Thursday, March 15, 2007

Sekolah Swasta & Bilingual Bag. 4/5

SEBENARNYA ORANG TUA YANG SALAH! (“KOK KITA DISALAHKAN?”)
Terus terang saja, sebagian besar dari semua permasalahan ini yang berkaitan dengan sekolah swasta, program immersion atau bilingual, kualitas pendidikan dan kualitas guru adalah disebabkan kesalahan orang tua, yang tidak sengaja tentu saja. (Dan ini juga terlepas dari persoalan Diknas yang tidak melakukan kontrol terhadap sekolah2 ini). Seorang pengusaha bisa melihat bahwa bisnis pendidikan cukup menguntungkan karena contoh sudah banyak. Jadi, karena dia memang ahli bisnis, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan: bersaing!
Untuk bangun sebuah sekolah baru tidak perlu latar belakang pendidikan sama sekali. Juga tidak perlu mencari ahli pendidikan dan memberikannya wewenang penuh untuk mengatur sekolah sesuai dengan ilmunya. Cukup mencaritahu orang tua inginkan apa, atau lebih tepat mengatakan orang tua “siap bayar mahal untuk apa”? Kalau sudah ada daftar, tinggal menyediakan “barang” tersebut. Dengan contoh toko swalayan, pemilik menaruh barang yang kira2 akan dibeli oleh customer = orang tua. Makin laris “barang” itu, makin kaya si pemilik. Kalau laris sekali, bisa di-franchise.
“Ibu menuntut sekolah harus bilingual? Kita siap! Ibu minta Multiple Intelligences? Siap! Mau setiap guru diambil dari lulusan psikologi supaya lebih ‘mengerti’ anak? Siap! Mau Kurikulum IB? Siap! Mau kita mengimpor guru dari Arab Saudi, Cina atau Inggris? Siap! Mau anak belajar 5 bahasa sekaligus di sekolah? Siap! Mau anak diwajibkan hafal seluruh isi/separuh dari Al Qur'an sebelum boleh lulus SD? Siap! Mau diadakan 50 macam kegiatan ekskul? Siap! Mau anak tidak pernah mendapatkan PR selama di SD? Siap! Mau anak tidak pernah diberikan tes selama di SD? Siap! Mau anak sekaligus belajar menjadi atlit Olimpik? Siap! Mau anak diajar menyanyi oleh penyanyi terkenal supaya bisa menjadi kontestan di Indonesian Idol, dan kemudian kita membuat Production House di sekolah supaya anak bisa menjadi bintang sinetron? Siap! Siap! Siap!” (…Asal Ibu bayar ya!” )
Kalau orang tua tidak tahu apakah ini benar atau tidak, coba melakukan sebuah eksperimen dengan teman2 anda. Dari mulut ke mulut, lewat email, mailing list, dsb., coba menyebarkan sebuah ide baru dan melihat kalau ada sebagian sekolah yang mulai bersaing untuk menyediakan “barang” baru itu.
Sebagai contoh: mengatakan kepada teman bawah menurut anda, banyak orang tua akan sangat senang kalau ada salon rambut di sekolah. Anak bisa potong rambutnya dan dapat creambath di waktu istirahat dan juga sesudah sekolah. Menjelaskan kepada semua teman anda bahwa pasti ada banyak orang tua yang menginginkan salon di sekolah karena selalu sulit mencari waktu untuk membawa anak ke pemangkas rambut. Kalau ide ini sudah disebarkan ke mana2, tunggu saja dan mengecek kalau tiba-tiba sebuah sekolah mengadakan salon.
Anda juga bisa membantu memberikan semangat pada sekolah dengan cara telfon beberapa sekolah dan sekedar bertanya kalau ada salon di sekolah: “Selamat siang, saya mau bertanya kalau ada salon rambut di sekolah anda? Ohh, belum ada salon ya? Bukannya banyak sekolah swasta ada salon sekarang? Baiklah, saya akan cari sekolah yang lain saja. Terima kasih.”
