Search This Blog

Labels

alam (8) amal (45) anak (315) anak yatim (75) bilingual (21) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (84) dhuafa (6) for fun (12) Gene (168) guru (68) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (32) hukum (57) hukum islam (51) indonesia (487) islam (542) jakarta (27) kekerasan terhadap anak (371) kesehatan (94) Kisah Dakwah (13) Kisah Sedekah (9) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (22) KPK (12) Kristen (14) lingkungan (18) mohon bantuan (13) muallaf (50) my books (2) orang tua (11) palestina (33) parenting (2) pemerintah (99) Pemilu 2009 (36) pendidikan (497) pengumuman (23) perang (9) perbandingan agama (12) pernikahan (11) pesantren (48) politik (111) Politik Indonesia (29) Progam Sosial (15) puasa (35) renungan (187) Sejarah (5) sekolah (94) shalat (11) sosial (281) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

26 July, 2026

Ustadz Google Sangat Aktif di Selandia Baru

Assalamu’alaikum wr.wb. Di kota Hamilton ini di Selandia Baru, saya sudah bertemu beberapa orang lokal yang masuk Islam. Ada yang dari 25 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, dan 1 minggu yang lalu. Ketika saya tanya kepada semuanya, “Apa kamu punya guru agama?” semuanya menjawab, “Tidak ada!” Lalu saya bertanya, mereka belajar mana, dan semuanya bilang “Dari Google”. Menyedihkan sekali. Saya bertemu seorang pemuda di masjid yang baru seminggu masuk Islam. Saya bertanya, siapa yang mengajarkan kamu caranya melakukan shalat? Dia jawab, tidak ada. 

Lalu dia jelaskan, pada setiap waktu shalat, dari Subuh sampai Isya, dia naik mobil dan pergi ke masjid untuk mengikuti shalat berjemaah. Sedang hujan, ke masjid. Suhu nol derajat, ke masjid. Kenapa? Karena belum ada yang mengajarkan dia tata cara shalat jadi tidak bisa shalat di rumah!! Jadi datang ke masjid terus karena sangat takut 1 waktu shalat akan berlalu, dan dia tidak bisa laksanakannya sendirian karena tidak tahu caranya. Di suatu negara yang lain, yang tidak perlu disebutkan namanya, ada banyak remaja dan pemuda yang punya akses terhadap ribuan masjid dan ribuan ustadz, tetapi malah malas shalat dan malas menuntut ilmu. Ibaratnya ada satu orang yang kelaparan, dan satu orang lain yang buang makanan yang lezat karena malas makan, dan sekaligus juga anggap makanan tidak penting amat karena dikasih dari orang tua sejak lahir, jadi buat apa perlu peduli pada makanan? 

Saya tidak tahu apa mesti menangis atau teriak. Di kota Auckland (yang paling besar) ada asosiasi untuk muallaf. Di kota2 yang lebih kecil, sepertinya tidak ada (walaupun ada ribuan Muslim dan muallaf di situ). Ketika saya bertanya ke teman2 Muslim di Hamilton, semuanya menjawab, “Tidak ada yang bisa menjadi guru.” Ada yang punya ilmu tetapi terlalu sibuk. Ada yang punya waktu tetapi merasa ilmunya kurang. Hasilnya, tidak ada yang mau maju untuk menjadi pembina bagi banyak (ratusan?) muallaf, dan mungkin kondisi ini sama di seluruh negara (kecuali di kota yang besar). Sepertinya tidak ada muallaf center nasional yang dibangun untuk menolong semua muallaf di semua kota, dengan sebarkan ilmu lewat internet. Jadi setiap 1 orang yang masuk Islam hanya bisa belajar dari Ustadz Google selama beberapa tahun. Semoga semua orang yang berguru ke Ustadz Google tidak menjadi bingung atau sesat. 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...