Monday, October 12, 2009

Korban Gempa Atau Marmer Dari Itali?


Assalamu'alaikum wr.wb.,

Pada hari Jumat setelah gempa di Padang, saya Shalat Jumat di sebuah masjid yang cukup besar di Jakarta Selatan. Setiap minggu, masjid itu kumpulkan uang untuk renovasi masjid yang sudah dijalankan selama beberapa bulan, sejak awal tahun ini. Beberapa bulan yang lalu, saya sempat bicara dengan salah satu pengurus masjid yang kenal saya. Dengan rasa bangga, dia ceritakan tentang marmer yang digunakan untuk lantai dan tembok di dalam masjid. Salah satu macam marmer tersebut cukup mahal karena diimpor dari Itali. (Tetapi mayoritas dari marmernya diambil dari Indonesia).

Saya tidak tahu kenapa tetapi sebelum tiba di masjid pada hari Jumat itu, setelah gempa Padang, saya sempat berfikir tentang amplop yang biasanya dibagikan kepada semua orang yang masuk masjid untuk kumpulkan dana renovasi. Karena baru 3 hari setelah gempa di Padang, saya merasa yakin bahwa mereka pasti akan kumpulkan uang pada hari itu untuk korban gempa, karena mereka pasti lebih peduli pada sesama Muslim di Padang daripada marmer dari Itali.

Saat tiba di masjid, ada orang yang membagikan amplop (seperti biasa) dan tulisan di atasnya adalah: “Renovasi Masjid” (seperti biasa). Saat shalat selesai, kotak kardus besar ditaruh di semua pintu keluar untuk kumpulkan amplop tersebut.

Setelah shalat Jumat, diadakan shalat ghaib untuk para korban di Padang. Tetapi selain dari shalat ghaib itu, saya tidak dengar ada orang yang bicarakan Padang dan khutbah juga tidak berkaitan dengan Padang. Juga tidak ada anjuran untuk berikan sumbangan untuk korban. Adanya shalat ghaib saja (setahu saya).

Bisa saja, para pengurus masjid kumpulkan uang untuk renovasi masjid dan berikan pada sebuah yayasan untuk Padang, tanpa mengumumkan kepada jemaah. Tetapi kayanya tidak mungkin, karena kalau mereka umumkan, lebih besar kemungkinan orang akan berikan lebih banyak.

Jadi, kesimpulan yang bisa saya dapatkan dari pengalaman itu adalah marmer dari Itali lebih utama dari menyelamatkan nyawa saudara sesama Muslim di Padang. Saya jadi berfikir (dan hampir mengatakan kepada pengurus), “Kenapa tidak pasang kubah emas juga biar lengkap!”

Beberapa hari yang lalu, saya kritik orang kaya di Indonesia yang bersedia keluarkan 1 triliun rupiah unutk sebuah partai politik, atau milyaran rupiah untuk beli mobil mewah. Ternyata, orang biasa yang tidak kaya juga lebih peduli pada barang2 yang bersifat duniawi daripada peduli pada saudara kita sesama Muslim di Padang dan di lain tempat.

Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau orang yang menjadi pengurus masjid (dan karena itu dianggap “mengerti agama”) lebih peduli pada marmer dari Itali daripada sesama Muslim yang menderita?

Daripada Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak akan tiba hari kiamat, sampai manusia bermegah-megahan dan berlebih-lebihan dalam urusan masjid;- (Riwayat Abu Dawud).

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Gene

1 comment:

  1. masjid di indonesia itu sudah terlalu banyak, dan hanya waktu2 tertentu jamaah masjidnya terisi penuh, dan mewah2 pula sampai di jadikan 'tempat wisata'... bahkan saking kebanyakn masjid , ada disalahsatu perumahan di bekasi yang pernah saya lewati, masjidnya benar2 tidak 'hidup'..dan tidak terurus padahal terbangun dengan lumayan bagus, itu hasil sumbangan arab saudi, sepiiii

    Bandingkan sama Rusia, ketika sholat eidh yang lalu, jamaahnya sampai membludak di moskow, tidak tertampung sampai memenuhi jalan, bahkan halaman gereja pun dijadikan tempat sholat.
    Masjid jami moskow tidak bisa menerima jamaah lagi yang semakin banyak, dan ijin perluasan dan juga membangun masjid lagi dipersulit pemerintahnya...

    coba..masjid2 indonesia disumbangkan saja ke sana.., agar masjid bisa lebih di'makmurkan' disana.

    ReplyDelete