Sunday, August 12, 2007

Membahas Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di milis SD Islam

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Seperti biasa, saya setuju dengan komentar Pak Satria.

Kayanya saya sudah pernah jelaskan di sini tentang Toefl.

Tes Toefl ada dua macam sekarang: Paper Based Test - PBT (yang lama), terdiri dari mulitiple choice saja; dan NGT – New Generation Toefl (yang baru), yang juga menggunakan writing dan speaking, semuanya dikerjakan di computer dan diperiksa di Amerika lewat internet.

Kalau mau tes semua guru di sini untuk masuk SBI, maka harus ditentukan dulu tes yang mana yang dimaksudkan.

Kalau untuk NGT, saya yakin mayoritas dari guru dan juga warga Indonesia tidak bisa lulus dengan mudah, karena NGT ini adalah tes Toefl yang sangat sulit, di mana kita perlu kemampuan tinggi (mendekati Native Speaker) untuk lulus. Untuk persiapan, butuh waktu 1-2 tahun. Untuk tesnya, harus daftar di testing center dan bayar dalam bentuk dolar. Apakah Diknas siap lakukan itu?

Pilihan yang lebih cepat dan murah adalah paper-based test yang lama. Diperiksa langsung, mulitiple choice saja, lebih mudah untuk disebarkan ke kota2 lain.

Untuk PBT, orang yang tidak sanggup mengunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi bisa mendapatkan 550.

Fungsi saya sebagai guru Toefl dulu, bukan untuk mengajar bahasa Inggris, tapi malah untuk mengajar trik-trik yang menunjukkan dua jawaban yang pasti salah (dari ABCD). Dengan demikian, siswa bisa menebak karena hanya ada dua pilihan lagi. Ada banyak sekali murid saya dulu, yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, tapi setelah belajar bersama saya untuk 2 bulan, mendapat nilai 500, 550, dan bahkan 600 di PBT.

Tapi kalau saya bertanya “Hi budi, what did you do last weekend? Did you go anywhere special?”… dia tidak sanggup menjawab!

Saat dites untuk masuk General English (bukan Toefl) di ILP, ada yang hanya sebatas Basic 2, Basic 3 atau Intermediate 1, alias, mereka sangat TIDAK mahir. Tapi nilai Toeflnya 550 di paper based test!

Kalau mau mengajar anak science atau matematika, lebih baik pakai bahasa Ibunya. Kecuali program bahasanya mahir, gurunya native speaker, ada pembimbing dan bantuan untuk anak yang tidak cukup lancar, dsb.

Tapi saya tidak yakin bahwa semua itu bisa diadakan secara massal di sini.

**Karena kita ingin go international, mengajarkan science in english, maka mana lebih mudah mengkursuskan guru sains bahasa inggris atau menyekolahkan guru bahasa Inggris ke uni untuk pembekalan sains.

Dua-duanya kurang bagus. Yang paling bagus, guru sains yang lancar dalam bahasa Inggis.

**Bang satria dan anybody yang dapat membantu saya dalam penelitian yang berjudul: International Schools in Indonesia: Moderzining or Imperializing.***

Dua-duanya tepat. Seharusnya bukan memilih salah satu, tetapi menentukan berapa persen Modernizing dan berapa persen Imperializing.

**secara cultural mungkin kita akan kehilangan sebagian dari keindonesiaan ketika mulai menerapkan bahasa lain dalam sendi kehidupan kita. tetapi secara pengembangan kedepan, memahami bahasa inggris berarti memungkinkan anak anak kita untuk berbicara dengan jumlah manusia yang jauh lebih besar ketimbang "hanya" dengan bahasa indonesia.***

Pasti ada yang hilang dari budaya. Tapi bisa diatasi kalau guru dan orang tua tidak melihat bahwa bahasa Inggris adalah yang terpenting dari proses ini. Yang terpenting adalah anak menjadi pintar, bukan menjadi sanggup menggunakan bahasa Inggris, punya tindik dan tato, tapi agak bodoh. Ada banyak ilmu yang tersimpan dalam bentuk bahasa Inggris. Tetapi mengajarkan bahasa Inggris kepada anak tidak menjamin bahwa mereka mau atau akan mengakses ilmu itu. Adik kandung saya lancar dalam bahasa Inggris, sekolah di Selandia Baru dan Australia, tapi tidak menggunakan internet untuk melakukan riset. Kakak juga nggak. Bapak ibu juga nggak. Mayoritas dari sepupu juga nggak. So? Tidak ada jaminan bahwa orang yang bisa berbahasa Inggris akan pintar dan akan menuntut ilmu.

