Friday, September 28, 2007

Mengenai Ustadz Komersial

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Kemarin ada email yang beredar tentang Ustadz Komersial. Menurut saya, alangkah baiknya kalau ini menjadi kesempatan untuk membahas masalah ini secara serius, karena pada saat saya diundang ceramah, ada banyak sekali cerita dari panita2 masjid tentang orang lain yang diundang, dan mereka itu memang memasang tarif tinggi. Setiap kali saya diundang, selalu ada bagian dari pembicaraan yang tidak menyenangkan bagi orang yang telfon saya itu. Dia terpaksa bertanya “tarif” saya berapa. Pada saat saya menyatakan tidak pernah memasang tarif apapun, biasannya orang itu menyatakan merasa lega sekali, karena mereka sudah kuatir harus bayar mahal untuk mendapat seorang bule sebagai penceramah. Untuk mendapat ustadz-ustadz tertentu, katanya harus bayar jutaan sampai puluhan juta rupiah.

Seringkali, orang dari panitia masjid itu bercerita tentang ustadz-ustadz lain yang memang memasang tarif yang sangat berat bagi si penyelenggara. Jumlah uang yang diminta disebutkan kepada saya, dengan juga menyebutkan nama dari si penceramah tersebut. Jadi, walaupun penulis dari artikel Ustadz Komersial salah alamat, barangkali, masalah ini tetap sebagai masalah besar yang perlu kita komentari. Seharusnya ini peran wartawan (yang memang kurang berperan di negara ini). Kita perlu tahu berapa banyak ustadz yang pasang tarif yang tinggi dan seharusnya wartawan berani bertanya kepada mereka kenapa mereka lakukan hal itu?

Kalau Allah menghendaki, ilmu mereka itu bisa hilang dalam sekejap. Tapi mereka berani menyombongkan diri dengan memberikan nilai dan harga terhadap ilmu tersebut. Ini sungguh-sungguh menyedihkan. (Ini beda dengan menulis buku dsb., di mana ada harga produk dan biaya production yang perlu dibayar).

Berceramah tidak berbeda dengan memberikan nasehat kepada seorang teman. Orang yang lebih tua, biasannya lebih bijaksana karena ilmunya lebih luas dan juga pengalamannya. Nah, kalau kita minta nasehat kepada kakek kandung, bagaimana kalau dia menyuruh kita bayar 2 juta terlebih dahulu sebelum menjawab karena dia inginkan kita menghargai “ilmu”nya dan juga waktunya? Kalau begitu terus, kita menjadi “terpaksa” minta saran dari teman yang sama begonya dengan kita. Hasilnya: kita yang rugi. Kalau ada ustadz yang mahal, maka ummat Islam akan mulai bertanya dan berkonsultasi dengan orang yang ilmunya lebih sedikit (karena “tarif”nya akan lebih murah). Hasilnya: Islam yang menjadi rusak.

Kenapa ummat Islam menerima keadaan ini? Kenapa ustadz-ustadz ini tidak merasa malu menjual ilmu agama Allah dengan nilai yang tinggi, seperti artis sinetron atau penyanyi terkenal? Kenapa hal ini bisa berlangsung terus?

Seharusnya, orang yang ilmunya lebih tinggi lebih paham bahwa ilmu dia itu adalah milik Allah. Dan kalau tidak dimanfaatkan dengan baik atas nama Allah, maka Allah berhak dan tidak keberatan untuk mencabut ilmu itu daripadanya dan memberikannya kepada orang yang lain.

Saya mendapat ajaran dari guru saya KH Mashyuri Syahid (dari MUI) untuk tidak pernah memasang tarif, karena Pak Kyai juga tidak pernah begitu. Katanya, kalau mau menerima undangan ceramah, maka datang dengan ikhlas dan niat mengajar, dan menyebarkan Ilmu Allah dengan baik. Kalau tidak mau begitu, tidak usah menerima undangan ceramah agama: ceramah tentang bulu tangkis saja.