Setelah mendengar ini 100 kali dari “calon customer” alias orang tua murid baru, apakah sekolah akan berfikir dua kali untuk mengadakan salon? Cari sesuatu seperti contoh ini dan bereksperimen dengan sekolah untuk mencaritahu apakah mereka benar2 siap menyediakan sesuatu yang diinginkan “customer”. (“Ohh, belum ada gajah di sekolah ini ya? Tahun depan ada nggak?”)
Dan barangkali anda sudah pernah melakukan hal seperti ini dengan telfon sekolah2 saat mau daftarkan anak, dan menanyakan hal seperti Bilingual, IB, guru Bule, Multiple Intelligences, dsb. Pada saat sebuah sekolah menyatakan tidak ada salah satunya, anda mencari sekolah yang lain! Padahal bisa jadi sekolah yang ditinggal itu bagus dari sisi ilmu akademis/pendidikan. Dan setelah anda sekedar mendengarkan istilah “bule”, atau “IB”, atau “Multiple Intelligences”, anda menjadi yakin untuk memasukkan anak tanpa berfikir untuk memeriksa lebih dalam. (Misalnya dengan minta melihat CV dari si Bule).
Apakah mungkin anda akan datang ke sebuah kantor perusahaan penerbangan dan bertanya seperti ini:
“Maaf Pak, ini perusahaan penerbangan ya?” (Ya.) “Ada pesawat?” (Ada.) “Pesawat itu punya sayap?” (Sayap ada Bu.) “Ada pilot Bule?” (Ya, ada!) “Oh, kalau begitu, perusahaan anda sudah terbukti sebagai perusahaan penerbangan terkemuka di Indonesia, dan pesawat anda sudah pasti merupakan pesawat yang terbaik yang diterbangkan oleh seorang pilot yang paling berilmu dan berpengalaman dan sangat tidak mungkin pesawat anda akan mengalami kecelakaan. Inilah anak saya. Tolong terbangkan dia ke Australia!!”
Apakah begitu mudah menentukan kualitas dari sebuah perusahaan penerbangan hanya dengan bertanya seperti itu? Tetapi untuk urusan sekolah, barangkali sebagian orang tua persis seperti itu. Asal mendengarkan kata kunci yang diinginkan, orang tua jadi percaya 100% dan anak langsung didaftarkan.
Karena orang tua siap bayar, sekolah siap menyediakan. Dan ini mencerminkan salah satu sisi dari bisnis murni: berikan apa yang diinginkan oleh pasar! Sebagai contoh, kalau pengusaha ingin membuka café baru, apakah mungkin dia buka café yang tidak menyediakan Cappucino dan Café Latte? Apakah dia bisa laris kalau tidak menyediakan minuman ini yang merupakan dua minuman standar di semua café yang lain? Kalau tidak ada, customer akan berfikir: “Ini café macam apa ya? Café ini tidak bermutu”. Dan dia akan mencari yang lain. Sama seperti café, orang tua atau “customer” datang ke sekolah dan bertanya “Ada bilingual di sini? Ada Bule di sini? Ada Kurikulum IB di sini? Apakah ada 50 macam ekskul?” Dan seterusnya.
Sekarang, orang tua menjadi seperti customer yang masuk café mencari Cappucino. Yang dia inginkan memang disediakan oleh café/ tempat usaha/ sekolah.
Kesalahan orang tua ini sebenarnya dilakukan dengan niat yang sangat mulia: orang tua ingat pengalaman sekolah mereka di masa lalu yang dipandang buruk dan menyatakan “Anak saya harus mendapatkan yang lebih baik!” Ini adalah suatu sikap yang sangat baik dan mulia. Sayangnya, orang tua mencaritahu apa yang “terbaik” untuk anak dengan cara bertanya kepada teman2 yang juga bukan ahli pendidikan. Kata teman2nya:
· “Bagusan sekolah bilingual. Nanti anak bisa bahasa Inggris. Kita tidak bisa. Seharusnya dimulai di usia lebih muda. Harus dari Playgroup, bukan di SMP seperti kita dulu.”
