Tuesday, October 02, 2012

Ratusan Video Tawuran Pelajar di YouTube



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Minggu kemarin saya carikan video tawuran pelajar di YouTube dengan menggunakan kata kunci “tawuran” dan juga cari lewat Google. Ternyata saya salah. Kebanyakan video tawuran pelajar justru diambil oleh anak2 itu sendiri, dan tidak menggunakan kata “tawuran” dalam judulnya, jadi tidak keluar dalam Google search. Setelah saya mulai mengikuit links di sebelah kanan di YouTube, baru ketahuan bahwa ada ratusan video lain, yang dibuat oleh anak sekolah itu sendiri, dan diupload untuk ditonton ramai2 oleh mereka. Sebagian dari video itu sudah ditonton puluhan ribu kali (padahal jumlah anak yang ikut tawuran hanya sekian puluh).
Judul video menggunakan nama sekolah, atau nama geng, atau kode khusus yang digunakan oleh anak sekolah untuk menunjukkan sekolahnya. Berikut ini beberapa contoh saja, dan ini HANYA dari tahun 2012.
Setelah melihat semua video ini, saya ada 3 pertanyaan.
1.      Anak ini punya orang tua seperti apa? Mungkin pada saat anak ini pulang, orang tuanya (kalau ada di rumah) hanya bertanya apa sudah makan, sudah shalat, dan apakah ada PR. Kemungkinan besar orang tua tidak sadar anak2 mereka mengikuti kegiatan seperti ini sebelum pulang. Tapi kenapa tidak sadar? Apa mereka tidak terbiasa bicara dengan anaknya secara terbuka?
2.      Anak ini akan menjadi orang tua seperti apa nanti ketika menjadi dewasa? Kalau masa muda mereka dihabiskan dengan bersikap begitu kejam terhadap manusia lain yang seusia, bagaimana mereka bisa membina anak mereka sendiri dengan sikap lembut, mulia dan bijaksana?
3.      Kenapa baru sekarang Kemendikbud, Pemda, Polisi, masyarakat dan media mau memperhatikan masalah ini?

Satu hal yang terkesan aneh dari melihat ini adalah bagaimana ratusan orang dewasa berhenti untuk nonton atau melintas dengan cepat, dan tidak berusaha untuk mencegah anak2 ini dari tawuran. Kalau sekiranya 50 pria dewasa turun di tengah anak2 ini (daripada lewat saja), apa mereka akan mau tawuran terus? Atau malah kabur ketakutan? Sangat menarik bahwa Polisi tidak muncul, walaupun sebagian dari video ini berdurasi 5 minit atau lebih. Kalau ada pengendara mobil yang mau masuk jalur busway, bisa dijamin saat itu juga polisi akan muncul dalam hitungan detik. Tapi kalau puluhan anak saling menyerang dengan senjata tajam, Polisi tidak akan hadir dalam 5-10 minit. Kenapa? Apa lebih utama menjaga jalur Busway, atau menjaga nyawa anak sekolah? Apa pencegahan tawuran belum menjadi prioritas bagi polisi? (Atau apa karena tidak ada duitnya?)

Mungkin kalau ada anak yang ditangkap karena terlibat dalam tawuran, seorang hakim bisa menyuruh orang tuanya diperiksa oleh seorang psikolog dan diwajibkan mengikuti kelas parenting kalau perlu. Saya susah percaya bahwa semua orang tua dari anak seperti ini adalah orang yang bisa berkomunikasi dengan baik kepada anaknya, yang sudah bisa membina mereka dengan cara yang baik dan bijaksana, dan sudah bisa mengajarkan akhlak dan agama kepada mereka dengan benar. Mungkin justru orang tuanya yang perlu diperiksa oleh psikolog, dan bukan hanya anaknya saja. Mungkin sebagian dari anak ini tidak bahagia di rumah, tidak bahagia di sekolah, dan tidak peduli pada nyawanya sendiri karena tidak merasakan kasih sayang dari semua orang dewasa di sekitar mereka.

Coba lihat contoh video di bawah ini. Dan masih ada banyak lagi kalau mau mengikuti links di sebelah kanan di YouTube. Dan ini hanya dari 2012, dan hanya yang ada di YouTube. Saya belum cari di situs2 file sharing yang lain.
Bisa kita cari solusinya dengan segera…?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Contoh Video Tawuran Pelajar dari 2012











[Yang ini di Purwakarta, jadi bukan hanya di Jakarta masalahnya!]








Dan kalau mau lihat banyak video di satu tempat, ada orang yang membuat kumpulan 200 video tawuran di satu link saja. Semua video akan autoplay sendiri.

1 comment:

  1. Wa'alaikum salaam.
    Untuk mencegahnya, analisis terlebih dulu penyebabnya. Bisa disebabkan oleh karena :
    1. Perilaku orang tua yang tidak berpendidikan baik, atau masa lalu orang tua yang kelam dan dilampiaskan pada anak/keluarga. Mayoritas serial killer berasal dari keluarga macam ini.
    2. Film kekerasan.
    3. Games online/offline bertema pertempuran.
    4. Perilaku guru yang tidak baik, misalnya memberikan hukuman fisik, sehingga menjadi contoh bagi anak didiknya bahwa kekerasan fisik itu sah ditiru.
    5. Kemiskinan, ketidakadilan.
    6. Faktor kelainan jiwa yang berpusat di otak.
    7. dll.
    Masing2 penyebab harus dicari jalan keluarnya. Pemerintah, guru, tetangga, orang tua, teman, pemuka agama, dokter,produser film, komisi perfileman, semua menyumbang pada pembentukan kepribadian dan jalan berpikir seseorang, sehingga sudah selayaknya mereka concern terhadap hal ini.

    ReplyDelete