Friday, February 23, 2007

Membantu Anak Hafalkan Ayat2 Di Sekolah




Pertanyaan dari seorang guru:

Assalamu’alaikum, Gus Gene. Ente punya ga trik2 yang memudahkan anak untuk menghafal surat-surat pendek dalam juz amma. Thanks

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Supaya anak mudah menghafalkan, harus ada alasan untuk menghafal. Mereka dapat apa kalau bisa menghafalkan? Harus ada yang memberikan mereka semangat karena dari pandangan anak, asal menghafalkan sesuatu di dalam sebuah bahasa asing bukanlah sesuatu yang bermanfaat atau utama bagi dia.

Keponakan saya dulu sering ikut “nyanyi” saat mendengar asmaul husna di kaset. Orang tua senang, tapi dia belum hafal. Suatu hari, dia minta dibelikan sepeda. Orang tua setuju, dengan syarat dia hafalkan asmaul husna dulu. Dua minggu kemudian dia sudah hafal 100% padahal sebelumnya hanya ikut nyanyi.

Guru memang harus mengajarkan, tapi semangat (motivasi intrinsik) muncul kalau anak ada tujuan yang jelas dan juga dinginkan oleh dia. Kalau anak tidak termotivasi sendiri, maka kita bisa berusaha untuk semangatkan dari luar (motivasi ekstrinsik). Coba diskusi dengan kepala sekolah. Misalnya, anak2 akan dibawa ke Taman Mini atau Ragunan kalau semuanya hafalkan surah2 tersebut. Kalau kepala sekolah setuju, diskusi dengan anak2: “Kalau anak berhasil menghafalkan surah2 ini (seluruh juz amma, misalnya) di dalam 6 bulan, ada hadiah: kita bisa ke Ragunan, atau Taman Mini atau Dufan. Anak2 mau yang mana? Kalian diskusi dulu dan pilih sendiri.”

Sekarang anak2 ada tujuan yang jelas. Mereka mau hafalkan supaya bisa ke Dufan (atau yang lain). Ajarkan anak2 bahwa semua harus hafal (padahal nanti kalau ada yang belum hafal, bisa diberikan kelonggaran. Tapi jangan kasihtahu ke anak2 dulu. Target memang hanya untuk mayoritas anak2 bukan 100% karena belum tentu semua anak sanggup secara langsung.)

Ajarkan ke anak2 yang pintar ngaji untuk membantu temannya mengingat. Dia bisa bantu “mengetes” temannya kapan saja di mana saja, karena setahu anak2, mereka semua mendapatkan hadiah hanya pada saat “semua” anak menghafalkan.

Bisa juga membuat sebuah poster di kelas dengan daftar nama anak dan daftar surah yang perlu dihafalkan. Setiap minggu, anak2 bisa diberi tes singkat untuk menentukan apakah dia sudah hafal. Kalau iya, kasih stiker bintang (atau yang serupa). Ini bisa dijadikan sebuah kompetisi berkelompok atau berpasangan di mana anak2 hanya mendapat stiker kalau semua anggota menghafalkan ayat (dan guru boleh memberi kelonggaran sedikit untuk seorang anak yang sulit menghafalkan).

Anak2 biasanya memberi tanggapan yang sangat positif bila ada kemajuan yang konkret yang kelihatan terus di dalam kelas. Seorang anak yang belum berhasil bisa diberi semangat khusus dan teman2 kelas bisa diajak untuk membagi waktunya untuk mengajar teman yang satu itu secara khusus. Dengan demikian, anak2 bantu mengajar dan tidak selalu guru yang harus mengajar. Tetapi perlu dipantau juga. Jangan sampai seorang anak yang ketinggalan sedikit dibuat merasa sebagai orang yang “gagal”, atau lebih buruk “menggagalkan penerimaan hadiah” buat teman sekelas. Guru harus tetap bijaksana dan memastikan bahwa semuanya berjalan dengan sikap yang positif.