· “Bagusan sekolah IB. Kurikulum baru bagus kalau IB. Lihat saja sudah banyak orang yang bikin sekolah IB. Berarti IB bagus kan? IB. IB. IB!”
· “Saya dulu tidak belajar agama dengan baik waktu di sekolah. Sampai sekarang masih tidak bisa ngaji dengan baik. Seharusnya anak hafalkan seluruh Al Qur'an di masa SD. Anak kecil sangat mudah menghafalkan segala sesuatu dibandingkan orang dewasa, iya kan? Dan di negara2 Arab pasti semua anak hafalkan Al Qur'an di TK, iya kan? Bukannya begitu?”
· Dan seterusnya.
Setiap teman yang memberikan komentar ini berniat sangat baik karena ingin membagi informasi yang dipandang bermanfaat. Setelah orang tua mendengar nasihat yang sama dari 10 teman, dia menjadi yakin dan anak dimasukkan ke sekolah tersebut; sekolah yang seusai dengan apa yang dicarikan orang tua. Hal ini biasanya terjadi karena orang tua tidak mengenal seorang guru atau ahli pendidikan satu pun. Tetapi kalau seandainya orang tua mempunyai masalah kesehatan, dia akan berkonsultasi dengan dokter (ahli pengobatan). Teman boleh2 saja menambahkan komentar tentang apa yang baik. Tetapi sebagaian besar orang tua akan lebih beratkan informasi dan komentar dari si dokter. Untuk masalah pendidikan, tenyata tidak demikian. Hanya ada teman2 biasa. Saya tidak berniat menghinakan teman2 anda karena insya Allah mereka juga termasuk orang yang baik hati, pintar dan bijaksana, dan nasehat dari mereka insya Allah juga bermanfaat untuk didengarkan. Hanya saja, keahlian mereka di bidang pendidikan tidak ada, dan hal itu mempengarui “wawasan” mereka sehingga nasehat itu diberikan dari satu sisi saja, tanpa bisa melihat segala macam kemungkinan yang lain, termasuk hal-hal yang kurang baik.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah semua “barang” yang disediakan oleh sekolah swasta ini memang yang terbaik untuk anak2? Kalau kurikulum IB memang baik, misalnya, tetapi apakah sekolah menyediakan karena alasan itu atau karena ada “customer” yang ingin “membeli”nya?
MESTI BAGAIMANA SEKARANG: SOLUSI BIASA
Ini yang paling berat. Saya juga tidak bisa memberikan sebuah solusi yang dijamin lebih baik dari keadaan anda sekarang. Anak anda harus sekolah. Anda sudah bayar untuk masuk sebuah sekolah swasta. Yang bisa saya sarankan adalah mulai saat ini, orang tua membuat janji pada diri sendiri untuk melakukan dua hal:
1.) Belajar sedikit tentang pendidikan. Anda bisa mencari sumber informasi di internet, misalnya kalau mau tahu sekolah bilingual mesti seperti apa, ketik “bilingual” atau “bilingual program” dan membuka beberapa situs. Baca sebagaian kecil dan berusaha untuk memahaminya. Mungkin dari yang dibaca itu, akan muncul pertanyaan: “Kok sekolah anak saya tidak seperti itu? Mana “Pull Out Program”nya?” Dan sayangnya ini hanya bisa dilakukan oleh orang tua yang bisa bahasa Inggris. Barangkali ada situs2 di Malaysia yang menggunakan bahasa Melayu dan bukan bahasa Inggris. Carikan. Kalau baca bahasa Melayunya insya Allah anda bisa menangkap intinya. Coba pahami sedikit teori saja. Ini penting kalau anda sangat inginkan menyekolahkan anak di sekolah bilingual. Anda harus tahu program bilingual yang standar seperti apa, karena, sayangnya, anda tidak bisa asal percaya bahwa semua sekolah swasta akan melakukan yang terbaik. (Itu sebabnya saya memberikan sedikit teori standar di Bagian Pertama artikel ini untuk membantu orang tua yang belum pernah berfikir tentang bentuk program bilingual)
