Wednesday, May 09, 2012

Bersyukur dan Menangis

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Kemarin saya sempat chatting dengan teman saya yang menjadi janda sekarang. Dia masih bicara terus tentang kulkas yang dibelikan bagi dia minggu kemarin setelah ada sedekah dari teman saya. Saya sempat merasa sedikit heran, kok cuma kulkas saja tetapi masih dibicarakan terus2an sampai sekarang. Lalu dia berkomentar seperti ini:

“Ini betul betul kado luar biasa karena aku sejak menikah [16 tahun yang lalu] sampe sekarang nggak pernah beli kulkas dan selalu di kasih second tapi tetap bersyukur walau second masih bisa dimanfaatkan dan apalagi hari gini dapet yg baru, exciting banget... susah diungkapkan lah!”

Saya kaget juga karena sama sekali tidak tahu hal itu minggu kemarin, dan hanya perhatikan bahwa kulkas mereka jelek banget dan karatan, dan diberitahu bahwa sudah dibetulin tukang dan langsung rusak lagi, jadi sangat dibutuhkan yang baru. Jadi ini pertama kali dia dapat kulkas baru dalam 16 tahun, dan seluruh keluarga masih bersyukur sekali sampai sekarang. Subhanallah.
Bagi saya, ini merupakan bukti ada yang Maha Mengatur. Bagi saya, itu hanya kulkas yang dibutuhkan untuk menyimpan makanan. Tetapi di dalam hatinya ibu itu, kado yang satu itu terasa sangat istimewa sekali, dan sebuah kejutan yang tidak terduga dan belum pernah dinikmati sebelumnya. Subhanallah.

Lalu, beberapa hari setelah kulkas diantar ke rumahnya, saya ambil keputusan beli sepatu bola untuk anaknya yang rajin main bola beberapa kali setiap minggu, dan punya cita2 masuk tim nasional. Saya tidak mau beli yang murah karena ingin menghibur dia dengan kado yang luar biasa, untuk menjadikan dia semangat dan siap berjuang, baik di lapangan bola, maupun di sekolah, dan juga dalam ibadahnya.

Setelah dibeli, dia senyum terus karena tidak percaya bisa dapat sepatu bagus merek Nike itu, dan sangat mungkin teman2 di tim bola bisa menjadi iri dengan dia (sangat jarang ada anak biasa yang bisa merasa iri dengan anak yatim kan?). Tetapi setelah Ibunya melihat sepatu itu dan tahu harganya, dia malah menangis dengan keras. Dia telfon saya dan bercerita bahwa pas sebelum suaminya wafat, dia sudah berjanji kepada isterinya bahwa dia mau beli sepatu bola yang mahal bagi anak mereka karena usahanya di lapangan bola makin bagus, tetapi kemudian dia wafat sebelum bisa dibeli. Jadi isterinya langsung mengingat janji suami itu dari tahun kemarin dan menangis dengan keras. Saya jadi kaget lagi karena pada waktu dibeli, bagi saya itu hanya sepatu bola saja dan saya sama sekali tidak tahu bahwa itu akan tuntaskan sebuah janji dari bapaknya anak itu. Subhanallah. Masa ada manusia yang tidak percaya bahwa ada yang Maha Mengatur di dunia ini?

Jadi dalam hitungan beberapa hari saja, saya berhasil membuat seorang janda bersyukur sekali, dan juga membuatnya menangis dengan keras (walaupun itu terjadi tanpa disengaja oleh saya). Hahahaha. Ya Allah!!! Ampun ya Allah!!!
Tetapi insya Allah dalam waktu dekat, rasa sedihnya bisa hilang, dan dia malah akan tambah bersyukur bahwa doa dan janji dari suaminya bagi anak mereka bisa dikabulkan oleh Allah, walaupun harus lewat tangan orang lain. Dan kalau ada doa atau janji yang lain yang belum terwujud, insya Allah bisa segera dikabulkan juga bagi ketiga anak yatim di dalam keluarga itu.
Amin, amin, ya rabbal alamin.

Menghibur anak yatim, menyantuni mereka, mengajak mereka pergi dan makan bersama kita dan perhatikan mereka terus untuk memperkuat hati mereka dan mengurangi rasa penderitaan mereka adalah tugas yang sangat menyenangkan. Kalau teman2 belum pernah mencoba, mungkin bisa dimulai pada minggu ini. Dan kalau ada anggota keluarga atau teman dekat yang juga punya anak yatim di rumah, utamakan mereka duluan karena mereka adalah anak yang paling dekat kepada kita. Dan kalau mereka merasa disayangi oleh kita, dan mendoakan kita, insya Allah rezeki dari Allah akan mengalir terus ke tangan kita, dan kita juga bisa membantu anak yatim dan anak miskin yang lebih jauh.
Semoga bermanfaat.

Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

No comments:

Post a Comment