Saturday, March 01, 2008

Konglomerat Indonesia (Anak Yatim Jangan Baca; Nanti Jadi Sedih)

Edisi. 01/XXXVII/25 Februari - 02 Maret 2008 Ekonomi dan Bisnis

Ketika Prajogo Mantu

Tiga menteri dan ratusan pengusaha kakap hadir di Singapura. Total aset mereka satu triliun dolar, ujar seorang konglomerat. Ada berlian 100 karat seharga 35 juta dolar.

LAGU Popsicle Toes dari penyanyi smooth jazz Michael Franks mengalun lamat-lamat. Suara lembut itu akhirnya terbenam dalam riuhnya percakapan sekitar 600 hadirin yang mengisi penuh semua kursi dalam formasi meja bundar di Ballroom Hotel The Ritz-Carlton Millennia, Singapura. Sabtu malam dua pekan lalu itu, mereka datang di pesta perkawinan putri taipan Prajogo Pangestu, Nancy, yang dipersunting pria Prancis, Nicolas Tabardel.

Sebuah big-band tiba-tiba menghentakkan musik pembuka acara. Sorot lampu benderang di panggung lalu terfokus pada para musikusnya—sejumlah pria bule. Hadirin terkesiap, lalu memberi aplaus ketika master of ceremony membuka perhelatan megah dengan sejumlah kristal raksasa yang menggantung di atap ruang pesta itu. Di tengah setiap meja terpajang tonggak warna emas dan perak berhiaskan lilin dan kembang sedap malam.

Salad lobster, sup porcini, daging wagyu kelas satu, yang diselipi jamur dan tomat, disajikan berurutan dalam cara hidang rijstafel. Pesta bernuansa Barat dalam suasana Imlek itu—banyak perempuan yang mengenakan busana cheongsam—diselingi toast para tamu. "Untuk kebahagiaan mempelai berdua, mari kita bersulang... ," teriak sang pembawa acara. Lalu, triiing... gelas-gelas berisi anggur kelas wahid Dom Perignon saling beradu. Hadirin bertepuk-tangan.

Glamor di seberang Teluk Singapura ini hanya bisa tertandingi oleh kenduri perkawinan berlian Liem Sioe Liong atau Sudono Salim. Pria kelahiran Fukien, Cina, hampir 92 tahun silam ini adalah pendiri kerajaan bisnis Grup Salim, yang pernah berpuluh tahun bertengger di puncak tangga orang terkaya di Indonesia. Om Liem merayakan pesta usia perkawinannya yang ke-60 itu di Shangri-La Island Ballroom, Hotel Shangri-La, di kawasan mentereng Orchard Road, Singapura, April 2004.

Saat itu hadirin betul-betul mendapat perlakuan istimewa. Mereka—umumnya saudagar besar dan bekas pejabat era Orde Baru—dijemput khusus dengan pesawat Singapore Airlines. Tampak mantan Menteri Penerangan Harmoko, eks Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, bekas Menteri Transmigrasi Siswono Yudhohusodo, dan mantan Ketua DPR Akbar Tandjung. Ratusan pebisnis yang namanya berkibar belakangan setelah Soeharto lengser ikutan hadir, semisal Harry Tanoesoedibjo dari Bhakti Investama dan Chaerul Tanjung, bos Bank Mega dan Trans TV (Tempo, 25 April 2004). Lll

Prajogo Pangestu, 64 tahun, menyambut tetamunya dengan berpidato memakai teks dalam bahasa Indonesia aksen Mandarin. Bos Barito Pacific yang dalam dua tahun terakhir namanya masuk daftar majalah Forbes Asia, sebagai 20 besar orang terkaya di Indonesia ini menyinggung sebuah kisah lama, saat si kecil Nancy dilepas belajar ke Singapura meski belum genap berusia empat tahun. Mata Nancy berkaca-kaca. Nicolas lalu didaulat menyanyikan My Way, yang biasa dilantunkan oleh Frank Sinatra.

