Search This Blog

Labels

alam (8) amal (97) anak (323) anak yatim (117) bilingual (22) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (89) dhuafa (18) for fun (12) Gene (223) guru (68) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (34) hukum (69) hukum islam (51) indonesia (591) islam (561) jakarta (34) kekerasan terhadap anak (376) kesehatan (99) Kisah Dakwah (12) Kisah Sedekah (11) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (28) KPK (16) Kristen (14) lingkungan (19) mohon bantuan (40) muallaf (52) my books (2) orang tua (11) palestina (34) parenting (1) pemerintah (138) Pemilu 2009 (63) pendidikan (524) pengumuman (27) perang (10) perbandingan agama (11) pernikahan (11) pesantren (48) politik (127) Politik Indonesia (53) Progam Sosial (60) puasa (37) renungan (196) Sejarah (5) sekolah (94) shalat (10) sosial (324) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

22 January, 2026

Kenapa Ada Banyak Konflik Antara Siswa Dan Guru Sekarang?

[Komentar]: Menurut saya, kekerasan boleh kalau masih dalam koridor mendidik. Murid jadi takut, termotivasi belajar, dan hormati gurunya. Zaman dulu, guru pakai kekerasan, murid tidak marah, tidak dendam. Zaman dulu, guru dihormati.

[Gene]: Mohon maaf, tetapi orang yang anggap kekerasan dibutuhkan untuk anak belum memahami ilmu pendidikan, ilmu psikologi anak, dan ilmu parenting. Manusia mendidik anjing, kuda, dan binatang lain dengan kekerasan agar binatang itu taat. Apa cocok untuk manusia juga, yang punya otak? Tidak perlu dibedakan antara anjing dan manusia? Faktanya, banyak anak yang dipukul gurunya akan membencinya. Anak lebih mudah belajar dari orang yang disayangi, atau orang yang dibenci??

Murid tidak marah zaman dulu? Sudah survei berapa juta murid? Sudah baca berapa ratus artikel penelitian? Sudah bicara dengan orang tua yang anaknya bunuh diri setelah menjadi korban bullying dari gurunya? Sudah bicara dengan anak yang menjadi depresi? Sudah bicara dengan anak yang kecanduan narkoba? Atau apakah mereka tidak penting, dan boleh dibuang ke laut?

Saya koreksi pernyataan anda: “Zaman dulu, anak DIPAKSA menghormati guru dan DIANCAM kalau tidak.” Lalu, ketika ancaman itu dihilangkan, anak yang tidak menghormati gurunya tidak perlu takut. Mereka tidak dipukul, ditendang, dan nilainya tidak diturunkan! Hasilnya: Banyak anak tidak mau hormati sebagian guru. Tetapi ada guru2 lain yang tetap dihormati. Jadi bedanya bukan pada anak zaman ini. Bedanya ada pada faktanya bahwa ancaman terhadap anak sudah dihapus, tetapi sikapnya dan ilmunya banyak guru tidak berubah. 

Jadi, apakah sekarang SEMUA guru tidak dihormati oleh SEMUA anak dalam SEMUA sekolah? Tentu saja tidak. Banyak guru masih dihormati dan disayangi! Artinya, ada sebagian guru yang sikap pribadinya tidak terhormat (mereka sombong, kasar, pemarah, dll.). Jadi guru yang itu saja yang tidak dihormati. Tetapi ada banyak guru lain, yang hatinya penuh kasih sayang, dan sangat menghormati dan menghargai siswanya, dan mereka sangat dicintai oleh siswanya. 

Jadi yang muncul di media adalah kisah tentang guru2 yang kurang baik, lalu mereka bela diri dengan mantra, “Niat saya mendidik”. Tetapi faktanya adalah guru2 itu kurang baik, dan bertindak dengan sikap yang tidak terhormat. Mereka tidak mau belajar, dan hanya teruskan pola pendidikan yang mereka terima 20 tahun yang lalu. Dan oleh karena itu, guru2 yang itu saja yang TIDAK DIHORMATI oleh sebagian anak. Kenapa? Karena ancaman terhadap anak dihapus, tetapi banyak guru tidak mau berubah dan belajar. 

Sebagai perumpamaan, seorang bapak mau beli mobil baru. Dia terbiasa dengan jenis mobil yang diproduksi 100 tahun yang lalu, karena dipakai bapaknya. Mobil itu sangat tidak aman. Di toko Toyota, dia minta mobil seperti itu. Ditawarkan mobil baru, yang jauh lebih baik, dia menolak. Yang zaman dulu cukup bagus, kenapa harus berubah? Kalau berjalan dengan kecepatan 20 km/jam, akan aman. Kenapa anak muda sekarang mau berjalan 100 km/jam, dalam mobil yang aman? Yang salah anak muda sekarang!

Bapak itu cerdas? Atau bodoh? Sudah ada ratusan kemajuan dalam ilmu penciptaan mobil. Tetapi dia tidak peduli karena terbiasa dengan sistem lama! Bukan karena terbukti lebih baik, tapi karena terbiasa!! Itu setara dengan guru yang mau teruskan pola pendidikan zaman dulu (dari 50-100 tahun yang lalu), dan abaikan ratusan kemajuan dalam ilmu pendidikan, psikologi anak, dan parenting. Sekarang ada pilihan. 1) Mau belajar, dan siap berubah, sesuai zaman ini? Atau 2) Mau berpegang teguh pada hal yang berlaku di zaman dulu? Ilmu sudah berubah, tetapi sebagian guru menolak belajar lalu jadikan anak kambing hitam agar gurunya tidak perlu berubah! 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto 



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...