2.) Menjadi lebih kritis terhadap ada yang terjadi di sekolah anak anda. Barangkali ini sulit kalau baik bapak maupun ibu bekerja. Sudah pulang malam, capai, belum makan, masa harus bertanya2 tentang segala sesuatu yang terjadi di sekolah? Mohon maaf, tetapi memang harus begitu. Karena sistem yang sudah ada di sini sekarang, anda tidak bisa asal titipkan anak di sekolah dan menerima seorang remaja yang sudah dibentuk dengan baik pada akhir SMA nanti. Memantau dan menganalisa apa yang terjadi di sekolah. Dengan logika biasa, barangkali sesuatu akan terasa sedikit “ganjil” dan hal itu harus dipertanyakan ke pihak sekolah. Minta melihat budget untuk sebuah kegiatan yang mewajibkan suatu bayaran. Minta melihat hasil dari semua ujian yang diikuti oleh anak anda. Minta melihat print out dari semua ujian dari tahun2 kemarin untuk menjadi perbandingan. Kalau kelihatan ada penurunan nilai di satu pelajaran, hubungi sekolah/guru dan minta penjelasan. Cari tahu apa yang bisa dilakukan orang tua di rumah untuk membantu. Kalau sekolah mengumumkan anak akan disiapkan untuk mengikuti sebuah lomba di luar kota, cari tahu lomba itu seperti apa. Apakah benar2 bermanfaat untuk anak atau hanya diikuti untuk meningkatkan “gengsi” sekolah karena selalu berpartisipasi dalam semua lomba yang ada? Dan seterusnya.
MESTI BAGAIMANA SEKARANG: SOLUSI LAIN
Kalau orang tua tidak puas dengan memantau anak dan sekolah saja, berarti barangkali orang tua harus mulai menjadi lebih tegas dengan sekolah yang tidak jelas. Kebanyakan masalah yang telah dibahas di dalam artikel ini ada di pihak sekolah. Anda sudah bayar mahal dan anda harus menunjukkan bahwa anda tidak puas dengan pelayanan yang mereka berikan. Kalau seandainya sekolah ini adalah perusahaan penerbangan, anda bisa berhenti saja membeli tiket mereka. Dengan sekolah tidak bisa begitu. Berarti orang tua harus berusaha untuk mengubah sikap kurang baik dari sekolah ini.
Orang tua bisa datang ke sekolah dalam sebuah rombongan, misalnya 20-30 orang. Kalau datang sendiri2, sekolah bisa mengabaikan keinginan anda dan komentar anda dengan sangat mudah. Kelompok menunjukkan kekuatan dan kekompakan.
Kurikulum: minta melihat kurikulum dari sekolah. Kalau “masih ditulis” bertanya kenapa bisa begitu padahal sekolah sudah beroperasi beberapa tahun. Minta diberikan kopian dari kurikulum. Saya diberitahu dari seorang teman bahwa Sekolah SD Lazuardi di Cinere tidak takut melakukannya dan malah memberikan kepada orang tua tanpa ada yang minta. Luar biasa. Kenapa sekolah anak anda tidak mau? Apa yang mereka sembunyikan?
CV: minta melihat CV dari semua “guru” di sekolah, terutama guru kelas anak anda. Setiap sekolah pasti menyimpan CV gurunya di file karyawan. Kalau sekolah menyatakan itu data pribadi, suruh mereka panggil guru dan langsung minta izin di depan mukanya. Kalau dia tidak izinkan, tanya kenapa. Apakah dia ada gelar atau latar belakang dan pengalaman pendidikan? Apakah dia pernah bekerja di sebuah sekolah sebelum masuk sekolah ini? Ini juga penting dilakukan untuk guru bule. Mungkin guru bahasa Inggris anak anda adalah mantan kuli bangunan dari Australia. Dan mungkin orang dengan gelar atau pengalaman pendidikan merupakan hanya 40-60% dari guru di sekolah anak anda (karena masih baru). Jadi kalau orang yang insya Allah “mengerti pendidikan” hanya 40%, kira-kira siapa yang menjaga perkembangan ilmu akademis dan “cognitive development” (daya pikir) dari anak anda? Si pengusaha yang menjadi pemilik sekolah?
