Sunday, April 20, 2014

Sekolah Swasta Outsourcing, Bagaimana Dengan Sekolah Negeri?



[Pelecehan Seks di TK JIS, Artikel No.2]

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kita jadi terkejut dengan kejadian pelecehan seks di TK JIS. Itu sebuah sekolah swasta yang mahal, tapi memberikan izin terhadap orang luar masuk sekolah karena melakukan “outsourcing” (menyewa staf dari perusahaan penyedia jasa). Coba cek di sekolah negeri. Berapa banyak yang lakukan outsourcing? Tidak ada? Banyak anak malah berteman dengan tukang kebersihan, penjaga kantin dan satpam, dan anggapnya sebagai "teman" karena ketemu mereka terus selama sekian tahun, sama seperti gurunya. Sekolah swasta beda. Tempat yang mengikuti praktek bisnis, sampai ada staf marketing dan business development di dalamnya. Lalu untuk tambahkan profit, sifat komunitas sekolah yang semestinya dibangun lewat staf profesional dan fulltime malah dibuang dan diganti dengan "outsourcing" untuk menghemat uang! Dan sekarang baru ketahuan bagaimana siswa bisa menjadi korban dari praktek bisnis itu.

Apa belum pernah ada kejadian buruk serupa di sekolah swasta yang lain? Kita bisa tahu dari mana? Berapa banyak orang tua kaya berani hubungi media dan mengatakan “Anak saya diperkosa?” Ada pengacara yang sangat mahal yang dibayar oleh sekolah swasta untuk menjaga nama sekolahnya untuk kepentingan bisnis. Caranya, kalau orang tua menuduh apapun, sekolah balas dengan surat berisi ancaman, dan sebutkan pasal “pencemaran nama baik”. Banyak orang tua memilih diam. Kalau ada dugaan atau bukti anak dianiaya, sekolah bisa bayar untuk perawatan dan berikan uang damai. Banyak orang tua mau terima. Malu kalau nama orang tua masuk media. Apalagi kalau bukti tidak kuat. Dalam kasus JIS, ada bukti kuat, karena anak kena penyakit. Kalau anak hanya disentuh saja, tapi tidak diperkosa? Mau buktikan apa? Mau menuduh saja? Berani lawan pengacara sekolah?

Dan kalau ancam akan tarik anak dari sekolah, dipersilahkan saja. Sekolah yang untung. Uang pembangunan puluhan juta menjadi hangus (tidak ada refund) dan kursi kosong dijual ke orang tua lain. Jadi selama tidak bicara ke media, sekolah tetap untung. Kalau bicara tanpa bukti kuat, sekolah bisa mengancam. Dan kalua orang tua mau damai, sekolah bisa bayar. Jadi dari mana kita tahu kasus ini unik atau kasus pertama? Bisa saja sudah terjadi hal serupa beberapa kali di sekolah swasta, tapi selalu ditutupi. Hanya karena ibu yang sekarang ini berani ke media dan polisi kasus ini terungkap. Sekolah swasta pasti marah sekarang, karena keburukannya terbongkar.

Sifat yang lebih baik (yang tidak punya dasar bisnis) bisa ditemukan di sekolah negeri, dari guru PNS dan staff fulltime yang berdedikasi untuk membangun KOMUNITAS SEKOLAH dan bukan sebatas usaha swasta. Tapi apa yang terjadi di Indonesia? Orang yang kaya ramai2 tinggalkan sekolah negeri, dan kirim anaknya ke sekolah swasta. Makin mahal, dianggap makin baik. Kualitas pendidikan? Orang tua kadang tidak paham juga, dan hanya berasumsi. Yang penting mahal. Pasti lebih baik dari negeri.

Apa ada sekolah negeri dan guru PNS yang kurang baik? Ada! Tapi tidak berarti semuanya buruk dan perlu dibuang. Apa sekolah swasta adalah solusi? Terbukti tidak juga. Jadi apa yang mesti dilakukan?

Di Indonesia ada sekitar 100 juta orang tua, yang semuanya inginkan pendidikan yang baik bagi anaknya. Kalau semua orang tua di seluruh Indonesia BERSATU, dan mau tunjukkan dukungan pada masa depan SEMUA ANAK BANGSA, dan bukan hanya anak sendiri, maka semuanya bisa dukung pelatihan guru dan renovasi sistem pendidikan pada skala nasional. Guru yang baik bisa dibantu menjadi lebih baik lewat pelatihan, fasilitas sekolah bisa diperbaiki dan, guru yang kurang baik bisa pensiun. Sistem sekolah negeri mendukung staf fulltime yang berdedikasi untuk bangun sistem pendidikan berkualitas. Tapi staf outsourcing tidak pernah akan punya rasa seperti itu. Dari pengalaman saya, kebanyakan orang tua di Jakarta sibuk mengejar harta terus, karena salah satu tujuan utamanya adalah ANAK MEREKA harus bisa masuk sekolah swasta yang diasumsikan lebih baik. Anak tetangga diabaikan saja karena nasib mereka tidak penting. Yang penting hanya pendidikan bagi anak sendiri.