Sayangnya, sudah menjadi praktek yang standar untuk sebagian penceramah terkenal untuk memasang tarif tinggi (tapi belum tentu semuanya begitu). Sepertinya ini lebih mudah terjadi dengan penceramah yang sering masuk tivi. Soalnya, kalau dia datang ke stasiun televisi dan tidak bernego tentang tarifnya, maka stasiun televisi yang untung karena bisa bayar dengan harga yang sedikit. Sedangkan, mereka menerima puluhan sampai ratusan juta dari iklan. Jadi, dalam kondisi itu, sebagai praktek bisnis, sepertinya wajar kalau si penceramah pasang tarif di situ.

Masalahnya adalah besok hari dia memperhitungkan “opportunity cost” atau biaya yang bisa dia dapat kalau masuk tivi daripada berceramah di masjid anda. Kalau anda undang dia berceramah di masjid, dan ada stasiun televisi undang juga, kira-kira mana yang siap bayar paling mahal? Jadi, kalau anda mau dapat jatah waktu dia, harus bayar sesuai dengan tarif yang didapat dari stasiun televisi.

Sepertinya ini suatu efek samping dari berceramah di televisi. Dan hanya bisa dilawan oleh si penceramah sendiri. Waktu masuk tivi, pasang tarif untuk tivi. Waktu masuk Masjid Allah atau rumah hamba-Nya, tidak ada tarif.

Minggu ini saya mendapatkan undangan untuk masuk acara di Anteve, tetapi saya tidak menerima. Pertama, saya agak malas masuk tivi dan menjadi “artis”. Kedua, mereka ingin berbincang tentang latar belakang saya sebagai muallaf, dan buat saya, itu adalah topik yang membosankan. (Enakan bicara tentang Islam secara umum atau pendidikan). Sudah beberapa kali saya diundang masuk acara televisi, tetapi saya kurang tertarik karena melihat sebagian ustadz yang menjadi tokoh di televisi, yang memasang tarif tinggi, yang ada managemen dan adjudan, yang lebih mirip dengan artis daripada ulama, dan saya tidak mau menjadi seperti mereka.

Enakan menjadi orang biasa dan berceramah seperti orang biasa di dalam masjid biasa bersama hamba Allah yang biasa. Ilmu saya juga sangat terbatas, jadi justru tidak wajar kalau saya sering diundang masuk televisi, sedangkan banyak ustadz yang hafiz Qur'an dan punya ilmu yang luas tidak pernah diundang.

Semoga masalah dengan “ustadz komersial” ini segera ditanggapi dan dilawan oleh masyarakat (walaupun bukan perkara baru) dan semoga kaum ini yang memasang tarif tinggi bisa ingat kepada Allah. Sesungguhnya mereka hanya mendapatkan kesempatan berceramah karena Allah menghendaki begitu. Dan “hak” itu bisa juga dicabut dari mereka. Kalau mereka sudah menjadi terkenal dan kaya karena sering masuk tivi, saya yakin masyarakat dan panitia akan sadar sendiri dan menawarkan honor yang baik, sesuai dengan kemampuannya.

Tolong menceritakan pengalaman anda:

Apakah anda punya pengalaman dengan ustadz yang memasang tarif tinggi? Silahkan memberikan komentar di bawah, tetapi tolong jangan menyebutkan nama orangnya, dan jangan memberikan nama masjid dsb. Sebutkan saja jumlah yang diminta, dan apa yang terjadi sesudahnya: apakah dibayar, atau apakah ustadz itu diganti dengan yang lebih murah? Dan bagaimana perasaan anda terhadap masalah ini?

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

21 comments:

  1. Saya sepakat kalau ustadz tidak memasang tarif ceramah di masjid dan majlis taklim, cukuplah panitia mengerti dengan membantu menjemput atau memberi ongkos transport secara ikhlas. Tapi kalau masuk TV dengan iklan yang berjubel, saran saya: tidak masalah ustadz pasang tarif, namun honornya diberikan ke panti-panti asuhan yatim piatu, orangtua jompo dan yayasan dhuafa (orang miskin)...atau dikumpulkan untuk membangun pesantren/sekolah gratis modern untuk anak2 miskin dan yatim piatu, memberi beasiswa mereka hingga ke perguruan tinggi atau memberi modal usaha agar bisa hidup mandiri untuk masa depan mereka...mudah-mudahan ustadz2 itu mau terbuka hatinya berbuat demikian... amin... -bams-