Daya pikat pesta tak sebatas lagu-lagu nostalgia, kristal, semerbak bunga dan kaviar hitam dari Laut Kaspia, tapi juga pada seonggok benda gemerlap yang menggelayut di dada istri Prajogo, Herlina Tjandinegara. Tengoklah liontin putih yang terus-menerus berkilau "mengganggu" pandangan mata itu. Ups! ternyata berlian super-langka seberat 100 karat, sebesar jempol kaki orang dewasa, salah satu yang terbesar di dunia yang, konon, dibeli pada 1990 di Amerika. "Ini memang investasi saya," kata Prajogo. Harganya? Sang taipan hanya tersenyum. Tapi ada yang menaksir "cuma" US$ 35 juta atau sekitar Rp 300 miliar.

Tak berlebihan kalau ada yang berbisik bahwa inilah pesta taipan terbesar di awal Tahun Tikus. Tengoklah pula tamu-tamu yang hadir di sana. Di meja sentral, yang berseberangan dengan tempat sahibul hajat, duduk Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal "Ical" Bakrie, Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu dan Menteri Kehutanan M.S. Ka'ban. Bersama bekas Menteri BUMN Tanri Abeng, mereka mengapit Madame Ho Ching, CEO Temasek Holdings, yang juga istri PM Singapura Lee Hsien Loong.

Sang Madame yang tahun lalu dijuluki majalah Time sebagai satu dari 100 orang berpengaruh di dunia, rupanya betah duduk hampir lima jam hingga acara usai. "Pestanya luar biasa dan menyenangkan bisa bertemu banyak orang," kata Ho Ching. Semula ia bakal disandingkan dengan mantan Presiden Megawati dan Taufik Kiemas, namun mendadak Taufik kurang sehat sehingga batal hadir. Ia mengirim putrinya, Puan Maharani. Sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla "mengutus" kerabatnya, Aksa Mahmud, bos Bosowa Grup. Solihin Kalla, putra JK, ikut pula meramaikan pesta.

Ratusan pengusaha terkemuka juga hadir. Dua konglomerat yang moncreng dan menjadi andalan di masa Orde Baru, Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad, tampak hadir hingga acara usai. Keduanya bersama Liem Sioe Liong dan Djuhar Sutanto dijuluki The Gang of Four. Sayang, Om Liem batal hadir. "Karena flu berat," kata seorang panitia. Bos besar yang berpuluh tahun menjadi orang terkaya di Tanah Air itu diwakili putranya, Anthony Salim, CEO Salim Grup. Di kursi para taipan kawakan ini bergabung pula William Soeryadjaya, yang mulai uzur dan menggunakan kursi roda.

Nama-nama beken yang akrab menghiasi majalah Fortune dan Forbes juga tampak. Ada keluarga grup Sinar Mas, Djarum (Budi Hartono), Sampoerna, Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Wings (Eddy William Katuari), Berca (Murdaya Po dan Hartati Murdaya), Mukmin Ali Gunawan, bos Panin Bank, Sugianto Kusuma atau Aguan, bos Artha Graha Grup, bahkan chairman Charoen Pokphand, Summet Jiaravanon. Dari bos media tampak Chaerul Tanjung (Trans TV), Surya Paloh (Metro TV), Peter F. Gontha (Q TV). "Saya datang karena Prajogo memang hopeng (kawan) sejak lama," kata Peter.

Seorang taipan lalu berbisik, kalau ditotal, ini adalah pesta saudagar besar yang mempunyai aset senilai satu triliun dolar—kalau dikurskan ke rupiah menjadi lebih dari Rp 9.000 triliun! Nilai ini hampir setara dengan 12 kali APBN kita atau sekitar 3.000 kali pendapatan asli daerah terkaya di Indonesia, Kabupaten Kutai Kertanegara. Tanri Abeng, bekas CEO Bakrie Brothers, ikut mengangguk. Maka itulah, "Wah, kalau terjadi sesuatu di sini, kita bisa repot hehe," kata Tanri.