Dengan cara seperti ini, anak2 insya Allah bisa menjadi semangat untuk menghafalkan karena mereka ada tujuan yang jelas2 menarik dan diinginkan oleh mereka. Kalau sekedar mengajarkan mereka bahwa “nanti orang tua akan bangga kalau hafal” tidak cukup. Harus ada yang lebih dari itu yang mendorong mereka. Kamu bisa diskusi dengan guru2 yang lain dulu untuk mencari “hadiah” apa yang paling tepat kalau tidak mau pakai kunjungan ke Dufan. Yang lain juga boleh. Tetapi memberikan beberapa pilihan dan biarkan anak2 menentukan sendiri hadiahnya, supaya mereka merasa “memiliki” hadiah itu. (Apakah pernah dapat kado ulang tahun yang tidak diinginkan? Beda rasanya dengan keadaan di mana saudara bertanya ‘mau dibelikan apa’ lalu dia belikan yang kita inginkan.)

Sistem dengan memberikan hadiah tidak boleh dipakai terus2an untuk segala sesuatu di sekolah, karena justru bisa merusak motivasi intrinsik bila digunakan dengan cara yang berlebihan: “tidak ada hadiah, tidak perlu berusaha!”

Tetapi untuk membantu anak2 menghafalkan ayat/teks di dalam sebuah bahasa asing yang tidak dipahami atau digunakan sehari2, maka saya anggap wajar2 saja dan tepat untuk menggunakan sistem hadiah.

Untuk sistem penghafalan sendiri, memang harus diulangi terus2an, tapi bisa dengan cara yang bervariasi. Misalnya, pertama, membaca bahasa Arabnya dan mengulangi sampai ada sebagian anak yang kurang lebih hafal. Dan juga baca terjemahannya. Lalu kamu bikin sendiri bahan yang ada terjemahan dengan kalimat yang diacak/tidak urut. Anak2 harus berlomba2 dalam kelompok untuk kembalikan dengan susunan yang benar. Contoh, Al Ikhlas:

  • dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
  • Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
  • Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
  • Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan

Kalau kamu sudah pintar cut dan paste dari situs di internet, maka hal yang persis sama bisa dilakukan dengan ayat2 dalam bahasa Arab. Misalnya, 4 ayat diacak dan anak2 harus memotong dan lem lagi di atas kertas baru dengan susunan yang tepat. Lalu mereka bisa menulis terjemahan disebelahnya. Hal seperti ini sebaiknya dikerjakan berdua atau di dalam kelompok pada awalnya supaya selalu ada teman yang membantu. Kalau anak2 sudah biasa dengan hal ini, maka boleh juga dikerjakan sendiri.

Juga bisa dibikin game. Setiap ayat dalam bahasa Indonesia dipotong (misalnya ada 12 ayat) dan disembunyikan di sekitar kelas. Anak2 harus mencarikan dulu, lalu menulis ayat di kertasnya sendiri, lalu menyusun supaya benar, lalu ingat dan mengucapkan bahasa Arabnya, dan kelompok yang paling cepat selesai menang. Kelompok dianggap selesai kalau dia sudah mencatat terjemahan yang benar dengan susunan yang benar, dan dia juga bisa mengucapkan bahasa Arabnya dengan benar tanpa membaca dari al Qur'an (boleh melihat sebentar untuk ingat tapi kemudian harus ditutup).

Kalau ada kelompok yang menyatakan diri selesai, lalu ternyata belum benar, game diteruskan lagi dengan guru mengucapakan: “Ayo, cepat, belum ada yang benar.” Dan seterusnya. Tetapi harus bijaksana juga. Kalau ternyata semua mengalami kesulitan, sampai makan waktu terlalu lama karena surahnya belum dihafalkan, maka suruh semuanya berhenti dan guru membantu untuk selesai. Kalau diteruskan tanpa akhir, anak2 hanya akan menjadi jenuh karena merasa tidak sanggup berhasil. Guru harus tahu (dari ekspresi muka dan bahasa tubuh anak2) kapan saatnya untuk memaksa terus, dan kapan sebaiknya berhenti.

