Tuesday, October 23, 2007

Lebih Baik Menjawab Dengan Jujur Atau "Benar"? #1


















Assalamu’alaikum wr.wb.,
(Bila gambar tidak kelihatan, isinya adalah ujian anak sekolah dengan pertanyaan: “Gambar di samping mewujudkan kasih sayang seorang: A.Pembantu, B.Ibu, C.Ayah.”
Di gambar tersebut, ada seorang ibu menggendong anak. Jawaban yang dipilih oleh siswa adalah “A.Pembantu”.)
Ada dua hal yang menarik dari gambar ini.
Yang pertama, dan yang paling jelas, adalah pilihan anak bahwa gambar itu mewujudkan kasih sayang seorang pembantu dan bukan kasih sayang dari seorang Ibu. Ternyata bagi anak ini, kasih sayang lebih didapatkan dari pembantu atau babysitter, ketimbang dari Ibu. Mungkin Ibunya kerja, pulang larut malam dalam keadaan capek, dan oleh karena itu, anak lebih terbiasa main dan merasa bahagia dengan pembantu.
Menyedihkan sekali, tetapi barangkali ini merupakan kenyataan bagi banyak anak di bangsa ini, terutama di kota besar seperti Jakarta.
Hal menarik yang kedua, adalah kenyataan bahwa pilihan si anak “A.Pembantu” disalahkan oleh sang guru. Artinya, anak sekolah tidak boleh berbeda pendapat dengan guru. Ternyata anak tidak boleh merasa kasih sayang dari orang tertentu (seperti pembantu) kecuali disetujui terlebih dahulu oleh gurunya. Bila anak merasa lebih disayangi pembantu, kenapa hal itu bisa dinyatakan salah oleh guru?

Saya jadi ingat komentar dari seorang bapak di milis SD Islam, bahwa anaknya bertanya kalau pada saat menjawab pertanyaan di dalam ujian, apakah lebih baik menjawab dengan “jujur” atau memberikan “jawaban yang benar”? Sangat memprihatin bahwa seorang anak SD bisa membedakan dan memisahkan antara jawaban yang “jujur” dan jawaban yang “benar”. Ini memang sesuatu yang nyata dalam sistem pendidikan Indonesia dari zaman dahulu, dan ternyata, belum berubah.
Bila anak SD ditanyakan dalam sebuah ujian “Bagaimana perasaan kita kalau orang tua cerai?” maka anak diwajibkan guru menjawab “Sedih” karena jawaban “Bahagia” akan disalahkan. Tetapi bagi anak tertentu, yang orang tuanya sering ribut dengan KDRT juga, bisa jadi jawaban “bahagia” adalah jawaban yang jujur, tetapi di sekolah menjadi salah. Ini merupakan indoktrinasi kultural yang tidak tepat dan tidak dibutuhkan. 


Tetapi tidak terbatas pada indoktrinasi kultur saja. Jawaban yang lain juga seenaknya disalahkan oleh sang guru. Saya pernah lihat hasil ujian anak SD dengan pertanyaan “Burung hantu tinggal di mana?” Anak menjawab “Pohon”. Ternyata salah. Menurut guru, burung hantu tinggal di HUTAN. Berarti anak SD harus main tebak-tebakan pada saat ujian. Mereka harus berfikir “Hmmmm… menurut guruku, jawaban yang mana yang boleh benar?” Soalnya, kalau anak itu berfikir sendiri dan memberikan jawaban yang dia anggap benar, yang sesuai dengan fakta yang dia miliki, sesuai dengan logika, dan sesuai dengan argumentasi dia, maka dia akan disalahkan oleh si guru dan nilainya akan rendah. Berarti lebih baik kalau anak TIDAK berfikir sendiri dan hanya sebatas nurut dengan kemauan guru kalau mau lulus.
Kita tidak perlu heran bahwa penemuan terbaik di dunia ini tidak pernah muncul dari Indonesia. Yang ada justru tingkat korupsi yang “terbaik” di dunia. Ini semua merupakan hasil dari sistem pendidikan yang rusak berat, dan belum ada usaha dari pemerintah atau dari orang tua untuk melakukan perbaikan nyata.
Sampai kapan sistem pendidikan di Indonesia akan seperti ini terus? 