Coba saja dikalkulasi. Temasek, perusahaan investasi milik Negeri Singa itu, beraset sedikitnya US$ 100 miliar (namun ada versi lain yang menghitung kekayaan sebenarnya lima kali lipatnya). Merekalah sang empunya Singapore Airlines, dan memutar US$ 11 miliar uangnya di Jakarta, di antaranya untuk memborong saham Bank Danamon dan Bank Internasional Indonesia. Ho Ching, 54 tahun, tampak terus-menerus ditempel dan berbisik-bisik dengan Tanri, Anthony, dan Sofjan Wanandi, bos Grup Gemala.

Lalu Ical jangan dilupakan. Ia datang khusus dengan pesawat jet pribadi. Anggap saja Pak Menko, juragan Kelompok Bakrie, bekas saudagar besar pribumi yang tahun lalu namanya bercokol sebagai orang terkaya nomor wahid di republik ini. Belum lagi Anthony, Sukanto Tanoto (dua tahun lalu dinobatkan majalah Forbes Asia sebagai taipan terkaya Indonesia), Budi Hartono, dan beratus nama besar lainnya yang tak bisa disebutkan di sini.

Para taipan itu seperti hendak "membenamkan" Singapura. Tengok saja lobi Hotel Ritz-Carlton, Grand Hyatt, Mandarin, juga Shangri-La, ramai dengan tegur sapa para taipan dari Jakarta. Prajogo, selain menyiapkan tiket Singapore Airlines kelas bisnis, juga menyediakan 350-an kamar hotel berbintang untuk undangan tertentu. Mereka pulalah yang khusus diundang untuk pesta koktail, petang sebelum resepsi dan pemberkatan, dengan sajian kaviar hitam kelas wahid, sambil menenggak sampanye dan vodka diiringi lantunan Michael Franks, you're so brave to expose... all those... popsicle toes....

Wahyu Muryadi (Singapura)

Source: Media-Jatim.blogspot

2 comments:

  1. Anak orang kaya belajar jadi pengemis di hari raya


    Pada saat Lebaran, ada sesi di mana saya merasa sangat miris: salah satu keponakan saya yang masih bayi diberi selembar 50 ribu-an, tetapi malah menangis minta yang merah (lembar 10 ribuan). Uangnya lantas dibuang ke lantai. Ketika hal ini terjadi semua orang dewasa tertawa, ‘lucu; ya? Di keluarga lain, keponakan saya kelas 2 SD dengan malu-malu membisiki saya sambil menggenggam lembaran ratusan ribu ditangannya, “Tante, minta THR-nya dong!” Hah, THR? Sejak kapan ini anak kecil kerja sama saya sehingga dia merasa berhak mendapatkan THR? Saya jadi bengong, karena nggak biasa dimintai uang oleh anak orang kaya. Biasanya yang minta-minta itu anak-anak pengemis di perempatan jalan.

    Pada hari lebaran pertama itu dia berhasil mengumpulkan lebih dari Rp.300 ribu. Sebagaimana keponakan-keponakan kecil lainnya, dia sibuk menghitung ulang berkali-kali lembaran 10-50 ribuan yang berhasil dikumpulkannya hari itu. Ah, saya jadi terkenang 21 orang yang meninggal demi 30 ribuan di Pasuruan belum lama ini. Keponakan-keponakan saya ini beruntung sekali karena tanpa harus berdesak-desakan dan terinjak-injak mereka dapat mengumpulkan ratusan ribu rupiah. Setiap ada om dan tante datang, maka bersoraklah mereka. Kalau ternyata si Om dan Tante ini tidak memberi sepeserpun, anak-anak kecil ini bergosip, “Ih, Om dan tante X itu pelit ya!”

    Saya tidak tahu apa yang ada di benak om dan tante yang ‘baik hati’ ini ketika menghambur-hamburkan lembaran puluhan ribu kepada anak-anak yang pada dasarnya tidak membutuhkan sumbangan apapun dari mereka. Saya juga tidak habis mengerti kepada anak-anak pengemis di jalanan mereka mungkin cuma bisa melengos atau paling memberi satu koin seratusan atau limaratusan Rupiah. Padahal mereka butuh sekali uang untuk membeli segenggam nasi dan seiris tipis tempe.