    ReplyDelete
  2. Bayu Gawtama punya pendapat lain.
    silakan liat di :

    http://gawtama.blogspot.com/2007/07/harga-murah-ajakan-ke-surga.html

    http://gawtama.multiply.com/journal/item/263/Harga_Murah_Ajakan_ke_Surga_

    Wallohu a'lam

    ReplyDelete
  3. Di kantor saya dahulu biasa mengadakan ceramah agama dengan ustadz terkenal yang biasa muncul di TV dan Radio.
    Namun sekarang ini pihak personalia kantor tidak pernah mengundangnya lagi, alasannya karena ustadz tersebut "mahal imbalannya".
    Pada akhirnya, kami mengundang ustadz dari kalangan sendiri untuk menghindari biaya yg berat.
    Alhamdulillah, ada banyak ilmu yang didapat dari beliau (meskipun bukan ustadz beken).
    Jadi, tidak usah khawatir, karena Allah ternyata menunjukkan bahwa orang-orang berilmu tanpa tarif mahal(dan bukan orang beken) masih banyak.
    Sedangkan ustadz-ustadz komersial tadi justru kehilangan kesempatan untung diundang ceramah dan kehilangan kesempatan untuk menyampaikan ilmunya, karena terhalang oleh masalah uang.
    Sayang sekali.

    -ICHA-

    ReplyDelete
  4. Terima kasih Icha.
    Saya baca pendapat di gawtama.blogspot.com. Argumentasi dia adalah artis dan penyanyi dibayar mahal, jadi kenapa ummat tidak siap bayar mahal untuk mendapatkan ilmu Allah dari penceramah?
    Sebenarnya, perbandingan ini kurang tepat karena artis memasang iklan sponsornya (seperti spanduk) dan buka warung untuk jualan produk2 tertentu di sekitar lokasi (dan untuk itu, mereka harus bayar kepada panita).
    Dan kalau anda mau dengarkan lagu penanyi itu, harus membeli tiket masuk (tidak selalu).
    Apakah wajar kalau penceramah menjadi begitu juga? Kita mau dapatkan ilmu yang mutlak adalah Milik Allah, tapi harus bayar 50.000 untuk masuk masjid, dan ada 40 spanduk dan poster Indomie atau Rinso di belakang penceramah?
    Apakah itu agama kita? Kalau penceramah tertentu memasang tarif puluhan juta, berapa milyar yang harus dibayar kalau ada Nabi Muhammad SAW di sini? Sekali mendengarkan ceramah Nabi SAW di Istiqlal, 20 milyar?

    Ayo, siapa punya cerita lagi?

    ReplyDelete
  5. saya pernah berpengalaman hendak mengundang seorang ustadz yang saat itu namanya sudah sangat melambung..waktu itu kami senat mahasiswa hendak mengundang beliau dalam acara lustrum perguruan tinggi kami..namun karena banyaknya acara yang harus kami selenggarakan, mengakibatkan dana yang kai miliki untuk mengundang ustadz tsb terbatas. namun karena kami sudah merasa ge er duluan (mentang2 ustadz tersebut alumni perguiruan tinggi kami) kami yakin ustdz trsbt tidak akan memasang tarif.
    masya alloh ketika kami diminta bertemu manajernya, yang mengatakan "maaf untuk sekali ceramah ustadz memasang tarif 60jt dengan durasi sekian2..."tapi kebetulan pas hari yang sama ustadz harus ceramah di perguruan tinggi X (lebih bonavide, kita bisa meng acc aplikasi anda kalo bisa membayar lebih dari perguruan tinggi X tersebut. langsung ciut nyali kami mendengar pernyataan manajer tersebut, karena kami hanya membudgetkan 30jt untuk ceramah ustazd tersebut..
    masyaalloh...
    susiana

    ReplyDelete
  6. WOW! 60 juta untuk sekali ceramah? Wow. Luar biasa. Saya sungguh kaget. Yang lucu adalah tawar-menawarnya. Dia punya JANJI di lain tempat, tetapi untuk jumlah uang yang lebih besar, dia siap ingkari janji itu. Siapa bilang ayat Allah tidak bisa dijual. Ternyata, bukan saja dijual, tetapi juga dilelang! Hahaha. Astagfirallah.