Budget: minta melihat budget sekolah. Hampir pasti mereka tidak mau menunjukkannya. Berfikir tentang apa isinya yang membuat mereka takut kalau orang tua tahu? Apakah ada hal yang ganjil? Apakah misalnya ada pengeluaran ratusan juta untuk pemilik sekolah dan keluarganya yang sering pergi ke Bali, ke Singapore dan lain negara, dengan munggunakan uang sekolah, tanpa jelas tujuannya apa? Sedangkan jumlah uang untuk beli buku buat perpustakaan hanya mencapai 10 juta per tahun. Kalau sekolah tidak mau terbuka dan jujur tentang uang sekolah dipakai untuk apa, maka anda bisa berfikir sendiri tentang kenapa mereka lebih senang kalau anda tidak tahu tentang persoalan itu. (Sekolah yang licik tinggal membuat Budget palsu khusus untuk diperlihatkan kepada para orang tua.)
Daftar asset: Minta lihat daftar aset milik sekolah. Hampir pasti mereka tidak mau menunjukkannya. Berfikir tentang apa isinya yang membuat mereka takut kalau orang tua tahu? Mungkin di dalamnya anda akan menemukan banyak aset seperti mobil mewah dan rumah mewah. Bertanya siapa yang memakai fasilitas ini? Barangkali pemilik sekolah merasa dirinya adalah Fund Manager. Setelah dia kumpulkan milyaran rupiah dari anda semua, apakah digunakan untuk kepentingan anak dan sekolah? Bagaimana kalau dia membeli perkebunan kelapa sawit, atau saham hotel, atau uang dimasukkan deposito saja. Untung dari usaha itu untuk siapa? Kembali lagi ke sekolah untuk kepentingan anak, atau masuk tabungan pemilik sekolah? Sebenarnya dia tidak melanggar hukum kalau melakukan hal seperti ini. Anda yang memberikan milyaran rupiah kepadanya tanpa pernah bertanya uang itu digunakan untuk apa. Berarti dia bebas menggunakan bunga deposito untuk kepentingan diri sendiri. Kalau memang begitu, apakah niat dia bangun sekolah karena mau memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak anda, atau sekolah itu hanya sebuah “alat” yang membuka jalur supaya dia bisa menjadi Fund Manager dengan uang anda untuk kepentingan diri sendiri. (Sekolah yang licik tinggal membuat Daftar Aset yang palsu khusus untuk diperlihatkan kepada para orang tua.)
Membentuk asosiasi orang tua: ajak orang tua yang lain kumpul di sebuah rumah untuk membahas keadaan sekolah. Lebih baik anda membentuk asosiasi sendiri. Kalau sekolah sudah membentuknya, dan anda hanya diajak masuk, bisa jadi sekolah membentuk duluan dengan niat melakukan “control” terhadap para orang tua. Barangkali orang yang membangunnya dan sangat aktif di organisasi pertama itu adalah teman2 pemilik sekolah dan para pendukung “fanatis” yang tidak siap mendengarkan sisi buruk dari sekolah mereka. Barangkali mereka selalu mendukung 100 persen semua ucapan pemilik sekolah. Mereka ingin sekolah ini berlangsung terus di bawah kepemimpinan teman mereka (pemilik sekolah) dan siapa pun yang terlalu banyak bertanya2 tentang kualitas pendidikan, kualitas bahasa, atau hal yang lain akan dipandang sebagai “pengganggu” saja. Mereka lebih utamakan “status quo” daripada kebenaran. Bentuk asosiasi sendiri supaya anda bisa bicara bebas. Kalau semua orang tua sepakat ada masalah tertentu, hal itu bisa disampaikan ke pemilik sekolah lewat surat, misalnya, dengan tanda tangan 100 orang tua, dsb.
Membantu guru membentuk sebuah Serikat Guru: saya belum pernah mendengar tentang sebuah sekolah swasta yang langsung membentuk serikat guru sendiri untuk menjaga kepentingan para guru. Manfaat dari serikat guru adalah memberikan kekuatan kepada para guru untuk mencegah kebijakan yang tidak baik atau tidak adil dari pemilik sekolah (pengusaha). Dengan asumsi bahwa sebagian besar dari guru di sekolah adalah guru yang baik, yang berniat mengajar dengan sebaik mungkin (tanpa melihat gelarnya), maka mereka pasti tidak bisa melakukan protes apapun kalau tiba2 pemilik sekolah mewajibkan mereka melakukan sesuatu yang mereka anggap tidak baik untuk anak, atau sangat mengganggu kenyamanan mereka sebagai guru. Guru harus menuruti semua kebijakan pemilik sekolah. Kalau ada serikat guru, dan semua guru merasa suatu kebijakan tidak bermanfaat, tidak adil, dsb. maka mereka bisa menghadapi pemilik sekolah secara kolektif. Kalau tidak ada serikat, tidak ada yang bisa membeka anak2 dari kemauan aneh pemilik sekolah, atau membela guru yang merasa ditindas.
Apakah ini suatu jalan yang baik? Kalau seandainya orang tua mengambil salah satu dari jalan ini, kemungkinan besar akan menimbukan masalah baru dengan pihak sekolah. Di atas semua masalah yang sudah ada, orang tua akan dipandang sebagai “pengganggu” dan bukan “partner”. Kalau hal ini terjadi, hanya ada tiga kemungkinan:
1. Sekolah mulai mendengarkan orang tua dan berubah supaya selalu melakukan yang terbaik untuk anak, bukan terbaik untuk bisnis.
2. Sekolah cuek saja pada keluhan orang tua dan tidak berubah. Kalau orang tua tidak suka, silahkan keluar saja (uang pangkal puluhan juta non-refundable, tentu saja).
3. Sekolah akan menjadi marah besar karena merasa dilawan oleh customer yang seharusnya terima saja “barang-barang” yang disediakan perusahaan tanpa komplain. Orang tua dipandang sebagai lawanan dan kinerja sekolah menjadi rusak.
Oleh karena itu, saya sarankan agar orang tua berfikir kembali sepuluh kali sebelum mengambil suatu tindakan untuk “melawan” pemilik sekolah (walaupun tujuannya adalah untuk mendapatkan yang terbaik bagi anak) karena ada kemungkinan tidak akan berhasil dan malah akan menimbulkan masalah baru!
MESTI BAGAIMANA SEKARANG: SOLUSI IMPIAN
Pemerintah akan mulai peduli dengan pendidikan, baik di sekolah negeri maupun di sekolah swasta. Dan semua SD Negeri akan menjadi begitu baik dan bermutu sehingga tidak akan ada orang tua yang inginkan anaknya masuk sekolah swasta!
Bukannya 20% dari APBN seharusnya untuk pendidikan, tetapi sampai sekarang belum mencapai target terus? Anggaran untuk sekian banyak proyek dan perjalanan pejabat ke luar negeri selalu ada. Untuk tangani lumpur panas di Sidoarjo disediakan trillunan rupiah (secara tiba-tiba). Tetapi untuk pendidikan selalu tidak cukup. Kalau mau melihat hasilnya kalau sebuah negara menjadi serius dengan mengembangkan sistem pendidikannya, lihat saja Malaysia dan hasil yang tercapai di dalam 30 tahun terakhir ini. Kira-kira berapa banyak atap kelas yang ambruk di Malaysia setiap tahun? Di sini hampir setiap minggu ada kasus.
Kalau seandainya Diknas melakukan kontrol yang ketat terhadap sekolah swasta, mungkin sebagian dari guru kelas akan dipecat karena tidak mencapai standar tertentu (terutama yang “asal bule” saja). Bagaimana kalau sekolah tidak boleh dibuka kalau kurikulum belum ada? Sekolah swasta akan menjadi sedikit saja. Untuk menghindari masalah ini, banyak sekolah cukup menyatakan “Kita menggunakan kurikulum Diknas” tetapi setelah 4 tahun mereka masih sibuk “menulisnya kembali” berarti kurikulum tidak stabil untuk bertahun2.
Apakah petugas dari Diknas akan peduli pada sekolah swasta anak anda, padahal ada sekian banyak masalah dengan Sekolah Negeri yang belum bisa ditangani juga. Dengan gaji yang masih tergolong rendah, kenapa seorang petugas dari Diknas akan peduli kalau anak anda di sekolah swasta sedang diajar (atau “disiksa secara emosional”?) oleh seorang mantan kuli bangunan dari Australia?
APAKAH GURU YANG BAIK PASTI BERGELAR PENDIDIKAN?
Perlu saya jelaskan bahwa seseorang tanpa gelar pendidikan bisa saja menjadi guru yang hebat. Tergantung niatnya dan usahanya. Dan seseorang dengan gelar pendidikan bisa saja menjadi guru yang buruk. Tergantung niatnya dan usahanya. Saya tidak mau menjelekan nama semua guru sekolah yang tidak lulus dari Fakultas Pendidikan karena saya ada banyak teman dengan gelar yang lain dan mereka telah menjadi guru dengan kualitas terbaik sehingga saya akan memilih mereka untuk menjadi guru daripada orang yang baru lulus dari IKIP/UNJ dan belum berpengalaman.
Tetapi yang bisa membedakan antara guru yang baik dan buruk adalah orang yang mengerti pendidikan dan fungsi guru. Orang tua belum tentu bisa menentukan bedanya. Kalau orang tua ingin coba, mulai dengan mengikuti perasaan saja. Melihat kepedulian guru terhadap semua anak. Apakah kelihatan sayang sama anak? Kalau anda komplain tentang sesuatu, apakah dia tanggapi dengan cara yang baik, dsb.? Apakah dia selalu mencari solusi yang baik bila terjadi sebuah masalah? Apakah dia terbuka untuk diskusi dan menerima saran? Apakah dia bisa menjelaskan kenapa sebuah saran dari orang tua itu tidak baik bagi perkembangan anak? (Misalnya, orang tua minta anak Playgroup harus diwajibkan membaca dan menulis, lalu guru menolak dan sanggup menjelaskan kenapa saran itu tidak baik untuk semua anak!). Kalau anda mendapat perasaan baik tentang guru itu, berarti itu adalah suatu permulaan yang baik. Tetapi sikap baiknya itu tidak secara automatis berarti dia bisa mengajar dengan benar.
Yang saya maksudkan di dalam artikel ini dengan selalu memberikan komentar buruk mengenai si “lulusan ekonomi” adalah begini: kalau ada seorang guru yang lamar untuk masuk sekolah anak anda, dan ternyata dia lulusan IKIP dengan pengalaman 8 tahun di kelas, dia termasuk guru terbaik di SD Negerinya, tetapi dia tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, kemungkinan besar dia akan ditolak, tetapi si lulusan ekonomi akan diterima dengan alasan bahwa dialah yang bisa berbahasa Inggris dengan baik dan hanya itulah yang dipertanyakan orang tua.
Berfikir: Orang yang mana yang paling baik untuk mendidik anak anda? Kalau dari sisi pendidikan, guru yang pertama adalah yang terbaik. Kalau yang diinginkan adalah “asal guru bisa berbahasa Inggris” karena itu yang mau “dibeli” oleh orang tua, maka guru yang kedua lebih cocok.
Orang tua harus mulai berfikir dengan bijaksana tentang mana yang lebih utama bagi masa depan anak anda.
Links untuk semua bagian yang lain:

3 comments:

  1. Sebenarnya tulisan anda bagus. cma mnurut sya tlisan anda terlalu menyinggung perasaan. terlalu menghina. JADI SAYA KATAKAN TULISAN ANDA KURANG BAIK! MAAF. JANGAN PERNAH ANDA MENULIS NAMA SUATU INSTANSI PENDIDIKAN SEPERTI ITU. SEBAGAI MAHASISWA IKIP UNJ YANG SEKARANG SAYA MENGAJAR DAN SAYA LULUS BUKAN DENGAN MAHASISWA BERTITEL PENDIDIKAN YANG TIDAK BERPENGALAMAN. Maaf mas sya dn tman2 sya dri smster 4 sdh mulai mengajar lho! maaf y kmi tdk lulus dngn TANPA PENGALAMAN!!!