    Kebiasaan menghambur-hamburkan uang di hari raya kepada keponakan-keponakan kita yang bukan fakir miskin perlu dipertanyakan kembali. Anak-anak ini harus diajarkan bahwa di luar sana ada banyak teman-temannya yang jauh lebih membutuhkan uang dibanding mereka. Orang tua keponakan saya ini bisa membelikan baju baru kapanpun anaknya minta dan bisa membelikan mainan sampai jutaan rupiah. Ketika keponakan saya ditanya untuk apa uang sebegitu banyak, dia jawab, “Beli Play Station terbaru pake uang sendiri. Hebat kan!” Kalau keponakan yang remaja bilang buat membeli sepatu branded di Debenheim. Aih..aih…belanja di Debenheim kok dari duit ‘mengemis’.

    Kalau dihitung pada hari Lebaran, satu anak dari keluarga menengah saja mendapatkan rata-rata Rp.250.000, maka dari 15 keponakan yang ada di keluarga kami bisa terkumpul uang Rp.3.750.000. Uang sebanyak ini bisa digunakan untuk membayar biaya pendidikan beberapa anak kolong jembatan atau membayar SPP mahasiswa dari kalangan miskin. Bagaimana kalau 150 keluarga? Terkumpul Rp.37.500.00! Uang ini dapat dijadikan modal untuk buka warung bagi 75 ibu-ibu fakir miskin sehingga mereka tidak perlu lagi memaksa anak-anaknya mengemis di jalan-jalan.

    Ketika anak-anak saya masih kecil, sukar sekali memberikan pengertian kepada om dan tantenya untuk tidak memberi mereka uang lebaran. Saya tidak ingin mereka bermental pengemis dan menilai kebaikan om dan tantenya dari seberapa banyak uang Lebaran yang mereka bagikan. Jawaban mereka adalah, “Kenapa sih pelit banget. Setahun sekali nyenengin keponakan”. Atau, “Sudah tradisi sih.” Jawaban yang persis sama dengan pak haji kaya yang membagikan uang hingga mengakibatkan 21 orang meninggal.

    Uang Lebaran yang diberikan bukan pada mereka yang membutuhkan dalam jangka panjang mungkin saja ikut menyumbang terbentuknya masyarakat bermental pengemis seperti yang sering kita lihat sehari-hari. Untuk mencoblos pemilu tergantung siapa yang bisa bayar lebih besar. Untuk minta bantuan apapun, sekarang tidak bisa lagi dibayar dengan janji pahala.

    Semua orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia dewasa yang paham betul untuk mendapatkan uang orang mesti bekerja keras dan cerdas, bukan dengan menadahkan tangan ke kiri dan ke kanan. Momen Lebaran bukanlah waktunya bagi para orang dewasa untuk pamer kedermawanan semu dan anak-anak belajar menjadi pengemis.

    ReplyDelete
  2. Sayang kalau anak jadi terlalu peduli pada uang seperti itu ya!
    Kalau ada orang tua yang memberikan uang kepada anaknya sebagai reward untuk puasanya, saya rasa bukan masalah besar. Yang masalah bukan uangnya atau penggunaan uang tetapi sikap orang tua terhadap uang dan apa yang diajarkan kepada anak tentang uang.
    Anak itu tidak melihat penerimaan uang sebagai kesempatan untuk beramal. Mereka tidak diajarkan bahwa uang di tangan mereka bisa memberikan manfaat untuk orang lain juga. Mereka hanya diajarkan untuk menjadi orang kapitalis dan habiskan uang sebanyak2nya untuk mengejar kenikmatan di dunia ini.
    Jadi, orang tua yang salah didik, bukan uangnya atau pemberian uang yang salah.
    Mungkin karena orang tua kaya (dan sibuk dengan menghasilkan uang terus), mereka justru senang kalau anak mereka selalu ingin beli Playstation dan mainan elektronik lainnya. Dengan demikian, orang tua tidak perlu menghabiskan waktu bersama dengan anaknya, dan bisa tinggalkan mereka untuk bermain sendirian. Orang tua sibuk dengan makan di luar, jalan ke luar kota, menjamu para tamu yang datang ke rumah untuk jilat2. Mereka tidak mau dibuat pusing dengan bermain dengan anak kandungnya sendiri.

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete