Wednesday, October 10, 2007

Penderitaan Rakyat Birma (Myanmar) dan Bisnis AS

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Apakah bisnis sudah cukup sebagai alasan untuk tidak peduli pada nilai-nilai demokrasi? Para pemimpin AS berbicara tentang demokrasi seakan-akan mereka peduli. Tetapi apakah mereka lebih peduli pada demokrasi atau bisnis?

Ternyata para jenderal yang menguasaikan Birma dalam sebuah junta militer mendapatkan uang dari beberapa sumber. Ekomoni negara rusak, jadi untuk mengaji prajurit yang menyiksa para biksu harus ada sumber uang yang jelas, karena pajak dari rakyat tidak seberapa. Dari mana mereka bisa mendapatkan uang? Ada dua sumber yang kurang dibahas di media massa.

Sumber uang pertama: uang dari hasil penjualan gas dan minyak bumi. Gas dan minyak bumi ini diekspor lewat Thailand. Yang mengerjakan? Perusahaan Chevron (dari AS) dan Total (dari Perancis). Dan siapa yang pernah menjadi anggota BoD Chevron: Condalisa Rice, Menlu AS sekarang. Apakah Condi dan George Bush mau mengambil tindakan yang akan menghancurkan profit tinggi bagi kawan-kawan mereka, walaupun uang dari usaha itu memberi dukungan nyata pada para jenderal Birma? Sepertinya mereka tidak mau.

Berapa banyak jumlah uang tersebut? Pada tahun 2006, hasil dari proyek gas bumi saja adalah $US 2,16 milyar. Dan seluruhnya dilarikan ke para jenderal/pemerintah. Kalau uang sebanyak itu adalah pemasukan buat para jenderal, kira2 profit bagi Chevron dan Total berapa? Untuk hasil minyak bumi tidak disediakan datanya.

Pipa gas yang menyalurkan gas ke Thailand untuk diekspor sudah ketahuan dibuat dengan “slave labor” – rakyat biasa yang dipaksakan kerja, seakan-akan “budak” milik pemerintah. Selamat bagi Chevron, pasti sangat baik bagi profit perusahaan bila infrastuktur dibuat oleh budak2 Birma.

Para perusahaan di AS dilarang berdagang dengan Birma, disebabkan sangsi dari Deplu AS. Tetapi ada satu pengecualian. Untuk siapa? Ternyata hanya Chevron yang dapat izin beroperasi di Birma! Enak kali ya!

Sumer uang kedua: penjualan batu permata seperti mirah/merah delima (ruby) dan safir (sapphire). Ternyata 90% dari semua batu merah delima yang dijual di seluruh dunia berasal dari Birma. Tentu saja para jenderal menguasaikan produksi batu berharga ini karena pemilik saham mayoritas dalam semua perusahaan pertambangan merah delima adalah… para jenderal.

Walaupun ada larangan juga bagi para pembeli batu permata AS untuk membeli batu merah delima dari Birma, larangan tersebut hanya berlaku bagi batu yang dibeli langsung dari Birma. Supaya larangan ini menjadi tidak efektif, hampir semua batu merah delima dari Birma diekspor ke Thailand terlebih dahlulu untuk diperhalus (polished). Lalu, dari Thailand, dijual lagi ke AS, Inggris dan Eropa tanpa kena sangsi, dan digunakan untuk membuat perhiasan dan cincin. (Kalau anda melihat orang kaya di Indonesia yang menggunakan batu merah delima dalam perhiasannya, kemungkinan besar mereka sudah membantu jenderal Birma tetap berkuasa dengan pembelian merah delima itu, tanpa sengaja tentu saja).

Apakah AS, Inggris dan Eropa benar-benar akan peduli pada rakyat yang menuntut kemerdekaan dan kebebasan kalau tuntutan tersebut akan merusak profit bagi perusahaan2 terbesar mereka yang juga sangat dekat dengan para Presiden dan pejabat-pejabat lainnya? Mereka itu hanya bisa menang dalam pemilu karena ada sumbangan besar dari bisnis-bisnis tersebut. Jadi pada saat rakyat Birma teriak minta tolong, pejabat AS dan kawan-kawannya di negara barat harus memilih: bantu rakyat yang tertindas, atau menjaga profit dari perusahaan multi-nasional yang mendanai mereka supaya menang dalam pemilu.

Kira kira yang mana yang paling utama? Kemerdekaan atau profit? Nilai-nilai kebebasan dan demokrasi atau atau nilai-nilai kapitalisme?

Hmmmmm….. ternyata….uang, profit dan kapitalisme menang. Wahai para jenderal, silahkan menindas biksu dan rakyat kecil terus. AS tidak akan intervensi demi “demokrasi”. (Kecuali ada yang mau bayar, tentu saja). Dan stok minyak bumi di Birma tidak seberapa dibandingkan dengan Iran. Jadi, lebih baik AS menyerang Iran untuk “menyebarluaskan nilai-nilai demokrasi” (seperti yang sedang dilakukan di Iraq, menurut mereka) daripada membantu kaum yang sudah menuntutnya di Birma.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Informasi diringkas dari:

Chevron's Pipeline Is the Burmese Regime's Lifeline

By Amy Goodman, Truthdig, Tuesday 02 October 2007

Amid Deaths, Censorship, Oil Companies Continue Myanmar Operations

By Avni Patel, ABC News

Myanmar's rubies; bloody colour, bloody business

By Carmel Crimmins, BANGKOK (Reuters)

6 comments:

  1. ngomong2. Browsernya FF ya pak? Kalau dilihat di IE ada beberapa kode yg tidak seharusnya muncul (saya tidak tahu bgmn di browser2 lainnya). Biasanya terjadi jika paste list dari sumber lain. Bisa diedit melalui IE, hapus secara manual itu kode2.

    Maaf kalau salah/ kurang berkenan. Bukan masalah besar, hanya mempengaruhi kenyamanan membaca bila menggunakan IE.

    mona

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Mona. Saya baru tahu teks jadi kacau dalam IE. Belum dipikirkan karena sudah biasa pakai firefox.

    ReplyDelete
  3. boleh tau ga mas data2 atau sumber bacaanny dr mana?? saya mo mengkaji lbh dalam

    ReplyDelete
  4. Lihat di atas ada links ke artikel dan berita dalam bahasa inggris. Sumber dari situ semua

    ReplyDelete
  5. Maf mas yg artikel "Chevron's Pipeline Is the Burmese Regime's Lifeline" & "Amith death" slalu URL not found terus mas pas saya klik..

    ReplyDelete
  6. @Ninna, maaf, saya tidak tahu. Coba cari di Google.

    ReplyDelete