Thursday, September 13, 2007

Re Perda Yang Melarang Pengemis 2

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ini jawaban dari seorang teman di milis mualaf Indonesia mengenai perda yang melarang pengemis. Saya paling suka bagian ini:

****

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. QS107:1-3

Allah bertanya dan berbicara kpd siapa??? Saya, kalian, pemimpin2 itu!

Bisakah saya atau kalian menjawab pertanyaan itu???
Tidak bergetarkah hati kita mendengar pertanyaan dari Yang Maha Penyantun???
Tidak malukah kita…

****

Kalau kita berfikir, para pejabat di negara ini tidak takut pada Allah (menurut saya). Hati mereka hanya bergetar untuk satu asalan:

ADA TELFON DARI KPK!

Selain dari alasan itu, mereka tidak takut.

Masyarakat di DKI angkat Fauzi Bowo sebagai pemimpin (di tengah-tengah banyak isu money politics, penyimpangan dalam registrasi pemilu, dsb), lalu Jakarta kena gempa bumi. Ada pula beberapa Jenderal yang mengaku telah menyogok pemimpin partai agar bisa menjadi cagub. Setelah semua partai memilih Fauzi, para jenderal itu minta uangnya dikembalikan (hal ini dilaporkan di koran). Berarti pencalonan ditentukan uang, dan bukan kemuliaan atau ketaatan pada agama Allah. Bukannya gempa bumi itu tanda bagi kita?

Pemda DKI (yang mengikuti kebijakan Pemda Medan) membuat perda yang melarang orang miskin mencari nafkah hidup, lalu Bengkulu kena gempa bumi, dengan rasa takut akan terjadi tsunami. Bukannya gempa bumi itu tanda bagi kita?

Kapan ummat Islam di negara ini akan kembali sadar bahwa Allah yang Maha Kuasa, dan Dia sudah menentukan agama yang paling benar untuk kita? Cukup kita mengikuti saja. Makin jauh kita dari agama Allah dan makin jauh dari contoh Nabi (yang dekat dan sayang pada anak yatim dan fakir miskin), makin banyak musibah yang menimpa negara ini. Kapan rakyat akan sadar? Kapan rakyat akan mulai berprotes terhadap pejabat-pejabat yang dzhalim? Kapan negara ini akan menjadi negara yang menuruti perintah Allah?

Kalau orang dewasa di sini tidak sanggup menjalankan perintah Allah (selain sholat dan puasa) bagaimana kita bisa mengajarkan ketakwaan kepada generasi mendatang?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

No comments:

Post a Comment