Search This Blog

Labels

Popular Posts

14 October, 2026

Umat Islam di Negara Barat - Kehidupan Dalam Sangkar Emas

Assalamu’alaikum wr.wb. Setelah tinggal di Selandia Baru beberapa minggu, saya bertemu seorang imigran dari Afghanistan dan dia menceritakan banyak hal yang mengejutkan tentang kehidupannya di sini. Setelah 10 tahun tinggal di negara maju ini, dia merasa tidak bahagia, dan mengatakan banyak teman Muslimnya menyesal datang ke negara ini. Dia seorang tukang yang dipanggil untuk kerja di rumah orang, jadi dia bergantung pada warga lokal untuk telfon dan memesan jasa. Tetapi setelah dia menyebutkan nama Muslimnya, banyak orang berubah, dan tiba-tiba tidak membutuhkan bantuan lagi.

Orang di jalan dan toko bertanya kepadanya dan keluarganya, “Kalian berasal dari mana?” Istrinya juga sering diminta melepas jilbabnya! Setelah menjelaskan mereka berasal dari Afghanistan, pertanyaan selanjutnya adalah, “Mengapa kalian berada di sini?” Beberapa orang lokal tidak senang dengan peningkatan imigrasi dan mereka kecewa dengan pemerintah karena membiarkan lebih banyak “orang berkulit coklat dan hitam” datang ke sini. Mereka mengatakan sekolah dan rumah sakit “penuh karena imigran”.

Saat melamar kerja dengan nama Muslim, mereka ditanya, “Apakah anda seorang Muslim? Jadi, anda harus berhenti kerja untuk salat? Dan berpuasa saat Ramadhan? Jadi hal-hal itu akan merugikan perusahaan kami, betul?” Rupanya, sebagian dari perusahaan tersebut sangat membutuhkan pekerja tambahan, dan hanya mau mempekerjakan Muslim karena penduduk lokal kulit putih tidak tersedia.

Satu keluarga datang dari Afghanistan. Setelah anak-anak mereka dewasa, sang ibu ceraikan suaminya. Salah satu anak perempuan menikah dengan pria non-Muslim, menjadi hamil, lalu bercerai juga. Dan anak-anak itu berhenti melaksanakan salat karena mereka hidup seperti orang Barat, tanpa agama. Akibatnya, orang tua menjadi depresi, dan anak-anak juga depresi, dan orang tua menyesal pernah datang ke sini.

Ada tekanan untuk “berasimilasi” dan menjadi seperti penduduk lokal, hanya berbicara dalam bahasa mereka, berpakaian seperti mereka, makan seperti mereka, minum alkohol dan berjudi seperti mereka, menikmati kehidupan ini seperti mereka, dan mengganti budaya sendiri dengan budaya mereka. Jika anda mau melakukan itu, maka anda akan dianggap “imigran yang baik”. Dan jika anda ingin mendapatkan pekerjaan, mungkin lebih baik mengubah nama juga. Buang nama “Muhammad Salahuddin” dan jadilah “Dean”, supaya rakyat lokal lebih mudah menerima anda.

Banyak orang tua Muslim khawatir tentang masa depan anak dan cucu mereka. Akankah mereka kehilangan identitas mereka? Seorang pria berkata, “Lebih baik hidup miskin di negara asal saya di mana anak-anak saya beriman kepada Allah, daripada tinggal dalam istana di Barat tetapi anak-anak saya menjadi tersesat!” Jadi, jika seseorang ingin tinggal di negara maju untuk dapat “kehidupan yang lebih baik” di negara Barat yang bagus, bersih, dan maju, tetapi setelah bertahun-tahun, anak-anaknya telah kehilangan iman, bahasa, dan budaya mereka, lalu apa sebenarnya yang didapatkan oleh orang tua itu? Faktanya, mereka kehilangan semua yang penting bagi mereka.

Seorang insinyur IT Muslim mengatakan bahwa di hampir setiap pekerjaan yang dia lamar, pekerjaannya akan menguntungkan AS dan Israel. Semua sistem IT dan jaringan keamanan terhubung dengan negara-negara tersebut. Jadi, dia berhenti bekerja di bidang itu, lalu kesulitan mendapatkan pekerjaan karena nama Muslimnya, dan kemudian menjadi sopir taksi saja.

Banyak orang mengatakan ada berita rutin tentang usaha kecil yang bangkrut di Selandia Baru. Setiap tahun, semakin sulit mendapatkan pekerjaan, dan banyak orang pindah ke Australia atau Amerika untuk mencari pekerjaan dan gaji yang lebih tinggi. Jadi, pemerintah Selandia Baru mendatangkan lebih banyak imigran untuk melakukan pekerjaan yang tidak diinginkan penduduk lokal (seperti menjadi tukang kebersihan, sopir, dll.) dan juga mendatangkan dokter imigran (dan pekerja profesional yang lain), setelah banyak dokter dan perawat lokal juga pergi ke luar negeri untuk dapat gaji yang lebih tinggi. Semua orang yang saya ajak bicara (orang lokal dan imigran) mengeluhkan kondisi ekonomi, biaya hidup yang tinggi, dan betapa sulitnya untuk maju. Selain kelas menengah atas dan orang kaya, semua orang lain tampaknya “menderita” dan tidak bahagia.

Seorang bapak berkata, ketika dia berada di Afghanistan, ada bahaya fisik terus disebabkan perang selama 20 tahun. Tetapi di Selandia Baru, ada "bahaya spiritual" terus, dan itu terasa lebih buruk daripada bahaya perang!! Saat ada bahaya fisik dari perang, dia hanya dalam bahaya ketika bom jatuh di dekat rumahnya. Tetapi di sini, ada bahaya spiritual tanpa henti. Setiap hari, keluarganya menghadapi tekanan untuk "berasimilasi" dan membuang hal-hal yang penting bagi mereka: Agamanya, bahasanya, budayanya, dan bahkan nama mereka juga. Lalu, apa yang akan terjadi pada anak dan cucu mereka di masa depan? Jadi, dia menyesal datang ke sini dan sedang membuat rencana pulang kampung ke Afghanistan, dan beberapa orang tua lain mengatakan hal yang sama kepada saya.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat Islam di Indonesia agar bisa merenung kembali tentang keinginan mereka untuk tinggal di negara Barat. Dan juga bisa lebih bersyukur atas semua nikmat yang Allah SWT berikan ketika anda diizinkan lahir dan menetap di Indonesia seumur hidup. Kalau anda mau komplain tentang semua hal yang “rusak”, harus dipahami bahwa di negara lain juga banyak yang rusak dulu. Tetapi setelah rakyat BERSATU dan berjuang bersama, mereka berhasil memperbaiki negaranya, menjadi negara maju. Anda juga bisa.

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto



Bayi Baru Lahir Ditemukan Dalam Tas Di Tumpukan Sampah Di Jakbar

 Berikan kabar gembira kepada para orang tua yang belum memiliki keturunan. Mungkin sudah pusing karena biaya IVF mahal dan tidak terjamin, dan juga harus menunggu lama dalam proses adopsi yang rumit dan mahal. Tidak perlu pusing lagi. Cukup mampir ke tempat sampah di kota mana saja, dan bisa ambil bayi gratis siap saji yang telah dibuang oleh orang lain. Kalau ketemu anak dengan badan sempurna, yang sehat dan ganteng, silahkan diambil. Tetapi harus bersabar dan mencari terus, karena bayi gratis seperti itu tidak akan muncul di setiap tempat sampah setiap hari. Kalau beruntung dan datang pada saat yang pas, bisa ketemu seekor bayi gratis buangan dan boleh dibawa pulang untuk menjadi milik sendiri. Kalau mau punya keluarga besar, cukup cari terus setiap hari di beberapa tempat sampah. Dalam sebulan bisa dapat beberapa anak, tanpa perlu cari di kota yang lain. Selamat mencari, semoga beruntung!! 
-Gene Netto 

Bayi Baru Lahir Ditemukan Dalam Tas Di Tumpukan Sampah Di Jakbar
Warga menemukan bayi baru lahir dalam kondisi terbungkus dalam tas di tumpukan sampah di Palmerah, Jakarta Barat. Bayi malang berjenis kelamin laki-laki tersebut ditutupi seprei kecil dan dalam kondisi telanjang. “Matanya melek, bersih, dan cakep banget," ungkapnya. 
https://www.antaranews.com/berita/5778773/bayi-baru-lahir-ditemukan-dalam-tas-di-tumpukan-sampah-di-jakbar 



Berapa Besarnya Pengaruh Dari Muslim Indonesia Di Amerika?

Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya menulis tentang orang Muslim yang pindah ke Amerika dan Eropa. Ada yang berkata semuanya merupakan “pejuang dakwah dan pejuang masjid”, hanya disebabkan mereka pindah ke sana. Mohon maaf, saya kurang setuju. Mereka (mayoritasnya) pindah untuk mencari kenikmatan dunia, bukan untuk berdakwah. Lalu ada orang yang kebakaran jenggot, dan merasa “dituduh” tidak berjuang, padahal saya jelas tidak membahas “semua Muslim”. Ada yang bilang saya bicara tanpa data. Jadi, saya kumpulkan data yang bisa digunakan untuk membuat analisis dan diskusi. 

“Ketika diminta untuk menjelaskan alasan mereka menjadi Muslim, para mualaf memberikan berbagai alasan. Sekitar 25% mengatakan mereka lebih menyukai kepercayaan atau ajaran Islam daripada agama mereka sebelumnya, sementara 21% mengatakan mereka membaca teks-teks agama atau mempelajari Islam sebelum membuat keputusan untuk pindah agama. Yang lainnya mengatakan mereka ingin menjadi bagian dari suatu komunitas (10%), bahwa pernikahan atau hubungan adalah motivasi utama (9%), bahwa mereka diperkenalkan pada agama tersebut oleh seorang teman, atau bahwa mereka mengikuti seorang pemimpin publik (9%).” (Sumber: The Share Of Americans Who Leave Islam Is Offset By Those Who Become Muslim [“Proporsi Orang Amerika Yang Meninggalkan Islam Diimbangi Oleh Mereka Yang Masuk Islam”]).

Diperkirakan minimal 20 ribu orang menjadi Muslim di Amerika setiap tahun. Tetapi jumlah yang murtad juga sekitar 20 ribu! Dinyatakan bahwa hampir 25% dari semua orang yang dibesarkan sebagai Muslim di Amerika murtad ketika dewasa. Dari jumlah yang murtad itu, 51% menjadi “tidak beragama” alias ateis. Lalu 22% menjadi Kristen, dan 21% masuk agama-agama lain, seperti Buddha, atau menjadi orang yang punya perasaan spiritual tanpa agama.

Dalam survei terhadap para muallaf, sekitar 4,5% mengatakan bahwa mereka dikenalkan pada Islam oleh “seorang teman”. (Dan 4,5% yang lain mengikuti seorang tokoh publik terkenal, tanpa disebutkan negara asalnya.) Jadi 4,5% dari 20 ribu muallaf adalah 900 orang. Mereka masuk Islam karena kenal seorang Muslim, dan persahabatan itu memberikan pengaruh terkuat. (Untuk analisis ini, yang menikah dengan Muslim, atau ikuti ceramahnya tokoh Muslim dari mancanegara, tidak akan dilihat karena fokus utama adalah pengaruh dari Muslim Indonesia yang memperkenalkan Islam secara langsung kepada calon muallaf.) Ada sekitar 96 ribu orang Indonesia di Amerika pada tahun 2025. Hanya 25% dari mereka adalah Muslim. (Mayoritasnya beragama Protestan dan Katolik.) Jadi 25% dari 96 ribu adalah 24 ribu Muslim Indonesia di Amerika.

Hanya 900 orang Amerika masuk Islam karena dikenalkan pada Islam secara langsung oleh seorang teman Muslim. Tetapi ada 3.45 juta Muslim di Amerika dari mancanegara. Jadi 24 ribu Muslim Indonesia adalah 0,7% dari total Muslim di Amerika. Jadi kalau 900 orang Amerika masuk Islam karena terima dakwah langsung dari seorang teman Muslim, berarti hanya 0,7% dari teman tersebut adalah orang Indonesia. Jadi 0,7% dari 900 adalah 6,3 orang (katakan, 7 orang) yang masuk Islam setiap tahun karena terpengaruh oleh seorang Muslim dari Indonesia. Sisanya, 893 orang, masuk Islam karena kenal Muslim dari negara lain. Dan mayoritasnya dari 20 ribu muallaf Amerika masuk Islam setelah belajar sendiri atau membaca Al Qur’an tanpa ada pengaruh sedikitpun dari orang Muslim Indonesia terhadap mereka.

Kalau ada 24 ribu Muslim Indonesia di Amerika, dan disebabkan kehadiran mereka, hanya sekitar 7 orang Amerika menjadi muallaf setiap tahun, berarti untuk setiap 1 muallaf, butuh 3,428 Muslim Indonesia. Dalam kata lain, setiap 1 Muslim Indonesia punya pengaruh sebesar 0,0292% terhadap setiap 1 muallaf Amerika. Ini yang didapatkan kalau kita lihat “persentase” dari Muslim Indonesia dan muallaf Amerika. Juga mungkin ada 1 Muslim yang punya pengaruh besar, karena aktif melakukan dakwah. Tetapi hal itu berarti semua Muslim Indonesia yang lain tidak berguna sedikitpun. Juga ada pengaruh (di luar perhitungan ini) dari tokoh agama nasional, tetapi dalam survei tidak disebutkan negara asalnya, jadi tidak ketahuan apakah mereka orang Indonesia atau tidak. 

Jadi, setelah orang Muslim dari Indonesia berangkat ke Amerika, dan secara otomatis dicap “pejuang dakwah dan pejuang masjid” oleh penggemarnya di Indonesia, ternyata hanya ada sekitar 7 orang Amerika yang masuk Islam setiap tahun, DISEBABKAN mereka terpengaruh secara langsung oleh seorang Muslim Indonesia. Kalau semua Muslim yang berangkat ke sana dicap “pejuang dakwah”, kenapa pengaruhnya dari 24 ribu Muslim Indonesia tidak lebih besar?

Jumlah penduduk Amerika adalah 333,29 juta orang pada tahun 2025, dikurangi 3,45 juta Muslim. Jadi dari total 330 juta warga Amerika yang non-Muslim, hanya 7 orang masuk Islam setiap tahun, setelah kenal seorang Muslim dari Indonesia. Jadi setelah Muslim Indonesia berangkat ke sana, hanya 0,000002% dari jumlah penduduk Amerika terpengaruh dan ingin menjadi Muslim. (Jumlah 7 muallaf dari jumlah penduduk 330 juta non-Muslim adalah 0,00000233%)

Mohon maaf, tetapi sekali lagi, mayoritas dari orang Muslim dari semua negara yang pindah ke Eropa, Amerika, dan negara barat yang lain, pindah untuk cari kenikmatan dunia bagi diri sendiri. Mereka mencari gaji lebih besar, peluang kerja dan buka usaha yang lebih baik, kesempatan belajar di universitas terkemuka, dan seterusnya. Mereka bukan pejuang dakwah, bukan pejuang masjid, jadi tidak perlu “dipuji”. (Tetapi kalau mau memuji semuanya, silahkan saja.) Mayoritas dari orang Amerika yang masuk Islam belajar sendiri. Al Quran tersedia di internet dan toko buku. Ada banyak situs yang jelaskan ajaran Islam dalam bahasa Inggris. Itu yang memberikan pengaruh yang besar, bukan Muslim dari Banyuwangi yang pindah ke New York. 

Penelitian membuktikan bahwa mayoritas dari orang Amerika yang menjadi muallaf adalah perempuan dan juga orang berkulit hitam. Mereka pelajari ajaran Islam dari situs dan buku, atau baca Al Quran dan hadits sendiri. Ketika datang ke masjid untuk baca Syahadat, mereka sudah punya keinginan menjadi Muslim. Dan hampir selalu terjadi bahwa mereka menjadi Muslim sendirian. Keluarganya dan ribuan kenalannya tidak ikut menjadi Muslim. Begitu juga dengan saya, dan semua muallaf asing yang saya kenal. Jadi muallaf sendirian. Faktanya bahwa anggota keluarga menjadi Muslim tidak berikan pengaruh terhadap kebanyakan orang kafir, apalagi kalau seorang Muslim dari Garut tiba-tiba muncul dan membahas Islam.

Mohon dipahami. Tulisan ini tidak bertujuan untuk merendahkan siapapun yang ingin melakukan dakwah di Amerika atau Eropa. Saya hanya mau berikan klarifikasi saja. Mayoritas (bukan semua) dari Muslim dari negara seperti Bangladesh, Pakistan, Mesir, Suriah, Lebanon, India, Indonesia, dll. yang pindah ke negara barat, TIDAK pindah dengan niat menjadi “pejuang dakwah” di sana. Mereka pergi untuk mencari kenikmatan dunia. Dan mungkin sebagian kecil dari mereka aktif berdakwah dengan non-Muslim. Mayoritasnya tidak. Semoga jelas, dan semoga bisa diterima sebagai fakta yang biasa saja, dan bukan penghinaan terhadap semua Muslim yang pindah ke Amerika untuk rasakan kenikmatan dunia. Tetapi juga harus diingat ada risiko 25% dari anak mereka bisa murtad di masa depan. Cucunya bagaimana? 

Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 

Sumber:
The Share Of Americans Who Leave Islam Is Offset By Those Who Become Muslim
https://www.pewresearch.org/short-reads/2018/01/26/the-share-of-americans-who-leave-islam-is-offset-by-those-who-become-muslim/ 

Indonesians in the U.S. Fact Sheet
https://www.pewresearch.org/fact-sheet/asian-americans-indonesians-in-the-u-s/ 

Muslims and Islam: Key findings in the U.S. and around the world
https://www.pewresearch.org/short-reads/2017/08/09/muslims-and-islam-key-findings-in-the-u-s-and-around-the-world/ 

Indonesian Americans
https://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Americans# 

Buka Mata Anda Tentang Muslim Dan Islam Di Negara Barat!
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid04ho4wtKXsTAMF7zma7EYNpZnEU3ZzC4YXUn11a4NUGxmrvx26tf8q8xzL79mTpwQl&id=100064581255862 



Bahayanya Membawa Anak Muslim Ke Negara Barat

Assalamu’alaikum wr.wb. Sesudah shalat Jumat, saya bertemu seorang pemuda dengan tato di muka, leher, dan lengan. Saya kira dia muallaf baru dari suku Maori, karena pernah lihat beberapa orang seperti itu. Tiba-tiba dia berkomentar, “Saya dari Afghanistan!” Saya kaget. Berarti dia Muslim dari lahir? Kok penampilannya seperti ini? Setelah dia pergi, ada teman yang menjelaskan.

Dulu, ada ratusan keluarga dari Afghanistan yang pindah ke Selandia Baru. Banyak yang membawa anak kecil, yang masuk sekolah di sini. Setelah tinggal di sini 10 tahun, dan alami pengaruh dari sekolah, masyarakat, TV, dll. banyak dari anak itu mulai berubah. Di usia remaja dan pemuda, ada yang berhenti shalat, berzina, minum alkohol, pakai narkoba, berjudi, murtad, dll. Orang tuanya adalah Muslim yang baik, jadi anaknya juga diajarkan shalat, dll. Tetapi pengaruh dari lingkungan begitu besar, tidak ada yang tahu anak mana yang akan terjerumus dan mana yang akan selamat. 

Teman saya jelaskan, dari semua anak yang menyimpang itu, sebagian tetap rusak, tetapi sebagian yang lain bisa diselamatkan. Walaupun ada bekas-bekasnya, seperti tato di muka, dsb. Mungkin ada pemuda lain yang punya anak di luar nikah, kena penyakit, berhutang dari perjudian, dll. 

Ketika kami masih membahas pemuda itu, ada pria Malaysia yang dikenalkan kepada saya. Sudah puluhan tahun tinggal di Selandia Baru. Dia dengar percakapan kami dan tambahkan informasi tentang anak-anak keturunan Malaysia yang juga tidak shalat, murtad, dll. Dalam 1 generasi saja. Tanpa survei ribuan orang, saya tidak bisa jelaskan apakah anak yang menyimpang, berhenti shalat, atau murtad itu merupakan mayoritas, minoritas besar, atau minoritas kecil. Yang jelas “ada”, dan “banyak”, karena setiap kali saya ketemu 1 orang baru, selalu ada kisah yang serupa tentang anak-anak dari komunitasnya. 

Juga ada orang Indonesia yang hubungi saya dari berbagai negara dengan kisah serupa. Tidak berarti semua anak berakhir begitu. Tetapi ada banyak WNI yang “bangga” karena anaknya masih shalat, padahal mereka baru lihat 1 generasi saja. Paling banyak 2 generasi, karena sudah ada cucu sekarang, setelah 40 tahun tinggal di negara barat. Bagaimana dengan cicit? 

Kalau anda pernah lihat video dari orang Indonesia yang mengaku “berhasil hidup sebagai Muslim” di negara barat, dan bisa menjaga keimanan diri dan keluarganya, mohon dipahami bahwa mereka sedang menjual sebuah fatamorgana. Ibaratnya rumah saya kebakaran tetapi saya selamat, bagaimana kalau saya membuat video bahwa, “Kebakaran rumah tidak sebahaya itu, dan siapa saja yang mengalaminya bisa survive, dan tidak perlu takut pada api, karena saya menjadi buktinya bisa selamat!!” Lalu anda tidak melihat video kebakaran rumah selain yang satu itu. Mau percaya bahwa kebakaran rumah “aman”?? Tentu saja tidak benar. Tapi kalau sumber informasinya hanya 1 video yang bilang “aman”, bagaimana bisa tahu apa yang benar?

Video tentang Muslim dari Indonesia yang “berhasil” di negara barat adalah pengalaman mereka pada saat ini, jadi mau dibanggakan. Tetapi saya berani jamin 1.000%, kalau 5 tahun di depan, anak mereka menolak shalat dan mengaku ateis, tidak mungkin mereka akan membuat video baru dan jelaskan bahwa hidup di negara kafir berbahaya. Kerusakan keluarga seperti itu akan DIRAHASIAKAN secara mutlak karena mereka malu dan takut menjadi sasaran gosip. Neneknya saja tidak akan dikasih tahu, apalagi kita!!

Jadi tolong berpikir secara dalam dan shalat istikharah berkali-kali sebelum ambil keputusan membawa anak ke negara barat. Makin lama saya berada di Selandia Baru, makin banyak kisah kerusakan, kegagalan, dan penderitaan orang tua yang disampaikan kepada saya. Yang bahagia? Ada. Pada saat ini. Karena anaknya “belum murtad” dan cucunya belum ada. Lima atau 10 tahun lagi, bagaimana? Mau ambil risiko? Silahkan. Mau berenang di sungai karena tidak yakin ada buaya juga silahkan. Saya hanya bisa berikan peringatan. Orang tua yang harus ambil keputusan. Dan anaknya harus menjadi korban dulu, baru orang tua itu akan menyesal.

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 



Setiap Hari Ada Bayi Yang Dibuang, Siapa Yang Mau Ciptakan Solusi?

Setiap hari ada berita tentang bayi yang ditemukan setelah dibuang oleh ibunya, atau kedua orang tuanya. Hampir semua ibu tersebut adalah anak remaja (usia 14-18 tahun), dan bapaknya adalah remaja atau pemuda (usia 16-25 tahun). Sebagian dari anak perempuan itu adalah korban pemerkosaan atau pencabulan, dan yang lain telah berzina. Banyak anak yang menjadi hamil di luar menikah mencari cara untuk melakukan aborsi, baik di rumah sendiri maupun mencari jasa ilegal. Tetapi ada banyak anak lain yang tidak menemukan caranya melakukan aborsi, jadi anak itu melahirkan bayi di rumah. Lalu menjadi bingung. Sekarang punya bayi yang tidak diinginkan. Pada saat itu, ada 3 reaksi. 

Pertama, bayi itu dibuang ke suatu tempat dalam kondisi masih hidup. Bisa di rumah orang, di tempat umum seperti toilet, di semak-semak, di kardus di pinggir jalan, dsb. Kedua, bayi itu dibuang ke suatu tempat di mana bisa terjamin akan tewas (tanpa dibunuh secara langsung), seperti di sungai, sumur, bendungan, laut, dll. Ketiga, bayi itu dibunuh terlebih dahulu dengan cara dibekap mulutnya, ditenggelamkan di bak mandi, atau dicekik. Setelah tewas, baru jenazahnya dibuang atau dikuburkan.

Sekarang, ada 2 perkara yang sepertinya tidak pernah dipikirkan. Pertama, kenapa bisa terjadi ada begitu banyak anak remaja yang hamil sampai 9 bulan, dan melahirkan bayi, tanpa diketahui oleh siapapun? Kurang masuk akal. Jadi seharusnya ada orang dewasa yang tahu, minimal keluarga sendiri, guru sekolah, tetangga, dll. Jadi mereka bisa saja mencari bantuan. Tetapi bisa dapat bantuan dari mana? Siapa yang mau peduli? Kedua, kenapa tidak ada tempat untuk menampung semua anak remaja yang hamil itu, membantunya dengan proses persalinan, dan menerima bayi yang tidak diinginkan itu agar tidak perlu dibuang atau dibunuh? 

Kalau ada yang mau peduli, anak remaja yang hamil bisa dilaporkan ke puskesmas. Lalu bidan dan psikolog anak bisa ditugas sebagai “pengawas” untuk setiap saru anak, untuk membina dan mendidiknya agar menjaga bayinya sampai usia 8 bulan (makan dan minum yang benar, jangan bahayakan nyawanya, dll.). Lalu kalau usia kehamilan sudah mencapai 8 bulan, bisa diterima di sebuah rumah milik dinas sosial, dan menginap selama 3-4 minggu terakhir, sampai melahirkan bayi dengan bantuan bidan. Lalu anaknya diambil, dan menjadi anak asuh negara, yang bisa diberikan kepada orang tua tanpa anak, atau dicari solusi yang lain. 

Yang jelas, dengan sangat mudah bisa dibangun suatu sistem yang di mana remaja yang hamil bisa diterima, dijaga, dibantu, dipantau, dan diberikan pertolongan dalam proses melahirkan anak, sehingga tidak ada lagi berita harian “bayi ditemukan” dalam kondisi hidup atau tewas. Juga bisa dibuat UU baru bahwa orang yang mengetahui seorang remaja (saudara, teman sekolah, tetangga, dll.) hamil di luar nikah, lalu TIDAK melaporkan ke pukesmas, bidan atau polisi, kena pidana. Orang dewasa yang “tahu” wajib melaporkan. Bayi-bayi yang dibuang itu tidak berdosa. Berapa banyak anak remaja akan dibiarkan menjadi pembunuh yang sadis di usia 14 tahun, sebelum ada yang mau berikan solusi?
-Gene Netto 
 
Tega, Bayi Sehat Dibuang di Pinggir Jalan Denpasar, Mulutnya Dilakban  


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...