**One world country, dengan one single world community.***

This will never happen in our lifetime. Ada terlalu banyak halangan. Ini hanya sebuah mimpi.

**pada skala lebih kecil, apakah menggunakan bahasa indonesia pada oang orang kalimantan sebagai wujud dari imperialiasi terhadap suku suku lain dengan bahasa yang berbeda, atau sebuah modernisasi kesatuan negara indonesia.***

Dua-duanya benar.

**Decades? Uangnya siapa yang mau dihambur-hambur untuk percobaan
dan eksperimen awur-awuran macam begini in decades? Not our tax
payment of course.***

Dan setelah minimal 10% dicuri oleh anggota Diknas dan orang lain dalam pemerintahan kita, yang menggunakan uang korupsinya (pajak kita) untuk menyekolahkan anaknya di Australia dan Amerika.

**Makanya saya bilang bahwa sejak awal program ini sudah salah
konsep. …Pertanyaannya adalah, kenapa tidak bikin sekolah baru dengan guru-
guru yang memang pilihan dan dirancang untuk menuju standar
internasional? Jawabnya : Karena ini sulit. Apakah program SBI
dengan existing school lebih mudah? Tidak. Bahkan tidak mungkin
berhasil. Lho? Lantas...? Tapi kan ini cuma rintisan... cuma
experimen.... cuma coba-coba.... . Kalau berhasil ya Alhamdulillah!
kalau tidak ya, "Ups! We make a mistake!" :-)***

Setuju. Kalau ada yang tidak setuju, tolong lihat daftar pertanyaan saya di bahwa dan menjawab semuanya!

**so bottom line do not underestimate dulu lah.***

Justru wajar kalau kita sangat underestimate, karena kita punya bukti nyata dalam bentuk UN yang sangat rusak dan laporan Komisi X DPR yang menyatakan 4.6 TRILLION dicuri oleh orang Diknas pada tahun 2006. Kalau kita mentah2 percaya sama mereka, berarti kita orang bodoh!

**( TKI aja go international, mosok siswa kita kalah sih :-) )***

TKI bukan go internasional, tapi terpaksa tinggalkan anaknya di kampung, berangkat ke negara lain seperti Saudi, di mana dia bisa disiksa dan diperkosa, tanpa mendapat perlindungan hukum dan sosial, hanya karena dia sangat “desperate” dan tidak punya pilihan yang lain. Dia keluar karena pemerintah gagal menciptakan lapangan kerja di sini, disebabkan mereka terlalu sibuk menghitung uang korupsinya, dan mengurus parpolnya. Ini sama sekali tidak bisa dianggap “go international”.

**kriteria go internasional adalah, bisa dan mampu go internasional***

Mampu artinya pandai.

Barangkali anak tertentu dinilai “kurang pandai” karena dia harus menjual majalah di warung sampai jam 10 malam. Dia tidak punya uang untuk belajar dengan tenang. Teman sekolahnya yang lebih kaya, dianggap lebih pintar (padahal tidak) dan mendapat kesempatan masuk SBI. Ini jelas tidak adil, dan dikerjakan dengan uang pajak kita semua.

**Btw, saya mo tanya, kriteria pemilihan anak untuk berhak masuk ke kelas internasional ini apa sih:??***

Punya koneksi. Bapaknya harus pejabat, orang kaya, pengusaha, komisaris, atau artis.

**kalau saya berani menduga, bahwa anak anak yang pandai dan bright yang ditawarkan ke kelas internasional.***

Pandai karena gurunya memberikan jawaban untuk tesnya, supaya banyak anak dari sekolah dia diterima di SBI. Berarti sekolah asalnya menjadi sekolah unggulan juga.

**Buat yang ndak masuk kelas internasional, tidak perlu kecil hati. Its time to see that many success are not always depend only on high achievement at school.***

Tapi pada saat mereka berusaha masuk Telkomsel dan bersaing langsung dengan anak yang lulus dari SBI, lalu anak biasa ditolak karena tidak bisa bahasa Inggris, dan tidak lulus GCSE, maka sangat dianjurkan untuk merasa sakit hati pada saat itu!!!

CONCLUSION:

Kalau ada yang ingin mendukung SBI, mohon baca pertanyaan2 ini dari saya dan menyediakan jawaban buat kita semua, didasari riset nyata, bukan sekedar berpendapat saja.