    ReplyDelete
  7. saya hanya sering mendengar saja, jadi miris juga, apalgi kalau yang mengundang itu dari mesjid atau dari masyarakat jadi ironis, lain hal kalau dari tv. Namun disini saya ingin mendoakan ustd gene. semoga tetap istiqomah dan di jauhkan dari terbawa dengan ustadh2 yang komersial itu. Amien

    ReplyDelete
  8. Amin. Terima kasih. Pesan dari guru saya almarhum HK Masyhuri Syahid adalah jangan terima undangan ceramah kalau mau pasang tarif. Lebih baik tidak ceramah. Berikan ceramah karena Allah, dan pahala/imbalan dari Allah juga, Insya Allah.
    Alhamdulillah, sampai sekarang saya belum pernah pasang tarif untuk ceramah. Mudah-mudahan tidak pernah akan terjadi.

    ReplyDelete
  9. Masyaallah, Ustadz juga pasang tarif, kok seperti angkutan kota aja, ups!!!

    Menurut saya acara ceramah yang mengundang ustadz dengan tarif tinggi sangat mubazir. Para pengunjung yg datang bukannya mau mendengar isi dari ceramah tersebut tapi hanya ingin melihat wajah yg berceramah. Saya sering menanyakan kepada tetangga & temen2 yg suka mengunjungi pengajian dengan ustadz terkenal, kebanyakan mengatakan nggak bisa denger apa yg diceramahin karena terlalu banyaknya pengunjung (berdesak-desakkan )& sangat berisik. Kebanyakan ceramah dengan ustazd terkenal biasanya di tempat terbuka kalau di daerah-daerah.

    Kalau dikampung saya, Kiyai yg diundang tidak pernah memasang tarif, walaupun tinggal di luar daerah, cukup dijemput & dihantar pulang dengan selamat. Mengenai isi amplop, dikasih seikhlasnya saja.

    Saya lebih tertarik ikut pengajian dengan kiyai yang biasa saja tapi dengan ikhlas mau membagi ilmunya yg bermanfaat karena Allah.

    Kapan ya bisa mendengarkan ceramahnya Pak Guru??? Mimpi kali yee he he.

    ReplyDelete
  10. burkass tchaikovskySunday, 28 December, 2008

    Assalammu'alaikum,
    saya rasa gak masalah kalau ustad TIDAK MEMASANG tarif untuk televisi. Okelah si tv dapat ratusan juta keuntungan tetapi orang yang mendapat ilmu tersebut berjumlah sangat banyak tergantung jangkauan tv nya. Disini kita berdakwah secara ikhlas, memasang tarif apa namanya ikhlas walaupun di tv or masjid. Tidak semuanya bisa diukur dengan materi tapi bisa diukur berapa banyak orang yang dapat mendengar dakwah kita.
    Wassalamu'alaikum...

    ReplyDelete
  11. Assalaamu'alaikum Wr.Wb.
    Maaf, saya mau bertanya. Dulu saya pernah mendengar bahwa adalah bukan suatu hal yang salah jika seorang ustadz menerima imbalan. Alasannya untuk menjalankan aktifitas dakwahnya seorang ustadz harus mengeluarkan uang. Selain itu waktunya juga tersita untuk memenuhi undangan dakwah sehingga hampir tidak ada waktu untuk mencari nafkah. Apakah hal tersebut bisa dibenarkan ?

    ReplyDelete
  12. belum lama, teman saya berniat untuk mengundang ustad yang sangat ngetop di TV,mau tau tarifnya ? Rp 70 juta !! gak bisa nego! akhirnya memang memakai jasa dia, agar banyak jamaah yang tertarik untuk datang, yah mereka berfikir agar ada pencerahan untuk masyarakat walaupun harus merogoh kocek sangat dalam.

    Padahal bukankah ada anjuran kepada kita untuk menyampaikan walaupun satu ayat? kalau kita menerapkan, maka setiap pribadi akan menjadi ustad bagi pribadi yang lain.