Silahkan baca juga:



Bagi yang menginginkan perubahan, mohon berusaha secara kecil dengan mememberikan tanda tangan pada petisi pendidikan ini. 
Petisi-Peningkatan-Kualitas-Pendidikan-Nasional

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto



12 comments:

  1. kalau di luar negri ada nggak ya soal2 ujian seperti itu? hehehe..salam kenal Pak Gene...

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga Angky. Bisa jadi ada pertanyaan seperti itu, tetapi guru seharusnya lebih bijaksana dalam menilai jawaban dari anak. Bila anak menjawab “pembantu” pada saat seharusnya menjawab “Ibu”, guru harus cari tahu kenapa. Atau membenarkan juga boleh. Kalau guru salahkan jawaban seperti “pohon” karena burung hantu tinggal di “hutan”, maka itu sangat tidak membantu karena memberikan nilai yang salah, padahal anak sudah benar. Saya sendiri juga memeriksa ujian anak waktu mengajar di Australia dan di sini dalam kursus bahasa Inggris. Kami (para guru) memang dilatih untuk berfikir lebih dalam tentang jawaban anak kalau ada yang berbeda dengan yang lain. Tidak boleh disalahkan begitu saja hanya karena tidak sesuai dengan jawaban yang diharapkan oleh guru. Hasilnya adalah anak akan merasa bahwa proses berfikir dia memang dihargai oleh guru karena walaupun jawabannya berbeda, tetap dihitung benar. Kalau hanya disalahkan saja, lama-lama anak akan malas berfikir dan berargumentasi sendiri dan hanya akan mencari jawaban yang “benar” menurut gurunya.

    ReplyDelete
  3. Assalamu alaikum wrwb
    Yah saya sih setuju dan nggak setuju mengenai hal itu.Setuju di sebabkan mungkin ada benarnya bahwa apa yang di katakan si anak adalah jujur dari apa yang di alaminya dan sebagai bukti dari kepolosan seorang anak sehingga dia menjawab demikian tapi perlu di ketahui sekolahpun mempunyai penilaian akan hal tersebut jadi tidak mungkin dapat membenarkan jawaban si anak.Kalaupun toh seperti yang di katakan pak gene harus di teliti mengapa si anak menjawab hal sedemikian,itu sih wajar-wajar saja.Dengan menanyakan alasan kepada si anak tersebut mengapa memilih jawaban tersebut.Yang pada akhirnya memberikan pengertian kepada si anak bahwa "mengapa jawabannya tidak dapat di benarkan.
    Yah...saya mengerti maksud pak gene.Tapi perlu di ketahui jawaban tersebut tidak dapat dibenarkan ,apalagi untuk di masukkan ke dalam nilai hasil akhir ujian,misalnya. Coba kalau seandainya jawaban tersebut 100% dibenarkan.Apa kata anak-anak yang lain yang benar2 mengetahui jawaban temannya itu salah dan mengetahui jawaban temannya tersebut dibenarkan oleh gurunya.
    Wassalam

    ReplyDelete
  4. Pendekatan yg baik sekali, pak. Dibanding entry yg judulnya 'Almarhum Petisi.......’(26 Sept). Yg terdahulu ini kedengaran emosional dan kurang sabar, mengingat entry petisinya sendiri baru tanggal 19 Sept.

    Jadi pengen nanya nih, bapak kan pengamat politik, sosial dan pendidikan, khususnya di Indonesia. Apakah butir petisi yg terakhir mungkin tercapai dalam waktu dekat? Mengingat kemampuan ekonomi Indonesia kurang sekali. Kemudian, bagaimana dengan bidang lain. Mis. Kesehatan. Inginnya masyarakat Indonesia juga mendapat layanan pengobatan gratis. Mana yg didahulukan? Atau, petisi ini jadi main tawar; kita minta digratiskan, tapi mungkin kalau optimis diberi, maka terjadi penurunan biaya sekolah yg signifikan? (belum gratis). Saya sih ibu2 ya senang sekali kalau anak bisa sekolah gratis :p.