Di bawah ini saya kutip pertanyaan2 saya. Kalau mau baca artikel seluruhnya, silahkan ke sini:

“Sekolah Swasta & Bilingual Bag. 3/5”


MANA RISET/BUKTI ILMIAH TENTANG LULUSAN SEKOLAH SWASTA BILINGUAL INI?

Barangkali orang tua sudah tahu bahwa ada beberapa sekolah yang sudah lama menjalankan program Immersion/Bilingual di sini dengan tujuan membuat anak lancar dalam bahasa Inggris. Karena sekolah2 ini sudah lama berjalan, berarti jumlah lulusan mereka sudah banyak. Di mana mantan murid itu sekarang dan bagaimana keadaan mereka? Seorang ahli pendidikan akan mau tahu tentang hal ini, tetapi barangkali seorang ahli bisnis tidak akan peduli. Sebagai contoh tentang hal yang perlu kita ketahui adalah:

· Apakah lulusan ini (yang sudah dewasa) masih ada di Jakarta?

· Apakah mereka dikirim keluar negeri untuk kuliah?

· Apakah mereka sanggup kuliah di sini (karena keadaan pendidikan di universitas lokal barangkali sangat berbeda dengan pengalaman baik mereka waktu di sekolah swasta, sehingga mereka tidak tahan dan minta kuliah ke luar negeri)?

· Kalau kuliah di luar negeri sudah selesai, apakah semuanya atau mayoritas kembali ke Indonesia atau tetap di luar negeri karena sudah merasa lebih betah di sana?

· Bagaimana dengan kemampuan bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesianya sekarang?

· Apakah bahasa Inggrisnya lebih lancar, atau bahasa Indonesianya?

· Kalau bahasa Inggrisnya lebih lancar, bagaimana dampaknya terhadap orang yang harus bekerja di sini?

· Kalau bahasa Inggrisnya lebih lancar, apakah karena mereka sudah merasa lebih “normal” menggunakan bahasa Inggris?

· Apakah mereka memandang orang yang tidak bisa berbahasa Inggris sebagai orang “rendah” atau orang “biasa” dan bukan elit seperti mereka?

· Bagaimana pergaulan mereka dengan keluarga besar (kakek, nenek dsb.) yang tidak bisa menggunakan bahasa Inggris sama sekali?

· Apakah mereka merasa bangga dengan bahasa dan budaya Indonesia?

· Atau apakah bahasa dan budaya orang tuanya membuat mereka merasa malu?

· Kalau mereka kuliah di sini dengan menggunakan bahasa Indonesia apakah kemampuan bahasa Inggrisnya berkurang? Kalau iya, berapa jauh?

· Dan penurunan kualitas bahasa itu, bila ada, terjadi dalam jangka waktu berapa tahun?

· Kalau kemampuan bahasa Inggrisnya ternyata sudah turun secara drastis, apakah hal itu berarti sia-sia ribuan jam di SD-SMA hanya untuk belajar bahasa Inggris yang kemudian menjadi hilang?

· Bagaimana nilainya orang yang kuliah di sini dalam bahasa Inggris di universitas swasta?

· Bagaimana nilainya dari yang kuliah di sini tetapi menggunakan bahasa Indonesia?

· Bagaimana nilainya dari yang kuliah di luar negeri dalam bahasa Inggris dan bersaing langsung dengan Native Speaker?

· Bagaimana nilainya tiga kelompok ini dibandingkan dengan nilai sebuah kelompok “kontrol” yang tidak pernah masuk sekolah swasta yang menggunakan bahasa Inggris?

· Nilai lebih tinggi di kelompok yang mana?

· Bagaimana keadaan psikologis semua lulusan ini?

· Apakah ada sebagian dari mereka yang mengalami perasaan tertekan, stres, depresi, dan gangguan emosional/psikologis yang lain disebabkan mereka merasa kehilangan citra diri (karena tidak suka budaya dan bahasa lokal, tetapi masih merasa sebagai orang Indonesia)?

· Kalau ada yang mengalami perasaan stres dan berbagai gangguan yang lain, berapa persen, untuk berapa lama, mulai berapa tahun setelah keluar dari sekolah?

· Apakah gangguan ini mempengaruhi hubungannya dengan suami atau isteri yang tidak bisa berbahasa Inggris karena dia lulus dari sekolah biasa?