    Lagi pula, kalau ada ustad yang pasang tarif itu namanya menjual ayat-ayat Alloh dengan sangat murah, ya?? ........

    ReplyDelete
  13. enggak salah sih, kalau kita beri imbalan untuk ustad yang sudah memberi ilmunya,anggap aja ongkos jalan dan buat beli nasi, yang salah adalah ustad yang memasang tarif. Menjadi ustad itu harus ikhlas, dikasih amplop syukur, nggak dikasih jangan minta.

    Seharusnya juga menjadi ustad itu jangan dijadikan profesi. Profesi kok ustad????? kalo ustad dijadikan profesi, akibatnya dia selalu mengharapkan imbalan kalau ada tawaran untuk sharing ilmunya, karena hidupnya dari situ.Seharusnya dia mempunyai profesi utama dan karena ingin berdakwah. Maka akan ada direktur yang menghabiskan waktunya mengajar ngaji/ceramah, dokter yang hobinya ceramah,pengusaha yang kegiatannya mengajar ngaji/ceramah.

    ReplyDelete
  14. Assalamu'alaikum wr.wb.,

    MASYA ALLAH!!!

    Nggak kebayang guru saya KH Masyhuri Syahid menuntut BAYARAN ketika diundang ceramah, apalagi memasang tarif 70 juta seperti ini. Luar biasa para penceramah sekarang.
    Baru kemarin saya bercerita kepada seorang teman tentang pesan almarhum Kyai Masyhuri kepada saya sebelum dia wafat. Kata Pak Kyai, dia sangat mendukung saya ceramah, walaupun ilmu saya masih terbatas sekali. Katanya yang penting adalah niat berdakwah di jalan Allah untuk kepentingan ummat Islam. Kalau sudah memasang tarif berarti sudah menjual ayat Allah dengan harga yang sedikit, karena kalau sudah tahu, untuk beli satu ayat Allah tidak cukup semua emas yang ada di dunia.
    Bayangkan saja kalau Nabi Muhammad SAW melakukan hal yang sama seperti para ustadz komersial sekarang ini? Mau dengar ayat yang baru turun dari Allah SWT? Bayar dulu kepada Nabi! Astaghfirullah x 1 milyar!!!

    Alangkah buruknya keadaan ummat Islam sekarang kalau Nabi kita mengikuti pola ustadz komersial yang sudah muncul sekarang ini.
    Saya juga ingat bahwa Kyai Masyhuri berpesan kepada saya, untuk dapat nafkah hidup, harus ada pekerjaan selain ceramah. Jadi JANGAN hidup dari ceramah, tetapi gunakan ceramah untuk hidupkan ummat Islam. Setiap orang yang ilmunya tinggi bisa mencari nafkah hidup dengan berbagai cara seperti misalnya pekerjaan sebagai karyawan biasa, dengan menulis buku, dengan jualan di pasar, dan lain sebagainya. Kalau benar2 ingin berceramah secara rutin, berarti harus dicari pekerjaan yang memberikan kebebasan untuk ceramah. Dan kalau sudah melakukan semua itu karena Allah, insya Allah ada cara untuk dapat rezeki yang halal, dan tetap berceramah tanpa memasang tarif puluhan juta.

    Wassalamu'alaikum wr.wb.,
    Gene

    ReplyDelete
  15. Alamakkk tarif ceramah agama ISLAM sekarang bisa sampe 70 JUTA sekali ceramah ??!!!
    Duh kayaknya tarif penceramah yang terkenal di tivi naik terus deh seperti harga sembako ...hehehe

    Tapi masalahnya ummat juga memang kadang-kadang memang lebih semangat, lebih mudah tertarik dan diajak untuk menghadiri ceramah apabila yang membawakan itu memang yang sudah punya nama terkenal.
    Kelihatan jelas lah itu.

    Padahal belum tentu ilmu agama dari penceramah yang sudah punya nama terkenal dan punya frekuensi sering sekali masuk tivi pasti lebih tinggi dari penceramah yang namanya tidak terkenal dan tidak populer dimana-mana.

