Search This Blog

Labels

alam (8) amal (45) anak (315) anak yatim (75) bilingual (21) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (85) dhuafa (6) for fun (12) Gene (168) guru (68) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (32) hukum (57) hukum islam (52) indonesia (487) islam (542) jakarta (27) kekerasan terhadap anak (371) kesehatan (94) Kisah Dakwah (13) Kisah Sedekah (9) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (22) KPK (12) Kristen (14) lingkungan (18) mohon bantuan (13) muallaf (51) my books (2) orang tua (11) palestina (33) parenting (2) pemerintah (99) Pemilu 2009 (36) pendidikan (497) pengumuman (23) perang (9) perbandingan agama (12) pernikahan (11) pesantren (48) politik (111) Politik Indonesia (29) Progam Sosial (15) puasa (35) renungan (187) Sejarah (5) sekolah (94) shalat (11) sosial (281) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

29 July, 2026

Beberapa Muallaf Di Selandia Baru Belum Paham Hukum Sunat, Ilmu Apa Lagi Yang Kurang?

Assalamu’alaikum wr.wb. Di Selandia Baru, saya bertanya tentang sunat kepada salah satu muallaf. Dia jawab belum disunat, dan belum pernah dengar tentang itu. Ada yang jelaskan, itu bukan topik yang umum dibahas di sini karena dianggap sensitif dan urusan pribadi saja. Ya Allah. Suatu kejutan baru di sini. Lalu saya bertanya kepada beberapa muallaf, apa sudah disunat? Ada yang sudah, ada yang belum. Katanya, biaya sunatan bisa seharga Rp. 12-17 juta. Mungkin sulit didapatkan dari rumah sakit pemerintah karena sekarang rakyat anggap sebagai siksaan terhadap anak kecil, dan dokter bilang tidak dibutuhkan lagi. Mungkin mahal di sini karena harus bayar ke dokter kulit di rumah sakit swasta. Di Indonesia, bayar ratusan ribu, dan setengah jam sudah selesai.

Satu pria yang sudah lama menjadi Muslim berkata bahwa saya adalah orang pertama yang bertanya kepadanya, jadi dia tidak tahu apa-apa. Banyak muallaf di sini tidak pernah dapat guru (selain Ustadz Google bin Yahoo), jadi tidak paham tentang sunat karena informasi itu tidak muncul secara otomatis saat mencari ilmu lain di internet. Lalu pria itu bilang dia akan coba baca dulu di Google, biar paham. Ya Allah, kok jadi begini?

Apa hal ini terjadi di banyak KOTA yang lain, dan banyak NEGARA yang lain? Ada teman yang bercerita kemarin tentang muallaf yang dia kenal di suatu kota di Amerika Selatan, yang belajar sendirian, tanpa guru, tanpa bantuan, dan tanpa komunitas. Dan saya pernah dengar hal serupa dari beberapa orang di Australia, Amerika, Inggris, Irlandia, Jerman, Kanada, Filipina, dan Indonesia juga.

Jadi ada berapa juta muallaf di dunia ini, yang diabaikan oleh umat Islam setempat, karena setiap negara tidak punya sistem untuk mengurus muallaf? Kenapa tidak bisa dibentuk organisasi nasional di setiap negara? Tidak terlalu sulit karena hanya perlu sebarkan ilmu agama lewat sebuah situs di internet, berikan buku panduan, tulisan, dan video yang bisa disimpan, dan info tentang komunitas dan guru agama di setiap kota yang bisa mendidik muallaf. Gitu aja kok repot??

Saya dulu mempunyai ide yang sama di Indonesia, sekitar 17 tahun yang lalu. Saya bergabung dengan beberapa pembina muallaf yang lain, dan kami membentuk sebuah persatuan yang libatkan 25 organisasi pembina muallaf, dan ingin membangun komunitas nasional. Tetapi sulit diteruskan karena ada beberapa kendala di saat itu, dan akhirnya semuanya dibubarkan tanpa hasil. Lalu apa yang menjadi kesulitan di negara maju seperti Selandia Baru?

Ada berapa juta muallaf di seluruh dunia yang sudah masuk Islam dan berharap akan dibantu belajar? Insya Allah di kota besar seperti London, New York, dsb., ada komunitas yang aktif dan kuat. Tetapi bagaimana dengan semua kota yang lain, di semua negara yang lain? Kalau ada yang masuk Islam di kota ukuran sedang di Kamboja, Nepal, Moldova, Lituania, Republik Ceko, Guatemala, Argentina, Bolivia, dll. siapa yang akan merangkul mereka dan membinanya? Jangankan di sana, di Selandia Baru saja tidak ada jaminan!! Jangankan di Selandia Baru, di DKI Jakarta tidak ada jaminan!!

Siapa yang mau bertanggung jawab di hadapan Allah SWT kalau nanti di akhirat, jutaan orang, yang Muslim dari lahir, ditanyakan tentang tetangganya di kota yang sama, yang masuk Islam lalu dibiarkan sendirian bertahun-tahun, tanpa ada yang berusaha mendidiknya? Siapa yang berani mengatakan, “Bukan urusan saya” di depan Allah nanti? Dunia ini penuh dengan pengusaha Muslim yang kaya, dan guru Muslim yang ilmunya luas, dan anak Muslim yang ahli IT, yang bisa membuat situs berkualitas, dalam banyak bahasa, untuk menjadi tempat belajar bagi jutaan muallaf. Masa hal seperti itu terlalu sulit bagi kita? Masa Indonesia tidak bisa menjadi pelopor global?

Pada saat orang non-Muslim bisa kirim robot ke planet Mars, kenapa kita malah kesulitan membangun satu situs, dan juga komunitas nasional dan global, yang bisa membantu para muallaf? Kasihan sekali kita, yang begitu sibuk dengan urusan dunia dan urusan akhirat masing-masing, sampai orang yang kehausan dapat ilmu di depan kaki kita malah dilangkahi dengan cepat karena kita buru-buru kejar Rahmat Allah di tempat yang lain. 

Banyak orang bicara terus tentang “kebutuhan dakwah”, tetapi siapa yang bicara tentang apa yang perlu dilakukan sesudah dakwah itu berhasil? Ibaratnya kita semangat bantu korban bencana lalu bilang “semuanya” boleh datang ke Posko dan kita akan membantunya. Kalau ternyata 3 juta orang yang datang, siapa yang mau mengurusnya? Harus ada sistem. Kalau tidak ada sistem untuk membantu orang yang mencari bantuan, hasilnya adalah orang yang menjadi Muslim bertahun-tahun, tetapi belum pernah dengar tentang hukum sunat. Ilmu apa lagi yang belum sampai kepadanya?

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,  
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...