    Masalah baik buruknya guru itu bukan berasal dari mana dia berkuliah, tapi nbagaimana dia menerapkan nilai-nilai yang ada dlm dri nya dan org lain. bagaimana ilmu itu dapat di transfer, dipahami dan diaplikasina oleh murid.

    dri tulisan anda kan dikatakan bahwa jd guru yg pnting bsa bhs inggris, anda tahu salah satu murid saya punya baby sister yang jago sekali berbahasa inggris dan mandarin. sya sendiri bahkan tidak bsa bahasa mandarin. lalu, knp dy tdk mau jd guru saja????

    ReplyDelete
  2. Anda sepertinya terlalu beremosi dan tidak paham apa yang saya bicarakan. Coba baca lagi tanpa pakai emosi, dan insya Allah anda bisa paham.

    Seorang guru dengan pengalaman 15-20 tahun mengajar di kelas sudah jelas2 sangat berbeda dengan orang yang baru lulus bulan kemarin. Apakah anda tidak bisa paham bedanya? Yang baru lulus disebut “belum punya pengalaman” karena walaupun dia mengajar sebentar selama menjadi mahasiswa, itu sudah pasti sangat berbeda dengan orang yang sudah menjalankan sebuah profesi fulltime selama puluhan tahun. Bisa paham bedanya?

    Tidak boleh sebut nama universitas pendidikan seperti IKIP/UNJ? Kenapa? Apa harus menyebutkan “sebuah universitas yang mempunyai fakultas pendidikan yang tidak boleh disebutkan namanya”? Emang begitu lebih tepat? Kalau semua orang yang baca, termasuk orang yang paling bego sudah bisa paham bahwa UNJ yang dimaksudkan, buat apa tidak boleh ditulis?

    Maaf, saya tidak menulis tentang pendidikan untuk anak kecil yang emosi. Saya menulis untuk orang dewasa yang sudah matang dan bijaksana, supaya mereka bisa belajar lagi. Kalau mau menjadi seorang guru yang baik, anda harus belajar untuk menahan emosi anda. Kalau anda sendiri belum bisa, bagaimana bisa mendidik orang lain?

    Yang saya bicarakan “bahasa inggris penting”, itu di SEKOLAH SWASTA yang memang banyak memilih guru disebabkan bisa bahasa inggris. Dan itu dilakukan karena sekolah swasta itu mau jual diri ke orang tua sebagai sekolah bilingual (makanya, tulisan ini semuanya tentang sekolah bilingual). Bisa paham? Bahasa inggris lebih utama bagi pemilik sekolah swasta. Jadi guru dari UNJ yang sangat baik tidak akan diterima di sekolah swasta itu, karena tidak bisa berbahasa inggris. Bisa paham? Semua tulisan ini tentang sistem sekolah swasta yang rusak. Bukan tentang lulusan UNJ itu sendiri. Paham?

    Coba baca lagi semua dari awal, dan tidak pakai emosi. Insya Allah bisa paham.

    ReplyDelete
  3. amin ya rabbalalamin..
    ^^ terus menulis pak,, terus berkiprah untuk pencerahan umat,,, tulisan ini sangat bermanfaat bagi para praktisi di bidang pendidikan (bukan hanya guru saja),, ini memang realita pak,, mungkin ada pihak yang tersengat tapi berapa persen dari (anak yg mgkn jenius) yg bisa bertahan di sekolah2 dg sistem ini? sebagian besar stress .. menyedihkan melihat mereka menangis saat harus dijejali les ini-itu demi mendukung materi di kelas.. Ghirah mereka akan luasnya aspek ilmu pengetahuan itu sendiri hancur hanya gara-gara target "harus bisa speak english fluently" sebelum tamat SD..

    ReplyDelete