Banyak orang bertanya, berapa gajinya yang umum di Selandia Baru, jadi saya cari infonya. Memang bisa dapat “gaji tinggi” di sini. Tapi jangan lupa, biaya hidup juga SANGAT tinggi. Jadi gaji tinggi tidak begitu terasa, dan hanya jadi bermanfaat kalau bisa hemat uang terus dan dibawa ke Indonesia untuk ditukar dengan rupiah. Kalau dipakai terus di Selandia Baru, tetap saja tidak cukup.
Median gaji tahunan, yang mencerminkan penghasilan pekerja pada umumnya, adalah NZ$ 5.800 per bulan, atau Rp 58 juta. Tetapi rata-rata biaya hidup tahunan di Selandia Baru berkisar antara sekitar Rp. 42-54 juta per bulan untuk satu orang dewasa saja. Biaya untuk keluarga berempat adalah Rp. 62-79 juta per bulan.
Jadi “orang biasa” bisa dapat gaji Rp. Rp 58 juta per bulan tetapi ada biaya hidup 42-54 juta per bulan juga untuk 1 orang saja. Kalau berhasil menghemat Rp. 50 juta per tahun, terdengar banyak bagi orang kampung di Indonesia. Tetapi di Selandia Baru, itu hanya menjadi $ 5.000. Kalau mobil rusak 1 kali, dana segitu bisa habis. Dan kalau bertanya ke banyak orang biasa, apakah mereka punya 5 ribu dolar, sebagian akan jawab iya, tetapi mereka juga takut menghabiskannya, karena takut akan dibutuhkan pada bulan-bulan mendatang.
Artinya, banyak sekali orang yang menjadi pekerja biasa tetap hidup pas-pasan dan susah menabung. Sekali liburan, tabungan habis. Dan kalau di RUSD harus menunggu 1 tahun untuk dapat operasi gratis, bayar untuk 1 kali operasi di rumah sakit swasta bisa habiskan tabungan juga. Ada banyak cara untuk kosongkan tabungan di sini, disebabkan pengeluaran yang tidak dipikirkan, lalu kembali hidup dalam kesulitan, walaupun gajinya terlihat “tinggi” kalau dirupiahkan.
Dan jangan lupa, biaya listrik, gas, bensin, internet, kontrakan, makanan, dll. juga sangat tinggi. Tidak bisa mampir ke warung untuk makan siang dengan biaya Rp 50.000. Apapun yang mau dibeli, dijamin akan mahal. Di sini, banyak orang berkomentar bahwa gaji tetap sama setiap tahun, tetapi harga barang naik terus, dan pajak juga naik terus. Jadi daya beli masyarakat turun terus, jadi kalau tahun kemarin terasa “oke”, tahun ini bisa terasa “berat”. Jadi jangan mengira hanya ada kesulitan hidup di Indonesia saja. Negara maju tidak jauh beda. Walaupun lingkungannya bersih dan indah. Banyak orang tidak peduli pada keindahan taman kota kalau tidak punya uang juga.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
Search This Blog
Labels
Popular Posts
-
[Pertanyaan]: 1) Saya mau nanya nih, saya pernah melakukan onani setelah berbuka puasa. Apakah puasa saya pd hari itu di terima? 2) Saya per...
-
Assalamu'alaikum wr.wb. Kemarin saya sibuk ketemu orang bule yang masuk Islam karena mau menikah dengan wanita Indonesia. Saya diberi...
-
Assalamu’alaikum wr.wb. Ini Bab Pertama dari buku saya Mencari Tuhan, Menemukan Allah.(Baru terbit dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia be...
-
Assalamu’alaikum wr.wb. Ada orang yang mengatakan dia capek dan kesiangan, jadi baru bangun jam 8 pagi, dan tidak bisa shalat subuh. Saya b...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Seperti biasa, ini kisah rekayasa, dengan menggunakan nama orang yang benar. Prof. Fidelma O'Leary mema...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Orang sering berkomentar kepada saya, kok banyak orang bisa melakukan korupsi padahal mereka shalat dan puasa. Ka...
-
Sabtu, 6 Okt 07 14:50 WIB Assalamu'alaikum Ustadz, Saya ingin menanyakantentang pemakaian Jilbab oleh muslimah, karena beberapa ...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ada seorang isteri yang bertanya apa benar bahwa dia mesti “taat pada suami” walaupun suaminya ketahuan ber...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ada beberapa komentar di blog saya dari orang yang inginkan hukum syariah diterapkan dengan cepat, dan mereka kecew...
-
Pertanyaan Assalamu'alaikum wr.wb., Saya mau bertanya kalau orang Muslim boleh mendoakan orang non-Muslim? Kalau ada teman atau sauda...
29 September, 2026
Di Selandia Baru, Gaji Tinggi, Tapi Biaya Hidup Juga Tinggi
08 September, 2026
Menjelaskan Islam Secara Sederhana
Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin, saya diskusi dengan 2 wanita di halaman masjid. Salah satunya pakai jilbab, dan temannya tidak. Saya memberi tahu mereka bahwa saya selalu menjelaskan Islam kepada semua orang dengan cara yang sederhana dan logis:
1. Islam adalah penggantinya agama Kristen dan Yahudi. (Satu kalimat itu menjelaskan agama Islam!)
2. Setiap nabi baru adalah penggantinya nabi sebelumnya.
3. Ini mirip dengan versi Windows yang diperbarui terus. Tidak ada yang menggunakan Windows 95, atau Windows XP, atau Windows Vista sekarang. Semuanya digantikan dengan versi baru.
4. Beberapa nabi besar diberikan pesan (kitab suci) untuk umat manusia dan pesan tersebut juga diperbarui.
5. Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir, dan tidak ada seorang pun nabi sebelumnya yang dinyatakan “terakhir”.
6. Semua nabi adalah Muslim karena “Muslim” berarti “orang yang berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.”
7. Kita hanya punya 2 pilihan: Taat kepada Tuhan, atau tidak taat kepada Tuhan.
8. Jadi, kita bisa 1) Menyembah Tuhan dengan cara yang Dia tentukan untuk kita, atau 2) Memilih sendiri cara menyembah Tuhan, melakukan apa pun yang kita inginkan, dan tidak perlu peduli pada apa yang ditentukan oleh Tuhan sebagai Kebenaran.
9. Hanya Muslim yang taat kepada Tuhan. Kita tidak memilih sendiri. Kita mendengar Perintah Tuhan, dan kita taat kepada-Nya. Kita menerima semua nabi, dan kitab sucinya, tetapi hanya Nabi Terakhir dan Kitab Suci Terakhir yang SAH.
Ketika saya selesai menjelaskan Islam seperti itu (berbicara sekitar 10 menit), wanita kedua (yang tidak pakai jilbab, tetapi saya berasumsi Muslim juga) meneteskan air mata. Saya sedikit kaget melihat hal itu, karena biasanya hanya terjadi ketika saya bertemu dengan non-Muslim untuk menjelaskan Islam kepadanya. Dari pengalaman saya, air mata itu yang keluar saat mendengar penjelasan tentang Islam adalah tanda bahwa mereka sedang menerima hidayah, dan banyak non-Muslim menjadi Muslim setelah itu. Ketika saya pergi tinggalkan mereka, saya bertanya kepada teman laki-laki saya apakah dia mengenal kedua wanita itu. Dia menjawab Ya, sudah kenal, dan yang pakai jilbab itu sering ke masjid. Saya jelaskan bahwa temannya hampir menangis ketika saya menjelaskan Islam. Teman saya berkata, “Dia non-Muslim”.
Islam itu sederhana. Kita seharusnya bisa mengajarkan Islam kepada orang lain tanpa perlu penjelasan yang rumit. Tetapi saya ingat ketika saya berusia 24 tahun dan bertanya kepada beberapa orang Muslim di Australia dan Indonesia tentang Islam. Banyak orang berkata, “Saya tidak bisa jawab”, karena mereka “bukan ustadz”. Jadi, mereka takut mengatakan “sesuatu yang salah” dan hanya bisa suruh saya bertanya kepada orang lain saja. Saya dapat pengalaman itu berkali-kali, dan pada saat itu belum ada internet, jadi saya hanya bisa berharap pada manusia di depan saya.
Kalau apa yang saya tulis di atas itu diajarkan kepada semua anak Muslim di sekolah, maka semua Muslim ketika sudah dewasa seharusnya merasa cukup berani untuk menjelaskan Islam kepada siapa pun, kapan pun, di mana pun. Sebenarnya sangat mudah untuk menjelaskan Islam kepada orang lain, jadi kita tidak perlu membuatnya rumit dan tidak perlu takut menyampaikan kebenaran itu kepada siapa pun.
Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