    Itulah fenomena kehidupan dunia.
    Kita akan mudah silau oleh sesuatu yang nampak kasat mata dari luar, omongan-omongan yang manis dan terdengar mengagumkan, serta fisik yang rupawan.
    Wallahu'alam bish-shawwab.

    Hhhmmmm tarif ceramah 70 juta ???
    Banyak juga ya penghasilannya apalagi kalo dikali sebulan...
    Memang wajar kalo gitu jika penceramah-penceramah seleb bisa punya rumah besar & mewah, mobil bagus, motor gede, dan berbagai pernik pernak dunia lainnnya.
    Mudah2an rejeki sebanyak itu bisa membawa pemiliknya untuk menggapai keselamatan & keberkahan dunia dan akhirat.
    Amin ya Robbal alamin.

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.,

    ReplyDelete
  16. @ Gusprin1403
    Guru saya, KH Masyhuri Syahid mengajarkan bahwa tidak ada masalah menerima sumbangan dari pihak yang undang. Kita juga keluarkan waktu dan uang untuk datang ke sana. Sering kali saya naik taksi ke tempat ceramah, makan di luar juga, dan naik taksi saat pulang. Kalau tidak dapat imbalan sama sekali, bisa terasa berat.
    Kata guru saya, selama tidak minta, atau pasang tarif, tidak apa2 karena tidak ada dalil yang melarang penceramah (atau siapapun yang lain) terima sedekah dari suatu pihak yang ingin memberikan uang. Jadi, boleh diterima. Kalau tidak diinginkan, bisa dikasih kepada anak yatim saja. Tetapi dipakai sendiri juga nggak masalah, atau dibagikan antara diri dan orang lain juga boleh.
    Kalau ada yang mau melarang, harus ada dalil yang jelas, dan tidak ada dalil tersebut.
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  17. Jangankan harta apalagi uang, Rasulullah siap mengorbankan nyawa karena memenuhi perintah berdakwah, demi keselamatan umat ini.
    Ceramah agama itu intinya mengajarkan Iman, keikhlasan, kesabaran, ketakwaan, jangan cinta dunia, melawan hawa nafsu, banyak bersedekah dan berbuat baik.
    Saya membayangkan apa yang ada di otak ustadz komersil saat dia berceramah, uang!, dan apa yang diajarkannya pasti tidak jauh dari itu, makanya isi materinya pasti juga jauh dari akhlak mulia.

    kelak di akhirat Allah akan memperlihatkan apa yang ada di otak dan hatinya itu, dan dia hanya akan mendapatkan apa yg diniatkannya itu, bahkan dia harus mempertanggung jawabkannya.
    Tidak akan diterima amal yang tidak ikhlas semata karena Allah.

    meski demikian, kita sebagai pengundang hendaknya juga memahami, bahwa kita juga perlu memberi sangu kepada penceramah dengan meminta izinnya dan dengan niat amal karena Allah. Jika dia menolak pasti dia punya alasan, kita patut menghormati penolakannya itu, jika dia menerima sangu itu, itu juga pasti dia punya alasan, dan kita sebaiknya baik sangka saja, boleh jadi dia memang amat membutuhkannya walau tidak diucapkan, boleh jadi dia akan menyumbangkannya ke yang lebih membutuhkan, demikianlah dengan sesama muslim hendaklah kita saling membantu.

    ReplyDelete
  18. http://muharis.multiply.com/journal/item/53/Ustadz_Komersil

    ReplyDelete
  19. Assalamualaikum..luar biasa tulisan-tulisann ustadz.. barakalllahu fik...

    ReplyDelete
  20. Assalamualaikum, Allah akan selalu memberi jalan bagi orang2 yg ingin berdakwah dan berbuat baik..Insyaallah Ilmu yg disampaikan oleh ustadz2 kita yg celebrities ataupun bukan adalah benar dan murni dari Alquran dan hadist sehingga memberi manfaat..amiinn..masalah bayaran..biar pribadi dan Allah yang memberikan ganjarannya..

    ReplyDelete
  21. ustadzboleh kaya, tapi dengan cara mencari nafkah diluar ceramah, seperti berdagang, investasi halal, atau menjadi karyawan
    dakwah itu kewajiban yg melekat dalam diiri muslim yang beriman

    ReplyDelete