Game yang lain: Ayat2 di dalam bahasa Arab dikopi dan dipotong supaya menjadi dua belah. Setiap anak dibagikan sebagian secara acak dengan jumlah potongan yang sama untuk setiap anak. Misalnya ada 12 ayat, maka menjadi 24 potongan dan setiap anak mendapatkan 24 potongan secara acak. Bisa jadi ada anak yang mendapat 5 ayat yang lengkap dan sisanya tidak lengkap. Semua anak harus berputar2 di dalam kelas untuk mencari teman yang ada potongan ayat yang dibutuhkan. Untuk itu, tentu saja dia harus ingat ayatnya secara keseluruhan atau minta tolong sama teman supaya tahu ayat yang lengkap.

Misalnya, saya pegang “Qulhu wallahu” dan saya harus mencari orang yang ada “ahad” dan saya harus minta potongan ayat itu darinya supaya ayat saya menjadi lengkap. Mungkin dia juga ingin minta potongan saya jadi kita harus bernego. [Sebuah variasi: anak2 kerja dalam kelompok (misalnya 4 anak) dan masing2 mendapat hanya 6 potongan (=24 ptongan total dalam kelompok, =12 ayat). Untuk mendapatkan semua ayat yang lengkap kita harus mencari ayat yang dibutukan sendiri dan yang dibutuhkan teman2 juga), lalu kita duduk dan menyusun semuanya sehingga menjadi 12 ayat yang lengkap.]

Kalau anak2 sudah mendapatkan potongan ayat yang dibutuhkan, mereka harus duduk dan susan dengan benar. Yang pertama selesai menang. Anak yang merasa sudah benar akan disuruh membaca bahasa Arabnya, dan guru akan langsung tahu kalau susunan itu benar. Kalau belum benar (masih diacak sedikit) diteruskan saja sampai ada yang mendapat semua ayat dengan susunan benar. Lalu ayat2 itu bisa dilem di kertas baru dan dihias/diwarnai oleh semua, dan juga bisa ditulis terjemahannya. Ilmu agama didapatkan dari bahasa yang dipahami bukan dari bahasa Arabnya, jadi sebanyak mungkin, mencari kesempatan untuk membaca, menulis dan menghafalkan terjemahan juga. Pada saat yang sama, guru bisa mainkan kaset dengan ayat2 tersebut supaya semua mendengarkan sambil kerja.

Game seperti ini bisa dibuat dengan variasi yang lain juga.

Sekian saja dulu. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene



3 comments:

  1. Problem is, kalau mereka semua bisa menghafal apakah sistem reward tsb bisa dilaksanakan, biasanya pihak sekolah mana mau membiayai field trip spt itu.

    ReplyDelete
  2. Guru harus kreatif. Bisa dengan cara "Hari Pesta/Bebas Pelajaran" di mana anak2 datang ke sekolah untuk berpesta, dan main banyak game dengan gurunya. Orang tua bisa diundang, dan masing2 bawa sedikit makanan. Guru bisa benjanji untuk melakukan sesuatu yang dipandang lucu oleh anak2 (mis. menari poco2 atau bernyani dsb.) Semua ini semata2 untuk menghibur dan memberikan apresiasi kepada anak2 yang sudah berjuang dan berhasil. Tidak mesti mahal, yang penting anak2 senang.

    ReplyDelete
  3. Berbagi pengalaman di sekolah, saat anak-anak dikenalkan dengan surat baru maka kami bersama-sama menggali arti dan hikmah surat tersebut, juga ditambah dengan cerita-cerita. Denga keindahan pada artinya dan mengetahui betapa banyak kebaikan dengan membaca ayat alquran anak-anak akan bersemangat. Karena kami sekolah islam, kami membaca surat-surat al quran setiap hari bersama-sama dan kamipun meminta orangtua (yang ingat) untuk membaca nya bersama-sama dengan anak dirumah. Untuk anak-anak hadis dan doa-doa kami membuatnya dalam lagu-lagu. Karena pembiasaan tersebut, tidak akan terasa anak-anak sudah hapal.Untuk reward, pemberian bintang atau penampilan anak-anak secara bergantian di kelas atau kegiatan-kegiatan membuat anak-anak bangga dan bersemangt.
    Akan lebih bermakna jika anak-anak tidak hanya mendapat penekanan pada menghafal tetapi juga menangkap 'kontekstual' surat tersebut seperti yang bp gene contohkan.
    Trims

    ReplyDelete