padahal al-Masih sendiri berkata: Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Nabi Muhammad saw juga bersabda: “Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim).

Cara pandang pluralisme agama tampak cukup dominan dalam menjelaskan tentang agama-agama dalam Ensiklopedi ini. Itu, misalnya, bisa dilihat dalam penjelasan tentang ’pahala’. Pada Jilid IV hal. 117 ditulis: ”Pahala bersifat universal, dalam arti berlaku untuk semua umat beragama, tidak hanya umat Islam. Selama orang tersebut beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian, lalu mau berbuat kebaikan serta beramal saleh, maka dia akan menerima balasan atau ganjaran dari Allah SWT….(QS 2:62).”

Kita sudah paham, bahwa ayat tersebut sering disalahgunakan oleh kaum pluralis agama untuk menjustifikasi pandangan mereka. Padahal, manusia mana pun yang mau beriman kepada Allah SWT dan beribadah kepada-Nya dengan benar, pasti harus menerima dan mengimani kerasulan Muhammad saw. Bahkan, Rasyid Ridha menjelaskan, bagi kaum Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3:199), maka ada lima syarat keselamatan, diantaranya (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan (2) beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad.

Siapa pun yang beriman kepada Allah dengan benar dan beriman kepada Al-Qur'an maka dia sudah menjadi Muslim dan bagian dari umat Islam. Seyogyanya, Ensiklopedi ini tidak mengaburkan ajaran Islam yang sangat mendasar ini.

Dalam hal-hal yang mengarah kepada Pluralisme Agama, Ensiklopedi bersifat sangat jelas keberpihakannya. Tetapi, dalam berbagai hal lain, bersikap seolah-olah netral. Misalnya, ketika membahas tentang sekularisasi Kemal Ataturk di Turki. Pada Jilid I hal. 83 ditulis:

“Ataturk “menasionalisasikan” kandungan Al-Qur’an dan ibadah keagamaan dari bahasa Arab ke bahasa Turki. Kebijakan ini dianggap sebagian orang sebagai pencerahan keagamaan.” Juga ditulis: ”Setelah menjadi presiden Turki, Ataturk mengubah Turki menjadi negara sekuler dan menutup semua lembaga keagamaan Islam, termasuk sistem pendidikan agama tradisional. Selain itu, dalam upayanya untuk menyejajarkan budaya Turki dengan budaya Barat, ia menganjurkan agar rakyat Turki mengenakan pakaian Barat dan mencantumkan nama keluarga sebagaimana berlaku di Barat. Meskipun begitu, umat Islam tetap bebas melaksanakan ajaran agamanya.”

Tentu saja, penjelasan Ensiklopedi tentang sekularisasi Kemal Ataturk tersebut sangat tidak benar. Adalah dusta belaka jika penulis Ensiklopedi ini menyatakan, umat Islam bebas menjalankan agamanya di masa Kemal Ataturk. Kita bisa melihat kembali sejarah Turki. Untuk pertama kalinya secara resmi azan wajib dikumandangkan dalam bahasa Turki pada Januari 1932. Semula shalat juga diwajibkan dalam bahasa Turki, tetapi gagal dilaksanakan karena ditentang keras masyarakat Turki. Tahun 1933, pemerintah menyatakan, azan dalam bahasa Arab adalah pelanggaran. Tahun 1937, prinsip sekularisme dimasukkan ke dalam Kosntitusi Turki, sehingga resmilah Turki menjadi negara Republik sekular. Tahun 1930, pendidikan agama ditiadakan di sekolah-sekolah perkotaan, dan di sekolah-sekolah perdesaan pada tahun 1933. Pelajaran Bahasa Arab dan Persia dihapuskan pada tahun 1928. Pada tahun ini juga tulisan Arab diganti dengan tulisan Latin.

Attaturk menjalankan pemerintahannya secara diktator. Ia tak segan-segan menghukum mati orang-orang yang enggan kepada pemerintahan Kemalis. Pada tanggal 13 Juli 1926, 15 orang digantung dimuka umum. Tahun 1930, 800 orang anti-Kemalis ditangkap dan dihukum mati. Tahun 1931, keluar peraturan yang melarang media massa mengeluarkan propaganda yang dianggap membahayakan pemerintahan Kemalis. Hingga kini, jilbab masih dilarang dikenakan di kantor-kantor pemerintah.

Jadi, apakah umat Islam bebas menjalankan agamanya di masa Kemal Ataturk, sebagaimana ditulis oleh Ensiklopedi ini? Jelas itu pernyataan bohong!!!

Demikianlah telaah kita tentang isi ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar” yang ditulis oleh Nurcholish Madjid dan kawan-kawannya. Sangat disayangkan, buku yang mengandung banyak informasi bagus seputar Islam dan peradaban Islam ini dicemari dengan sejumlah paham dan pemikiran yang keliru dan mengelirukan tentang Islam. Karena sudah menggunakan nama Islam, maka seyogyanya dilakukan klarifikasi serius oleh para pakar Islam dalam berbagai bidang sebelum Ensiklopedi ini diterbitkan.

Sayangnya, tahun 2001, Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar pun memberikan rekomendasinya. Begitu pula dengan Mendiknas A. Malik Fadjar. Mungkin mereka tidak membaca isinya dengan cermat. Karena Ensiklopedi ini sudah tersebar luas di tengah keluarga Muslim, kita hanya bisa berharap, agar para orang tua berhati-hati dalam menyuguhkan bacaan bagi putra-putrinya. Kita mengimbau, penerbit buku ini bisa merevisi sejumlah kekeliruan. Kasihan penerbitnya, karena mereka nanti harus bertanggung jawab di hadapan Allah. Tetapi, lebih baik lagi, jika para ulama dan cendekiawan Muslim segera menulis Ensiklopedi yang lebih baik daripada karya Nurcholish Madjid dan kawan-kawan tersebut.

[Depok, 6 April 2007/ www.hidayatullah.com ]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio

Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...