    Ngomong2, tentang interpretasi gambar sehingga anak memilih jawaban pembantu, mungkin:
    1. Anak memang lebih dekat dgn pembantu, tapi bisa juga:
    2. Anak merasa gambar wanita terlalu sederhana, kurang cantik, kurang wah untuk menjadi ibunya. (Justru karena merasa ibunya begitu mulia).
    Ini sekedar usaha melihat dari sudut pandang yg berbeda ya pak, bisa jadi masih ada sebab2 lainnya. Senada dengan yg bapak utarakan, kita lebih menghargai guru yang berusaha mencari tahu sebab2 dibalik jawaban dan mencari cara terbaik untuk menyikapinya.

    Makasih sebelumnya, maaf panjang.
    Wassalam
    mona

    ReplyDelete
  5. Isi petisi anda adalah baik seperti yang saya baca dan salah satunya mengajukan sekolah gratis.Kitapun sebagai rakyat indonesia sangat mengharapkan demikian.Tapi untuk merealisasikan hal tersebut kita harus melihat aspek yang lain apakah dapat mendukung hal tersebut di wujudkan dalam waktu dekat.Sedangkan kita hampir lupa dengan hal yang paling mendasar yang sedang dihadapi oleh negara ini.Korupsi,masalah ekonomi,kemiskinan,hukum dan banyak faktor lainnya yang harus diatasi.Andapun sendiri yang mengatakan diatas bahwa negara ini merupakan negara yang tingkat korupsinya "terbaik".Kemiskinan yang menyebabkan anak-anak putus sekolah dan bukan hanya untuk sekolah saja untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka yang utama saja tidak tercukupi.Yang ada kemiskinan yang meningkat dari tahun ke tahun.Malah pemerintah kelimpungan untuk mengatasinya.Lalu tiba-tiba dalam petisi anda menuliskan sekolah gratis dari SD-SMA dan biayanya ditanggung sepenuhnya oleh negara.Bukan berarti saya tidak senang dengan apa yang anda ajukan tapi kita harus lihat realita,fakta dan kenyataan yang ada.Dan sebenarnya pemerintahpun sendiri sudah mencanangkan hal tersebut jauh2 hari sebelum petisi anda ini.Dan telah mencanangkan sekolah gratis bagi keluarga yang tidak mampu dan mungkin telah terealisasi di beberapa daerah disebabkan otonomi daerah masing2 tapi untuk melaksanakan semua itu tidak dapat langsung sekaligus harus bertahap melihat negara dalam kondisi seperti ini.Jangan di samakan dengan negara2 lain yang memang secara ekonomi sudah maju.Di negara yang sudah bisa di bilang majupun kadang belum dapat melakukan sekolah gratis secara keseluruhan.Saya pernah melihat ditv.Disuatu wilayah di amerika misalnya pengadaan untuk fasiltas sekolah disana tidak terpenuhi terabaikan padahal itu adalah negara maju.German yang dulunya di katakan sekolah disana itu gratis terakhir saya dengar tidak sepenuhnya demikian.Ibaratnya seorang yang sakit.Pasti harus menyembuhkan sakitnya terlebih dahulu misal dgn minum obat setelah sembuh kan enak tuh melakukan aktifitas sehari2.Begitupun dengan negara ini dalam keadaan sakit untuk menyembuhkannya dengan mengatasi masalah yang sedang di hadapi setelah itu melaksanakan hal2 yang lain meskipun tidak melupakan hal2 yang penting dan sangat mendesak.

    ReplyDelete
  6. Assalamu alaikum WrWb
    Kobaran api muncul dari sebuah percikan api.Sepuluh anak tangga di mulai dengan satu anak tangga.Seorang yang sedang melukis diatas kanvas,kita belum dapat mengetahui apa yang akan di lukisnya hanya dengan melihat satu goresan diatasnya dan mungkin kita hanya dapat mengira-ngiranya saja sampai akhirnya lukisan itu selesai dilukis.Seperti halnya banyak penemu yang kita ketahui baik dalam bidang sains,ilmu falak,ilmu kedokteran atau bidang/ilmu lainnya.Mereka mendapatkan suatu karya ilmiah yang awal mulanya dari hal yang kecil sangat sederhana atau biasa2 saja ,malah kadang dianggap aneh bukan sebuah hasil penemuan.Lalu kemudian hasil temuan tersebut diteruskan oleh penemu lain.Keadaan itu terus berlanjut.Dan terus berkembang dan berkembang sampai pada saat sekarang ini.Misalnya sekarang ini adanya pesawat terbang awal mulanya karena seorang penemu yang bernama zappelin(ma'af kalau penulisannya salah)seorang yang menemukan balon udara kemudian berlanjut oleh penemu wright bersaudara dan penemuan itu terus di lanjutkan oleh penemu lain dan berlanjut hingga sekarang yang kita kenal sebagai pesawat terbang.Mungkin saat ini dunia belum mendengar seorang penemu dengan hasil penemuannya berasal dari indonesia.Tapi mungkin 10 tahun,20 tahun atau 1 abad kedepan bermunculan penemu2 dengan wajah2 baru yang berasal dari indonesia... Wallahu'alam!.Apakah anda mengetahui atau pernah mendengar seseorang di suatu daerah di indonesia yang menemukan alternatif pengganti gas yang biasanya di gunakan sebagai keperluan memasak yang tabungnya biasanya berisi gas tapi di ganti hanya dengan menggunakan air yang dicampur dengan minyak tanah yang hasilnya tidak jauh beda dengan yang menggunakan gas.Dan dari daerah yang lain yang menggunakan limbah compose(kotoran ternak)yang dari padanya menghasilkan gas yang juga dapat di gunakan untuk keperluan di dapur.Walaupun dengan menggunakan compose tadi tidak menyebabkan bau pada makanan, hasilnyapun tidak jauh berbeda dari penggunaan gas yang biasanya di gunakan untuk keperluan memasak.Tanaman jarak yang ampasnya digunakan sebagai pengganti minyak tanah itupun tidak jauh berbeda.Dan mungkin masih banyak penemuan2 lainnya di negara ini yang tanpa kita ketahui itu ada.Cuma hanya karena tidak dipublikasikan saja.Mungkin semuanya itu di anggap sebagai suatu hal yang biasa...kecil tapi disaat sekarang ini dengan maraknya kelangkaan minyak bumi,gas alam,batu bara.Setidaknya semuanya itu dapat digunakan sebagai alternatif.Diakibatkan langka dan sulitnya salah satu sumber alam tersebut.
    Wassalam

    ReplyDelete
  7. Saya yakin masih ada orang Indonesia yang pintar yang bisa berhasil sebagai penemu. Maksud saya, dari jumlah penduduk yang begitu besar, kenapa tidak ada lebih banyak? Mereka itu bisa berhasil walaupun sistem pendidikan tidak mendukung. Bagaimana mereka itu kalau memang dibina dengan benar dari SD? Dan bagaimana dengan anak lain yang batal jadi penemu karena bakatnya ada, tetapi mulai dari SD, mereka diwajibkan nurut dan bukan menjadi kreatif? Siapa yang mau bertanggung-jawab terhadap calon2 jenius dari Indonesia, seperti Lupus Da Vinci dan Ahmad Einstein, yang akhirnya tidak muncul sebagai orang pintar karena semangat mereka untuk menggali ilmu dipatahkan di dalam sekolah? Siapa yang membela hak anak untuk belajar kalau guru pun menjadi pengganggu dalam proses belajar?

    ReplyDelete
  8. Makanya pemerintah perlu melakukan penambahan materi tentang kejujuran!

    ReplyDelete
  9. ini guru mana sih yg buat soalnya...

    ReplyDelete
  10. Setuju sekali. Dengan sistem pendidikan seperti ini, semakin tinggi tingkat pendidkan seseorang, semakin pandai ia menjawab sesuatu menurut yg diinginkan si pemberi pertanyaan, alias semakin pandai berbohong.

    ReplyDelete
  11. Semestinya harus ada kajian yang betul2 serius dalam menerbitkan soal2 ujian/latihan untuk anak2 sekolah, dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan akibat2nya. Banyak soal2 yang tidak bermutu dan misleading, dan bahkan banyak juga kunci jawaban yang ngawur. Saya tidak tahu apakah juga melibatkan psikolog dan ahli pendidikan anak2.
    Tolong deh agar pemerintah benar2 memperhatikan hal2 seperti ini.

    ReplyDelete