· Kalau semua lulusan sekolah2 ini merasa ‘bahagia’, apakah mereka bisa dikatakan kurang, sama, atau lebih bahagia dari anak yang tidak masuk sekolah swasta yang menggunakan bahasa Inggris?

· Apakah mereka hanya bisa bahagia selama mendapatkan pekerjaan di luar negeri, atau di perusahaan asing di Indonesia, sehingga skil mereka dengan bahasa Inggris sangat dihargai?

· Kalau mereka terpaksa pindah ke perusahaan lokal yang tidak membutuhkan bahasa inggris, apakah mereka masih ‘bahagia’?

· Apakah mereka dipandang ‘elit’ oleh karyawan yang lain karena sering menjawab pertanyaan biasa dengan bahasa Inggris (karena sudah terbiasa begitu), sehingga mereka menjadi susah bergaul di kantor?

· Dan seterusnya!

“Sekolah Swasta & Bilingual Bag. 3/5”


Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

4 comments:

  1. Subhanallah, Pak Gene, uraiannya rinci sekali:).

    Saya sendiri berpikir bahwa sekolah bilingual di Indonesia kurang perlu. Kecuali ada tujuan tertentu, seperti pesantren yg mengajarkan dalam 3 bahasa; Indonesia-Arab-Inggris, maka kepentingannya jelas untuk berdakwah dalam merangkul berbagai bahasa umat.

    Angkatan saya (lahir '77), bahasa Inggris diajarkan sejak kelas satu SMP. Saya percaya kemampuan berbahasa adalah termasuk bakat yang unik pada masing2 individu, dan alhamdulillah saya tidak mengalami masalah. Saat ini anak saya yang kelas satu SD sudah diajari bahasa Inggris di sekolahnya di Indonesia. Karenanya saya tidak berpikir perlu untuk memasukkannya ke sekolah bilingual. Saya lebih suka ia menguasai dengan baik bahasa ibunya terlebih dahulu, dan nantinya menggunakan bahasa lain untuk mencari ilmu dan bergaul secara internasional.

    Satu hal yang saya sayangkan, melihat banyaknya komunitas Indonesia yang kelihatannya justru bangga jika bicara campur aduk dengan bahasa Inggris, baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam komunikasi tertulis dalam e-mail atau milis, misalnya.

    Saat ini saya sedang belajar di negara lain (Jepang), dan milis2 komunitas Indonesia disini justru berbahasa Indonesia lebih baik drpd milis yang berbasis di Indonesia sendiri. Padahal, seringkali kata2 campur aduk yg digunakan sangat buruk secara tata bahasa Inggris maupun kosa kata. Yang penting nyampur bahasa Inggris, mungkin supaya kelihatan 'smart'.

    Jepang sendiri penduduknya mayoritas tidak berbahasa Inggris dengan baik, tetapi mereka menguasai sains. Disini kita lihat bahwa mereka mengoptimalkan kerja para penerjemah mereka untuk transfer ilmu.

    Semoga kita juga berhasil meraih ilmu lebih dengan membanggakan bahasa kita sendiri dan memakai bahasa asing sebagai bagian dari komunitas internasional, bukan karena merasa 'bahasa Inggris lebih keren'.

    wassalam
    mona
    mosaiklautkita.com,

    ReplyDelete
  2. Assalamu’alaikum wr.wb.,
    Terima kasih komentarnya Bu Mona.
    Di sini, pemerintah belum seirus mengajar bahasa Inggris di sekolah, dari zaman dulu sampai sekarang. Tapi kalau langsung loncat ke SBI, saya kuatir akan tambah kacau lagi.
    Di Jepang, memang hebat ya. Tidak ada yang bisa berbahasa Inggris, tapi negaranya maju sekali. Kenapa di sini tidak demikian?
    Wassalamu’alaikum wr.wb.,

    ReplyDelete
  3. Dari sebutannya saja SBI terdengar keren dan menjanjikan (menurut yang meluncurkan program ini). Secara kasap mata saja banyak hal-hal mendasar yang masih perlu dibenahi, bagaimana loncat ke bertaraf internasional. Bertaraf internasional musti didefinisikan yang jelas dulu baru sekolah bisa mulai membenahi diri dan kemudian kalau cuma ada satu kelas yang dirintis untuk go internasional yang disebut saja kelas bertaraf internasional bukan sekolah bertaraf internasional dong!
    Itje

    ReplyDelete
  4. Assalammualaikum...Pak Gene, saya ijin share ya... ada teman yg perlu referensi ttg SBI....

    ReplyDelete