Kalau 100 juta orang tua di Indonesia mau berpikir tentang anak tetangga juga, dan MAU BERSATU, maka sistem pendidikan Indonesia BISA diperbaiki dan menjadi LEBIH BAIK dari sekolah swasta dalam waktu beberapa tahun saja. Tapi tanpa dukungan moral, politik, dana, dan rasa kebersamaan, tidak akan terjadi perubahan. Kebanyakan orang tua tidak peduli kalau guru di sekolah anaknya berhasil menjadi PNS atau tidak. Guru yang berdedikasi tinggi dibiarkan hidup dalam kemiskinan selama puluhan tahun, karena 100 juta orang tua tidak mau peduli padanya. Dan daripada mendukung para guru yang baik, orang tua itu hanya ingin utamakan anaknya sendiri dengan berusaha masuk sekolah swasta terus (walaupun harus korupsi di kantor agar ada uang untuk masukkan anaknya ke sekolah swasta).

Kalau orang tua di seluruh Indonesia BERSATU dan berusaha untuk memperbaiki sistem pendidikan NEGERI, saya yakin bisa berhasil. Tapi sampai sekarang semua orang tua hanya inginkan anaknya masuk sekolah swasta. Ingin kaya untuk mendukung sistem “bisnis pendidikan” di atas sistim “pendidikan negeri”. Lalu anak dikirim ke universitas di luar negeri juga daripada diberikan bantuan terhadap universitas dalam negeri. Kebanyakan orang tua tidak mau maju dan bertindak untuk ajak semua orang tua peduli pada sistem pendidikan nasional. Pendidikan negeri sebatas  dikatakan rusak dan ditinggalkan. Lalu siapa yang akan memperbaikinya, kalau orang tua di seluruh negara juga tidak mau peduli?

Sekarang, sayangnya, orang tua yang kaya menjadi korban dari sikap mereka sendiri. Sekolah swasta yang pakai praktek bisnis yang dianggap sebagai keselamatan bagi anak mereka, malah menjadi sumber kerusakan besar bagi anak mereka. Mungkin sudah saatnya untuk mulai introspeksi. Berhenti memberikan dukungan terhadap privatisasi dunia pendidikan yang pakai praktek bisnis. Berikan dukungan terhadap sistem pendidikan negeri. Dukung para guru berkualitas yang berdedikasi tinggi, dan peduli pada nasib mereka. Pastikan mereka bisa menjadi PNS dan dapat gaji dan kehidupan yang layak dan bantu mereka menjadi lebih baik lagi. (Dan secara bertahap, guru yang kurang baik bisa pensiun dan diganti dengan generasi baru).

Tetapi kalau orang tua yang peduli pada Indonesia tetap mendukung gerakan privitasi sekolah, maka tunggu saja. Nanti akan ada kejadian yang buruk lagi di sekolah swasta, karena sekolah swasta adalah BISNIS. Dan kita semua sudah tahu bagaiman dunia bisnis di Indonesia tidak peduli pada apapun selain profit. Sekarang baru dipahami efek samping yang bisa terjadi kalau pendidikan anak bangsa diserahkan pada pengusaha yang mendirikan sekolah swasta. Kebetulan, TK JIS yang mengalami masalahnya sekarang. Tunggu saja sampai sekolah swasta lain juga mengalami masalah. Mungkin sudah pernah terjadi beberapa kasus pelecehan seks sebelum ini, tapi orang tua dibayar untuk “damai” dengan sekolah swasta, karena mereka tidak inginkan namanya masuk media. Orang tua dibujuk untuk memaafkan sekolah, terima bayaran, dan petugas cleaning service dipecat saja. Itu suatu tindakan yang bisa dilakukan oleh pemilik sekolah swasta yang berorientasi bisnis.

Hanya orang tua yang bisa menghentikan privitasi sekolah dan dukungan gerakan terhadap perbaikan sistem pendidikan nasional, untuk kepentingan masa depan bangsa! Semoga orang tua di seluruh Indonesia akan mulai introspeksi.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Artikel terkait kasus Pelecehan Seks di TK JIS
1. Sekolah Swasta Merusak Konsep Komunitas Sekolah Dengan Outsourcing
2. Sekolah Swasta Outsourcing, Bagaimana Dengan Sekolah Negeri?
3. “Nama Baik” Di Sekolah Swasta

No comments:

Post a Comment